Keselamatan bukan hanya untuk orang yang bersunat

“Tetapi sebaliknya, setelah mereka melihat bahwa kepadaku telah dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tak bersunat, sama seperti kepada Petrus untuk orang-orang bersunat karena Ia yang telah memberikan kekuatan kepada Petrus untuk menjadi rasul bagi orang-orang bersunat, Ia juga yang telah memberikan kekuatan kepadaku untuk orang-orang yang tidak bersunat.” Galatia 2: 7-8

Sewaktu masih kecil, saya sering berpikir bagaimana bangsa Israel bisa menjadi umat pilihan-Nya. Tuhan memilih bangsa Israel dari mana Yesus Kristus akan dilahirkan sebagai Juruselamat umat manusia (Yohanes 3:16). Betapa beruntungnya bangsa Israel, bangsa pilihan Allah itu, begitu pikir saya. Tuhan pertama kali menjanjikan kedatangan Mesias selepas Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3). Tuhan kemudian meneguhkan bahwa Mesias akan datang melalui garis keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub (Kejadian 12:1-3).

Yesus Kristus adalah alasan utama mengapa Tuhan memilih Israel untuk menjadi umat pilihan-Nya. Tuhan tidak perlu mempunyai umat pilihan, namun Dia memutuskan untuk melakukannya dengan cara itu. Pada pihak yang lain, alasan Tuhan memilih bangsa Israel bukan semata-mata untuk membawa Mesias. Tuhan juga bermaksud supaya mereka menjadi bangsa yang bisa membimbing bangsa lain kepada Tuhan. Tetapi, bangsa Israel telah gagal dalam melaksanakan sebagian besar tugas ini. Malahan, sebagian bangsa Israel tidak akan memperoleh keselamatan karena mereka tidak memercayai Yesus sebagai Mesias (Matius 21: 43). Karena itu, saya sekarang tidak lagi menganggap bahwa bangsa Israel adalah bangsa yang beruntung.

Sejak kebangkitan Yesus, jumlah umat Kristen bertumbuh cepat di banyak negara. Tidak mengherankan bahwa ada orang-orang yang bukan Yahudi yang merasa bahwa untuk menjadi pengikut Yesus, mereka harus hidup seperti orang Yahudi. Mereka lupa bahwa bukan keyahudian yang membawa orang kepada keselamatan, dan bukan norma keagamaan, adat-istiadat dan kebiasaan Yahudi yang membuat mereka dipilih sebagai bangsa dari mana Sang Juruselamat datang. Mereka tidak sadar bahwa justru hal-hal itulah yang menghambat pertumbuhan kekristenan di dunia.

Pada saat itu Paulus mnyadari bahwa ada banyak orang Kristen Yahudi di Galatia yang kurang menyenangi, untuk tidak dikatakan membenci dirinya. Itu karena Paulus menolak untuk mengajarkan pentingnya hukum Taurat dan kebiasaan Yahudi bagi mereka yang ingin menjadi pengikut Kristus. Paulus menegur jemaat Galatia dengan menjelaskan bahwa ia telah diberi kepercayaan dari Tuhan untuk memberitakan Injil untuk orang-orang tak bersunat, sama seperti Petrus yang diutus Tuhan untuk pergi ke orang-orang bersunat. Dengan demikian, Paulus tidak merasa gentar untuk memberitakan Injil di luar orang Yahudi sekalipun banyak orang Yahudi yang menganggapnya bukan rasul yang benar.

Di zaman ini, persoalan yang dihadapi Paulus masih ada. Banyak orang Kristen yang mengikuti adat istiadat, peraturan, ritual, dan liturgi yang berbeda dengan apa yang dimiliki orang lain. Sebagian di antara mereka menuduh orang yang tidak sefaham dengan mereka adalah bukan orang pilihan Tuhan. Jika Paulus sampai-sampai diragukan kerasulannya pada waktu itu, banyak orang Kriten yang diragukan kekritenannya karena perbedaan yang ada. Mereka dianggap orang Kristen yang bodoh, sesat atau palsu.

Harii ini, jika kita meneliti hidup kita, biarlah Firman Tuhan bisa menyentuh hati kita. Bahwa bukannya kebiasaan dan ritual agama yang membuat kita menjadi orang Kristen sejati, karena apa yang kita lakukan dalam hidup sehari-harilah yang lebih penting. Seperti bungkus tidak menentukan isi, begitu juga isi hidup kitalah yang lebih penting di hadapan Tuhan. Yesus sudah membayar hidup kita dengan harga termahal, dan pengurbanan-Nya bukanlah agar kita mempunyai penampilan yang baik menurut hukum Taurat, tetapi agar kita memiliki hidup baru di dalam Dia dan menghasilkan buah-buah Roh yang memuliakan Tuhan.

“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Galatia 3:28:

Jika Tuhan berdiam diri

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27

Bagi siapa pun, berita media di akhir minggu yang baru lalu tentunya membuat hati hancur. Seorang anak berusia enam tahun meninggal karena dugaan penelantaran. Anak kecil yang bernama Charlie itu dibawa ke rumah sakit pada Jumat pagi setelah paramedis menemukan tubuhnya tidak responsif di sebuah rumah yang tidak terawat di pinggiran utara kota Adelaide, South Australia. Lima saudara kandungnya sekarang telah dipindahkan dari rumah yang sama, dengan polisi dan lembaga kesejahteraan anak dalam proses mengamankan keselamatan mereka. Anak-anak lainnya diketahui berusia 8, 10, 13, 14, dan 15 tahun, dengan saudara yang lebih tua berusia 29 tahun.

Membaca berita musibah yang di atas, mau tidak mau kita menghela nafas sedih. Jika kita berpikir dalam-dalam, mungkin ada beberapa pertanyaan yang muncul dalam pikiran kita:

  • Mengapa itu bisa terjadi? Apa yang sebenarnya terjadi?
  • Siapa yang sebenarnya bertanggung jawab untuk memelihara anak-anak itu?
  • Bagaimana kehidupan mereka di rumah itu sebelumnya?
  • Mengapa ada orang yang tega menelantarkan anak-anak itu?
  • Bagaimana bisa tidak ada seorang pun yang melaporkan keadaan keluarga itu?

Semua pertanyaan di atas tidaklah mudah menjawabnya. Satu yang kita tahu: musibah adalah sesuatu yang menyedihkan, dan kita tidak mudah menemukan apa yang baik dari satu musibah. Musibah bisa terjadi karena kesalahan manusia, kecelakaan, bencana alam dan lain-lainnya. Tidak ada orang yang mau mengalami musibah karena tidak ada faedahnya. Musibah bagi manusia adalah sesuatu yang sia-sia karena hanya membuat banyak manusia yang tidak bersalah menderita. Adanya malapetaka juga bisa membuat manusia berpikir bahwa Tuhan itu jauh di sana atau tidak ada. Selain itu, ada yang percaya bahwa musibah terjadi dengan sepengetahuan Tuhan atau memang sudah dikehendaki-Nya,

Memang apa yang dinamakan musibah adalah sesuatu yang sangat menyedihkan dan menakutkan. Adanya musibah membuat kita menjadi makhluk kecil yang tidak berdaya. Seringkali kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, mengapa ini terjadi, apakah ada jalan penyelesaiannya, kapan bisa diselesaikan dan apa maknanya. Kita mencari jawabnya, tetapi mungkin kita tidak akan dapat memperoleh jawaban yang memuaskan. Mengapa begitu?

Jika Tuhan itu mahakasih:

  • Dimanakah Tuhan ketika musibah terjadi?
  • Mengapa Tuhan membiarkan itu terjadi? Apakah Ia tidak bisa mengendalikan keadaan?

Jika Tuhan itu mahakuasa:

  • Mungkinkah Tuhan membenci mereka yang mengalami musibah?
  • Mungkinkah Tuhan hanya mengasihi orang-orang tertentu?

Inilah beberapa pertanyaan di antara banyak pertanyaan yang sering muncul ketika musibah terjadi. Pertanyaan-pertanyaan yang bisa membuat hati kita hancur tanpa harapan jika tidak dapat memperoleh jawaban yang benar. Lalu darimanakah kita bisa mendapatkan jawabnya? Hanya satu sumber yang bisa memberikan jawaban yang benar: Tuhan. Melalui firman-Nya kita dapat menemukan penghiburan dan kekuatan.

