Hal mata duitan

“Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya.” Pengkhotbah 5: 10

Masih teringat saya akan pelajaran bahasa Inggris yang saya ikuti pada saat saya belajar di universitas. Pada pagi itu saya sedang duduk diruang kuliah bersama  teman-teman sekelas. Kemudian beberapa murid diminta pak dosen untuk membuat sebuah kalimat dengan memakai kata-kata tertentu. Kebetulan saya ditunjuk untuk membuat kalimat yang dimulai dengan “There is nothing .., but …” atau “Tidak ada hal yang…, kecuali …”. Entah saya mendapat ilham dari mana, tetapi langsung saya menulis di papan tulis “There is nothing that can make me happy, but money” yang artinya “Tidak ada yang bisa membuat saya bahagia, kecuali uang”. Pak dosen pada waktu itu dengan tersenyum langsung memanggil saya “money lover” alias “pecinta uang”.

Jika saya teringat akan kejadian itu, mau tidak mau saya merasa geli. Itu karena saya hanya berpura-pura menjadi pecinta uang. Tetapi, jika saya memang seorang mata duitan, mungkin saya bisa merasa dipermalukan. Ataukah justru sebaliknya, saya akan merasa bangga?

Pada zaman ini kelihatannya orang yang mampu mengumpulkan uang banyak biasanya sangat bangga dengan kemampuannya. Mereka yang cinta uang seringkali dengan tidak ragu-ragu mendemonstrasikan apa yang dipunyainya. Barangkali rumah besar, mobil mewah dan pakaian yang buatan luar negeri sudah tidak perlu dibanggakan lagi karena sudah biasa dipakai mereka yang kaya. Bagaimana pula dengan moge dan sepeda mewah? Itupun terasa biasa bagi mereka yang bisa membeli tanpa mengedipkan mata. Lalu apa lagi yang masih bisa dibeli atau dipamerkan?

Ayat diatas menyebutkan bahwa orang yang mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Itu benar. Kepuasan yang didapat melalui harta selalu tidak akan bertahan lama. Mereka yang mencintai uang selalu mencari apa yang lebih memikat dari apa yang sudah dimilikinya. Karena itu, mereka berusaha mencari apa yang lebih besar, apa yang lebih hebat dan apa yang tidak dipunyai orang lain, sekalipun itu mungkin harus melalui jalan yang salah.

Cinta uang memang sering mendorong orang untuk melakukan kejahatan. Mungkin mereka melakukannya tanpa menyadari apa yang bisa menjadi akibatnya. Hanya ketika berbagai masalah timbul karena keserakahannya, orang mungkin akan menyadari bahwa apa yang jahat di mata Tuhan akhirnya akan membawa berbagai duka.

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 10

Jangan malu atau ragu dalam mengabarkan Injil

“Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu” 2 Timotius 2: 15

Baru-baru ini saya membeli sebuah baterai yang bisa diisi ulang dari sebuah penjual di luar negeri melalui internet. Baterai ini diiklankan dengan garansi 3 tahun, namun setelah 6 bulan sudah mati dan tidak bisa dipakai lagi. Saya berusaha menghubungi si penjual, tetapi pesan saya tidak pernah mendapat sambutan. Si penjual mengabaikan permintaan saya untuk mengembalikan uang saya. Dengan rasa kesal, saya kemudian menulis surat ke forum pembeli dan memperingatkan orang lain untuk berhati-hati dan jangan terjebak dalam masalah yang sama. Seorang pembaca forum yang membaca surat saya menanggapinya dengan sarkastik dan mengajukan pertanyaan apa gunanya saya mengingatkan orang  lain, jika saya tidak membaca peringatan orang lain mengenai hal yang serupa sebelum membeli.  Pertanyaan yang sederhana, dan agak berbau negatif, tetapi membuat saya berpikir dalam-dalam.

Dalam usaha mengabarkan Injil, orang Kristen sering menghadapi reaksi dunia yang dengan sarkastik mempertanyakan apa yang mendorong mereka untuk mengingatkan orang lain agar memilih cara hidup yang baik jika mereka sendiri tidak dapat sepenuhnya menjalani hidup yang tidak bercela. Bukankah Alkitab sudah mengingatkan mereka untuk menempuh hidup suci, tetapi mereka tetap saja gagal melaksanakannya? Mengapa mereka masih mengharapkan orang lain untuk mau mendengarkan pesan mereka? Orang Kristen adalah orang yang sok pandai dan munafik, begitu ujar dunia. Usaha penginjilan adalah usaha yang tidak berguna selama orang Kristen tetap terlihat sebagai orang yang kurang berpengalaman dan sering melakukan kekeliruan, begitu pendapat negatif sebagian orang.

