Apakah anda benar-benar mengenal Dia?

“Dahulu, ketika kamu tidak mengenal Allah, kamu memperhambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah. Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya?” Galatia 4: 8 – 9

Soal cinta adalah soal yang seringkali rumit. Sebuah peribahasa lama yang pernah saya kenal semasa di SMA ialah “Tak kenal maka tak sayang” yang artinya seseorang tidak dapat menyukai atau mencintai orang lain jika belum mengenalnya secara dekat. 

Peribahasa ini menarik buat saya karena justru waktu itu saya sering menjumpai adanya film yang bertemakan “cinta pada pandangan pertama”. Bagaimana orang bisa jatuh cinta sekalipun belum betul-betul mengenal orang yang dicintainya? Kemudian saya mendengar bahwa ada orang yang percaya bahwa “cinta itu buta”. Jadi mungkin ada orang yang mencintai orang lain sekalipun belum benar-benar kenal. Aneh bukan?

Dalam kenyataannya, banyak orang yang merasa kecewa kepada orang yang dicintainya, setelah benar-benar mengenal orang itu. Memang dengan berjalannya waktu, agaknya mata orang yang buta menjadi celik dan perasaan sayangnya menjadi hilang karena memang dari mulanya tidak ada rasa kenal.

Dalam ayat di atas Paulus bertanya kepada jemaat di Galatia bagaimana mungkin mereka yang mengaku kenal kepada Allah, bisa meninggalkan Dia untuk kembali kepada hidup lama mereka. Benarkah mereka mengenal dan mengasihi Allah jika mereka kembali memilih ilah-ilah yang dulunya mereka puja? Apakah ini berarti bahwa mereka tidak benar-benar mengenal Allah? Apakah mata mereka masih buta dan tidak dapat melihat kebesaran dan kasih Allah?

Memang mereka yang belum mengenal Allah tidak akan dapat mengasihiNya. Dengan kemampuan sendiri, kita tidak dapat mengenalNya. Tetapi Allah yang mahakasih sudah membuat mata kita yang dulunya buta untuk bisa melihat Dia. Karena kita bisa melihat kasihNya melalui pengurbanan Kristus, kita bisa mengenal Dia. Karena kita mengenal Dia, kita bisa mengasihiNya. Jika kita benar-benar mengasihiNya, tidak mungkin kita kembali kedalam kegelapan hidup lama yang penuh dosa. Mereka yang tak sayang adalah orang yang tak kenal.

Mengambil kesempatan untuk berbuat baik

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6: 10

Masa kecil adalah masa yang mengesankan; masa yang sering diisi dengan kenakalan, tetapi juga masa yang dipakai orangtua untuk membentuk perilaku anak-anak mereka. Dalam hal ini, orangtua saya sering menasihati agar saya tidak mengambil barang tanpa seizin pemiliknya. Sampai sekarang rasa malu masih timbul jika saya teringat akan saat dimana saya melanggar larangan mereka.

Kata “mengambil sesuatu” mempunyai arti memegang suatu barang untuk kemudian dibawa pergi. Jika itu adalah barang milik kita, itu adalah hal yang lumrah, tetapi jika itu barang orang lain tentunya kita harus meminta ijin pemiliknya agar tidak dikatakan mencuri.

Bagaimana pula jika kita mengambil barang berharga yang sudah diberikan orang kepada kita? Sudah tentu kita boleh membawa pulang pemberian itu, tetapi kita tidak boleh lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada si pemberi. Selain itu, tentunya kita mau menghargai pemberian itu dengan tidak menyia-nyiakannya.

Sebagai orang Kristen, kita percaya bahwa Tuhan yang mahakasih sudah memberikan berbagai karunia, termasuk karunia terbesar yaitu keselamatan melalui darah Kristus. Dalam hidup sehari-hari, Tuhan juga memberikan kesempatan kepada setiap umatNya untuk bersyukur kepadaNya dengan berbuat baik kepada semua orang, karena Ia sudah lebih dulu berbuat baik bagi kita.

