Andaikan aku orang kaya

“Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.” 1 Timotius 6: 17

Kalau saja aku kaya, aku akan membeli mobil sport warna merah, rumah besar yang mewah dan mungkin juga sebuah kapal pesiar yang indah. Begitu mungkin impian seseorang yang percaya bahwa dengan kekayaan ia bisa membeli apa saja.

Memang adanya uang itu perlu untuk hidup di dunia, dan semakin banyak uang kita, daya beli kita pun meningkat sehingga kita bisa membeli barang- barang yang kita inginkan tanpa perlu berpikir panjang. Walaupun demikian, mereka yang kaya sebenarnya belum tentu bebas dari kekuatiran. Malahan banyak orang kaya yang merasa takut kalau-kalau suatu saat uangnya habis karena bisnis yang mundur atau karena hal-hal lain.

Semakin besar kekayaan seseorang, biasanya semakin besar ketergantungannya kepada hartanya. Karena itu Yesus pernah berkata bahwa tidak mudah bagi seorang yang kaya untuk masuk ke surga.

“Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Markus 10: 25

Yesus bukannya anti orang kaya. Tetapi Dia anti orang yang terikat kepada kekayaannya, karena orang yang sedemikian biasanya mendewakan harta. Harta bisa dianggap lebih penting dari Tuhan. Mereka yang hanya hidup untuk mencari kekayaan, sudah tentu tidak punya waktu untuk Tuhan. Orang sedemikian akhirnya bisa kehilangan kesempatan untuk ke surga (Matius 16: 26).

Rasul Paulus dalam suratnya kepada Timotius menulis apa yang senada dengan nasihat Yesus agar mereka yang kaya di dunia ini jangan tinggi hati dan jangan menggantungkan harapan pada kekayaan, melainkan bergantung pada Tuhan yang sudah memberikan segala sesuatu. Tuhan adalah Allah satu-satunya.

Pagi ini, marilah kita merenungkan kembali apa yang ditulis Rasul Paulus sambil membayangkan apa yang kita lakukan seandainya kita kaya. Tidak hanya kaya harta, tetapi mungkin juga pengetahuan, kesehatan, kecantikan, kuasa, kenyamanan atau kemasyhuran. Mungkinkah hati kita tidak terpengaruh akan hal-hal itu? Bisakah kita tetap rendah hati dan menempatkan Allah sebagai Tuhan yang patut kita utamakan dan sembah?

Tidaklah patut jika kita dalam hidup ini melupakan sumber kehidupan kita. Karena Dialah Allah yang maha kasih yang sudah memberikan segala apa yang baik kepada umatNya. Malahan, karunia terbesar yaitu Yesus juga datang dari Allah untuk menebus dosa kita di kayu salib. Bagi Dialah segala kemuliaan dan hormat untuk selama-lamanya!

Siapakah Yudas itu?

Maka kata Yesus kepadanya: “Hai Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia dengan ciuman?” Lukas 22: 48

Keempat kitab Injil menulis bahwa Yudas adalah seorang pengkhianat. Karena itu tidak ada orang yang mau memakai nama Yudas. Nama Yudas sebenarnya adalah nama Yahudi yang umum dan berarti “Tuhan dimuliakan”. Jadi, nama Yudas itu adalah baik artinya. Dari nama keluarga Iskariot, dapat diduga bahwa Yudas adalah satu-satunya murid Yesus yang bukan dari Galilea.

Berbeda dengan arti namanya, Yudas adalah orang yang tidak jujur. Yudas adalah seorang bendahara diantara murid Yesus yang sering mencuri uang kas (Yohanes 12: 6). Bagaimana Yesus mau memilih orang yang tidak jujur untuk menjadi salah satu muridNya adalah sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya kita mengerti, tetapi sudah tentu itu adalah apa yang dikehendaki Allah untuk menggenapi maksud tujuanNya.

Memang mudah bagi kita untuk melihat kejelekan Yudas. Tetapi kita mungkin lupa bahwa kita pun dipilih Tuhan juga sebagai orang yang tidak pantas untuk menjadi muridNya. Mengapa Tuhan memilih orang seperti kita sebagai orang yang diselamatkan tentu juga sulit dimengerti, tetapi sudah pasti untuk menggenapi maksud tujuanNya, yaitu untuk memuliakan Dia, Tuhan yang maha kuasa.