Paulus dalam suratnya kepada rekannya yang jauh lebih muda, Timotius, mungkin melihat gejala yang serupa. Timotius karena masih muda dan belum berpengalaman, mungkin mengalami kesulitan untuk meyakinkan orang lain yang banyak makan asam-garam kehidupan tentang keselamatan dalam Kristus. Mungkin saja ada kalanya Timotius merasa ragu dan bahkan melakukan kekeliruan dalam usaha mengabarkan injil. Mungkin juga Timotius merasa malu karena adanya kelemahan dan kekurangan yang dimilikinya. Tetapi, Paulus mengingatkan Timotius bahwa sebagai pekerja Tuhan, ia tidak perlu ragu. Timotius harus tetap bekerja untuk Tuhan dalam segala ketidak-sempurnaannya, tetap berusaha untuk hidup baik yang sesuai dengan firmanNya, dan dengan jujur dan terus terang mengabarkan apa yang benar menurut firman Tuhan.

Pagi ini, adakah keraguan kita untuk mengabarkan injil kepada orang-orang di sekitar kita? Adakah rasa malu dan kuatir dalam hati kita karena adanya orang-orang yang menuduh kita munafik dan bodoh? Adakah orang-orang yang marah kepada kita karena menganggap kita menggurui mereka yang sudah lebih berpengalaman dalam hidup? Adakah keraguan dalam hati kita akan arti semua jerih payah kita jika banyak orang yang ada sebelum kita kelihatannya tidak berhasil untuk mengubah kehidupan masyarakat di sekeliling kita?

Firman Tuhan berkata bahwa sebagai seorang pekerja yang baik, kita hanya melakukan apa yang diminta oleh majikan kita. Kita harus tetap mau berusaha untuk hidup lebih baik dan bekerja lebih giat untuk menyampaikan kebenaran Tuhan tanpa menguatirkan apa yang akan diperbuat atau dikatakan orang lain. Tuhan sendiri yang akan menyertai kita dan Ia juga yang bekerja dalam hidup orang lain untuk menyempurnakan apa yang sudah kita lakukan.

 

Hal mendidik anak

“Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu.” Amsal 1: 8 – 9

Sejak kemarin, media Australia heboh dengan berita tentang terpuruknya tingkat pendidikan sekolah menengah di Australia. Ranking PISA (Program International Student Assessment) yang terbaru menyebutkan bahwa secara umum anak remaja Australia ketinggalan dalam hal matematik, sains dan bahasa dari anak seumur yang tinggal di Shanghai dan Singapura. Dalam hal ini, bukan saja Australia yang terpukul, tetapi juga banyak negara barat termasuk Amerika dan Inggris. Mengapa mundurnya pendidikan separah ini bisa terjadi di negara-negara yang terbilang maju dan makmur?

Pagi ini, tentu saja beberapa tokoh pendidikan Australia mendapat giliran wawancara di TV.  Mereka semua merasa terbeban dengan kemunduran pendidikan sekolah menengah dan berjanji akan berusaha memperbaikinya. Di berbagai media, banyak juga orang yang ikut berkomentar dan memberi pendapat bagaimana hal ini bisa terjadi dan bagaimana ini bisa diatasi.

Di antara komentar yang muncul, ada beberapa hal yang sangat menarik untuk di simak. Yang pertama adalah kenyataan bahwa sudah lama pendidikan anak di Australia “diperlunak” dengan alasan untuk tidak menyebabkan rasa terpukul terhadap mereka yang kurang berhasil. Guru-guru tidak dapat lagi memakai kata-kata seperti “gagal”, “tidak memenuhi syarat” atau “buruk”. Sebagai akibatnya, banyak orang yang merasa bahwa anak sekolah di zaman ini menjadi kurang serius dalam belajar. Mereka kemudian menyia-nyiakan pelajaran yang diterimanya dengan merasa puas atas hasil “asal lulus” saja.

Kesulitan yang kedua, menurut beberapa tokoh pendidikan adalah berkurangnya peranan orang tua dalam pendidikan anak-anaknya. Banyak orang tua yang karena sibuk dengan pekerjaannya, tidak mempunyai waktu untuk mendidik anak-anak mereka. Mereka menganggap bahwa pendidikan anak adalah tugas guru di sekolah.

