Apakah anda mau keduanya?

 “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Matius 6: 24

Kemarin pagi saya menyempatkan diri untuk lari pagi sepanjang pantai di Gold Coast. Maklum dengan usia semakin tua, kesehatan harus semakin dijaga dan untuk itu makanan sehat dan olahraga adalah penting. Setelah setengah jam di jalan, tiba-tiba ada suara yang menyapa saya dari belakang. Sewaktu saya menoleh kebelakang, saya lihat seorang wanita setengah umur yang juga berlari pagi. Kemudian kami berlari bersama sepanjang jalan sambil bercakap- cakap. Ternyata dia sedang mempersiapkan diri untuk lari marathon minggu depan. Lari marathon yang pertama untuknya. Omong punya omong, dia bilang bahwa persiapannya untuk Gold Coast marathon membutuhkan waktu yang banyak untuk berlatih, tetapi dia tidak berharap untuk bisa menempuh jarak 42 km itu dalam waktu kurang dari 6 jam karena da seorang perokok berat. Saya hanya mengiyakan, tetapi dalam hati ada rasa heran juga…….

Soal olahraga, Rasul Paulus adalah seorang rasul yang sering membandingkan umat Kristen dengan petinju dan pelari. Paulus menulis bahwa hidup kita adalah seperti pelari yang berlomba untuk mencapai garis akhir dan petinju yang berlatih untuk memukul dengan jitu. Bahwa sebagai orang Kristen kita menggembleng hidup kita sehingga pada akhirnya iman kita tidak sia-sia. Tidak ada yang lebih mengecewakan buat seorang atlit, jika ia gagal untuk memperoleh kemenangan.

“Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya. Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”  1 Korintus 9: 24-27

Perjuangan hidup memang tidak mudah karena ada banyak tantangan dan godaan. Kenyataanya, ada banyak orang Kristen yang mempunya hidup ganda. Banyak orang Kristen yang rajin ke gereja, tetapi di luar gereja mereka menjalankan bisnis dan praktek hidup yang tidak berbeda dengan orang yang tidak beriman. Kita mungkin tahu bahwa tubuh kita bukan milik kita sendiri, tetapi kita memperlakukan tubuh kita dengan seenaknya sendiri. Kita mungkin ingin mendapatkan karcis ke surga tetapi tidak mau kehilangan kesempatan untuk menikmati kesenangan duniawi. Orang di sekitar kita mungkin mengira bahwa kita hidup baik dan berbahagia dalam iman, tetapi mungkin kita hanya bersandiwara!

Dalam ayat Matius 6: 24 diatas, Yesus berkata bahwa tidaklah mungkin untuk anak Tuhan mempunyai dua tujuan hidup, memuliakan Tuhan dan memuliakan hal-hal yang tidak benar, hal-hal yang duniawi. Sebagai atlit, kita harus benar-benar bisa berlari melalui jalur yang sudah ditetapkan dan bukannya melalui jalan pintas ataupun menggunakan cara terlarang untuk mencapai tujuan. Seorang atlit harus juga rajin berlatih dan mau hidup sehat untuk bisa bertanding dengan baik. Sebagai orang Kristen kita harus berjalan di jalan yang benar sekalipun jalan itu terlihat lebih sempit dan sukar untuk dilalui. Karena kita ingin kuat dalam hidup, kita harus rajin memupuk iman kita dengan rajin membaca firman Tuhan dan mempunyai hidup kekristenan yang sehat dan benar.

Memasuki minggu yang baru kita diingatkan bahwa kita adalah “pegawai tetap” kerajaan Allah. Kita adalah orang Kristen, pelari dan petinju full-time. Majikan, boss kita hanya satu. Sepanjang hari, setiap saat, kita dituntut untuk hidup sebagai anak Tuhan. Memang banyak orang Kristen “part-time”, yang hanya hidup secara Kristen dalam saat-saat tertentu dan dalam suasana tertentu. Untuk mereka, petandingan lari serasa acara jalan-jalan dimana mereka boleh berhenti di setiap tempat, menikmati apa yang bisa ditemui, dan kemudian melanjutkan perjalanannya  tanpa merasakan keperluan untuk mencapai tujuan dan kemenangan. Tetapi orang Kristen yang benar akan melatih hidupnya dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, mereka sendiri akan mencapai kebahagian surgawi.

 

 

 

 

 

Malin Kundang

“Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 10: 33

Batu Malin Kundang, Padang.

Bagi kita yang lahir dan dibesarkan di Indonesia, tentu kita ingat akan kisah Malin Kundang. Malin Kundang adalah anak durhaka yang dikutuk karena menyangkali ibunya sehinngga menjadi patung batu. Cerita rakyat Malin Kundang diangkat dari latar belakang sebuah desa nelayan di Pantai Air Manis, Padang Selatan, Sumatera Barat. Jika anda mengunjungi tempat tersebut,  anda mungkin bisa menjumpai sebuah batu yang menyerupai orang sujud, patung si Malin Kundang.

