Hak atau anugerah?

“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Roma 11: 36

Manusia itu aneh. Jika ada hal yang buruk terjadi, ia akan mengeluh mengapa hal itu  terjadi padanya. Tetapi, jika ada hal yang baik yang terjadi pada dirinya, ia akan merasa bahwa hal itu adalah sudah sewajarnya. Memang dari dulu manusia cenderung lebih mudah merasa bahwa apa yang baik adalah haknya, dan apa yang buruk tidak seharusnya terjadi pada dirinya. Lebih-lebih lagi, di zaman modern ini manusia lebih mengenal apa yang seharusnya menjadi haknya dan karena itu sering mengajukan berbagai tuntutan agar orang lain, masyarakat dan negara mengakui haknya.

Memang manusia sampai-sampai bersedia untuk berdebat, bermusuhan, dan bahkan berperang untuk memperoleh dan mempertahankan apa yang dianggap haknya. Anak-anak merasa mempunyai hak tertentu dan menuntut orang tua dan keluarga untuk menghargai dan memberikannya. Sebaliknya orang tua pun merasa  mempunyai hak-hak tertentu yang mengharuskan anak-anaknya untuk memenuhi kemauan dan kebutuhan mereka di masa depan. Demikian pula, percekcokan antara suami dan istri sering diakibatkan  karena mereka saling merasa punya hak-hak tertentu. Semua orang punya hak dan kewajiban, begitulah ajaran hidup bermasyarakat yang sering kita dengar.

Manusia sejak dulu memang berusaha memperjuangkan hak-hak manusia karena keyakinan bahwa pada hakekatnya semua manusia itu sama derajatnya. Tercatat dalam sejarah bahwa  tokoh-tokoh agama Kristen pada abad 17 dan 18 giat memperjuangkan masalah hak asasi. Hak Asasi Manusia(HAM) adalah prinsip-prinsip moral atau norma-norma, yang menggambarkan standar tertentu dari perilaku manusia, dan dilindungi secara teratur sebagai hak-hak hukum dalam hukum kota dan internasional. Mereka umumnya dipahami sebagai hal yang mutlak sebagai hak-hak dasar “yang seseorang secara inheren berhak karena dia adalah manusia”, dan yang “melekat pada semua manusia” terlepas dari bangsa, lokasi, bahasa, agama, asal-usul etnis atau status lainnya.

Walaupun dalam kehidupan masa kini soal mengatur  hak dan kewajiban manusia adalah penting demi keamanan dan kelancaran hidup bermasyarakat, dalam konteks iman Kristen selalu ada pertanyaan apakah benar bahwa setiap manusia dilahirkan dengan hak-hak tertentu. Benarkah bahwa setiap orang di dunia pada hakekatnya mempunya hak yang sama untuk hidup nyaman dan aman? Benarkah manusia Kristen mempunyai hak-hak istimewa yang tidak dipunyai orang lain?

Apa yang tertulis dalam Galatia 4: 6-7 seolah mengiyakan pandangan bahwa manusia percaya mempunyai hak khusus terutama dalam hal meminta berkat dari Tuhan.

Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.

Tetapi jika kita teliti, ayat diatas bukanlah menunjuk pada hak kita sebagai orang yang sudah diselamatkan, tetapi pada kenyataan bahwa mereka yang percaya sudah menerima anugerah keselamatan dan dengan itu boleh memanggil Allah sebagai Bapa. Dalam Alkitab disebutkan bahwa manusia sebagai ciptaan Allah memang mempunyai hak kolektif untuk mengatur dunia serta untuk berkembang biak (Kejadian 1: 28-29), tetapi Alkitab hampir tidak pernah menyebutkan soal hak pribadi.

Dalam Alkitab jelas tertulis bahwa manusia itu diciptakan  sebagai peta dan teladan Allah untuk memuliakan Sang Pencipta. Dengan demikian, apa yang dikenal sebagai “hak ”  oleh manusia sebenarnya adalah anugerah Tuhan semata,  sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia.

