Siapakah yang harus menegakkan keadilan di bumi?

“Tetapi kamu sendiri melakukan ketidakadilan dan kamu sendiri mendatangkan kerugian, dan hal itu kamu buat terhadap saudara-saudaramu.” 1 Korintus 6: 8

Keadilan? Dimanakah adanya keadilan di dunia? Dari kecil sampai tua, banyak manusia yang mengeluh bahwa keadilan sulit ditemui baik dalam hal hukum, sosial, ekonomi maupun hal-hal lain. Memang, dari bangun tidur sampai saat membaringkan tubuh lagi, ketidakadilan selalu lebih mudah dilihat manusia.

Tidak dapat disangkal bahwa jika kita merasa bahwa dunia sudah memperlakukan kita secara tidak adil, kita ingin agar Tuhan menunjukkan keadilanNya. Tetapi apa yang sering kita alami adalah kebisuan Tuhan. Kemarahan atau kekecewaan mungkin muncul karena Tuhan agaknya tidak mau bertindak seperti yang kita harapkan. Tetapi, ayat diatas menulis bahwa ketidakadilan itu disebabkan oleh manusia yang tidak bertindak seperti yang Tuhan harapkan.

Sering dikatakan bahwa adanya keadilan manusia adalah pencerminan sifat Tuhan yang maha adil dan adanya keadilan di dunia adalah pencerminan keadilan di surga. Tetapi, dalam kenyataannya, karena mudahnya orang menemui ketidakadilan di dunia ini, mereka bisa jatuh kedalam dua kesimpulan logika yang salah: bahwa Tuhan itu ada, tetapi tidak adil; atau Tuhan dan surga itu tidak ada. Dalam hal ini, Alkitab menjelaskan bahwa Tuhan yang maha adil jelas ada, tetapi manusialah yang tidak mau hidup sesuai dengan firmanNya. Keadilan Tuhan dan ketidakadilan manusia sudah dinyatakan dalam kematian Yesus sebagai Anak Allah yang tidak berdosa di kayu salib.

Mereka yang jauh dari Tuhan seringkali tidak mengenal konsep keadilan yang benar. Mereka yang sering dan terbiasa melihat ketidakadilan lambat laun menjadi kebal atas hal itu. Hidup terus berjalan sekalipun ketidakadilan ada di sekeliling mereka. Seringkali mereka juga secara sadar atau tidak memperlakukan orang lain dengan tidak adil, dan dengan demikian membuat dunia ini semakin tidak adil.

Siang ini, firman Tuhan menunjukkan bahwa sebagai umatNya kita bertanggung jawab untuk mewujudkan keadilan Tuhan di dunia. Tuhan adalah yang pencipta surga dan dunia, dan Ia selalu setia dan ingin menegakkan keadilan di dunia.

“Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya, yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar.” Mazmur 146: 6-7

Tuhan tidak ingin membiarkan manusia dalam penderitaan dan karena itu Ia mau agar kita ada di pihakNya. Jika kita ingin untuk mendapat keadilan, kita juga harus dengan kasih, menegakkan keadilan di dunia bersama Tuhan.

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Matius 7: 12

Pentingnya berbagi pengalaman

“Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu.” Ulangan 4: 9

Dalam sejarah bani Israel, Tuhan berkali-kali mengingatkan mereka untuk tidak melupakan Allah yang sudah membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Dalam ayat di atas, kembali Allah berfirman agar umatNya untuk berhati-hati agar tidak sampai lupa akan apa yang mereka lihat dan alami selama mereka hidup dalam bimbingan Allah, dan untuk menceritakan penyertaanNya kepada semua keturunan mereka. Karena itu sampai sekarang pun, orang Israel masih mempunyai kebiasaan untuk membaca dan merenungkan apa yang terjadi pada saat nenek moyang mereka mengembara di padang gurun.

