Cinta uang adalah akar kejahatan

KataNya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Lukas 12: 15

Siapakah yang mau dikatakan cinta uang alias tamak? Saya kira tidak ada seorang pun. Tamak mempunyai konotasi yang jelek sebab kata itu dihubungkan dengan keserakahan dan kerakusan akan uang. Memang, sering kali orang menghubungkan ketamakan dengan tingkah laku yang tercela untuk memperoleh keuntungan materi, seperti korupsi, penggelapan uang atau perampasan harta orang lain.

Banyak orang yang berpikir bahwa orang kaya adalah identik dengan orang yang tamak. Karena tamak, orang bisa menjadi kaya, dan orang yang kaya tentunya tamak. Begitu alasannya. Oleh karena itu ada orang Kristen yang berpendapat bahwa kekayaan adalah bertentangan dengan iman. Tentu saja, pendapat seperti itu adalah tidak benar.

Pada pihak yang lain, apakah orang Kristen boleh hidup untuk mengejar kekayaan? Dalam hal ini jawabnya adalah tegas. Alkitab menyatakan dalam ayat di atas bahwa sekalipun kita dapat memperoleh harta yang berlimpah-limpah, kita tidak bisa dijamin akan berhahagia karena hidup kita tidak tergantung padanya. Alkitab justru memberi peringatan yang tegas:

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 10

Dalam sejarah bisnis internasional, banyak contoh kejatuhan orang karena ketamakan dan kesembronoan. Yang baru-baru ini terjadi adalah bangkrutnya bursa uang kripto (“uang dunia maya”) bernama FTX yang dulunya dianggap sebagai “pabrik uang”.Mantan bos FTX, Sam Bankman-Fried disebut jadi penyebab kebangkrutan perusahaannya sendiri. Dalam pengadilan kebangkrutan Amerika Serikat disebutkan runtuhnya raksasa bursa kripto itu setelah ‘dijalankan sebagai milik pribadi Sam Bankman-Fried’. Memang, semasa jaya, Sam Bankman-Fried pernah berkata bahwa ia akan menjadi orang terkaya sedunia. Kebangkrutan FTX dianggap sebagai salah satu keruntuhan yang paling mendadak dan rumit dalam sejarah perusahaan Amerika.

Sam Bankman-Fried menjalankan FTX yang bernilai US$32 miliar. Namun dia nyatanya tidak punya kemampuan mengontrol uang paling mendasar sekalipun, dan karena itu sekarang kebangkrutan ini bisa dipahami. Gaya hidup Sam Bankman-Fried juga jadi bahan pembicaraan dalam pengadilan tersebut. Pria berusia 30 tahun itu dilaporkan menghabiskan US$300 juta untuk penyediaan rumah liburan dan properti bagi staf seniornya.

FTX mengajukan status bangkrut setelah perusahaan itu runtuh pada awal bulan November 2022. Ada lebih dari 1 juta investor di FTX dan kemungkinan uang mereka tidak bisa kembali didapatkan. Mereka terbujuk oleh promosi FTX yang menjanjikan untung besar dalam waktu singkat. Belum diketahui berapa banyak uang yang tertahan di FTX. Lebih parah lagi, sekarang diketahui bahwa aset uang kripto milik beberapa perusahaan telah dicuri oleh hacker.

Uang memang bisa membawa kebahagiaan, tetapi juga penderitaan. Banyak orang berpendapat bahwa jika ada uang, kebahagiaan akan mudah diperoleh. Bagi sebagian orang, uang mungkin identik dengan berkat dan kasih Tuhan. Sebaliknya, banyak orang yang merasa bahwa penderitaan hidup disebabkan oleh tidak adanya uang atau karena adanya uang yang harus dikeluarkan. Bagi mereka, kehilangan uang mungkin berarti kehilangan berkat dan kasih Tuhan. Bukankah Tuhan yang mahakaya dan mahakasih mengerti bahwa manusia memerlukan uang untuk hidup di dunia dan senang jika mempunyai banyak uang?

Menurut dunia, uang memang kunci kehidupan. Menurut dunia kebahagiaan dan penderitaan bisa diukur dengan uang yang masuk atau uang yang keluar.  Tetapi firman Tuhan di atas berkata bahwa hidup manusia tidak bergantung pada kekayaannya; sebab sekalipun seorang berlimpah-limpah hartanya, kebahagiaan belum tentu datang. Hal yang sebaliknya justru sering terjadi: karena harta yang berlimpah-limpah seorang bisa kehilangan Tuhannya dan mengalami kehampaan hidup. Walaupun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa mereka yang hidup dalam kekurangan bisa merasakan bahwa hidup ini sangat berat dan Tuhan itu tampak jauh.

Dengan demikian, manakah yang lebih baik: menjadi orang kaya atau orang miskin? Jika kemakmuran bisa membuat orang jauh dari Tuhan, kemiskinan juga bisa mempunyai akibat yang serupa. Menurut ayat di atas, apa yang penting bagi kita adalah untuk menghindari ketamakan. Ketamakan bukanlah monopoli orang yang kaya saja: mereka yang kaya bisa menjadi tamak karena kecintaan kepada harta, tetapi mereka yang berkekurangan bisa menjadi tamak karena kerinduan untuk memperoleh harta. Dengan demikian, baik kaya atau miskin, orang bisa saja menjadi tamak. Orang yang tamak selalu ingin memperoleh harta yang lebih dari apa yang sudah dimilikinya.

Hari ini kita diingatkan bahwa ketamakan membuat orang lupa bahwa hidupnya hanya bergantung kepada Tuhan. Ini adalah bencana. Dengan mengejar kekayaan orang bisa jatuh kedalam berbagai pencobaan dan karena cinta akan uang orang bisa melakukan berbagai kejahatan (1 Timotius 6: 9 – 10). Mereka yang siang malam memikirkan harta, pada akhirnya bisa mendewakan harta dan kehilangan Tuhan. Karena itu, seperti Paulus kita harus mau melatih diri agar bisa merasa cukup dalam setiap keadaan, baik itu kelimpahan ataupun kekurangan.

“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 11 – 13

Jangan sampai tersesat!

“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6: 7-10

Memasuki bulan Desember, suasana liburan sudah mulai terasa di Australia. Mulai tanggal 10 Desember 2022 liburan panjang sekolah akan dimulai, dan berlangsung sampai 18 Januari 2023. Banyak keluarga yang sudah merencanakan acara liburan mereka, termasuk acara camping atau berkemah di tempat yang jauh dari kesibukan kota besar. Ini tentunya perlu persiapan yang baik, termasuk mempelajari jurusan dan jalan untuk mencapai tempat tujuan. Memang, dalam berpergian ke tempat asing adalah kurang menyenangkan jika kita tidak dapat menemukan jalan untuk mencapai tujuan kita. Mungkin jalan yang kita pilih pada mulanya tidak memberi kesan bahwa jalan itu adalah jalan yang keliru, tetapi kemudian kita bisa sadar bahwa kita telah tersesat. Kesadaran itu mungkin timbul karena apa yang kita tuju tidak kunjung terlihat, atau karena suasana di sekitar kita yang terasa asing, atau mungkin juga karena ada orang lain yang menyadarkan kita.

Kesadaran saja, bahwa kita harus berganti haluan, tidak bisa menjamin bahwa kita akan menemukan jurusan yang benar. Tanpa mengganti jurusan, kita mungkin tidak bisa mencapai tujuan kita. Juga, tanpa memakai suatu pedoman arah, tidaklah mudah untuk memastikan kemana kita harus pergi. Dan sekalipun kita mempunyai pedoman arah, pengertian kita mungkin keliru. Memang jika kita benar-benar berada di tempat yang asing, kita harus selalu berhati-hati dan mau mempelajari medan.