Manusia diciptakan dengan kesadaran akan baik dan buruk; tetapi karena dosa, kesadaran ini sering menjadi pudar. Karena itu, dalam hidup bermasyarakat manusia membutuhkan pengertian akan adanya “hak” dan kewajiban. Tetapi, sekalipun mungkin kita kurang menyenanginya, adalah fakta bahwa apa yang sering disebutkan dalam Alkitab adalah kewajiban dan bukan hak. Hukum Kasih mengatakan bahwa kita harus mengasihi Tuhan dan sesama kita, dan pada kedua hukum ini bergantung semua hukum-hukum yang lain (Matius 22: 37-40). Tuhan tahu jika kita melaksanakan kedua kewajiban ini, soal “hak” tidak lagi akan menjadi persoalan dalam hidup manusia.

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai orang Kristen, kita tidak boleh selalu menekankan pentingnya “hak” kita dalam hidup beragama, berkeluarga, bermasyarakat, dan bernegara, tetapi lebih mementingkan apa yang bisa dan harus kita perbuat untuk Tuhan dan orang lain. Dengan demikian hidup kita akan bisa terisi dengan kebahagiaan dan kepuasan bahwa kita sudah menjalankan apa yang diperintahkan Tuhan dan memuliakan namaNya.

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 7: 12

Ngapain ke gereja?

“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Ibrani 10: 25

Gereja di banyak negara barat sekarang ini seringkali hanya dihadiri orang tua saja. Banyak gedung gereja di Australia yang dijual karena pengunjungnya sudah terlalu sedikit dan dijadikan tempat ibadah agama lain atau tempat makan. Salah satu gedung gereja Australia di Melbourne masih beruntung karena bisa dikelola jemaat Indonesia sehingga tidak perlu ditutup atau dijual, tapi kejadian ini jarang ditemui. Mengapa hal ke gereja sekarang sudah tidak relevan bagi generasi muda di banyak negara maju? Apakah itu bisa terjadi di Indonesia?

Satu faktor yang penting dalam kehidupan orang Kristen adalah keluarga. Pendidikan keKristenan dalam keluarga adalah dasar pembentuk norma dan etika Kristen anak-anak. Jika keluarga dan orang tua sudah tidak bisa berfungsi sebagai gereja (persekutuan orang percaya) dan pimpinan gereja, anak-anakpun akan jatuh dalam kebimbangan seperti layang-layang putus.

Keluarga Kristen di zaman ini, seperti keluarga lainnya, menghadapi berbagai tantangan hidup yang berbeda dengan zaman sebelumnya. Tidak hanya tekanan hidup yang terjadi karena soal pekerjaan orang tua, pengaruh tekanan juga timbul dari masyarakat sekitar keluarga dan bahkan keadaan dunia yang bisa dipantau melalui media. Anak-anak zaman ini belajar lebih banyak dari lingkungannya daripada orang tua mereka. Apalagi, jika anak-anak sudah bisa pergi kemana saja tanpa disertai orang tua, mereka akan merasa bebas untuk melakukan apa saja.

Unit terkecil gereja adalah keluarga. Jika keluarga sudah tidak dapat berfungsi sebagai persekutuan orang percaya dengan orang tua yang berperan sebagai gembala sidang, anak-anak secara otomatis akan mengabaikan pentingnya persekutuan dengan orang seiman. Jika keluarga sudah tidak bisa memberikan kesempatan untuk bertemu dan berdoa, tempat ibadah untuk saling menasihati, dan memuji Tuhan, kemungkinan untuk anak-anak menjalani hidup Kristen makinlah tipis. Apalagi di zaman ini peran ayah dan ibu cenderung semakin kabur saja.

Pagi hari Minggu ini kita diingatkan bahwa perjuangan hidup umat Kristen di masa depan akan semakin berat. Tidak hanya di negara barat, tetapi juga di negara-negara lain. Tidak hanya di sekolah, kantor, pemerintah dan masyarakat kita melihat unsur-unsur jahat yang berusaha menghancurkan iman Kristen, tetapi keluargapun akan terpecah belah karena adanya pandangan-pandangan manusiawi yang nampaknya masuk akal, tetapi bertentangan dengan Firman. Marilah kita memperkuat ibadah kita, terutama ibadah dalam keluarga supaya makin banyak orang yang mengerti pentingnya gereja yaitu persekutuan orang percaya!