Dimanakah Tuhan ketika musibah terjadi

“TUHAN memandang dari sorga, Ia melihat semua anak manusia; dari tempat kediaman-Nya Ia menilik semua penduduk bumi. Dia yang membentuk hati mereka sekalian, yang memperhatikan segala pekerjaan mereka.” Mazmur 33: 13-15

Tuhan kita yang berdiam di surga adalah Tuhan yang mahatahu, yang bisa melihat kita dimana pun kita berada. Ia dengan kasih-Nya mengatur segala sesuatu dalam alam semesta agar bisa berjalan sesuai dengan rencana-Nya. Ia tahu apa yang sudah terjadi, sedang terjadi dan yang akan terjadi. Jika kita berjalan di pinggir pantai, Ia tahu kapan ombak akan datang dan membasahi kaki kita. Ia tahu kalau sehelai rambut akan rontok dari kepala kita. Apa pun yang terjadi, apa pun yang akan dialami dan dilakukan manusia, Tuhan pasti tahu. Ia membiarkan segala sesuatu berjalan apabila sesuai dengan kehendak-Nya.

Mungkinkah musibah terjadi karena Tuhan tidak bisa mengendalikan keadaan?

“Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku?“ Yeremia 32: 27

Tuhan adalah Tuhan yang mahakuasa. Ia bukanlah seperti manusia yang lemah dan yang harus tidur pada jam-jam tertentu. Ia tahu apa yang terjadi pada umat manusia dan bahkan dalam alam semesta. Dengan kemahatahuan dan kemahakuasaan-Nya, seisi alam semesta tetap dapat berjalan secara sistimatis. Jika tidak demikian, bumi yang kita diami sekarang mungkin sudah musnah sejak dulu karena adanya berbagai meteor yang bisa membenturnya. Seisi alam semesta ini diatur-Nya selama berjuta-juta tahun menurut hukum-hukum tertentu yang jauh lebih kompleks dari apa yang bisa diciptakan manusia. Berbagai pandemi dan krisis sudah pernah muncul di dunia, tetapi sampai saat ini dunia tetap berputar sebagaimana mestinya. Tuhan tidak pernah kehilangan kendali.

Mungkinkah Tuhan membenci mereka yang mengalami musibah?

Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Yesus menjawab mereka: “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?” Lukas 13: 1-2

Satu pertanyaan yang bisa menghancurkan hati setiap orang ketika mengalami musibah adalah adanya perasaan bahwa Tuhan membencinya. Apa salahku sehingga aku harus mengalami ini? Perasaan masygul juga datang ketika orang lain memandang bahwa semua yang terjadi pada diri kita adalah hukuman atas dosa kita. Memang, jika apa yang terjadi adalah akibat langsung dari kesalahan kita, itu adalah sewajarnya. Tetapi, dalam musibah banyak juga orang yang harus menderita karena bukan kesalahan yang mereka perbuat. Apakah manusia mengalami bencana secara acak? Kebetulan sial? Sudah tentu tidak, karena hal sedemikian akan bertentangan dengan sifat Tuhan yang mahatahu dan mahakuasa.

Semua hal yang terjadi di dunia yang sudah tercemar dosa ini adalah dengan sepengetahuan dan seizin Tuhan, dan kita sering tidak mengerti mengapa Tuhan membiarkannya. Tetapi satu hal yang kita tahu ialah bahwa semua orang sudah berdosa dihadapan-Nya, tetapi mereka yang percaya pada akhirnya akan mendapatkan pengampunan dan hidup yang kekal. Karunia keselamatan dari Tuhan adalah sesuatu paling besar dan utama dalam hidup orang Kristen, dan karena itu adanya bencana apa pun tidak dapat memisahkan kita dari kasih Kristus.

Mungkinkah Tuhan hanya mengasihi orang-orang tertentu?

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5: 45

Dalam penderitaan yang kita alami, mungkin kita merasa bahwa Tuhan pilih kasih. Mengapa orang lain tidak mengalami penderitaan seperti kita? Mengapa orang yang hidupnya tidak mengenal Tuhan justru sering mempunyai hidup yang nyaman? Mengapa Tuhan membiarkan umat-Nya mengalami sakit, terkena wabah, mengalami kerugian besar dan sebagainya? Ayat di atas menyatakan bahwa dalam hidup di dunia ini, Tuhan mengasihi seluruh umat manusia. Tuhan memberi berkat umum-Nya untuk semua orang. Walaupun demikian, dalam hal yang khusus, yaitu dalam hubungan antara manusia dan Tuhan, Tuhan hanya memberikan Roh Kudus-Nya kepada umat-Nya. Roh Kudus yang memberi pertolongan ketika musibah datang, hanya ada dalam hati umat percaya. Lebih dari itu, hanya umat-Nya yang menerima pengampunan dosa dan akan menjumpai Dia di surga.

Jika kita mengalami badai kehidupan dan hati kita menjadi kecil, firman Tuhan berkata bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahatahu, mahakasih dan mahakuasa. Ia tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Janji Yesus kepada para muridnya tatkala Ia akan meninggalkan mereka dan naik ke surga, menyatakan bahwa Ia memberikan damai sejahtera yang tidak seperti yang diberikan oleh dunia. Dunia dengan segala kemajuan teknologi dan peradaban, tidak bisa menjamin adanya keselamatan. Dunia dengan demikian tidak bisa memberi kedamaian. Sebaliknya, Yesus sudah memberikan kedamaian kepada murid-murid-Nya. Dengan itu mereka hidup dengan berani untuk menghadapi segala tantangan dan bahaya. Kepada kita Ia juga mau memberikan damai sejahtera yang sama. Seperti Yesus sudah menyertai murid-murid-Nya, Ia yang sekarang di surga tetap memegang kendali hidup kita dan karena itu kita tidak perlu gelisah dan gentar.

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. 1 Petrus 5: 7

Segi-segi pengharapan manusia menurut Roma 8

“Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Roma 8: 25 – 26

Hampir tiga tahun sejak munculnya Covid-19 di China, pandemi ini belum nampak mereda. Memang setahun yang lalu beberapa negara kelihatannya sudah berhasil mengatasinya, tetapi sejak munculnya varian-varian baru dari virus Omicron peningkatan jumlah kasus positif mulai tejadi lagi. Keadaan yang serba tidak menentu ini sudah pasti membuat banyak orang merasa gundah karena tidak dapat membuat rencana untuk masa depan. Apalagi, beberapa negara besar sudah mengalami inflasi berat.

Dalam keadaan seperti ini, apa harapan anda untuk masa depan? Apa juga harapan anda untuk sanak saudara anda? Semua orang tentu mengharapkan apa yang baik, untuk dirinya sendiri, dan juga untuk semua orang yang dikasihinya. Apa yang diharapkan selagi hidup di dunia, tentunya berkisar pada kebahagiaan, kesehatan, kesuksesan dan sejenisnya. Itu adalah wajar. Tidak ada orang yang mengharapkan sesuatu yang buruk bagi dirinya atau kerabatnya. Walaupun demikian, pada saat ini hal-hal yang buruk bisa saja terjadi pada diri siapa saja, sekalipun itu bukan karena kesalahan orang yang bersangkutan. Harapan yang bagaimanapun baiknya, belum tentu bisa terwujud dalam hidup kita.

Apa yang diharapkan manusia pada umumnya adalah hal yang bisa dilihat, karena apa yang bisa dilihat adalah mudah untuk dimengerti dan dinikmati. Tetapi apa yang bisa dilihat juga merupakan sesuatu yang mudah untuk membawa kekecewaan. Apa saja yang kita inginkan dan miliki di dunia ini, mungkin terlihat baik pada hari ini, tetapi bisa berubah rupa esok hari dan bahkan lenyap tidak berbekas. Apa yang bisa dilihat manusia adalah hal yang fana, yang tidak kekal adanya.

