“Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya.” Amsal 3: 11
Masa remaja adalah masa yang penuh kenangan tetapi juga masa yang berisi pengalaman yang memalukan atau yang patut disesali. Seingat saya pada waktu itu, seperti anak muda sebaya, saya seringkali “bentrok” dengan orang tua. Memang pada usia muda, biasanya orang merasa sudah bisa mengurus diri sendiri dan dengan demikian, sering merasa bosan dinasihati orang tua. Nasihat orang tua, jika tidak dibantah, tentulah diabaikan saja. Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan.
Bagi orang tua yang mempunyai anak seumur itu, perjuangan untuk mendidik anak adalah sangat berat. Pada satu pihak, orang tua tetap menyayangi anak-anaknya; pada pihak yang lain, orang tua ingin untuk tetap bisa mendidik mereka, dengan resiko munculnya perdebatan dan sakit hati. Karena itu, banyak orang tua yang kemudian mengambil sikap tidak peduli atas kelakuan dan cara hidup anak-anak mereka. Mereka mungkin berpendapat bahwa masih lebih baik jika sang anak tetap mau tinggal dengan mereka, sekalipun sebenarnya ia sudah menjadi “anak yang hilang”. Dekat di mata, tapi jauh di hati.
Sebagai orang Kristen, kita adalah anak-anak Tuhan dan jika ditinjau dari segi tingkah laku dan cara hidup kita, mungkin banyak diantara kita yang masih tergolong remaja. Belum dewasa, sekalipun sudah lama menjadi orang Kristen. Karena “keremajaan” kita, seringkali kita secara sadar maupun tidak sadar menganggap didikan Tuhan itu sebagai sesuatu yang membosankan. Lebih dari itu, banyak orang Kristen yang merasa kuatir kalau-kalau Tuhan terlalu ikut campur dalam hidup mereka. Mengapa Tuhan ingin mengatur anakNya dalam hal bisnis, pergaulan dan aktivitas? Bukankah sekali seminggu bertemu dengan Bapa sudah cukup? Lebih dari itu, bukankah apa yang dipesankan Tuhan melalui FirmanNya terasa membosankan?
Seperti orang tua yang baik, Tuhan tidak mau memaksakan kehendakNya dengan semena-mena. Tuhan memberikan kesempatan bagi kita untuk memilih cara hidup kita dan menentukan sikap kita kepadaNya. Namun, berbeda dengan orang tua kita, Tuhan adalah maha kuasa dan kehendakNya harus terjadi. Karena itu, sekalipun kita ingin mengambil tindakan dan keputusan sendiri, semua itu pada akhirnya harus sesuai dengan apa yang direncanakan Tuhan.
Pagi ini, jika kita mengingat masa remaja kita yang telah silam, janganlah kita lupa bahwa seringkali kita masih bertingkah laku seperti seorang remaja kepada Tuhan kita. Memberontak, melawan nasihatNya, mengabaikan firmanNya, dan hal-hal bodoh lainnya, mungkin masih sering kita lakukan. Karena itu, tentu tidaklah mengherankan jika peringatan dan hajaran Tuhan sewaktu-waktu datang untuk menginsafkan kita bahwa Bapa surgawi kita adalah Mahakuasa, Mahatahu, Mahaadil dan Mahakasih. Bagi kita tidaklah ada pilihan: Tuhan menghendaki kita untuk menjadi dewasa!
“Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Ibrani 12: 5 – 6
Ada sebuah nasihat yang sudah dikenal sejak dulu mengenai persahabatan: “Mencari seorang sahabat adalah sukar, tetapi musuh datang sendiri tanpa diundang”. Nasihat lain yang serupa adalah “Mencari satu teman adalah lebih sukar daripada seribu musuh”. Kedua nasihat ini dimaksudkan agar kita menghargai adanya teman dan menghindari permusuhan sebisa mungkin.
