Jangan lupa…

” TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” Mazmur 103: 2

Ingatkah anda akan lagu lama “Jenang Gulo”? Lupa adalah lumrah. Semua orang pernah lupa. Tetapi melupakan adalah tindakan kesengajaan yang dibuat dengan kesadaran. Dan kalau kita yang dilupakan orang,  hati kita mungkin akan sakit atau susah jadinya. 

Melupakan orang yang pernah kita kenal, apalagi orang yang pernah berbuat baik kepada kita adalah sesuatu yang tidak seharusnya kita lakukan. Apalagi jika orang itu pernah berkorban besar untuk diri kita. Tidaklah pantas bagi seseorang untuk melupakan pengorbanan orang lain dan tidak bersyukur atas apa yang diterimanya dari orang itu.

Kenyataaannya adalah begitu banyak manusia yang tidak pernah mengerti bahwa hidup kita bergantung kepada Tuhan. Tuhanlah yang menciptakan alam semesta dan segala yang baik dalam hidup kita. Bagaimana mungkin orang bisa lupa bahwa tanpa Tuhan, alam semesta ini akan berjalan dengan kacau? Bagaimana pula manusia bisa lupa bahwa jika Tuhan tidak mengambil inisiatip untuk menyelamatkan manusia, kita pasti binasa?

Hari Minggu ini, marilah kita berhenti sejenak dari kesibukan, keresahan dan keramaian di sekeliling kita. Marilah kita mengingat-ingat apa yang baik, yang sudah kita terima dari Tuhan kita. Marilah kita memuji Dia yang mahabesar dan mahakasih. Segala pujian untuk Dia di tempat yang mahatinggi!

Bebas tapi terikat

“Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Kejadian 2: 16-17

Di bulan Juli dan Agustus ini ada dua negara besar yang merayakan kemerdekaannya, Amerika dan Indonesia. Perayaan yang disertai dengan rasa syukur dan bangga atas kemerdekaan yang bisa dicapai dengan pengorbanan yang besar. Memang manusia sangat menghargai kemerdekaan karena dengan kemerdekaan mereka mendapat kebebasan untuk memilih apa saja yang mereka maui. Benarkah begitu?

Kemeredekaan suatu negara selalu disertai dengan penentuan hukum-hukum yang harus ditaati seluruh rakyanya. Hukum yang mengharuskan semua rakyat untuk melakukan atau tidak melakukan hal-hal tertentu. Dengan kemerdekaan suatu bangsa, ada komitmen bersama untuk membatasi diri dalam segala tindakan mereka agar tidak melanggar hukum. Negara-negara merdeka juga harus tunduk dalam hukum internasional. Kalau begitu, benarkah ada kemerdekaan manusia itu? Adakah kemerdekaan manusia untuk memilih jalan hidupnya? Ada, tetapi tidak sepenuhnya!

Kemerdekaan manusia ada dalam Alkitab sejak penciptaan. Tetapi kemerdekaan yang disertai kebebasan memilih tidaklah seperti yang umumnya dibayangkan. Manusia sering berpikir bahwa “nasibmu ada ditanganmu sendiri” atau “you are the master of your destiny”, tetapi seringkali kenyataan adalah jauh dari itu karena selalu ada saja manusia yang mengalami hal-hal yang tidak bisa dikontrolnya.

Membaca ayat-ayat diatas, jelas Adam dan Hawa jelas diberikan kemerdekaan untuk makan buah apa saja, asalkan bukan buah pohon pengetahuan tentang baik dan jahat.  Ada kemerdekaan, ada kebebasan memilih, tetapi ada batasan. Dalam kebebasan yang diberikan Allah, Adam dan Hawa juga dapat melanggar batasan itu, dan harus menanggung konsekwensinya. Dengan menyalahgunakan kemerdekaan itu, pelanggaran batasan terjadi  – yang kemudian membawa dosa untuk seluruh umat manusia. Manusia tidak lagi hidup dalam jaminan ketentraman Firdaus, tetapi masuk kedalam ketidak pastian masa depan!

Sesudah kejatuhan, manusia masih mempunyai kebebasan untuk mengambil keputusan. Tetapi kemeredekaan dalam Tuhan yang sebelumya ada, malahan mudah berubah menjadi perhambaan dalam dosa. Ketenteraman hidup yang dulunya ada, berubah menjadi berbagai kesulitan dan penderitaan. Untunglah Allah dengan kasihNya memberikan kemungkinan agar setiap orang bisa secara bebas mengambil keputusan untuk mengikut Yesus, agar kita bisa terlepas dari ikatan dosa.

Walaupun usaha kita sendiri tidak bisa menyelamatkan kita dari murka Allah, tetapi karena pengurbanan Yesus kita bisa menggunakan kemerdekaan kita untuk memilih mengikut Yesus dan hidup dalam ketaatan kepadaNya!

I have decided to follow Jesus;

I have decided to follow Jesus;

I have decided to follow Jesus;

No turning back, no turning back.


Mengikut Yesus keputusanku,

Mengikut Yesus keputusanku,

Mengikut Yesus keputusanku.

‘Ku tak ingkar, ‘Ku tak ingkar.

Mungkinkah aku salah pilih?

“Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6


Soal salah pilih adalah soal biasa. Misalnya, jika kita membeli baju dari toko dan setelah dicoba di rumah ternyata kekecilan. Itulah gara-gara malas mencoba. Kalau baju mungkin bisa ditukar,  soal pasangan hidup lain lagi karena sekali pilih dharapkan cocok untuk seumur hidup sekalipun tanpa coba-coba!

Ketika kita berpergian, adakalanya kita keliru memilih jalan. Seharusnya ke kanan, tetapi kita pilih jalan ke kiri. Kadang orang tidak sadar akan kekeliruannya sampai jauh tersesat, tapi adakalanya orang sadar dengan cepat karena jalan yang dipilihnya terasa asing. Sekalipun kita mungkin mendapat petunjuk GPS, kita juga masih bisa salah jalan, karena GPS nya keliru atau kita salah menafsirkannya.

Bagaimana pula dengan iman kepercayaan kita? Mungkinkah kita memilih kepercayaan tertentu dan kemudian ternyata salah pilih? Mungkin juga! Kebanyakan mereka yang mau mencari Tuhan akhirnya menganut ajaran agama tertentu. Namun setelah menganut ajaran itu, adakalanya mereka  kemudian meninggalkan agamanya dan menjadi tidak beragama lagi atau masuk agama lain. Salah pilih?

Yudas Iskariot adakah salah satu murid Yesus yang merasa bahwa ia salah pilih. Sesudah mengikut Yesus untuk 3 tahun ia kecewa. Yesus ternyata bukan seperti yang diharapkannya, Yesus bukan seperti pahlawan perang yang bisa menjatuhkan penjajah Romawi. Yudas juga meragukan kalau Yesus itu anak Allah, karena itu ia tidak pernah memanggil Yesus sebagai Tuhan, ia hanya menganggap Yesus sebagai guru. Tambahan lagi, Yudas tidak mempunyai hubungan pribadi dengan Yesus, hubungannya hanya hubungan formal. Ia berusaha memakai hubungan itu untuk mendapat suatu keuntungan buat dirinya sendiri. Karena itu ia kecewa. Yudas akhirnya memilih jalan yang salah, mengkhianati Yesus. Dan setelah ia sadar akan kesalahannya, ia kemudian memilih jalan salah yang lain: bunuh diri. Sungguh tragis!

Mengapa ada orang Kristen yang kemudian meninggalkan hidup kekristenan? Merasa salah pilih? Seperti Yudas? Ada berbagai sebab, seperti perumpamaan benih yang ditabur (Matius 13: 19-23).

  • Kurang pengertian: Kepada setiap orang yang mendengar firman, tetapi belum tentu ia bisa atau mau mengertinya.  Kemudian datanglah iblis yang merampas apa yang ditaburkan dalam hati orang itu.
  • Kurang kuat: Ada orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penderitaan hidup, orang itupun segera murtad.
  • Godaan duniawi: Ada orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kenikmatan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah dan akibatnya hidup orang itu jadi melenceng.

Selain itu, banyak orang yang kecewa melihat hidup orang Kristen seolah tidak ada bedanya dengan orang yang tidak beriman. Apalagi, agama lain mengajarkan bahwa keselamatan manusia ituu harus ditunjang hidup yang baik, dengan amal dan sedekah, dengan ritual dan doa tertentu. Orang Kristen ternyata tidak sebaik yang mereka harapkan. Mereka yang kecewa itu tidak sadar bahwa standar Tuhan tidak akan dapat dicapai manusia, dan manusia hanya bisa diselamatkan kalau Tuhan yang memberi anugrah keselamatan.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman;  itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8-9

Mereka yang ingin  bukti keselamatan mereka, kemudian memilih agama yang mengharuskan mereka untuk berbuat sesuatu. Salah pilih! Hanya Tuhan yang menentukan siapa yang diselamatkan, dan mereka yang diselamatkan bukan karena usaha sendiri.

Ada pula orang yang memilih agama karena ikut-ikutan suami, istri atau orang tua. Barangkali mereka melihat bahwa semua agama baik adanya. Menurut mereka, tidak ada agama yang mengajarkan hal-hal yang buruk. Malahan agama-agama lain lebih terlihat lebih toleran dari agama Kristen, dan pemimpinnya lebih rendah hati. Tidak ada tokoh agama lain yang mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan kecuali Yesus. Bagaimana bisa anak tukang kayu mengaku sebagai anak Allah? Mereka yang meragukan hal ini, seperti Yudas, tidak pernah mengenal Yesus sebagai juruselamatnya. Dan seperti Yudas, mereka merasa salah memilih. Dan mungkin juga, seperti Yudas, mereka tidak akan pernah menemui keselamatan!

Pagi ini kita ditantang dengan sebuah pertanyaan: apakah kita yakin tidak salah pilih. Apakah kita yakin bahwa kita sudah diselamatkan dan apa buktinya? Kita harus yakin bahwa Allah kita adalah Allah yang benar yang mahasuci, yang tidak dapat dicapai dengan usaha manusia. Mereka yang mengajarkan bahwa kita bisa mencapai pilihan yang benar dengan usaha kita sendiri adalah keliru. Allah orang Kristen bukan allah-allahan yang kecil.  Manusia hanya bisa diselamatkan karena menjawab panggilan Tuhan. Manusia tidak dapat meraih Tuhan dengan berbuat baik; Tuhan yang harus datang ke dunia dengan merendahkan diriNya untuk menebus dosa manusia. Hanya ada satu agama yang mengajarkan bahwa Tuhan sendiri telah datang ke dunia untuk menebus dosa manusia.