Sebagai murid Yesus yang tidak baik, Yudas bukan saja tidak jujur, tetapi ia juga mementingkan diri sendiri dan mengikut Yesus dengan harapan agar Yesus pada suatu saat akan menjadi raja Israel yang berkuasa, kaya dan jaya. Dengan itu ia berharap untuk bisa hidup dalam kenyamanan. Yudas adalah seperti orang Kristen yang mengikut Yesus tetapi sering mendahulukan kepentingan pribadi dan selalu mengharapkan kenyamanan hidup di dunia.

Apakah kita tidak pernah merasakan bahwa hidup kita di dunia ini adalah sesuatu yang sering kita prioritaskan? Apakah kita tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak baik untuk mencapai kesuksesan? Apakah sering kita mengabaikan panggilan Tuhan untuk menjadi muridNya yang taat? Bukankah orang disekitar kita tidak tahu apa yang sebenarnya ada dalam hati dan pikiran kita?

Pagi ini kita diingatkan firman Tuhan bahwa seringkali kita berpura-pura untuk menjadi pengikut Tuhan, hanya untuk kemudian mengikuti pikiran dan kemauan kita sendiri. Seperti Yudas, kita dihadapkan kepada pilihan untuk mengikut Yesus atau “menjual” Yesus demi kebahagiaan duniawi. Yudas membuat kekeliruan hidup dan mengakhiri hidupnya dengan kekeliruan yang lebih besar. Kita mungkin sudah membuat banyak kekeliruan seperti Yudas, tetapi masih punya kesempatan untuk memperbaikinya selama kita hidup di dunia.

Mungkin kita saat ini masih hidup seperti Yudas: tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci (Titus 3: 3). Tetapi karena kemurahan Allah, Yesus mau mati untuk menebus dosa kita. Dia sudah menyelamatkan kita, dan karena itu kita harus mau berubah dari hidup kita yang lama!

Mujizat yang utama

Maka takjublah semua orang itu karena kebesaran Allah. Ketika semua orang itu masih heran karena segala yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” Lukas 9: 43-44

Pernahkan anda menonton pertunjukan sulap? Ada banyak ahli sulap yang ternama di dunia dan magic show mereka biasanya selalu mengundang banyak pemirsa. Apa yang menarik dalam pertunjukan semacam itu adalah kemampuan ahli sulap itu untuk membuat sesuatu trik yang tidak masuk akal. Apa yang tidak mungkin terjadi, bisa terjadi dengan cara yang tidak kita mengerti. Mereka yang bisa melakukan magic trick sedemikian biasanya menjadi orang ternama karena kemampuan itu.

Dalam kehidupan orang Kristen pun ada orang-orang yang terkenal karena banyaknya hal-hal yang tidak masuk diakal, yang bisa diperbuat mereka dalam nama Yesus. Seringkali, keajaiban dan mujizat yang mereka lakukan menjadi daya tarik yang kuat untuk kehadiran banyak orang dalam kebaktian akbar mereka. Memang tidak ada salahnya jika hal-hal yang ajaib bisa terjadi di gereja karena kuasa Kristus. Tetapi kita harus tahu apa sebenarnya yang Yesus kehendaki dari hidup orang percaya.

Dalam Lukas 9: 37-45 dikatakan bahwa ada seorang anak yang dirasuk roh jahat. Sewaktu roh jahat menyerang, secara mendadak ia bisa berteriak dan tubuhnya tergoncang-goncang sehingga mulutnya berbusa. Roh jahat itu terus saja menyiksa dia dan hampir-hampir tidak mau meninggalkannya. Yesus akhirnya turun tangan dan menyembuhkan anak itu. Bagaikan menonton ahli sulap ternama, orang-orang yang melihat hal itu merasa takjub dan heran akan apa yang diperbuat Yesus.