Pagi tadi, selagi saya berjalan kaki, saya melihat sebuah papan tulis di depan sebuah kedai kopi yang berisi sebuah slogan yang lucu dan menarik perhatian: “Jangan biarkan impianmu hilang, lanjutkan tidurmu!”. Do not give away your dreams, keep sleeping! Mengapa itu lucu? Karena kata impian disini diartikan secara harafiah: jika kita tidak mau kehilangan impian kita, lebih baik terus tidur!
Seingat saya, di Indonesia jika ada tamu berkunjung ketika tuan rumah sedang makan, pertanyaan kepada tamu itu adalah “sudah makan?”. Memang, di luar negeri pun orang kita terkenal sebagai orang yang ramah, friendly, dan menggunakan acara makan-makan untuk membina kesatuan dalam keluarga dan persahabatan.
Alkisah ada seseorang yang berada didalam sebuah penjara menantikan pelaksanaan hukuman mati. Bukti-bukti sudah jelas menunjukkan bahwa ia bersalah. Tidak ada lagi harapan untuknya. Namun, suatu yang tidak tersangka terjadi. Ada orang lain yang mengaku bahwa ialah yang melakukan kejahatan itu. Orang yang di penjara itu akhirnya dibebaskan. Ia tentunya heran dan merasa beruntung. Apakah ia merasa beruntung untuk kebebasannya? Ataukah merasa beruntung karena ada orang lain yang menggantikan dia?
Pernahkah anda menunggu berita yang sangat anda harapkan, tetapi itu tidak kunjung datang? Berjam-jam, dan bahkan berhari-hari anda sudah menunggu, dan bulan-bulan pun kemudian lewat tanpa ada tanda-tanda kapan munculnya berita itu. Rasa ragu kemudian mungkin muncul, jangan-jangan penantian anda akan menjadi sia-sia. Memang, jika kita tidak tahu apa yang akan terjadi, ketidaktahuan itu bisa membuat datangnya kesengsaraan.
Dalam sebagian filsafat timur sering dikatakan bahwa kekuatan baik dan kekuatan jahat itu ada dalam diri tiap manusia, yang senantiasa bertarung, berebut pengaruh. Jika kekuatan baik lagi diatas angin, orang tersebut akan mempunyai tingkah laku yang baik. Sebaliknya, jika kekuatan jahat yang lebih kuat, orang itu akan berbuat jahat tanpa bisa menghindarinya.
Melihat hidup orang Kristen zaman sekarang, seringkali kita tidak dapat dengan mudah membedakannya dengan hidup orang yang bukan Kristen. Dunia ini sudah berubah sedemikian sehingga kebanyakan manusia hidup secara individuil dan memisahkan kepercayaan dari kegiatan sehari-hari. Malahan, orang yang sering menunjukkan ciri-ciri kekristenannya dalam masyarakat yang plural ini, justru sering dipandang aneh atau sok. Mereka yang duduk dalam kepemimpinan negara pun seringkali tidak dapat diharapkan untuk memberi teladan.
Kemarin saya mendapat kiriman sebuah video tentang seseorang yang mengemudikan sebuah mobil dan terjebak di sebuah jalan di tengah kota setelah ia menyerempet kendaraan lain. Segerombolan orang-orang yang mengejarnya kemudian menghancurkan kaca mobil dan merusak mobil itu. Kejadian di siang hari bolong itu sungguh bisa membuat hati siapapun berdebar-debar. Bagaimana jika kejadian itu terjadi pada diri kita?
Satu hal yang membuat saya merasa agak sedih jika membeli suatu produk di zaman now adalah bungkus atau packaging -nya. Barang apapun yang dijual di toko harus dibungkus sedemikian rupa, sehingga kelihatan seperti barang yang bagus dan berharga. Tetapi, kecantikan bungkus belum tentu menjamin kualitas isinya. Selain itu, kertas bungkus yang berlapis-lapis itu akhirnya harus dibuang ke tempat sampah.