Tentu saja semua umat percaya sangat berharap agar Tuhan menyatakan kuasa-Nya. Mereka membayangkan bagaimana indahnya keadaan di masa depan ketika mereka menerima kemuliaan surgawi dan dibebaskan dari penderitaan manusiawi dan kerusakan dunia. Dengan kata lain, semua akan diperbaiki. Manusia akan dikembalikan ke keadaan yang didudukinya ketika ia pertama kali diciptakan, sebelum dosa masuk ke dunia (1 Yohanes 3: 2). Tetapi, saat yang berbahagia itu masih terasa jauh. Saat ini, Tuhan seakan membiarkan seluruh makhluk menderita.

Ayat diatas menyebutkan pengharapan yang berbeda, karena pengharapan ini adalah untuk sesuatu yang tidak bisa kita lihat. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan dalam hati selama kita ada di dunia. Tidak semua orang bisa mempunyai pengharapan akan apa yang tidak terlihat, tetapi itu adalah pengharapan yang benar. Apa yang tidak terlihat saat ini adalah keselamatan yang sudah dijanjikan Allah kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya. Allah adalah Bapa kita yang bukan seperti orang tua yang hanya bisa mengharapkan agar sesuatu yang baik terjadi pada diri anak-anaknya, tetapi Ia adalah Allah yang sanggup memberikan masa depan yang terbaik untuk mereka.

“Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Roma 8: 17

Pada malam hari, jika kita bersiap untuk tidur, mungkin tidak mudah bagi kita untuk memejamkan mata. Mungkin kita masih sedih memikirkan masa depan kita dan juga hal-hal buruk yang dialami oleh teman dan sanak keluarga kita. Adakah harapan bahwa kita bisa mencapai apa yang kita idamkan dengan adanya pandemi yang berkepanjangan ini? Ataukah kita merasa bahwa hidup yang ada di saat ini adalah sebuah perjalanan tanpa tujuan dan harapan? Alkitab mengajak kita mengingat bahwa pengharapan tentang keselamatan jiwa kita adalah sesuatu pegharapan atas apa yang tidak bisa kita lihat.

“Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?” Roma 8: 24

Mungkin kita sulit untuk tidur nyenyak karena pikiran kita terpaku pada hal-hal yang sudah kita lihat setiap hari: segala penderitaan, kekecewaan, kehilangan dan kegagalan. Kita mungkin lupa bahwa apa yang tidak terlihat sekarang ini sebetulnya adalah pengharapan yang benar dan terbesar. Kita mungkin tidak sadar bahwa apa yang tidak terlihat itu sebenarnya adalah rencana Bapa kita yang di surga. Ialah yang membimbing kita selama hidup di dunia dan memberi ketekunan dan kekuatan agar kita tetap bisa berharap dan berdoa untuk masa depan yang cemerlang bersama Dia. Sekalipun hidup di dunia ini penuh tantangan dan penderitaan, kita harus yakin bahwa Tuhan bisa dan mau menguatkan mereka yang menantikan saat itu dengan tekun.

“Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.” Roma 8: 22

Dalam Roma 8, Paulus menjelaskan bahwa kita belum sampai di surga. Di saat sekarang ini, semua ciptaan Tuhan terus mengerang karena penderitaan yang dialami dalam kerusakan semesta yang telah terjadi sejak dosa masuk ke dunia. Paulus juga menggambarkan penderitaan makhluk yang merintih ini seperti merasakan sakit di saat melahirkan. Dengan kata lain, rasa sakit itu nyata, jelas, dan intens, tetapi itu mengarah ke momen “kelahiran” yaitu pada saat semua akan dikoreksi dan rasa sakit akan dilupakan.

Ini mirip dengan analogi yang digunakan oleh Yesus:

“Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.” Yohanes 16: 21-22

Di sini kita dapat melihat bahwa Tuhan tidak mengabaikan penderitaan manusia. Rasa sakit itu nyata, dan manusia mengalami penderitaan dalam kehidupan ini. Intinya di sini bukan bahwa rasa sakit itu menyenangkan — sebaliknya, itu adalah hal yang menyedihkan. Apa yang bisa membuat kita melewati rasa sakit adalah mengetahui apa yang ada pada sisi yang lain. Ini seperti seorang wanita dalam persalinan untuk melahirkan bayi. Tidak ada wanita yang menginginkan rasa sakit itu sendiri, tetapi dia rela menanggungnya karena hasil sesudahnya yang akan membawa sukacita.

Hari ini mungkin anda merasakan betapa besar penderitaan yang di alami seisi dunia. Penderitaan ini bisa menjadi hal yang sia-sia, jika tidak ada yang bisa diharapkan di masa depan. Tetapi bagi umat Tuhan, penderitaan di dunia ini justru memberi kita kerinduan dan pengharapan akan apa yang akan datang.

“…..tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.” Roma 8: 21

Apakah Tuhan itu masih hidup?

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.” Yohanes 1: 1 – 4

“Tuhan sudah mati” (bahasa Jerman: “Gott ist tot“) adalah suatu ungkapan yang sering dikutip dari tulisan filsuf Jerman yang bernama Friedrich Nietzsche (1844–1900). Ungkapan ini sebenarnya tidak harus ditanggapi secara harafiah, seperti dalam “Tuhan sekarang secara fisik sudah mati”; sebaliknya, inilah cara Nietzsche untuk mengatakan bahwa pendapat tentang Tuhan tidak lagi bisa untuk memerankan sebagai sumber dari semua agak moral atau teleologi. Kematian Tuhan adalah suatu cara untuk mengatakan bahwa manusia tidak lagi bisa mempercayai tatanan kosmis apapun karena mereka sendiri tidak lagi membutuhkannya.

Nietzsche percaya bahwa bisa ada kemungkinan-kemungkinan yang positif untuk manusia tanpa Tuhan. Melepaskan keyakinan tentang Tuhan akan membuka jalan untuk kemampuan-kemampuan kreatif manusia untuk berkembang sepenuhnya, begitu ujar NIetzsche. Tuhan orang Kristen, dengan perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya yang sewenang-wenang, tidak akan lagi menghalanginya, sehingga manusia boleh mengalihkan mata mereka dari ranah adikodrati dan mulai menghargai nilai dari dunia ini. Sudah tentu, pendapat Nietzsche sangat bertentangan dengan iman Kristen sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas. Walaupun demikian, kenyataan dunia saat ini menunjukkan bahwa ada makin banyak orang yang mau dan sudah membebaskan diri dari pengaruh Tuhan dengan meninggalkan ajaran kekristenan.

Dengan memakai Yohanes 1: 1- 4, kita bisa memastikan bahwa ajaran Nietzsche adalah keliru karena dalam kenyataannya:

  1. Tuhan adalah pencipta segala sesuatu
  2. Tuhan adalah sumber kehidupan sampai ekarang
  3. Tanpa Tuhan seisi alam semesta akan hancur dan semua manusia akan binasa

Tuhan adalah pencipta langit dan bumi, dengan kata lain seisi alam semesta dan jagad raya. Tidak ada sesuatu yang bisa muncul sendiri, dan baik benda mati maupun makhluk hidup selalu harus ada asal mulanya. Jika sains menjelaskan bagaimana bumi dan isinya terbentuk melalui proses alami selama jutaan tahun, itu tetap tidak dapat menjelaskan bagaimana asal dan bahan-bahan proses itu bisa ada pada mulanya. Sains tidak juga bisa menjawab apakah semua yang ada itu bisa terjadi tanpa ada yang mempunyai ide desain yang kompleks dari awalnya. Pada pihak yang lain, sains mengakui bahwa segala sesuatu yang ada bukan terjadi secara kebetulan, karena segala sesuatu mempunyai arti atau peran penting dalam alam semesta.

Segala sesuatu di jagad raya dan alam semesta ada dan mengalami siklus kehidupan yang berbeda. Di jagad raya, bintang-bintang datang dan menghilang dalam waktu jutaan tahun. Walaupun demikian, bumi dan segala isinya tetap ada sampai saat ini karena adanya matahari, bulan dan bintang yang ada di sekitarnya. Bumi yang kita kenal dan huni sampai sekarang bergantung pada kestabilan dari galaksi di mana bumi berada, padahal itu hanya salah satu dari jutaan galaksi lainya. Bagaimana itu bisa terjadi jika tidak ada yang mengatur dan mengendalikannya?