Setiap orang sudah diberikan Tuhan kesempatan untuk hidup baik. Mengambil kesempatan untuk hidup tanpa mau memikirkan dari mana itu datang, sudah tentu merupakan hal yang tidak pantas. Menggunakan kesempatan hidup tanpa mau mengerti apa arti pemberian itu adalah pencerminan sikap mementingkan diri sendiri. Dan tindakan mengambil kesempatan dari Tuhan hanya untuk kemuliaan diri sendiri, tidaklah jauh berbeda dengan mencuri.

Ayat di atas mengingatkan kita bahwa kesempatan untuk berbuat baik sudah disediakan Tuhan bagi kita selama kita hidup. Karena itu adalah pemberian Tuhan, kita tidak perlu ragu-ragu untuk memakainya. Sebaliknya, karena kesempatan itu diberikan kepada setiap umatNya, kita harus bersedia untuk mengambil kesempatan itu untuk bisa digunakan sesuai dengan kehendakNya, yaitu untuk membawa kemuliaan bagi Dia. Maukah kita mengambil kesempatan yang masih ada untuk berbuat baik kepada semua orang dan terutama kepada saudara-saudara seiman kita?

Selama hidup di dunia, bekerjalah untuk Tuhan

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23

Menurut media, di Australia secara umum kaum pria mendapat gaji yang lebih besar, dan dapat mencapai posisi yang lebih tinggi dari pada kaum wanita. Ini adalah sesuatu yang tidak adil dalam pandangan umum. Karena itu, pada saat ini usaha membuka lowongan untuk kaum wanita sedang digalakkan dalam semua lapangan melalui program persamaan kesempatan atau equal opportunity.

Sekalipun ada kesadaran tentang persamaan hak dan kedudukan manusia, adalah mengherankan bahwa di negara barat seperti Australia, masih banyak orang yang berpendapat bahwa kaum wanita yang sudah menikah sebaiknya tinggal di rumah sebagai ibu rumah tangga. Mereka yang secara tradisi menganggap bahwa kaum wanita sebaiknya memakai hidup mereka untuk mengasuh anak dan bukannya untuk mencari nafkah, memang merasa bahwa semua itu adalah apa yang diperintahkan Tuhan.

Karena pandangan tradisional itu, banyak kaum pria yang merasa bahwa tugas sehari-hari di rumah sebaiknya dipegang oleh para istri. Mereka kurang mau ikut campur tangan dalam urusan “domestik” karena mereka sudah bekerja keras untuk mencari nafkah. Dengan demikian, di antara kaum wanita banyak yang merasa bahwa itu bukanlah keadilan. Memang dalam hidup ini seringkali ada perasaan bahwa pekerjaan tertentu adalah lebih berharga atau lebih dihargai orang lain.

Adalah kenyataan bahwa sebagian manusia sering memandang bahwa Tuhan sudah menentukan pekerjaan dan tugas yang berbeda untuk kaum pria dan wanita. Mereka tidak menyadari bahwa tugas untuk menguasai dunia adalah ditujukan bagi semua manusia, baik pria dan wanita, dan itu berarti bahwa pria dan wanita mempunyai tanggung jawab yang serupa dalam masyarakat. Mereka sering lupa bahwa jika manusia bekerja, mereka bekerja untuk Tuhan, dan karena itu apapun pekerjaan mereka, mereka haruslah bisa bersyukur bahwa Tuhan mau memakai mereka sebagai hambaNya.

Pria dan wanita adalah ciptaan yang berbeda, dan dalam rumah tangga mereka mempunyai fungsi yang tidak sama. Walaupun demikian, dalam semua segi kehidupan, baik pria maupun wanita boleh bekerja sama dalam bidang apapun. Kerja sama dan persamaan hak adalah perlu baik dalam pekerjaan di luar maupun di dalam rumah. Selama hidup manusia harus bekerja untuk memuliakan Tuhan yang sudah menciptakan segala sesuatu.

