Bertekunlah dalam menghadapi ujian

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Yakobus 1: 2 – 3

Bulan Desember 2020 telah menjadi bulan penting dalam perang global melawan COVID-19. Setahun setelah munculnya virus corona, Inggris dan AS telah mulai memberikan suntikan pertama vaksin kepada rakyat mereka. Namun di negara berpenghasilan rendah, penantiannya bisa lebih lama. Pemerintah di seluruh dunia saat ini masih sibuk merundingkan kesepakatan untuk membeli vaksin COVID-19. Tetapi, “perebutan vaksin” ini dapat menunda pengadaan vaksin di negara-negara yang kurang mampu hingga tahun 2024. Rakyat yang sudah merasa lelah dengan berbagai lockdown, sekarang ingin mendapatkan kebebasan sekalipun rasa takut menjadi makin besar karena adanya varian virus yang lebih ganas.

Memang, kita yang hidup di dunia ini sering merasa lelah dan takut dengan keadaan di sekeliling kita. Karena itu, kita mungkin merasa sangat menderita jika gelombang kehidupan yang besar terus melanda. Hal ini agaknya tidak mengherankan, karena tentu tidak ada manusia yang menyenangi adanya masalah kehidupan. Siapa yang tidak ingin hidup yang tenteram dan damai? Seperti ikan yang senang berenang di air tenang, sudah tentu semua manusia mendambakan adanya hidup yang berkecukupan dan yang bisa terus dinikmati. Tetapi itu bukanlah kenyataan hidup.

Adalah fakta bahwa semua makhluk hidup pernah mengalami saat-saat yang tidak menyenangkan atau berbahaya. Sebagian makhluk malahan sudah punah (misalnya Dinosaurus) karena tidak sanggup memenangkan perjuangan hidup mereka, baik karena keadaan lingkungan maupun serangan makhluk lain. Tetapi manusia sebagai makhluk yang paling besar ukuran otaknya, secara umum tidak pernah mengalami ancaman yang menjurus kearah kepunahan total. Manusia sebagai peta dan teladan Allah diberi kemampuan untuk menghadapi segala tantangan hidup dan justru makin kuat dan makin mampu menghadapi masalah kehidupan, terutama dengan majunya teknologi. Karena itu juga, jumlah manusia di dunia ini makin membengkak dan sekarang lebih dari 7,5 miliar jiwa.

Bertambahnya penduduk dunia tidaklah berarti bahwa semua manusia hidup dalam kecukupan dan kebahagiaan. Justru sebaliknya, ada banyak penduduk di dunia yang masih hidup dalam penderitaan dan kekurangan. Begitu juga dengan bertambahnya jumlah orang yang menemukan keselamatan dalam Kristus, ada banyak yang masih harus berjuang mati-matian dalam hidup sehari-hari. Bagi banyak orang Kristen, gelombang kehidupan yang tidak kunjung reda membuat mereka sangat lelah dan putus asa. Mereka yang ingin untuk mencari ketenangan sekalipun hanya sejenak, seringkali sulit untuk mendapatkannya.

Ayat di atas menyebutkan bahwa sekalipun adanya gelombang kehidupan saat ini tidaklah membawa rasa nyaman, kita bisa menganggap itu sebagai kebahagiaan, sebagai suatu berkat. Bagaimana mungkin? Itu karena kita tahu bahwa ujian terhadap iman akan membuat kita ingat bahwa kita harus mencari tempat berlindung dalam Tuhan. Tiap-tiap kali kita menghadapi gelombang kehidupan, tiap kali juga kita diingatkan bahwa Tuhan senantiasa melindungi umatNya. Oleh karena itu, dengan adanya tantangan kehidupan, kita bisa menjadi makin tekun dalam berdoa, dalam bersekutu dengan saudara seiman dan dalam mengikuti perintahNya. Gelombang kehidupan selalu ada, tetapi itu tidak dapat memisahkan kita dari kasih Kristus.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38 – 39

Kristus adalah terang

Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Kejadian 1:3-4

Sinar matahari adalah berkat Allah yang memungkinkan semua makhluk di dunia untuk hidup. Tanpa matahari yang diciptakan Allah pada hari keempat (Kejadian 1: 14), sebagian besar dari dunia akan mengalami musim dingin dan kegelapan sepanjang masa. Allah memang menciptakan matahari untuk mengusir kegelapan sehingga semua ciptaanNya bisa hidup menurut ritme kehidupan yang teratur. Dengan adanya terang, kegelapan bisa dihilangkan.

Walaupun demikian, dalam ayat pembukaan di atas tertulis bahwa pada hari pertama Allah menciptakan terang dan memisahan terang itu dari gelap. Terlihat pula bahwa ayat itu adalah ayat pertama dalam Alkitab yang menyebutkan bahwa Allah menciptakan dengan FirmanNya. Lebih dari itu Allah melihat bahwa terang itu baik adanya. Bagaimana ada terang sebelum ada matahari dan bulan? Apakah terang disini bukan dimaksudkan sebagai terang secara fisik, terang matahari yang kita lihat di siang hari?