Masalah yang ketiga ialah sulitnya mendapatkan guru-guru yang berkualitas tinggi. Adalah kenyataan bahwa di antara mereka yang masuk ke universitas untuk belajar menjadi guru, banyak yang sebenarnya terpaksa karena tidak bisa memasuki jurusan lain. Lebih dari itu, satu dari sepuluh orang yang belajar untuk menjadi guru sains misalnya, sebenarnya tidak memenuhi syarat untuk mengajar bidang itu.

Terlepas dari banyaknya kemungkinan penyebab kemunduran  pendidikan anak yang dikemukakan orang, adalah kenyataan bahwa di dunia barat peranan orang tua sudah sangat berkurang. Tambahan lagi, bentuk dan fungsi orang tua di zaman ini juga sudah berubah sehingga anak-anak mereka tidak lagi merasa perlu untuk belajar dari orangtua. Berbeda dari apa yang tertulis dalam Amsal di atas, banyak anak  di zaman ini yang mengabaikan didikan ayah dan menyia-nyiakan ajaran ibu mereka. Mereka lebih senang belajar dari teman-teman seumur. Dengan demikian, rasa hormat anak kepada orang tuanya menjadi berkurang dan orang tua mulai kehilangan pengaruh terhadap anak-anaknya.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan bahwa peranan orang tua adalah sangat besar dalam pendidikan anak-anaknya. Pendidikan bukan saja yang menyangkut pengetahuan, tetapi justru lebih penting dalam hal moral dan etika. Orang tua harus bisa memberikan bimbingan yang baik berdasarkan prinsip kasih sesuai dengan firman Tuhan agar anak-anak mereka bisa memakainya seperti sebuah karangan bunga yang indah bagi kepala mereka, dan seperti kalung bagi leher mereka. Generasi muda akan bisa belajar dari generasi sebelumnya, jika mereka bisa melihat nilai dan manfaat dari apa yang diajarkan dan dipraktikkan dalam hidup sehari-hari.

Kita termasuk marga Abraham

“Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.” Kejadian 17: 7

Menurut Wikipedia, marga atau nama keluarga (family name) menunjukkan dari keluarga mana asal usul seseorang. Marga lazim dipakai di banyak kebudayaan di dunia. Marga dalam kebudayaan Barat dan kebudayaan yang terpengaruh oleh budaya Barat umumnya terletak di belakang, sehingga sering disebut dengan nama belakang (surname). Kebalikannya, budaya Tionghoa dan Asia Timur lainnya menulis marga di depan nama panggilan (given name) karena marga adalah lebih penting daripada nama panggilan dalam hal membedakan asal-usul dan budaya seseorang.

Di Tiongkok misalnya, ada lebih dari 4000 marga, dan tiga yang paling besar adalah Wang, Li dan Zhang. Seperti itu juga, di Indonesia ada beberapa suku yang memandang penting marga dan karena itu nama keluarga diteruskan dari generasi ke generasi. Tetapi, di berbagai tempat banyak orang di zaman ini yang mengadopsi nama yang indah, keren dan menarik untuk dipakai sebagai nama keluarga. Dapat dimengerti bahwa marga yang tidak jelas latar belakang historis dan budayanya adalah nama yang kurang ada artinya.

Ayat di atas merupakan perjanjian antara Allah dengan Abraham . Allah bermaksud untuk secara turun-temurun mengadakan perjanjian yang kekal, supaya Dia menjadi Allah Abraham dan keturunannya. Sebagai tanda adanya perjanjian ini, kaum pria dari marga Abraham harus mau untuk dikhitankan. Begitu pentingnya tanda sunat ini, mereka yang tidak mau dikhitan adalah orang yang tidak termasuk dalam perjanjian Allah, dan dengan demikian tidak akan menerima berkat dan penyertaan Allah. Sesudah Yesus turun ke dunia, mereka yang sudah percaya kepadaNya tidak perlu lagi memakai tanda sunat yang bersifat jasmani. Sebaliknya, orang beriman memakai sunat rohani, yaitu hidup yang menaati firman Allah (1 Korintus 7: 19). Dengan demikian, mereka yang tidak mau menurut hukum Allah adalah orang-orang yang bukan umatNya.