Seperti itu jugalah hidup kita sebagai orang Kristen yang menuju ke tempat yang asing untuk kita yaitu surga. Banyak orang Kristen yang masih percaya bahwa mereka menuju ke surga melalui jalan tertentu, tetapi orang lain juga bisa menuju ke tempat yang sama melalui jalan lain. Padahal, pedoman arah kita, Alkitab, menulis bahwa Yesus berkata:

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6

Jika kita tahu bahwa ada satu jalan menuju ke arah keselamatan, ada sebuah pertanyaan yang sering menggelitik kita: apakah kita bisa tersesat dalam perjalanan hidup ini? Ayat yang ditulis rasul Paulus kepada jemaat di Galatia di atas menunjukkan bahwa orang percaya bisa saja tersesat. Jemaat Galatia pada waktu itu terancam ajaran sesat yang mengharuskan orang non Yahudi untuk disunat sebagai syarat keselamatan. Seperti itu juga, di zaman ini, dimana “semangat persahabatan” antar umat Kristen lagi sering didengung-dengungkan, orang mungkin ragu untuk menolak ajaran orang lain. Tetapi, Paulus jelas tidak ragu untuk mengingatkan jika kita tidak mempunyai kesetiaan sejati kepada Kristus saja, kita mungkin sudah jatuh kedalam tipuan iblis. Ternyata, umat Kristen yang percaya kepada Yesus bisa saja tersesat jika kepercayaan kita kepada-Nya tidak lagi murni berdasarkan Alkitab.

Hari ini kita diingatkan bahwa menjalani hidup kekristenan itu tidak mudah. Jika kita tidak selalu awas akan arah iman kita dan selalu memakai pedoman arah kita, Alkitab, dengan benar, kita akan bisa tersesat. Ada begitu banyak orang yang menunjukkan berbagai arah dan jurusan menuju kearah surga, dan ada begitu banyak orang yang percaya perlunya untuk mempunyai hal-hal ekstra diluar Yesus; semua itu bisa-bisa adalah tipu daya iblis yang berusaha menipu kita. Selain itu, ajaran yang memastikan bahwa kita bisa menjadi umat-Nya tanpa adanya keinginan untuk berbuat baik adalah ajaran yang keliru.

Kita harus sadar bahwa seperti dalam melakukan perjalanan wisata kita harus selalu mau mempelajari medan dan memakai pedoman arah, dalam perjalanan hidup keimanan kita harus selalu mau mempelajari apakah yang kita percayai sudah dan tetap sesuai dengan firman Tuhan. Lebih dari itu, kita harus giat melakukan apa yang baik, yang memuliakan Tuhan, dan bukan apa yang memuliakan diri kita sendiri.

“Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 15-16

Bagaimana caranya membalas kasih Tuhan?

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8

Kesempatan untuk mengunjungi dan tinggal di berbagai negara bisa memberi pelajaran kepada siapa pun bahwa setiap suku bangsa mempunyai adat istiadat dan etika yang berbeda. Walaupun begitu, ada satu hal yang selalu ada dimanapun kita berada, yaitu ucapan terima kasih. Dimana saja, setiap orang yang mempunyai sopan santun, selalu mengucapkan terima kasih atas pemberian dan pertolongan orang lain. Jika apa yang diterima dari orang lain cukup besar artinya, mungkin juga ada keinginan untuk membalas budi selain mengucapkan terima kasih.

Pernyataan syukur kepada Tuhan adalah wujud rasa terima kasih kita kepada-Nya. Alkitab mencatat bahwa dari mulanya, Tuhan menghendaki dan menghargai persembahan syukur dari manusia ciptaan-Nya. Kain dan Habil mempersembahkan korban syukur dengan caranya masing-masing, tetapi hanya persembahan Habil yang diterima Tuhan (Kejadian 4: 3 – 4). Rupanya Tuhan mempunyai selera tersendiri dalam hal menerima pernyataan syukur manusia. Karena itu, dalam mempersembahkan syukur kita kepada Tuhan, kita tidak boleh melakukannya menurut apa yang kita senangi, tetapi sesuai dengan apa yang Tuhan sukai.

Adalah kenyataan hidup bahwa banyak manusia yang senang menerima, tetapi kurang suka memberi. Ini juga berlaku dalam hubungan manusia Kristen dengan Tuhan. Sebagian besar manusia hanya berdoa kepada Tuhan untuk memohon sesuatu, terutama jika situasi hidup menjadi berat. Namun, manusia cenderung untuk menerima kasih dan berkat Tuhan seperti sesuatu yang sudah selayaknya diterima dan lupa untuk bersyukur.

Ayat diatas menyebutkan bahwa ketika kita masih hidup dalam dosa, Kristus sudah mati untuk ganti kita. Kita menerima keselamatan karena Tuhan sudah lebih dulu menyatakan kasihNya. Apa yang bisa kita lakukan untuk menyatakan rasa terima kasih kita? Sebagian orang merasa bahwa karena keselamatan itu datang dari Tuhan dan bukan karena perbuatan kita, kita tidak perlu menekankan pentingnya hal berbuat baik untuk Tuhan. Ini aneh.

Yesus tidak meninggalkan kita dengan keraguan tentang apa artinya mengasihi Allah. Dalam Yohanes 14:23, Dia berkata, “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.” Yesus telah menjelaskan dengan sangat jelas bahwa mengasihi Dia berarti menaati-Nya dan, dalam Yohanes 15:10, Dia memberi tahu kita, “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.”

Jadi, kasih Yesus bagi kita bukanlah hal yang ringan dan tanpa syarat seperti yang dipikirkan banyak orang; kita harus tetap berada dalam kasih-Nya jika kita taat pada perintah-Nya. Jika kita tidak menaati perintah ini maka kita tidak akan tinggal di dalam kasih-Nya dan tidak akan mewarisi hidup yang kekal karena, dalam Yohanes 15:6, Dia berkata, “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.”

Selain itu, Paulus dalam kitab Roma 12:1 menulis tentang persembahan apa yang patut untuk Tuhan: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa Tuhan yang sudah memberikan berbagai berkat dalam hidup kita, tidaklah menganggap uang, tenaga atau materi sebagai hal yang utama untuk dipersembahkan kepada-Nya. Semua itu baik, tetapi terlalu kecil bagi-Nya. Bagi Dia yang sudah memberikan hidup baru dan keselamatan yang sejati kepada kita, tidak ada yang lebih patut untuk dipersembahkan kepada-Nya, kecuali seluruh hidup kita. Biarlah apapun yang kita kerjakan dan jalani dalam hidup ini bisa kita gunakan untuk memuliakan Dia!

Tujuan dan cara adalah suatu kesatuan

“Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.” Filipi 1: 9 – 11

Tahukah Anda bahwa ada Alkitab buatan Cina? Amity Printing Company adalah satu-satunya percetakan di Cina yang diizinkan oleh pemerintah komunis untuk mencetak Alkitab. Amity bisa mencetak jutaan Alkitab dalam setahun, namun dari jumlah tersebut, hanya sebagian kecil yang terjual di Cina. Sebagian besar Alkitab dicetak dalam bahasa lain dan diekspor ke lebih dari 60 negara. Saat ini Alkitab mungkin hanya dapat dibeli secara legal di toko buku gereja yang terdaftar pemerintah. Alkitab tidak tersedia di toko buku biasa, meskipun kitab suci Buddha, Islam, dan ateisme, bisa dibeli dengan bebas. Karena itulah, ada beberapa organisasi di luar Cina yang mendatangkan Alkitab ke Cina melalui jalan gelap: penyelundupan.

