Jangan tunduk dalam ketakutan

“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan” Efesus 5: 22

Soal tunduk kepada suami ini sering menjadi bahan perdebatan di kalangan umat beragama. Saya ingin mengulasnya setelah membaca berita ABC Australia kemarin mengenai kasus-kasus penganiayaan istri  oleh suami (domestic violence) diantara umat Kristen.

Sayang bahwa gereja dan pendeta dalam hal ini sering tidak mau campur tangan dan bahkan memilih untuk menekankan bahwa istri harus tetap “tunduk” kepada suami. Banyak pendeta yang kukuh mengajarkan bahwa seperti manusia harus tunduk kepada Tuhan, istri juga harus tunduk dan taat kepada suaminya dalam keadaan apapun.

Memang seperti Tuhan mengasihi manusia, suami harus mengasihi istrinya. Suami juga harus mengasihi istrinya seperti ia mengasihi dirinya sendiri (Efesus 5: 25-28). Masalahnya ialah banyak suami yang tidak mengenal kasih Tuhan dan bahkan tidak tahu bagaimana ia harus mengasihi dirinya sendiri. Inilah masalahnya: bagaimana istri bisa tunduk kepada suami yang demikian?

Membandingkan lelaki dan wanita, mungkin tidak ada orang yang membantah bahwa pada umumnya lelaki lebih kuat fisiknya daripada wanita. Karena itulah, dalam olahraga, tim pria tidak bertanding melawan tim wanita. Dengan demikian, dapatlah dipahami bahwa kejahatan suami terhadap istri, atau kekerasan pria atas wanita secara umum tidak dapat diterima masyarakat manapun.

Dalam rumah tangga, seorang suami mungkin lebih bisa mengerjakan satu hal dan sang istri sering lebih luwes melakukan hal yang lain. Tetapi yang sering terjadi dalam rumah tangga adalah istri diharapkan untuk tunduk kepada suami dalam semua hal, bahkan seperti tunduk kepada Tuhan. Apakah seorang istri harus selalu memandang dirinya kurang berarti? Apakah istri tidak boleh membantah dan menentang perlakuan semena-mena suami? Berita-berita di media sampai sekarang sering menunjukkan bahwa banyak istri yang menderita lahir dan batin karena harus tunduk kepada sang suami. Bahkan ada suami yang mungkin karena saking pintarnya bertinju, suka memukuli istrinya sampai babak belur!

Bagi kita yang sudah lama menikah, mungkin kita sudah terbiasa dengan perlakuan suami atau istri kita. Mungkin perlakuan kita yang dulu kurang baik, jika ada, sudah berhasil  diperbaiki. Syukurlah kalau begitu. Jika tidak, kesempatan masih ada untuk mengubah apa yang keliru. John Piper, pendeta dan penulis buku Kristen terkenal, menulis:

  1. Tunduk bukan berarti selalu setuju.
  2. Tunduk bukan berarti istri harus menanggalkan akal budi.
  3. Tunduk bukan berarti tidak pernah atau mau mempengaruhi suami.
  4. Tunduk bukan berarti mendahulukan kehendak suami diatas kehendak Tuhan.
  5. Tunduk bukan berarti menggantungkan seluruh kekuatan rohani kepada suami.
  6. Tunduk bukan berarti hidup dalam ketakutan.

Marilah kita juga bisa mengajarkan anak-cucu kita agar mereka tidak memperoleh pengertian yang keliru tentang ayat-ayat diatas!

“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” 1 Yohanes 4: 18

Bersukaria boleh saja, asal….

“Oleh sebab itu aku memuji kesukaan, karena tak ada kebahagiaan lain bagi manusia di bawah matahari, kecuali makan dan minum dan bersukaria. Itu yang menyertainya di dalam jerih payahnya seumur hidupnya yang diberikan Allah kepadanya di bawah matahari.” Pengkhotbah 8: 15

Hari ini saya berjalan-jalan ke China Town, Melbourne. Sudah sering saya kesana, maklum dulu saya pernah tinggal di kota Melbourne selama 12 tahun sebelum pindah ke kota-kota lainnya di Australia. Sekalipun saya mengenali hampir seluruh sudut China Town itu, tiap kali saya kesana saya selalu senang menonton dua hal: adanya berbagai restoran yang menjual makanan enak berbagai jenis, dan adanya berbagai manusia yang datang kesana untuk makan enak. 


Melihat lampu-lampu restoran yang berwarna warni, saya berpikir: manakah yang benar – hidup untuk makan ataukah makan untuk hidup? Di China Town itu anda mungkin akan membenarkan keduanya. Ada banyak orang yang pergi kesana untuk menikmati makanan enak,  seolah hidup hanya untuk makan; tetapi jika anda sempat melihat ke ujung jalan yang gelap didekat restoran-restoran itu, anda bisa melihat bayang-bayang mereka yang tidur kedinginan di pinggir jalan, mereka yang kurang makan, mereka yang mencari makan dan sisa makanan untuk bisa hidup. Suatu kontras kehidupan yang terjadi pada saat yang sama.