Jika Yesus memang menghendaki, Ia bisa saja pada waktu itu menikmati penghargaan yang diberikan para penonton atas keberhasilanNya dalam mengusir roh jahat dari anak itu. Tetapi, adalah hal yang mengherankan bahwa Ia justru mengingatkan murid-muridNya bahwa Ia akan dibenci dan dikhianati. Yesus menghindari apa yang bukan tugas utamaNya, guna memusatkan diri kepada rencana Allah Bapa untuk menyelamatkan umat manusia. Ia menghindari pemujaan manusia untuk mujizatNya, karena apa yang jauh lebih hebat adalah pengurbananNya di kayu salib.

Pagi ini kita diingatkan bahwa mujizat Tuhan tetap ada sampai sekarang. Tuhan tidak pernah berubah dengan sifatNya yang maha pengasih. Ketika Tuhan melihat siapapun yang menderita, Ia selalu ingin menolong. Ia bisa memakai mujizat, tetapi Ia bisa juga menggerakkan hati umatNya untuk menolong sesamanya. Anugerah Tuhan secara umum ini tidak membedakan manusia menurut iman mereka. Walaupun demikian, Tuhan sampai sekarang mempunyai tujuan yang lebih penting dari itu semua, yaitu untuk menyelamatkan semua orang yang percaya kepadaNya. Karena itu, marilah kita memusatkan hidup kekristenan kita kepada mujizat yang terbesar yang sudah terjadi: Anak Allah yang sudah datang ke dunia dan mati ganti diri kita. Biarlah banyak orang bisa tertarik untuk menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka karena kita mau membagikan anugerah Tuhan yang istimewa ini!

Iman adalah keberanian untuk menghadapi kenyataan dengan keyakinan

“Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” Matius 8: 8

Ketika itu Tuhan Yesus sedang di Kapernaum. Agaknya luar biasa bahwa ada seorang perwira Romawi yang menemui Dia dan memohon Yesus untuk menyembuhkan hambanya yang terbaring di rumah karena sakit lumpuh. Sudah dapat dipastikan, keadaan hambanya benar-benar serius. Yesus yang sedang sibuk, menjawab bahwa Ia akan datang ke rumah perwira itu untuk menyembuhkan hambanya. Kisah nyata ini akan berakhir disini jika si perwira mengiyakan Yesus. Yesus sudah berkali-kali menyembuhkan orang sakit dan Ia pasti dapat menyembuhkan si hamba. Tetapi,  apa yang tertulis dalam Alkitab sungguh mengherankan. Bukannya meminta atau menerima Yesus untuk datang ke rumahnya, perwira itu justru berkata bahwa ia tidak layak menerima Yesus di rumahnya. Permintaan perwira itu dimulai dengan kerendahan hati dan pengakuan bahwa ia bukanlah orang yang pantas untuk menerima Yesus.

Walaupun demikian, perwira itu kemudian berkata kepada Yesus bahwa sebagai seorang perwira, yang mungkin berkuasa atas 80 prajurit, perintahnya akan diturut oleh anak buahnya. Demikian juga, ia percaya bahwa apa yang dikatakan oleh Yesus akan terjadi. Yesus bisa menyembuhkan hambanya yang sakit cukup dengan satu kata saja. Permintaan perwira itu jelas diiringi dengan pengakuan atas kebesaran dan kedaulatan Tuhan. Apa reaksi Yesus? Yesus menunjukkan rasa heran kepada mereka yang ada disitu dengan berkata bahwa Ia tidak pernah menjumpai iman semacam itu diantara orang Israel. Iman yang sedemikian besar justru ada pada orang yang tidak disangka. Dan karena iman itu, kesembuhan hamba perwira itu terjadi.

Apa yang bisa kita pelajari dari kejadian diatas? Ada orang-orang yang mengatakan bahwa iman adalah keberanian untuk menghadapi kenyataan dengan pengharapan, tetapi perwira itu menunjukkan bahwa iman adalah keberanian untuk menghadapi kenyataan dengan keyakinan. Iman adalah keyakinan bahwa Tuhan yang maha kuasa selalu mau mendengar keluhan mereka yang menderita. Dengan keyakinan itu timbul pengharapan bahwa Tuhan akan mengabulkan permohonan kita. Tetapi, jikapun Tuhan tidak mengabulkan permintaan kita, kita tetap yakin bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita. Itu karena kita yakin bahwa Tuhan selain maha kuasa juga maha kasih dan maha bijaksana.

