Siapakah sesama kita?

“Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” Galatia 5: 14

Mengasihi sesama manusia. Suatu hal yang indah jika bisa dilakukan, tetapi tidaklah mudah untuk dilaksanakan. Mengapa begitu? Pada umumnya manusia membeda-bedakan apapun yang ada dalam lingkungannya. Jika mengenai makanan dan pakaian, seseorang mungkin mempunyai sebuah favorit, begitu juga mengenai teman, sejak kecil orang sering memilih siapa yang paling cocok dan disenangi. Kisah kehidupan dua bersaudara, Esau dan adiknya Yakub, menunjukkan bahwa sekalipun orang tua mereka mencintai kedua anak itu, masing-masing mempunyai “anak kesayangan” yang tersendiri. Dalam hal ini Ishak sayang kepada Esau, tetapi Ribka kasih kepada Yakub (Kejadian 25: 19 – 28).

Ayat pembukaan diatas menggaris-bawahi pentingnya bagi setiap orang Kristen untuk bisa mengasihi sesamanya. Kata “sesama manusia” sering muncul dalam Alkitab, dan secara harfiah tentu artinya tidak perlu dipertanyakan. Sesama manusia berarti siapapun dan dimanapun mereka berada, baik tua atau muda, kaya atau miskin, pria atau wanita, orang dari bangsa manapun, dan yang beragama apapun. Tetapi, seperti Ishak dan Ribka, banyak manusia yang secara tidak sadar terbiasa dengan konsep kesamaan yang dibatasi oleh  suku, agama, ras dan golongan. Tidaklah mengherankan bahwa orang yang dikenal sebagai teman dalam situasi tertentu, bisa menjadi musuh dalam keadaan yang lain. Karena itu, berbagai kejadian yang bisa kita baca, lihat atau dengar, terkadang bisa membuat kita berpikir: mengapa manusia bisa berlaku demikian kejam kepada sesamanya?

Bagi kita, jelas bahwa Yesus datang ke dunia untuk menebus dosa seisi dunia. Mereka yang percaya kepadaNya tidak akan binasa, tetapi memperoleh hidup yang kekal (Yohanes 3: 16). Walaupun demikian, pada saat Yesus masih ada di dunia, orang Yahudi mempunyai anggapan bahwa Mesias akan datang untuk menyelamatkan mereka saja. Karena itu, orang Yahudi tidak menyenangi, dan bahkan kurang menghargai orang lain, yang berbeda latar belakang dan rasnya. Yesus menentang pandangan orang Yahudi melalui perumpamaan orang Samaria yang murah hati, yang menyelamatkan seorang Yahudi korban perampokan. Sekalipun ada dua orang Yahudi lainnya yang bisa menolong si korban, hanyalah seorang Samaria yang mau menolongnya. Orang yang dipandang rendah oleh orang Yahudi karena “berdarah campuran” ternyata adalah orang yang baik, yang mau menolong sesamanya.

“Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” Lukas 10: 36 – 37

Pagi ini, mungkin anda bersiap untuk menjalankan tugas anda sehari-hari. Akankah anda menemui orang- orang yang berbaik hati dan mau menghargai atau menolong anda? Apakah anda akan mengalami hari yang indah tanpa pertengkaran dan kecurigaan?

Dalam hidup di dunia ini, kita tidak akan bebas dari keadaan dan perlakuan yang tidak baik yang diperbuat orang lain, karena mereka mungkin mempunyai kebiasaan untuk memandang rendah orang-orang yang cara hidupnya  tidak seperti mereka. Mungkin juga mereka membenci orang-orang yang dianggap hidup dalam dosa, karena mereka merasa sudah hidup dalam kebenaran dan kesucian. Tetapi, sebagai pengikut Kristus adalah panggilan kita untuk menunjukkan bahwa kita berbeda dengan orang dunia.

Seperti Yesus datang untuk orang yang belum percaya dan masih hidup dalam dosa, begitu juga kita harus mau mengasihi setiap orang agar mereka mendapat kesempatan untuk memilih jalan yang benar, guna menuju kearah keselamatan yang kekal.

Siapakah yang dibalik segala kekacauan?

“Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” Yakobus 3: 16

Kemacetan lalu lintas di Australia sekarang mulai menjadi salah satu norma kehidupan. Di kota besar seperti Sydney, Melbourne dan Brisbane tiap pagi di hari kerja, mereka yang pergi ke kantor harus berangkat lebih pagi untuk mengantisipasi kemacetan di jalan. Memang angka kepemilikan mobil yang tinggi dan kurang populernya transportasi publik di Australia membuat jalan raya penuh dengan mobil.