Apakah mungkin untuk orang Israel untuk melupakan kebesaran Allah? Tentu! Berkali-kali mereka meragukan bahwa Allah itu maha kuasa, maha tahu, maha suci, dan maha kasih, dan berkali-kali juga mereka diperingatkan, dihajar dan dihukum Allah. Tetapi, karena sebagai manusia mereka lemah, tetap saja mereka cenderung untuk meragukan dan melupakan Allah mereka pada saat-saat kritis.

Sebagai umat Kristen kita juga tidak jauh berbeda dari umat Israel. Dalam keadaan tenang kita mungkin merasa bahwa Tuhan itu beserta kita dan kita merasa bersyukur atas kasihNya. Tetapi, jika badai kehidupan datang, seringkali iman kita diuji dan kita mulai ragu akan kasih dan kuasaNya. Kita mungkin lupa bahwa di saat yang telah lalu, kita juga pernah mengalami pengalaman yang serupa, dan kita bisa melaluinya hanya karena bimbingan Tuhan.

Ayat diatas yang ditujukan kepada bani Israel, juga berlaku untuk kita di zaman ini. Ayat itu memperingatkan agar kita tidak pernah melupakan pengalaman kita dalam berjuang dalam hidup di sisi Tuhan. Juga kita diingatkan untuk membagikan pengalaman kita kepada semua sanak kita, agar mereka tahu apa yang terjadi dalam hidup kita, dan bagaimana Tuhan menyertai kita dan akan menyertai mereka juga.

Pagi ini, pertanyaan untuk kita adalah apakah kita masih ingat atas kejadian yang telah lalu dimana Tuhan menunjukkan kuasa dan kasihNya. Sudahkah kita membagikan pengalaman kita kepada keluarga, sanak dan teman kita? Ada saat dimana kita lupa akan kebesaran Tuhan, tetapi jika mereka tahu akan hal itu dan juga pernah mengalami kemurahan Tuhan dalam hidup mereka, mereka dapat mengingatkan kita kembali akan kasih dan kuasa Tuhan.

Manusia cenderung untuk lupa jika apa yang terjadi tidak tertulis, tetapi apa yang tertulis diatas kertas juga tidak bertahan lama. Apa yang tidak mudah dilupakan adalah pengalaman dan kejadian yang tertulis dalam hati umat Tuhan. Biarlah kita dan keluarga kita selalu ingat akan kebesaran Tuhan tetap memuji Dia dalam setiap keadaan!

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku,dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” Mazmur 103: 2

Jangan lupa bercermin setiap hari

“Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya.” Yakobus 1: 23-24

Bercermin adalah suatu kegiatan yang dilakukan manusia sejak dahulu kala. Manusia adalah satu-satunya mahluk yang mempunyai keinginan dan kemampuan untuk melihat rupa mereka sendiri. Sebelum ada kamera yang bisa dipakai untuk selfie, cermin adalah satu-satunya alat untuk mengagumi rupa sendiri. Cermin seperti yang kita punyai muncul pada tahun 1835 di Jerman, tetapi orang sudah memakai cermin dari batu sejak 6000 tahun sebelum Masehi.

Ayat diatas menyebutkan bahwa orang yang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya adalah seperti seorang yang baru saja memandang dirinya di depan cermin, tetapi segera pergi atau lupa bagaimana rupanya. Memang melalui cermin seorang berharap untuk melihat bahwa ia mempunyai rupa yang menawan, tetapi apa yang dilihatnya juga bisa mengingatkannya bahwa ia mempunyai berbagai kekurangan. Jika apa yang dilihatnya di cermin itu tidak disukainya, ia segera meninggalkan cermin itu atau melupakan apa yang sudah dilihatnya. Dengan sengaja ia memutuskan untuk mengabaikan rupa dirinya yang dilihatnya di cermin itu.

Mereka yang tidak benar-benar menjalankan firman Tuhan, tidak sadar akan pentingnya cermin kehidupan: bahwa melalui firman mereka selalu diingatkan tentang hidup mereka. Apa yang kurang baik bisa diperbaiki, apa yang kurang berkenan kepada Tuhan bisa dihilangkan, dengan kuasa Tuhan. Mereka yang sering mengabaikan firman Tuhan, lama-lama lupa bahwa fiman Tuhan itu ada dan seharusnya dijalankan.