Bahwa terang adalah baik dan Tuhan adalah sumber terang, itu sudah dimengerti sejak zaman dulu. Pemazmur dalam Mazmur 27:1 memuji Tuhan sebagai terang dan keselamatannya. Dengan demikian orang Israel mempunyai konsep bahwa Tuhan adalah terang dalam hidup mereka.

“…TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?”

Dengan demikian, ketika Yesus berkata dihadapan orang Farisi bahwa Ia adalah terang dunia, orang Farisi tentu mengerti bahwa Yesus mengklaim bahwa Ia adalah sumber kehidupan manusia. Tetapi mereka tidak dapat menerima pernyataan Yesus itu, karena bagi mereka Yesus adalah orang biasa, anak tukang kayu. Mereka tidak mengerti bahwa Yesus datang ke dunia sesuai dengan kehendak Allah Bapa. Ia datang sebagai terang dari mulanya untuk menyelamatkan manusia dari kegelapan dosa. Jika Allah menciptakan terang untuk mengusir kegelapan, itu berarti Ia mengaruniakan AnakNya untuk mengusir dosa manusia agar manusia bisa memperoleh kehidupan yang kekal.

Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” Yohanes 8: 12

Sayang sekali, dalam hidup ini seringkali manusia tidak sadar bahwa mereka hidup dalam kegelapan. Sebagian manusia malahan lebih menyukai kegelapan karena perbuatan-perbuatan mereka jahat (Yohanes 3: 19). Sekalipun mereka mungkin tahu bahwa ada banyak hal-hal yang tidak baik yang mereka lakukan, mereka akan tetap hidup dalam dosa jika mereka dengan sengaja mengabaikan suara Roh Kudus yang mengingatkan mereka akan dosa-dosa yang mereka perbuat.

Dengan dorongan Roh Kudus, manusia bisa menyadari bahwa mereka akan binasa karena tidak ada apapun yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan diri mereka dari hukuman Tuhan. Hanya karena Yesus sudah datang sebagai terang dunia, kegelapan dosa bisa dihilangkan melalui pengampunan total dari Allah yang terjadi karena darah Kristus sudah tercurah bagi mereka yang mau percaya kepadaNya. Mereka yang sudah diselamatkan akan memakai terang Kristus untuk menjalani hidup baru yang senantiasa mengalami pembaharuan, hari demi hari dengan pertolongan Roh Kudus yang sudah diberikan kepada umatNya. Mereka melakukan apa yang benar, supaya menjadi nyata bahwa hidup mereka ada dalam Allah Sang Pencipta (Yohanes 3: 21).

Hari ini, ayat diatas adalah panggilan untuk kita menyadari bahwa tanpa Yesus hidup kita akan tetap dalam kegelapan. Mungkin saja kita tidak merasa bahwa sudah lama kita mengabaikan terang Kristus yang dulu pernah datang ke dalam hidup kita ketika kita pertama kali menyatakan iman percaya kita. Mungkin sejak itu, terang api Roh Kudus mulai perlahan-lahan menjadi padam karena kita sering mengabaikanNya. Pagi ini kita diingatkan bahwa jika terang hidup itu tidak bertambah besar dalam hidup kita, besar kemungkinan bahwa terang itu akan mengecil dan kegelapan dalam hidup kita akan bertambah besar. Saat ini adalah saat yang penting untuk kita sadari bahwa kita perlu untuk makin bisa mengikut Yesus dalam terangNya. Dengan memakai terang Kristus, kita akan bisa menghindari kegelapan dosa; dan dengan memancarkan terang Kristus, orang lain akan dapat ikut memuliakan Dia yang sudah mengubah hidup kita.

“Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.” Yohanes 12: 46

Dalam kesulitan kita harus tetap teguh

“Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” Roma 8: 18

Pandemi Covid-19 sudah menyebabkan berbagai kesulitan dan penderitaan dalam hubungan antar manusia karena adanya lockdown dalam berbagai bentuk. Pemerintah Australia saat ini tidak mengizinkan warganya untuk ke luar negeri setidaknya sampai akhir tahun ini. Begitu juga orang yang ingin mengunjungi Australia haruslah memenuhi syarat-syarat tertentu, termasuk karantina selama dua minggu di hotel atau perumahan yang ditetapkan pemerintah. Bagaimana pula dengan warga Australia yang berada di luar negeri yang ingin pulang ke negaranya? Inilah yang sangat menyedihkan karena banyak di antara mereka yang tidak dapat menemukan pesawat yang bisa membawa mereka pulang. Sekalipun ada pesawatnya, banyak orang yang tidak sanggup membayar harga tiket pesawat yang sangat mahal saat ini.