Salah satu akibat kemacetan lalu lintas adalah mudahnya amarah di jalan raya (road rage) untuk muncul di antara para pengemudi, terutama di musim panas. Mereka yang merasa diperlakukan secara kurang baik oleh orang lain, mudah menjadi marah dan kemudian main hakim sendiri. Memang umumnya road rage itu berasal dari rasa iri, marah dan mementingkan diri sendiri (ego) yang alkirnya membawa kebencian dan kekacauan. Aku benar dan kamu yang salah, begitulah yang ada dalam pikiran mereka yang melakukannya.

Rasa ego yang membawa bencana yang penah dilakukan manusia, tertulis dalam Alkitab untuk pertama kalinya ketika Kain membunuh Habel, adiknya (Kejadian 4: 4 – 8). Sejak itu, berbagai nama muncul dalam Alkitab dari orang yang memiliki kelakuan serupa. Orang yang dipilih Tuhan pun tidak terluput dari godaan untuk menjadi iri dan mementingkan diri sendiri, seperti halnya dengan raja Daud yang mengingini istri Uria, yaitu Batsyeba, dan kemudian menyebabkan kematian Uria di medan perang.

Dunia memang sering mengajarkan bahwa mereka yang sukses sering adalah orang yang tidak mau kalah dengan yang lain. Lebih dari itu, bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia bisnis, keserakahan sering dianggap lumrah karena itu memberi motivasi untuk sukses, greed is good. Selain itu, bagi mereka yang bekerja dalam bidang politik, usaha untuk membuat golongan sendiri terlihat baik dengan menjelekkan golongan lain adalah biasa.

Bagi umat Tuhan, keyakinan bahwa Tuhan membenci kekacauan tentunya dapat dimengerti, karena Tuhanlah yang menciptakan dunia ini dari sesuatu yang gelap, kosong dan tidak berbentuk (Kejadian 1). Tidaklah mengherankan, bahwa dalam kehidupan bergereja pun, Tuhan mengingini umatnya untuk hidup bermasyarakat dan berbakti kepadaNya dengan tertib untuk menghindari kekacauan.

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Pagi ini, jika kita melihat kehidupan disekeliling kita, banyaklah hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan yang dilakukan manusia. Ada orang-orang yang menuruti suara hati dan pikiran yang sesat, yang meninggikan kepentingan pribadi atau golongan tertentu. Ada juga yang dengan egonya, seakan siap untuk menghancurkan dan memusnahkan orang atau golongan lain.

Dari apa yang terjadi sebagai hasil perbuatan mereka, kita bisa mengerti apakah mereka ada dipihak Tuhan atau melawan Tuhan. Mereka yang menimbulkan kekacauan, dan ketakutan dalam masyarakat adalah musuh-musuh Tuhan, yang pada akhirnya harus mempertanggung-jawabkan perbuatan mereka. Sebaliknya, bagi kita yang mengikut perintahNya, tugas kita adalah untuk menjadi terang dunia, dengan membangun kekuatan, kasih dan ketertiban di dunia.

“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” 2 Timotius 1: 7

Mengapa harus pusing sekarang?

“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Matius 6: 34

Kalau saya mengingat masa kecil saya, tidak dapat tidak saya bersyukur atas berkat Tuhan. Pada saat itu keadaan ekonomi keluarga saya tidaklah dapat dikatakan sehat, begitu pula keadaan banyak keluarga yang lain. Tahun-tahun itu adalah saat dimana orang hidup dalam bahaya. The years of living dangerously. Setiap hari kebanyakan orang tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Kalau sekarang keadaan di Indonesia sudah jauh lebih baik, itu tentunya menunjukkan kasih dan pemeliharaan Tuhan.

Adakah orang yang tidak pernah kuatir? Setiap orang mempunyai kuatirnya sendiri, dan itu adalah pencerminan keadaan dunia yang sudah jatuh kedalam dosa. Bagi banyak orang yang sekarang hidup dalam kecukupan, seringkali terasa bahwa masa depan masih juga belum bisa dipastikan. Uang mungkin bukan lagi masalah, tetapi situasi kesehatan, keluarga, pekerjaan dan lain-lainnya tetap bisa membawa rasa ragu dalam menghadapi masa depan. Apalagi, jika kita rajin membaca berita, seolah keadaan di dunia ini menjadi buruk dengan kemungkinan adanya kegoncangan politik, ekonomi maupun sosial.

Memang seringkali apa yang belum terjadi itu justru bisa terasa lebih berat dari apa yang sudah terjadi. Kekuatiran memang sudah menjadi “penyakit umum” umat manusia sedunia. Kekuatiran bisa menyebabkan berbagai penyakit badani maupun kejiwaan. Kekuatiran juga bisa membuat manusia jatuh kedalam jurang keputusasaan.