Sebagai orang Kristen, sudah tentu kita mengerti bahwa kita harus menghormati orang tua kita agar kita mendapat berkat dari Tuhan (Efesus 6: 2-3). Orang tua adalah wakil Tuhan dalam keluarga. Dalam hidup kekristenan, kata hormat bukan hanya dengan apa yang bisa dilihat orang lain, tetapi juga dengan apa yang ada dalam hati kita. Hormat bukan sekedar hal lahiriah yang bisa dilihat mata. Hormat juga bukan hanya sekedar sebuah konsep pikiran atau batin. Hormat yang benar adalah bersifat lahir dan batin.

Menghormati orang tua adalah penting, namun menghormati Tuhan lebih penting lagi dan lebih sukar pelaksanaannya. Kita harus mengasihi Tuhan diatas segala-galanya. Matius 22: 37 mengatakan:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.”

Tuhan adalah Allah yang menuntut pengabdian manusia secara mutlak karena Ia adalah Allah yang cemburu (Keluaran 20: 5). Lagi pula, Yesus dalam Matius 10: 33 diatas menegaskan bahwa siapa yang menyangkal Dia, akan juga disangkalNya dihadapan Allah Bapa.

Secara sadar atau tidak, penyangkalan atas Tuhan itu sering terjadi dalam hidup kita. Jika kita selalu hidup dalam kesombongan, kekuatiran, kekesalan, kekecewaan, kemarahan dll., kita hidup dalam dunia kecil kita yang tidak bisa mengakui Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Jika kita masih melakukan kebiasaan dan tingkah laku yang membuat kecewa Tuhan dan saudara seiman, sebenarnya dengan perbuatan-perbuatan itu kita juga menyangkali Dia, karena seolah Dia tidak ada.

Tidak hanya materi yang bisa menguasai hidup orang Kristen sehingga Tuhan terlupakan. Kegiatan hidup seperti yoga, meditasi dan olahragapun bisa dicampuri berbagai mantra dan doa yang “nyasar”. Dalam hal pengobatan penyakit, tempat-tempat “keramat”,  dukun “sakti” dan “orang pintar” masih banyak dikunjungi orang-orang yang mengaku Kristen.   Kalaupun mereka mengaku percaya kepada Tuhan, mereka masih juga suka pergi ke tempat praktek “tenaga gaib” seperti tabib sangkal putung  yang makin populer di Indonesia, yang konon bisa menyembuhkan cedera tulang dengan memakai kekuatan  mistik. Dengan melakukan sesuatu yang tidak benar atau pergi ke tempat yang tidak disukai Tuhan, apalagi mencari pertolongan dari orang yang menggunakan kuasa-kuasa yang bukan dari Tuhan, mereka tidak lain hanyalah menyangkal eksistensi Tuhan. Hal-hal ini bisa membangkitkan kemarahan dan  kecemburuan Tuhan!

Pagi ini kita diingatkan oleh firman Tuhan bahwa siapa yang bermain air akan menjadi basah, dan siapa yang bermain api akan hangus. Siapa yang menyangkali kenyataan adanya satu Tuhan didalam Yesus, akan kehilangan tempatnya dihadapan Allah. Pengabdian dan iman kepada Tuhan kita tidak boleh diperlemah dengan cara hidup dan kebiasaan yang tidak sesuai dengan firmanNya!

Apakah yang akan anda wariskan?

“Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” Matius 6: 20

Jika tiba waktu anda untuk meninggalkan dunia ini, apakah yang akan anda wariskan kepada orang yang anda cintai? Kenangan apakah yang akan tinggalkan? Pertanyaan ini mungkin lebih mudah dijawab oleh orang yang sudah berumur karena mereka yang masih muda mungkin berpikir bahwa mereka belum saatnya untuk memikirkan hal itu. 

Di negara barat, ABG pun banyak yang sudah memikirkan apa yang dapat mereka tinggalkan. Bukan harta, karena umumnya mereka masih baru mulai dengan karirnya. Lalu apa, kalau bukan harta? Andaikan punya hartapun, mereka kan belum berkeluarga? Memang benar, mereka tidak mempunyai harta, tetapi mereka mau men donasikan organ tubuh mereka agar bisa ditransplantasi ke orang lain jika mereka mati muda. Ah, koq ada saja …

Warisan adalah barang berharga dan sukar didapat, yang diberikan seseorang untuk orang yang ditinggalkan agar bisa dipakai mereka. Jika Tuhan sudah memanggil kita, kita tidak lagi memerlukan tubuh, kepandaian dan harta kita. Karena itu banyak orang tua yang mati-matian bekerja, bahkan sampai usia uzur, untuk mengumpulkan harta bagi anak-anaknya. Kalau anak sudah berkecukupan bagaimana? Ya barangkali untuk cucu dan cicit….agar bisa tujuh turunan…

Sekalipun warisan iti pada unumnya berguna untuk yang diwariskan, ada kalanya warisan menjadi beban buat orang yang diwarisi. Misalnya pernah terjadi properti warisan orang tua ternyata mengundang pajak yang besar. Wah, tentu saja keadaan yang demikian harus bisa kita hindari. Warisan harus sesuatu yang berharga, berguna, menolong, dan membahagiakan orang yang diberi, agar mereka bisa merasakan cinta kasih mereka yang memberi.