Jika cermin adalah benda mati, firman Tuhan adalah hidup karena Firman adalah Yesus sendiri (Yohanes 1: 14). Siapa yang mengabaikan Firman pada hakikatnya mengabaikan Tuhan. Siapa yang mengakui Yesus sebagai Tuhan tetapi tidak melaksanakan firmanNya adalah orang yang tidak benar-benar beriman.

Firman jugalah yang membuat kita bisa melihat bagian hidup kita yang tidak bisa dilihat oleh mata kita sendiri atau mata orang lain. Pagi ini kita harus sadar bahwa jika kita tidak memakai cermin firman Tuhan dengan seharusnya, kita mudah jatuh dalam tipuan iblis yang membuat kita puas dengan cara hidup kita yang keliru.

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Kualitas yang berbeda

“Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia.” Filipi 2: 14-15

Mengapa selalu ada orang yang melakukan hal-hal yang kurang menyenangkan dalam hidup ini? Mengapa ada saja hari-hari yang membuat kita masygul karena seolah tidak ada seorangpun disekitar kita yang mempunyai sikap dan tingkah laku yang menyenangkan?

Memang sepertinya dalam hidup ini selalu ada “hari buruk”, bad day, dimana kita tidak saja menemui banyak problem, tetapi juga menjumpai orang-orang yang membuat kita sebal. Sebagai akibatnya, kita mudah menjadi murung dan naik darah. Baik di sekolah, kantor maupun di rumah, selalu ada situasi yang menguji kesabaran kita. Perdebatan dan bahkan pertengkaran mudah terjadi dengan orang-orang yang kita kenal karena adanya perbedaan pendapat.

Salahkah kita jika perasaan kurang senang dan amarah muncul dalam pikiran kita? Sebagai manusia ciptaan Allah semua orang memiliki sifat-sifat yang dimiliki Sang Pencipta, dan karena itu tidaklah mengherankan jika kita sering mempunyai rasa kurang senang atas hal-hal yang dirasakan kurang baik. Walaupun demikian, karena keterbatasan dan dosa, amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah (Yakobus 1: 20).

Orang Kristen yang menyadari bahwa setiap manusia selalu mempunyai kekurangan dan kelemahan, tentu bisa menerima kenyataan bahwa mereka sendiri juga tidak sempurna. Tetapi, apa yang bisa dilakukan oleh seorang yang tidak sempurna untuk menjadi sempurna dan tidak bercela, dan dengan demikian bisa berbeda dengan orang lain?

Dengan kekuatan sendiri kita tidak mungkin bisa menunjukkan orang di sekitar kita bahwa kita mempunyai kualitas yang berbeda. Sekalipun untuk sesekali kita mungkin bisa menunjukkan sikap yang baik dalam keadaan yang tidak menyenangkan, dengan kekuatan sendiri hal itu adalah sesuatu yang tidak dapat kita pertahankan untuk selamanya. Kesabaran manusia ada batasnya, begitu mungkin alasan kita.

Pagi ini, jika kita bangun dan harus memikirkan bahwa hari ini lagi-lagi kita harus menghadapi suasana, situasi dan orang-orang yang kurang menyenangkan, mungkin rasa pahit sudah muncul dalam mulut kita. Mungkin hari ini kita akan mengalami bad day lagi. Apa yang bisa kita lakukan untuk dapat tetap bertahan?

Ayat pembukaan diatas memberi gambaran bahwa memang sulit untuk kita bisa mengubah keadaan disekeliling kita, yang penuh dengan orang-orang yang tidak menyenangkan. Tetapi sebagai anak-anak Tuhan kita mempunyai kelebihan, bahwa kita sadar bahwa kita sudah diselamatkan semata-mata karena kasih Tuhan. Dengan itu, kita seharusnya mempunyai motivasi yang besar untuk menunjukkan perubahan yang sudah terjadi dalam hidup kita kepada orang-orang di sekitar kita. Kita yang sudah mengalami hidup baru dalam Kristus adalah ciptaan yang baru yang sudah dibebaskan dari belenggu dosa; dan karena itu, sifat dan sikap yang tidak memuliakan Tuhan sekarang bisa dihilangkan seirama dengan kedewasaan iman kita.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Adakah yang peduli?

“Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.” Matius 14: 14

Dalam hidup di dunia, manusia dimanapun pernah mengalami persoalan dan penderitaan, entah itu kecil maupun besar. Bagi mereka yang beriman, berdoa kepada Tuhan untuk memohon pertolongan adalah hal yang biasa. Memohon belas kasihan Tuhan agar Ia mau menolong kita adalah sepatutnya kita lakukan kapan saja, asal kita percaya bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita. Walaupun demikian, dalam doa-doa pribadi agaknya orang sering lupa berdoa syafaat untuk masyarakat di sekelilingnya.

Syafaat dapat diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai kata “intercession” yang berarti berdiri di antara dua orang. Pendoa syafaat adalah orang beriman yang datang berdoa di hadapan Tuhan untuk mewakili orang lain, sebagai perantara bagi mereka yang jauh dari Tuhan atau tidak mengenal Tuhan.

Yesus adalah perantara antara manusia yang berdosa dan Allah yang maha suci (Ibrani 7: 25). Alkitab mencatat bahwa Yesus berdoa syafaat untuk semua pengikutNya sebelum Ia disalibkan (Yohanes 17).

“Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat.” Yohanes 17: 15

Mengapa Yesus berdoa syafaat untuk orang banyak? Mengapa Yesus mengajarkan kita untuk berdoa syafaat? Doa syafaat Yesus menunjukkan sedikitnya dua hal: bahwa Ia mengasihi semua orang, dan bahwa Ia mau menyelamatkan mereka yang percaya. Yesus peduli atas keadaan dan kebutuhan manusia, baik kebutuhan rohani maupun jasmani.

Memang selama Yesus hidup di dunia, berkali-kali hatiNya tergerak ketika Ia melihat manusia yang mengalami masalah dan penderitaan, dan dalam semua itu Ia selalu mau memberikan perhatian dan pertolongan, karena Ia berbelas kasihan kepada semua orang. Selain menyembuhkan banyak orang sakit, Ia memberi makan lima ribu orang hanya dengan memakai lima ketul roti dan dua ikan (Matius 14: 15-21).

Karena Yesus sudah secara khusus mau berdoa syafaat untuk semua umatNya, kita yakin bahwa Ia juga mengasihi kita dan segenap keluarga dan teman-teman yang kita kasihi. Karena itu, jika kita berdoa syafaat, kita mengabarkan kebesaran dan kasih Tuhan itu kepada seisi dunia dan mau membagikannya kepada sesama kita.

Pagi ini kita sadar bahwa Yesus sudah tidak di dunia lagi. Tetapi kita tahu bahwa Ia benar-benar mengasihi seisi dunia ini dan mau menolong umatNya baik dalam hal rohani maupun jasmani. Karena kasihNya, Yesus memberi kita Roh Kudus yang bisa berdoa syafaat untuk kita ketika ada masalah dan penderitaan yang tidak terucapkan. Roh Kudus jugalah yang menggerakkan kita untuk berdoa bagi orang-orang di sekitar kita. Yesus peduli atas hidup kita dan karena itu kita juga harus peduli atas hidup orang lain!

Siapakah yang harus kita kasihi?

“Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” Roma 13: 9

Jika anda membaca koran hari ini, pasti anda bisa menemukan berbagai laporan tentang apa yang terjadi dalam masyarakat di berbagai tempat. Seringkali laporan semacam itu adalah kabar buruk yang terjadi pada diri seseorang yang disebabkan oleh tindakan orang lain, seperti penganiayaan, perampokan, penipuan, penistaan, pelecehan dan sejenisnya. Untuk sebagian pembaca, laporan yang sedemikian bukannya menyedihkan tetapi justru menarik perhatian, apalagi jika ditampilkan dengan bumbu sensasi.