Pada waktu Yesus akan disalibkan, pergumulanNya di taman Getsemani mengambarkan segi kemanusiaanNya. Yesus bisa merasakan penderitaan dan kekuatiran dalam menghadapi apa yang akan terjadi, persis seperti kita umat manusia. Walaupun demikian, ada perbedaan antara sikap manusia dan sikap Yesus dalam menghadapi masa depan. Sejak lama Yesus sudah tahu bahwa Ia harus mati disalibkan, tetapi Ia baru bergumul dengan kenyataan pada waktunya. Sebelum saat itu datang, Ia memusatkan perhatianNya bukan pada masalah yang akan datang, tetapi pada tugas berat yang harus dilakukanNya setiap hari.

Pagi ini, kita melihat dari ayat diatas bahwa Yesus mengajarkan bahwa sebagai umat percaya, kita tidak perlu kuatir akan apa yang belum terjadi, karena tiap hari kita mempunyai berbagai tantangan dan masalah yang harus kita hadapi. Setiap hari, ada hal-hal yang bisa kita ubah, tetapi ada juga hal-hal yang harus kita terima. Sebagai manusia kita mempunyai batas-batas kekuatan yang harus kita sadari. Jika kita mulai menguatirkan apa yang belum terjadi, perjuangan kita menjadi terlalu berat dan apa yang harus kita lakukan hari ini justru bisa berantakan. Tambahan pula, mengapa harus kuatir, sedangkan kita tahu bahwa Tuhan selalu menyertai kita?

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” 1 Petrus 5: 7

Iman tidak harus datang melalui mujizat

“Dan meskipun Yesus mengadakan begitu banyak mujizat di depan mata mereka, namun mereka tidak percaya kepada-Nya.” Yohanes 12: 37

Tiap hari, jika kita perhatikan, selalu ada berita-berita tentang keajaiban yang terjadi di berbagai sudut dunia. Bagi mereka yang percaya adanya kekuasaan Ilahi, kejadian semacam itu adalah sesuatu yang membuat mereka kagum atas kebesaran Tuhan. Sedemikian besar keinginan sebagian diantara mereka untuk meyakinkan diri bahwa Tuhan itu ada dan mahakuasa, mereka sampai-sampai mencari keajaiban dan mujizat dalam segala bentuknya dengan berziarah ke berbagai tempat yang dianggap suci, dan ke tempat dimana keajaiban pernah terjadi.

Di kalangan umat Kristen pun ada banyak orang yang selalu mencari pernyataan Tuhan dengan segala bentuknya. Ada orang-orang yang suka menafsirkan proses alami tertentu, seperti bentuk awan dan batu, sebagai penampilan Tuhan. Ada pula mereka yang menyukai orang-orang tertentu yang mengaku utusan Tuhan dan bisa melakukan hal-hal yang luar biasa . Lebih dari itu, banyak orang yang gemar mendengar pesan dari mimbar tenrang pentingnya memohon agar Tuhan memberi mujizat bagi umatNya.

Adalah hal yang menarik untuk disimak bahwa selama Yesus masih di dunia, Ia tidaklah selalu membuat mujizat di tempat-tempat yang dikunjungiNya. Tuhan Yesus memusatkan tenaganya untuk memberitakan kabar keselamatan dan mengajarkan firmanNya. Mereka yang mengikut Dia bukanlah selalu mengharapkan adanya mujizat, tetapi mereka ingin mendengar kabar baik dari Tuhan. Sebagai Anak Allah, kebesaran dan kasih Tuhan Yesus tidak perlu ditopang dengan mujizat yang memang diperbuatNya pada saat-saat tertentu. Yesus pada waktu itu adalah “bintang utama” dari kisah penyelamatan umat manusia di dunia. The Star of the greatest show on earth.

Dalam Perjanjian Baru, rasul-rasul harus bekerja keras untuk meneruskan pekerjaan yang sudah dirintis Yesus. Karena Yesus sudah tidak bersama dengan mereka, tugas untuk mengabarkan injil itu tidaklah mungkin dilaksanakan jika Roh Kudus tidak menyertai mereka. Untuk menambah otoritas mereka, Tuhan juga memberikan kemampuan untuk melakukan berbagai hal yang ajaib agar mereka yang tidak pernah melihat Yesus dan belum pernah mendengar namaNya, bisa diyakinkan bahwa Yesus adalah Tuhan yang mahakuasa. Keadaan pada zaman ini adalah berbeda, karena hampir semua orang di dunia sudah pernah mendengar nama Yesus.