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1: 28

Jika Tuhan marah dalam masyarakat

“Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas: penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan.” Roma 1: 28 – 29

Manakah yang lebih anda takuti, iblis atau Tuhan? Pertanyaan yang sederhana ini mungkin belum pernah anda terima dari siapapun. Walaupun demikian, jika kita melihat keadaan di sekeliling kita, agaknya manusia lebih takut kepada iblis dan kuasanya. Mengapa begitu? Karena manusia tahu bahwa iblis mempunyai maksud-maksud yang jahat. Dalam bayangan sebagian orang, iblis atau setan juga mempunyai penampilan yang mengerikan, seperti dalam film-film horror yang digemari penonton. Pada pihak yang lain, manusia tahu bahwa Tuhan adalah oknum yang mahakuasa, tetapi justru kurang mempunyai rasa takut kepadaNya.  Apa sebabnya? Tuhan yang mahakasih bukanlah oknum yang mengerikan dan jahat, karena itu banyak manusia yang mengabaikan atau melupakanNya. Tuhan yang dikenal dengan kasih, berkat dan karuniaNya justru sering dilupakan oleh manusia.

Dari Alkitab kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah bermaksud jahat kepada manusia dan tidak pernah membuat bencana tanpa sebab yang jelas. Namun, ada keadaan-keadaan tertentu yang menyebabkan orang yang mengabaikan Tuhan mengalami hidup yang yang kurang menyenangkan. Bukanlah hal yang mengherankan bahwa mereka yang  tidak mengenal Tuhan kemudian mengalami berbagai persoalan. Ayat di atas menulis bahwa Tuhan sendiri mungkin tidak perlu menjatuhkan hukuman secara langsung, tetapi Ia bisa menyerahkan orang-orang yang melupakan Dia kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas: penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan. Jika pada suatu tempat manusia tidak mengakui Tuhan, Ia membiarkan iblis untuk mengacaukan hidup mereka. Kekacauan dan bahkan malapetaka bisa terjadi karena Tuhan melepas tangan atas kehidupan masyarakat yang tidak takut kepadaNya.

Takut akan Tuhan memang agaknya sulit dipraktikkan manusia jika manusia tidak menyadari mengapa Yesus Kristus perlu turun ke dunia. Bagi sebagian orang, manusia tidaklah seburuk yang dilihat, mereka percaya bahwa dalam diri setiap manusia selalu ada unsur-unsur yang baik dan itu bisa menyenangkan Tuhan.  Tuhan yang mahakasih tentunya tidak pernah marah dan membiarkan masyarakat menemui persoalan hidup yang terlalu besar. Tetapi, itu adalah pandangan keliru. Mata Tuhan yang mahasuci tidak tahan melihat semua manusia yang sudah berbuat durhaka kepadaNya. Karena itu, Ia harus mengurbankan AnakNya untuk memadamkan amarahNya. Mereka yang menyadari betapa besar pengurbanan Tuhan untuk manusia, akan sadar bahwa Tuhan tidak dapat dipermainkan. Jika murka Tuhan hanya bisa dipadamkan dengan darah AnakNya, Ia adalah Tuhan yang tidak dapat diabaikan.

Bagi banyak orang Kristen, rasa puas mungkin sudah ada bahwa mereka adalah orang-orang yang diselamatkan. Dengan itu, hidup berjalan seperti biasa dan Tuhan dipersilakan untuk berada di latar belakang. Umat Kristen dan Gereja mungkin secara religius mengakui eksistensi Tuhan, tetapi dalam hidup sehari-hari mereka tidak cukup berusaha untuk membimbing masyarakat agar mereka takut akan Tuhan dan memilih jalan kebenaran melalui Kristus. Mereka kurang mau atau kurang berani menyatakan bahwa apa yang dipandang sebagai kebaikan untuk manusia tidak akan mencapai hasil yang baik jika Tuhan bukanlah yang diutamakan.  Masyarakat yang hanya mementingkan kesibukan sehari-hari, lambat laun melupakan Tuhan dan segala firmanNya. Masyarakat yang lebih mementingkan hak manusia dan bukannya hak Tuhan, lambat laun akan tenggelam dalam kekacauan dan masalah. Inilah yang harus kita sadari, bahwa Tuhan bukan saja menghendaki  kita untuk taat kepadaNya, tetapi Ia juga menghendaki  masyarakat di sekeliling kita untuk menyadari dosa mereka dan takut akan Dia.