Pandemi tidaklah memandang bulu, siapa pun bisa merasakan akibatnya. Bagaimana umat Kristen bisa bertahan dalam menghadapi semua tantangan hidup mereka? Paulus adalah seorang rasul yang suka menggambarkan bahwa hidup orang Kristen adalah seperti seorang atlit, petinju atau pelari yang berjuang untuk menang dalam pertandingan. Itu bukan karena ia adalah seorang olahragawan, tetapi ia sadar bahwa seorang olahragawan perlu mempunyai dedikasi tinggi dalam berlatih dan berlomba. Ia bisa melihat bahwa ada banyak orang yang menyebut dirinya Kristen, tetapi hidupnya tidak seperti yang seharusnya karena kurangnya dedikasi dan iman.

Seperti seorang pelari yang harus menghadapi berbagai perlombaan, kita tahu bahwa sebagai manusia kita akan mengalami berbagai tantangan kehidupan. Jika seorang atlit harus hidup sehat, giat berlatih dan mempunyai keberanian untuk menghadapi semua pertandingan, orang Kristen harus hidup menurut perintah Tuhan, rajin mempelajari firmanNya, giat berdoa dan berani menghadapi tantangan hidup.

Masalahnya adalah adanya satu saat dalam kehidupan kita dimana kita, sekalipun sudah berusaha untuk hidup dalam kebenaran, menghadapi persoalan hidup yang sangat besar sehingga kita seakan membentur sebuah tembok besar. Apa yang terjadi pada diri kita mungkin tidak bisa dirasakan orang lain karena itulah masalah kita pribadi.

Seperti seorang pelari yang sudah merasa sangat lelah, keputusan ada ditangan kita, apakah kita akan terus berlari sebisa mungkin, atau berhenti berlari dan meninggalkan perlombaan. Bagi seorang pelari, perasaan lelah akan bertambah besar ketika ia melihat bagaimana pelari-pelari lain mendahului, tidak ada seorangpun yang bisa menolong untuk mengatasi kelelahannya. Tetapi dalam hidup, kita yang mempunyai iman kepada Tuhan mengerti bahwa kita tidak akan tertinggal sendirian, karena Tuhan sebenarnya ikut berlari bersama kita sampai garis finish (Matius 28: 20).

Hari ini biarlah kita menyadari bahwa hidup ini memang terkadang sangat berat, ketika tubuh dan jiwa kita menjerit seakan ingin menyerah. Begitu banyak hal-hal berat yang sudah terjadi sejak awal tahun lalu dan untuk menghadapi hari-hari mendatang terasa hati kita menjadi semakin kecil. Pada saat yang demikian, seperti seorang atlit yang bertekad untuk mencapai garis finish, iman kita harus mengambil alih pikiran manusiawi kita. Hidup ini memang penuh tantangan, tetapi kekuatan dan keberanian kita akan datang dalam pengharapan kepada Tuhan yang akan memberi mahkota kehidupan di masa depan.

“…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Filipi 3: 13-14

Dalam Kristus seharusnya ada kedamaian

“Ia akan menjadi hakim antara banyak bangsa, dan akan menjadi wasit bagi suku-suku bangsa yang besar sampai ke tempat yang jauh; mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak, dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang. Tetapi mereka masing-masing akan duduk di bawah pohon anggurnya dan di bawah pohon aranya dengan tidak ada yang mengejutkan, sebab mulut TUHAN semesta alam yang mengatakannya.” Mikha 4: 3-4

Hari ini hampir semua media di dunia memberitakan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Amerika Serikat. Pelantikan serupa pada tahun-tahun yang silam selalu mengisi berita utama media, tetapi tahun ini agaknya lebih menjadi perhatian orang. Mengapa demikian? Ada banyak sebabnya, antara lain karena adanya demo besar-besaran yang terjadi minggu sebelumnya yang berbuntut tewasnya 5 orang, dan juga karena Presiden yang digantikan tidak mau menghadiri acara pelantikan itu.

Dengan alasan keamanan, suasana pelantikan kali ini tidaklah seperti biasanya karena hanya orang-orang tertentu yang boleh hadir. Memang situasi di Amerika saat ini sangatlah genting dengan adanya pandemi yang sudah menewaskan lebih dari 400 ribu orang dan juga adanya jurang perbedaan pendapat yang besar di antara rakyat Amerika yang disebabkan oleh persaingan antara kedua partai politik utama. Dalam keadaan seperti itu, sungguh membesarkan hati bahwa dalam upacara pelantikan itu ada seorang gadis berkulit hitam, Amanda Gorman, yang membawakan sebuah puisi yang berisi harapan akan masa depan.

Dalam salah satu bait dari puisinya, Amanda menyebutkan bahwa “Alkitab mengajak kita untuk membayangkan bahwa setiap orang akan duduk di bawah pohon anggur dan pohon ara milik mereka sendiri dan tidak ada yang akan membuat mereka merasa takut.” Dari mana Amanda mengambil cuplikan di atas? Dari Mikha 4: 4 yang menyebutkan bahwa pada saatnya, umat Tuhan akan hidup dalam damai sejahtera dan bisa menikmati segala berkat Tuhan. Pada waktu itu, tidak ada lagi orang atau bangsa yang berperang karena semua umat Tuhan akan hidup dalam kedamaian.