Sangat penting, dalam meminta segala sesuatu kepada Tuhan, kita menempatkan diri pada posisi yang benar. Kita adalah orang-orang yang sebenarnya tidak pantas untuk menerima perhatian Tuhan. Adalah kenyataan bahwa dalam hidup ini terlalu sering orang Kristen mengharapkan Tuhan akan menjawab segala doa mereka persis seperti yang apa yang mereka pinta. Seringkali mereka merasa bahwa sebagai manusia pilihan Tuhan, mereka adalah orang yang istimewa yang harus mendapatkan perlakuan khusus dari Tuhan. Berbeda dengan si perwira Romawi, mereka merasa pantas untuk menarik Tuhan dengan paksa untuk menyelesaikan masalah mereka, dan bukannya menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan sambil percaya dengan penuh keyakinan akan kebesaranNya. Jika si perwira mengakui bahwa ia adalah manusia yang tidak layak, seringkali umat Kristen merasa layak untuk mendikte Tuhan untuk melakukan sesuatu yang mereka ingini.

Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai ciptaan Tuhan kita wajib menyadari bahwa kita tidak dapat memaksa Tuhan untuk menuruti kemauan kita. Apapun kedudukan kita dalam masyarakat dan bagaimanapun hubungan kita dengan Tuhan, Tuhan adalah maha besar dan maha suci dan karena itu harus kita muliakan. Dalam persoalan hidup yang bagaimanapun besarnya, kita tidak boleh menganggap bahwa Tuhan ada untuk memberikan apa yang kita ingini. Tuhan ada untuk memberi kita keyakinan bahwa Ia maha kuasa dan maha bijaksana, dan Ia pasti memberi apa yang terbaik untuk kita pada saat yang tepat. Karena itu biarlah dalam menyampaikan permohonan, kita selalu dengan rendah hati mengakui kedaulatanNya di bumi dan di surga.

“Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Matius 6: 9-10

Jangan salah pilih

“Jikalau aku pernah memandang matahari, ketika ia bersinar, dan bulan, yang beredar dengan indahnya, sehingga diam-diam hatiku terpikat, dan menyampaikan kecupan tangan kepadanya, maka hal itu juga menjadi kejahatan yang patut dihukum oleh hakim, karena Allah yang di atas telah kuingkari.” Ayub. 31: 26-28

Dalam Alkitab ada banyak figur yang bisa dijadikan teladan untuk orang Kristen, seperti Abraham, Daud, Salomo dan lainnya. Mereka itu bukanlah orang-orang yang sempurna; walaupun demikian, mereka adalah manusia yang diberkati Tuhan. Karena itu kita bisa belajar untuk meniru sifat mereka yang baik dan menghindari apa yang kurang baik.

Ayub adalah orang sangat baik menurut ukuran Tuhan. Dalam Ayub 1: 8 ada tertulis bahwa Tuhan bertanya kepada Iblis:

“Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.”

Jelas Ayub adalah orang yang memang baik hidupnya. Tetapi, adakah orang Kristen yang ingin menjadi seperti Ayub? Mungkin tidak ada. Itu karena begitu banyak tantangan hidup yang harus dihadapinya. Kalau bukan Ayub mungkin tidak ada yang bisa kuat dan bertahan. Apa rahasianya?

Kekuatan Ayub sebelum ia mengalami berbagai musibah adalah takut akan Tuhan, dan pada waktu ia mengalami penderitaan dan juga sesudahnya, sumber kekuatan Ayub juga takut akan Tuhan. Ayub tahu bahwa Tuhan adalah maha kuasa, maha bijaksana dan maha kasih. Takut akan Tuhan adalah kunci hidup Ayub.

