“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105
Beberapa bulan yang lalu, sewaktu saya mengendarai mobil melewati sebuah motorway antara Brisbane dan Gold Coast, saya melihat sejumlah rambu orang-orangan yang berwarna kuning berderetan di pinggir jalan. Walaupun tidak mengerti apa arti rambu itu, otomatis kaki saya menginjak rem untuk mengurangi kecepatan mobil. Memang reaksi otomatis saya ketika rambu sedemikian muncul dipinggir jalan ialah “hati-hati, ada orang lewat”. Belakangan, saya membaca bahwa memang rambu-rambu baru itu, 20 jumlahnya dan 180 cm tingginya, sengaja dibuat sebagai peringatan untuk membuat pengendara mobil lebih berhati-hati karena adanya proyek pelebaran jalan.
Dalam kehidupan manusia memang ada berbagai rambu-rambu yang dimaksudkan untuk membimbing mereka agar menjalani hidup dengan baik. Rambu-rambu sosial, budaya, agama, hukum dan sebagainya memberikan pedoman dan peringatan yang dimaksudkan untuk melindungi masyarakat. Walaupun orang mengerti tujuan pemakaian rambu-rambu itu, tidak semua orang mengacuhkannya. Mengapa? Mungkin banyak orang yang berpikir:
- Itu untuk orang lain
- Saya tahu apa yang lebih baik
- Itu sudah tidak berlaku lagi
- Terlalu sulit dilakukan
- Tidak ada gunanya
- Tidak ada waktu
Untuk orang Kristen, firman Tuhan adalah seperti rambu-rambu yang membimbing perjalanan dan lampu yang menerangi jalan hidup mereka. Tanpa itu hidup manusia akan melenceng dari jalan yang benar dan kejatuhan kedalam dosa tidaklah dapat dihindari.
Walaupun orang Kristen tahu akan akibat dosa adalah kematian, mereka juga percaya bahwa karena kasih Allah, Yesus sudah mati ganti dosa. Karena itu, sebagian orang Kristen mungkin merasa tidak perlu lagi untuk terlalu memperhatikan apa yang diperintahkan Tuhan. Malahan, mereka yang ingin hidup sesuai dengan firman Tuhan sering dianggap orang Farisi. Padahal, Yesus pernah berkata:
“Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Matius 5: 20
Hidup untuk sebagian orang Kristen mungkin ingin dirasakan sebagai kebebasan dari kekuatiran karena Tuhan yang maha kasih tentunya akan mengampuni mereka. Dengan demikian mereka menjadi acuh tak acuh, blasé, terhadap peringatan-peringatan Tuhan. Dalam hal ini, Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma mengingatkan bahwa sikap hidup sedemikian adalah keliru.
“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?” Roma 6: 1
Pagi ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai orang yang sudah diselamatkan adalah seharusnya kita lebih berhati-hati dengan hidup kita yang sudah ditebus dengan darah Kristus dan tidak mengabaikan firman Tuhan sebagai rambu-rambu dan lampu kehidupan yang tidak pernah berubah, agar kita tetap berjalan di jalan yang benar dan hidup dalam kasih pemeliharaanNya.
“Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya” Yesaya 40: 8
Di zaman ini, banyak kita temui buku-buku, ceramah, dan bahkan khotbah tentang bagaimana mencapai keberhasilan dan kebahagiaan melalui cara berpikir positif (positive thinking). Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak orang yang tertarik untuk mengikuti tren psikologi ini, dan karena itu jugalah para motivator saat ini mengalami masa kejayaan. Manusia yang merasa terhilang, yang tidak dapat merasakan penguatan dari khotbah gereja, mungkin merasa lebih disegarkan dengan pesan-pesan positif dari para motivator. Oleh karena itu jugalah banyak pendeta yang berubah fungsi, menjadi motivator dari mimbar gereja.
Hidup manusia ini sungguh menarik. Berbeda dengan hewan, manusia mempunyai ingatan dan daya pikir yang sangat kompleks. Dengan otaknya, manusia bisa mempunyai impian atau harapan untuk masa depan dan menyesuaikan hidup mereka untuk mencapai apa yang diharapkan. Sebaliknya, hewan mempunyai hidup yang hanya berdasarkan naluri dan karena itu bekerja hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dengan kemampuannya, manusia bisa mengembangkan rencana untuk hari depan, untuk mencapai yang lebih baik dari apa yang ada sekarang; dan dengan membuat berbagai rencana, manusia tentunya mengharapkan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan.