Barangkali harapan Amanda untuk bangsa Amerika adalah seperti harapan umat Tuhan yang percaya akan apa yang dijanjikan Tuhan. Tidak akan ada permusuhan, kekacauan dan penderitaan di masa depan. Sudah tentu ini hanyalah harapan. Selama hidup di dunia, manusia harus membanting tulang untuk mencari nafkah dan menghadapi segala macam tantangan. Pandemi Covid-19 ini sudah berlangsung satu tahun, dan kita belum tahu kapan itu akan berakhir. Bagaimana pula dengan perseteruan antar golongan dan antar manusia? Sejak Kain membunuh Habel, manusia tidak pernah bisa memadamkan api kemarahan, iri hati dan kebencian!

Memang di dunia ini semua orang yang bijak tentunya ingin hidup dalam kedamaian, ingin untuk menikmati pohon anggur dan pohon aranya. Tetapi di dunia ini iblis mengembara, dan seperti singa yang mengaum-aum ia mencari orang yang dapat ditelannya (1 Petrus 5: 8). Karena itu, di dunia ini selalu ada masalah, permusuhan dan kebencian. Ayat di atas mungkin menggambarkan keadaan setelah kedatangan Kristus kedua kalinya yang tidak kita ketahui saatnya. Lalu bagaimana pula dengan hidup kita selama di dunia?

Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa Tuhan yang sudah berfirman bahwa selaku umat pilihanNya kita akan mengalami saat dimana kita secara bersama bisa menikmati suasana damai. Selaku umatNya sebenarnya kita tidak perlu menunggu sampai saat kedatangan Kristus untuk memperoleh keadaan damai. Sebagai orang Kristen seharusnya kita mau untuk membawa damai di bumi ini karena hanya kita tahu dalam Kristus ada rasa damai yang sempurna. Karena itu biarlah kita bisa menjadi orang-orang yang membawa damai dalam masyarakat di sekeliling kita, dan bisa menunjukkan kepada seisi dunia bahwa kita adalah anak-anak Allah.

“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” Matius 5: 9

Apakah maksudMu, Tuhan?

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55: 8-9

Dengan adanya pandemi yang tidak kunjung mereda saat ini, setidaknya keadaan ekonomi, pendidikan dan pekerjaan di banyak negara mengalami kemunduran. Sekalipun beberapa vaksin sudah ditemukan dan bahkan mulai disuntikkan, dalam kenyataannya keadaan dunia tidak akan membaik dengan cepat. Sebaliknya, menurut para ahli, situasi akan bertambah buruk selama tahun 2021 sebelum bisa mulai membaik pada tahun sesudahnya.

Banyak orang yang sudah hampir setahun terkurung dalam rumah, keadaan saat ini sungguh terasa membosankan untuk tidak dikatakan menyedihkan. Mereka yang masih belajar mungkin hanya bisa melakukannya secara daring melalui internet. Begitu juga mereka yang biasanya ke kantor setiap hari, saat ini mungkin harus bekerja dari rumah. Mereka yang biasanya bekerja di rumah sakit, toko, pabrik atau lapangan sudah tentu tidak dapat bekerja dari rumah. Dengan demikian jika ada orang-orang yang masih beruntung mempunyai pekerjaan di luar rumah pada saat ekonomi yang suram ini, mereka mungkin harus melupakan risiko tertular virus corona.

Sebelum adanya pandemi, keadaan dunia umumnya cukup baik. Ketika itu kita baru saja memasuki tahun 2020 dan setiap orang mempunyai harapan untuk mencapai sesuatu yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Adanya pandemi seharusnya mengingatkan manusia bahwa masa depan mereka sepenuhnya bergantung pada rencana Tuhan. Tidak ada seorangpun yang terkecuali, dan tidak ada satu bangsa pun yang bisa bebas dari rancangan Tuhan untuk seisi bumi ini.

Sekalipun keadaan saat ini dapat dikatakan kritis, mereka yang tetap berusaha untuk mencari kehendak Tuhan adalah orang-orang yang bijaksana. Sebaliknya, mereka yang menuruti kehendak sendiri dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan adalah orang-orang yang bodoh.

Memang dalam keadaan yang normal, orang yang tidak mengenal Tuhan selalu yakin bahwa hidup mereka ada dalam tangan mereka sendiri. Dalam keadaan yang gawat sekarang ini, mereka merencanakan segala sesuatu yang baik untuk diri sendiri dan menurut cara-cara mereka tanpa mempedulikan orang lain. Mereka tidak sadar bahwa hidup ini ada di tangan Tuhan dan kehendak mereka hanya akan terjadi jika itu sesuai dengan rancangan Tuhan.