Buat orang Kristen seperti kita, tidak ada sesuatu yang lebih berharga, lebih berguna, lebih menolong, dan lebih membahagiakan daripada harta surgawi, keselamatan yang kita terima melalui Yesus Kristus. Penebusan dosa kita memungkinkan Allah menerima kita sebagai anak-anakNya. Pengorbanan Kristus juga membuka mata rohani kita, memberikan kita kemampuan untuk melihat betapa besar kasih Allah kepada manusia.

Sungguh disayangkan bahwa di jaman modern ini, banyang orang yang memusatkan perhatian pada harta duniawi. Kekayaan, kepandaian, kemasyuran dll. sering menjadi tujuan kerja keras kita. Namun, pada akhirnya semua itu tidak ada gunanya untuk kita. Tidak juga berguna untuk yang kita warisi karena semua itu tidak menunjang keselamatan dan kebahagiaan mereka.

Di akhir pekan ini, marilah kita memikirkan apa yang pantas untuk ditinggalkan untuk orang-orang, masyarakat yang kita kasihi. Sesuatu yang benar-benar berharga, pasti berguna, sangat menolong, dan membawa kebahagiaan yang abadi bagi mereka. Hanya ada satu hal yang penting untuk mereka: Yesus. Marilah kita berdoa nemohon agar Tuhan membimbing mereka dalam hidup mereka, memberikan iman yang teguh dan menumbuhkan kasih mereka kepada Tuhan dan sesama. 

Shalom Aleichem!

 “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27

Shalom Aleichem! Damai besertamu! Begitulah sapaan yang sering diucapkan oleh masyarakat Yahudi jika mereka bertemu. Sebagai balasan, mereka yang disapa mengucapkan “aleichem shalom” . Di Indonesia, masyarakat Islam memakai ucapan serupa (assalamualaikum dan wa’alaikum salam) ketika mereka baru berjumpa. Pada pihak yang lain, umat gereja sering mengucapkan “shalom” atau “damai” sebagai kependekan dari “shalom aleichem”.

Salam damai ini ternyata juga dituangkan dalm bentuk lagu. Lagu Shalom Aleichem adalah sebuah lagu tradisional dengan pesan senada yang dinyanyikan orang Yahudi tiap Jumat malam sesudah kembali dari berdoa di sinagoga. Lagu itu menyambut datangnya hari Sabbath, dan menyambut datangnya malaikat-malaikat ke rumah mereka.

Bagi umat Kristen, menyampaikan salam damai seperti diatas seharusnya bukanlah sekedar ucapan bibir belaka. Ucapan itu berarti pengharapan dan kepercayaan tentang adanya damai dari yang menyampaikan untuk orang yang dijumpai. Jika orang yang memberi salam tidak mengenal damai, bagaimana pula ia bisa berkata “damai besertamu”? Sama halnya dengan orang-orang yang sering menulis atau mengucapkan salam “GBU” , jika mereka tidak mengenal siapakah Tuhan (God) dalam hidup mereka, ucapan yang demikian adalah sia-sia belaka. Bagaimana kita bisa berkata “shalom” atau “shalom aleichem” jika kita tidak mempunyai kedamaian dalam hidup kita sendiri?

Masalah kedamaian hidup adalah masalah yang rumit. Banyak orang yang hidupnya makmur, tetapi tidak merasakan damai dalam rumah tangga. Ada juga mereka yang mau ke gereja, tetapi tidak menemukan rasa damai disana. Juga karena keadaan dunia yang sekarang morat-marit diberbagai tempat,  kita mungkin sulit untuk mempunyai rasa damai dalam hidup kita.

Buat orang Kristen, rasa damai yang asli datangnya dari Tuhan. Rasa damai dalam Alkitab setidaknya menyangkut lima hal. Hanya kalau kita mau mengerti dan menerima kelima hal ini kita akan dapat merasakan kedamaian yang penuh.

