Saat ini pilihan ada di tangan kita

“Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meteraiNya.” Yohanes 6: 27

Sebelum terjadinya wabah COVID-19 pada tahun 2020, banyak orang tentunya masih ingat akan adanya berbagai wabah di abad 20 seperti ebola, flu burung, flu babi dan sebagainya. Mereka yang suka hitung-menhitung juga bisa mengamati bahwa pandemi yang besar terjadi setiap seratus tahun: Wabah Besar Marseille (1720), Wabah Kolera (1820), dan Wabah Flu Spanyol (1920). Adalah kenyataan bahwa hidup manusia di dunia selalu dibayangi oleh kemungkinan sakit dan kematian. Semua penderitaan di bumi adalah bagian kehidupan manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa.

Sekalipun berbagai pandemi sudah terjadi di dunia, hidup manusia berjalan terus seperti biasa sesudahnya. Mereka yang mencari segi positif dari adanya penderitaan yang dialami umat manusia mungkin berpendapat bahwa semua pandemi bisa mengingatkan manusia untuk bisa hidup lebih baik dan lebih sehat di masa depan. Itu mungkin ada benarnya;  karena dengan adanya berbagai masalah, manusia akan makin mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan melakukan langkah-langkah untuk bisa mengatasi kesulitan yang serupa di masa mendatang. Walaupun demikian, masalah yang serupa tidak akan menghilang dari dunia. Sesudah COVID-19 orang mau tidak mau harus menerima kenyataan bahwa pandemi serupa akan datang di masa depan, sekalipun belum tentu seratus tahun lagi.

Segala sesuatu yang terjadi di dunia pasti terjadi  dengan seizin Tuhan. Kebanyakan orang Kristen tentunya percaya akan hal ini. Tetapi, mereka tentunya merasa sedih dan bertanya-tanya, mengapa banyak manusia yang harus mengalami penderitaan yang luar biasa jika tidak jelas manfaatnya. Apakah dengan adanya pandemi, makin banyak orang yang kemudian percaya kepada kuasa Tuhan dan takut kepadaNya? Apakah dengan adanya korban jiwa yang besar, banyak orang kemudian menemukan jalan keselamatan? Ini adalah pertanyaan yang tidak mudah dijawab, karena tidak ada data yang menunjukkan bahwa umat manusia di dunia secara umum menjadi lebih taat kepada Tuhan sesudah datangnya pandemi.

Sejarah umat Israel menunjukkan bahwa berkali-kali Tuhan memperingatkan mereka dengan berbagai cara, tetapi hidup mereka tetap saja tidak berubah. Malahan, karena menolak keAllahan Yesus, mereka kemudian menyalibkanNya di Golgota. Penyaliban Yesus adalah malapetaka besar di antara pengikutNya. Mereka sangat sedih karena mereka tidak berdaya menghindari atau mengatasi kebencian orang Israel.  Sesudah Yesus meninggalkan mereka, kehidupan para pengikutNya bukannya makin mudah. Banyak pengikut Yesus yang dikejar-kejar, disiksa, dipenjara dan bahkan dibunuh. Tetapi, dalam keadaan sedemikian mereka berubah menjadi orang-orang yang berani menghadapi bahaya dan penderitaan; dan karena kesetiaan dalam iman kepada Kristus, sekarang Injil dapat menyebar ke seluruh dunia.

Kembali ke saat sekarang, apakah anda merasakan adanya manfaat yang terjadi karena krisis yang dialami seluruh umat manusia? Mungkin, seperti murid-murid Yesus yang pada mulanya bingung dan takut, kita pun merasa gundah dan kuatir akan apa yang bakal terjadi di masa depan. Kita bisa melihat bagaimana usaha yang dilakukan dan kesuksesan manusia yang dicapai selama ini, secara mendadak hilang seperti asap yang terbang ke langit. Arti kekayaan, kedudukan, ketenaran dan kesehatan mulai menjadi kabur, karena adanya bahaya kesehatan, ekonomi dan hukum yang mengancam.

Murid-murid Yesus menemukan kekuatan dari Yesus yang sudah meyakinkan mereka bahwa hidup sesudah ini adalah hidup yang kekal. Yesus juga sudah memberikan Roh Kudus untuk menolong dan menguatkan mereka. Seperti murid-murid Yesus, kita pun tahu bahwa hidup di dunia ini adalah hidup yang sementara. Seperti mereka, kita pun sudah dikaruniai dengan Roh Kudus yang senantiasa mau memimbing kita. Apa yang harus kita lakukan hanyalah keberanian untuk tetap hidup dan  bekerja, dan memilih apa yang benar. Bukan memilih apa yang bisa lenyap, melainkan  apa yang kekal guna menerima kemuliaan yang akan diberikan Kristus kepada kita,  sebab Dialah yang disahkan oleh Allah Bapa sebagai Juruselamat kita.