Kita juga bisa melihat bahwa internet dan sosial media juga selalu dibanjiri dengan foto-foto yang tidak manusiawi. Mengapa ada orang-orang yang tertarik pada hal-hal semacam itu? Mengapa manusia seringkali kurang menghargai orang lain? Pertanyaan ini mungkin dilontarkan bukan saja terhadap pelaku kejahatan, tetapi juga kepada orang-orang yang kelihatannya gemar menonton orang lain yang mengalami masalah dan musibah. Seolah manusia tidak lagi mempunyai rasa hormat dan kasih kepada orang lain. Walaupun demikian, patutkah kita heran akan hal itu?

Sejak kapan manusia mempunyai rasa hormat dan kasih? Adam dan Hawa, maupun Kain dan Habel tidak mempunyainya. Adam dan Hawa mengabaikan perintah Allah yang menyebabkan seluruh umat manusia jatuh dalam dosa. Kain membunuh saudaranya, Habel, karena iri hati. Dan sejarah, sampai sekarang pun terlihat bahwa dunia ini penuh dengan kejahatan yang dilakukan manusia, termasuk mereka yang mengaku umat Kristen. Karena itu, semua orang sudah berdosa dari awalnya.

“Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku. Mazmur 151: 5

Hanya melalui kasih Tuhan, manusia belajar untuk menghormati martabat dan hakiki orang lain. Hanya karena Allah yang sudah lebih dulu mengasihi kita, kita bisa belajar mengasihi dan menghormati orang lain. Hanya orang yang benar-benar sudah mengalami kasih Allah, bisa menunjukkan kasih untuk orang lain dalam setiap keadaan.

Pagi ini, jika kita bangun dan pikiran dan mata kita mulai dibombardir dengan berita-berita buruk, biarlah kita ingat bahwa segala kebencian, kemarahan dan kejahatan kepada sesama kita adalah dosa adanya. Walaupun bukan kita yang melakukan hal-hal itu, tidak sepatutnya kita membiarkan hati dan pikiran kita mengalami kehilangan kepekaan atas penderitaan orang lain. Mungkin kita tidak menyenangi apa yang dilakukan orang lain dan bahkan membenci cara hidup mereka, tetapi itu tidak memberi alasan untuk membenci mereka atau mensyukuri penderitaan yang mereka alami.

Ayat diatas menunjukkan bahwa segala hal yang jahat, yang tidak patut dikerjakan kepada sesama kita, adalah dosa yang harus dihindari. Tetapi semua perintah itu bisa diringkas dalam satu perintah untuk menunjukkan kasih. Jika kita melakukan hal-hal yang jahat kepada sesama kita, kita tidak mempunyai kasih yang sudah ditunjukkan Allah kepada semua orang, dan kita mungkin belum menyadari betapa besarnya kasih Allah kepada kita.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Apakah anda bisa dipercaya?

“Aku bersukacita, sebab aku dapat menaruh kepercayaan kepada kamu dalam segala hal.” 2 Korintus 7: 16

Ayat diatas ditulis oleh Rasul Paulus kepada para jemaat di Korintus untuk mengutarakan rasa senangnya karena mereka dapat dipercaya dalam segala hal. Segala hal? Luar biasa! Apakah Paulus hanya bermanis-manis saja? Rupanya tidak, karena Paulus membanggakan mereka kepada Titus (2 Korintus 7: 13-14). Walaupun demikian, Paulus tentu tidak bermaksud bahwa mereka adalah orang-orang yang selalu jujur. Tetapi Paulus jelas bangga bahwa mereka adalah orang yang sudah berubah hidupnya dan bisa diandalkan dalam pekerjaan Tuhan.