  • Damai dengan Tuhan: Tuhan dengan kasihNya sudah mengambil inisiatip untuk membuat perdamaian dengan manusia yang sudah sesat. Yesus sudah disalibkan dan darahNya sudah memungkinkan dosa kita untuk dicuci bersih dalam pandangan Tuhan (Yesaya 1: 18).  Kita tidak perlu memikirkan bagaimana kita yang berdosa ini dapat mendekati Tuhan, karena Dia yang sudah lebih dulu menyambut kita sebagai anak yang hilang.
  • Damai dengan sesama: Yesus memerintahkan kita untuk mengasihi sesama manusia, tidak hanya untuk sekedar menjalankan kehendakNya. Tetapi dengan mau mengasihi orang lain kita juga akan lebih sadar bahwa Tuhan sudah lebih dulu mengasihi kita. Dalam mengasihi orang lain dan membina hubungan kasih dengan sesama, kita alan merasakan kedamaian dalam hidup kita. Sebaliknya jika kita hidup dalam kemarahan, dendam dan kebencian, kedamaian tidak dapat kita rasakan dalam hidup kita (Efesus 4: 26-27).
  • Damai dengan masa lalu: Banyak orang Kristen yang selalu teringat akan masa lalunya. Mungkin teringat akan masa-masa kejayaan, saat-saat kemakmuran, atau juga saat dimana mereka membuat kekeliruan dan kebodohan. Akibatnya, mereka selalu dihantui perasaan bahwa mereka adalah orang yang “gagal”. Rasa menyesal dan kekecewaan akan datang mengusir kebahagiaan yang seharusnya ada dalam hidup sekarang yang masih ada. Filipi 3: 13 mengajak kita untuk melupakan masa lalu agar bisa melangkah ke depan.
  • Damai dengan masa kini: Ada juga orang yang mengalami pergulatan denngan hidup masa kini. Mungkin dengan adanya kekurangan, penderitaan, penyakit, perjuamgan dll. yang mereka alami saat ini. Sebaliknya, ada mereka yang berlebihan dalam hidup ini tapi masih juga tidak  dapat merasakan kecukupan. Paulus juga mengalami hal-hal yang serupa, tetapi ia dapat bersyukur dalam keadaan apapun dan merasa cukup dalam kekurangannya (Filipi 4: 11).
  • Damai dengan masa depan: Siapa yang tidak kuatir akan masa depan? Masa depan adalah sesuatu yang tidak bisa kita lihat atau duga. Tetapi, jika kita mau berserah kepada Tuhan dan yakin bahwa Dia akan membawa anak-anakNya ke arah yang baik, kekuatiran kita akan mereda. Kita harus yakin bahwa segala sesuatu akan mendatangkan kebaikan kepada semua umatNya (Roma 8: 28).

Sebelum Yesus meninggalkan murid-muridnya, Ia memberikan damai sejahtera kepada mereka. Ia tahu bahwa sebagai manusia kita sering gelisah dan gentar dalam menghadapi hidup ini. Tetapi apa yang diberikanNya tidaklah seperti kedamaian palsu yang ditopang kepandaian, kekayaan, kesehatan, kemashuran dan kuasa manusia. Apa yang kita terima adalah jauh lebih besar dari itu.

 “….tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” Yohanes 14: 26

Maksud lo apaan?

“Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.”   Roma 8: 8

Ingatkah anda akan lagu ini, yang selalu dinyanyikan di taman kanak-kanak?

Bangun tidur, ku terus mandi…
Tidak lupa menggosok gigi
Habis mandi ku tolong ibu…
Membersihkan tempat tidurku

Lagu ini menggambarkan betapa riang dan sederhana dunia anak-anak, sehingga kegiatan tiap hari hanya terdiri dari tugas-tugas yang itu-itu saja yang bisa dilakukan tanpa memerlukan pertimbangan atau rencana.

Sebagai manusia dewasa,  lagu kehidupan kita berbeda. Segala aktivitas kita biasanya memerlukan pertimbangan mengenai waktu, biaya, kegunaan, untung-rugi, dll. Umumnya, sebagai orang dewasa kita merasa bahwa segala yang kita lakukan haruslah mempunyai maksud tertentu, dan bukannya cuma mengisi waktu kosong. Kalaupun ada waktu senggang, kita biasanya juga merencanakan sesuatu untuk mengisinya dengan suatu kegiatan, seperti menoton TV, makan di mall, dll. Memang apapun yang kita lakukan selalu ada motivasinya, entah itu untuk meperoleh penghasilan, kepandaian, kesenangan atau sekedar mengisi waktu. Motivasi adalah perlu sebab kita tidak berbuat sesuatu hanya untuk sekedar berbuat saja, tanpa maksud atau tujuan apapun. Benarkah begitu?

Dalam hidup kekristenan kita, mungkin kita mempunyai kegiatan rutin seperti berdoa, ke gereja, membaca firman Tuhan, mengurus acara gereja dll. yang sudah biasa kita lakukan. Saking terbiasanya, mungkin kita tidak perlu memikirkannya terlalu dalam. Kita sudah terbiasa dan cukup merasa senang dengan kehidupan kita sehingga kita tidak lagi memikirkan apa yang menjadi motivasi kita dalam melakukan kegiatan-kegiatan itu. Seperti seorang pengemudi mobil yang sudah terbiasa dengan lika-liku jalan raya, tidak lagi memikirkan apa yang harus dilakukannya sepanjang jalan. Begitu juga kita, sebagai orang Kristen, jika hidup kita relatip tenang mungkin kita tidak lagi terbiasa memikirkan hal-hal seperti:

  • Apa arti hidupku sebagai orang Kristen?
  • Mengapa aku disini dan melakukan hal-hal ini?
  • Kemana tujuan hidupku di dunia ini?