Beberapa tahun yang lalu, sewaktu saya masih tinggal di Brisbane, Australia, rumah saya terletak pada suatu daerah pinggir kota dimana ada banyak pohon dan semak. Memang daerah itu enak udaranya dan pemandangannya serasa asri. Tetapi untuk tinggal di daerah seperti itu, saya harus berhati-hati karena adanya binatang yang biasanya tidak sering dijumpai di kota yaitu ular. Australia adalah benua yang dihuni oleh ular-ular yang termasuk paling berbisa di seluruh dunia. Beberapa kali saya menjumpai ular python dan ular pohon disekitar rumah, dan itu cukup membuat saya kaget karena mereka sering muncul di tempat dan saat yang tidak terduga. Seekor ular python malahan pernah menelan hidup-hidup burung merpati saya dengan cara memaksakan dirinya melewati celah-celah sangkar burung yang terbuat dari kawat besi.
Pernahkah anda mendengar istilah Realitas Maya? Mungkin mereka yang merasa “gaptek” agak ragu menjawab pertanyaan ini. Tetapi barangkali mereka sudah pernah melihat orang lain memakai teknologi ini, seperti bermain tenis didepan layar TV atau game- game lain yang disajikan oleh Nintendo. Realitas Maya atau Virtual reality (VR) adalah teknologi yang membuat pengguna dapat berinteraksi dengan suatu lingkungan yang disimulasikan oleh komputer, suatu lingkungan yang hanya ada dalam imaginasi. Lingkungan realitas maya terkini umumnya menyajikan pengalaman visual, yang ditampilkan pada sebuah layar komputer atau melalui sebuah penampil stereokopik, tetapi beberapa simulasi mengikutsertakan tambahan informasi hasil pengindraan, seperti suara melalui speaker atau headphone.
Orang kaya sulit masuk surga. Begitulah apa yang tertulis dalam Matius 19: 24. Memang orang yang hanya dan selalu memikirkan soal harta, kesuksesan, ketenaran dan semacamnya akan mengalami kesulitan untuk memikirkan soal surga dan keselamatan jiwa. Dalam pengertian filsafat dan beberapa agama lain, kemiskinan dan penderitaan malahan diajarkan untuk dijalani, setidaknya secara simbolik atau sementara, untuk mencapai kesempurnaan hubungan dengan dewa atau tuhan mereka.
Tahun baru. Banyak harapan dan impian, begitu juga rencana dan perhitungan, agar segala sesuatu bisa berhasil dicapai di bulan-bulan mendatang. Di gereja pun, banyak khotbah-khotbah yang menekankan penyertaan Tuhan akan umatNya, yang diharapkan untuk membawa keberhasilan. Memang agaknya di awal tahun, biasanya orang ingin bersikap optimis karena tahun yang diawali dengan pengharapan positip adalah baik untuk perjuangan yang akan dihadapi. Barangkali tidak ada seorangpun yang mau bersikap pesimis dan memikirkan adanya kemungkinan untuk gagal di masa depan.
Di zaman modern ini kita bisa melihat begitu banyaknya kemudahan dan kenyamanan yang bisa digunakan manusia. Sejak adanya personal komputer, telepon genggam dan internet, manusia bisa memakai teknologi yang ada untuk berbagai tujuan seperti riset, bisnis, pendidikan, pengamatan, kesehatan, keamanan, pengendalian alat dan sebagainya. Satu hal yang lain yang semestinya bisa dicapai dengan adanya kemajuan teknologi itu adalah terciptanya perdamaian di bumi karena komunikasi antar bangsa dan manusia sekarang bisa dilakukan dengan mudah. Tetapi, dalam kenyataannya teknologi yang ada sering menyebabkan pertikaian, kekacauan, kebingungan dan bahkan mengurangi kedamaian di bumi.
Salah satu ajaran filsafat hidup yang sering kita dengar adalah tentang berbuat baik kepada siapapun, apapun dan dimanapun. Orang harus berbuat baik kepada orang lain agar mendapat balasan yaitu diperlakukan secara baik oleh orang lain. Orang juga harus hidup harmonis dengan alam semesta (nature) agar segala kebutuhannya tercukupi. Hidup bahagia dapat dicapai dengan keharmonisan dengan seisi bumi. Alam semesta adalah sesuatu yang harus dihormati karena hidup kita bergantung kepadanya.