Dalam ayat diatas tertulis bahwa sekalipun Yesus melakukan banyak mujizat, sebagian orang tetap tidak percaya bahwa Ia adalah Anak Allah. Bagi mereka, apa yang mereka lihat tidaklah mendatangkan iman. Mungkin hanya sekedar show. Hati mereka tertutup untuk Tuhan.

Iman adalah percaya kepada hal-hal yang tidak terlihat, kepada Tuhan yang Roh dan kepada kuasa dan kasihNya. Karena itu, apa yang terlihat manusia belum tentu bisa membawa kepada iman. Yesus memberi kesempatan kepada Tomas untuk membuktikan dengan mata kepalanya bahwa Ia sudah bangkit. Tetapi Ia juga berkata bahwa adalah lebih baik jika orang bisa percaya dan berserah kepada Tuhan tanpa perlu, dengan mata, melihat keajaiban Ilahi.

Dari manakah iman jika tidak dari perjumpaan dengan kuasa Tuhan? Pertanyaan yang benar, tetapi belum tentu dijawab dengan dengan benar. Karena jawabnya belum tentu mujizat yang kita lihat dengan mata. Iman datangnya dari Tuhan, yang sudah bekerja dalam hati seseorang. Sekalipun tidak ada mujizat yang muncul, Roh Kudus terus bekerja untuk membawa manusia kepada iman yang benar. Karena itu, adalah lebih baik bagi kita untuk memohon agar Tuhan menumbuhkan iman kita setiap hari dalam pergumulan hidup, daripada memohon agar Tuhan menghilangkan pergumulan hidup untuk menumbuhkan iman kita.

Tiap hari, setiap kali kita menghirup udara segar, kita harus menyadari bahwa hidup ini adalah sebuah keajaiban. Tetapi, keajaiban yang terbesar yang dilakukan Tuhan untuk kita adalah datangnya Yesus ke dunia untuk menyelamatkan kita. Inilah karunia yang terbesar, bahwa sekalipun kita sebenarnya harus mati karena dosa- dosa kita, melalui darah Yesus kita bisa menerima hidup yang kekal. Mengapa pula kita masih mendambakan datangnya mujizat lain yang tidak dapat dibandingkan dengan pengurbanan Kristus?

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Ibrani 11: 1

Kebodohan iman

“Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.” Matius 7: 26

Beberapa tahun yang lalu saya mengunjungi Fraser Island, sebuah pulau pasir sebelah timur Brisbane. Pulau dengan pemandangan alami yang indah ini termasuk salah satu World Heritage yang harus dipertahankan kelestariannya. Baru-baru ini Prince Harry dan Meghan Markle juga mengunjungi pulau itu sehubungan dengan kunjungan resmi mereka ke Australia.

Kebanyakan turis di Fraser Island memilih untuk tinggal di tenda ditengah alam terbuka. Karena Fraser Island tidak mempunyai jalan beraspal kecuali beberapa jalan di sekitar hotel, umumnya perjalanan di pulau itu harus dilakukan dengan mobil dan bis four wheel drive. Dengan demikian, pulau ini sangat populer diantara mereka yang senang berkelana dengan berbagai jenis kendaraan untuk tanah berlumpur dan berpasir.

Tanah berpasir di Fraser Island bisa menyulitkan pengemudi mobil yang tidak terbiasa. Seringkali mobil atau bis terperosok kedalam pasir yang nampaknya stabil tetapi ternyata lunak. Banyak orang yang kehilangan mobilnya karena terpendam dalam pasir berair laut. Pasir tidak mempunyai kestabilan yang diperlukan untuk jalan raya ataupun bangunan.

Pada waktu Yesus meyampaikan khotbah di bukit, Ia juga mengutarakan bahaya tanah pasir, sinking sand. Sekalipun Yesus biasa bekerja sebagai tukang kayu, Ia memakai perumpamaan tentang membangun rumah diatas pasir yang tidak stabil. Ia berkata bahwa orang bodoh percaya bahwa tanah pasir adalah cukup kuat untuk menyokong rumah mereka.

Ada banyak orang Kristen yang seolah mendirikan rumah diatas pasir. Mempunyai iman yang berlandaskan kekosongan; karena mereka hanya percaya, tetapi tidak mengerti apa yang mereka percayai. Dalam kebodohan mereka, mereka tidak juga tahu bahwa mereka tidak mengerti. Mereka mungkin sering ke gereja dan hidupnya kelihatan normal, tetapi tidak mengerti pentingnya mendalami firman Tuhan. Mereka rajin mendengar khotbah pendeta, tetapi tidak pernah menggumuli dan menjalankan firman Tuhan secara pribadi. Jikapun ada khotbah yang sumbang nadanya, mereka tidak akan menyadarinya. Hidup berjalan lancar selama tidak ada badai.