Hari ini biarlah kita mau berdoa untuk masa depan kita, masa depan bangsa dan keadaan dunia. Kesadaran bahwa Tuhan yang mahakuasa mencintai orang-orang yang tulus, jujur dan suka damai, seharusnya menambah keyakinan kita bahwa sekalipun awan tebal menutupi langit saat ini, pada waktunya kita akan melihat sinar matahari lagi.

“Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu.” Mazmur 116: 7

Tuhanlah yang akan bertindak

“Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” Matius 13: 30

Adalah suatu hal yang biasa dalam kehidupan politik di Amerika, bahwa ketika seorang presiden akan turun dari jabatannya, ia mempunyai kesempatan untuk mengampuni orang-orang yang sudah melanggar hukum. Ini adalah kesempatan terakhir bagi seorang presiden yang akan lengser untuk menolong orang-orang yang dianggap pernah berjasa kepadanya. Sekalipun orang-orang itu dianggap publik sebagai orang yang bersalah, ada kemungkinan bahwa karena “kebaikan” presiden, mereka tidak jadi dihukum. Sebaliknya, orang-orang yang tidak disenangi presiden bisa-bisa mengalami pemecatan.

Hidup manusia di dunia ini seringkali terlihat tidak adil. Mereka yang jahat dan curang kerapkali hidupnya berhasil dan nyaman, sedangkan mereka yang baik hati dan jujur justru hidupnya berat dan bahkan bisa menjadi bulan-bulanan orang lain. Dengan demikian, kita mungkin menghadapi semua itu dengan rasa kurang senang. Kalau Tuhan membiarkan adanya orang yang jahat dan bahkan membiarkan mereka untuk berjaya, tidak patutkah kita merasa iri dan bahkan sakit hati kepada yang tidak mengenal Tuhan, dan juga marah kepada Tuhan yang tidak melakukan tindakan apa-apa kepada mereka? Tuhan agaknya tidak adil!

Dalam perumpamaan tentang lalang dan gandum, Yesus menjawab pertanyaan yang diajukan oleh banyak orang: mengapa Tuhan membiarkan adanya orang yang jahat untuk menikmati hidup mereka ditengah mereka yang taat kepada Tuhan (Matius 13: 24 – 30). Perumpamaan ini cukup sering dibahas atau dikhotbahkan, tetapi sering secara kurang tepat dipakai untuk membahas kehidupan gerejani. Perumpamaan ini sebenarnya berlaku untuk keadaan di dunia dan mengandung pengajaran yang mempunyai aplikasi praktis di semua zaman, terutama di zaman sekarang.

Dunia ini sudah sangat berkembang dan era globalisasi membuat negara yang satu membutuhkan negara yang lain. Begitu juga, di sebuah negara ada banyak berbagai partai dan golongan yang saling bergantung dan berinteraksi. Dalam kehidupan seseorang, kerjasama dan komunikasi dengan orang lain adalah perlu sekalipun mereka tidak sepaham. Semua itu tentunya jika masih dalam batas-batas yang bisa diterima masyarakat.

Masalahnya, jika dalam hidup kita melihat adanya sebuah negara, sebuah kelompok manusia atau pribadi yang seolah-olah berbuat semaunya sendiri dan menyebabkan berbagai masalah di muka bumi, hati kita mungkin bertanya-tanya mengapa Tuhan membiarkan hal seperti itu. Kita mengerti bahwa Tuhan mahasabar, tetapi kita tidak mengerti mengapa Ia yang mahakuasa tidak bertindak tegas terhadap mereka yang jelas-jelas melakukan hal yang bertentangan dengan firmanNya. Mengapa Tuhan tidak membuat semua yang tidak benar itu lenyap dari muka bumi? Kita mungkin lupa bahwa sebenarnya kita pun bukan orang baik. Kita adalah orang-orang jahat dan berdosa, yang sudah menerima pengampunan melalui darah Kristus.

Hari ini kita harus sadar bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahabijaksana. Dia adalah Tuhan yang membuat roda kehidupan ini berputar. Tuhanlah yang memungkinkan semua orang di dunia untuk hidup bersama dan berinteraksi. Ia jugalah yang menerbitkan sinar matahari dan  menurunkan hujan baik untuk orang yang jahat maupun umatNya (Matius 5: 45).  Segala bentuk kehidupan ada di dunia, sedemikian rupa hingga kuasa Tuhan bisa terlihat bekerja dan memegang kemudi. Dalam segala keadaan kehidupan manusia tetap berjalan, dan mereka yang mau bertobat dan percaya kepada Tuhan bisa menerima pengampunanNya. Mereka yang sudah percaya kepada Tuhan akan sadar bahwa Ia akan bertindak untuk memisahkan orang yang jahat dari mereka yang taat kepadaNya. Itu akan terjadi pada saat yang ditentukan Tuhan dan bukannya sekarang.