Sebagian pimpinan organisasi Kristen menyatakan bahwa bahwa mereka tidak setuju dengan pandangan bahwa kita tidak boleh melakukan sesuatu yang ilegal sekalipun itu untuk maksud yang baik. Mereka berpendapat bahwa jika orang Kristen dibatasi oleh pandangan itu, kesimpulan logisnya adalah sebagian besar dunia tidak akan diinjili. Untuk menginjil, kita boleh melakukan hal yang melawan hukum suatu negara. Pada pihak yang lain, ada tokoh-tokoh Kristen lain yang tidak setuju atas pandangan “tujuan menghalakan cara”, dan menyatakan bahwa penyelundupan Alkitab lebih banyak bahayanya daripada manfaatnya. Penyelundup dapat diusir dari negara itu, tetapi dampaknya bisa lebih serius bagi orang percaya di negara itu. Bagaimana pendapat Anda?

Paulus dalam ayat diatas menulis tentang doanya untuk jemaat di Filipi agar kasih mereka makin melimpah dalam pengetahuan yang benar (knowledge), sehingga mereka dapat mempunyai kemampuan untuk memilih apa yang baik (discernment), dan supaya mereka bisa hidup dalam kejujuran (sincerity) dan tak hidup dalam dosa (blameless). Lebih dari itu, Paulus berdoa agar mereka bisa menghasilkan berbagai perbuatan yang baik melalui Yesus (good works) untuk memuliakan Allah. Kasih umat Kristen, berbeda dengan cinta duniawi, ternyata tidak buta. Adanya kasih tidak menghalalkan segala cara untuk menyatakannya. Kasih bertujuan untuk memuliakan Tuhan yang sudah lebih dulu mengasihi kita. Karena itu kita harus bisa memilih cara yang benar untuk menyatakannya. Cara yang sesuai dengan kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan kepada kita.

Kasih yang harus dipunyai setiap orang Kristen bukanlah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan dengan membabi-buta tanpa pikir. Sebaliknya, jika umat Kristen ingin untuk bisa mengasihi sesamanya, mereka harus berdoa agar mereka bisa melakukannya dengan bijaksana agar bisa memilih apa yang baik dan berguna bagi hidup mereka dan bagi hidup orang lain. Kasih yang dinyatakan dengan cara yang sesuai dengan Firman Tuhan. Kasih yang benar tidak akan mengurbankan prinsip-prinsip kejujuran dan kesucian hidup yang dituntut Tuhan, dan kasih yang benar selalu dapat menghasilkan apa yang baik sesuai dengan firman Tuhan. Kasih surgawi tidak semudah atau semurah cinta duniawi. Kasih datang dari Allah dan kita harus mengerti apa yang dikehendaki-Nya untuk dapat mengasihi. Inilah yang juga pernah didoakan Paulus untuk jemaat di Efesus.

‘Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.”  Efesus 3: 18 – 19

Hari ini, mungkin kita ingin menyatakan kasih kita kepada orang lain, kepada teman, sanak atau pun keluarga. Mungkin kita ingin agar membuat mereka berbahagia dengan berbagai perhatian, pemberian atau pengurbanan. Tetapi firman Tuhan berkata bahwa untuk bisa memberi kasih yang benar kita harus mempunyai kebijaksanaan, dan bisa membedakan apa yang baik dan apa yang buruk. Kasih yang benar adalah kasih yang membangun hidup orang lain didalam Kristus, kasih yang seperti kasih Kristus adalah kasih yang membawa orang kearah keselamatan, bukan ke arah kehancuran dalam impian. Kasih yang benar akan mempertahankan apa yang baik dan menghilangkan apa yang buruk dari hidup kita dan hidup orang lain, agar hidup kita dan orang-orang yang kita kasihi bisa membawa kemuliaan kepada Tuhan.

Bola itu bundar, tetapi pasti bisa diarahkan

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Yeremia 29: 11

Demam sepakbola saat ini agaknya sedang menguasai dunia. Bagaimana tidak? Sepakbola adalah jenis olahraga yang paling populer di dunia, dan dari masa kanak-kanak sampai usia uzur, orang bisa bermain dengan bola. Sekalipun demikian, sepakbola adalah jenis sport yang membutuhkan kerjasama tim yang tinggi. Sehubungan dengan itu, dalam pertandingan sepakbola, angka skor yang dihasilkan biasanya kecil dan terkadang tidak ada sama sekali, alias skor 0-0, sampai akhir waktu. Orang mengatakan bahwa dalam sepakbola, hasilnya sulit diterka karena “bola itu bundar”. Ini agak aneh menurut saya. Tentu saja dalam bermain sepakbola, bolanya harus bundar karena jika tidak, tentunya sulit untuk diarahkan. Justru karena bola itu bundar, arahnya bisa ditentukan untuk berakhir di gawang. Bola itu bundar, tapi pasti bisa diarahkan.

Seperti orang yang kurang yakin bahwa bola itu bisa dikontrol pemainnya dan tidak menggelinding tanpa tujuan yag pasti, manusia memang sering kuatir tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Mereka yang tidak mengenal Tuhan, mungkin percaya bahwa hidup ini untung-untungan. Karena itu, selagi masih bisa, mereka ingin menggunakan segala kesempatan yang ada untuk menikmati hidup dan segala yang ada. Tetapi ada juga orang yang selalu hidup dalam kekuatiran karena keadaan dunia yang nampaknya semakin buruk, bagai bola bundar yang bisa menggelinding ke mana saja. Bagi kita yang mengenal Yesus, mungkin kita ingat bahwa kekuatiran itu tidak berguna.

Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” Matius 6: 27

Walaupun demikian, mungkin sering juga kita bertanya-tanya apa yang akan terjadi dalam hidup kita dan orang-orang beriman lainnya di masa mendatang, jika keadaan dunia semakin buruk. Ayat dari kitab Yeremia diatas adalah ayat terkenal, yang aslinya untuk umat Israel yang dalam pengasingan, tetapi ayat yang juga sering dipakai untuk menguatkan mereka yang menderita di zaman ini, karena seperti bani Israel, kita pun orang pilihan Tuhan. Bahwa Tuhan mempunyai rancangan damai sejahtera untuk umat-Nya dan bukannya rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada kita hari depan yang penuh harapan.

Tuhan tidak berniat memberi umat-Nya kecelakaan. Tuhan yang sudah merencanakan penyelamatan manusia sejak jatuhnya Adam dan Hawa kedalam dosa, tidak mungkin mempunyai rencana buruk untuk mencelakakan mereka. Inilah yang harus kita pegang sebagai iman, bahwa dalam keadaan apapun kasih Tuhan tidak berubah. Kasih-Nya sama, dari dulu, sekarang dan untuk selama-lamanya. Tuhan tidak akan membiarkan kita hancur, karena rencana-Nya dari awal adalah membawa setiap umat-Nya mencapai hidup kekal bersama-Nya.

Memang benar bahwa apa yang terjadi di dunia tidak selalu membuat kita merasa dikuatkan. Sebaliknya, banyak hal yang bisa membuat kita takut atau kuatir. Dosa adalah faktor perusak kehidupan nanusia. Tetapi, sebagai orang percaya kita harus yakin bahwa itu pun ada dalam kuasa Tuhan. God is always in control.