Mungkinkah semua orang baik akan diselamatkan?

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6

Ayat di atas adalah ayat yang sangat terkenal yang berisi klaim Yesus bahwa Ia adalah satu-satunya jalan bagi manusia untuk bisa menuju ke surga. Sekalipun ayat ini jelas menunjukkan bahwa iman kepada Kristus adalah mutlak perlu untuk bisa diselamatkan, di zaman ini banyak orang Kristen yang ragu-ragu bahwa keselamatan adalah ekslusif untuk mereka yang percaya kepada Yesus.

Kepercayaan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan (the way) memang sudah sering membuat orang yang bukan Kristen menjadi tersinggung. Mereka yang Kristen pun sekarang banyak yang segan untuk menekankan pentingnya ayat ini, demi menjaga keakraban dengan teman, saudara atau sanak yang beragama lain. Mereka yang ingin membina dialog antar agama (interfaith dialogue) seringkali menghindari penggunaan ayat ini.

Memang orang Kristen yang mengasihi sesama seringkali ingin agar semua orang yang hidupnya baik bisa juga memperoleh keselamatan. Tuhan yang mahaadil tentu harus mau menerima mereka yang sudah berusaha untuk hidup baik, begitu kilah mereka. Jika Tuhan memang adil, Ia tentu tidak hanya memilih orang Kristen untuk ke surga. Apalagi, orang Kristen belum tentu lebih baik hidupnya jika dibandingkan dengan orang yang bukan Kristen.

Tidaklah mengherankan bahwa di zaman ini, paham relativisme mulai muncul. Paham ini yang juga dikenal dengan istilah “multifaith” mengajarkan bahwa manusia pada hakikatnya cenderung untuk mencari Tuhan dengan cara mereka sendiri, yang dipengaruhi oleh kebudayaan, latar belakang, kebijaksanaan dan pengalaman mereka. Karena itu, manusia harus saling menghargai dan menghormati kepercayaan orang lain. Semua agama pada hakikatnya baik dan bisa membawa keselamatan. Menurut mereka, itu adalah cara untuk hidup damai dengan semua orang, seperti yang dikehendaki Tuhan.

Apa yang sering dilupakan orang adalah kenyataan bahwa tidak ada orang yang baik dan suci di hadapan Tuhan. Semua orang sudah berdosa dan harus menemui kematian abadi jika mereka tidak menerima pengampunan Tuhan. Kemahasucian Tuhan membuat orang sebaik bagaimana pun terlihat sebagai orang yang penuh cacat cela. Dalam hal ini, darah Yesus adalah satu-satunya jalan untuk membasuh dosa manusia. Mereka yang sudah menerima pengampunan bukanlah orang yang hidupnya baik, tetapi orang yang menerima anugerah Tuhan dengan cuma-cuma.

Sore ini, firman Tuhan mengingatkan agar kita tetap berpegang pada iman bahwa hanya ada satu jalan menuju keselamatan. Itu bukan dengan berbuat baik dan menjadi orang yang saleh, karena semua itu hanyalah ilusi manusia. Manusia yang berdosa hanya bisa mendapat pengampunan melalui iman kepada Kristus.