Adakah untungnya menjadi umat Allah? Tentu saja! Jika pada zaman Abraham Allah menjanjikan bahwa keturunan Abraham akan menjadi warga dari bangsa yang besar (Kejadian 17: 6) dan tanah Kanaan akan menjadi milik mereka untuk selama-lamanya (Kejadian 17: 8), kedatangan Yesus untuk menebus dosa manusia memungkinkan semua orang yang percaya untuk menjadi warga surgawi dan keselamatan akan menjadi milik mereka untuk selama-lamanya. Dengan demikian, seperti keturunan Abraham menjadi milik Allah, kita yang sudah menjadi milik Kristus adalah “semarga” dengan Abraham, yaitu orang-orang yang berhak menerima janji Allah.

Bagi kita, menjadi marga Abraham karena Kristus adalah satu karunia yang terbesar yang tidak dapat ditukar dengan hal-hal yang lain. Dari segi historis, kita bisa melihat bahwa kasih Tuhan sudah ada sejak mulanya dan terus mengalir untuk semua orang percaya. Dengan demikian, dalam hidup ini seharusnya tidak ada hal lain yang bisa menarik kita untuk keluar dari marga surgawi atau marga Abraham. Kita tentunya tidak mau memilih untuk menjadi anggota marga duniawi yang bukan milik Kristus. Seperti janji Tuhan hanya diberikan kepada Abraham dan keturunannya, janji Tuhan untuk menyertai kita dan membimbing kita sampai kita bisa berjumpa dengan Dia di surga, hanya berlaku selama kita tetap mau taat dalam Kristus.

Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah. Galatia 3: 29

Menjadi bijak untuk mengarungi masa depan

“Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.” Amsal 19: 20

Masih ingatkah anda akan masa kecil anda? Masa dimana kita harus meminta izin orang tua jika kita ingin melakukan sesuatu yang tidak biasa? Mungkin itu mengenai rencana pergi ke rumah teman seusai sekolah, atau untuk menonton bioskop beramai-ramai dengan teman sekelas. Adalah menarik bahwa sewaktu kecil seorang anak harus selalu menurut nasihat orang tua dan taat kepada keputusan mereka, tetapi dengan bertambahnya usia ia cenderung untuk mengabaikannya. Kepercayaan pada diri sendiri yang semakin besar sesuai dengan bertambahnya usia, seringkali bisa membuat orang tidak merasa perlu untuk mendengarkan pendapat atau nasihat orang lain. Tidaklah mengherankan bahwa ada banyak tokoh dunia yang dikenal sebagai orang yang tidak pernah belajar dari orang lain dan tidak mau menerima nasihat para pembantunya. Orang yang sedemikian mungkin selalu merasa bahwa ia adalah orang yang selalu benar dan merasa bahwa orang lain selalu salah.

Kapankah orang harus mau menerima nasihat orang lain? Perlukah seseorang menerima nasihat dan didikan sepanjang hidupnya? Ayat di atas kelihatannya memang lebih cocok diterapkan pada kaum muda, tetapi sebenarnya juga berlaku untuk setiap orang yang masih mempunyai masa depan. Jika masa depan masih ada, tentunya setiap orang seharusnya ingin untuk menjalani hidup yang ada dengan kebijaksanaan, dan itu tentunya harus didapat dari nasihat dan didikan orang lain. Mereka yang muda bisa belajar dari yang lebih tua karena pengalaman yang dipunyainya, tetapi yang lebih tua pun harus mau belajar dari yang lebih muda karena mereka mempunyai pendidikan yang lebih relevan untuk zaman sekarang. Ini berbeda dengan adat istiadat kuno dimana orang yang lebih muda harus selalu belajar dari yang lebih tua, yang merasa sudah tahu tentang segalanya.

Bagi setiap orang yang masih mempunyai masa depan, selalu ada yang harus dipelajari setiap hari. Dengan demikian, hampir semua manusia yang masih bisa menggunakan pikirannya seharusnya mau mempertimbangkan nasihat dan didikan orang lain supaya bisa menghadapi masa depan dengan baik. Bagi umat Kristen, ini juga berarti mau mendengarkan nasihat dan didikan berdasarkan firman Tuhan dari saudara-saudara seiman.  Setiap hal yang terlihat baik untuk masa depan, belumlah betul-betul baik untuk dilaksanakan jika itu tidak sejalan dengan apa yang ditulis dalam Alkitab. Dengan demikian, umat Kristen tidak hanya harus mau dengan rendah hati mendengarkan pendapat dan nasihat orang lain, tetapi juga mau mendalami firman Tuhan sehingga apa yang nantinya dilaksanakan tidaklah menyalahi perintah Tuhan.