Pagi ini kita harus menyadari bahwa motivasi hidup adalah perlu. Tiap orang adalah individu yang harus bertanggung jawab atas segala yang dilakukan dalam hidup. Tanpa kesadaran yang penuh, orang Kristen bisa menjadi seperti “robot” yang bisa berjalan, berkata dan bekerja; tetapi tanpa motivasi yang jelas atau dengan motivasi yang keliru. Motivasi yang sering kita lihat dan dipromosikan banyak pembicara populer umumnya adalah keinginan untuk menolong masyarakat, untuk memperoleh kesuksesan karir, kebanggaan dan kepuasan pribadi.  Namun, motivasi demikian hanyalah bersifat kedagingan. Motivasi hidup orang Kristen yang bisa dibenarkan Tuhan adalah untuk kemuliaan Tuhan saja (Soli Deo Gloria – for His glory only). Inilah yang sukar dalam dilakukan, karena dalam hidup kita Tuhan menghendaki supaya namaNya dibesarkan jika orang melihat apa saja yang kita lakukan.

 “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”  Matius 5: 16

Hari ini, jika kita merencanakan untuk berbuat sesuatu, perlulah kita berhenti sejenak untuk mengintrospeksi diri kita. Biarlah segala apa yang akan kita lakukan mempunyai arti yang dalam, dan bukan sekedar berbuat sesuatu untuk diri kita sendiri. Tuhan melihat segala apa yang kita rencanakan dan perbuat, dan Dia selalu mengetuk pintu hati kita dan bertanya: “Apa maksudmu dengan berbuat itu?” Apakah kita punya waktu dan kemauan untuk memikirkan jawabannya ditengah kesibukan kita?

Bolehkah kita membela diri?

Maka kata Yesus kepadanya: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.” Matius 26: 52

Di jaman ini kita banyak mendengar berita tentang kekacauan dan kerusuhan di berbagai tempat. Masalah persekusi dan penindasan terjadi dimana-mana dan juga dalam rumah tangga. Kasus istri yang disiksa suami, baik secara fisik maupun batin, terjadi tiap hari. Penindasan yang terjadi karena sesorang mempunyai kepercayaan tertentu, jenis etnik tertentu ataupun orientasi seksual tertentu banyak dilaporkan dalam media. Mereka yang kuat menidas yang lemah, dan mereka yang berkuasa menjalankan kuasanya dengan sewenang-wenang.

Orang Kristen adalah orang yang harus mempraktekkan kasih kepada sesama. Tetapi kenyataan hidup sukar diduga. Seringkali kita dihadapkan dengan masalah dimana kita harus menerima umpatan, penistaan dan hujatan dari orang disekitar kita. Yesus mengajarkan bahwa jika kita ditampar di pipi kanan, maka kita seharusnya memberikan pipi kiri juga (Matius 5: 39). Perintah ini adalah mengandung kiasan bahwa jika kita mengalami penghinaan atau umpatan orang lain, kita harus bersabar dan tidak memperburuk suasana dengan melakukan pembalasan.

Yesus dalam ayat Matius 26: 52 di atas mengatakan bahwa orang menggunakan pedang untuk menyerang orang lain akan mati karena pedang. Siapa yang suka menyerang orang lain dengan kekerasan akan hancur karena kekerasan. Jelas bahwa orang Kristen tidak boleh menggunakan kekerasan sebagai modus operandi dalam suasana apapun karena kasih adalah modus operandi Allah dalam mengaruniakan juruselamat manusia, Yesus Kristus (Yohanes 3: 16). Menyerang orang lain dan membalas kelakuan jahat mereka adalah bertentangan dengan prinsip hidup keKristenan kita. Kita harus tetap dapat mengasihi sesama manusia, siapapun dalam keadaan apapun.

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”  Matius 5: 44

Tetapi bagaimana jika kita tidak hanya menghadapi kemarahan, hujatan dan makian tetapi juga mengalami serangan fisik dan batin? Bolehkah kita membela diri? Ini adalah salah satu topik yang sukar dalam keKristenan. Banyak orang yang berkata bahwa kita harus menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan, dan jika perlu kita harus siap untuk berkurban seperti Stefanus, sebagai seorang martir. Tetapi ini tidaklah benar. Penganiayaan, kekerasan, dan persekusi lainnya terjadi di berbagai tempat di dunia yang penuh dosa ini. Dan adalah kenyataan bahwa karena dunia ini tidak sempurna, pemerintah dan hukum tidak selalu dapat mengendalikan suasana. Tuhan tidak membutuhkan “martir-martir” di setiap tempat dan dalam setiap waktu. Orang Kristen boleh dan wajib membela diri dalam batas-batas tertentu, selama itu tidak merupakan penyerangan dan pembalasan.