Mungkin kita berpikir bahwa Ayub adalah orang yang luar biasa, dan kita tidak mungkin meniru dia. Ayub adalah orang yang benar-benar saleh. Sebagai orang yang takut akan Tuhan, tidak pernahkah Ayub tergoda untuk mengagumi hal lain? Dari ayat pembukaan diatas, terlihat bahwa Ayub ternyata tidak berbeda dengan kita. Ia juga pernah tergoda untuk “menghormati matahari dan bintang”. Tetapi ia tahu bahwa mendewakan apa saja selain Tuhan adalah dosa.

Pagi ini marilah kita memikirkan hidup kita dengan segala tantangannya. Tentang bagaimana kita bisa tetap kuat seperti Ayub. Dalam hidup mungkin kita tergoda untuk mementingkan berbagai hal, lebih dari Tuhan. Karir, rumah tangga, harta dan lainnya, seolah mengatakan bahwa hidup dan kebahagiaan kita tergantung kepada mereka. Hal-hal itu seolah bersinar dengan indahnya, sehingga diam-diam hati kita terpikat, dan kita pun kemudian yakin bahwa tanpa hal-hal itu kita akan sengsara.

Ayub sudah mengalami hidup dalam kesuksesan dan hidup dalam kesengsaraan. Tetapi yang membuat dia tetap bertahan adalah rasa takut kepada Tuhan. Hidup Ayub adalah sebuah kesaksian bahwa tanpa Tuhan kita akan hancur jika tantangan dan persoalan besar mendatangi. Tetapi jika kita percaya akan kebesaran Tuhan, kekuatan dan ketabahan akan ada untuk menantikan pertolongan Tuhan. Pilihan hidup ada di tangan kita.

Jangan takut dikritik

“Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah.” Amsal 27: 6

Mengapa orang pada umumnya suka mengkritik orang lain, tetapi marah jika dikritik? Di beberapa negara, orang yang mengkritik pemimpin-pemimpin mereka bisa dihukum. Kritik bisa dianggap melecehkan, dan karena itu tidak diperbolehkan. Akibatnya, orang terpaksa diam saja atau berpura-pura setuju sekalipun sebenarnya tidak demikian.

Dalam kehidupan sehari-hari, ada rumah tangga yang mempunyai kebiasaan untuk menghindari pertikaian dengan tidak mengkritik suami, istri atau orang tua. Ada istri yang harus selalu menuruti apapun yang diputuskan suami dan ada juga suami yang harus selalu memenuhi segala permintaan istri. Sudah tentu, anak yang berani mengkritik orang tua bisa dianggap kurang ajar.

Di kalangan orang Kristen, dengan alasan kasih, banyak yang menganggap kritik itu sebagai hal yang jahat karena sering dianggap menghakimi atau merendahkan derajat orang lain. Di beberapa gereja, anggota gereja yang berani mengkritik pimpinan akan dikucilkan. Kritik mungkin hanya bisa disampaikan dalam bentuk pertanyaan, usul atau sindiran halus dan diselingi dengan permintaan maaf.

Sebenarnya, dalam konsep agama atau sosial apapun, jika dipikir dalam-dalam, tidaklah ada orang yang sempurna. Semua orang bisa membuat kesalahan, dan karena itu memerlukan kritik yang baik dari orang lain. Mereka yang tidak mau dikritik, tentu yakin bahwa segala tindakannya benar. Mereka mungkin tidak sadar bahwa hanya Tuhan yang selalu benar, karena Dia adalah maha bijaksana.

Ayat diatas mencatat bahwa mereka yang mengkritik kita dengan maksud baik adalah teman kita, tetapi pujian yang berlimpah-limpah mungkin datang dari orang yang tidak peduli akan diri kita. Begitu banyak orang Kristen yang jatuh kedalam perangkap ini dan kemudian mengalami berbagai masalah, karena keyakinan bahwa mereka selalu benar dan karena mereka senang dikagumi orang lain. Lebih buruk lagi, dengan kejadian semacam itu banyak gereja dan keluarga dipermalukan dan nama Tuhan dihujat banyak orang.

Pagi ini, fiman Tuhan mengingatkan bahwa orang yang rendah hati selalu menghargai kritik-kritik yang membangun, karena mereka sadar bahwa hidup ini adalah suatu proses penyempurnaan yang tidak kunjung berhenti. Selama kita hidup kita harus belajar dari saudara-saudara seiman, supaya kita makin hari makin sempurna didalam Dia yang sudah menyelamatkan kita.

“Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” Kolose 1: 28

Hati-hatilah, Tuhan itu cemburu!

“Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.” 2 Korintus 11: 2

Hal cemburu sering muncul di berbagai film sebagai tema yang menarik. Cemburu dapat mempunyai berbagai arti. Dalam bahasa Indonesia, rasa cemburu (jealous) yang disebabkan oleh manusia, dibedakan dengan iri hati (envy) yang disebabkan oleh hal-hal lain. Cemburu mungkin adalah kekuatiran bahwa orang lain akan mengambil milik kita, sedang iri hati mungkin dapat diartikan sebagai keinginan kita untuk memiliki apa yang dipunyai orang lain. Cemburu umumnya ada dalam hubungan antara tiga orang, sedang iri hati biasanya antara dua orang.

Dalam Alkitab dikatakan bahwa Tuhan adalah Allah yang cemburu. Sudah tentu rasa cemburu Tuhan adalah benar dan suci. Tuhan tidak pernah iri hati tetapi cemburu jika manusia ciptaanNya menghargai dan memuja sesuatu, dan bukannya memuja Dia.

“Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu.” Keluaran 34: 14

Paulus dalam 2 Korintus 11: 1-6 mengungkapkan rasa cemburunya karena adanya jemaat di Korintus yang sudah disesatkan dalam pengajaran banyak nabi palsu (ayat 13) yang pandai bersilat lidah. Bagi Paulus, mereka yang sudah dimenangkannya dalam iman kepada Kristus, sekarang sudah jatuh cinta kepada hal-hal keduniawian.

Paulus menggambarkan bahwa semua orang yang percaya adalah seperti calon mempelai Kristus. Sebagai rasul Tuhan ia merasakan kecemburuan Tuhan bahwa mereka yang sudah dipertunangkannya kepada Kristus sekarang jatuh cinta kepada ajaran-ajaran yang keliru dari pengajar-pengajar sesat. Ajaran yang membuat mereka jauh dari Tuhan tetapi dekat dengan manusia dan kemegahannya.

Pagi ini biarlah kita sadar bahwa Tuhan menghendaki kita hidup sepenuhnya untuk kemuliaanNya. Tuhan membenci keadaan dimana manusia memuliakan diri sendiri, sesamanya atau hal-hal lain dalam hidup mereka. Begitu banyak manusia modern yang sudah disesatkan oleh berbagai pengajaran yang pada hakikatnya hanya memuliakan manusia dan keberhasilannya.

Masih sadarkah kita bahwa hidup kita hanya untuk kemuliaan Tuhan dan bukan untuk mencari kenikmatan hidup di dunia? Masih adakah rasa cemburu ilahi dalam hati kita ketika kita melihat saudara-saudara kita yang jatuh cinta kepada dunia? Maukah kita untuk tetap setia kepada Tuhan dan menolong mereka yang tersesat untuk kembali ke jalan yang benar? Semoga.

“Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia?” 1 Korintus 10: 22

Siapakah Yesus itu?

Yesus bertanya kepada mereka: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus: “Mesias dari Allah.” Lukas 9: 20

Siapakah Yesus itu? Pertanyaan ini mudah dijawab oleh siapapun karena Yesus adalah figur yang paling terkenal di sepanjang sejarah menurut berbagai survei dan penyelidikan. Walaupun demikian, almarhum John Lennon pernah dengan bangga berkata bahwa The Beatles lebih masyhur dari Yesus pada tahun 1966. Dan sekalipun dianggap aneh dan sembrono, John Lennon tentu bukan satu-satunya orang yang berpendapat bahwa dirinya sendiri atau orang lain adalah lebih penting atau lebih masyhur dari Yesus.

Pertanyaan “siapakah Yesus” mudah dijawab karena orang bisa membaca dari buku sejarah atau berbagai artikel di internet. Siapakah Yesus bagi anda, itulah pertanyaan yang lebih sulit dijawab karena menyangkut pengertian anda secara pribadi. Walaupun demikian, banyak orang yang menjawab bahwa Yesus adalah Tuhan sekalipun jawaban itu hanya di bibir saja dan bukan dari hati. Mungkin jawaban itu berdasarkan pada kebiasaan dan bukannya pengalaman hidup. Jika jawaban itu dari hati, seharusnya ada rasa hormat dan kepatuhan kepada Yesus dalam hidup mereka.