Jamu manjur?

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Pengkhotbah 3: 11

Bagi kita yang hidup di kota besar, tukang jual jamu tradisional mungkin sudah jarang terlihat. Tukang jual jamu ini biasanya seorang wanita yang menggendong jualannya dan berkeliling masuk keluar kampung. Di kota besar, sebagai gantinya kita mungkin masih bisa menemukan jamu-jamu sejenis di beberapa hotel sebagai bagian dari menu makan pagi. Mengapa orang senang minum jamu semacam ini? Ada berbagai alasan yang mungkin mereka berikan. Jamu tradisional mungkin dianggap lebih manjur untuk sakit tertentu sekalipun belum ada bukti ilmiahnya. Pemakainya mungkin percaya bahwa jamu-jamu itu lebih manjur dari obat dokter. Mungkin juga karena adanya anggapan bahwa akibat sampingannya kecil. Lagi pula karena harganya relatip murah, semua golongan masyarakat bisa menjangkaunya.

Didalam hidup kekristenan, kita sekarang juga sering mendengar dan menyaksikan adanya “bakul-bakul jamu” di gereja. Mereka yang menjanjikan penyelesaian instan masalah-masalah kita; masalah keuangan, hal kesuksesan, masalah kesehatan, soal hubungan kemanusiaan dll. Semuanya seolah bisa diselesaikan hanya melalui iman kita kepada Tuhan. Seperti jamu-jamu itu, berbagai cara dan jalan diajarkan pembicara-pembicara di gereja untuk dapat memperoleh berkat keuangan, kesuksesan, kemashuran dan kesembuhan. Bahkan, mereka seolah mengajarkan cara untuk membuat Tuhan mendengarkan dan menuruti permohonan kita. Tokoh-tokoh gereja bermunculan dan menjadi tenar karena mereka membuat jemaatnya terpukau akan kata-kata mereka. Kesaksian demi kesaksian diperagakan oleh mereka sebagai bukti bahwa jika kita memakai cara tertentu, Tuhan akan menjawab doa kita secara instan.

Sungguh disayangkan bahwa begitu banyak orang Kristen yang tekecoh oleh jamu-jamu dan penjual jamu di gereja. Tertipu oleh jampi-jampi dan dukun-dukun gereja. Mereka tidak sadar bahwa jalan Tuhan bukan jalan manusia. Jalan Tuhan belum tentu yang tercepat atau termudah, tetapi adalah jalan yang terbaik buat umatNya. Sebagian dari tokoh-tokoh gereja itu malahan dianggap sebagai nabi-nabi modern yang bisa melakukan berbagai hal-hal ajaib dan meramalkan masa depan manusia. Mereka memuliakan dirinya sendiri dan dipermuliakan jemaatnya dan mereka hidup dalam kemewahan – tidak seperti nabi-nabi dalam Alkitab. Mereka menjadi bakul jamu yang sukses, yang kaya raya. Ini adalah salah satu tanda-tanda akhir jaman yang sudah tertulis dalam Alkitab:

“Dan karena serakahnya guru-guru palsu itu akan berusaha mencari untung dari kamu dengan ceritera-ceritera isapan jempol mereka. Tetapi untuk perbuatan mereka itu hukuman telah lama tersedia dan kebinasaan tidak akan tertunda.”  2 Petrus 2: 3

Untuk mereka yang dekat dengan Tuhan, Tuhan mengaruniakan kebijaksanaan rohani yang bisa membedakan jamu asli dari jamu palsu,  melihat perbedaan antara penjual jamu dan dokter. Mereka akan mengerti bahwa Tuhan mendengar permohonan anak-anakNya tetapi tidak dapat diperintah oleh siapapun. Tuhan melihat ketulusan hati dan bukan kesombongan. Tuhan menyukai kata-kata yang sederhana tapi tulus, daripada kata-kata yang muluk-muluk dan sombong. Tuhan berfirman melalui hambaNya yang mampu menggunakan kata-kata yang jelas, Alkitabiah dan santun, bukan kata-kata yang lucu, kasar atau tidak ada artinya.

Memang manusia cenderung berbuat kekeliruan yaitu mudah tertarik atas solusi  yang instan. Tertarik atas kata-kata manis, bombastis atau lucu. Tertarik atas apa yang bisa dilihat mata. Terpukau akan apa yang bisa dinikmati tubuh.  Persis seperti apa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa di taman Firdaus: untuk memperoleh status yang sama dengan Allah mereka memilih cara yang mereka anggap mudah  dan instan yaitu mempercayai iblis. Kesalahan fatal! Seperti itulah banyak orang Kristen yang tergoda untuk memperoleh hasil yang hebat dan besar dalam waktu yang singkat, dan mereka jatuh kedalam perangkap dosa. Mereka tidak sadar bahwa itu adalah pekerjaan iblis.

“Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu”  2 Tesalonika 2: 9

Perjuangan hidup ini tidak mudah, apa yang kita minta belum tentu terjadi menurut apa yang harapkan. Tetapi kita harus sadar bahwa Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan apa yang terbaik, yaitu kasihNya, yang tidak dapat lenyap dalam hati kita. Mereka yang tidak mengerti akan hal ini  tidak akan juga dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

Awas ada ular!

“Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” 2 Korintus 11: 3

Australia bukan saja terkemal dengan binatang-binatang yang lucu seperti kangguru, koala dan burung kukabura, tetapi negara itu memiliki 21 dari 25 jenis ular berbisa yang ada di dunia. Memang di Australia ada banyak jenis ular, ada yang kecil ada yang besar, ada yang berbisa ada yang tidak berbisa. Sekalipun ular itu kecil, tetap saja manusia tidak menyukai ular karena gigitan ular kecilpun bisa mengakibatkan infeksi. Ular yang besar di Australia, ular piton misalnya, tidaklah beracun, tetapi bisa menelah hidup-hidup seekor anjing ataupun buaya. Ular yang paling berbisa di Australia adalah ular yang paling berbisa di dunia. Ular taipan, misalnya mempunyai racun yang bisa mematikan 100 manusia dengan racun yang ada dalam satu gigitan! Walaupun demikian, kematian karena gigitan ular taipan adalah jarang karena adanya suntikan anti bisa yang jika diberikan pada waktunya akan bisa mencegah kematian. Selain itu, pada umumnya penduduk Australia sangat berhati-hati jika berjalan diantara semak-semak atau di hutan.

Ular adalah binatang yang sudah sejak dulu ada di dunia. Bahkan Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa karena bujukan iblis yang berbentuk ular. Sudah tentu ular bukanlah iblis, tapi tampil dalam kitab Kejadian 3 untuk melambangkan iblis. Mungkin saja iblis tampil dalam bentuk  seekor ular, merasuki seekor ular, atau membuat Adam dan Hawa sepertinya bercakap dengan seekor ular. Untuk umat Kristen dan juga pengikut agama lain, ular adalah hewan yang menjijikkan, berbahaya dan tidak dapat dipercaya. Ular adalah lambang keculasan dan kekejian. Kalau iblis muncul sebagai ular di jaman ini, hampir bisa dipastikan bahwa semua manusia akan menghindarinya, tidak mau mendekatinya, dan bahkan akan bersusaha menyingkirkan atau membunuhnya.

Ular yang kita hadapi dalam dunia jasmani rupanya berbeda dengan ular rohani. Ular di dunia jasmani lebih mudah dilihat, diidentifikasi dan dihindari.  Biasanya ular yang demikian malahan berusaha menjauhi manusia. Ular sebenarnya takut kepada manusia. Orang yang diserang ular biasanya melalui perjumpaan yang tidak disengaja ditempat tempat yang tidak terduga.  Lain halnya dengan ular rohani yang ada dimana-mana dalam hidup kita. Perjumpaan dengan iblis seringkali terjadi ditempat tempat yang biasa kita kunjungi, di kantor, di rumah, di sekolah dan bahkan di gereja. Ular rohani, si iblis, tidaklah takut kepada manusia. Iblis adalah mantan malaikat Allah yang sangat pandai dan punya kuasa besar. Baginya manusia adalah mahluk yang lemah dan mudah dikalahkan. Manusia juga mudah ditipu, apalagi jika iblis menampilkan diri dalam bentuk yang indah dan menarik dan bukannya seperti ular.

Rasul Paulus dalam ayat diatas menyatakan kekuatirannya bahwa jemaat di Korintus mudah disesatkan dari kesetiaan mereka kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh iblis dengan kelicikannya. Sebagai orang Kristen kita mungkin tidak akan terkecoh jika iblis menampilkan diri dengan hal-hal yang nyata-nyata jahat dan buruk atau menakutkan. Tetapi jika iblis menggunakan kelicikannya, mudahlah ia mengalahkan manusia, kecuali manusia itu ada di dalam perlindungan kuasa Allah. Kecuali jika Roh Kudus bekerja dalam hidup manusia. Kecuali jika kita mau berjalan menurut bimbinganNya.

Memasuki minggu yang baru ini, kita diingatkan bahwa jika kita berjalan menurut kemauan  kita sendiri dan tidak mau dibimbing ole Roh Kudus, perjumpaan dengan ular, si iblis itu, tidak akan bisa dihindari. Ular-ular rohani ini ada dimana-mana siap menyerang mereka yang lemah di setiap saat. Ular-ular ini tidak takut atas manusia, sebaliknya malahan selalu mau mendekati dan menipu manusia dengan berbagai rayuan berbisa. Ada banyak umat Kristen yang tertipu oleh ajaran-ajaran yang keliru dan hidup dalam kesesatan, dan dengan itu mereka tidak lagi memuliakan Yesus. Sebalinya, mereka  mungkin justru hidup untuk kesuksesan dirinya sendiri, mendewakan sesama manusia, dan memprioritaskan hal-hal duniawi. Mereka mungkin juga hidup menghalalkan segala cara selama tidak melanggar hukum pemerintah. Karena itu, berdoalah senantiasa agar kita dilindungi dan dibimbing oleh Tuhan dalam perjalanan hidup ini. Hanya dalam Yesus kita menemukan keselamatan!

