“Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” 2 Korintus 12: 10
Memasuki tahun yang baru ini banyak ucapan selamat tahun baru yang disertai doa “semoga sehat selalu”. Kelihatannya soal kesehatan adalah penting, terutama bagi mereka yang memasuki usia senja. Siapakah yang tidak mau hidup sehat? Semua orang ingin mempunyai kesehatan yang baik agar terhindar dari sakit penyakit. Walaupun demikian, tidak seorangpun yang bisa bebas dari sakit sekalipun bagaimanapun baiknya cara hidup dan lingkungannya.
Memang jika kita tahu bahwa tubuh kita tidak sesehat yang kita harapkan, rasa kecewa atau sedih mungkin timbul. Tetapi tentunya kita harus bersyukur bahwa dengan ditemukannya masalah yang ada dalam tubuh kita, kita bisa memakai obat yang sesuai, sehingga kita bisa memperoleh kekuatan dan kesehatan kita kembali. Ada pengharapan dan kekuatan baru didalam kelemahan yang ada.
Seperti itulah hidup manusia pada umumnya, setiap orang mengalami tantangan, perjuangan dan penderitaan di muka bumi ini. Itu lumrah karena semua manusia sudah jatuh kedalam dosa dan harus hidup di dunia yang tidak sempurna. Tetapi jika umat Kristen mengalami penderitaan karena hal-hal yang nampaknya “tidak adil”, pertanyaan mungkin timbul di hati kita, mengapa hal-hal yang sedemikian terjadi pada anak-anak Tuhan. Bukan hanya kelemahan tubuh, penyakit, dan kesukaran hidup, tetapi juga bahaya dan penganiayaan dialami oleh banyak orang Kristen di dunia. Menjadi Kristen memang dalam kenyataannya tidak akan menghilangkan persoalan hidup, tetapi persoalan hidup malah justru sering muncul karena adanya iman kepada Tuhan, karena kita harus menuruti perintah Tuhan.
Orang yang tidak mau untuk dibimbing Tuhan lebih suka untuk mengabaikan adanya persoalan dalam hidup mereka. Mungkin juga mata rohani mereka tertutup sehingga mereka tidak bisa melihat adanya masalah, jika mereka tidak menuruti perintah Tuhan. Untuk mereka, kehidupan adalah baik jika mereka bisa berbuat apa yang mereka maui. Mereka dapat hidup dalam kebebasan yang semu sampai tiba saatnya mereka menyadari bahwa ada sesuatu yang buruk terjadi. Karena mereka tidak mempunyai Tuhan, bagi mereka tidak ada harapan dan penghiburan dalam kesulitan.
Pagi ini, Rasul Paulus sebagai rasul yang mungkin bisa dikatakan paling bijaksana menceritakan bahwa dalam hidupnya ada sesuatu masalah kesehatan yang membuat ia sangat menderita. Ia sudah memohon tiga kali kepada Tuhan untuk mendapat kelepasan, tetapi jawaban Tuhan bukanlah seperti yang diharapkannya.
Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” 2 Korintus 12: 9a
Sebab itu, bukannya menyesali keadaannya, Paulus malahan bersyukur dalam kelemahannya, supaya ia bisa merasakan kuasa Kristus yang turun menaungi dia.
Seperti Paulus, kita adalah anak-anak Tuhan yang selalu dibimbingnya untuk menjadi makin dewasa dan makin kuat dalam iman. Sebagai manusia, kita selalu mempunyai kelemahan dan berbagai persoalan; tetapi bagi kita yang mau dibimbing Tuhan, kesadaran bahwa hidup kita adalah bergantung kepada Tuhan yang maha kuasa dan maha kasih adalah bagaikan obat yang memberi harapan dan kekuatan didalam kesulitan. Biarlah kita bisa makin berserah kepada Tuhan dalam tahun yang baru ini!
Saat ini perayaan Natal dan tahun baru telah lewat dan mereka yang berlibur ke luar kota mulai pulang ke rumah masing-masing. Suasana berangsur-angsur menjadi normal dengan para pekerja tampak berangkat menuju kantor masing-masing pagi ini. Diantara orang-orang itu mungkin ada orang-orang Kristen yang sudah merayakan kedua hari besar itu dan sekarang harus menghadapi kenyataan hidup. Bagaimana perasaan mereka dalam memasuki tahun yang baru?
Dalam memasuki tahun baru ini, sebagian orang sempat memikirkan apa yang mungkin terjadi di bulan- bulan mendatang. Dengan menimbang apa yang sudah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, orang mencoba meramalkan apa yang bisa terjadi pada tahun baru. Bagi umat Kristen, ramalan-ramalan sedemikian pada umumnya hanyalah bersifat spekulatif jika tidak ditunjang penyelidikan ilmiah. Tambahan pula, orang Kristen percaya bahwa Tuhanlah yang pada akhirnya menentukan apa yang akan terjadi.
Bagi kebanyakan orang, tahun baru umumnya membawa harapan baru. Harapan untuk bisa melupakan kegagalan, masalah dan hal-hal yang kurang menyenangkan dari tahun yang lalu, dan untuk memperbaiki apa yang kurang baik agar bisa lebih baik pada tahun yang baru. Bagi umat Kristen, karena Tahun Baru hanya seminggu sesudah hari Natal, seyogyanya harapan Natal juga merupakan harapan Tahun Baru.
Menjelang tahun baru, persiapan untuk pesta tutup akhir tahun sudah dilakukan berbagai kota besar di Australia. Tiga kota terbesar, Sydney, Melbourne dan Brisbane, biasanya menampilkan pesta kembang api besar-besaran untuk menandai datangnya tahun baru. Tahun baru, walaupun hanya bagian perhitungan hari, dianggap sesuatu yang penting untuk dirayakan dan disambut dengan gembira.
Hari Natal sudah berlalu dan suasana kota kembali seperti biasa walaupun hiasan Natal masih tergantung, mungkin sampai datangnya tahun baru. Di Australia, tidak ada orang yang mengucapkan “selamat hati Natal” sesudah lewatnya hari itu. Berbeda dengan “selamat tahun baru”, yang diucapkan orang mungkin sampai dua minggu sesudah hari itu.
Kelahiran Tuhan Yesus di dunia adalah sesuatu yang sudah direncanakan Allah jauh bertahun-tahun sebelum hal itu terjadi. Kitab Perjanjian Lama penuh dengan berbagai ayat yang menyebutkan tentang kedatangan si Juruselamat itu. Walaupun demikian, ketika Yesus dilahirkan, tidak ada orang yang menduga bahwa bayi yang lemah, yang lahir dalam palungan, adalah Anak Allah, Mesias, yang sudah dinantikan umat Israel.
Sebentar lagi hari Natal akan datang dan hampir semua kota di dunia sudah memakai lampu-lampu dan berbagai hiasan khas Natal lainnya. Memang hari Natal adalah hari besar terbesar kedua sedunia, sesudah Tahun Baru. Lebih sebulan lamanya, mereka yang merayakan Natal menantikan datangnya hari yang dipilih manusia untuk menandai hari kelahiran Yesus di Betlehem.