Alkitab menyatakan bahwa setiap manusia di dunia, lahir sebagai satu makhluk yang unik, yang tidak mempunyai kembaran. Walaupun ada banyak manusia yang pernah hidup, sekarang hidup atau bakal hidup di dunia, Tuhan mengenal setiap orang sampai pada hal-hal yang sekecil apa pun. Jika manusia tidak dapat hidup tanpa adanya makhluk lain, berbagai tumbuhan, dan sarana kehidupan yang ada dalam alam semesta, bagaimana pula manusia dapat hidup tanpa mengakui adanya Tuhan yang memelihara semuanya?

“Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya.” Matius 10: 30

Tuhan adalah oknum Ilahi yang mahakuasa dan mahasuci. Jika kehidupan dan tidak tanduk manusia tidak berkenan kepada-Nya, Tuhan tentu bisa dan berhak untuk memusnahkannya atau menggantinya dengan apa yang lebih baik. Dalam kenyataannya, manusia dan seisi alam semesta tetap bisa ada sampai saat ini membuktikan bahwa Tuhan adalah juga Tuhan yang mahakasih. Tidak ada seorang pun yang bisa mempunyai harapan untuk hidup di dunia tanpa berkat karunia-Nya, dan bagi umat Kristen harapan hidup sesudah menyelesaikan hidup di dunia dimungkinkan oleh Yesus Kristus yang dalam ayat di atas dinyatakan sebagai Firman, yaitu Tuhan sendiri yang sudah menjadi manusia. Hanya karena pengurbanan-Nya, dosa manusia bisa diampuni oleh Tuhan. Karena itu, Yesus Kristus adalah terang kehidupan untuk manusia yang seharusnya menerima kebinasaan karena dosa mereka.

Hari ini kita diingatkan bahwa Tuhan masih hidup dan tetap akan hidup untuk selamanya. Tuhan yang mati atau Tuhan yang pasif adalah bukan Tuhan. Hanya karena Tuhan masih ada dan aktif memilihara seisi alam semesta dan jagad raya, kita boleh hidup di dunia dan menikmati segala berkat dan hasil ciptaan-Nya. Dengan demikian, jika kita percaya bahwa Tuhan itu masih ada, sudah seharunya kita membina hubungan yang baik dengan Dia dan menaati firman-Nya. Sebagai orang percaya, kita juga harus tetap yakin bahwa di dalam iman kepada Yesus kita akan mendapat kesempatan untuk hidup bersama Dia untuk selama-lamanya.

“Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” Ibrani 13: 8

Nasib yang jadi kambing hitam

“Mereka itu orang-orang yang menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya, hidup menuruti hawa nafsunya, tetapi mulut mereka mengeluarkan perkataan-perkataan yang bukan-bukan dan mereka menjilat orang untuk mendapat keuntungan.” Yudas 1: 16

Yudas sang Rasul adalah salah satu dari keduabelas rasul Yesus Kristus. Dalam Alkitab dicatat dengan nama “Yudas anak Yakobus” atau “Yudas bin Yakobus”. Ia dikenal dengan nama lainnya Tadeus, atau Yudas Tadeus. Penulis surat Yudas ini berbeda orang dengan Yudas Iskariot, mantan rasul yang mengkhianati Yesus, karena ada catatan mengenai “Yudas, yang bukan Iskariot”.

Yudas 1: 5–16 menggambarkan sifat, kesalahan, dan nasib guru-guru palsu yang mengganggu gereja Kristen. Pembaca surat Yudas tampaknya telah mengenal sejarah Israel. Bagian ini merujuk pada peristiwa-peristiwa Perjanjian Lama untuk membantu menjelaskan dosa-dosa orang murtad, bahaya yang mereka timbulkan, dan bagaimana Tuhan akan menghukum mereka.

Yudas merujuk ketidakpercayaan Israel setelah Tuhan membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir, mereka yang memberontak dari Tuhan, orang-orang fasik dari Sodom dan Gomora, serta bahaya membiarkan orang-orang seperti itu berbaur dengan orang percaya lainnya. Ayat di atas juga menunjukkan bahwa salah satu bahayanya adalah bahwa orang-orang itu sering mengerutu dan mengeluh atas nasib mereka dan memungkiri tanggung jawab untuk memilih hidup yang sesuai dengan perintah Tuhan. Mereka mempersalahkan Tuhan dan mengkambinghitamkan nasib sebagai penyebab dosa mereka.

“Segala hal terjadi untuk suatu alasan.” Mungkin anda pernah mendengarnya sebelumnya. Mungkin anda pernah mengatakannya. Kalimat ini terdengarnya seperti bijak sekali. Walaupun demikian, ada perbedaan besar antara “Segala sesuatu terjadi karena suatu alasan,” dan “Tuhan memberi alasan untuk semua yang terjadi.” Yang pertama adalah fatalisme Kristen; yang kedua menyatakan kemuliaan Tuhan. Mereka yang menggunakan alasan bahwa Tuhan yang menentukan segalanya sering kali tidak sadar bahwa ada banyak hal buruk yang terjadi karena kesalahan mereka sendiri.

Gagasan bahwa Tuhan entah bagaimana menarik tuas di balik layar kehidupan adalah apa yang disebut fatalisme Kristen: “Tuhan itu mahakuasa. Kehendak-Nya tidak dapat disangkal”. Karena itu, segala sesuatu yang terjadi pasti sudah menjadi bagian dari rencana-Nya sejak awal. Dia berada di belakang segala apa yang terjadi di dunia selama ini. Bukankah Tuhan itu mahakuasa? Manusia hanya bisa berserah!

Walaupun demikian, Tuhan tidak mengatur hidup manusia, yang diciptakan menurut gambar-Nya, secara berlebihan. Dia memang bekerja di dalam diri mereka. Apa yang sesuai dengan rencana-Nya akan mendapat berkat-Nya. Pada pihak yang lain, Tuhan adalah pengampun, sabar, dan baik hati. Dia tahu kelemahan kita dan tetap mau untuk membimbing mereka yang tersesat dan kemudian bertobat. Beberapa orang melakukan apa yang disiapkan Tuhan sebagai kejahatan, tetapi Dia bisa memakai hal itu untuk maksud yang baik. Lebih dari itu, Tuhan sendiri tidak pernah menjadi pembuat kejahatan itu. Tuhan selalu mempunyai alasan untuk membiarkan hal itu terjadi.

Tuhan juga bisa membuat sesuatu yang luar biasa indahnya muncul dari kebodohan manusia. Juga benar bahwa kemuliaan kuasa dan hikmat Tuhan sering diperlihatkan sebagai kontras dengan apa yang diperbuat manusia, dan itu terlepas dari pilihan manusia. Bagian dari kemuliaan Tuhan adalah kemampuan-Nya untuk mewujudkan kehendak-Nya di tengah rumitnya sejuta pilihan dan perbuatan manusia, termasuk apa yang bodoh, jahat dan kotor.

Salah satu tragedi terbesar dalam gereja Kristen selama berabad-abad adalah gagasan adanya nasib, yaitu bahwa apa pun yang terjadi adalah kehendak Tuhan. Menurut pandangan ini, pernyataan bahwa Tuhan mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, berarti bahwa Tuhan sebenarnya telah memakai sebuah naskah, dan hanya dapat mengikuti jalan yang telah ditetapkan-Nya sampai ke detil yang sekecil-kecilnya. Tuhan yang tidak dapat bertindak apa-apa, kecuali jika Ia membuat segala sesuatu menurut kehendak-Nya. Dengan demikian Tuhan digambarkan seperti manusia yang terbatas kemampuannya.

Adalah menyedihkan bahwa dalam menghadapi tragedi mengerikan dan menyedihkan seperti adanya pandemi saat ini, orang-orang yang masih percaya pada “fatalisme Kristen” akan menyatakan bahwa peristiwa-peristiwa ini entah bagaimana, adalah kehendak Tuhan dan bahkan didatangkan Tuhan. Mereka percaya atas semboyan “pasarah pada nasib” – apa pun yang akan terjadi, akan terjadi. Karena itu, dosa mereka pun terjadi karena Tuhan yang menyebabkan. Benarkah demikian?