Hindarilah kekacauan

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Tanggal 20 Januari yang akan datang adalah hari yang bersejarah bagi rakyat Amerika karena presiden dan wakilnya akan dilantik di ibukota negara itu, Washington D.C.. Saya sendiri pernah merasakan suasana serupa pada tahun 2001 ketika saya mengunjungi kota itu pada saat menjelang pelantikan Presiden George W. Bush. Kali ini, jutaan orang di dunia yang akan memantau peristiwa itu melalui TV dan media lainnya karena Amerika adalah negara besar yang dianggap sebagai pelopor azas demokrasi. Tambahan pula, suasana pandemi dan politik di Amerika saat ini cukup membuat prihatin banyak orang. Orang tentunya mengharapkan agar acara itu bisa dilaksanakan dengan baik dan aman sekalipun ada perbedaan pendapat di antara rakyatnya.

Tujuan hidup rakyat suatu negara memang bisa menjadi dasar filsafat kesatuan sebuah negara. Walaupun demikian, tujuan hidup tiap orang selalu ada bedanya dengan tujuan hidup orang lain, dan apa yang diingini seseorang hari ini mungkin berubah di masa mendatang. Kekacauan kemudian bisa timbul karena adanya orang-orang yang bertentangan pendapat. Ini mungkin salah satu hal yang kadangkala bisa menyebabkan orang kurang bisa menghargai adanya peraturan dan sistem yang ada, sekalipun semua itu dibuat dengan maksud baik.

Adanya pemerintah memang dimaksudkan untuk membawa kebahagiaan bagi semua warganya. Pemerintah merupakan suatu bentuk organisasi yang bekerja dan menjalankan tugas untuk mengelola sistem dan menetapkan kebijakan dalam mencapai tujuan negara. Karena itu, seluruh rakyat sudah sewajarnya mendukung kegiatan-kegiatan baik yang dilakukan pemerintah.

Bagi umat Kristen, pemerintah yang sah, yang sudah terpilih melalui cara yang benar adalah ada dengan seizin Tuhan. Dengan demikian, ayat diatas merupakan hal yang sangat penting untuk membina rasa hormat kepada pemimpin bangsa dan negara. Malahan, jika semua warga mau menaati firman Tuhan diatas, kesatuan sebuah negara akan lebih mudah dipelihara untuk mencapai kebahagiaan bersama.

Kebahagiaan, ketenteraman, kemakmuran dan kesatuan tidak dapat dicapai hanya dengan konsep dan pikiran, tetapi harus dengan penerapan dan perbuatan. Orang Kristen dipanggil untuk menjadi contoh masyarakat dalam hal pengabdian kepada negara mereka masing-masing. Sekalipun mereka harus menghormati Allah diatas segala-galanya, mereka juga harus tunduk kepada pemerintah yang sudah ditetapkan Allah. Ini bukan hanya dalam menaati segala hukum dan peraturan, tetapi juga dalam hal menyumbangkan apa yang perlu demi kemajuan negara.

“Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.” Roma 13: 7

Pagi ini, kita diingatkan bahwa jika menginginkan kemakmuran, ketertiban dan kedamaian dalam negara kita, kita sebagai orang Kristen terpanggil untuk menjadi teladan dengan menghormati pemerintah yang ada dengan menunaikan kewajiban kita, mencintai sesama warga dan menaati segala hukum dan peraturan negara yang ada. Terutama pada saat pandemi ini, kita harus taat kepada peraturan/anjuran pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah yang ada. Seperti Allah yang sudah membawa perdamaian antara diriNya dan umat manusia melalui Yesus Kristus, kita harus membawa damai sejahtera dimanapun kita berada karena kita sudah ditebus dengan darah Kristus.

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Iblis dan pengaruhnya

“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” 1 Korintus 15: 33

Saat ini Jakarta sudah mulai menjalankan PSBB ketat lagi karena melonjaknya kasus Covid-19. Tentunya, mereka yang mengikuti anjuran pemerintah di berbagai media tahu bahwa setiap orang harus lebih berhati-hati dalam menjaga kesehatannya. Karena itu saya heran bahwa kawasan Sudirman-Thamrin, Jakarta pada hari minggu ini masih ramai dikunjungi warga yang berolahraga, termasuk mereka yang ramai-ramai bersepeda dan berjalan kaki tanpa menggunakan masker. Mungkin mereka ingin menikmati segarnya udara pagi bersama dengan teman, dan mungkin juga mereka bosan tinggal di rumah; tetapi jelas bahwa ada banyak orang yang tidak dapat berpikir sehat karena terpengaruh oleh lingkungan pergaulannya.

Ayat diatas secara gamblang menyebutkan bahwa pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Orang yang sopan bisa menjadi tidak sopan, yang biasanya berhati-hati bisa menjadi ceroboh, yang jujur bisa berubah menjadi pembohong, yang lemah lembut bisa menjadi bengis dan kasar, dan yang hidupnya baik menjadi berantakan akibat pengaruh lingkungan dan pergaulan. Karena itu, sebagai umat Tuhan kita harus berhati-hati dalam menjalani hidup ini agar apa yang baik tidak berubah menjadi buruk.