Pengkhotbah dalam ayat diatas seolah mendukung mereka yang hidup untuk makan dan minum. Seolah itu adalah wajar kalau dalam makanan dan minuman kita menemukan sukacita. Seakan itu adalah hak karunia anak-anak Tuhan. Seolah kasih Allah harus bisa dinikmati dalam bentuk makanan, minuman yang enak dan kegembiraan yang menyertainya. Tetapi bukan itulah yang dimaksudkan ayat-ayat diatas. Ayat-ayat itu bukannya mendukung pesta pora dan pesta kuliner!

Apa yang dimaksud ayat-ayat itu adalah bahwa makanan dan minuman adalah memang berkat Tuhan. Makanan dan minuman dalam bentuk apapun dan jumlah bagaimanapun harus kita sambut dengan sukacita. Tidak ada yang lebih membahagiakan kita jika kita menyadari bahwa Tuhan mengasihi kita dalam keadaan apapun.  Untuk anak-anak Tuhan,  asal ada makanan dan pakaian, cukuplah (1 Timotius 6: 8). Tidak ada yang lebih membawa kebahagiaan jika kita bisa merasa cukup. Mereka yang berlebihan belum tentu merasa cukup untuk bisa berbahagia. Sebaliknya, mereka yang benar-benar dalam kekurangan memang sering sulit untuk merasa cukup. Karena itu, mereka yang punya kelebihan hendaklah bisa menolong sesamanya, agar mereka bisa merasakan sukacita bersama (Lukas 3: 11).

Ayat-ayat Alkitab diatas sebenarnya menyatakan bahwa hidup untuk mencari kesenangan duniawi tidaklah dapat dibenarkan. Tetapi hidup manusia yang didalam kasih Tuhan dan yang bisa membagikan kasihNya untuk orang lain sudah sewajarnya membawa sukacita di dunia. Kita tahu bahwa adanya makanan dan minuman belum tentu menjamin adanya perasaan sukacita. Tapi adanya sukacita membuat keadaan apapun bisa diterima dengan bersyukur.

Pagi ini, jika kita merencanakan sesuatu acara untuk bersukaria, kita harus bertanya apakah kita melakukan hal-hal itu hanya untuk bisa bersukaria. Ataukah kita lebih dulu merasa cukup dalam hidup kita dan karena itu ingin merayakan sukacita kita dengan sesama kita sambil bersyukur kepada Tuhan? Dua hal ini sangat berbeda artinya sebab usaha untuk bersukacita tanpa adanya rasa cukup dan syukur dalam hidup kita adalah sia-sia dan hanya membawa kehampaan.

Aku seorang musafir

“Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini.” 1 Korintus 4: 11-13

Pagi ini saya bangun pukul 4.00 pagi untuk naik bis dari Toowoomba ke Brisbane airport. Rencana saya adalah untuk bisa terbang ke Melbourne, sekitar 2000 km dari Brisbane, untuk menghadiri konferensi pendidikan universitas. Mata rasanya masih mengantuk dan hari masih gelap ketika bis berangkat dari stasiun bis.

Pemandangan dalam bis Toowoomba – Brisbane.

Sebenarnya saya bisa terbang dari Toowoomba langsung ke Melbourne, tetapi ongkosnya mungkin bisa $250 lebih mahal dari ongkos penerbangan  Brisbane – Melbourne. Jadi terpaksalah saya naik bis ke Brisbane selama 2 jam karena ongkos bis cuma $40 yang masih dikorting $10 karena saya sudah tergolong senior.

Perjalanan dengan bis luks ini terasa sangat membosankan walau saya bisa duduk nyaman karena bis hanya terisi penumpang sepertiga jumlah kursi yang ada. Namun saya merasa bersyukur juga karena jaman sekarang ini saya tidak perlu naik kereta berkuda seperti pada tahun 1800an. Apalagi bis ini ber AC dan dilengkapi dengan internet gratis. Sebagai musafir, traveller, saya termasuk musafir beruntung!


Kereta kuda di Toowoomba sekitar tahun 1850.

Sebenarnya saya tidak patut mengeluh karena naik bis selama dua jam.  Kalau kita bayangkan sewaktu Yesus hidup di dunia, Ia sebagai musafir banyak melakukan perjalanan dengan berjalan kaki. Tidurpun seringkali harus dibawah langit. Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Yesus tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya (Matius 8: 20). Selama 3 tahun Yesus tidak mempunyai rumah – Ia adalah “homeless person”. Ia memberi contoh bahwa pengikut Tuhan seringkali kita harus siap menghadapi tantangan dan penderitaan.