Paulus, seperti kita, tidak bisa sepenuhnya melihat hati dan pikiran orang lain. Tetapi ia tentu tahu bahwa tidak ada seorang pun yang sempurna, termasuk dirinya sendiri. Tiap orang pernah berbohong atau berlaku tidak jujur; tetapi mereka bisa menjadi orang Kristen yang berguna dalam kerajaan Kristus di dunia. Mereka yang menyadari kekurangannya dapat memakai segala kesempatan yang disediakan Tuhan untuk memperbaiki diri dan membaktikan dirinya untuk Tuhan. Paulus dalam hal ini sebagai Rasul yang mengikuti perkembangan kehidupan rohani jemaat Korintus, tahu bahwa mereka sudah berjuang untuk menjadi anak-anak Tuhan yang baik; dan Paulus menerima mereka sebagaimana adanya.

Masalah yang ada pada diri semua manusia pada umumnya adalah ketidakpedulian atas ketidakjujuran yang ada. Selama orang lain tidak melihat atau tidak peduli atas hal-hal buruk yang kita lakukan, kita pun merasa tenang. Selama orang lain puas dengan apa yang terlihat dari luar, kita pun merasa senang. Dengan demikian, kurang ada dorongan bagi kita untuk terus berusaha memperbaiki diri, sekalipun Roh Kudus siap menolong kita. Karena itu, kita mungkin sulit untuk berubah dari kehidupan yang tidak memuliakan Tuhan.

Manusia memakai kedok untuk menutupi kekurangannya, tetapi Tuhan melihat semua yang ada. Tuhan bisa melihat seluruh hidup kita, dan Ia tahu apakah kita dengan sengaja menjalani hidup sehari-hari dalam kepalsuan. Untuk semua itu, kita harus mempertanggung jawabkan apa yang kita lakukan, pikirkan dan ucapkan di sekolah, kantor, toko, rumah dan dimana saja.

“Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” Ibrani 4: 13

Pagi ini, beranikah kita menghadap Tuhan dan mengaku bahwa kita sudah berusaha sepenuh hati untuk menjadi orang yang bisa dipercaya sebagai umatNya? Ataukah selama ini kita mengabaikan pandangan mata Tuhan dan hanya mempedulikan pendapat umum?

Tuhan mengerti kelemahan kita dan Ia bisa menerima kita sebagaimana adanya, tetapi itu tidak berarti bahwa kita boleh dengan sadar, hidup dalam kepalsuan dan kebohongan. Marilah kita menghadap Dia dalam doa untuk memohon pengampunan serta berjanji bahwa kita mau membiarkan Roh Kudus membaharui hidup kita, agar kita bisa menjadi orang-orang kepercayaanNya.

Sebagaimana adanya

Jiwaku sungguh bercela

DarahMulah pembasuhnya

Ku datang Yesus padaMu

Untuk apa ke gereja?

“Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.” Kisah Para Rasul 2: 42

Mengapa banyak orang ke gereja pada hari Minggu (atau Sabtu untuk sebagian)? Sudah hampir dipastikan, jawabnya adalah untuk berbakti kepada Tuhan. Tuhan memang memerintahkan kita untuk beristirahat pada hari yang ke tujuh, dan untuk memuliakan Dia, demi kesehatan jasmani dan rohani kita.

Pertanyaan yang agaknya lebih sulit dijawab adalah mengapa banyak orang pergi ke gereja atau mengikuti aliran gereja tertentu. Biasanya jawaban untuk pertanyaan ini lebih dari satu, karena orang biasanya memilih gereja berdasarkan beberapa sebab pribadi. Walaupun tiap orang bisa mempunyai alasan yang berbeda-beda, kebanyakan alasan itu merupakan salah satu (atau beberapa) dari yang ada diantara istilah TAMU.

  • Tempat: banyak yang memilih gereja yang bagus gedungnya, mewah dan nyaman tempatnya.
  • Acara: orang menyenangi acara-acara tertentu, musik yang hebat atau khotbah yang membuai.
  • Masa lalu: banyak yang cenderung memilih aliran gereja besar yang ternama sejak dulu.
  • Umat: orang cenderung tertarik ke gereja yang sering dikunjungi orang yang dekat atau tokoh-tokoh masyarakat dan selebriti.