Tua tua kelapa

“Konon hikmat ada pada orang yang tua, dan pengertian pada orang yang lanjut umurnya.” Ayub 12: 12

Ada pepatah Indonesia yang berbunyi “tua tua keladi” yang berarti makin tua makin menjadi (sifat buruknya), tetapi pepatah “tua tua kelapa” adalah kebalikannya, karena berarti makin tua makin banyak santannya (sifat baiknya). Kedua pepatah ini sering dipakai untuk mengungkapkan sifat manusia dengan bertambahnya umur, tetapi pepatah yang pertama mungkin lebih sering kita dengar.

Ayat diatas menyatakan bahwa dengan bertambahnya umur, hikmat dan pengertian ikut bertumbuh. Orang yang lanjut umurnya punya lebih banyak kebijaksanaan dan pengertian, mungkin karena banyaknya pengalaman.

Pengalaman adalah guru yang terbaik, begitulah bunyi pepatah lain yang mengungkapkan pentingnya untuk belajar dari apa yang kita alami. Memang seringkali manusia mengalami pengalaman pahit yang memungkinkan mereka untuk bisa belajar untuk tidak melakukan hal yang sama di masa depan. Sebuah pepatah internasional yang sangat terkenal mengatakan bahwa seekor keledai tidak pernah jatuh ke dalam lubang dua kali, karena keledaipun belajar dari pengalaman!

Pengalaman memang bisa menjadi pelajaran yang berharga tetapi tidak semua orang bisa menghargai pengalamannya dan menjadi makin baik dalam sifat dan hidupnya. Banyak orang yang justru berubah menjadi makin jahat dan makin jauh dari Tuhan karena pengalaman yang membuat mereka merasa Tuhan itu tidak ada. Mengapa begitu? Ayat dibawah ini menjelaskan bahwa hikmat dan pengetahuan yang benar hanya datang dari Roh Kudus.

“Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan.” 1 Korintus 12: 8

Belajar dari pengalaman tanpa dibimbing Roh Kudus hanya menghasilkan kebijaksanaan menurut ukuran manusia. Jika manusia tidak sadar bahwa Tuhan berkuasa atas apa yang terjadi dalam hidup mereka, apa yang mereka peroleh dari pengalaman hanyalah menghasilkan kesombongan dan kenekadan, atau kekuatiran dan kekecewaan. Tanpa bimbingan Roh Kudus, manusia mungkin serupa keladi, makin tua makin menjadi dalam kebodohannya.

“Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah.” 1 Korintus 3: 19

Pagi ini marilah kita menyadari bahwa dalam hidup kita harus tetap dekat kepada Tuhan dan bahkan makin lama makin dekat kepadaNya dengan bertambahnya umur kita. Biarlah hidup kita seperti kelapa yang semakin tua semakin banyak santannya!

Siapa sih yang senang sakit?

“Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.” 3 Yohanes 1: 2

Akhir-akhir ini saya sering mendengar berita yang kurang enak tentang si A yang jatuh sakit, si B yang masuk rumah sakit, si C  yang dalam keadaan kritis, dan sebagainya. Semua berita itu membuat saya sedih. Mengapa manusia harusmengalami hal itu? Setelah berpikir-pikir, saya menarik kesimpulan bahwa mengenai soal jatuh sakit, kenyataan hidup manusia antara lain adalah sebagai berikut:

  • Ada berbagai macam penyakit.
  • Tidak semua penyakit bisa dihindari.
  • Semua orang pernah sakit.
  • Tidak ada orang yang mau sakit.
  • Tidak semua orang mau menghindari penyakit.

Alkitab menunjukkan bahwa memang ada berbagai macam penyakit yang diderita manusia setelah jatuh dalam dosa. Tuhan Yesus sewaktu di dunia menyembuhkan banyak orang dari penyakit mereka, dan itu membuktikan bahwa Ia adalah Anak Allah. Penyakit yang disembuhkannya tidak hanya penyakit jasmani tetapi juga penyakit rohani (Lukas 8: 26-39). Sampai sekarangpun, Tuhan tetap mau menyembuhkan orang sakit jika sesuai dengan kehendakNya.