Bagaimana kita bisa berhati-hati agar tidak terjerumus kedalam apa yang keliru? Berhati-hati lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Banyak orang yang sudah berusaha untuk berwaspada, tetapi tetap juga jatuh kedalam dosa. Apa yang nampaknya baik, dengan berjalannya waktu bisa saja berkembang menjadi sesuatu yang buruk. Mereka yang dulunya kita anggap sebagai teman, bisa saja menjadi orang yang kemudian menjerumuskan kita kedalam kebiasaan yang jelek. Ini sering menyangkut hal-hal seperti korupsi, narkoba, atau seks; tetapi juga bisa bertalian dengan tingkah laku dan gaya hidup.

Orang bisa berhati-hati kalau ia bisa membedakan apa yang baik dan apa yang buruk. Orang tidak akan berhati-hati jika tidak menyadari adanya bahaya. Begitulah banyak orang Kristen yang tidak sadar jika iblis datang menggoda. Memang banyak orang yang membayangkan bahwa iblis adalah suatu makhluk gaib yang mempunyai rupa yang menakutkan. Tetapi, jika memang begitu, tentunya orang tidak mudah tergoda. Sebaliknya, iblis sering muncul sebagai sesuatu yang nampaknya memikat, indah, dan berguna. Dengan demikian, tidaklah mudah bagi manusia untuk membedakan apa yang baik dari yang jahat. Mereka yang melakukan hal yang bodoh, tidak sadar akan kebodohan mereka. Karena itu, sebagai orang yang sudah menerima keselamatan, kita harus mau hidup dalam bimbingan Roh Kudus setiap waktu sehingga kita tahu apa yang baik dan berkenan kepada Tuhan. Kita harus juga mau mempelajari firman Tuhan secara teratur supaya kita makin mengerti apa yang baik dalam pandangan Tuhan.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Lebih dari itu, sebagai orang Kristen kita harus mau tetap merendahkan diri di hadapan Tuhan. Kita harus sadar bahwa mereka yang sombong dan merasa kuat adalah orang-orang yang mengabaikan bimbinganNya, dan yang kemudian lebih suka untuk mendengarkan suara manusia di sekelilingnya. Mereka jugalah yang kemudian menjadi orang-orang yang tersesat, yang harus membayar kekeliruannya dengan harga yang mahal.

Rancangan Tuhanlah yang pasti terjadi

” TUHAN semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? Tangan-Nya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?” Yesaya 14: 27

Ditemukannya beberapa vaksin untuk Covid-19, membawa harapan baru untuk rakyat dari negara mana pun. Jika biasanya untuk memgembangkan sebuah vaksin dibutuhkan waktu setidaknya 5 tahun, kali ini dalam satu tahun saja sudah ada beberapa kandidat vaksin yang bisa dipakai decara darurat. Bagi kita orang Kristen, ini tentunya karena adanya pertolongan Tuhan.

Dalam bahasa Ibrani, kata B’ezrat Hashem sering dipakai untuk menunjukkan ketergantungan manusia kepada Tuhan – kata itu sendiri berarti “dengan pertolongan Tuhan”. Memang, orang yang percaya adanya Tuhan yang mahakuasa tentunya sadar bahwa segala sesuatu hanya bisa terjadi dengan seizinNya. Lebih dari itu, untuk mencapai apa yang diingininya, manusia membutuhkan pertolongan Tuhan untuk membuka jalan.

Ayat di atas menunjukkan bahwa apa pun yang kita perbuat tidak akan mengubah rancangan atau kehendak Tuhan. Karena itu banyak orang Kristen yang menghadapi tantangan hidup seringkali berdoa ” KehendakMu jadilah”. Dalam kenyataannya, manusia lebih mudah untuk mengatakan daripada untuk melakukan apa yang semestinya.

Manusia seringkali merencanakan segala sesuatu dengan tanpa memikirkan kehendak Tuhan. Manusia sering melakukan sesuatu dan ingin agar Tuhan kemudian memberikan persetujuanNya. Manusia kebanyakan berusaha untuk mencapai apa yang diingininya dan hanya merasa perlu berdoa jika menemui halangan.

Ayat di atas menyatakan bahwa kesombongan manusia secara tidak sadar sering ingin untuk melawan atau menggagalkan rencana Tuhan. Memang, menurut banyak orang, mereka yang tidak berani mengambil keputusan atau tidak punya impian masa depan, tidak akan mencapai apa yang baik. Dengan demikian, banyak orang yang bekerja keras dengan harapan bahwa itu akan sesuai dengan rencana Tuhan. Jika itu tidak sesuai dengan rencanaNya, semoga Ia mau mengubah rencanaNya setelah kita banyak berdoa!

Dalam kenyataannya, memang banyak orang yang kurang berhasil hidupnya karena mereka kurang mau bekerja keras atau kurang mau untuk membuat rencana masa depan. Sebaliknya, banyak juga orang yang sangat yakin akan kemampuannya dan berani melangkahkan kaki untuk mengejar cita-citanya, hanya untuk menemui berbagai kesulitan dan kegagalan.