Pagi ini kita harus sadar bahwa badai pasti datang dalam kehidupan siapapun. Jika tidak datang pada hari ini, mungkin saja besok pagi. Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin muncul jika itu muncul:

  • mengapa ini terjadi?
  • apa salahku?
  • dimanakah engkau Tuhan?

Sebagai orang Kristen, hanya iman kepada Tuhan yang mahakuasa yang bisa menyelamatkan kita dari kehancuran. Tuhan dan firmanNya adalah bagai gunung batu yang teguh, diatas mana kita seharusnya membangun hidup kita. Hanya melalui iman yang benar dan yang berlandaskan pengenalan akan kebenaran firman Tuhan, kita bisa menjalani hidup kita tanpa rasa kuatir akan masa depan.

“Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.” Mazmur 62: 2

Dimanakah Engkau, Tuhan?

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Yakobus 1: 2 – 3

Setiap orang yang beragama umumnya percaya bahwa Tuhan ada di surga. Dengan demikian, orang berharap agar pada suatu saat akan bisa ke surga untuk menemui Tuhannya. Selama di dunia, orang berjuang untuk hidup dan hanya bisa mengharapkan agar Tuhan yang di surga sudi memberkati segala usahanya. Semua ini adalah konsep kepercayaan yang sering kita temui.

Mereka yang tergolong umat Kristen mempunyai pandangan yang berbeda. Tuhan yang di surga, pernah datang ke dunia. Yesus Kristus sudah lahir sebagai manusia, disalibkan untuk menebus dosa manusia dan kemudian kembali ke surga. Tetapi Tuhan Yesus sebenarnya tidak meninggalkan umatNya. Ia memberi umatNya seorang Penolong yaitu Roh Kudus yang membimbing dan menguatkan mereka yang percaya kepadaNya.

Tuhan dengan demikian selalu ada dalam hidup kita dan menyertai kita. Benarkah demikian? Memang mudah untuk menjawab “ya”, tetapi dalam hidup ini sering kita merasa bahwa Tuhan itu jauh, terutama jika kita mengalami persoalan hidup yang berat. Kita mungkin membayangkan betapa hidup kita akan berbeda jika kita bisa melihat Yesus ada bersama kita di dunia ini. Kalau saja Yesus masih ada, semua tentu akan baik jadinya!

Dalam kenyataannya, hidup orang Kristen memang tidak selalu diisi dengan hal-hal yang indah. Ada saat-saat dimana hidup ini terasa sangat berat dan kita tidak dapat merasakan kehadiran Tuhan. Itu adalah lumrah, karena selama hidup di dunia kita tidak dapat melihat kebesaran Tuhan sepenuhnya. Walaupun begitu, jika kita mengasihi Tuhan dan percaya kepadaNya, sekalipun sekarang kita tidak melihat Dia, kita boleh bergembira karena kita telah mencapai tujuan iman kita, yaitu keselamatan jiwa kita (1 Petrus 1: 8 – 9). Ini adalah tujuan utama iman kita, yang membuat kita menjawab panggilan keselamatanNya pada saat kita menjadi orang percaya.

Pagi ini, apakah anda merasakan beratnya hidup ini? Ayat diatas mengajar kita untuk tetap bertekun dalam iman. Memang segala penderitaan dan pencobaan hidup seringkali terasa sangat berat dan benar-benar menguji iman kita; tetapi hidup tanpa perjuangan bukanlah tujuan iman kita. Ujian hidup kita itu justru akan menumbuhkan iman kita kepada Tuhan, jika kita tetap bergantung kepada bimbingan dan penghiburan Roh Kudus yang selalu ada dalam hidup kita.

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27

Gestur saja tidak cukup

“….Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.” Matius 20: 26 – 27

Mungkin anda tahu, saat ini setiap kali kereta api jarak jauh hendak berangkat dari stasiun di Indonesia, sejumlah porter dan pegawai KAI yang bertugas berdiri menghadap gerbong kereta yang akan berangkat. Mereka meletakkan tangan di dada. Setelah itu, ketika kereta mulai beranjak, mereka menundukkan kepala hingga kereta benar-benar meninggalkan stasiun.

Gestur pegawai KAI seperti ini mirip dengan apa yang ada di Jepang. Sewaktu saya tinggal disana, pemandangan semacam itu adalah hal yang biasa. Menundukkan kepala adalah gestur untuk ucapan selamat jalan dan terima kasih. Hal seperti itu tidaklah lazim di negara barat; tetapi, di stasiun tertentu pegawai stasiun mungkin melambaikan tangan untuk mengucapkan selamat jalan kepada penumpang kereta pariwisata. Gestur yang sedemikian adalah baik, apalagi jika datang dari hati dan bukannya sekadar kebiasaan atau karena terpaksa.