Dengan kemajuan pengobatan, banyak penyakit yang dulu tidak dapat disembuhkan sekarang bisa dihindari atau disembuhkan. Tetapi selalu ada saja penyakit yang tidak dapat dihindari karena tidak adanya atau belum adanya obat yang mampu membawa kesembuhan. Selain itu, penyakit bisa datang melalui faktor genetika yang membuat orang mempunyai kelemahan tertentu sejak lahir. Sekalipun ada usaha manusia untuk mengubah faktor genetika ini, tiap manusia mungkin saja jatuh sakit karena berbagai hal, termasuk jatuh sakit karena Tuhan memberi ujian bagi anak-anakNya (Ayub 2: 6-7).

Semua orang pernah jatuh sakit sekalipun mereka biasanya sehat. Sebagian besar orang sakit yang kita jumpai mungkin mengalami sakit jasmani, tetapi banyak juga orang yang sakit rohani. Mereka yang sakit rohaninya mungkin mendapat serangan atau godaan iblis, tetapi mungkin juga karena tekanan hidup yang membuat mereka jauh dari Tuhan. Istri Ayub misalnya, tidak mengalami sakit jasmani tetapi karena melihat penderitaan Ayub, ia menjadi sakit rohaninya dan menganjurkan agar Ayub untuk mengutuki Tuhan (Ayub 2: 10).

Karena sakit adalah hal yang tidak enak dan membawa penderitaan, tidak ada orang yang berpikiran sehat yang mau sakit. Sedapat mungkin orang akan berusaha untuk hidup sehat dengan mengonsumsi makanan sehat, berolahraga, cukup beristirahat dan lain-lain. Demikian pula orang yang sadar akan berusaha memelihara rohaninya dengan hidup dekat dengan Tuhan dan menghindari hal-hal yang menggoda. Semua itu harus dilakukan karena tubuh kita secara keseluruhan adalah rumah Tuhan (1 Korintus 6: 19-20).

Rasul Yohanes dalam ayat diatas (3 Yohanes 1: 2) mengharapkan agar umat Kristen sehat dalam jasmani maupun rohani. Masalahnya adalah walaupun orang umumnya tidak mau sakit, ada orang-orang yang tidak berhati-hati dalam mempertahankan kondisi jasmani dan terutama rohaninya. Banyak pula yang tidak sadar bahwa kesehatan jasmani dan kesehatan rohani harus dipelihara secara khusus karena keduanya tidak selalu bertautan.

Pagi ini kita harus menyadari bahwa kesehatan itu perlu dijaga. Kesehatan jasmani itu penting, tetapi terlebih penting lagi adalah kesehatan rohani. Berita buruk tentang teman-teman kita yang sakit memang membuat kita sedih, tetapi kita harus bersyukur kalau mereka sehat rohaninya. Begitu pula kita sendiri haruslah bisa memelihara kesehatan rohani kita agar kita tetap bisa terhitung sebagai anak-anak Tuhan.

“Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” Matius 10: 28

Istri bahagia, hiduppun nyaman?

“Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” 1 Petrus 3: 7

Dalam hal menghormati kaum wanita, ayat diatas mengatakan bahwa pria dan wanita adalah sama-sama pewaris karunia kehidupan Allah, dan karena itu mereka harus mempunyai hubungan yang baik. Tetapi bagaimana mereka bisa membina hubungan itu?

Ada yang mengajarkan bahwa kunci hubungan suami dan istri adalah kemauan suami untuk bisa membahagiakan istri yang lebih lemah karena jika istri senang, hidup pun jadi nyaman. Happy wife, happy life.

Benarkah wanita itu kaum yang “lemah” yang perlu “dimanjakan”? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab karena memerlukan definisi kata “lemah” dan “dimanjakan”.