Ayat di atas memperingatkan mereka yang yakin dan bahkan sombong akan hari depan yang cerah, bahwa hidup mereka bukan di tangan mereka sendiri. Apa yang akan terjadi belum tentu sesuai dengan apa yang mereka pikirkan karena Tuhanlah yang memegang kunci kehidupan. Mereka seharusnya menyadari bahwa hanya dengan mencari kehendak dan pertolongan Tuhan mereka akan bisa melaksanakan apa yang mereka rencanakan.

Sebagai umat Kristen, kita tidak dapat mengharapkan bahwa hidup di dunia bisa menjadi mudah dan selalu lancar. Kita tidak juga bisa berharap bahwa tanpa kita berbuat apa-apa Tuhan akan mendatangkan mukjizat yang kita ingini. Dalam situasi pandemi saat ini, kita tidak tahu apakah dengan adanya vaksin, dalam satu tahun kita akan bisa mengatasi semua dampaknya. Perjuangan hidup kita masih panjang, tetapi kita bisa mengharapkan datangnya pertolongan Tuhan agar kita bisa melangkah dengan iman dan sanggup menghadapi berbagai jurang dan bukit untuk menuju ke arah yang Tuhan sudah tetapkan bagi kita.

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.” Amsal 16: 9

Dosa membawa kekacauan

“Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.” Amsal 6: 16 – 19

Suatu hari iblis datang dengan menyamar sebagai ular dan berbicara kepada Hawa, meyakinkannya untuk memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Hawa memberi tahu ular itu bahwa Tuhan berkata bahwa mereka tidak boleh memakannya dan mereka akan mati jika memakannya. Tetapi iblis menggoda Hawa untuk makan dengan mengatakan bahwa dia akan menjadi seperti Tuhan jika dia melakukannya. Iblis sudah membohongi Hawa. Hawa memercayai kebohongan itu dan menggigit buah itu, tentunya karena ingin menjadi seperti Tuhan yang tahu tentang yang baik dan yang jahat. Dia kemudian mengambil beberapa buah untuk dimakan bersama. Adam dan Hawa yang kemudian sadar bahwa mereka telah berdosa, segera merasa malu dan mencoba bersembunyi dari Tuhan. Bermula dari kebohongan atau dusta yang dibuat iblis, Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Karena itu Yesus berkata bahwa iblis adalah bapa segala dusta (Yohanes 8: 44).

Dalam bahasa asli Alkitab, dosa sebenarnya berarti “meleset dari sasaran”. Jika Tuhan sudah menetapkan apa yang boleh dilakukan oleh manusia, perbuatan manusia yang melanggar perintah itu adalah seperti anak panah yang tidak mencapai sasarannya. Ada berapa dosa yang kita perbuat sampai hari ini? Tidak ada seorang pun yang tahu berapa jumlah dan macam dosa yang diperbuatnya dalam sehari, apalagi selama hidupnya. Walaupun demikian, tidak semua orang mau memikirkan hal itu. Memang banyak orang yang melakukan “dosa-dosa kecil ” seperti “bohong putih” dengan anggapan bahwa semua itu tidak merugikan orang lain. Asal saja tidak ada “dosa besar” atau “kebohongan besar” yang dilakukan, banyak orang merasa bahwa hidupnya cukup baik. Dalam berdoa, mungkin mereka hanya mengingat hal-hal yang buruk menurut ukuran manusia dan masyarakat setempat.

Dalam ayat pembukaan diatas, penulis Amsal menyatakan bahwa ada enam atau tujuh hal yang dibenci Tuhan, diantaranya kesombongan dan kebohongan yang sering muncul dalam hidup kita sehari-hari. Penulis Amsal di atas agaknya mencatat dosa-dosa yang memengaruhi kesejahteraan hidup manusia didunia. Memang jika dalam masyarakat atau negara ada kekacauan, pertentangan dan permusuhan, dosa-dosa yang paling mencolok mata adalah kesombongan, kebohongan, kekejaman, ketidakadilan, rencana-rencana jahat, kejahatan, dan adanya saksi dusta. Berbagai kekacauan dan bencana yang terjadi di dunia saat ini bisa mengingatkan bahwa semua hal di atas seringkali adalah asal mula penderitaan manusia.

Hari ini firman Tuhan mengingatkan bahwa semua dosa, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat mata, baik yang “kecil” atau “jamak” yang sering muncul dan sudah diterima masyarakat setempat, ataupun sesuatu yang terlihat benar-benar jahat dan muncul di media, semuanya berasal dari hati manusia yang cacat, seperti yang pernah dikatakan Yesus:

“Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.” Markus 7: 20 – 22

Karena itu, marilah kita sadar bahwa setiap hari kita perlu memohon ampun untuk apapun yang tidak sesuai dengan firman Tuhan dalam hidup kita. Hanya dengan itu kita bisa mendekati Tuhan yang maha suci.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9