Gestur (gesture) bisa diartikan sebagai gerakan tangan, raut muka dan lainya sebagai pernyataan perasaan atau pendapat. Gestur juga bisa diterjemahkan sebagai perbuatan yang menyatakan pikiran atau maksud seseorang, sekalipun tidak mempunyai kegunaan yang nyata. Gestur yang baik biasanya dapat memperkokoh hubungan antar manusia, sedangkan gestur yang buruk bisa menyebabkan perselisihan dan perpecahan dalam masyarakat.

Ayat diatas adalah ajaran Yesus kepada murid-muridNya untuk berbuat baik kepada sesama. Yesus berkata bahwa mereka yang ingin menjadi besar diantara sesamanya, haruslah mau menjadi orang yang siap melayani dan menolong orang lain. Paling tidak ada dua hal yang bisa kita pelajari dari ayat itu. Yang pertama, sebagai orang Kristen kita boleh saja berharap untuk nenjadi pemimpin. Orang Kristen bukanlah orang yang tidak diperbolehkan untuk mempunyai cita-cita besar. Yang kedua, orang Kristen yang ingin menjadi pemimpin haruslah mau untuk mengurbankan diri untuk pengikutnya. Jika kita sering melihat orang-orang yang berkuasa memerintah pengikut mereka dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas bawahan mereka (Matius 20: 25), orang Kristen yang ingin menjadi pemimpin diharuskan untuk menjadi “hamba” yang melayani pengikutnya. Hamba disini tentunya bukan berarti budak, tetapi orang yang benar-benar mau berkurban untuk orang lain.

“….sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Matius 20: 28

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan bahwa setiap orang Kristen bisa menjadi pemimpin, dan bahkan sudah menjadi pemimpin dalam lingkungannya. Mungkin sebagai orang tua, suami atau istri, guru, pendeta dan sebagainya. Tiap-tiap hari kita ditantang untuk bisa menolong dan melayani mereka yang kita pimpin. Menolong dan melayani orang lain tidaklah cukup dengan kebiasaan membuat gestur yang baik; tetapi kita juga harus benar-benar menghasilkan hal-hal yang berguna untuk sesama, terutama bagi mereka yang terlupakan dalam lingkungan kita. Itu adalah sebagai pernyataan rasa syukur kita kepada Kristus yang sudah menebus dosa kita.

“Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu.” Yakobus 2: 15 – 16

Apakah Tuhan itu benar mahakasih?

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Teringat saya akan kejadian sewaktu saya masih di SMP. Seorang teman tiba-tiba meninggal dunia tanpa sebab yang jelas. Bagi orang luar, kejadian itu nampaknya sangat tragis karena teman saya adalah anak tunggal. Tetapi, orang tua teman saya waktu itu kelihatan tetap tabah dan tidak terpengaruh dalam kegiatan sehari-hari mereka.

Mengapa ada orang yang begitu tabah dalam menghadapi bencana kehidupan? Sebagian orang mungkin tidak mempunyai alternatif lain. Tuhan dipercaya sebagai Oknum yang menentukan dan bahkan membuat semua itu. Karena itu, tidak ada gunanya untuk bersusah hati. Siapa yang bisa melawan Tuhan? Malapetaka adalah nasib yang ditentukan Tuhan untuk orang-orang yang dipilihNya. Pandangan semacam itu dinamakan fatalisme.

Bagi umat Kristen, adanya bencana belum tentu datang dari Tuhan. Memang, jika orang hidup dalam dosa, Tuhan bisa memberi peringatan dan bahkan hukuman. Kekeliruan manusia dalam mengambil keputusan juga bisa menyebabkan datangnya bencana. Misalnya, pemerintah yang kurang memperhatikan kesejahteraan rakyatnya, bisa memungkinkan timbulnya korban bencana alam yang besar karena kurangnya persiapan.

Bagi orang Kristen, Tuhan adalah mahakasih. Ia tidak pernah bermaksud untuk memberi bencana bagi anak-anakNya yang taat. Ada kalanya Ia membiarkan adanya penderitaan dan malapetaka terjadi, seperti apa yang terjadi kepada Ayub. Tetapi Tuhan jugalah yang memberi kekuatan kepada mereka yang percaya, agar mereka tetap teguh selama hidup di dunia. Dunia ini penuh semak duri, tetapi Tuhan membimbing dan menguatkan orang beriman.

Ayat diatas sering dipakai untuk menghibur orang Kristen yang mengalami penderitaan. Tetapi ayat itu juga sering disalah tafsirkan sehingga orang bukannya terhibur, tapi justru sebaliknya. Mengapa begitu?