Di zaman sekarang, ayat diatas memang sering dirasakan agak ganjil baik oleh kaum wanita yang tidak mau dianggap lemah seperti Hawa yang tergoda bujukan ular, maupun oleh kaum pria yang merasa diharuskan mengalah kepada kaum wanita. Adalah kenyataan hidup di zaman ini bahwa wanita tidak selalu kalah dari pria atau lebih lemah. Malahan, kita sering melihat wanita sebagai “orang kuat”pemimpin negara, misalnya Margaret Thatcher, Megawati Soekarnoputri dan Angela Merkel.

Memang secara umum, terlihat bahwa dalam soal tenaga wanita tetap tidak sekuat pria, tetapi umur wanita secara umum lebih panjang dari umur pria! Wanita dan pria nampaknya punya keunggulan dan kelemahan sendiri-sendiri. Keduanya bisa saling melengkapi, seperti tujuan penciptaan pada mulanya yaitu untuk memuliakan Tuhan.

Dalam hal “memanjakan”, memang secara logis jika seorang suami bisa membahagiakan istrinya, sang istri mungkin akan lebih bisa mendukung sang suami dan ini bisa membawa keharmonisan dalam hidup rumah tangga. Tetapi, siapakah yang bisa menjamin adanya kebahagiaan pada diri orang lain?

Kebahagiaan tumbuh dalam hati seseorang, bukan dari luar. Sekalipun seseorang berusaha keras untuk membahagiakan orang lain, kebahagiaan dan kepuasan belum tentu terjadi. Malahan usaha manusia untuk membahagiakan orang lain itu sebenarnya keliru karena kebahagiaan sejati berasal dari hubungan yang baik antara manusia dan Tuhan.

Hubungan yang baik antara manusia dengan Tuhan tidak dapat disaingi dengan hubungan baik antar manusia. Tetapi hubungan kasih antara suami dan istri, yang saling menghargai satu dengan yang lain, bisa memperkuat hubungan mereka dengan Tuhan jika mereka sehati dan mengutamakan Tuhan. Dari situlah kebahagiaan keluarga akan terbentuk.

Kebal karena terbiasa

“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Matius 24: 12

Seingat saya, setiap kali saya sekeluarga mengunjungi Indonesia di akhir tahun, selalu ada banyak nyamuk yang beterbangan siang dan malam. Bagi saya, gigitan nyamuk itu tidak terlalu terasa. Tetapi, untuk anak-anak saya, gigitan satu nyamukpun bisa membuat kulit mereka gatal membengkak. Mungkin mereka kurang “kebal” karena tidak terbiasa.

Seperti gangguan nyamuk yang makin menjadi di akhir tahun, banyak orang yang berpendapat bahwa keadaan dunia ini semakin buruk saja. Berita perang, kerusuhan, terorisme, bencana alam, kecelakaan dan kejahatan tiap hari muncul di berbagai media. Belum lagi berita tentang perselingkuhan, korupsi dan kepincangan sosial lainnya. Tetapi, dengan itu kita juga melihat bahwa karena seringnya hal-hal itu muncul, orang menjadi kurang peka. Mereka yang menonton laporan di TV misalnya, hanya tertarik karena “faktor luar biasa”.

Yesus dalam Matius 24: 12 diatas berkata bahwa karena makin bertambahnya kejahatan, maka kasih manusia umumnya akan menjadi dingin. Manusia akan kebal terhadap kejahatan dan perbuatan amoral yang ada sehingga mereka tidak lagi mempunyai kasih yang murni (Agape) kepada orang di sekitarnya. Orang mungkin masih mempunyai perhatian kepada sesamanya, tetapi itu hanya upaya untuk meningkatkan kenyamanan hidup, keamanan diri sendiri atau kebanggaan pribadi. Selama gigitan nyamuk tak terasa, hidup berjalan seperti biasa!

Bagi manusia, memberi kasih yang murni tanpa pamrih adalah mustahil karena dosa yang selalu mendorong manusia untuk menaruh kepentingannya diatas kepentingan orang lain. Dosa jugalah yang membuat orang bisa “berbuat baik” tanpa mempunyai kasih. Bagaimana itu bisa terjadi?

Kitab 1 Korintus 13: 4-6 menjelaskan bahwa orang yang mempunyai kasih Agape dari Tuhan akan mempunyai sifat-sifat ini:

  • Sabar, murah hati, tidak cemburu.
  • Tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
  • Tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.
  • Tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
  • Tidak tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.