Rasul Paulus juga pernah menjadi musafir. Ia mengembara dari kota ke kota mengabarkan Injil dan mengajar cara hidup kekristenan cukup lama. Kepada jemaat di Korintus ia menulis bahwa ia dan rekan-rekannya pernah menderita karena kelaparan, kehausan, kedinginan dan bahkan karena dipukuli dalam hidup mengembara. Sebagai seorang musafir  dia juga melakukan pekerjaan kasar yang berat. Walaupun demikian ketika ia dimaki, ia bisa memberkati yang memaki; kalau ia dianiaya, ia bisa bersabar; kalau ia difitnah, ia tetap bisa menjawab dengan ramah; ia telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu (1 Korintus 4: 11-13). Paulus menjalani hidup seperti Tuhan yang disembahnya, Tuhan Yesus.

Pagi ini sebagai seorang musafir di dunia ini terbetik dalam hati saya perasaan malu. Betapa tidak? Sebagai seorang musafir saya sering mengeluh, marah dan kecewa atas hal-hal yang kurang nyaman dalam hidup saya. Musafir Kristen seperti Paulus belajar untuk bisa menghadapi penderitaan dari gurunya, musafir terbesar yang telah datang dari surga ke dunia sebagai manusia biasa, Yesus Kristus. Di lain pihak, kita bisa melihat betapa banyaknya musafir-musafir yang hanya menginginkan pelayanan terbaik dari Tuhan – hidup enak dan sukses sebagai upah iman. Bagaimana dengan anda sendiri? Tahukah anda bahwa sebagai musafir kita harus tabah dalam menghadapi semua tantangan sepanjang perjalanan hidup kita?

“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Filipi 2: 8

Matahari sumber kehidupan

“Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.” Kejadian 1: 16

Pagi-pagi di hari Minggu  ini saya berjalan-jalan di sepanjang pantai Gold Coast sambil menikmati pemandangan. Cuaca agak mendung dan sejuk, dan beberapa orang sudah terlihat berlari pagi, berjalan kaki atau menuntun anjing-anjing mereka. Mataharipun mulai menampakkan diri dari balik awan dan pemandangan yang cukup indah itu saya nikmati sambil bersyukur kepada Tuhan atas berkatNya.

Berpikir tentang matahari yang datang di pagi hari dan terbenam di waktu senja, saya tak heran-herannya memikirkan kebesaran Tuhan yang menciptakan segalanya. Dalam kitab Kejadian, diungkapkan bagaimana bumi ini asalnya gelap sampai saat ketika Tuhan memisahkan gelap dan terang di hari pertama (Kejadian 1: 4). Ketika itu matahari  kita belum ada dan itu berarti bahwa dalam jagad raya ini ada sumber cahaya yang lain selain matahari yang kita kenal. Matahari yang kita kenal baru diciptakan pada hari keempat (Kejadian 1: 16).

Ilmu pengetahuan membuktikan bahwa diluar ruang pengaruh matahari yang kita kenal ada banyak matahari-matahari yang lain. Sampai saat ini astronomer-astronomer di berbagai negara telah menemukan lebih dari 500 sistem matahari/solar dan bahkan menemukan sistem solar yang baru setiap tahun. Saintis-saintis memperkirakan kemungkinan adanya 100 ribu juta (100 miliar) matahari di jagad raya ini. Tetapi hanya satu matahari yang berguna untuk hidup kita. Tanpa matahari dunia ini akan menjadi beku dan kita akan mati.

Manusia dengan kepandaiannya menanggapi kebesaran ciptaan Tuhan ini dengan berbagai sikap. Bagi yang percaya adanya Tuhan,  tidak lagi ada pertanyaan  apakah Tuhanlah yang menciptakan segalanya. Tetapi bagi yang menganggap dirinya “berpendidikan dan modern”, semua itu mungkin terjadi menurut hukum alam/fisika. Sedangkan untuk mereka beragama dan “toleran”, soal Tuhan manakah yang menciptakan matahari itu, tidaklah perlu dipersoalkan. Dan untuk mereka yang “mengikuti tren”, tuhan-tuhan yang baru masih terus bermunculan.

Bagi yang melihat matahari datang dan pergi setiap hari untuk semua orang, mungkin juga ada perasaan  bahwa Tuhan itu tidak mencampuri hidup manusia. Karena itu “life goes on” dan segala sesuatu bisa diperbuat manusia dengan bebas. Tetapi untuk kita umat Kristen, Tuhan itu ada dan membimbing umatNya.  Tiap kali kita diingatkan bahwa seperti adanya satu matahari yang menerangi bumi kita, hanya ada satu Tuhan yang bisa menerangi  hidup kita. Tanpa matahari kita akan musnah dan tanpa Tuhan kitapun akan menemui kematian. 