Mengenai pedang, dalam Lukas 22: 36 Yesus berkata: “Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang.” Waktu itu murid-muridnya menjawab: “Tuhan, ini dua pedang.” Tuhan Yesus menjawab: “Sudah cukup.” Disini Yesus jelas menunjukkan bahwa sebagai pengikutNya, kita juga boleh bersiap untuk membela diri jika keadaan memang membutuhkan. Dalam hal ini kuncinya adalah kebijaksanaan untuk memakai tindakan yang secukupnya, yang sesuai dengan keadaan. Tidak berlebihan, tidak harus berupa tindakan fisik, dan tidak untuk mengandalkan kekuatan kita sendiri. Bukan juga untuk menyerang orang lain atau untuk membalas dendam.

Hidup sebagai orang Kristen adalah hidup yang bertanggung jawab. Tiap-tiap orang Kristen dikaruniai Tuhan kebijaksanaan untuk bisa melihat keadaan dan kepekaan untuk bisa  mengambil keputusan yang terbaik dalam keadaan kritis. Sebagai orang Kristen kita adalah orang yang cintai damai dan harus berusaha menghindari konflik sebisa mungkin. Namun kita juga harus mempunyai keberanian untuk membela diri dan membela orang yang lemah dalam batas-batas hukum yang berlaku.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Lupa itu perlu

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku.” Filipi 3: 13

Dalam hidup ini manusia selalu mengalami masalah dengan soal “lupa”. Waktu saya masih di SD, seringkali guru jadi marah kalau ada murid yang lupa mengerjakan pekerjaan rumah (PR) nya. Maklum, kadangkala banyak juga murid yang bilang lupa. Bukan saja soal PR, tetapi tugas-tugas lainpun sering dijawab murid-murid tertentu dengan singkat dan tegas: “lupa”.

Sesudah dewasa, saya menyadari bahwa jawaban “maaf, kelupaan’ sering kali diucapkan orang kalau terpepet. Orang sudah terbiasa dengan jawaban itu, baik benar-benar lupa atau sekedar alasan. Bukankah semua manusia bisa lupa ditengah kesibukan hidup ini? Lucunya, mereka yang menghutangkan uang kepada orang lain tidak mungkin lupa untuk menagih, sedangkan yang berhutang mungkin mudah untuk lupa bayar. Lupa rupanya juga bisa tergantung sikon dan bisa diatur…..

Manusia memang dikaruniai dengan kemampuan untuk lupa. Jika tidak mungkin otak kita akan jadi terlalu penuh dengan segala kejadian yang pernah kita alami. Apa yang kurang berarti, biasanya mudah terlupakan. Apa yang signifikan dalam hidup ini tentunya tidak mudah terlupa. Contohnya, seorang suami tidak boleh melupakan hari ulang tahun istrinya, kecuali jika usia lanjut sudah membuat kemampuan untuk mengingat menjadi sangat berkurang!

Tuhanpun bisa lupa. Loh, masa begitu? Tuhan kan maha tahu, mana mungkin Dia bisa melupakan segala sesuatu? Memang Tuhan tidak bisa benar-benar lupa, tetapi Dia bisa dengan sengaja melupakan hal-hal tertentu. Tidak mau mengingat lagi.

“Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu.” Yesaya 43: 25

Tuhan dengan kasihNya bisa memutuskan untuk tidak  mengingat-ingat dosa yang pernah kita lakukan karena adanya penebusan darah Kristus.

Bagaimana degan kita sendiri? Bisakah kita melupakan dosa dan kesalahan yang telah kita buat? Untuk sebagian manusia, soal melupakan dosa adalah soal gampang, banyak orang berbuat dosa yang sama setiap hari tanpa merasa menyesal. Hal buruk yang diperbuat mereka kemarin, akan diperbuat lagi hari ini tanpa memikirkan konsekwensinya terhadap Tuhan dan sesama. Sebaliknya, banyak orang Kristen yang selau mengingat-ingat masa lalunya dan karena itu tidak bisa hidup dengan damai karena masa lalu yang selalu menghantui.

Paulus dalam ayat diatas mengatakan bahwa ia mau melupakan apa yang telah terjadi pada masa lalunya dan mengarahkan dirinya kepada apa yang di hadapannya. Ia sengaja melupakan masa lalunya sebagai pemimpin masyarakat yang jaya, berkuasa dan berkecukupan. Ia juga mau melupakan masa lalunya yang penuh dengan hal-hal yang jahat yand dilakukannya kepada pengikut Yesus. Masa lalu Paulus memang penuh dengan hal-hal yang signifikan, yang mustahil untuknya untuk bisa melupakan. Tetapi Paulus sengaja bertekad untuk melupakan apa yang sudah lewat untuk bisa memusatkan diri kepada yang akan datang, yaitu hidup dalam Kristus.