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7: 13- 14

Berlindunglah dalam kemah Tuhan

“Biarlah aku menumpang di dalam kemah-Mu untuk selama-lamanya, biarlah aku berlindung dalam naungan sayap-Mu!” Mazmur 61: 4

Pada saat bencana alam atau malapetaka terjadi di suatu daerah di Australia, biasanya gereja-gereja yang berada disekitarnya segera bereaksi dengan memberikan berbagai bantuan guna menolong para korban. Jika bantuan pemerintah tidak dapat diperoleh dengan segera, gereja dan umat Kristen setempat bisa lebih cepat beraksi. Diantara apa yang dapat dilakukan gereja adalah membuka aula gereja (church hall) untuk tempat pengungsian dan mengadakan dapur umum untuk memberi makan para pengungsi.

Memang banyak gereja di Australia memiliki aula yang bisa dipakai untuk berbagai acara sosial. Dengan demikian, aula gereja mungkin berukuran cukup besar dan bahkan cukup mewah. Tetapi, para pengungsi tentunya tahu bahwa mereka hanya bisa berlindung di aula itu untuk sementara waktu saja. Jika situasi membaik, tentunya para pengungsi itu harus pulang ke tempat masing-masing dan menghadapi realita kehidupan.

Ayat di atas ditulis oleh Daud yang menyatakan keinginannya untuk tinggal di Kemah Suci Tuhan. Kemah Suci, dalam bahasa Ibrani disebut Mishkan yang artinya tempat tinggal Allah, adalah rumah ibadah yang diperintahkan Tuhan kepada Musa untuk didirikan pada saat bangsa Israel berada di kaki Gunung Sinai. Dalam bahasa Inggris Kemah Suci diterjemahkan dengan kata Tabernacle, berasal dari bahasa Latin Tabernaculum yang artinya kemah, gubuk atau pondok.

Sudah tentu Daud sadar bahwa ia tidak dapat tinggal menumpang dalam Kemah Suci. Tetapi, Kemah Suci dalam bayangan Daud adalah suasana dan keadaan di mana ia bisa merasakan kasih dan perlindungan Tuhan. Seperti seorang pengungsi yang membutuhkan pertolongan, Daud mengharapkan bantuan yang bukan hanya untuk sementara. Jika manusia tidak dapat memberi Daud perasaan damai dan tenteram, Tuhan bisa dan mau untuk memberi tempat berlindung yang abadi.

Hari ini, adakah kekuatiran yang anda rasakan? Adakah masalah besar yang harus anda hadapi? Sekalipun anda tidak dapat mengharapkan bantuan orang lain, Tuhan selalu siap menolong anda. Datanglah dan tinggallah di kemah Tuhan, maka Ia akan memberikan pertolonganNya!

Uang bisa memutarbalikkan kebenaran dan keadilan

“Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar.” Ulangan 16: 19

Berita media pagi ini menyebutkan bahwa akris Felicity Huffman menjadi orangtua pertama di Amerika yang mendapat hukuman penjara karena terlibat dalam usaha membayar seseorang $15000 untuk mengganti jawaban test masuk anaknya agar ia bisa diterima masuk universitas. Kejadian semacam ini tentunya bukan yang pertama di Amerika, tetapi sampai sekarang hanya aktris itu yang tertangkap basah dan dihukum penjara.

Hal membayar dan menyuap untuk mempengaruhi seseorang atau untuk mengubah keadaan agar bisa menguntungkan diri sendiri bukanlah barang baru. Di setiap negara selalu ada orang yang berusaha untuk memutarbalikkan keadilan, tetapi itu tentu saja lebih sering terjadi di negara-negara yang pelaksanaan hukumnya kurang tegas dan yang masyarakatnya bisa menerima hal itu sebagai sesuatu yang lumrah.

Bagaimana tanggapan orang Kristen mengenai hal ini? Banyak orang Kristen yang sadar bahwa menerima atau membayar suap adalah dosa, tetapi karena keadaan, mereka seringkali juga terlibat. Jika semua orang melakukannya, mereka “terpaksa” ikut-ikutan. Jika banyak orang disekitarnya yang bisa mendapat kesempatan baik karena membayar uang, ada orang Kristen yang merasa dirugikan kalau tidak ikut-ikutan. Lebih parah dari itu, ada orang Kristen yang percaya bahwa mereka bisa mempengaruhi kehendak Tuhan dengan mempersembahkan sesuatu kepadaNya!