 “Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima.” 2 Korintus 11: 4

Maju dalam Kristus

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Filipi 3: 13-14


Libur lebaran sudah berlalu, banyak orang mulai balik kembali ke rumah masing- masing. Arus balik lalu lintas mulai meningkat, jalananpun menjadi macet. Setahu saya, saat ini banyak orang yang merasa bahwa liburan begitu cepat berlalu; keindahan yang sudah dialami bersama keluarga dan teman sekarang tinggal kenangan. Sebaliknya, mereka yang tidak dapat menikmati liburannya akan merasa lega karena kesibukan rutin akan dapat segera dimulai lagi. Memang liburan kalau bisa dinikmati akan serasa pendek, tetapi kalau membosankan tentunya akan terasa panjang. Tetapi untuk semua orang, tidak ada liburan yang tidak berakhir.

Seperti liburan, hidup kita memang terkadang terasa indah, namun ada kalanya hidup terasa membosankan dan melelahkan. Kesibukan kehidupan seringkali membuat kita lupa bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita bukanlah tujuan kita yang sebenarnya.  Hidup di dunia adalah sementara dan harta dan kebahagian duniawi bukanlah tujuan utama.

Jika kita sekarang dalam perjalanan kembali ke rumah kita, atau jika kita dalam perjalanan kembali ke kota untuk bekerja minggu depan, apakah yang kita pikirkan? Barangkali kita mulai merencanakan apa yang akan kita kerjakan minggu depan, bulan depan dan seterusnya. Karena sesudah liburan bebas kerja yang baru lalu, masih banyak hal yang harus kita kerjakan.

Paulus menulis bahwa ia pernah “berlibur” di dunia tetapi ia selalu ingat bahwa ada hal- hal penting yang harus dikerjakannya di masa depan. Apapun yang pernah dialaminya di masa lalunya, baik itu berupa harta, kedudukan atau kekuasaan, bukanlah apa yang kekal. Ia lebih suka melupakan hal-hal itu karena ada tujuan yang lebih penting, yaitu hidup menurut panggilan Tuhan. Ia tidak pernah berpikir bahwa ia sudah menyelesaikan tugas imannya; karena itu ia selalu mau bekerja keras dalam mengarungi masa depannya agar ia makin sempurna didalam Kristus. Ia lebih suka melupakan hal-hal yang kurang berarti di masa lalu, dan terus maju ke masa depan dengan rencana-rencana baru untuk kemuliaan Tuhan.

Pengalaman-pengalaman hidup kita hanyalah seperti liburan yang pendek. Setelah liburan berakhir datanglah kenyataan. Kenyataan bahwa sebagai anak Tuhan kita harus bisa serupa dengan Yesus Kristus. Marilah kita melupakan apa yang sementara dalam hidup ini untuk dapat berlari kencang mencari tujuan hidup yang sebenarnya: memuliakah Allah!

Sunyi sepi sendiri

“Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebab aku sebatang kara dan tertindas.” Mazmur 25: 16

Masih ingatkah anda akan lagu “Surat Undangan” yang dinyanyikan oleh Diah Iskandar? Lagu sentimental ciptaan Jules Fioole ini sangat populer pada tahun 1960an. Walau sudah berumur,  lagu ini tetap dikenal orang dan malah dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi lain seperti Yuni Shara.

Sunyi sepi sendiri, sejak kau tinggal pergi.

Tiada kabar berita, hidupku merana…

Begitu juga di dunia barat banyak lagu yang berthemakan kesepian seperti “Mr. Lonely” nya Bobby Vinton yang sangat terkenal itu:

Lonely I’m so lonely.

have nobody To call my own

I’m m so lonely, I’m Mr. Lonely                       

I have nobody To call my own

I’m so lonely

Memang masalah kesepian itu masalah yang sangat umum di kalangan apapun. Mereka yang muda mungkin kesepian karena hidup jauh dari orang tua  atau karena ditinggal teman/pacar. Mereka yang  berkeluarga mungkin kesepian setelah ditinggal atau dilupakan oleh suami, istri atau anak tersayang. Dalam kesepian, seseorang mungkin hidup di tengah keramaian, tetapi tetap merasakan bahwa  hati dan pikirannya serasa kosong dan karena itu hiduppun serasa tidak ada artinya. Kesepian adalah salah satu penyebab utama depresi dan bunuh diri.

Pemazmur diatas merasakan kesepian karena sebatang kara dan tertindas. Memang manusia sebagai mahluk sosial selalu membutuhkan teman. Jika teman yang baik tidak dipunyai, serasa hidup kita sebatang kara. Apalagi jika kita dalam kesulitan. Yesuspun merasakan kesepian di taman Getsemane sebelum disalibkan karena semua orang, termasuk murid-muridNya, meninggalkan atau melupakan Dia.

Kesepian jugalah yang membuat seseorang mencari jalan keluar berupa berbagai aktivitas-aktivitas sosial untuk menghilangkan kebosanan, dengan sibuk mengumpulkan harta benda, membeli pakaian,  makanan dan minuman secara berlebihan, memakai obat-obat terlarang, memiliki banyak mainan atau hewan peliharaan dsb.

Kesepian adalah tanda jauhnya Tuhan dari hidup manusia. Yesus merasa kesepian di taman Getsemane karena Allah Bapa membiarkan Yesus bergumul dalam usaha untuk menebus dosa manusia. Manusia mungkin merasa kesepian karena mereka telah hidup sesat, jauh dari Tuhan. Ada juga mereka yang kesepian karena belum mengenal Tuhan. Mereka yang kenal Tuhan sering juga merasa Tuhan itu jauh dan lambat bereaksi. Dan banyak juga manusia yang merasa kesepian karena iblis yang berusaha menghancurkan hidup mereka. Memang manusia mudah dikalahkan melalui kesepian.