Ayat di atas ditulis ole rasul Yudas yang menegur orang-orang Kristen yang sesat. Mereka adalah penggerutu. Maknanya adalah mencela atau mengeluh atas cara pemeliharaan Tuhan, atau merasa adanya kesalahan dalam rencana, dan tujuan, dan perbuatan Tuhan. Secara harfiah, sebenarnya mereka menemukan kesalahan dengan apa yang terjadi dalam hidup sendiri. Tidaklah jarang ada orang yang mengeluh tentang nasib mereka; yang berpikir bahwa itu terlalu sulit. Mereka membandingkan keadaan mereka dengan orang lain, dan menyalahkan Tuhan karena tidak membuat keadaan mereka lebih ringan. Mereka membuat orang lain ikut sesat melalui pengajaran mereka.

Apa akibat pengajaran yang keliru ini? Orang yang miskin mengeluh bahwa mereka tidak kaya seperti orang lain; orang sakit menjadi merana karena mereka tidak diberi kesehatan , dan yang bekerja untuk orang lain mengeluh bahwa mereka tidak dikaruniai kebebasan, bahkan ada yang menyesali Tuhan karena mereka ditinggal paangan atau teman; atau yang menyesali hidupnya karena merasa kurang menawan; juga yang iri kepada orang yang ugal-ugalan tapi hidupnya terlihat nyaman. Orang yang ditegur Yudas, termasuk mereka yang sering menunjukkan rasa hormat yang besar kepada orang-orang tertentu, terutama yang kaya dan besar, karena mereka berharap mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Mumpung ada kesempatan.

Kita tidak perlu percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa harus menetapkan semua hal di atas untuk bisa mewujudkan rencana-Nya. Tetapi, Tuhan tetap bisa mewujudkan rencana-Nya sekalipun manusia berbuat hal-hal yang tidak dikehendaki-Nya. Tuhan bekerja di tengah-tengah segala sesuatu dan Dia memutuskan hasilnya berdasarkan semua faktor yang penting bagi-Nya, termasuk pilihan yang dibuat orang, dan terutama doa, iman, dan tanggapan umat-Nya sendiri.

Bukanlah kehendak Tuhan bagi gereja-Nya untuk meninggikan rasa tunduk kepada-Nya dengan membayangkan bahwa Tuhan yang mahasuci akan memakai segala cara, termasuk apa yang jahat dan kejam, untuk menyatakan kedaulatan-Nya. Bukanlah kehendak Tuhan bagi kita untuk berhenti percaya bahwa Dia akan menjawab doa-doa kita pada saat yang tepat. Bukan kehendak Tuhan bahwa orang Kristen bersikap apatis atas diri sendiri dan orang lain.

Malam ini, biarlah kita menentang setiap bentuk “fatalisme Kristen”. Jangan memakai kata nasib sebagai kambing hitam. Jangan pasif. Jangan malas. Jangan apatis. Jangan tidur. Bangun dan percayalah akan kasih Tuhan. Tolaklah setiap bentuk fatalisme, bahkan jika itu muncul dalam jubah “kedaulatan Tuhan”. Yakinlah atas kasih Tuhan kepada semua bangsa yang sudah diberi penebusan, dan bukannya pada kutuk Tuhan kepada setiap manusia yang terjadi sesudah mereka jatuh dalam dosa.

Mana yang anda kagumi: harta, penampilan, atau nama besar?

“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” Matius 6: 19-20

Jika anda berpikir memiliki banyak uang, penampiln menarik, atau dikagumi banyak orang akan menambah kepuasan hidup anda, coba pikirkan lagi. Sebuah studi oleh tiga peneliti Universitas Rochester di New York menunjukkan bahwa keberhasilan di bidang ini sebenarnya dapat membuat seseorang justru kurang bahagia. Perlu dicatat, studi ini bukan dilakukan dalam bidang teologi.

“Orang-orang memahami bahwa penting untuk mengejar tujuan dalam hidup mereka dan mereka percaya bahwa mencapai tujuan ini akan memiliki konsekuensi positif. Studi ini menunjukkan bahwa ini tidak benar untuk semua tujuan,” kata Edward Deci, seorang profesor psikologi. “Meskipun budaya kita sangat menekankan pada pencapaian kekayaan dan ketenaran, mengejar tujuan ini tidak berkontribusi untuk memiliki kehidupan yang memuaskan. Hal-hal yang membuat hidup anda bahagia adalah tumbuh sebagai individu, memiliki hubungan kasih, dan berkontribusi pada komunitas anda, “ucap profesor Deci.

Makalah penelitian, yang sudah diterbitkan dalam Journal of Research in Personality edisi Juni 2009, melacak 147 alumni dari dua universitas selama tahun kedua mereka setelah lulus. Dengan menggunakan survei psikologis yang mendalam, para peneliti menilai peserta di bidang-bidang utama, termasuk kepuasan dengan hidup, harga diri, kecemasan, tanda-tanda fisik stres, dan pengalaman emosi positif dan negatif.

Aspirasi diidentifikasi sebagai “intrinsik” atau “ekstrinsik” dengan menanyakan kepada peserta seberapa besar mereka menghargai memiliki “hubungan yang dalam dan langgeng” dan membantu “orang lain meningkatkan kehidupan mereka” (tujuan intrinsik) dibandingkan dengan menjadi “orang kaya” dan mencapai “penampilan yang saya idamkan” (tujuan ekstrinsik). Responden juga melaporkan sejauh mana mereka telah mencapai tujuan ini. Untuk melacak kemajuan, survei dilakukan dua kali, setahun sekali setelah kelulusan dan lagi 12 bulan kemudian.

Hasil penelitian ini menegaskan bahwa semakin berkomitmen seseorang terhadap suatu tujuan, semakin besar kemungkinan keberhasilannya. Namun tidak seperti yang digembar-gemborkan banyak motivator, analisis ini menunjukkan bahwa mendapatkan apa yang diinginkan tidak selalu menyehatkan. Apa yang “mencolok dan paradoks” tentang penelitian ini, katanya, adalah bahwa penelitian ini menunjukkan bahwa pencapaian materialistis dan pencapaian terkait citra sebenarnya berkontribusi pada penyakit jasmani dan rohani.

Terlepas dari prestasi mereka, individu mengalami lebih banyak emosi negatif seperti rasa malu dan marah, dan lebih banyak gejala-gejala stres seperti kecemasan, sakit kepala, sakit perut, dan kehilangan energi. Sebaliknya, individu yang menghargai pertumbuhan pribadi, hubungan dekat, dan keterlibatan dalam masyarakat lebih puas saat mereka mencapai kesuksesan di bidang tersebut. Mereka mengalami rasa kesejahteraan yang lebih dalam, perasaan yang lebih positif terhadap diri mereka sendiri, hubungan yang lebih kaya dengan orang lain, dan lebih sedikit tanda-tanda stres.

Semua hal di atas agaknya sudah pernah kita dengar, tetapi mengapa banyak orang masih mengagumi mereka yang kaya, yang mempunyai penampilan menarik, dan yang terkenal? Karena kagum pada sesuatu hal seseorang bisa kehilangan akal sehat dan kemudian jatuh cinta setengah mati. Karena dikagumi orang atas sesuatu hal, bisa membuat seseorang menjadi sombong setengah mati. Ini bukan saja terjadi di dunia musik, film, bisnis, politik dan teknologi, tetapi juga bisa dilihat dalam bidang keagamaan.

Banyak pemimpin agama yang dikagumi oleh pengikutnya. Entah itu karena hidupnya yang terlihat suci, karena hikmat kebijaksanaan yang terlihat dari luar, gerejanya yang megah, atau karena pelayanan sosial yang dilakukan mereka. Selain itu ada juga orang-orang lain yang dikagumi karena penampilan atau kemampuan jasmani mereka. Tambahan pula, ada orang-orang yang dikagumi karena sukses dalam bisnis atau bidang-bidang yang lain. Karena itu, tidaklah mengherankan jika tokoh-tokoh seperti itu menjadi seperti magnet yang mempunyai daya tarik besar. Banyak orang yang ingin menjadi seperti mereka.

Biasanya orang yang menafsirkan bahwa harta duniawi adalah uang, tetapi itu juga bisa diartikan penampilan, nama besar dan hal-hal lain yang tidak bisa dibawa orang sesudah ia mati. Semua yang terlihat indah, belum tentu membawa kebahagiaan selama hidup, tetapi sudah pasti bakal ditinggalkan sesudah kematian. Ayat diatas menunjuk kepada perintah kepada orang Kristen agar tidak mengumpulkan harta duniawi yang tidak abadi, tetapi sebaliknya mengumpulkan harta surgawi yang kekal. Kepuasan hidup tidak datang dari harta duniawi yang mudah lenyap, tetapi dari harta surgawi yang tidak bisa hilang.