Dalam Perjanjian Lama Tuhan melarang umat Israel untuk memutarbalikkan keadilan atau memandang bulu. Sebagai umat Tuhan, mereka tidak boleh menerima suap, sebab suap bisa membutakan mata orang dan memutarbalikkan kebenaran. Dengan demikian, mereka yang menerima suap dan yang membayar suap adalah orang orang yang melanggar perintah Tuhan dan bahkan melecehkan keadilan dan kebenaran Tuhan.

Ayat di atas mungkin jarang dikhotbahkan di gereja karena adanya orang Kristen yang percaya bahwa hal suap menyuap adalah bagian dari kehidupan manusia modern. Sebagian lagi beralasan bahwa dengan membayar suap, mereka bisa menolong orang yang kurang mampu.

Apakah zaman sudah berubah sehingga ayat itu tidak lagi sesuai untuk diterapkan? Tentu saja tidak. Jika demikian, mengapa masyarakat seolah bisa menerima hal suap menyuap sebagai hal yang biasa? Itulah karena iblis yang bekerja keras untuk membuat manusia percaya bahwa mereka bisa menguasai segala sesuatu dengan kekayaan dan usaha licik mereka. Segala sesuatu adalah halal jika semua orang melakukan hal yang sama, begitu tanggap mereka. Dalam hal ini, mungkin saja hukum manusia tidak dapat membuktikan kesalahan mereka, tetapi Tuhan yang mahatahu pasti tahu siapa saja yang melanggar perintahNya.

Karena tertawan orang menjadi tawanan

“Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.” Kolose 2: 8

Homonim adalah suatu kata yang memiliki makna yang berbeda tetapi lafal atau ejaan sama. Jika lafalnya sama disebut homofon, tetapi jika yang sama adalah ejaannya maka disebut homograf. Kata “tertawan” misalnya adalah homograf karena bisa berarti terpikat atau pun tertangkap. Karena begitu berbeda artinya, tentu saja kita harus berhati-hati dalam menggunakan kata ini.

Sungguh menarik bahwa kata terpikat dalam bahasa Inggris adalah captivated sedangkan kata captive mempunyai arti tawanan atau tertangkap. Usut punya usut, kedua kata itu berasal dari kata captus dalam bahasa Latin yang berarti ditangkap (menjadi tawanan). Kelihatannya orang memang bisa tertawan karena tertawan, seperti Simson yang menjadi tawanan orang Filistin karena tertawan oleh kecantikan Delila.

Ayat di atas yang ditulis oleh rasul Paulus untuk jemaat di Kolose mengingatkan agar jangan ada yang menawan mereka dengan filsafatnya yang kosong dan palsu. Kata menawan disini haruslah diartikan sebagai “menangkap” bukan “memikat”. Walaupun demikian, dalam kenyataannya orang bisa terpikat oleh pengajaran yang nampaknya indah tetapi sebenarnya kosong dan palsu. Mereka tidak secara fisik menjadi tawanan, tetapi secara rohani sudah ditangkap , disesatkan dan dijadikan tawanan atau hamba dosa.

Bagaimana pula orang Kristen bisa kembali menjadi tawanan atau hamba dosa? Pada umumnya orang Kristen tidak mudah jatuh ke dalam dosa yang jelas terlihat jelek. Tetapi mereka mudah jatuh karena terpikat, tertawan oleh sesuatu yang terlihat indah. Mereka tertawan oleh penampilan tokoh-tokoh gereja yang dikenal sebagai orang-orang yang pandai berbicara, hebat penampilan dan khotbahnya, atau yang luar biasa pengalaman rohaninya. Mereka tidak lagi bisa memusatkan perhatiannya kepada Kristus, karena terpikat oleh penampilan manusia yang terlihat menawan. Persis seperti Adam dan Hawa yang terpikat oleh bujukan si ular.