Sudah tentu jarang orang yang mengakui bahwa ia ke gereja karena pengaruh TAMU. Lagi pula, orang jarang mau memikirkan hal itu jika ia sudah merasa nyaman dalam keadaannya sekarang. Akibatnya, orang jarang menyadari bahwa gereja yang benar adalah gereja, yang seperti ditulis dalam ayat diatas, seperti gereja yang mula-mula, yang memiliki hal-hal dibawah ini:

  • Pengajaran: gereja yang benar harus mempunyai doktrin pengajaran yang benar, yang berlandaskan Alkitab saja. Bukan berdasarkan pikiran atau pengalaman manusia.
  • Persekutuan: gereja yang baik haruslah mempunyai persekutuan umat yang kuat, untuk saling menguatkan, menolong, membimbing dan menginsafkan.
  • Perjamuan: gereja yang benar selalu merayakan perjamuan kudus untuk mengingat pengurbanan Yesus dalam menebus dosa manusia.
  • Permohonan: persekutuan orang percaya yang benar memungkinkan jemaat untuk saling mendoakan, memohon hal-hal yang baik, yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Selain itu, Yesus dalam Matius 28: 29 juga memerintahkan kita untuk mengabarkan injil. Jadi, gereja harus mau, secara aktif dan kolektif, untuk menginjil.

  • Penginjilan: gereja hidup bukanlah untuk diri sendiri saja, tetapi untuk membawa orang lain ke arah pengenalan akan jalan keselamatan.

Hari ini, jika kita ke gereja, marilah kita meneliti apakah kita memilih ke gereja karena TAMU saja, ataukah kita sudah menyadari bahwa sebenarnya gereja yang dikendaki Tuhan adalah gereja yang menunjukkan adanya lima poin P diatas. Biarlah Tuhan saja yang memberi kita kebijaksanaan untuk menjadi makin baik hari demi hari. Selamat hari Minggu, selamat berbakti!

Hal berpikir positif

“Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Matius 6: 10

Di zaman ini, konsep berpikir positif didengung-dengungkan dalam berbagai media sebagai sesuatu yang hebat, yang bisa menentukan kebahagiaan dan kesuksesan manusia. Dalam pengajarannya, orang dianjurkan untuk memperbaiki segi-segi kehidupannya dengan cara berpikir dan bertindak dengan positif, yaitu dengan kemauan dan keyakinan.

Sebenarnya, berpikir positif tidak ada salahnya jika itu sesuai dengan firman Tuhan dan bukannya mengurangi peran dan kemuliaan Tuhan. Tetapi, itu seringkali tidak terjadi karena orang berusaha memisahkan iman kepercayaan dari akal budi manusia.

Berbagai teknik dan metode hidup positif diajarkan oleh banyak pembicara, motivator dan bahkan pendeta di zaman kini. Itu bukan barang baru. Sejak tahun 1950an Positive thinking yang dipopulerkan oleh Dr. Norman Vincent Peale mengajarkan bahwa kesuksesan dan kebahagiaan manusia di dunia ada di tangan mereka sendiri.

Prinsip manusia dalam hidup di dunia memang seringkali “seeing is believing“, percaya karena melihat. Apa yang tidak bisa dilihat, manusia sukar untuk percaya. Bagi banyak orang, Tuhan yang tidak terlihat hanya untuk hal surgawi yang akan datang, tetapi untuk hidup di dunia mereka percaya pada hal-hal yang terlihat mata seperti usaha, penampilan dan keberanian. Dan jika mereka tidak melihat adanya hal-hal itu, mereka dianjurkan untuk berpikir positif, membayangkan bahwa semua itu sudah mereka punyai dan siap dipakai. Mereka mungkin lupa bahwa Tuhanlah sumber segala apa yang baik.