Tuhan menciptakan segala sesuatu secara sistematis dan harmonis. Kasih dan kebesaran Tuhan itu tidak ada bandingnya, dan tidak ada tuhan-tuhan, matahari-matahari lain – baik yang sudah ada sejak jaman dulu, maupun yang sudah atau akan muncul di jaman ini – yang bisa menerangi hidup manusia.  Hanya Tuhan kitalah yang mempunyai rencana penyelamatan manusia dari awalnya dan menggenapi rencanyaNya pada saat yang tepat dengan kelahiran Yesus di dunia. Hanya Tuhan kitalah yang mengerti bahwa seperti hidup jasmani kita membutuhkan sinar matahari, hidup rohani kita memerlukan sinar kasih penebusan Yesus!

“Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” Yohanes 8: 12

Melek tapi tidur

“Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta, supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur.” Markus 13: 35-36

Tidur adalah bagian kehidupan manusia yang sangat penting. Tidur memberi kesempatan bagi semua mahluk untuk beristirahat dan memulihkan kesegarannya. Tanpa tidur yang cukup, tubuh manusia akan menjadi lemah dan bahkan berbagai penyakit akan datang. Tetapi, terlalu banyak tidur mungkin juga membawa penyakit dan mungkin tanda adanya penyakit jasmani ataupun kejiwaan. Apalagi jika seorang tidur terus, itu mungkin pertanda bahwa tubuhnya sudah dalam keadaan sakit berat.

Tidurnya Adam digunakan Allah untuk mengambil rusuk Adam guna memciptakan Hawa, sang pendamping Adam (Kejadian 2: 21). Tidur secara fisik jelas diciptakan Tuhan untuk maksud yang baik walaupun Tuhan sendiri tidak pernah atau perlu tidur karena Dia adalah Roh dan selalu mengawasi anak-anakNya. Walaupun tidur untuk beristirahat adalah baik, tidur yang disebabkan karena pengaruh miras, obat terlarang dan narkoba sering membawa bencana. Lot yang mabuk misalnya, melakukan hubungan terlarang dengan kedua putrinya (Kejadian 19: 33-35). 

Alkitab juga menyebutkan tidur rohani yang lain dari tidur jasmani. Dalam tidur jasmani mata kita tertutup tetapi dalam tidur rohani hati kita tertutup. Dalam tidur badani manusia tidak dapat bereaksi terhadap keadaan jasmani disekitarnya, dalam tidur rohani manusia tidak sadar akan keadaan spiritual di sekitarnya.  Jika tidur jasmani dibekakang kemudi mobil bisa berakhir dengan kematian, begitu juga tidur rohani, sekalipun dengan pikiran dan mata yang terbuka lebar, bisa berakhir dengan kematian spititual.

Mana yang lebih berbahaya, tidur jasmani yang berakhir dengan kematian jasmani, atau tidur rohani yang berakhir dengan kematian rohani? Pertanyaan ini aneh dan mungkin belum pernah kita pikirkan sebelumnya. Tetapi ada banyak contoh dalam Alkitab yang menyebutkan bahwa tidur jasmani, selama itu bukan disebabkan oleh dosa, tidak perlu kita kuatirkan. Tiap orang diberikan kurun waktu kehidupan tersendiri, dan jika waktunya sudah sampai kematian jasmani hanyalah jalan menuju perjumpaan dengan Kristus yang kita kasihi.

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”. Filipi 1: 21

Sebaliknya, Alkitab berulangkali mengingatkan kita betapa kematian rohani akan berakhir dengan malapetaka, perpisahan abadi antara manusia dan Tuhan. Ayat  Markus 13: 35-36 diatas mengingatkat kita agar secara rohani kita harus tetap berjaga-jaga agar iblis tidak menyesatkan kita dengan berbagai hal seperti kekecewaan, penderitaan, tantangan, nafsu, harta dsb. yang membuat kita menjadi orang kristen zombi yang melek matanya tetapi tidak lagi mempunyai kesadaran akan kebenaran Allah!

“Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya TUHAN, Allahku! Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati.” Mazmur 13: 3

Asal Bapak Senang?

“Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” Lukas 6: 46

Pada masa Orde Baru, tersohor sebuah ungkapan Asal Bapak Senang (ABS). Biasanya, sebutan itu digunakan sebagai sindiran atau ungkapan sarkastik untuk menanggapi adanya laporan dari bawahan untuk para bos atau atasan. Laporan yang sebenarnya tidak sesuai kenyataan, tapi direkayasa agar atasan senang. Pokoknya asal bapak (bos/atasan) senang melihat laporan dari tugas-tugas yang diberikan bawahannya. Budaya ABS ini mungkin sudah jauh berkurang sekarang karena adanya kontrol yang lebih ketat, terutama dengan majunya pendataan dan laporan elektronik, dan juga karena adanya sosial media. Orang mungkin lebih segan untuk menggunakan taktik ABS karena takut terbongkar kedoknya (karena atasan sekarang sudah lebih sukar dibohongi) dan kuatir menjadi bahan tertawaan publik.
Celakanya, di kalangan umat Kristen budaya ABS ini masih ada dan bahkan makin marak. Lho? Ya, memang banyak orang yang ke gereja dan menyanyikan lagu pujian, berdoa dan mengucapkan “kata-kata rohani” seperti shalom, amin dan haleluya, tapi itu hanya untuk ABS (Asal Bapa disurga Senang). Juga sering sering orang memanggil-manggil Abba, Tuhan dan Yahwe dengan mesranya setidaknya pada hari minggu, hari kudus, hari berkelakuan baik. Sepertinya agar Tuhan itu senang dengan pendekatan kita, walaupun hidup kita sehari-hari sebenarnya kacau dan berantakan. Lebih dari itu, di zaman ini banyak “menteri-menteri” kerajaan Tuhan yang rajin sekali melaporkan dan mempopulerkan hasil kerjanya baik itu berupa banyaknya orang yang mau datang ke gerejanya, yang mau menyumbang dana besar untuk gerejanya, yang menerima kesembuhan karena doanya, dsb. Pasti Tuhan akan senang mendengar laporan dari anak-anakNya!