Kesepian adalah salah satu musuh besar manusia modern. Manusia yang makin individualis. Tiap orang, tua maupun muda, harus bisa menangani hidupnya sendiri. Teman, anak dan keluarga tidak dapat lagi diharapkan untuk memberi dukungan. Kekecewaan mungkin datang silih berganti dan segala aktivitas pelarian ternyata hanya memberi kebahagiaan semu yang bersifat sementara. Hanya satu yang tidak pernah berubah: Tuhan itu ada dan Ia tetap mengasihi umatNya. KepadaNya kita berharap, didalam Dia kita menemukan kedamaian.

 “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Soal kecerdasan

Berfirmanlah Allah kepada Salomo: “Oleh karena itu yang kauingini dan engkau tidak meminta kekayaan, harta benda, kemuliaan atau nyawa pembencimu, dan juga tidak meminta umur panjang, tetapi sebaliknya engkau meminta kebijaksanaan dan pengertian untuk dapat menghakimi umat-Ku yang atasnya Aku telah merajakan engkau”   2 Tawarich 1: 11

Di jaman ini, seorang yang melamar sebuah posisi harus bisa menunjukkan prestasi yang baik dalam berbagai hal, dan umumnya harus mempunyai IQ dan EQ yang cukup baik. Intelligence quotient atau IQ adalah ukuran kecerdasan seseorang yang dibandingkan dengan sesamanya dalam satu populasi. Walaupun IQ tinggi menunjukkan bahwa seseorang adalah pandai, IQ tidak menjamin bahwa orang itu mampu bekerja dengan baik. Karena itu, sekarang banyak perusahaan yang memakai EQ sebagai  standard ukuran kemampuan pelamar. EQ (Emotional Quotient) adalah ukuran kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. EQ belakangan ini dinilai tidak kalah penting dengan IQ. 

Kesuksesan seseorang sebenarnya tidak hanya tergantung pada IQ dan EQ nya. Beberapa ahli menyatakan bahwa diluar kedua ukuran diatas, masih ada SQ (Spiritual Quotient) dan PQ (Physical Quotient). Aduh…koq banyak macamnya sih? IQ dan EQ masih belum cukup, kita masih juga harus memiliki SQ dan PQ!

SQ adalah kecerdasan spiritual yang memungkinkan seseorang untuk bertindak dengan kebijaksanaan dan kasih dengan mempertahankan kedamaian kedalam dan keluar dalam suasana apapun. PQ adalah ukuran kecerdasan fisik yang memberikan kemampuan kepada seseorang untuk menyadari keadaan kesehatan tubuh dan jiwanya agar bisa menjaga kesehatannya secara menyeluruh.

Dalam ayat diatas kita bisa melihat bahwa raja Salomo ternyata tidak mementingkan hal-hal lain kecuali kebijaksanaan dan pengertian untuk dapat membimbing rakyatnya. Tuhan sangat senang karena Salomo tidak meminta kekayaan material, kemashuran, umur panjang atau nyawa musuh-musuhnya. Salomo justru menginginkan kemampuan untuk bisa membimbing rakyatnya dengan kasih dan pengertian. Rupanya Salomo waktu itu  sadar bahwa untuk bisa sukses sebagai pemimpin ia perlu  kecerdasan emosional dan spriritual! Bagaimana Salomo bisa sadar bahwa kesuksesan bukan tergantung kepandaian otak dan kesehatan tubuh saja? Bagaimana ia bisa tahu bahwa modal materi dan kekuatan fisik saja tidaklah cukup? Seakan ia sudah mengerti apa yang dikatakan Yesus dalam Lukas 12: 29-31 ini:

“Jadi, janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum dan janganlah cemas hatimu. Semua itu dicari bangsa-bangsa di dunia yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu tahu, bahwa kamu memang memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.”

Buat kita orang percaya, soal IQ, EQ, SQ dan PQ itu memang penting tetapi terlebih penting lagi adalah menyadari dari mana asalnya kecerdasan dan kemampuan diatas. Hanya Tuhan yang bisa memberi apa yang baik dalam hidup kita. Hanya Dia yang mampu memberi kecerdasan surgawi. Kita memang mempunyai tanggung jawab untuk memilih apa yang kita utamakan dalam hidup kita. Tetapi, dengan pikiran kita sendiri kita sering memilih apa yang keliru dan mengutamakan apa yang tidak atau kurang penting. Hanya dengan bimbingan Roh Kudus kita akan dapat menghasilkan apa yang baik:

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5:22-23

Marilah kita hari ini merenungi apa yang kita prioritaskan dalam hidup kita. Tiap hari dalam hidup kita, Tuhan bertanya kepada kita, seperti Dia bertanya kepada Salomo, tentang apa yang kita inginkan. Untuk kita sendiri maupun anak cucu kita. Apakah jawaban kita? Biarlah kita bisa mengutamakan apa yang bisa memperkuat kasih kita kepada Tuhan dan sesama kita. Dia yang mahakasih pasti mengaruniakan apa yang benar-benar kita perlukan!