Satu hal yang harus kita mengerti ialah bahwa Tuhan menghendaki umat-Nya untuk bisa kuat, yakin dan bahkan berbahagia dalam keadaan apa pun (Matius 5: 3 – 12). Tetapi iblislah yang ingin membuat kita menderita dan takut sekalipun tidak ada yang perlu kita kuatirkan. Karena itu, tidaklah mengherankan jika ada banyak berita di media, dan bahkan di gereja, yang bisa menyesatkan dan melemahkan iman kita. Setiap kabar yang membuat kita meragukan rancangan damai sejahtera Tuhan harus mengingatkan kita akan usaha iblis untuk mencerai-beraikan umat Tuhan.

Hari ini, marilah kita berdoa untuk menyerahkan segala kekuatiran dan ketakutan kita kepada Tuhan. Hidup kita bukanlah seperti bola yang menggelinding tanpa tujuan jika kita menyerahkannya kepaada Tuhan. Dialah yang mempunyai rancangan yang terbaik untuk setiap orang yang percaya!

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. Sadarlah dan berjaga-jagalah!, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. 1 Petrus 5: 7-9

Mengapa ingin tahu apa kehendak Tuhan yang belum dinyatakan?

Dan Saul bertanya kepada TUHAN, tetapi TUHAN tidak menjawab dia, baik dengan mimpi, baik dengan Urim, baik dengan perantaraan para nabi. Lalu berkatalah Saul kepada para pegawainya: “Carilah bagiku seorang perempuan yang sanggup memanggil arwah; maka aku hendak pergi kepadanya dan meminta petunjuk kepadanya.” Para pegawainya menjawab dia: “Di En-Dor ada seorang perempuan yang sanggup memanggil arwah.” 1 Samuel 28: 6-7

Anda senang menonton bola? Saat ini perebutan Piala Dunia (World Cup) lagi berlangsung di Qatar. Banyak orang bukan saja senang menonton, tetapi juga gemar bertaruh uang dengan menebak siapa pemenang pertandingan antara dua tim tertentu setiap harinya. Tenntunya semua orang berharap atas kemenangan tim yang didukung mereka. Tetapi tim mana yang menang tentunya tidak mudah diterka, dan karena itu ada istilah “bola itu bundar”. Karena bola itu bundar dan bisa bergulir ke mana saja, segala kemungkinan bisa terjadi. Tim yang dipandang kuat bisa saja kalah dari tim yang dipandang lebih lemah. Lalu, tim mana yang kira-kira akan menjuarai Piala Dunia? Hanya Tuhan yang tahu, sekalipun ada banyak peramal yang menyatakan tim ini atau tim itu yang akan menjadi juara.

Ketidaktahuan manusia akan apa yang akan terjadi di hari depan sebenarnya adalah berkat Tuhan, karena dengan itu manusia bisa menggantungkan hidup mereka sepenuhnya kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Persis seperti keadaan di taman Firdaus, sebelum Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Tetapi, karena manusia ingin menjadi seperti Tuhan yang mahatahu, mereka selalu berusaha dengan segala cara untuk mengetahui apa yang akan terjadi dalam hidup mereka agar bisa melakukan sesuatu sebelumnya.

Raja Saul, sebagai contoh, menemui seorang dukun untuk bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya dan bani Israel (1 Samuel 28: 3 -25). Raja Saul pada saat itu merasa bahwa ia tidak dapat memperoleh petunjuk dari Tuhan karena ia sudah hidup jauh dari Tuhan. Dalam kekuatirannya ia ingin mencari jawab dari arwah manusia yang sudah meninggal. Ini adalah tindakan yang sebenarnya bertentangan dengan larangan untuk praktik perdukunan atau peramal yang ditetapkan oleh Raja Saul sendiri. Sudah tentu, tidak ada manusia yang bisa memanggil roh manusia yang sudah meninggal. Besar kemungkinan bahwa Iblis memanfaatkan kesempatan itu dengan menampilkan sosok Samuel yang sebenarnya sudah bersama Tuhan dan tidak mungkin datang menjumpai Saul. Sebagian “ramalan” iblis memang bisa terjadi, tetapi kematian Saul dengan bunuh diri adalah tragis dan merupakan kelanjutan dosa Saul sendiri, karena ketakutan yang timbul setelah mendengar ramalan itu.

Dalam lingkungan gereja pun, ada orang-orang yang senang mencari “informasi” tentang masa depan, dan ada yang sering menyampaikan “nubuat” tentang berbagai hal. Nubuat semacam itu harus dianalisa isi, tujuan dan akurasinya. Memang, jika Tuhan mau menyatakan sesuatu kepada manusia, itu bisa dilakukan melalui orang-orang tertentu yang dikaruniai Tuhan. Tetapi, itu jarang terjadi dan biasanya muncul secara spesifik untuk hal yang sangat urgen yang akan terjadi. Nubuat bukan untuk membawa kemuliaan kepada si pembawa atau manusia lain, tetapi untuk membawa orang kepada pengenalan akan kebesaran Tuhan. Untuk memberitakan nubuat, seseorang harus dipilih Tuhan pada saat tertentu dan karena itu cara bernubuat tidak bisa dipelajari manusia. Nubuat Tuhan pasti terjadi dan jika ada yang tidak terjadi, itu menunjukkan adanya kepalsuan.

Sadar atau tidak, mereka yang selalu ingin melihat apa yang terjadi di masa depan, sebenarnya ingin untuk mengungguli kehendak Tuhan. Mereka yang merasa bisa meramalkan masa depan, seringkali mengalihkan perhatian orang lain dari Tuhan kepada diri mereka sendiri. Mereka yang terlibat dalam usaha memperoleh pengertahuan akan apa yang belum dinyatakan Tuhan pada akhirnyajatuh dalam penyembahan berhala dan kebodohan yang membawa amarah Tuhan seperti apa yang terjadi pada Rraja Saul.

Jika kita membaca Alkitab dari ujung ke ujung, kita tahu bahwa ada satu oknum yang selalu ingin untuk mengungguli kehendak Tuhan. Iblis dulunya adalah malaikat ciptaan Tuhan yang berpenampilan luar biasa yang merasa lebih hebat dari Tuhan (Yesaya 14: 12 – 14). Iblislah yang membuat manusia jatuh ke dalam dosa dengan mengalihkan perhatian Adam dan Hawa ke arah buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, dan iblis jugalah yang sampai sekarang berusaha mengalihkan pandangan kita, dari kebesaran Tuhan kepada dirinya sendiri, dengan melakukan berbagai trik dan tipu muslihat yang mempesona agar kita terlena. Iblis jugalah yang membuat kita mengabaikan kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan dalam Alkitab, tetapi justru ingin untuk mengetahui kehendak-Nya yang belum dinyatakan.

Sudah tentu mereka yang benar-benar beriman kepada Tuhan akan berusaha menghindari tipu daya iblis. Tetapi, keadaan di sekeliling manusia bisa menimbulkan keinginan untuk bisa melihat dan mengatur masa depan mereka. Dengan demikian, manusia bisa jatuh dalam dosa karena tidak mempercayai Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana. Manusia kemudian mudah jatuh kedalam tipu daya ramalan iblis. Manusia jatuh dalam dosa memuja ilah lain, dan itu bisa berbentuk manusia, benda, tempat keramat, ilmu pengetahuan dan sebagainya .

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita untuk hanya mempercayai Dia dalam menghadapi masa depan. Dalam keadaan apap un, kita harus bisa mengatasi dorongan iblis untuk melupakan Tuhan dan kuasa serta kasih-Nya. Jika hidup kita saat ini mengalami berbagai kesulitan dan bahaya, itu adalah kesempatan bagi kita untuk makin dekat kepada Tuhan dan bukannya melarikan diri kepada orang-orang atau cara-cara analisa modern yang nampaknya bisa memberi bimbingan, jaminan, dan pertolongan melalui ramalan masa depan. Semoga kita selalu taat kepada Tuhan dan menghindari bujukan iblis!