Yesus mengajarkan agar kita mengumpulkan harta di surga tetapi tidak secara langsung menjelaskan harta apa yang dimaksud dan bagaimana cara mengumpulkannya. Karena itu, harta ini mungkin sering digambarkan serupa dengan benda-benda berharga yang pernah kita lihat, tapi lebih indah. Mereka yang mengumpulkan harta surgawi akan hidup dalam kenyamanan di surga. Itu jugalah yang diajarkan banyak agama-agama lain. Benarkah begitu?

Bahwa kita diselamatkan hanya karena darah Kristus, itu sudah kita ketahui. Kesuksesan kita bukanlah yang menjadi kunci untuk masuk ke surga. Kehidupan di surga tentunya lain dengan kehidupan dunia; kita tidak akan membutuhkan apa-apa untuk hidup disana. Karena itu kita tidak perlu  mencari bekal untuk ke surga karena di rumah Tuhan tentunya segala sesuatu sudah tersedia. Tambahan lagi, untuk mereka yang setia dalam hidup di dunia, ada tersedia karunia khusus di surga (Matius 10: 42). Sekalipun kita bisa mengumpulkan segala yang indah, pastilah itu tidak sebanding dengan apa yang dimiliki Allah di surga (Wahyu 21: 21).

Manusia mengejar harta, penampilan dan kemasyhuran di dunia ini sebenarnya dalam usaha untuk mencari kebahagiaan dan kepuasan pribadi. Tetapi dari ayat diatas kita tahu bahwa semua itu sia-sia. Untuk mencari kebahagiaan selama hidup di dunia ini kita tidak boleh menggantungkan diri pada harta, penampilan atau kesuksesan kita, tetapi sebaliknya harus memakai hal-hal itu untuk kemuliaan Tuhan dan untuk mengasihi sesama kita:

“Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Lukas 12: 33-34

Ayat ini jelas menyatakan perlunya untuk kita dalam hidup ini untuk melepaskan diri dari belenggu harta dan kesuksesan duniawi agar hati dan hidup kita siap untuk dipusatkan kepada Tuhan. Agar kita dapat memperoleh kebahagiaan yang langgeng.

Harta, penampilan, dan kesuksesan tidaklah abadi, tetapi pengaruhnya bisa sangat besar dalam hidup kita. Semua itu bisa datang sebagai berkat Tuhan, tetapi juga bisa menjadi penguasa hati dan hidup kita. Harta, penampilan, dan kesuksesan bisa dipakai untuk memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama, tetapi juga bisa menjauhkan kita dari Tuhan dan sesama. Harta duniawi adalah hati yang diisi kerakusan dan ketamakan. Tetapi harta surgawi adalah hati yang diisi rasa syukur kepada Tuhan dan kasih kepada sesama manusia.

Hari ini, tantangan untuk kita adalah bagaimana kita bisa mengubah sikap dan pandangan kita terhadap uang, penampilan dan kesuksesan di dunia ini. Selama segala bentuk harta duniawi ini mengontrol hidup kita, kesempatan untuk mengumpulkan harta surgawi dalam bentuk hati yang penuh rasa syukur kepada Tuhan dan kerinduan untuk memuliakan nama-Nya serta kemauan untuk mengasihi sesama kita tidak akan bertumbuh. Akibatnya, kebahagiaan hidup kita di dunia ini akan sulit dicapai. Kita harus sadar bahwa hidup surgawi sudah bisa dirasakan oleh semua orang percaya selama hidup di dunia jika saja mereka mau membiarkan Tuhan untuk menguasai hati dan pikiran mereka! 

Apakah Tuhan menentukan seluruh tindakan manusia?

“Kebodohan menyesatkan jalan orang, lalu gusarlah hatinya terhadap TUHAN.” Amsal 19:3

Apa yang akan anda kerjakan hari ini? Apakah anda mempunyai rencana untuk melakukan sesuatu yang signifikan dalam hari-hari mendatang? Keputusan yang anda ambil mungkin bisa membawa hasil yang baik, tetapi mungkin juga menghasilkan sesuatu yang kurang anda sukai.

Ada orang yang percaya bahwa Tuhan memberi kita sekotak coklat dengan berbagai rasa untuk bisa kita pilih. Dalam hal ini, masalahnya adalah coklat mana yang kita pilih. Tetapi, sebagian orang mungkin berpendapat bahwa dalam kotak yang kita terima ada beberapa coklat dengan berbagai ragam bungkus yang harus kita pilih, tetapi semuanya sama rasanya dan itu sudah ditentukan oleh Tuhan. Walaupun manusia nampaknya bebas memilih, mereka sebenarnya tidak dapat menentukan pilihannya. Karena itu, seperti ayat yang tercantum di atas, ada banyak orang yang merasa kecewa dengan masa lalu. Mereka, kemudian merasa marah kepada Tuhan. Itu karena merasa bahwa Tuhan sudah berlaku tidak adil.

Apakah Tuhan sudah menetukan segala sesuatu untuk kita? Apakah Ia sudah memastikan nasib kita di dunia? Untuk menjawabnya, mari kita mulai dengan mendefinisikan beberapa istilah:

Determinisme: Pandangan ini menganggap semua peristiwa mempunyai penyebabnya. Kaum determinis percaya bahwa semua peristiwa, termasuk perbuatan manusia sudah ditentukan.

Fatalisme: Pandangan ini menganggap “sesuatu harus terjadi, maka terjadilah.” Mereka percaya bahwa semua peristiwa, baik yang di masa lampau, masa kini, dan masa depan, sudah ditentukan oleh Allah atau kekuatan ilahi lainnya.

Kehendak bebas: Teori yang menyatakan bahwa seseorang dalam situasi tertentu, bisa-bisa memilih melakukan apa saja. Para filsuf memandang teori kehendak bebas ini bertentangan dengan determinisme.

Indeterminisme: Pandangan yang percaya kalau ada peristiwa tertentu yang tidak ada penyebabnya. Banyak pendukung teori kehendak bebas yang percaya kalau tindakan seseorang dalam memilih itu terjadi tanpa harus ditentukan oleh penyebab yang bersifat fisiologi maupun psikologi.

Fatalisme secara teologis berusaha menunjukkan adanya kontradiksi logika antara ke-Mahakuasa-an Allah dengan kehendak bebas, di mana kehendak bebas diartikan sebagai kemampuan untuk memilih dari opsi-opsi yang ada. Cara pikir mereka kurang lebih seperti ini: Allah itu Mahakuasa. Karena Allah itu Mahakuasa, maka Allah juga Mahatahu sehingga tidak mungkin bisa salah. Karena Allah punya pengetahuan yang tidak terbatas mengenai peristiwa apapun yang akan terjadi besok, misalnya dalam hal memotong rumput, maka seseorang terpaksa harus melakukan kegiatan itu. Karena itu, keberadaan kehendak bebas menjadi tidak mungkin, karena manusia tidak punya pilihan lain selain melakukan kegiatan itu.

Mereka yang secara membabi buta percaya kalau “apa pun yang harus terjadi, terjadilah” sama salahnya dengan mereka yang percaya segala sesuatu terjadi karena kebetulan. Betul kalau segala sesuatu terjadi, tapi itu hanya karena seizin Allah yang berdaulat yang mengizinkan peristiwa itu terjadi, menurut kehendak-Nya. Mereka yang dengan sungguh-sungguh mempelajari Alkitab tidak mungkin percaya kalau segala sesuatu terjadi hanya karena kebetulan saja.

Sebaliknya, mereka yang tidak menginginkan Allah berkuasa atau mereka yang menolak kedaulatan Allah, adalah orang-orang yang tidak mengasihi Allah dan tidak menginginkan Allah dalam hidup mereka. Mereka ingin berjalan menurut kehendaknya sendiri.