Ayat diatas secara tegas mengungkapkan perasaan Yesus yang resah karena adanya orang yang bermanis-manis kepadaNya tetapi tidak mau menuruti apa yang diperintahkanNya.  Jika mungkin untuk manusia membuat pernyataan dan laporan palsu dan setengah palsu sekedar untuk memuaskan atasan-atasan mereka di dunia, manusia tidak dapat membohongi atasan mereka yang di surga karena Dia adalah Tuhan yang maha tahu. Tidaklah mungkin bahwa Tuhan bisa kita bohongi dengan laporan-laporan kehidupan kita yang palsu, yang tidak berdasarkan data yang benar. Sia-sialah kita bersikap sopan dan hormat kepada Tuhan jika tingkah laku kehidupan kita di dunia ini mempermalukan Dia yang maha suci.

Iman Kristen memang unik karena hanya dengan iman kita diselamatkan, dan itu bukan karena perbuatan kita. Tetapi itu bukan berarti kita bisa menjadi persembahan yang hanya harum di luar tetapi berbau busuk di dalam. Bukan berarti bahwa kita bisa menjadi orang Kristen yang nampak indah cemerlang dalam penampilan luar kita tetapi gelap gulita dalam kehidupan sehari-hari kita.Bukan juga berarti kita bisa jujur dalam lingkungan gereja tetapi culas di dalam hidup bermasyarakat.

Begitu banyak orang Kristen yang berpedoman asal Tuhan senang, peduli amat dengan orang lain. Tetapi ini tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan Yesus:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” Markus 12: 30-31

Pagi ini kita diingatkan bahwa Tuhan tidak dapat kita tipu dengan laporan-laporan kehidupan yang tidak benar, tidak lengkap atau yang sudah direkayasa. Tuhan tahu jika kita berlagak kasih dan hormat kepadaNya tetapi tidak mempunyai rasa kasih dan hormat kepada sesama kita. Tuhan tahu jika kita seolah mau bekerja keras untuk Dia tetapi tidak mau mempedulikan kebutuhan keluarga kita sendiri. Tuhan bisa melihat jika kita hanya mengasihi sesama orang Kristen dan bukannya sesama manusia. Di lain pihak, Tuhan juga tahu jika kita hanya berusaha menyenangkan orang-orang tertentu dan bukannya berusaha untuk menaati perintah Tuhan.

“Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.”  Kolose 3: 22

Marilah kita bersama berusaha hidup dengan jujur di hadapan Tuhan kita yang maha tahu dengan menaati segala perintahNya, supaya dalam setiap saat dan keadaan kita bisa memanggilNya Tuhan tanpa keraguan dan kecanggungan!

Menabung untuk masa depan?

“Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen.” Amsal 6: 6-8.

Hal menabung adalah sesuatu yang tiap orang pernah memikirkan atau melakukan. Pemerintah dan masyarakat umumnya menganjurkan setiap orang memikirkan hari depan dan berusaha menabung uang yang tidak terpakai hari ini untuk keperluan masa depan. Di negara barat, gaji diterima tiap dua minggu sekali tetapi tagihan sering datang sebulan atau setahun sekali. Tanpa uang tabungan orang akan harus berhutang untuk melunasi tagihan!

Gerejapun kadang menabung untuk rencana proyek pengembangan sarana atau misi khusus. Ini biasanya dilakukan dalam kurun waktu yang relatip pendek sesuai dengan rencana anggaran gereja. Lain halnya dengan beberapa gereja dan pendeta tertentu yang giat menggalakkan tabungan khusus untuk “proyek istimewa” seperti membangun gedung gereja super mewah atau membeli mobil mewah/pesawat terbang kepentingan pribadi.

Soal menabung sebenarnya soal pelik karena ada ayat-ayat yang menganjurkan kita untuk menabung, tetapi ada juga yang menganjurkan kita untuk tidak kuatir akan kebutuhan masa depan.