Sekalipun kita mau melupakan apa yang telah terjadi pada masa lalu kita, itu tidaklah mudah untuk melakukannya. Jika kita tidak mendapat pertolongan Roh Kudus yang menguatkan kita, masa lalu kita dapat mencengkeram hidup kita sehingga kita bisa mengalami tekanan spiritual yang berat. Apalagi, iblis sangat pandai untuk mengorek-ngorek masa lalu kita agar kita tidak dapat merasakan kebahagiaan dalam hidup kita (Wahyu 12: 10). 

Maukah kita memasuki minggu ini dengan kemerdekaan dari pengaruh masa lalu kita, baik itu merupakan kejayaan ataupun kebodohan, hingga kita bisa memusatkan perhatian kita kepada apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita? Berdoalah, dan mintalah pertolongan Roh Kudus supaya kita memperoleh kemerdekaan yang penuh dari pengaruh masa lalu kita!

Adakah buah Roh dalam hidup kita?

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5: 22-23

Lebaran akan datang seminggu lagi. Menjelang lebaran selalu identik dengan jalan macet. Begitu banyak orang yang mulai mudik, perjalanan dari Surabaya menuju ke Kertosono misalnya, bisa memakan waktu 3 jam dengan mobil. Berarti kecepatan rata-rata hanya 35 km per jam! 

Membayangkan bagaimana banyak orang yang terjebak dalam kemacetan lalu lintas, pikiran saya melayang. Kalau saja saya bisa tahu apa yang dipikirkan oleh tiap orang yang terjebak dalam kemacetan lalu lintas, tentu saya akan bisa melihat berbagai ragam reaksi manusia: dari kesal, marah, sedih, bingung, frustrasi dll. Lalu, kalau saya memang bisa tahu apa reaksi tiap orang, mungkinkah saya bisa membedakan mana orang Kristen dan mana yang bukan?  

Saya sendiri kadang meragukan kalau Tuhan sekalipun selalu  bisa melihat bedanya. Itu juga pengalaman saya pribadi yang sering bergulat berusaha untuk berbuat baik, namun sering gagal! Bagaimana mungkin dalam keadaan buruk orang Kristen  masih diharapkan untuk tetap mempunyai kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri? Bukankah dalam keadaan yang kurang enak setiap orang akan cenderung kehilangan hal-hal yang baik itu sedikit demi sedikit, seirama dengan pengalaman buruk kita? Paling tidak dalam keadaan yang “normal” kita kan masih dapat menunjukkan segi kebaikan kita? Bukankah setiap orang umumnya ingin belajar untuk berbuat baik dan tidak selalu bisa berhasil?

Memang benar bahwa manusia bisa belajar untuk bisa mengasihi, bersukacita, bersabar, bermurah hati, dll. Tetapi apa yang merupakan usaha manusia tidak akan tahan uji. Tidak asli dan tidak tahan lama. Sewaktu Yesus berkata bahwa dari buahnyalah kita akan mengenal apakah seseorang adalah anak Tuhan (Matius 7: 20), maksud Yesus adalah buah-buah Roh, sifat-sifat baik yang disebabkan karena Roh Kudus bekerja dalam hidup orang itu. Bukan karena hasil usaha manusia itu sendiri. Bukan juga perbuatan dan sikap baik untuk kemuliaan dan kepentingan diri sendiri.

Buah-buah Roh akan dihasilkan manusia yang mengalami transformasi kehidupan secara terus menerus dibawah bimbingan Roh Kudus. Sebagai manusia, orang-orang Kristen bukanlah orang-orang yang sempurna tetapi adalah orang-orang yang mengalami perubahan “one way only” ke arah yang baik karena mereka membiarkan Roh Kudus memimpin hidup mereka. Mereka tidak kembali ke arah kehidupan lamanya, yang hanya berbuahkan rasa benci, marah, dengki, dll. (Galatia 5:  19-21). Mereka yang  dibimbing oleh Roh akan menghasilkan buah-buah Roh yang asli dan tahan uji,  sebagai pengikut Yesus yang sejati.

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Aji mumpung

“Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!” Lukas 12: 19

Siapakah yang tidak menyukai kesempatan makan enak, minum segar dan bergembira bersama sanak dan teman? Let’s eat and drink and be merry, begitulah ungkapan yang terkenal sepanjang masa. Marilah kita bersenang-senang karena mungkin tidak ada hari esok! Mumpung masih hidup!

Tidak hanya mereka yang sudah tua yang berusaha menikmati hidup, anak mudapun sering berpesta pora seakan menikmati hari terakhir. Diluar negeri, kita mungkin bisa melihat hal semacam ini di akhir pekan, dimana orang makan minum dan bahkan mabuk, hanya untuk bisa menikmati hari itu.

Makan minum dan menikmati hidup, apakah itu salah? Berwisata kuliner atau ikut cruise atau tour ke luar negeri selagi masih bisa, apa tidak boleh? Menikmati hari tua selagi masih sehat, itu kan baik? Menikmati masa muda selagi masih bebas, apakah itu tidak pada tempatnya? 