Awas barang imitasi

“Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka.” 2 Petrus 2: 1

Rolex submariner: asli vs. palsu

Beberapa bulan yang lalu kami berdua berkunjung ke Hong Kong untuk sekedar berjalan-jalan dan berwisata kuliner. Kami sempat juga pergi ke beberapa shopping centre sekedar untuk lihat-lihat, window-shopping.  Karena hotel kami berada di pusat kota kami bisa melihat begitu banyak orang di jalan, terutama di daerah komersial seperti Tsim Sha Tsui yang sering kami lewati. Sungguh menarik karena di daerah itu, ada orang-orang di pinggir jalan yang menawarkan jam tangan palsu. Memang Hong Kong terkenal dengan produk jam tangan palsu yang ada berbagai macam kwalitasnya, mulai dari yang murah sampai yang agak mahal karena betul-betul mirip dengan aslinya. Seringkali sulit sekali untuk membedakan barang yang asli dari barang yang tiruan karena selain tampak luarnya yang indah, juga bunyi detiknya sangat halus!

Soal barang palsu memang sudah ada sejak awalnya. Adam dan Hawa juga jatuh kedalam dosa karena pengajaran palsu si iblis yang mengatakan hal-hal yang tidak benar tentang Allah (Kejadian 3: 1-5). Sejak saat itu iblis selalu berusaha menipu manusia dan terutama anak-anak Tuhan dengan berbagai cara agar mereka jatuh kedalam dosa dan meninggalkan jalan kebenaran. Didalam kehidupan gerejapun banyak terjadi bahwa tokoh-tokoh gereja dan gereja-gereja tertentu jatuh terseret kedalam tipuan iblis. Mereka yang tertipu oleh iblis itu kemudian meneruskan ajaran-ajaran yang tidak benar kepada orang lain. Bagaimana kita bisa membedakan ajaran yang benar dari ajaran yang palsu?

Pertama, banyak pemimpin dan gereja imitasi yang tidak menomer-satukan Yesus. Apa yang ditonjolkan dalam kehidupan dan pelayanan mereka adalah hal-hal lain seperti mujizat, nubuat, dan berbagai karunia yang membuat mereka merasa bahwa Tuhan memilih mereka sebagai orang yang istimewa. Mereka menikmati sanjungan masyarakat dan sering membuat sensasi dengan ramalan-ramalan tentang masa depan bak ahli nujum. Kita harus ingat bahwa iblis dulunya adalah malaikat rupawan yang gila hormat!

Kedua, banyak ajaran yang palsu tidak berdasarkan sepenuhnya pada firman Tuhan. Seringkali pengajar palsu memakai Alkitab untuk menggunakan ayat-ayat tertentu saja guna mendukung ajarannya. Thema pengajaran mereka umumnya  itu-itu saja: kemakmuran, kesuksesan, kebahagiaan, percaya diri dsb. Banyak juga orang yang mengajarkan Firman menurut pengertian mereka sendiri. Yang mencampur adukkan Alkitab dengan “pengilhaman langsung” atas diri mereka. Yang mencampur Firman dengan selera masyarakat jaman ini. Celakanya, kalau jemaat kurang mau belajar dari Alkitab, mereka akan mudah tertipu. Kita harus ingat bahwa firman Tuhan telah dikumpulkan menjadi satu, yaitu Alkitab. Siapapun tidak boleh menambah atau mengurangi isi Alkitab.

Ketiga, pengajar yang palsu sering tidak dapat menerapkan firman Tuhan dalam hidup mereka sendiri. Buah-buah Roh (Galatia 5: 22-23) yang semestinya bisa kita lihat jelas dalam hidup mereka, seringkali tidak mudah dilihat. Guru-guru palsu ini seringkali malahan kelihatan sebagai orang yang mementingkan diri mereka sendiri atau kebesaran organisasinya. Mereka seringkali berkotbah membangggakan keberhasilan atau kesuksesan mereka dan kurang peduli akan mereka yang menderita. Mereka yang sering bertengkar dengan orang lain dan merendahkan golongan lain.

Keempat, banyak aliran dan pengajar palsu yang tidak membawa kedamaian diantara masyarakat. Karena mereka, Injil lebih mirip kabar buruk daripada kabar baik! Perpecahan dalam gereja, pertengkaran diantara pemimpin-pemimpin gereja seringkali memberi tanda bahwa sesuatu telah berjalan dengan kurang benar. Pengajar yang ikut-ikutan bermain politik dan serang-menyerang dengan golongan masyarakat yang lain perlu disangsikan panggilannya. Roh Tuhan adalah Roh pembawa ketertiban dan jika keadaan malahan menjadi kacau, anda harus bertanya apakah Roh Tuhan benar ada disitu.

Kelima, banyak pengajar dan aliran palsu yang bersifat eksklusip. Mereka hanya mau bergaul dengan anggota kelompoknya. Anggota mereka mungkin dianjurkan untuk tidak berkomunikasi dengan kelompok lain. Mereka hanya mau menolong kelompok sendiri dan tidak bisa menerima pendapat orang lain. Mereka yang percaya bahwa hanya mereka yang bakal diselamatkan.

Marilah kita rajin mempelajari firmanNya dan mintalah agar Roh Kudus membuka mata dan telinga kita supaya kita melihat dan mendengar dengan baik, untuk membedakan apa yang asli dari apa yang palsu!