Memang dalam menghadapi bencana kehidupan, tidak mudah bagi kita untuk mengerti bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Kalau Allah itu baik, mengapa Ia membiarkan adanya malapetaka? Kalau Ia memelihara orang yang mengasihiNya, mengapa bencana bisa terjadi pada umat percaya?

Tuhan jelas mengasihi seluruh umat manusia dengan mengutus Yesus untuk menebus dosa orang yang percaya. Bagi orang-orang yang sudah menjadi anakNya, jaminan keselamatan sudah ada. Tetapi selama hidup di dunia, setiap orang bisa mengalami bencana. Penderitaan di dunia adalah bagian kehidupan semua orang. Apalagi, sebagai orang Kristen kita justru sering menderita karena iman kita kepada Kristus.

Apa yang dialami Yesus di dunia, bukan hanya sehubungan dengan penyelamatan orang percaya. Penderitaan di dunia yang dialamiNya adalah juga untuk meyakinkan kita bahwa Ia tahu apa yang kita rasakan dalam menghadapi bencana hidup. Yesus yang seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian (Yesaya 53: 7), sudah memberikan contoh ketabahan dengan mempercayakan diriNya kepada rencana Allah Bapa. Ia yakin bahwa rencana Allah adalah baik, dan Allahlah yang bisa membuat agar apa yang baik bisa timbul dari apa yang kelihatannya sangat buruk.

Pagi ini, dalam membaca ayat diatas, marilah kita meminta agar Roh Kudus membuka hati dan pikiran kita untuk dapat menyelaminya. Memang tidak mudah bagi kita untuk mengerti rencana Tuhan dalam hidup kita, tetapi satu hal yang harus kita yakini ialah kasihNya yang tidak pernah berubah.

“Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.” 1 Korintus 1: 9

Aku mau menurutiMu

Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Lukas 5: 5

Bagi mereka yang senang membaca atau mendengar nasihat motivator, semboyan “Jika kamu belum berhasil, coba dan coba lagi” tentunya pernah dijumpai. Maksud semboyan ini adalah baik, karena kemauan keras dan usaha seringkali bisa membuat apa yang sulit dicapai, akhirnya bisa tercapai melalui semangat yang tidak kunjung padam. Walaupun demikian, seringkali orang dalam perjuangannya hanya memikirkan keinginan diri sendiri, tanpa memikirkan apakah yang dicarinya benar-benar sesuai dengan kehendak Tuhan.

Sebagai orang percaya, kita yakin bahwa konsep “ora et labora” atau ” berdoa dan bekerja” adalah baik adanya. Adalah realita hidup bahwa mereka yang ulet dan keras kepala pada akhirnya bisa lebih sukses daripada mereka yang gampang menyerah. Tetapi mereka yang “ngotot” untuk mencapai maksudnya belum tentu bisa bahagia atau puas dengan apa yang dicapainya, jika itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Disinilah pentingnya unsur doa itu, yaitu untuk mencari bimbingan dan pertolongan dari Tuhan dalam kita bekerja.

Dalam ayat diatas, diceritakan bahwa Simon Petrus bersama nelayan-nelayan yang lain sudah berusaha keras untuk mencari ikan di danau Genesaret. Tetapi, mereka tidak menangkap apa-apa sekalipun sudah bekerja sepanjang malam. Karena itu mereka berhenti bekerja dan pergi ke pantai. Adanya perahu di pantai memberi kesempatan bagi Yesus untuk menggunakannya guna mengajar orang-orang yang mengikutNya dari posisi lepas pantai.

Setelah Yesus selesai memberitakan firmanNya, Ia mengajak Simon untuk berlayar guna mencari ikan. Yesus tentu tahu apa yang terjadi sebelumnya, yaitu bahwa Simon dan nelayan lainnya sudah mengalami “nasib sial”, tidak berhasil menangkap ikan malam sebelumnya. Memang, penangkap ikan dimanapun tentu pernah mengalami “hari sepi” dimana ikan-ikan seolah bersembunyi, menghilang dari muka air. Tetapi Yesus mempunyai maksud lain, Ia ingin mengajar Simon dan rekan-rekannya, bahwa Ia berkuasa atas segala sesuatu.

Simon yang sudah ikut mendengarkan Yesus sewaktu Ia mengajar dari atas perahu, tentunya merasa bahwa Yesus mempunyai kharisma yang besar. Karena itu, walaupun ia ragu apakah ada gunanya untuk pergi mencari ikan lagi, ia menurut ajakan Yesus. Karena Yesus yang menyuruh, Simon mau menurutinya. Ketaatan Simon membawa hasil yang luar biasa; begitu banyak ikan yang ditangkap mereka, sampai perahu-perahu mereka hampir tenggelam.

