“Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja.” Keluaran 18: 18
Pagi ini saya berada di Chengdu, China. Perjalanan kesana cukup jauh dan melelahkan dan semalam saya hanya sempat tidur selama 4 jam. Karena itu sekarang saya merasa letih sekali. Kelelahan adalah keadaan yang tidak dapat kita hindari karena keterbatasan manusia.
Kelelahan sebenarnya bukan akibat dari dosa. Dari awalnya, Tuhan menciptakan siang dan malam, dan malam adalah waktu untuk beristirahat bagi manusia. Juga, hari ke tujuh adalah hari yang ditetapkan Tuhan sebagai hari bagi manusia untuk beristirahat.
Dosa memang membuat hidup di bumi ini menjadi berat, dan kelelahan bisa membuat manusia makin menderita. Tetapi, kelelahan bisa berguna untuk mengingatkan kita untuk berhenti bekerja untuk memulihkan kekuatan kita. Jika kita sering mengabaikan kelelahan kita, itu adalah dosa. Lambat laun kesehatan dan keseimbangan hidup kita akan terganggu karenanya.
Dalam ayat diatas, mertua Musa mengingatkan Musa agar berhati-hati dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin agar ia tidak menjadi terlalu lelah. Sebagai pemimpin, Musa pada mulanya selalu menghadapi segala persoalan bani Israel seorang diri. Hal itu tentunya akan menghabiskan waktu dan tenaganya. Mertua Musa, dengan kebijaksanaan dari Allah, mengusulkan agar Musa memilih orang-orang yang pandai dan takut akan Allah untuk menolong Musa. Kelelahan membawa kesadaran akan keterbatasan kita dan mendorong kita untuk memohon kebjaksanaan dari Tuhan.
Pagi ini kita diingatkan bahwa kelelahan itu bisa menjadi berkat untuk kita jika kita tidak mengabaikannya. Banyak orang yang jatuh sakit karena mereka tidak bisa mengukur kekuatannya atau tidak bekerja dengan cara yang bijaksana. Seringkali juga orang menjadi lelah karena tidak mau menerima bantuan atau nasihat orang-orang lain. Lebih dari itu, kita juga sering menjadi lelah karena kita tidak mau menyerahkan persoalan kita kepada Tuhan.
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28
Doa adalah komunkasi kita dengan Sang Pencipta. Untuk orang Kristen, kesempatan berdoa secara langsung kepada Tuhan adalah berkat karunia yang dimungkinkan oleh kematian Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia.
Bersyukur. Rasa syukur. Lebih mudah mengucapkannya daripada melakukannya. Apalagi jika bencana atau kesulitan hidup datang menimpa. Orang mungkin bisa mengadakan acara syukuran akbar, tetapi hidupnya tidak sepenuhnya terisi rasa syukur. Orang juga bisa bersyukur, tetapi rasa syukur itu dinyatakan atas “nasib mujur” yang dialaminya.
Suatu pertanyaan bagi banyak orang yang hidup di dunia ini adalah soal keadilan sosial. Jika seorang mau melihat keadaan di sekitarnya, ia akan bisa melihat bahwa ada banyak ketimpangan keadaan dimana-mana. Ada banyak orang yang hidup menderita karena mereka tidak dapat memperoleh pekerjaan yang layak. Mungkin bukan karena kesalahan mereka jika begitu banyak orang yang harus bersaing untuk jumlah pekerjaan yang tidak cukup. Sebaliknya, ada orang-orang yang berkedudukan tinggi yang sebenarnya tidak pantas untuk menjabat, bukan saja karena kurangnya prestasi, tetapi juga karena berbagai hal yang tidak baik yang dilakukan mereka. Mengapa Tuhan membiarkan hal itu?
Di berbagai negara, orang Kristen merayakan Paskah, hari kebangkitan Kristus. Ada sebagian yang menyebutkannya sebagai Easter celebration atau Passover celebration, tetapi semuanya mempunyai maksud yang sama: merayakan Kristus yang sudah menang atas maut. Perayaan ini seharusnya adalah lebih penting dari perayaan Natal, karena kebangkitan Kristus itulah yang membuat iman kita tidak sia-sia (1 Korintus 15: 14, 17).
Hari ini kita merayakan Paskah, hari kebangkitan Kristus. Teringat saya akan lagu lama dari buku Nafiri Kemenangan yang refrainnya berbunyi:
Nama Petrus adalah nama Kristen yang sangat populer, tidak hanya untuk pria, tetapi juga untuk wanita. Dalam berbagai bahasa nama Petrus bisa ditulis sebagai Peter, Pedro, Peta, Peder dan sebagainya. Mengapa orang senang memakai nama Petrus walaupun Petrus adalah murid Yesus yang pernah menyangkaliNya?
Jam 4 pagi di hari Jumat Agung ini saya bangun tidur, dan sejam kemudian saya sudah di jalan raya, bermobil menuju ke bandara Brisbane. Matahari belum keluar, tapi beberapa mobil sudah terlihat melaju dengan kecepatan tinggi bersama para penumpangnya. Saya tidak tahu mengapa dan kemana orang-orang itu pergi, tetapi jelas bahwa mereka ada dalam perjalanan menuju ke suatu tempat dan bukannya sekedar bermobil tanpa tujuan.
Adanya cita-cita membedakan manusia dengan mahluk lainnya. Jika mahluk lain hidup menurut naluri mereka, tiap orang mempunyai hidup yang berbeda untuk mencapai tujuan mereka masing-masing. Adanya cita-cita bisa memberi semangat hidup untuk menantikan apa yang diinginkan, tetapi juga bisa memberi kekecewaan atas apa yang tidak kunjung datang.
Masih ingat saya akan saat-saat menjelang tidur di masa kecil, dimana ibu saya sering membacakan dongeng-dongeng tradisional. Walau dongeng-dongeng itu sering dibaca ulang, tak jemu-jemunya saya mendengarkannya.