Pagi ini kita harus menanyai diri kita sendiri apakah kita sudah kebal karena terbiasa dengan hidup dalam lingkungan kita. Atau masih maukah kita untuk mempersilahkan Roh Kudus agar tetap bekerja dalam hidup kita sehingga kita bisa mempunyai kasih yang murni, kasih yang mau membimbing dan memperbaiki hidup masyarakat di sekitar kita?

Kebutaan yang perlu disembuhkan

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Tahukah anda bahwa dengan kemajuan bangsa Indonesia, masih ada orang yang buta aksara alias buta huruf? Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terus melakukan upaya untuk mengurangi angka buta aksara di Indonesia tetapi saat ini masih ada sekitar 5 juta orang yang tidak dapat membaca.

Ada beberapa kendala dalam memberantas buta aksara, antara lain kemiskinan, tidak adanya sarana belajar, yang menyebabkan kurangnya motivasi. Kemiskinan dapat menghalangi seseorang untuk belajar membaca, karena sekalipun pendidikan sekolah dasar dibebaskan dari biaya, orang masih harus membayar biaya-biaya lain. Mereka yang tidak mempunyai sarana belajar seperti buku, sekolah, guru dan komputer, juga akan terhalang untuk belajar. Motivasi penting karena sekalipun uang dan sarana ada, orang bisa saja tidak berminat untuk belajar.

Jika data jumlah penduduk yang buta aksara selalu di monitor pemerintah, data jumlah orang Kristen yang buta Firman tidak mudah diperoleh. Di negara barat seperti Amerika, diperkirakan seperlima umat Kristen tidak pernah membaca Alkitab. Mereka yang buta Firman ini sebenarnya melek aksara.

Mengapa ada orang Kristen yang buta Firman? Jika kemiskinan merupakan salah satu penyebab utama buta aksara, kekayaan dan keinginan untuk menjadi kaya bisa menjadi penyebab buta Firman. Mereka yang sibuk mencari uang dan kenikmatan hidup seringkali tidak punya waktu untuk mempelajari Firman. Jika kekurangan sarana teknologi dan informasi menyebabkan orang menjadi buta aksara, berlebihnya sarana internet dan sosial media cenderung membuat orang terpikat kepada hal-hal yang spektakular tetapi tidak Alkitabiah.

Kebutaan akan Firman membuat orang bergantung pada orang lain untuk menuntun mereka. Kebutaan ini membuat umat Kristen mudah disesatkan orang lain dan berbagai pengajaran yang keliru. Lebih dari itu, jika kita hidup jauh dari Tuhan, sekalipun kita bisa membaca Firman, itu tidak mudah untuk dimengerti dan dilaksanakan.

Pagi hari ini jika kita sempat merenungkan hal ini, patutlah kita bersyukur karena kita masih dapat memakai waktu dan sarana yang kita punya untuk mempelajari Firman. Memang kita memerlukan Firman Tuhan dalam hidup ini agar kita dapat berjalan di jalan yang benar karena FirmanNya itu seperti pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita. Biarlah kita mau meminta agar Tuhan tetap membuka mata rohani kita selama kita hidup di dunia.

“Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu.” Mazmur 119: 18

Aduh, lagi-lagi korupsi!

“Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar.” Ulangan 16: 19

Sejak dulu kala korupsi dengan segala bentuknya sudah ada. Yakub misalnya, menipu saudaranya, Esau, untuk memberikan hak anak sulungnya hanya untuk semangkuk sup kacang merah (Kejadian 25: 33-34). Mungkin untuk sebagian orang, kejadian ini bukanlah korupsi tetapi proses jual beli yang konyol. Walaupun demikian, apa yang dilakukan oleh Yakub adalah mirip dengan apa yang kita kenal dengan memberi sogok (bribe) untuk mendapat keuntungan pribadi yang tidak seharusnya. Memberi/meminta sesuatu kepada orang lain dengan maksud tidak jujur atau tidak etis untuk menguntungkan diri sendiri adalah korupsi.