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” Matius 6: 25

Malahan ada juga ayat menganjurkan kita untuk menabung harta surgawi dan bukannya harta duniawi;

“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” Matius 6: 19-20

Mencontoh apa yang dilakukan semut seperti yang ditulis dalam Amsal 6 diatas, kelihatannya memang menabung untuk maksud baik tidak ada salahnya. Menabung di hari baik untuk persiapan menghadapi masa depan adalah bijaksana. Masalahnya, manusia seringkali tidak dapat membedakan apa yang yang benar-benar dibutuhkan di masa depan dari apa yang diingini. Keinginan manusia memang sulit untuk dipuaskan:

 “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya….” Pengkhotbah 5: 10

Sejarah membuktikan bahwa ada banyak orang Kristen yang jatuh ke dalam dosa karena tidak dapat membedakan apa yang dibutuhkan dan apa yang diinginkan (1 Timotius 6: 9). Keinginan kita belum tentu sesuai dengan kehendak Tuhan, tetapi Tuhan tahu apa yang kita butuhkan. Tuhan Yesus mengajarkan agar kita berdoa untuk meminta makanan yang secukupnya untuk setiap hari (Lukas 11: 3). Bukan makanan yang berlebihan, bukan makanan untuk setahun. Prinsip inilah yang harus kita pegang.

Pagi ini biarlah kita bisa diingatkan bahwa sebagai orang Kristen kita harus tahu bagaimana kita harus menabung:

  • Menabung untuk apa yang kita butuhkan di masa depan adalah baik apalagi kalau disertai dengan keyakinan bahwa Tuhan lebih tahu apa yang kita butuhkan.
  • Menabung dengan disertai rasa syukur adalah baik, tetapi menabung dengan rasa kuatir menunjukkan kelemahan iman kita.
  • Berhati-hatilah jika  kita menabung untuk apa yang kita ingini karena keinginan manusia seringkali belum tentu disukai Tuhan.
  • Menabung hanya untuk kepentingan diri sendiri adalah dosa. Apa yang kita punya datangnya dari Tuhan dan harus bisa dipakai untuk kemuliaanNya dan untuk bisa menolong sesama.

Menabung itu tidak mudah. Tidak setiap orang bisa menabung dan tidak semua orang bisa merasa puas dengan tabungannya. Apalagi orang sering tidak tahu bagaimana menggunakan tabungannya. Buat kita orang Kristen, adalah tantangan bagi kita  untuk bisa merasa cukup  dan untuk bisa bersyukur kepada Tuhan dalam semua keadaan!

“Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 12-13

 

 

Eh emosi lagi….

“Adaa waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari” Pengkhotbah 3: 4

Jangan emosi…! Begitulah nasihat yang kita terima sewaktu kita mengalami peristiwa yang kurang menyenangkan. Emosi memang sering dihubungkan dengan kemarahan yang tidak terkontrol. Jika kita marah dan terbawa emosi, mungkin pikiran kita menjadi kurang dapat bekerja dengan baik sehingga ada kemungkinan kita melakukan hal-hal yang kurang bijaksana.

Emosi sebenarnya belum tentu berhububgan dengan kemarahan. Emosi adalah gejolak perasaan yang timbul karena rangsangan di sekitar kita. Manusia diciptakan sebagai peta dan teladan Allah dan emosi adalah salah satu bagian dari kemampuan manusia dalam bereaksi atas kejadian yang kita lihat, dengar atau rasakan. Emosi bisa berupa perasaan senang, gembira, marah, sedih dsb. Pengkhotbah dalam ayat diatas menulis bahwa ada saat-saat tertentu dimana kita bisa dipengaruhi oleh emosi kita sehingga kita bisa menangis, tertawa, meratap dan menari. Raja Daud adalah salah satu tokoh dalam Alkitab yang sering dipengaruhi oleh emosinya. Ia menari-nari dihadapan TUHAN dengan sekuat tenaga (2 Samuel 6: 14). Emosi dalam hal ini adalah sehat dan baik, dan malahan menunjukkan betapa dekatnya Daud dengan Tuhannya.

Emosi yang buruk adalah emosi yang tidak terkontrol. Umat Kristen sudah seyogyanya menyerahkan hidup mereka kepada Tuhan dan dengan itu Roh Kudus memimpin hidup mereka. Jika Roh Kudus tidak atau kurang bekerja dalam hidup seseorang, orang itu akan hidup dalam dirinya sendiri dan dengan keadaan itu emosinya akan sering berakibat negatip. Tidak ada seorangpun yang benar di muka bumi ini dan semua orang cenderung berbuat dosa jika datang keadaan yang memancing emosi mereka. Keadaan yang menyenangkan mengundang emosi gembira luar biasa yang mungkin bisa menjatuhkan orang dalam dosa. Begitu juga keadaan yang tidak menyenangkan bisa menimbulkan emosi kemarahan atau kekecewaan yang besar, yang bisa membawa manusia ke arah yang salah.