Pada waktu Yesus bertanya kepada para muridNya siapakah Dia menurut orang banyak, mereka menjawab bahwa ada yang berpendapat bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis, dan ada juga yang mengatakan Elia, tetapi ada pula yang berpendapat bahwa Yesus adalah seorang dari nabi-nabi terdahulu yang telah bangkit. Umumnya bagi orang banyak, Yesus adalah orang baik. Bagaimana dengan pendapat murid Yesus? Hanya Petrus yang menjawab bahwa Yesus adalah Mesias kiriman Allah. Bagaimana mungkin hanya dia yang pada waktu itu bisa mengerti bahwa Yesus adalah Mesias? Pastilah Roh Kudus sudah bekerja dalam hati Petrus; karena begitu banyak orang yang melihat dan mendengar, tetapi sedikit yang percaya.

“Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap.” Matius 13: 14

Pagi ini, mungkin kita bisa membandingkan diri kita dengan murid-murid Yesus. Bagaimanapun juga, sebagai orang Kristen kita mengaku bahwa kita pengikut Yesus. Siapakah Yesus menurut pendapat anda? Apa jawab anda?

Jawaban yang tulus seharusnya datang dari hati dan bukannya dari pikiran. Jawaban yang jujur seharusnya bukan dari mulut tetapi dari pengalaman hidup dan perbuatan kita. Tuhanlah yang bisa menolong kita untuk bisa menjawab seperti Petrus.

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Semua sama di hadapan Tuhan

“Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.” Yakobus 2: 1

Apakah anda mendukung prinsip egalitarian dalam hidup bermasyarakat? Menurut Wikipedia, Egalitarianisme (berasal dari bahasa Perancis égal yang berarti “sama”), adalah cara berpikir bahwa seseorang harus diperlakukan dan mendapatkan perlakuan yang sama pada dimensi seperti agama, politik, ekonomi, sosial, atau budaya.

Dalam kenyataan hidup sehari-hari kita bisa melihat bahwa tiap orang menerapkan prinsip egalitarian yang berbeda. Bahkan tiap negara atau kelompok masyarakat mempunyai hukum dan adat istiadat yang berlainan dalam hal perlakuan terhadap sesama manusia. Perbedaan perlakuan terhadap mereka yang berkuasa, berharta, berposisi dan ternama sering terjadi, dan sebaliknya mereka yang dipandang sebagai mahluk yang lemah dan kurang mampu seringkali kurang diperhatikan. Kehidupan dalam rumah tangga pun adakalanya tidak menunjukkan prinsip egalitarian antara anggota keluarga dimana hak dan kewajiban seharusnya dibagi dengan adil sekalipun tiap anggota keluarga mempunyai fungsi yang berbeda.

Ajaran Kristen seringkali membuat manusia bingung karena kata “tunduk” dan “hormat” muncul di beberapa tempat dalam Alkitab. Tunduk kepada suami, orang tua, majikan dan penguasa memang diperintahkan Tuhan, agar tiap-tiap orang bisa menghormati fungsi masing-masing dalam kehidupan yang sudah ditentukan Tuhan. Tetapi ini tidak berarti bahwa ada orang-orang yang lebih tinggi derajatnya dihadapan Tuhan. Jika Tuhan dipakai sebagai tolok ukur, semua manusia adalah sama. Hanya Tuhan yang patut kita puja dan sembah.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” Roma 3: 23

Mengapa ada orang-orang yang merasa dirinya lebih tinggi atau lebih rendah dari orang lain? Jelas bahwa perasaan semacam itu tidak Alkitabiah, segala sesuatu yang membedakan derajat manusia pada hakikatnya bertentangan dengan kehendak Tuhan. Yesus sendiri justru pernah berkata bahwa Ia datang untuk orang yang tersudut.