Mengapa ada korupsi? Karena manusia ingin memperoleh keuntungan dengan cara yang gampang. Dengan memutarbalikkan keadilan, seseorang dapat memperoleh fasilitas atau dukungan dari orang lain, sekalipun itu sebenarnya bukan haknya. Dengan mengabaikan keadilan, orang melanggar hukum karena adanya imbalan dari orang lain. Perbuatan korupsi selalu mengorbankan orang lain untuk kepentingan diri sendiri.

Masalah korupsi adalah masalah rumit yang terjadi di negara dan masyarakat manapun. Walaupun demikian, hal ini jarang dibahas di gereja, mungkin karena agak sensitif terutama dalam sangkut pautnya dengan kehidupan anggota gereja dan situasi hukum setempat. Banyak orang yang kurang senang jika hal ini dibahas secara mendetail di gereja.

Karena situasi hukum yang kurang baik, memang mungkin bagi seseorang untuk melakukan korupsi tanpa harus melanggar hukum setempat. Karena kebiasaan dan etika masyarakat, mungkin saja orang memakai cara-cara tertentu yang kurang benar untuk “melicinkan” jalan masuk ke sekolah, universitas dan pekerjaan. Dengan dalih pemerataan ekonomi dan menolong orang lain, sering juga orang menggunakan jalan belakang untuk memperoleh keuntungan dalam bisnis, agama dan politik. Karena apa yang dilakukan manusia selalu disesuaikan dengan sikon, Tuhan seolah mempunyai standar yang berbeda-beda untuk manusia.

Kebiasaan dengan korupsi juga bisa membawa pengertian yang keliru dalam hubungan dengan Tuhan. Banyak orang yang tidak mau menyerahkan hidupnya kepada Tuhan sebelum hasrat kebutuhannya terpenuhi. Sebaliknya, ada orang yang berpikir bahwa Tuhan akan menuruti kehendaknya setelah memberikan persembahan kepada Tuhan.

Pagi ini kita diingatkan bahwa hanya ada satu Tuhan yang kita imani dan karena itu hukumNya adalah sama di seluruh dunia dan di sepanjang waktu. Sebagai orang beriman kita harus menjunjung keadilan untuk seluruh umat manusia, dan karena itu harus hidup dengan jujur satu dengan yang lain. Lebih dari itu, kita juga harus mempunyai iman yang benar dan jujur kepada Tuhan.

“Tetapi engkau, kalau engkau mencari Allah, dan memohon belas kasihan dari Yang Mahakuasa, kalau engkau bersih dan jujur, maka tentu Ia akan bangkit demi engkau dan Ia akan memulihkan rumah yang adalah hakmu.” Ayub 8: 5-6

Hal menikmati hidup

“Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya….”. Galatia 5:19-21

Jika diingat, saat-saat saya masih di universitas sungguh menyenangkan. Sebagai anak muda, saya mengendarai motor Honda 90 cc ke mana saja. Saat liburan dinikmati dengan bepergian ke luar kota, dan akhir tahun diakhiri dengan pesta dansa. Hidup sebagai anak muda memang enak, banyak yang bisa dinikmati, tanpa memikirkan tanggung jawab. Malahan, untuk sebagian teman-teman saya, kelihatannya hidup memang hanya untuk bersenang-senang saja. Itulah hedonisme.

Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia (happy) dengan mencari kesenangan (pleasure) sebanyak mungkin, dan sedapat mungkin menghindari tanggung jawab dan hal-hal yang tidak menyenangkan. Hedonisme memang adalah ajaran bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup manusia. Manusia hanya hidup untuk pesta pora, hura-hura, dansa-dansi, makan-makan, mabuk-mabukan dan acara rame-rame lainnya.

Memang tidak ada salahnya jika manusia itu menikmati hidup dan sesekali berpesta untuk bergembira. Tuhan tidak menciptakan manusia untuk menjadi robot yang hanya bisa bekerja. Alam semesta dan segala isinya boleh dinikmati, dan hasil jerih payah boleh dirayakan asalkan ada batasnya. Hedonisme sebaliknya membuang batas-batas itu dan menganjurkan manusia untuk menikmati hidup sepenuh mungkin, kalau bisa tujuh hari seminggu, sepanjang tahun.