Ajakan untuk makan, minum dan bersenang-senang memang ada dalam beberapa ayat Alkitab (seperti Yesaya 22: 13, Pengkhottbah 8:15, 1 Korintus 15:32 dan Lukas 12:19). Tetapi apa yang dilakukan oleh manusia di dunia ini sering bertentangan dengan pesan Alkitab. Aji mumpung di dunia pada umumnya bersifat negatip karena bermaksud untuk melakukan apa saja yang dimaui selagi masih bisa. Alkitab sebaliknya berpesan bahwa selagi kita bisa, sebaiknya kita memanfaatkan hidup untuk kemuliaan Tuhan dan kebaikan sesama manusia.

Sebagai orang Kristen kita tidak sepatutnya hidup untuk bersenang-senang dan berpesta-pora untuk memperoleh kepuasan jasmani semata. Sebaliknya  kita harus hidup didalam kebahagiaan dalam Kristus (Yohanes 15: 10-11):

“Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.”

Marilah kita memakai hidup kita hari ini untuk berjalan sesuai dengan FirmanNya, supaya kita benar-benar bisa makan, minum dan bersuka cita dalam kecukupan yang telah diberikan Tuhan kepada setiap umatNya.

“Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” 1 Timotius 6: 7-8.

Ngantri donk!

“Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.” 1 Korintus 14: 40


MENGAPA GURU DI NEGARA MAJU LEBIH KHAWATIR JIKA MURIDNYA TIDAK BISA MENGANTRI KETIMBANG TIDAK BISA MATEMATIKA ?  

Begitulah tulisan sesorang yang disebar-luaskan lewat sosial media dan dikagumi oleh banyak pembaca. Tulisan yang bernada menyindir keadaan setempat yang kurang mengenal etika mengantri. Tidaklah benar bahwa guru di luar negeri lebih khawatir tentang soal mengantri daripada matematika, namun tulisan itu ada benarnya: mengantri itu hal yang penting. Tanpa mengantri, kekacauan akan terjadi karena orang berebut untuk mencari posisi terdepan.

Bagaimana dengan ngantri ke surga? Bukan hanya dalam cerita sinetron TV, memang kita semua mengantri untuk ke surga. Tetapi kebanyakan orang tidak mau berlomba maju ke depan antrian, semua malah pada mau dibelakang! Manusia memang mau enaknya saja, manusia memang cenderung mementingkan diri sendiri.

Beberapa bulan yang lalu, saya pergi ke sebuah shopping centre besar di Brisbane. Saat itu lagi ramai-ramainya orang berbelanja. Setelah berputar-purar mencari tempat parkir, saya menemukan tempat dimana ada seorang pengemudi yang bersiap untuk keluar dari tempat parkirnya. Sayapun menunggu dengan sabar dibelakangnya. Baru saja mobil itu keluar, tahu-tahu ada mobil yang menyerobot dari samping saya dan mengambil tempat parkir itu! Saya hanya bisa menggerutu …Orang itu adalah seorang pencuri!

Mengantri adalah etika untuk menjunjung “law and order”, hukum dan tata cara, yang harus dipraktekkan dalam hidup kekristenan.  Apakah Alkitab pernah membahas soal ini? Barangkali tidak. Budaya antri itu tidak sama diantara banga-bangsa dan biasanya berkembang seirama dengan etiket-etiket yang  lain. Alkitab tidak membahas segala segi kehidupan manusia secara mendetail. Pusat perhatian Alkitab adalah Yesus Kristus dan pengurbananNya. Namun, Alkitab memberikan pedoman-pedoman penting yang bisa diterapkan dalam semua segi kehidupan manusia (Matius 22: 37-39):

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Etika dan etiket orang Kristen sudah seharusnya merupakan pelaksanaan perintah Tuhan diatas. Untuk bisa mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan, kita harus bisa mengasihi sesama manusia yang kelihatan (1 Yoh 4: 20). Lebih dari itu, etika dan etiket adalah usaha manusia untuk hidup secara beradab, sopan dan teratur karena itulah yang disenangi Tuhan kita. Tuhan bukanlah Tuhan yang menginginkan kekacauan (1 Korintus 14: 40).

Mengantri juga menyangkut soal kejujuran. Siapa yang tidak mau mengantri, pada hakekatnya mengambil hak orang lain. Siapa yang mengantri sambil “mewakili” orang lain  sehingga orang itu tidak perlu ikut mengantri, mungkin bisa digolongkan sebagai pembantu pencuri. Di gerejapun, kita sering melihat hal semacam ini ketika seseorang menaruh tas atau barang-barangnya di beberapa kursi untuk teman atau anggota keluarga yang belum datang.

Soal mengantri memang dianggap remeh oleh sebagian orang, tetapi untuk orang Kristen adalah soal serius:  soal kasih.

“Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.” 1 Yohanes 4: 21