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Lukas 4: 18-19

Pagi ini, fiman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai umat Kristen kita harus bersyukur bahwa Tuhan mau menerima kita sebagaimana adanya untuk dapat memperoleh anugerah keselamatan. Seperti Dia yang tidak membeda-bedakan manusia, kita pun terpanggil untuk mengasihi dan menghargai semua orang disekitar kita. Sebagai anak Tuhan kita juga harus percaya bahwa kita mempunyai hak dan kewajiban yang sama di hadapan Tuhan, yaitu untuk bisa berdoa memohon bimbinganNya dan melaksanakan perintahNya.

“Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Galatia 3: 27-28

Kristus itu cukup bagiku

“Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” Matius 20: 15

Perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur dalam Matius 20 adalah salah satu perumpamaan Yesus yang tidak terlalu kompleks tetapi sering menimbulkan tanda tanya: Apakah Tuhan itu semena-mena dan tidak etis?

Dalam perumpamaan itu digambarkan adanya seorang pemilik kebun anggur yang mengupah beberapa orang untuk memetik anggur. Kepada mereka yang datang paling pagi, ia membayar sedinar untuk tiap orang sesuai dengan perjanjian, tetapi kepada mereka yang datang belakanganpun, si empunya kebun juga membayar sedinar kepada tiap orang. Hal ini membuat mereka yang bekerja sejak pagi menjadi marah. Padahal, pemilik kebun anggur sudah bermurah hati dengan memberi pekerjaan kepada mereka yang sebelumnya menantikan kesempatan untuk bekerja. Kepada mereka yang memprotes keputusannya, si pemilik kebun berkata bahwa adalah haknya untuk membayar upah sesuai dengan kehendaknya. Apakah si pemilik kebun itu adil dan baik hati, ataukah ia tidak adil dan semena-mena?

Salah satu tafsiran arti perumpamaan ini adalah bersangkutan dengan hidup di surga. Si pemilik kebun itu tidak bisa lain adalah Tuhan yang berhak untuk memberi karunia keselamatan yang sama kepada setiap orang yang bertobat. Baik mereka yang sudah lama bertobat atau baru saja mengenal Kristus, semua diterima Tuhan dengan tangan terbuka. Bahkan, baik orang Israel maupun bukan Israel akan menerima mahkota keselamatan yang sama. Karena kasihNya, Tuhan memberikan keselamatan kepada siapa saja yang menyadari kebutuhannya akan keselamatan. Ia berbelas kasihan kepada mereka yang tidak menentu masa depannya. Manusia yang sebenarnya tidak layak, menerima karunia hidup yang terbesar dalam Yesus Kristus.

Walaupun demikian, rasa kurang puas mungkin muncul jika perumpamaan ini dikaitkan dengan hal kerajaan Tuhan di bumi. Seringkali dalam hidup manusia kecewa karena Tuhan seolah kurang mengasihinya karena berkat Tuhan yang dirasa kurang jika dibandingkan dengan orang lain. Apalagi, seperti nabi Yunus yang merasa bahwa orang-orang disekitarnya adalah orang yang patut dihukum, orang Kristen bisa merasa bahwa Tuhan itu kurang adil karena Tuhan seolah tidak mengistimewakan dirinya. Padahal, seperti pemilik kebun anggur itu, Tuhan sudah memilih manusia dari kehinaanNya untuk menjadi anak-anakNya.

Pagi ini, marilah kita menyadari bahwa Tuhan selalu mempunyai rencana-rencana yang besar yang sulit kita mengerti. Tetapi untuk setiap anakNya, Tuhan mempunyai rencana yang khusus. Seperti pemilik kebun anggur yang memberi sedinar untuk biaya hidup sehari kepada setiap orang upahan, Ia memberikan berkatNya sesuai dengan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Seperti orang upahan itu, kita pun harus mau bekerja untuk memuliakan namaNya setiap hari dan merasa cukup dengan segala yang diberikanNya.

Tuhan sudah bermurah hati dengan menganugerahkan keselamatan sekalipun kita tidak layak untuk hal itu. Anugerah keselamatan dalam Kristus itu adalah cukup bagi kita. Christ is enough for me.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” 2 Korintus 12: 9