Dalam kenyataannya, sesukar-sukarnya orang mendengarkan nasihat dan didikan orang lain, masih lebih sulit bagi mereka untuk mau mendengarkan nasihat dan didikan Tuhan. Seringkali orang menghindari nasihat dan didikan Tuhan yang ada dalam Alkitab karena dianggap sudah kurang sesuai dengan keadaan zaman sekarang. Mereka segan untuk menerima nasihat dan didikan Tuhan karena mereka malas untuk belajar, tidak mau dianggap salah, atau tidak ingin diingatkan bahwa tingkah lakunya kurang baik. Apalagi mereka tidak mau dikatakan sudah hidup di luar kebenaran Tuhan.

 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 16

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa selama kita masih hidup dan bisa memikirkan langkah kehidupan kita, masa depan masih ada. Masa depan yang harus diisi dengan segala yang baik dan sesuai dengan firman Tuhan. Jika kita segan mempelajari apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita, kita tidak akan dapat memperoleh nasihat dan didikan yang benar. Dengan itu kita akan kehilangan kesempatan untuk menjadi bijak di masa depan. Tidaklah mengherankan bahwa mereka yang tidak mau belajar dari firman Tuhan akhirnya menjadi orang yang bodoh di mata Tuhan dan kemudian menjadi orang yang tidak mempunyai masa depan.

 

Ke gereja agar makin banyak yang diselamatkan

“Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Kisah Para Rasul 2: 46 – 47

Apakah setiap orang yang mengaku Kristen pergi ke gereja secara rutin? Jawabnya: belum tentu. Bukan saja di Australia, di negara lain pun banyak orang Kristen yang tidak pergi ke gereja setiap minggu. Kebanyakan orang seperti itu hanya ke gereja jika ada kebaktian khusus, seperti Natal dan Paskah. Di luar itu, mereka mungkin ke gereja hanya kadang-kadang saja.

Mengapa ada orang yang mengaku Kristen tetapi jarang ke gereja? Ada banyak sebabnya. Mungkin saja mereka belum betul-betul Kristen, tetapi pernah hidup di lingkungan orang Kristen. Mereka mungkin simpatisan, tetapi bukan benar-benar punya komitmen. Selain itu ada orang yang kurang berhasil menemukan gereja yang cocok, sehingga lama-lama tidak lagi berminat untuk ke gereja. Lalu ada juga orang yang terlalu sibuk dengan berbagai kegiatan hidup sehingga tidak punya waktu untuk ke gereja.

Sebenarnya, apakah ke gereja itu penting jika seseorang bisa berhubungan dengan Tuhan dengan teratur secara pribadi? Bukankah Tuhan ada dimana-mana, dan bukan hanya di gereja? Pertanyaan ini sering dikemukakan oleh mereka yang memilih untuk tinggal di rumah dan membaca Alkitab serta berdoa seorang diri. Mereka tidak merasakan manfaat untuk bersekutu dengan saudara-saudara seiman.

Berbeda dengan keadaan masa kini dimana orang bisa mempelajari firman Tuhan dengan membaca buku penuntun Alkitab, mempelajari berbagai tulisan di internet, menonton video atau TV yang menayangkan kebaktian atau khotbah di gereja tertentu, pada zaman rasul-rasul orang Kristen bertekun dengan sehati dan berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Pada waktu itu, persekutuan dengan saudara seiman adalah satu hal yang mutlak diperlukan. Mereka mempunyai keinginan yang besar untuk memuji Tuhan dan menikmati berkat Tuhan secara kekeluargaan.

Karena persekutuan dengan saudara seiman adalah sesuatu yang dilaksanakan sebagai pernyataan kasih, tidaklah mengherankan bahwa banyak orang yang ingin untuk ikut dalam kebaktian. Memang dengan adanya orang-orang Kristen yang terlihat gembira hidupnya dan tulus hati serta beriman, orang lain jadi ikut tertarik untuk ikut merasakannya.

Apa yang membuat orang Kristen rajin ke gereja, giat bersekutu dengan mereka yang seiman? Di banyak tempat, pertanyaan ini mungkin mulai jarang dilontarkan oleh mereka yang belum beriman. Jika ada banyak orang Kristen yang jarang ke gereja, dan kalau rasa gembira dan persekutuan dalam kasih di antara umat Kristen makin melemah, tentu saja orang lain menjadi kurang tertarik untuk menjadi pengikut Kristus selama hidup di dunia.