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7

Apa arti bermegah dalam Tuhan

“Beginilah firman TUHAN: “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.” Yeremia 9: 23 – 24

Kata “bermegah” muncul dalam Alkitab lebih dari 50 kali. Apa arti kata bermegah? Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kata megah mempunyai beberapa arti: (1) tampak mengagumkan (karena besarnya, indahnya, dan sebagainya; gagah kuat; mulia, masyhur; (2) bangga. Dengan demikian, kata bermegah dapat diartikan sebagai (1) mempunyai sifat megah; (2) membanggakan (membesarkan, menyombongkan) diri; berlaku ingin lebih megah daripada yang lain.

Jika mobil mewah dapat memberi kebanggaan kepada pemiliknya, rumah mewah atau kapal pesiar yang dimiliki sesorang juga bisa membuat orang kagum. Begitu juga, orang yang nampaknya pandai, bijaksana atau saleh bisa merasa bangga atas perhatian dan rasa hormat yang diberikan orang lain. Bagaimana pula dengan orang yang kuat, seperti atlit atau olahragawan? Atau mereka yang dikenal sebagai aktris atau penyanyi jempolan? Internet penuh dengan foto-foto dan berita-berita tentang mereka. Orang-orang yang sedemikian tentu bisa bangga atas apa yang sudah dicapainya.

Sebenarnya, rasa bangga yang sepantasnya mungkin tidaklah salah. Rasa bangga belum tentu sama dengan rasa sombong, walaupun dalam bahasa Inggris kata adjektif proud dipakai untuk keduanya. Rasa bangga atas apa yang baik dan yang diutarakan dengan maksud yang baik tentunya bukanlah tindakan yang keliru. Masalahnya orang sering tidak tahu apa yang baik untuk dibanggakan dan bagaimana mengutarakan rasa bangga kita dengan cara yang baik. Apa yang kita lihat sebagai hal/barang yang baik seringkali adalah barang yang hanya terlihat baik untuk sementara waktu. Apa yang baik untuk seseorang belum tentu baik untuk orang lain atau Tuhan.  Selain itu, kebanggaan yang sering kita lihat seringkali justru membawa masalah bagi pemiliknya.

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” Lukas 9: 25

Kata bermegah dalam alkitab berbahasa Inggris diterjemahkan sebagi kata kerja “to boast” yang berarti “menyombongkan”. Dalam sejarah perang di dunia, banyak negara dan pemimpin negara bermegah atas keberhasilannya dalam menghancurkan posisi lawan mereka. Tetapi, tindakan bermegah juga dipakai untuk menggertak lawan dengan menyatakan kemampuan dan tekad untuk menang. Selain itu, kata bermegah juga dipakai untuk menggalang tekad dan keberanian tentara sebuah negara dalam menghadapi tentara musuh. Misalnya, Goliat dalam 1 Samuel 17: 4-9 menampilkan dirinya sebagai “jagoan” dari Filistin yang membuat takut tentara Israel.

Untuk kita orang Kristen, adakah yang bisa kita banggakan? Dalam hal apa kita harus bermegah? Dan untuk apa kita bermegah?Banyak orang Kristen yang bangga atas gereja mereka, atau pendeta mereka yang bisa menarik banyak jemaat. Mungkin juga ada orang Kristen yang bangga atas sistimatik teologi atau segala tata cara kerohanian yang mereka punyai. Selain itu, gedung gereja yang megah dan mewah mungkin juga memberi kebanggaan tersendiri kepada jemaat. Walaupun demikian, ayat pembukaan diatas mengatakan bahwa Tuhan tidak menyukai kebanggaan yang sedemikian. Tuhan berkata bahwa umat-Nya lebih baik bermegah karena mereka memahami dan mengenal Dia sebagai Tuhan yang mahakuasa, mahakasih dan mahaadil. Bermegah dalam Tuhan adalah hidup menurut firman-Nya dan untuk kemuliaan-Nya, sehingga makin banyak orang yang mengenal Dia dan mau meninggalkan hidup lama mereka. Bermengah dalam Kristus, sebagai jeritan perang rohani kita, juga bisa membuat takut iblis yang berusaha menyerang kita, karena itu menyatakan keyakinan kita atas kuasa dan penyertaan Tuhan.

“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Roma 8: 31

Pagi ini, hanya Tuhan yang bisa melihat apa yang ada dalam hati kita. Hanya Tuhan yang bisa melihat apa yang sebenarnya kita banggakan dalam hidup ini. Mungkin saja Tuhan melihat bahwa kita sudah mengenal Dia sebagai Tuhan, dan kita mempunyai rasa hormat dan takut kepada-Nya. Kita sudah percaya bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci, dan kebenaran-Nya adalah kekal. Karena itu kita berusaha untuk hidup menurut apa yang sesuai dengan firman-Nya. Kita tahu bahwa Tuhan adalah mahaadil dan mahabijaksana, dan karena itu kita mau mencari kehendak-Nya. Selain itu kita juga percaya bahwa sekalipun Tuhan itu mahakuasa, Ia adalah Tuhan yang mahakasih yang sudah mengirimkan Anak-Nya ke dunia agar barangsiapa yang percaya kepada-Nya dapat memperoleh hidup yang kekal.

Bukankah Tuhan kita adalah Tuhan yang baik dan yang patut kita puji? Bukankah kita dengan sepatutnya harus mengasihi Dia yang sudah lebih dulu mengasihi kita? Bukankah kita tidak perlu takut atau kuatir dalam menghadapi masa depan dan tantangan kehidupan? Bukankah iblis tidak bisa menjamah umat Tuhan yang sejati?Biarlah kita hanya bermegah di dalam Dia!

“Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” Galatia 6: 14

Ke mana aku pergi setelah aku mati?

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.” Filipi 1: 21-24

J.I. Packer dikenal luas sebagai salah satu pempopuler teologi paling berpengaruh di abad kedua puluh. Salah satu dari banyak tulisan beliau adalah “God’s Plans for you” atau “Rencana Tuhan untukmu”. Beliau menulis dalam buku itu “Only when you know how to die can you know how to live” yang artinya “Hanya jika kamu tahu bagaimana kamu akan mati akanlah kamu tahu bagaimana harus hidup”. Tulisan beliau menggarisbawahi cara hidup orang Kristen yang harus disesuaikan dengan kenyataan bahwa ia akan bertemu Tuhan yang mahasuci pada saatnya. Karena itu semestinya orang Kristen sadar bahwa mereka harus hidup baik dan bersiap setiap waktu untuk menghadapi kematian.

Barangkali, Paulus dalam menulis ayat di atas merasakan hal yang serupa bagi dirinya. Ia menulis bahwa mati adalah keuntungan. Mengapa demikian? Sebagai orang beriman, Paulus percaya bahwa karena imannya, ia sudah menerima keselamatan yang datang melalui darah Kristus. Tetapi, selama hidup di dunia, ia hanya bisa membayangkan keindahan surga. Hanya melalui kematian tubuh jasmaninya, ia akan menerima tubuh rohani yang abadi di surga. Membayangkan saat di mana ia bisa berjumpa muka dengan muka dengan Kristus, Paulus berkata bahwa ia akan merasa beruntung jika itu terjadi sekarang juga karena itu jauh lebih baik daripada hidup di dunia yang gelap ini.