Hari ini kita dihadapkan dengan kenyataan hidup: bahwa hidup kita adalah suatu proses di mana kita selalu dihadapkan dengan pilihan dan tanggung jawab pribadi. Jika kita sekarang mengalami suatu keadaan, kita sendiri yang bisa menentukan reaksi kita dan kita sendiri yang bisa memutuskan apa yang akan kita akan perbuat. Sering kali dalam hidup ini kita menjumpai tantangan besar dan untuk mengatasinya mungkin ada jalan pintas yang tampaknya sangat mudah dan memikat. Alkitab menyatakan bahwa adalah keputusan kita sendiri jika kita memilih jalan itu.

Kita tidak akan mudah merasa ragu untuk mengambil keputusan jika kita hidup dekat dengan firman-Nya. Tuhan sudah memberi kita Roh Kudus untuk menerangi hati dan pikiran kita dalam mengambil keputusan. Karena itu, jika kita mendapatkan hasil yang baik, janganlah lupa untuk bersyukur kepada-Nya. Sebaliknya, jika kita mengalami kegagalan, itu mungkin karena kesalahan kita. Dalam hal ini, kita tetap percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa bisa mengubah apa yang nampaknya buruk untuk menjadi apa yang baik untuk anak-anak-Nya.

Hal menyesali dosa

“Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!” Mazmur 51: 1

Siapakah manusia yang tidak berdosa? Agaknya semua orang, dari segala bangsa dan segala agama, akan mengaku sebagai orang yang berdosa jika ditanya.  Semua orang, bagaimanapun baiknya umumnya mengaku bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak sempurna. Walaupun demikian, jika ditanya apa yang sudah mereka lakukan untuk dosa-dosa mereka, mungkin tidak banyak yang bisa mereka katakan. Mungkin saja ada yang sudah bertobat dari dosa tertentu, tetapi tentunya banyak dosa-dosa lain yang tersisa.  Mungkin jika dosa-dosa itu tidak terasa sebagai dosa besar, mereka dengan mudah melupakannya atau mungkin saja tidak menyadarinya.

Sebagian yang dianggap dosa, mungkin bertalian dengan etika kehidupan. Memang etika bisa menjadi pedoman praktis tentang apa yang baik dan yang buruk dalam hidup sehari-hari. Tetapi, setiap manusia, keluarga, suku atau bangsa tentunya mempunyai etika yang berbeda-beda. Apa yang bisa diterima oleh orang yang satu, belum tentu bisa diterima oleh orang yang lain.Tidaklah mengherankan jika kita melihat bahwa ada orang -orang yang dengan enaknya melakukan sesuatu yang dianggap tabu oleh orang lain. Apalagi mereka yang berkuasa dan ternama biasanya tidak lagi mempunyai rasa segan atau malu untuk melakukan hal yang salah.

Bagi orang Kristen pun ada berbagai faktor yang  bisa menyebabkan perbedaan pendapat tentang apa yang baik dan apa yang buruk, antara lain pendidikan, kebiasaan, tekanan ekonomi, situasi politik dan sebagainya. Semua itu bisa membuat orang tidak peduli atau kurang peka dengan dosa-dosa yang ada pada dirinya, atau yang ada dalam masyarakat. Apa yang kelihatan sebagai dosa kemudian diterima sebagai sesuatu yang tidak bisa dihindari, dan bahkan mungkin sebagai kehendak Tuhan. Buat apa memikirkan kesalahan di masa lalu? Bukankah berpikir positif adalah lebih berguna dari pada hidup dalam penyesalan?

Berpikir positif atau positive thinking adalah sesuatu yang banyak digembar-gemborkan oleh berbagai motivator pada zaman ini. Berpikir positif adalah sesuatu yang membuat orang bisa bertahan dalam menghadapi kesulitan, begitu kata orang. Memang, jika seseorang mengalami hal yang kurang menyenangkan, pikiran yang negatif seringkali membuat persoalan menjadi terasa makin berat. Berpikir positif secara umum menyangkut usaha untuk memperbesar hal percaya kepada diri sendiri dan memupuk semangat untuk menghadapi hari depan. Kelihatannya, semua ini adalah baik dalam pandangan banyak orang yang menghadapi kesulitan hidup. Rasa sesal dan kesal memang bisa membuat semangat orang menjadi hancur dalam kesulitannya. Bagaimana kata firman Tuhan dalam hal ini?

Alkitab menceritakan kesulitan besar yang dihadapi raja Daud. Ketika itu ia sudah melakukan dosa besar dengan menghamili Batsyeba, istri Uria panglima perangnya. Bukan itu saja, tindakan Daud yang lain kemudian menyebabkan kematian Uria. Tuhan kemudian mengutus nabi Natan untuk memperingatkan Daud (2 Samuel 12). Daud tidak membantah apa yang dinyatakan oleh Natan, sebaliknya ia memohon ampun kepada Tuhan. Daud tidak memakai cara berpikir positif dengan mengabaikan kekeliruan yang pernah dilakukannya, tetapi dengan sungguh-sungguh meminta pengampunan Tuhan akan segala pelanggarannya. Daud mengerti bahwa dengan mengakui segala kekeliruannya dan menyadari bahwa Tuhan tidak dapat ditipu dengan penampilannya, ia masih bisa berharap pada belas kasihan Tuhan.

Dari kisah hidup Daud, kita bisa menyadari bahwa Daud bukanlah orang yang sempurna, tetapi sebaliknya ia adalah orang yang lemah dan bergelimang dosa. Tetapi Daud adalah orang yang tidak bersandar pada diri sendiri dan mencoba menyelesaikan persoalan hidupnya dengan kekuatannya. Ia tidak menutupi masa lalunya dengan  pikiran-pikiran positif.  Sebaliknya, Daud  menghampiri tahta Tuhan dengan bersujud dan menyesali apa yang telah dilakukannya. Ia sadar bahwa dengan usaha apapun ia tidak dapat memutar balik jam kehidupannya dan mencuci bersih dosa yang sudah dilakukannya. Ia hanya bisa memohon ampun kepada Tuhan yang mahasuci.

Sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita percaya bahwa Roh Kudus diam dalam hidup kita. Roh Kudus yang pada mulanya membuat kita sadar bahwa kita perlu menerima Yesus Kristus agar kita bisa diselamatkan, adalah Roh yang tinggal dalam hati kita dan membimbing kita agar hidup kita makin lama makin baik. Tetapi, jika kita kerapkali mengabaikan suara Roh Kudus dan lebih sering mengikuti kehendak kita sendiri, lambat laun kita akan makin sulit untuk mendengarkan suara-Nya karena kita sudah mendukakan Roh itu (Efesus 4: 30). Secara perlahan-lahan kita menjadi orang yang tidak peduli akan dosa kita.

Ketidakpedulian akan keadaan diri kita yang melakukan berbagai dosa, adalah sama dengan tidak mengakui dosa kita. Kita mungkin tidak lagi merasa perlu untuk berdoa memohon pengampunan dan meminta kekuatan untuk menghilangkan dosa-dosa itu dari diri kita. Mungkin kita merasa cukup baik dan tidak seperti orang lain yang hidupnya kacau. Kita mungkin lupa bahwa Tuhan adalah mahasuci dan semua orang adalah tidak layak dan sudah berdosa di hadapan hadirat-Nya.

Apa yang akhirnya terjadi pada Daud bisa mengingatkan kita  bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakasih. Seperti Tuhan sudah mengampuni Daud, Ia juga bisa mengampuni kita jika kita mau mengakui kekeliruan hidup kita dan memohon ampun kepada-Nya. Jika kita memang mau berlaku jujur di hadapan tahta-Nya, Tuhan akan memberikan kita kemurahan-Nya dengan membimbing kita untuk menghadapi masa depan kita. Tidak ada hal lain yang bisa mengembalikan rasa percaya diri kita, kecuali keyakinan bahwa Tuhan sudah mengampuni segala kesalahan, kesombongan, kepalsuan dan kejahatan kita yang lain. Dengan pengampunan-Nya, beban besar yang ada dipundak kita akan dilepaskan dan kita bisa melangkah menuju hari depan dengan rasa damai dan bahagia.