Gereja adalah persekutuan orang percaya, dan dengan adanya persatuan kasih di antara umat Kristen, gereja bisa menjadi seperti “magnit” yang menarik orang yang belum mengenal Injil Keselamatan untuk datang dan ikut merasakan kasih Kristus. Itu karena Tuhan bekerja dalam lingkungan yang baik. Setiap orang Kristen yang ingin melaksanakan Amanat Agung untuk mengabarkan Injil sudah tentu bisa merasakan adanya kerinduan untuk ke gereja secara rutin agar nama Tuhan makin dibesarkan di dunia. Dengan demikian, pergi ke gereja seharusnya bukan hanya untuk kepentingan kita, tetapi lebih penting untuk kemuliaan Tuhan!

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Keadilan sosial adalah kehendak Tuhan dari dulu

Jawabnya: “Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian.” Lukas 3: 11

Perjalanan ke Tiongkok sudah berakhir kemarin, namun saya masih saja memikirkan kehidupan masyarakat di sana. Ada banyak kemajuan ekonomi dan teknologi yang saya lihat, dan itu tentunya diketahui siapa saja. Walaupun demikian, orang mungkin kurang memahami tantangan hidup rakyat jelata di sana.

Adalah kenyataan bahwa rakyat Tiongkok sekarang ini tidak jauh berbeda dengan rakyat negara barat yang bersifat kapitalis. Dalam hal ini, untuk mendapatkan seorang istri, kaum pria mempunyai banyak tantangan. Secara tradisional, seorang pria yang ingin menikah harus memenuhi 3 persyaratan. Pada tahun 70an, persyaratan itu adalah memiliki sebuah sepeda, sebuah jam tangan dan sebuah mesin jahit. Sepuluh tahun sesudahnya, persyaratan itu berubah menjadi sebuah lemari es, sebuah TV dan sebuah mesin cuci pakaian. Sekarang, seorang pria yang ingin menikah harus mempunyai rumah, mobil dan penghasilan yang cukup. Dari ketiga syarat itu, rumah adalah yang paling penting, tanpa itu seorang pria tidak akan bisa menikah.

Apakah semua orang bisa membeli rumah di Tiongkok? Jawabnya sudah tentu tidak. Karena itu lebih banyak orang yang terpaksa hidup di rumah atau apartemen yang sangat kecil dan kotor, daripada yang bisa membeli atau mengangsur rumah. Keadilan sosial di negara yang pernah bersemboyan sama rata sama rasa itu agaknya belum bisa tercapai, dengan jurang perbedaan antara yang kaya dan miskin yang menjadi semakin besar seperti halnya di berbagai negara barat.

Dalam negara mana pun yang keadaan ekonominya maju dengan pesat, selalu timbul ekses negatif dimana yang kaya akan menjadi semakin kaya, dan mereka yang miskin menjadi semakin miskin. Ini bukan saja bisa membuat ketidakseimbangan sosial dan politik, tetapi juga bisa membuat orang Kristen menjadi batu sontohan. Bagaimana prinsip kasih kepada sesama selalu didengungkan jika mereka yang menderita tidak pernah melihat adanya uluran tangan dari umat percaya? Bagaimana gereja-gereja yang besar semakin jaya dan mempunyai pimpinan yang kaya raya, sedangkan gereja-gereja kecil harus bisa bertahan untuk hidup?

Ajaran Yohanes Pembaptis mengenai kasih dan keadilan sosial jelas nampak dalam ayat di atas. Apa yang dikatakannya tidaklah sulit untuk dimengerti, tetapi sulit untuk dilaksanakan oleh orang Kristen. Yohanes mengajarkan bahwa orang yang mempunyai dua helai baju haruslah membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, haruslah ia berbuat juga demikian. Apakah ajaran Yohanes ini sudah tidak berlaku di zaman ini? Apakah ajaran ini hanya berlaku dalam keadaan tertentu? Tentu saja tidak.

Ajaran Yohanes itu memang untuk orang percaya, tetapi bukan untuk berbuat baik kepada kaum sendiri atau kepada mereka yang kita anggap “pantas” untuk ditolong. Kita harus ingat bahwa Tuhan sudah menunjukkan kasihNya ketika kita belum menjadi umatNya dan sewaktu kita masih hidup dalam kecemaran dosa. Dengan demikian, Tuhan kita adalah Tuhan yang menghendaki kita untuk melaksanakan prinsip keadilan sosial dimana saja dan kapan saja.