Keyakinan bahwa hidup di surga itu lebih baik dari hidup di dunia barangkali dipunyai oleh setiap orang percaya. Memang orang percaya bahwa dalam Kristus ada kebangkitan yang memungkinkan mereka untuk hidup bersama Kristus untuk selamanya. Walaupun demikian, mungkin tidak ada orang Kristen yang memilih untuk mati secepatnya. Kebanyakan orang Kristen mungkin mengakui bahwa saat untuk meninggalkan dunia ini ditentukan oleh Tuhan; tetapi, mereka akan memilih hidup panjang di dunia jika itu mungkin. Dalam hal ini, banyak orang Kristen merasa canggung untuk membicarakan hal kematian, karena kematian jasmani adalah suatu misteri yang tidak pernah dialami oleh orang yang masih hidup.

Mereka yang siap untuk mati jasmani adalah orang-orang beriman yang percaya bahwa iman mereka tidak sia-sia. Mereka akan menyambut kematian dengan tanpa rasa takut karena mereka sudah siap untuk menjumpai Tuhan yang mereka kasihi dan ingin hidup dalam kemuliaan-Nya di surga. Tetapi, sebagian orang Kristen percaya bahwa sebelum kedatangan Kristus untuk kedua kalinya, orang yang meninggal dunia akan masuk ke dalam keadaan tidur, dalam penantian akan saat dibangunkan kembali. Jadi, ada dua pertanyaan:

  • Mengapa kata “tidur” atau gambaran tidur digunakan untuk menggambarkan kematian bahkan oleh Yesus?
  • Apa yang akan kita alami ketika berada di antara saat kematian dan saat kebangkitan tubuh?

Kebangkitan tubuh menjadi masalah bagi banyak orang Yunani yang menyukai gagasan jiwa yang tidak berkematian tetapi tidak menyukai gagasan kebangkitan tubuh ini. Kekristenan bukanlah serasi dengan pandangan Yunani dalam hal ini. Tetapi kita percaya bahwa tubuh kita akan dibangkitkan dari kematian, dan kebangkitan tubuh Yesus dalam bentuk yang dapat dikenali dan yang dapat disentuh serta yang dapat memakan ikan, adalah prototipe dari tubuh kebangkitan kita.

Dalam ayat di atas, Paulus menyebut kematian sebagai “keuntungan” bukan karena dia tidak sadarkan diri atau menikmati tidur nyenyak yang berkepanjangan, tetapi karena dia akan berada di hadirat Kristus. Paulus berkata dalam 1 Korintus 15:20, “Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.” Dan ketika orang mencemooh bab ini dan berkata, “Dengan tubuh seperti apa mereka?” dia menjawab dalam ayat 42–44, “Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah.” Jadi kebangkitan tubuh mutlak penting bagi doktrin Kristen.

Sekarang pertanyaannya adalah: Bagaimana dengan selang waktu antara kematian dan kebangkitan tubuh? Apakah ada ayat Alkitab yang menyebut keadaan “tidur”? Dalam 1 Tesalonika 4:14 tertulis: “Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia. Kenapa dia berkata seperti itu? Atau 1 Korintus 15:17–18, “Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus.” Dalam Alkitab berbahasa Inggris, kata meninggal dan mati di atas ditulis sebagai “tidur”. Jadi memang ada referensi untuk tertidur sebagai gambaran kematian.

Dan kemudian ada Yesus di mana dia membangkitkan gadis kecil yang sudah meninggal dunia. Sesudah Ia masuk ke rumah duka, Yesus berkata kepada orang-orang di situ: “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!” Tetapi mereka menertawakan Dia. Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: “Talita kum,” yang berarti: “Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah! (Markus 5:41). Dia membangkitkan gadis kecil ini dari kematian. Dan kita tahu bahwa dia sudah meninggal karena dalam Markus 5:35 ada orang yang menyampaikan pesan kepada ayah gadis itu, “Anakmu sudah mati.” Dan ketika Yesus datang untuk menangani hal ini, gadis yang sudah mati itu disebut-Nya sebagai tidur. Mengapa?

Jawabannya adalah bersangkutan dengan cara tubuh terlihat dan bekerja. Ini hanyalah deskripsi kematian dengan gambaran yang lebih lembut tentang seperti apa sebenarnya. Jika Anda pernah melihat seseorang yang baru saja meninggal, Anda mungkin bertanya, apakah mereka meninggal atau hanya tidur? Karena mereka terlihat seperti ada di sana, seperti yang selalu mereka lihat, tetapi tidak bergerak. Sepertinya mereka hanya tertidur. Jadi “tidur” adalah gambar, itu adalah deskripsi yang lebih lembut dari kenyataan sebenarnya bahwa mereka telah mati.

Dua perikop kunci dalam tulisan Paulus adalah Filipi 1:21–23, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.” Paulus ditekan di antara keduanya. Keinginannya adalah pergi dan bersama Kristus, karena itu jauh lebih baik. Jadi ketika Paulus merenungkan kematiannya sendiri, dia menyebutnya “keuntungan”, bukan karena dia akan menjadi tidak sadar atau tidur dan tidak juga bukan berkhayal karena tidak memiliki pengalaman untuk itu. Mungkin ia ingin hidup seribu tahun lagi (seperi syair lagu Pertemuan, yang dinyanyikan oleh Anna Mathovani), tetapi karena dia tahu bahwa jika ia pergi ke hadirat Kristus, dan bertemu dengan Kristus, itu akan bermakna lebih dalam dan lebih intim. Itu, katanya, jauh lebih baik daripada apa pun yang dia bisa nikmati di dunia.

Ingatkah Anda tentang Yesus yang menceritakan kisah tentang orang kaya dan Lazarus? Kita tidak tahu pasti, apakah itu perumpamaan atau bukan, tetapi tidak dikatakan itu perumpamaan. Yesus hanya menggambarkannya seperti itu benar-benar terjadi. Dan jika itu benar-benar terjadi atau jika itu adalah sebuah perumpamaan, tampaknya menunjukkan bahwa setelah kematian tidak ada masa tidak sadar atau tidur. Yang ada adalah dua pilihan: kehidupan dalam siksaan atau hidup dalam kebahagiaan.

Jadi, hari ini kita boleh percaya bahwa orang Kristen memiliki penghiburan pada saat menunggu ajal atau sesudah meninggal dunia. Bagi orang yang percaya kepada Yesus Kristus, darah dan kebenaran Kristus telah menghapus penghukuman bagi mereka dan memastikan bahwa kebangkitan tubuh di langit baru dan bumi baru setelah kematian adalah pengalaman yang intim dan manis. Setelah meninggalkan dunia ini, kita akan berada di hadirat Kristus pada saat di antara kematian dan kebangkitan yang akan datang. Kita aman di dalam Dia sekarang, kita akan aman di hadapan-Nya pada saat kematian, dan kita akan sangat bahagia dalam tubuh yang baru dan sehat selama-lamanya di langit baru dan bumi baru. Bagaimanamungkin pengertian ini tidak akan mengubah cara hidup anda semasa hidup di dunia? Setiap orang yang sadar akan arti kematian dalam Kristus tentu akan hidup sesuai dengan firman Tuhan untuk kemuliaan-Nya karena rasa syukur yang besar!