 

 

 

 

Apakah mujizat itu masih ada?

Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan. Markus 13: 22

Salah satu acara TV yang saya senangi adalah magic illusion show nya David Copperfield. Memang dia termasuk salah satu dari 10 top ahli sulap di dunia. Kalau nonton show semacam itu, saya tertarik karena hal-hal yang tidak mungkin bisa terjadi di depan mata. Sekalipun saya tahu itu hanyalah tipuan mata, tetap saja saya merasa kagum atas kehebatan David. Memang manusia dari dulu selalu tertarik akan hal- hal yang spektakular dan ajaib seperti orang-orang Mesir yang kagum atas trik-trik penyihir Firaun.

Manusia pada umumnya mempunyai kecenderungan untuk mengagumi hal-hal yang luar biasa, yang spektakular, yang tidak dapat dijelaskan secara mudah dengan akal pikiran. Itu sebabnya orang agnostikpun percaya akan adanya hal-hal yang diluar pengertian manusia. Albert Einstein misalnya, pernah berkata bahwa ia melalui ilmu pengetahuan dapat melihat hal-hal yang luar biasa di alam semesta, sekalipun ia tidak percaya bahwa Tuhan adalah dibalik semuanya. Sebaliknya, orang Kristen tentunya percaya bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta, tetapi sering kurang menyadari bahwa keajaiban hidup terjadi setiap saat. Keajaiban seperti tumbuhnya bunga di pagi hari, lahirnya seorang bayi ataupun ketika kita bangun tidur dan tetap bisa bernapas!

Manusia memang selalu mengharapkan mujizat istimewa terjadi ketika mereka tersudut. Bagi sebagian manusia, mereka berasa bahwa mujizat dapat memperkuat iman mereka. Tuhan tidak dapat terlihat, namun jika mereka bisa melihat mujizatNya mungkin mereka akan bisa (lebih) yakin bahwa Tuhan itu ada. Begitu mungkin dalih mereka. Tetapi sejarah membuktikan begitu banyak orang yang akhirnya dapat ditipu oleh trik-trik yang dilakukan oleh ahli-ahli sulap, baik diluar gereja maupun didalam gereja. Mereka yang mendapat kesembuhan penyakit yang didatangkan dukun, orang pintar dan pendeta; mereka yang menerima sesuatu setelah melakukan sesuatu tindakan seperti berdoa dengan cara khusus, berpuasa, atau mengunjungi tempat-tempat tertentu.

Masih adakah mujizat itu di jaman ini? Alkitab meyatakan bahwa ada mujizat palsu yang bukan dari Tuhan – baik di Perjanjian Lama (Keluaran 7)  maupun Perjanjian Baru (Kisah 8: 9-25). Alkitab juga menceritakan berbagai mujizat yang dilakukan Yesus dan murid-muridNya. Jadi tidaklah mengherankan jika kita masih juga bisa menemui mujizat palsu dan juga mujizat asli yang datang dari Tuhan di jaman ini. Mujizat istimewa yang datang dari Tuhan mungkin sudah tidak terlalu sering kita lihat saat ini karena  manusia bisa mengenal Tuhan melalui berbagai jalan lain, tetapi di tempat tempat yang terpencil, manusia justru sering menerima mujizat yang berupa intervensi langsung dari Tuhan.

Kita harus sadar bahwa sekalipun ada mujizat, manusia belum tentu bisa menerima atau berserah kepada Tuhan karena kekerasan hatinya. Kalau Tuhan tidak bekerja dalam hidup manusia, ia tidak dapat mengenal Tuhan. Mujizat alam semesta yang kita lihat tiap haripun sekarang sudah kurang bisa dirasakan sebagai mujizat. Sebaliknya, mereka yang selalu mencari mujizat dalam hidup ini, akan mudah jatuh ke dalam perangkap setan. Setan memang mempunyai kemampuan membuat  hal-hal yang diluar kemampuan manusia. Mujizat yang datang dari setan justru membuat manusia jauh dari Tuhan. Mereka yang selalu mencari intervensi Tuhan akan mudah  jatuh kedalam perangkap iblis; mereka akan “ketagihan” mujizat, mendewakan orang atau tempat yang membawa mujizat, dan mereka akan pergi ke tempat-tempat (termasuk gereja) dimana “mujizat” itu terjadi.

Umat Tuhan yang dewasa mengerti bahwa memang kadang-kadang Tuhan meng intervensi hidup kita. Menolong kita, menyadarkan kita atau menguatkan kita. Tetapi sebagai manusia beriman, kita adalah manusia merdeka yang sudah diberikan Roh Kudus yang menguatkan kita hari demi hari. Hidup kita adalah tanggung jawab kita, dan kita tidak bisa mengharapkan mujizat khusus selalau terjadi di depan mata kita. Pengharapan akan mujizat seringkali justru terjadi sebagai manifestasi iman yang lemah, yang tidak mau berserah kepada kehendak Tuhan, dan egoisme, yang selalu ingin untuk mendapat perlakuan istimewa dari Tuhan. Mereka yang memusatkan imannya kepada mujizat akan mengalami kekecewaan, tetapi mereka yang memusatkan imannya kepada Yesus akan menerima kebahagian sejati.