Tuhan tidak pernah berubah

“Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah, dan kamu, bani Yakub, tidak akan lenyap.” Maleakhi 3: 6

Mereka yang membandingkan Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sering mendapat kesan bahwa Tuhan yang ada dulu, berbeda dengan Tuhan yang ada sekarang. Tuhan dalam Perjanjian Lama adalah Tuhan yang kejam dan menyebabkan kematian banyak orang, sedangkan Tuhan dalam Perjanjian Baru adalah Tuhan yang mahakasih dan mahasabar, yang membenci segala bentuk kezaliman. Tuhan sudah tentu adalah Oknum Ilahi yang bisa menyesuaikan diri dengan keadaan zaman, begitulah pikiran sebagian orang.

Tidak dapat disangkal bahwa di sepanjang sejarah manusia dan peradabannya sudah berubah, dan dengan itu apa yang dulu bisa diterima, sekarang mungkin dianggap sebagai hal yang tidak etis atau tidak baik, dan begitu juga sebaliknya. Dengan demikian, ada orang yang berpendapat bahwa Tuhan pasti juga berubah sesuai dengan kemajuan zaman. Tuhan tidak mungkin ketinggalan zaman, begitu pikir mereka. Tetapi, jika Tuhan berubah sedemikian, Tuhan yang “makin pandai” bukanlah Tuhan yang sempurna dari awalnya.

Menurut Alkitab dan sesuai dengan ayat di atas, Tuhan adalah Oknum Ilahi yang mahasempurna sejak mulanya. Pengakuan Iman Westminster yang sering dipakai sebagai bahan katekisasi lebih lanjut menegaskan bahwa Tuhan tidak berubah dalam eksistensi, kebijaksanaan, kuasa, kesucian, keadilan, kebaikan dan kebenaranNya (Ibrani 1: 10 – 12). Sebagai Tuhan, Ia tidak dapat bertambah atau berkurang dalam segala kebesaranNya.

Jika manusia berubah-ubah cara hidupnya, Tuhan selalu menghadapinya dengan standar kesucian dan kemurnian yang sama. Sebagai contoh, jika dulu orang Kristen memandang pernikahan antara pria dan wanita sebagai sesuatu yang selayaknya diberkati Tuhan, sekarang tidak bisa mengharapkan bahwa Ia akan menyesuaikan diri dengan gaya kebebasan manusia modern yang sering membuat definisi baru tentang pernikahan.

Jika sifat hakiki Tuhan tidak pernah berubah, adakah perbedaan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru? Sudah tentu ada! Dalam Perjanjian Lama, Tuhan membimbing umat Israel untuk menggenapi penyelamatanNya; dalam Perjanjian Baru, Ia sudah menggenapi semuanya dengan pengurbanan Yesus Kristus. Tetapi dalam semuanya, kasih dan kuasa Tuhan tidak berubah.

Jika Tuhan dulu membimbing umat Israel sebagai umat pilihanNya, dengan kematian Yesus di kayu salib, setiap orang secara pribadi sekarang bisa menjadi umatNya (Yohanes 3: 16). Dengan demikian, setiap orang bisa mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan. Setiap orang juga harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan dan tingkah lakunya secara pribadi kepada Tuhan.

Tuhan kita yang mahakuasa, mahatahu, mahahadir, mahasuci dan mahakasih tidak pernah berubah untuk selama-lamanya. Karena itu, kitalah yang harus berubah, makin lama makin bisa menuruti firmanNya selama kita hidup di dunia.

Berserah dengan keyakinan

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Pengkhotbah 3: 11

Hari ini adalah hari terakhir di Shanghai sebelum terbang kembali ke Australia. Kunjungan singkat ke Tiongkok sudah hampir berakhir dan esok hari saya tentunya harus kembali ke acara rutin sehari-hari. Berbagai hal yang sudah bisa dilihat dan dinikmati selama beberapa hari ini membuat saya bersyukur.

Apa yang ada saat ini memang sangat berbeda dengan apa yang saya alami pada kunjungan pertama saya ke Tiongkok dua puluh tahun yang lalu. Tuhan bukan saja memberikan berkatNya untuk bangsa dan orang tertentu, tetapi Ia juga menunjukkan kasihNya kepada semua orang di dunia. Tuhan memang bisa membuat apa yang kurang baik menjadi baik pada waktunya.

Ayat di atas sering dikutip orang untuk menyatakan kepercayaan bahwa Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang memegang kontrol atas segala sesuatu. Ialah yang membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Bagian pertama ayat ini memang bisa dipakai untuk semboyan berpikir secara positif. Tetapi secara keseluruhan, ayat ini sebenarnya tidak mudah dimengerti. Apa arti “Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka”?