Firman Tuhan kali ini mengingatkan kita bahwa jika kita mudah tertawan oleh penampilan manusia, cepat atau lambat kita akan menjadi tawanan dosa sehingga kehidupan rohani kita akan menjadi kerdil karena terbelenggu oleh berbagai ajaran yang sesat. Oleh karena itu, biarlah kita boleh menjadi umat yang menurut ajaran Kristus dan bukannya ajaran manusia.

“Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.” Kolose 2: 6

Kesedihan bisa membawa perspektif baru

“Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega.” Pengkhotbah 7: 3

Masih ingatkah anda akan lagu keroncong Ayo Ngguyu? “Ayo Ngguyu” adalah salah satu lagu dalam album kompilasi “The Best of Waldjinah Keroncong”. Lagu yang dinyanyikan bersama Asti dan keponakannya, Nuning Darmono, direkam pada tahun 2013. Untuk penampilannya, Waldjinah menerima penghargaan dari  AMI untuk kategori Penyanyi Solo Wanita Terbaik pada 2015 dan juga penghargaan untuk kategori “Produser dan Penata Musik Terbaik 2013” atas nama Orkes Keroncong Bintang Surakarta yang dipimpinnya.

Mengapa lagu Ayo Ngguyu bisa menjadi lagu yang sangat terkenal? Tentu saja suara penyanyinya mempunyai daya tarik yang besar; tetapi lagu yang jenaka itu juga disukai orang karena bisa membuat orang tertawa, dan untuk sejenak melupakan kesusahan yang ada. Bagi banyak orang kebahagiaan adalah identik dengan tawa-ria, dan sebaliknya adanya tawa bisa memancing timbulnya perasaan sukacita. Benarkah begitu? Ayat di atas menyatakan bahwa muka yang muramlah yang justru bisa membuat hati lega.

Apa yang dimaksudkan oleh Pengkhotbah dalam menyatakan bahwa bersedih lebih baik dari pada tertawa? Bukankah ini bertentangan dengan apa yang diyakini oleh banyak orang? Bagaimana mungkin kesedihan lebih baik dari sukacita? Pengkhotbah tidak menyatakan hal ini untuk semua orang, tetapi kepada orang yang dipilih Tuhan.

Adalah kenyataan bahwa manusia yang hidup dalam sukacita setiap hari, seringkali lupa akan adanya Tuhan. Jika semua keinginan dapat tercapai, kerinduan akan Tuhan dan pertolonganNya biasanya menjadi kecil. Jika tidak ada kekuatiran dan kesulitan hidup, manusia kurang merasa perlu untuk membina hubungan yang baik dengan Tuhan. Untuk apa berdoa kepada Tuhan, jika hidup selalu berjalan mulus?

Pengkotbah menulis sesuatu kenyataan yang sangat penting dalam hidup. Bahwa lebih banyak orang yang melihat kebesaran Tuhan dalam penderitaan, daripada mereka yang hidup dalam kemakmuran dan kenyamanan. Bahwa lebih banyak orang yang kuat imannya dalam menghadapi kesulitan, daripada mereka yang selalu berada dalam kejayaan. Memang dalam kesedihan, Tuhan bisa datang membawa kelegaan kepada mereka yang percaya.

Saat ini, adakah kesedihan dalam hidup anda? Adakah rasa gundah yang besar, yang tidak bisa dikurangi sekalipun anda berusaha untuk tertawa dan menghibur diri? Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa Tuhan bisa memakai keadaan kita agar kita bisa lebih percaya kepada bimbinganNya.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 6 – 7

Berusahalah untuk berdamai tapi tetaplah kudus

“Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.” Ibrani 12: 14

Membaca suratkabar pagi ini saya terpaksa menghela nafas. Bagaimana tidak? Dimana-mana ada berita tentang kekerasan yang dilakukan oleh manusia terhadap sesamanya. Terlebih lagi, kekerasan dalam rumahtangga sekarang ini makin menjadi-jadi. Mereka yang berusaha berlindung dibalik hukum, sekarang ini harus mempunyai modal uang yang cukup. Tanpa uang, perlindungan hukum mungkin tidak dapat diperoleh melalui pengadilan. Dengan demikian, mereka yang lemah dan miskin menjadi bulan-bulanan mereka yang lebih kuat dan lebih kaya. Dunia ini agaknya makin kacau saja.

