“Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Kejadian 1: 27
Di zaman ini, baik dalam media atau pergaulan sehari-hari, seringkali ada opini yang menyudutkan golongan etnis tertentu. Memang karena di dunia ada banyak bangsa, suku dan kelompok etnis, pandangan yang meninggikan golongan sendiri dan merendahkan kelompok lain itu sering muncul. Biasanya hal itu digolongkan sebagai rasisme, karena adanya keyakinan bahwa golongan tertentu adalah lebih baik dari yang lain. Bagaimana pandangan orang Kristen dalam hal ini?
Hal membeda-bedakan manusia tidak dapat dipisahkan dari kenyataan tentang adanya manusia yang berbeda penampilan, kebudayaan, bahasa dan cara hidupnya. Dari manakah asal umat manusia itu dan bagaimana pula mereka bisa menyebar dan menjadi manusia yang kelihatan berbeda adalah hal-hal yang sering dipertanyakan orang sejak dulu.
Bagi mereka yang percaya bahwa Tuhan menciptakan alam semesta, tentunya ada keyakinan bahwa semua umat manusia di dunia ini adalah sebuah ciptaan Tuhan. Dengan berlalunya waktu, perubahan perlahan-lahan terjadi, tetapi semua manusia pada hakikatnya adalah sejenis.
Bagi mereka yang mendalami ilmu genetika, manusia dengan segala bentuk badan, rupa dan warna kulit mereka, tidaklah menyatakan bahwa mereka adalah makhluk yang berlainan. Sebaliknya, manusia berdasarkan genetika adalah makhluk yang homogen dan hampir tidak berbeda. Kebanyakan bukti genetika dan arkeologi menunjuk pada satu tempat di sebelah timur Afrika, dari mana manusia kemudian menyebar ke seluruh dunia.
Jika satu kelompok manusia merasa lebih baik dari kelompok yang lain, biasanya itu disebabkan oleh ketidaksadaran atau ignorance bahwa semua manusia pada dasarnya berasal dari satu tempat, dan dengan demikian adalah sebangsa. Dengan kehendak Tuhan, manusia kemudian nenyebar ke seluruh penjuru dunia. Dengan demikian, bagi umat Kristen semua manusia dan dimanapun mereka berada adalah ciptaan Tuhan yang sederajat. Lebih dari itu, Tuhan mengasihi setiap orang dan mengurbankan AnakNya untuk menebus siapa saja yang percaya tanpa memandang asal usulnya (Yohanes 3: 16), sehingga pada saatnya semua umatNya akan dipersatukan di surga.
Adalah suatu hal yang menyedihkan bahwa ada orang-orang yang senang membesar-besarkan perbedaan dan asal usul umat manusia. Bagi umat Kristen, hal yang sedemikian seolah berarti bahwa Tuhan pada awalnya menciptakan manusia yang berbeda jenis dan kelas di berbagai tempat di dunia. Pandangan sedemikian juga membuat seolah Tuhan lebih mengasihi orang-orang atau bangsa-bangsa tertentu karena mereka lebih baik dari bangsa yang lain.
Pagi ini firman Tuhan mengingatkan seluruh umat manusia, dan terutama umat Kristen bahwa setiap insan adalah ciptaan Tuhan yang harus menerima perlakuan dan penghargaan yang sama dimana pun mereka berada. Lebih dari itu, sebagai umat Kristen kita terpanggil untuk menyampaikan kabar baik tentang Yesus Kristus kepada seluruh umat manusia yang tanpa perkecualian sudah jatuh kedalam dosa.
“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Efesus 4: 32

Hari ini saya pergi ke sebuah museum di Copenhagen. Sebenarnya saya bukanlah orang yang gemar mengunjungi museum, tetapi saya menyempatkan diri karena kebetulan museum itu dibuka gratis untuk umum.
Bagi saya, perjalanan ke luar negeri sering membawa berbagai kesan. Selain kesan yang baik, kesan yang kurang baik juga bisa muncul. Di beberapa negara jelas terlihat bahwa rakyat hidup dalam kecukupan, sehingga mereka yang tidak mempunyai posisi tinggi pun tetap dapat menikmati berbagai hal yang tergolong mewah di negara lain.
Siapa saja yang ke Eropa tentu bisa melihat bahwa banyak kota disana yang memiliki gedung-gedung gereja kuno yang sangat indah arsitekturnya. Walaupun demikian, kebanyakan gedung gereja yang besar dan megah itu sekarang cenderung berfungsi sebagai museum daripada sebagai tempat berbakti kepada Tuhan.
Dalam perjalanan ke negara-negara di sekitar laut Baltik baru-baru ini saya menyaksikan bagaimana kesehatan lingkungan terlihat terpelihara di negara-negara tertentu, tetapi agak kacau di beberapa negara lain. Pada umumnya negara-negara yang tidak terlalu besar dan ekonominya baik, lebih terlihat bersih dan rapi.
Di sebuah kota di Eropa, baru-baru ini saya menyaksikan bagaimana padatnya lalu-lintas pada waktu jam sibuk. Pada daerah tertentu, karena jalan macet orang memarkir mobil di tengah jalan sambil menyalakan lampu bahaya (hazard lights). Belum pernah saya melihat kejadian seperti itu di negara mana pun. Pada waktu itu polisi tidak terlihat dan kekacauan agaknya disebabkan oleh pengemudi mobil yang tidak peduli akan orang lain atau peraturan lalu lintas yang ada.
Apa yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah adanya jasmani dan rohani dalam diri mereka. Jika makhluk lain hanya hidup dalam bentuk jasmani dan tidak mampu atau pernah memikirkan kemungkinan adanya kuasa Ilahi, kebutuhan spritual, keselamatan, kedamaian jiwa dan hal-hal kerohanian lainnya, Tuhan menciptakan manusia menurut peta dan teladanNya lengkap dengan jasmani dan rohani.
Kemarin dalam rangka perjalanan ke beberapa negara di Eropa, saya sempat berjalan-jalan di ibukota negara Denmark, Copenhagen. Bagi orang Indonesia, Denmark mungkin dikenal sebagai tempat tinggal penulis dari abad 19 yang terkenal di seluruh dunia: Hans Christian Andersen. Penulis ini dikenal sebagai penulis dongeng anak-anak yang berjumlah 3381 dan sudah diterjemahkan kedalam lebih dari 125 bahasa. Patung Hans yang terbuat dari tembaga ada di tengah kota Copenhagen.