Kekekalan disini dapat diartikan sebagai apa yang tidak dapat dilihat mata manusia. Mata manusia hanya bisa melihat apa yang muncul di depan mereka. Dengan demikian, manusia merasa senang ketika mendapatkan apa yang diingininya dan merasa sedih jika apa yang terjadi tidaklah sesuai dengan apa yang diharapkan. Pada pihak yang lain, Tuhan memberikan kekekalan hanya kepada orang-orang yang percaya kepadaNya.

Manusia yang tidak mengenal Tuhan hanya bisa merasa bahagia jika apa yang indah dan nyaman muncul dalam hidupnya di dunia. Apa yang bisa dinikmati manusia adalah apa yang dirasakan oleh pancaindera. Tetapi, pancaindera manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. Dengan demikian, manusia mudah merasa sedih atau putus asa jika apa yang indah tidak kunjung datang.

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa Tuhan pasti membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Lebih dari itu, Tuhan sudah memberikan pengertian akan kekekalan dalam hati kita. Kita mengerti bahwa apa yang indah di mata, belum tentu indah untuk selamanya. Sebaliknya kita tahu bahwa apa yang kekal adalah indah untuk selamanya.

Keselamatan kita adalah kekal karena kasih Tuhan yang tidak berkesudahan. Sekalipun orang lain tidak dapat memahaminya, kita sadar bahwa Tuhan bekerja dari awal sampai akhir untuk kebaikan umatNya. Apa pun yang terjadi dalam hidup kita, kita tidak akan ragu akan kesetiaan Tuhan.

Memimpin dengan kasih

Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” Matius 20: 25 – 27

Salah satu hal yang menarik perhatian turis di Tiongkok adalah banyaknya kamera monitor CCTV yang bertebaran di berbagai tempat. Menurut kabar, kamera ini ada yang digunakan untuk memonitor tingkah laku atau perbuatan setiap orang siang dan malam. Dengan demikian, orang-orang yang melakukan kejahatan atau perbuatan yang salah bisa dicari dan ditemukan oleh yang berwajib dengan mudah, untuk kemudian dihukum atau dikenakan “denda sosial” sehingga mereka tidak bisa keluar negeri atau mendapat kemudahan dari pemerintah.

Bagi mereka yang terbiasa dengan kebebasan demokrasi a la dunia barat, cara pemerintah Tiongkok memperlakukan rakyatnya mungkin dianggap represif atau bersifat tangan besi. Tetapi bagi pemerintah setempat, itu mungkin satu-satunya cara untuk bisa “menertibkan” hampir 1400 juta penduduknya. Manusia dalam keterbatasannya, secara umum tidak bisa mengatur orang lain dengan kelemahlembutan.

Bukan hanya pemerintah saja yang sering mengatur rakyatnya dengan tangan besi, dalam kehidupan sehari-hari pun orang sering merasa bahwa mereka hanya dapat mengatur orang lain dengan cara otoriter. Mungkin pengalaman pahit di masa lalu, orang merasa kurang yakin untuk dapat memimpin orang lain dengan cara yang lebih lunak. Karena itu ada direktur yang bertingkah laku seperti seorang diktator, dan ada orangtua yang mendidik anak-anaknya dengan keras.

Adakah cara lain untuk mengatur orang lain agar mereka bisa bekerja dengan baik? Bagaimana kita bisa membuat orang lain mau untuk menurut aturan atau standar kehidupan tanpa membuat mereka merasa tertekan? Ayat di atas menyatakan bahwa siapa yang ingin menjadi pemimpin, hendaklah ia menjadi pelayan, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka, hendaklah ia menjadi hamba. Orang yang ingin agar orang lain untuk tunduk kepada kepemimpinannya, harus bisa menyatakan kasihnya dalam segala tindak-tanduk dan keputusannya.

Menjadi pemimpin yang baik dan yang dicintai bawahannya tidaklah mudah. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana caranya atau bisa melaksanakannya dengan benar, jika tidak pernah menyadari bagaimana Yesus, Anak Allah, sudah merendahkan diriNya untuk turun ke dunia sebagai manusia biasa. Seperti Yesus sudah menjadi gembala yang baik bagi umatNya dengan mau berkurban bagi mereka, kita pun harus mau menunjukkan kasih kita kepada mereka yang kita pimpin.

“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” Yohanes 10: 11