Pada hakikatnya semua manusia tentunya mengerti bahwa kekacauan adalah sesuatu yang tidak dapat dinikmati. Kekerasan, perkelahian, permusuhan dan percekcokan memang sebaiknya dihindari.Walaupun demikian, bagi mereka yang mau berusaha untuk hidup damai selalu ada saja hal-hal yang tidak diharapkan, yang membuat kacau kehidupan. Kejadian tragis dimana nyawa seseorang hilang karena persoalan yang sepele, bukanlah sesuatu yang mengherankan. Manusia memang bisa menemukan alasan apa saja untuk membenci orang lain, entah itu karena perbedaan suku, agama, ras, golongan, seks, adat-istiadat, kebiasaan atau karena hal-hal lainnya.

Bagaimana manusia bisa hidup damai dalam suasana yang serba berbeda atau plural ini? Ada yang menganjurkan agar manusia mengadopsi paham pluralisme dalam segala bidang. Paham yang menerima eksistensi pandangan, golongan atau pendapat yang berbeda-beda dalam satu tempat. Dalam hal ini, pluralisme agama pada umumnya menerima semua agama sebagai kepercayaan yang sama benarnya, atau mengandung kebenaran yang bisa diterima oleh golongan lain. Ini berbeda dengan paham eksklusif dimana golongan tertentu percaya bahwa hanya satu kepercayaan yang benar, yaitu apa yang diyakininya sendiri. Mereka yang mendukung paham pluralisme  percaya bahwa itu adalah jalan yang terbaik untuk mencapai perdamaian dalam hidup bermasyarakat dan bernegara.  Selain itu, banyak juga  yang beranggapan bahwa kedamaian dalam hubungan suami-istri atau antara orangtua dan anak bisa dicapai dengan menerima perbedaan agama yang ada.

Bagaimana ajaran Alkitab tentang hidup damai dalam masyarakat yang serba berbeda ini? Ayat di atas mengajarkan bahwa umat Kristen harus  berusaha untuk  hidup damai dengan semua orang. Permusuhan, rasa dendam, marah dan kebencian adalah bertentangan dengan ajaran kasih. Setiap orang Kristen dituntut untuk bisa mengasihi sesamanya, dan istilah “sesama” dalam hal ini bukanlah hanya orang-orang yang seiman. Sebagai orang Kristen kita juga harus bisa mengasihi mereka yang berbeda paham atau yang memusuhi kita. Sedapat mungkin kita harus berusaha untuk menghindari pertentangan dengan siapapun, dimanapun dan kapanpun. Kita harus berusaha untuk memancarkan kasih Tuhan agar makin banyak orang yang mengenal Dia.

Pada pihak yang lain, ayat di atas mengatakan bawa kita harus hidup dalam kekudusan. Tanpa kekudusan, kita tidak bisa berjumpa dengan Tuhan. Ini tentunya tidak berarti bahwa kita harus menjadi sama dengan Tuhan yang mahakudus. Tuhan menghendaki kita  untuk kudus dalam darah Kristus.  Manusia tidak dapat dibenarkan tanpa darah Kristus yang menebus dosa mereka. Juga, karena penebusan Kristus, terbuka jalan bagi kita untuk bertumbuh terus dalam dalam kekudusan. Dengan demikian, hidup berdamai dengan semua orang bukanlah berarti hidup dengan mengorbankan iman kepercayaan kita. Jika kita berusaha mencapai perdamaian dengan segala cara, seringkali itu berarti bahwa kita harus membayarnya dengan kekudusan yang sudah kita terima dari Tuhan dan yang sudah tumbuh karena anugrahNya.

“Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” Galatia 1: 10