Kisah Simon, Yakobus dan Yohanes yang kemudian menjadi penjala manusia adalah luar biasa. Disinilah kita melihat adanya unsur ketiga dalam hidup umat Kristen. Bukan hanya berdoa dan bekerja, tetapi juga ketaatan kepada perintah Tuhan. Tuhan tahu apa yang sudah terjadi dalam hidup kita, dan Ia juga tahu apa yang akan terjadi. Lebih dari itu, seperti Ia mempunyai rencana untuk menjadikan ketiga nelayan diatas untuk menjadi penjala manusia yang ulet, Ia mempunyai rencana yang baik untuk setiap umatNya.

Pagi ini marilah kita memikirkan hidup kita. Apakah kita selalu giat dalam bekerja? Itu baik, karena kemalasan bukanlah sesuatu yang disukai Tuhan. Apakah kita juga giat berdoa untuk memohon kekuatan dan bimbinganNya? Itupun baik, karena Tuhanlah sumber kekuatan dan kemampuan kita. Tetapi, ada satu hal lagi yang perlu kita pikirkan. Pertanyaan untuk kita pagi ini yaitu apakah kita sudah taat kepada perintah Tuhan dan bukannya hanya menuruti kemauan dan keinginan diri kita sendiri dalam berdoa dan bekerja. Bagaimana jawab kita? Dapatkah kita menjawab seperi Simon?

Tuhan aku tidak yakin bahwa itu baik bagiku. Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan melakukannya juga.

Beda pria dan wanita

“Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Galatia 3: 27 – 28

Dalam sejarah manusia, kaum wanita seringkali mengalami hal-hal yang tidak nyaman dan bahkan berbagai bentuk pelecehan, sehubungan dengan penampilan dan kedudukan mereka dalam masyarakat. Keadaan sedemikian biasanya sering muncul di tempat dimana hukum dan hak azasi manusia belum sepenuhnya bisa diterapkan. Walaupun intensitasnya mungkin berbeda, hal ini bisa terjadi dimana saja di muka bumi, dan bukan hanya ditemui di negara-negara tertentu.

Mengapa kaum wanita sering mengalami hal yang sedemikian? Alkitab menulis bahwa sejak manusia jatuh kedalam dosa, hubungan pria dan wanita menjadi rusak. Wanita yang secara fisik biasanya lebih lemah dari pria, kemudian harus menghadapi kenyataan bahwa hidup di dunia adalah tidak seindah yang diharapkan.

Firman-Nya kepada perempuan itu: “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.” Kejadian 3: 16

Kedatangan Kristus ke dunia tidak hanya membawa keselamatan bagi mereka yang percaya, tetapi juga memberi nuansa baru bagi hubungan antara pria dan wanita. Apa yang rusak karena dosa, bisa diperbaharui dalam darahNya. Segala cara hidup yang lama, berubah menjadi hidup baru yang berintikan kasih kepada Tuhan dan sesama. Dengan pengurbanan Kristus yang tersedia untuk semua orang, di hadapan Tuhan tidak lagi ada lagi perbedaan hak diantara bangsa-bangsa, atasan dan bawahan, ataupun antara pria dan wanita. Inilah yang menjadi salah satu ajaran Kristen yang sudah membawa kemajuan sosial dan hukum di banyak negara.

Harus diakui bahwa adanya prinsip persamaan hak antar umat manusia, juga bisa membawa dampak yang negatif jika manusia melupakan bahwa setiap orang mempunyai kewajiban dan fungsi yang berbeda dalam masyarakat. Tuntutan untuk memperoleh hak yang sama bukanlah harus membuat pria dan wanita menjadi 100% sama, karena kedua jenis manusia itu diciptakan Tuhan dengan tujuan untuk saling melengkapi. Keduanya harus bisa saling menghargai, menghormati hak yang lain, dan saling menolong.

Pagi ini, jika kita mengingat bahwa dalam Kristus tidak lagi ada perbedaan diantara mereka yang percaya, marilah kita juga sadar bahwa adalah panggilan semua orang Kristen untuk menegakkan kebenaran dan keadilan diantara umat manusia. Dimulai dalam kehidupan keluarga kita, biarlah kita belajar untuk mengasihi dan menghargai setiap orang tanpa memandang apakah mereka pria atau wanita. Pada pihak yang lain, kita harus juga menyadari bahwa setiap orang mempunyai peranan khusus dalam hidup ini untuk bisa memuliakan Tuhan dengan sepenuhnya.

“Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.” Galatia 3: 26