Pertobatan adalah respons orang Kristen atas kasih Tuhan

“Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.” Mazmur 51: 6


Banyak orang yang berpikir bahwa pertobatan cukup dilakukan sekali saja, yaitu sebelum menjadi orang Kristen. Itu tidak benar. Pertobatan Kristiani yang sejati melibatkan keinsafan yang tulus akan dosa, penyesalan atas pelanggaran terhadap Allah, berpaling dari cara hidup yang berdosa, dan berpaling ke cara hidup yang memuliakan Allah. Pertobatan sejati bukan sekadar “memikirkan kembali” hubungan seseorang dengan dosa dan Allah. Pertobatan pertama-tama harus berakar pada kesadaran betapa berdosanya suatu tindakan, emosi, kepercayaan, atau cara hidup orang yang bersangkutan. Kemudian, seseorang harus berduka atas betapa menyinggung dan menyedihkannya dosanya bagi Tuhan, bukan hanya karena takut akan pembalasan Tuhan atas dosanya. Dengan kata lain, pertobatan harus berakar pada nilai yang tinggi menurut standar Tuhan, bukan nilai menurut diri sendiri. Hanya dengan begitu berpaling dari dosa menuju ke kekudusan dapat benar-benar disebut pertobatan sejati.

Kegagalan untuk bertobat dengan demikian merupakan bentuk penyembahan berhala, karena kepercayaan orang yang berdosa pada diri sendiri bahwa semua dosanya bukanlah hal yang memengaruhi jamnan keselamatan Tuhan. Penolakan untuk bertobat berarti meninggikan jiwa kita sendiri di atas kemuliaan Tuhan, dan menolak kebenaran bahwa ketika kita bertobat, itu mengarah pada pengampunan dosa, penghapusan hukuman ilahi, dan pemulihan persekutuan pengalaman kita dengan Tuhan. Bertobat adalah kata kerja aktif yang menunjuk kepada respons kita terhadap tuntutan kesucian Tuhan, Bertobat bukanlah sekadar refleksi pekerjaan karunia penyelamatan Tuhan atas diri kita.

Pertobatan alkitabiah adalah konsep yang mudah disalahpahami dan diterapkan secara keliru, dan karena itu membutuhkan pemeriksaan yang cermat. Kesalahan utama banyak orang adalah mendasarkan pemahaman mereka tentang pertobatan pada bentuk akar kata Yunani. Kata kerja Yunani metanoeō (bertobat) dibangun di atas kata depan meta (“dengan, setelah”) dan kata kerja noeō (“memahami, berpikir”). Beberapa orang kemudian menarik kesimpulan bahwa satu-satunya pengertian di mana seorang Kristen dituntut untuk bertobat adalah untuk mengubah pikirannya atau memikirkan kembali dosa dan hubungannya dengan Allah. Suatu refleksi dari sinar karunia penyelamatan Allah. Namun makna kata bertobat tidak ditentukan dengan cara ini, melainkan pada penggunaan dan konteks. Perubahan pikiran atau perspektif tidak ada nilainya jika tidak disertai dengan perubahan arah, perubahan hidup dan tindakan.

Pertobatan sejati dimulai, tetapi tidak berakhir, dengan keinsafan hati akan dosa. Itu dimulai dengan pengakuan yang tegas dengan hati yang hancur karena kita telah menentang Tuhan dengan merangkul apa yang Dia benci dan benci, atau setidaknya, acuh tak acuh terhadap apa yang Dia perintahkan. Oleh karena itu, pertobatan mencakup hal mengetahui di dalam hati kita: “Ini salah. Saya telah berdosa. Tuhan berduka karenanya.” Antitesis dari pengakuan adalah rasionalisasi, upaya egois untuk membenarkan kelemahan moral seseorang dengan sejumlah alasan: “Saya adalah korban. Jika Anda tahu apa yang telah saya lalui dan betapa buruknya orang memperlakukan saya, Anda akan memberi saya sedikit kelonggaran. Jika Anda tahu apa yang sudah Tuhan tetapkan dalam hidup saya, Anda akan mengerti bahwa semua yang terjadi dalam hidup saya adalah kehendak-Nya”.

Ketika seseorang benar-benar bertobat, ada kesadaran bahwa dosa yang dilakukan, apa pun sifatnya, pada akhirnya hanya melawan Tuhan. Dalam ayat di atas Daud menyatakan, “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kau anggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.” Meskipun Daud mengambil keuntungan dari Batsyeba secara seksual, bersekongkol untuk membunuh suaminya, yaiu Uria, mempermalukan keluarganya sendiri, dan mengkhianati kepercayaan bangsa Israel, dia memang sudah seharusnya melihat dosanya terhadap Tuhan yang mahasuci. Sebaliknya, walaupun Daud sadar bahwa Allah mahatahu, dia tetap melakukan dosanya. Dia tidak melihat alternatif yang lain, merasa tidak ada alternatif yang lain, tidak dapat memikirkan pilihan yang lain, tetapi kehadiran-Nya justru dilupakan, kekudusan-Nya dibenci, dan kasih-Nya dicemooh untuk mencapai hasratnya. Daud menjadi begitu rusak karena dia telah memperlakukan Tuhan dengan sangat tidak hormat sehingga dia dibutakan oleh pilihannya terhadap semua aspek atau objek lain dari perilakunya.

Pertobatan adalah lebih dari hal pelepasan emosi secara psikologis, di dalamnya ada perasaan atau rasa penyesalan yang sebenarnya. Jika seseorang tidak benar-benar terluka oleh dosanya, tidak akan ada pertobatan. Pertobatan itu menyakitkan, tetapi itu adalah rasa sakit yang seharusnya. Itu menuntut kehancuran hati (Mazmur. 51:7; Yesaya 57:15) tetapi selalu dengan harapan untuk penyembuhan dan pemulihan dalam kasih Kristus dan karunia pengampunan-Nya. Jadi, pertobatan lebih dari sekadar perasaan. Emosi bisa cepat berlalu, sedangkan pertobatan sejati membuahkan hasil. Ini menunjukkan perbedaan antara “goncangan” dan “penyesalan”. Goncangan adalah penyesalan atas dosa yang dipicu oleh ketakutan akan diri sendiri: “Aduh! Saya tertangkap basah! Apa yang akan terjadi kepada diri saya?” Penyesalan, di sisi lain, adalah penyesalan atas pelanggaran terhadap kasih Allah dan rasa sakit karena telah mendukakan Roh Kudus. Dengan kata lain, adalah mungkin untuk “bertobat” karena takut akan hukuman atau pembalasan, bukan karena kebencian akan dosa.

Pertobatan alkitabiah juga harus dibedakan dari pertobatan duniawi atau daging. Karena dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang menuntun pada keselamatan, sedangkan penyesalan secara duniawi hanya menghasilkan kematian. Dalam pertobatan sejati harus ada penyangkalan terhadap semua dosa dan langkah-langkah praktis yang aktif diambil untuk menghindari apa pun yang dapat menimbulkan sedihnya Allah. Harus ada tekad yang disengaja untuk berbalik dan menjauh dari semua pengaruh dosa. Jika dalam apa yang disebut “pertobatan”, kita tidak meninggalkan lingkungan tempat dosa kita pertama kali muncul dan dari mana, kemungkinan besar, itu akan terus berkembang, pertobatan kita perlu dicurigai. Dalam pertobatan harus ada reformasi yang sepenuh hati, artinya, tekad yang kuat untuk mengejar kesucian, untuk melakukan apa yang menyenangkan Tuhan.