Bagaimana jika kita tidak mempunyai emosi? Salahkan itu? Memang ada agama-agama yang mengajarkan bahwa orang yang saleh seharusnya bisa memadamkan emosinya agar bisa sepenuhnya menguasai hidup dan  tingkah laku mereka. Ajaran itu mungkin membuahkan manusia-manusia “rohani” yang tidak mempunyai reaksi/emosi dalam kehidupan mereka; wajah dan gerak-gerik mereka tampak seperti robot belaka. Manusia Kristen bukanlah seperti itu. Yesus sendiri tergerak emosinya ketika ia melihat kesusahan orang lain dan Ia menagis bersama Maria dan Martha yang menangisi kematian Lazarus (Yohanes 11: 35).

Orang Kristen jelas adalah orang yang masih mempunyai emosi. Emosi yang tidak dibuat-buat. Emosi yang tidak berlebihan. Tetapi emosi yang berdasarkan kasih. Jika ada sesama manusia yang menderita, orang Kristen menangis bersama mereka. Jika ada sesama manusia yang bersuka cita karena hal yang baik, orang Kristen bergembira bersama mereka. Orang Kristen yang sudah tidak peka lagi terhadap keadaan dan ketidak-adilan di sekitarnya adalah orang Kristen yang sudah padam api Roh Kudusnya.

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Roma 12: 15

Orang Kristen adalah orang yang bisa mengendalikan emosinya dalam kedaan yang tidak menyenangkan.

“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah” Yakobus 1: 19

Emosi kemarahan mereka tidak akan berlarut-larut, karena kemarahan yang tidak berkesudahan pasti berakhir dengan dosa.

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu” Efesus 4: 26

Maukah kita mengundang Roh Kudus untuk mengisi hidup kita dengan sepenuhnya, agar kita dapat memakai emosi kita untuk hal-hal yang baik, yang memuliakan Tuhan?

Antara PD dan iman

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Yakobus 4: 13-14.

Bagi kita yang mempunyai anak, tentu kita ingat bahwa tidaklah mudah untuk mendorong anak-anak kita agar berani menghadapi semua tantangan baik itu dalam pergaulan, pendidikan maupun pekerjaan. Memang ada anak-anak yang lebih ekstrovert dan mampu untuk menhadapi orang, suasana dan tugas yang baru atau asing bagi mereka. Tetapi bagaimanapun juga, untuk semua orang tua maupun muda, adakalanya orang merasa kurang yakin atau takut untuk melakukan suatu tindakan besar dalam hidupnya. Karena itu, di jaman ini sangat larislah para pembicara yang bisa memberi motivasi kepada orang lain, baik itu di TV, buku, majalah, maupun berbagai kursus peningkatan percaya diri (PD). Bahkan banyak pendeta juga senang berkotbah tentang soal meningkatkan percaya diri untuk mencapai kesuksesan hidup.

Pada umumnya usaha untuk meningkatkan PD adalah berdasarkan keyakinan bahwa “nasib kita adalah di tangan kita sendiri”. Dalam bahasa Inggrisnya “you are the master of your own destiny”. Juga seringkali kita mendengar “Jika engkau percaya pada dirimu sendiri, segala sesuatu adalah mungkin”. Inilah yang banyak diajarkan kepada anak-anak jaman sekarang , baik di rumah, di sekolah maupun dalam masyarakat; agar mereka mempunyai keberanian dan keyakinan untuk maju ke arah kesuksesan hidup. Bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mengatur dan menetapkan masa depannya sepenuhnya.

Untuk mereka yang beragama, keyakinan untuk bisa maju itu mungkin diiringi dengan tambahan ucapan “jika Tuhan menghendaki”. Mengapa? Mereka yang percaya akan kuasa Tuhan, percaya bahwa manusia boleh berusaha tetapi Tuhanlah yang menentukan. Dalam bahasa Arab mungkin kita sering mendengar kata “In sha’ Allah” yang sering diucapkan penganut agama Islam. Walaupun orang Kristen tidak memakai kata-kata ini, orang Yahudi mempunyai kata yang serupa “Im yirtsé Hashém”. Apakah setiap orang yang mengucapkan kata-kata ini memang sepenuhnya menyerahkan usaha mereka kepada Tuhan, kita tentunya tidak tahu. Yang lebih dapat dipastikan adalah bahwa dalam hidup di dunia modern ini, manusia seringkali jauh lebih menekankan usaha sendiri daripada bergantung kepada Tuhan. Seakan akan percaya diri lebih penting daripada iman.