Hari ini, adakah kesadaran yang muncul dalam hati kita bahwa ada banyak dosa yang terjadi dalam hidup kita, dalam keluarga, pekerjaan, sekolah, masyarakat dan negara kita? Apakah kita masih bisa merasakan teguran Roh Kudus yang menyatakan kepada kita bahwa ada hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan oleh umat-Nya? Apakah kita masih bisa mendengar bahwa kita juga terpanggil untuk memerangi dosa yang ada dalam masyarakat di sekitar kita? Adakah rasa sesal dalam hati kita bahwa selama ini kita tidak mempunyai keberanian untuk menyatakan firman Tuhan dalam masyarakat? Biarlah  pengakuan dosa atas ketidakpedulian kita selama ini boleh membawa perubahan sikap hidup kita pada hari-hari mendatang.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Sulitnya melewati lubang jarum

/ DR. ANDREAS NATAATMADJA

“Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Markus 10: 25

Hari ini adalah hari di mana saya harus meninggalkan Darwin untuk terbang kembali ke Brisbane. Liburan sudah berakhir, dan esok hari saya harus kembali bekerja. Darwin adalah ibukota negara bagian Northern Territory (NT), yaitu provinsi paling utara Australia yang jaraknya sekitar 3000 km dari Brisbane, ibukota negara bagian Queensland.

Suatu hal yang menarik mengenai provinsi NT adalah jumlah penduduknya yang hanya sekitar 250 ribu sekalipun luas daerahnya adalah 1, 42 juta km persegi. Lebih menarik lagi, ada daerah tertentu yang tidak dihuni manusia, tetapi ditinggali oleh koloni unta liar sampai sebanyak 2 unta per km persegi. Sebagai binatang pemakan daun yang besar tubuhnya, unta liar sering membuat kerusakan yang signifikan atas berbagai tanaman di daerah itu. Karena itu, pemerintah setempat secara teratur berusaha mengurangi jumlah unta liar melalui program pemusnahan.

Dalam ayat diatas, dikatakan oleh Yesus bahwa lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Seekor unta sudah tentu tidak bisa memasuki lubang jarum, karena itu ada yang menafsirkan bahwa “lubang jarum” adalah sebuah pintu kecil di tembok Yerusalem yang hanya memungkinkan seekor unta lewat jika semua beban bawaan unta itu ditanggalkan. Tetapi, sampai sekarang orang tidak dapat memastikan adanya pintu kecil seperti itu.

Banyak orang yang memakai ayat diatas untuk menepis pelajaran teologi kemakmuran, dengan mengatakan bahwa mereka yang hanya memikirkan kesuksesan dan kenyamanan akan sulit untuk mengikut Yesus. Tetapi, dalam konteks kehidupan modern, bukan hanya orang yang terpukau akan kekayaan yang bakal menemui kesulitan untuk menjadi umat Tuhan. Mereka yang lebih senang menjadi umat duniawi, akan sukar menjadi umat surgawi. Mereka yang lebih menyenangi hal jasmani, akan sulit untuk memahami hal rohani. Mereka yang lebih senang bersantai dalam hidup misalnya, akan kurang tertarik untuk memikirkan hal yang serius seperti soal mengikut Tuhan.

Mata pelajaran kehidupan yang paling sulit, bukanlah soal jasmani. Hal rohani yang menyangkut keselamatan jiwa, adalah jauh lebih sulit untuk dimengerti. Sekalipun seorang ahli agama seperti Nikodemus, tidak mengerti mengapa manusia harus dilahirkan kembali (Yohanes 3: 1 – 21). Dengan demikian, ujian yang paling sulit untuk umat Kristen adalah dalam hal mengikut Yesus Kristus.

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Matius 10: 38

Yesus yang menghendaki hidup kita agar bisa dipusatkan untuk mengasihi Tuhan dan sesama, seringkali diabaikan oleh mereka yang merasa bahwa hidup ini lebih baik digunakan untuk kenyamanan diri sendiri. Jauh lebih mudah bagi mereka untuk lulus dalam ujian jasmani daripada ujian rohani. Tidaklah mengherankan bahwa bagi mereka adalah sulit untuk menyambut uluran tangan Yesus untuk memasuki pintu ke surga.

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7: 13 – 14

Hal membagikan berkat Tuhan

 / DR. ANDREAS NATAATMADJA

“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” Matius 6: 11

Malam ini saya berjalan kaki keluar dari hotel saya di Darwin untuk makan malam. Di sepanjang jalan, saya melihat lampu-lampu yang dipasang di banyak pohon, yang membuat suasana terasa seperti suasana akhir tahun di kota besar. Padahal kota Darwin hanya bisa terbilang kota kecil saja dengan jumlah penduduk yang kurang dari 150 robu orang.

Suasana yang nampak meriah untuk para turis, tidak bisa menutupi ketimpangan sosial yang ada, karena terlihat banyak orang yang tergolong tuna wisma berkumpul di berbagai sudut jalan. Mereka adalah penduduk asli Australia. Masalah yang dihadapi mereka pada umunnya menyangkut terbelakangnya pendidikan, pekerjaan dan kesehatan. Hidup mereka penuh tantangan yang sulit untuk diatasi pemerintah.

Tantangan hidup memang seringkali berat bagi banyak orang. Semakin banyak penduduk dunia, semakin banyak juga orang yang dalam kesusahan. Walaupun ada kemajuan teknologi dan ekonomi di banyak negara, dalam kenyataannya banyak orang di negara manapun yang harus berjuang untuk bisa hidup hari demi hari, terutama mereka yang dalam posisi sosial yang lemah.

Perbedaaan antara mereka yang hidup berlebihan dan mereka yang berkekurangan semakin besar saja di berbagai negara di dunia. Sepintas lalu, kepincangan sosial ini membuat manusia bertanya-tanya, apakah Tuhan itu adil terhadap ciptaan-Nya. Apakah doa meminta makanan yang secukupnya masih relevan di zaman ini, karena makanan sudah tentu tidak akan jatuh dari surga. Bagi mereka yang sedang menghadapi pergumulan hidup, doa ini agaknya tidak terdengar oleh siapa pun, termasuk Tuhan. Benarkah begitu?

Ayat diatas adalah sebagian dari doa Bapa kami yang diajarkan Yesus sebagai model doa yang harus kita tiru dalam kita berdoa setiap hari. Permohonan makanan sebenarnya juga mencakup semua apa yang dibutuhkan dalam hidup manusia. Bagi sebagian orang, ayat ini mudah mengucapkannya karena mereka hidup berkecukupan. Bagi mereka kata “secukupnya” mungkin sudah dapat diartikan “sangat berlebihan” oleh orang lain. Sebaliknya yang hidup berkekurangan mungkin masih menantikan datangnya kecukupan.

Setidaknya ada dua hal yang penting dalam doa ini, yang pertama adalah pengakuan bahwa Tuhan adalah yang memberi, dan yang kedua adalah kesadaran bahwa Tuhan jugalah yang bisa memberi rasa cukup dalam hidup manusia. Kita memohon Tuhan untuk memberi apa yang kita butuhkan sesuai dengan ukuranNya. Dengan demikian kitalah yang harus belajar hari demi hari untuk bisa mengerti apa yang sebenarnya dikehendaki Tuhan dengan apa yang kita terima.

Bagi mereka yang sudah diberikan berkat yang besar, sering kali masih merasa kurang karena tidak adanya kesadaran atas rasa cukup. Kemampuan untuk merasa cukup dan berbahagia dengan apa yang ada sebenarnya adalah karunia Tuhan yang tidak dimiliki semua orang karena tidak setiap orang memintanya. Untuk bisa mempunyai rasa cukup, hidup kita harus berubah melalui proses penyempurnaan oleh Roh Kudus. Dengan adanya rasa cukup, kita baru bisa tergerak untuk menolong orang lain yang hidup dalam kekurangan.

Hari ini kita diingatkan bahwa setiap kali kita berdoa meminta berkat dari Tuhan, setiap kali juga kita harus mengakui bahwa Tuhanlah yang sudah memberi kita berbagai berkat dalam hidup kita. Selain itu, kita harus juga mau mengutarakan permohonan agar dengan bimbingan Roh Kudus, kita bisa mempunyai rasa cukup dalam hidup kita. Bagi banyak orang yang sudah dikaruniai Tuhan dengan rasa cukup, mereka bisa merasakan bahwa apa yang mereka terima sudah lebih dari cukup, dan karena itu mereka dengan senang hati membaginya dengan orang lain demi kemuliaan Tuhan.

“Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” Matius 5: 7