Alkitab menceritakan bahwa pada saat Musa naik ke gunung Sinai untuk menerima dua loh batu, bangsa Israel yang sudah lama menunggu merasa tidak sabar. Karena itu, sebagian diantaranya memutuskan untuk membuat sebuah patung anak lembu untuk disembah. Bagi mereka, hidup di dunia yang nyata ini memerlukan ilah yang kelihatan. Kemurkaan Allah atas kebodohan umat Israel itu tidak bisa diukur. Tiga ribu orang Israel akhirnya tewas sebagai hukuman Allah (Keluaran 31-32).

Mereka yang percaya bahwa kebahagiaan dalam hidup dapat dicapai dengan berpikir positif bisa lambat laun kehilangan kesadaran bahwa hidup mereka sepenuhnya bergantung kepada Tuhan yang tidak kelihatan. Karena itu mereka mudah jatuh kedalam pemujaan dan kepuasan atas diri sendiri sebagaimana bani Israel jatuh kedalam pemujaan patung anak lembu.

Bagaimana kita menghadapi ajaran yang secara langsung maupun tidak langsung menyatakan bahwa manusia berkuasa atas hidupnya? Ayat diatas dari Matius 6: 10 adalah bagian dari Doa Bapa Kami yang mungkin sering kita ucapkan. Ini bisa kita pakai sebagai pedoman kita dalam berpikir positif. Doa ini dimulai dengan pengakuan akan kebesaran Tuhan, dengan menerima kehendak Tuhan di bumi seperti di sorga. Tuhan adalah Raja kita, baik di surga di masa depan, maupun di bumi di masa kini.

Pagi ini jika kita berdoa, kita diingatkan bahwa sebagai warga kerajaan Tuhan yang memiliki surga dan bumi, kita harus selalu mau berkomunikasi dengan Dia dimana saja dan kapan saja. Kita harus menempatkan firman Tuhan sebagai pelita kehidupan yang bisa secara positif membimbing hidup kita di bumi.

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Siapakah kita?

“Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.” Galatia 3: 26

Kartu Tanda Penduduk (KTP) adalah salah satu kartu penting yang harus dibawa kemana-mana karena diperlukan untuk memastikan identitas seseorang. Di Australia, rakyat tidak mempunyai KTP, karena itu mereka bebas untuk pindah ke mana saja. Sebagai tanda pengenal, Surat Ijin Mengemudi (SIM) sering dipakai sebagai ganti KTP. Tentu saja, mereka yang tidak mempunyai SIM harus memakai tanda pengenal lain seperti paspor dan sebagainya.

Mengapa seseorang harus mempunyai kartu identitas? Sudah tentu karena identitas seseorang menentukan siapa dia dan apa hak serta kewajibannya. Mereka yang ingin mendapatkan pelayanan pemerintah atau membayar pajak, haruslah mempunyai tanda pengenal.

Bagaimana pula dengan bukti identitas orang Kristen? Mungkin ada yang menyebut surat baptis atau sidi, seperti yang diperlukan untuk mendaftar ke sekolah atau pada waktu mau menikah. Tetapi bukti identitas yang benar adalah ketundukan kepada Tuhan dan firmanNya. Ada banyak orang yang merasa atau mengaku Kristen, tetapi sekedar untuk mendapat kemudahan atau fasilitas. Mereka tidak mau menunaikan kewajiban dan hanya mau mendapatkan berkat Tuhan.

Orang yang benar-benar Kristen adalah orang yang beriman teguh dan menghasilkan berbagai buah kebajikan. Orang yang sekalipun menghadapi kesulitan tetap percaya kepada Yesus Kristus. Memang enak jika warga Allah selalu mendapat kelimpahan hidup di dunia. Tetapi dalam kenyataannya, banyak warga Allah yang setia sekalipun hidup dalam penderitaan, seperti Rasul Paulus yang menulis surat kepada jemaat di Galatia. Itu karena warga Allah adalah warga surgawi, dan keadaan mereka di dunia tidak mempengaruhi status mereka di hadapan Tuhan.

“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Galatia 3: 28

Pagi ini marilah kita meneliti identitas kita sendiri. Benarkah pengakuan kita bahwa kita adalah warga surgawi? Semoga.