Mereka yang mendidik anak-anak di jaman ini banyak yang kurang menekankan pentingnya mencari kehendak Tuhan. Kita yang hidup di abad ke 21 ini memang justru lebih sering meminta Tuhan untuk merestui dan memberkati usaha dan pilihan kita. Mereka yang berhasil mencapai kesuksesan, merasa bangga karena seakan semuanya itu adalah hasil usaha, jerih-payah mereka sendiri. Tetapi ini bukan masalah baru. Dalam ayat-ayat di atas, Yakobus menulis bahwa adalah kebodohan jika kita dengan bermodal PD, merencanakan untuk berbuat sesuatu guna mendapat kesuksesan, sedangkan kita tdak tahu apa yang akan terjadi besok.  Percaya diri yang tidak diiringi dengan pengertian akan kuasa Tuhan atas hidup kita adalah kekeliruan besar, karena manusia tanpa Tuhan adalah bagaikan uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.

Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai umatNya, kita wajib berusaha dan bekerja dengan rajin. Kita juga harus mempunyai percaya diri, tetapi kepercayaan itu bukanlah kepada kemampuan kita sendiri melainkan kepercayaan bahwa sebagai umatNya, kita bisa bersandar kepada kemampuan Tuhan kita yang maha kuasa, maha kasih dan maha bijaksana. Tuhan adalah sumber kekuatan kita dan hanya kepadaNya kita bisa menyerahkan hidup kita  sambil berkata:

“Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku.” Yesaya 12: 2

Kita adalah manajer!

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1: 28

Pagi ini jika kita bangun dari tidur, mungkin kita masih merasa lelah dan segan untuk masuk kerja. Bagaimana tidak? Kalau Sabtu dan Minggu umumnya diisi dengan kegiatan yang menyenangkan, hari Senin mengingatkan kita pada pekerjaan dan rutinitas yang membosankan dan melelahkan. Inikah akibat kutuk Tuhan kepada manusia sewaktu mereka jatuh dalam dosa (Kejadian 3: 17)? Bahwa karena dosa kita sekarang harus bekerja keras untuk bisa hidup di dunia? Di lain pihak banyak orang bersyukur kalau mereka punya pekerjaan atau aktivitas yang sekalipun kurang berarti, memberikan makna hidup untuk mereka.


Masalah pekerjaan, apakah itu berkat atau kutuk seringkali menjadi pertanyaan manusia sepanjang masa. Mereka yang hidupnya enak, yang pekerjaannya enteng, dan yang pekerjaannya sesuai dengan hobbynya mungkin percaya kalau pekerjaan itu adalah berkat. Sebaliknya, mereka yang pekerjaannya berat, hasilnya pas-pasan dan tidak menyukai pekerjaannya, mungkin merasakan pekerjaan itu seperti kutukan Tuhan. Bagaimana kita harus bersikap dalam hal ini?

  • Setiap orang harus bekerja. Hidup adalah untuk menghasilkan sesuatu untuk menyatakan kasih kita kepada Tuhan dan sesama. Hidup orang Kristen dari awalnya adalah untuk bekerja, dan kita bukannya bekerja hanya untuk hidup. Memang karena dosa, banyak manusia yang merasakan bahwa mereka bekerja hanya untuk bisa hidup. Tetapi sekalipun dalam kerja keras, kita seharusnya bisa bersyukur kalau masih ada hasil yang baik yang kita capai.
  • Pekerjaan harus ada hasil positipnya, bukan hanya membuang waktu. Tidak selalu berbentuk uang tetapi harus selalu untuk kemuliaan Tuhan. Banyak orang yang bekerja dan menghasilkan banyak uang tetapi itu bukan untuk kemuliaan Tuhan. Akibatnya, mereka akan menjadi hamba pekerjaan dan hamba uang. Hidup mereka akan dikacaukan oleh pekerjaan dan cinta akan uang.
  • Tiap pekerjaan yang baik, yang sesuai dengan Firman, adalah sama derajatmya di mata Tuhan. Banyak orang yang merasa sedih karena tidak dapat mencapai apa yang diidam-idamkannya. Merasa malu karena tidak mencapai posisi yang tinggi. Tetapi bagi Tuhan kita adalah manajer-manajer dan wakil-wakil Tuhan di bumi, yang diberikan hak dan kewajiban untuk bisa memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama, serta memelihara alam semesta.
  • Dalam pekerjaan hati dan pikiran kita harus bisa berkomunikasi dengan Tuhan dan sesama. Karena pekerjaan kita adalah sebagai wakil Allah, sebagai manajer-manajer Allah kita harus bisa dan mau mendapat bimbingan Allah dan bisa berkonsultasi dengan semua manusia.  Bukan hanya dengan saudara seiman. Tanpa bimbinganNya, kerajaan Allah bisa dirugikan oleh tindakan kita.
  • Untuk umat Tuhan tidak ada istilah pensiun. Selama kita hidup di dunia, kita tetap menjadi wakilNya. Mungkin dalam hidup, kita beberapa kali berganti posisi manajer – dalam bidang dan jurusan yang berlainan; tetapi tanggung jawab kita tetap berjalan. Sebagai manajer “perusahaan” Allah kita harus tetap berusaha untuk membawa keuntungan untuk kerajaanNya.

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23