Sangat mudah manusia untuk jatuh kedalam hedonisme. Hedonisme bukan hanya untuk orang muda. Dengan usia tua, ada kemungkinan bahwa waktu dan uang yang ada membuat manusia lebih bersemangat untuk mencari kesenangan yang sebelumnya tidak tercapai.

Hedonisme tidak juga terjadi dikalangan orang yang mampu saja, sebab inti hedonisme adalah usaha mementingkan diri sendiri dan mencari kenyamanan hidup. Hedonisme bagi sebagian orang bisa berarti kecanduan, kemalasan, perasaan apatis, kesibukan hobby, dan ketidakpedulian atas orang lain dan keadaan disekeliling. Ironisnya, mereka yang bersifat hedonistik cenderung untuk makin lama makin parah karena kebahagiaan yang dicari tidak dapat memberi kepuasan.

Pagi ini ayat di atas memperingatkan kita bahwa dalam mencari kenikmatan hidup kita harus berhati-hati agar kita terhindar dari cara-cara dan acara-acara yang hanya memuliakan diri kita dan memuaskan keinginan daging dan nafsu kita sendiri. Mencari kesenangan hidup seperti itu tidak berbeda dengan percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, dan lain-lain. Hal-hal semacam itu dibenci oleh Tuhan dan menjauhkan kita dari jalan kebenaran.

“Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu seperti yang telah kubuat dahulu bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” Galatia 5: 21

Semua dari Tuhan

“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Roma 11: 36

Dengan majunya komunikasi elektronik di zaman ini, banyak bermunculan berbagai nasihat untuk memperbesar “percaya diri” alias PD. Tidak hanya pembicara profesional atau motivator top yang giat mengadakan seminar, tetapi juga banyak slogan dan nasihat yang muncul di internet dan TV tentang bagaimana manusia dapat mencapai apa saja yang dicita-citakan mereka. Seolah hidup mereka bergantung pada mereka sendiri.

Di dunia ini, manusia memang diciptakan sebagai “raja”. Dalam kitab Kejadian 1: 28 dikatakan bahwa Allah memberi manusia kuasa atas mahluk-mahluk yang lain. Tetapi akibat dosa, manusia seringkali lupa bahwa Tuhanlah yang memungkinkan hal itu.

Karena dosa manusia juga sering lupa bahwa Tuhanlah yang benar-benar berkuasa atas seisi dunia, bahkan seluruh jagad raya. Manusia mudah merasa bahwa ia sendiri yang menentukan hidupnya dan apa yang diperolehnya adalah semata-mata jerih payahnya.

Ayat diatas mengingatkan kita bahwa apapun yang baik adalah dari Tuhan, dan oleh Tuhan, dan untuk Tuhan. Untuk Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. Hal ini lebih mudah dikatakan, tetapi sukar dijalankan. Bagaimana cara praktis untuk menerapkan keyakinan ini dalam hidup kita?

  1. Jangan sombong kalau sudah ada: Karena segala sesuatu dari Dia, keberhasilan kita seharusnya untuk memuliakan Tuhan dan bukan untuk kebanggaan diri sendiri.
  2. Mohon pada Dia, kalau belum ada: Karena Dialah yang memungkinkan segala kejadian, jangan mengandalkan pada kekuatan kita sendiri untuk mencari apa yang kita butuhkan.
  3. Tetap percaya, sekalipun tidak ada: Karena Dialah yang berkuasa untuk mengambil keputusan, jangan sampai kita lemah iman sekalipun apa yang kita harapkan tidak kunjung tiba.
  4. Syukur tiap saat, ada maupun tak ada: Ada ataupun tidak, hal-hal duniawi tidak boleh menentukan kebahagiaan kita. Hidup yang penuh rasa syukur adalah kunci kebahagiaan.
  5. Kerja giat, supaya yang ada tetap ada: Tuhan memberikan berkat dan talenta secara individual kepada setiap orang. Tugas manusia adalah untuk memakai dan melipat-gandakan berkatNya untuk Tuhan dan sesama.

“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang” Jakobus 1: 17a