Ada sejumlah alasan mengapa orang merasa sulit atau tidak perlu untuk bertobat. Misalnya, Iblis dan sistem dunia telah membuat kita mempercayai kebohongan bahwa nilai atau harga kita sebagai manusia bergantung pada sesuatu selain dari apa yang telah dilakukan Kristus bagi kita dan siapa kita di dalam Kristus hanya melalui (contoh: hukum negara, etika pergaulan). Jika kita percaya bahwa orang lain memegang kekuasaan untuk menentukan nilai atau cara hidup kita, kita akan selalu merasa aman jika kita menurut apa yang berlaku di tempat kita tinggal. Selain itu, ada orang Kristen yang terlalu menekankan kedaulatan Tuhan sehingga merasa bahwa Tuhan sudah menetapkan hidup mereka dalam segala hal, termasuk apa yang baik dan jahat. Pada pihak yang lain, ada orang Kristen yang terlalu menekankan sifat mahakasih Allah, sehingga mereka mereka yakin bahwa Tuhan yang memilih mereka adalah Tuhan yang menerima mereka sebagaimana adanya. Jadi kegagalan untuk bertobat adalah bentuk penyembahan berhala. Penolakan untuk bertobat berarti meninggikan kebijaksanaan kita sendiri di atas kehendak Allah bagi kita, yaitu untuk bertobat. Itu adalah menempatkan nilai yang lebih tinggi pada keyakinan kita daripada panggilan Allah untuk kembali ke jalan yang benar dan untuk tidak berbuat dosa yang sama.

Persekutuan kita dengan Kristus selalu bergantung pada pertobatan kita yang tulus dan sepenuh hati dari dosa. Kita hanya bisa benar-benar aman dan terjamin dalam persekutuan kekal kita dengan Kristus, sepenuhnya dan semata-mata karena kasih karunia Allah yang mulia. Tetapi kemampuan kita untuk menikmati buah dari persekutuan itu, kemampuan kita untuk merasakan, merasakan, dan beristirahat dengan damai, sangat dipengaruhi oleh pertobatan kita ketika Roh Kudus menyadarkann kita untuk menghormati dan menaati kehendak Allah yang dinyatakan dalam Alkitab. Dalam beberapa kesempatan Tuhan memanggil ketujuh jemaat di Asia Kecil untuk bertobat. Kepada gereja di Pergamus Yesus menyatakan: “Sebab itu bertobatlah” (Wahyu 2:16a). Dan kepada gereja di Sardis dia berkata: “Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah!” (Wahyu 3:3). Dan kepada gereja di Laodikia: “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!” (Wahyu 3:19). Kita tidak dapat menolak kenyataan bahwa sebagai orang Kristen kita masih bisa jatuh dalam dosa, dan karena itu harus mau bertobat.

Pagi ini kita harus sadar bahwa pertobatan yang Yesus sebut, melibatkan tindakan aktif setiap orang Kristen di setiap waktu untuk berhenti dari satu jenis perilaku yang jahat dan merangkul apa yang baik.. Kita menjadi pengikut Kristus karena “jatuh cinta” kepada-Nya. Karena itu, kita tidak boleh meninggalkan cinta pertama kita, tetapi sebaliknya harus melakukan pekerjaan yang kita lakukan pada waktu kita baru menjadi orang percaya. Itu adalah pertobatan sejati. Bertobat bukanlah hidup yang hanya didominasi oleh kesadaran akan dosa. Tetapi, kita harus sadar akan dosa kita secara tepat, sehingga realitas kasih karunia Allah yang mengampuni, memperbaharui, dan menyegarkan dapat mengendalikan, memberi energi dan memberdayakan kehidupan kita sehari-hari.

Malapetaka terjadi karena adanya dosa di dunia

“Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” Lukas 13: 4 – 5

Gempa bumi yang terjadi di Cianjur kemarin membuat banyak orang merasa sedih. Bagaimana tidak? Untuk angka sementara, setidaknya tercatat 162 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya luka-luka. Banyak dari korban masih tergolong anak-anak. Selain itu, ada 2.345 rumah rusak berat dan sekitar 13.400 warga mengungsi. Sesudah gempa utama yang berukuran 5,3M itu, tercatat ada 88 getaran atau gempa susulan sehingga suasana di daerah itu masih terasa rawan. Ini jelas adalah sebuah malapetaka.

Manusia mungkin bisa menduga kemungkinan terjadinya berbagai malapetaka dengan mengukur dan menganalisa berbagai data, tetapi apa yang akan terjadi sering ada diluar jangkauan pengetahuan mereka. Apa yang dirasakan banyak manusia jika malapetaka terjadi, biasanya berupa ketakutan atau kekuatiran bahwa Tuhan mungkin sudah membuat semua itu terjadi karena dosa yang diperbuat manusia. Mungkin itu ada benarnya jika membaca kisah nabi Yunus dalam perahu yang dilanda topan. Tetapi, Ayub yang baik di mata Tuhan juga tertimpa malapetaka yang luar biasa dengan seizin Tuhan.

Memang kecenderungan manusia dalam melihat adanya malapetaka adalah untuk mencoba menduga mengapa itu terjadi. Tetapi, seperti manusia sering tidak dapat menduga kapan malapetaka akan terjadi, mereka juga sering tidak tahu mengapa itu terjadi. Selain itu manusia juga sering mengira bahwa:

  • Penderitaan manusia adalah seimbang dengan dosanya.
  • Malapetaka selalu menunjukkan kemarahan dan hukuman Tuhan.
  • Malapetaka hanya terjadi pada orang yang jahat.

Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Mereka yang menemui Yesus, menyangka bahwa karena besarnya dosa orang-orang Galilea itu, mereka mengalami nasib yang tragis. Tetapi, Yesus menjawab bahwa pandangan itu tidaklah benar.

Sebagai umat Kristen kita percaya bahwa Tuhan kita mahakasih, dan karena itu tidak mendatangkan bencana untuk umat-Nya. Walaupun demikian, manusia yang hidup dalam dunia sesudah kejatuhan Adam dan Hawa, memang harus menghadapi berbagai bencana karena dunia yang tidak lagi sempurna. Manusia, baik mereka yang terlihat jahat maupun yang sepertinya orang baik, adalah makhluk yang berdosa. Karena Tuhan mahakasih, semua manusia masih bisa menerima karunia umum dari Tuhan seperti sinar matahari dan udara segar. Tetapi, semua manusia juga bisa mengalami bencana yang terjadi sebagai bagian dari hukum alami dari dunia yang sudah jatuh dalam dosa dan juga karena adanya kesalahan manusia dalam mengambil keputusan.

Adanya bencana belum tentu sehubungan dengan hukuman atau peringatan Tuhan akan dosa korban bencana. Tetapi itu seharusnya mengingatkan bahwa kita hidup dalam dunia yang penuh dosa. Bahwa manusia tidak dapat bergantung kepada dunia atau sesama, tetapi kepada Dia yang memiliki alam semesta. Bahwa manusia dalam keterbatasan mereka, tidak dapat mengatasi tantangan hidup di dunia yang sudah dikutuki Tuhan. Manusia juga sering mengabaikan peringatan Tuhan untuk memilih cara hidup yang baik dan menggunakan kemampuan yang diberikan Tuhan untuk menguasai dan mengatur isi dunia.

Hidup manusia tidak boleh dihakimi berdasarkan apa yang terjadi pada mereka, sebab semua orang bisa mengalaminya. Semua orang sudah berdosa di hadapan Tuhan. Mereka yang mengalami bencana di dunia, bukanlah selalu akan mengakhiri hidupnya secara sia-sia. Bagi yang percaya kepada Kristus, hidup ini adalah bukan apa yang terlihat mata, tetapi adalah sesuatu yang akan datang. Adanya bencana bisa menginngatkan orang dan penguasa untuk lebih bertanggung jawab atas tugasnya, untuk menggunakan kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan yang dikaruniakan Tuhan. Bencana juga bisa memberi pelajaran dan kesempatan bagi mereka yang diluputkan, agar mereka mau mengakui kebesaran Tuhan dan berjalan dalam kebenaran menuju kearah keselamatan yang sebelumnya mungkin tidak disadari.

“Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” Roma 8: 18