“Dahulu, ketika kamu tidak mengenal Allah, kamu memperhambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah. Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya?” Galatia 4: 8 – 9
Soal cinta adalah soal yang seringkali rumit. Sebuah peribahasa lama yang pernah saya kenal semasa di SMA ialah “Tak kenal maka tak sayang” yang artinya seseorang tidak dapat menyukai atau mencintai orang lain jika belum mengenalnya secara dekat.
Peribahasa ini menarik buat saya karena justru waktu itu saya sering menjumpai adanya film yang bertemakan “cinta pada pandangan pertama”. Bagaimana orang bisa jatuh cinta sekalipun belum betul-betul mengenal orang yang dicintainya? Kemudian saya mendengar bahwa ada orang yang percaya bahwa “cinta itu buta”. Jadi mungkin ada orang yang mencintai orang lain sekalipun belum benar-benar kenal. Aneh bukan?
Dalam kenyataannya, banyak orang yang merasa kecewa kepada orang yang dicintainya, setelah benar-benar mengenal orang itu. Memang dengan berjalannya waktu, agaknya mata orang yang buta menjadi celik dan perasaan sayangnya menjadi hilang karena memang dari mulanya tidak ada rasa kenal.
Dalam ayat di atas Paulus bertanya kepada jemaat di Galatia bagaimana mungkin mereka yang mengaku kenal kepada Allah, bisa meninggalkan Dia untuk kembali kepada hidup lama mereka. Benarkah mereka mengenal dan mengasihi Allah jika mereka kembali memilih ilah-ilah yang dulunya mereka puja? Apakah ini berarti bahwa mereka tidak benar-benar mengenal Allah? Apakah mata mereka masih buta dan tidak dapat melihat kebesaran dan kasih Allah?
Memang mereka yang belum mengenal Allah tidak akan dapat mengasihiNya. Dengan kemampuan sendiri, kita tidak dapat mengenalNya. Tetapi Allah yang mahakasih sudah membuat mata kita yang dulunya buta untuk bisa melihat Dia. Karena kita bisa melihat kasihNya melalui pengurbanan Kristus, kita bisa mengenal Dia. Karena kita mengenal Dia, kita bisa mengasihiNya. Jika kita benar-benar mengasihiNya, tidak mungkin kita kembali kedalam kegelapan hidup lama yang penuh dosa. Mereka yang tak sayang adalah orang yang tak kenal.

Menurut media, di Australia secara umum kaum pria mendapat gaji yang lebih besar, dan dapat mencapai posisi yang lebih tinggi dari pada kaum wanita. Ini adalah sesuatu yang tidak adil dalam pandangan umum. Karena itu, pada saat ini usaha membuka lowongan untuk kaum wanita sedang digalakkan dalam semua lapangan melalui program persamaan kesempatan atau equal opportunity.
Manakah yang lebih anda takuti, iblis atau Tuhan? Pertanyaan yang sederhana ini mungkin belum pernah anda terima dari siapapun. Walaupun demikian, jika kita melihat keadaan di sekeliling kita, agaknya manusia lebih takut kepada iblis dan kuasanya. Mengapa begitu? Karena manusia tahu bahwa iblis mempunyai maksud-maksud yang jahat. Dalam bayangan sebagian orang, iblis atau setan juga mempunyai penampilan yang mengerikan, seperti dalam film-film horror yang digemari penonton. Pada pihak yang lain, manusia tahu bahwa Tuhan adalah oknum yang mahakuasa, tetapi justru kurang mempunyai rasa takut kepadaNya. Apa sebabnya? Tuhan yang mahakasih bukanlah oknum yang mengerikan dan jahat, karena itu banyak manusia yang mengabaikan atau melupakanNya. Tuhan yang dikenal dengan kasih, berkat dan karuniaNya justru sering dilupakan oleh manusia.




Membaca suratkabar pagi ini saya terpaksa menghela nafas. Bagaimana tidak? Dimana-mana ada berita tentang kekerasan yang dilakukan oleh manusia terhadap sesamanya. Terlebih lagi, kekerasan dalam rumahtangga sekarang ini makin menjadi-jadi. Mereka yang berusaha berlindung dibalik hukum, sekarang ini harus mempunyai modal uang yang cukup. Tanpa uang, perlindungan hukum mungkin tidak dapat diperoleh melalui pengadilan. Dengan demikian, mereka yang lemah dan miskin menjadi bulan-bulanan mereka yang lebih kuat dan lebih kaya. Dunia ini agaknya makin kacau saja.