Satu sumber pengharapan yang bisa memberi rasa sukacita dan damai

“Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.” Roma 15: 13

Adakah sesuatu yang masih anda harapkan dalam hidup ini? Saya yakin pertanyaan ini akan dijawab dengan “ya” oleh setiap orang. Sekalipun apa yang kita harapkan belum tentu bisa terjadi, harapan setidaknya adalah pernyataan isi hati. Selagi masih hidup, umumnya orang masih berharap akan sesuatu untuk diri sendiri atau orang lain. Mereka yang menghadapi kematian pun masih mengharapkan sesuatu sebagai keinginan terakhir.

Jika ditanya lagi, sebagian orang yang mempunyai harapan bisa menyebutkan apa yang diharapkannya dengan tegas dan langsung karena memang ada sesuatu yang signifikan yang masih dinantikannya. Tetapi, sebagian lagi harus berpikir dulu untuk menemukan jawabnya. Mereka mungkin sudah merasa terbiasa dengan hidupnya, sehingga mereka butuh waktu untuk memikirkan apa yang penting dan yang belum terjadi atau tercapai.

Pertanyaan selanjutnya mungkin agak sulit untuk dijawab: Apa yang bisa kita harapkan kalau keadaan begitu buruk sehingga kita tidak dapat mengharapkan apa pun untuk diri sendiri, orang lain, keluarga atau negara? Dalam hal ini, mungkin orang sulit untuk mengutarakan harapannya karena merasa bahwa kemungkinan untuk bisa terjadi adalah nol. Karena itu, dalam keadaan sedemikian orang kemudian memutuskan untuk acuh tak acuh atau pun “pasrah”.

Bagi orang Kristen, harapan akan apa yang baik seharusnya selalu bisa dinyatakan.  Jika mereka benar-benar mengenal Tuhan yang mahakuasa, mereka tahu bahwa Tuhan sanggup untuk melakukan apa saja. Lebih dari itu, umat Kristen percaya bahwa  dari dulu Tuhan yang mahakasih selalu menghendaki apa yang baik, bukan yang jahat untuk umatNya. Karena itu, umat Kristen seharusnya selalu tetap bisa mengharapkan apa yang baik untuk dirinya, orang lain, bangsa, negara dan dunia, sekalipun itu terlihat sulit untuk dicapai.

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Yeremia 29: 11

Pada saat dunia dan negara berada dalam keadaan kacau, kita harus bisa mengharapkan apa yang benar-benar baik untuk para pemimpin. Jika kita melihat orang lain kacau hidupnya, kita harus bisa mengharapkan sesuatu yang baik untuk mereka. Dan jika kita bisa melihat apa yang menjadi kekurangan kita, kita harus mau mengharapkan sesuatu yang benar-benar baik akan terjadi pada diri kita.

Masalahnya disini adalah apa yang “benar-benar baik”? Kita sendiri mungkin kurang tahu tentang itu, terutama jika kita melihat keadaan dunia pada saat ini. Kita mungkin mengharapkan agar para pemimpin di dunia bisa memberikan sedikit harapan untuk masa depan rakyatnya. Tetapi, apakah harapan bisa menjadi kenyataan? Kita mungkin ragu. Karena itu, pada saat inilah kita harus kembali kepada Tuhan, karena Dialah yang tahu apa yang terbaik untuk kita.

Ayat pembukaan di atas adalah ayat yang sering diucapkan di gereja sebagai salam berkat di akhir kebaktian. Mungkin kita sudah terlalu sering mendengarnya. Tetapi pada suasana yang mencekam seluruh dunia pada saat ini, tidak ada yang lebih kita inginkan daripada apa yang diucapkan Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, yang berlaku juga untuk kita. Dalam ayat itu Paulus berdoa semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kita dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kita, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kita berlimpah-limpah dalam pengharapan.

Pada pagi ini kita diingatkan bahwa hanya Allah yang bisa memberi kita harapan, yang bisa memenuhi kita dengan rasa sukacita dan damai sekalipun keadaan di sekeliling kita terasa mencengkam.  Allah jugalah yang memberi kita iman kepercayaan sehingga kita tidak ragu atau goncang dalam pengharapan kita. Roh Kudus yang bekerja dalam hati kita sudah menyatakan bahwa sebagai umatNya, tidak ada hal yang lebih besar dari pengharapan bahwa walaupun ombak menghempas hidup kita saat ini, kita akan bisa menghadapi semuanya dengan keberanian dan keyakinan. Kita berharap bahwa jika pada akhirnya semua ini berlalu, nama Tuhan akan lebih dimuliakan. Lebih dari itu, apa pun yang terjadi, kita bisa berharap bahwa pada saatnya kita akan dipersatukan denganNya dalam kemuliaan dan kedamaian di Surga karena Yesus sudah menebus diri kita dengan harga yang termahal.

 

 

 

Hal mengharapkan datangnya mujizat

“Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.” 1 Korintus 15: 19 – 20

Saat ini hampir semua negara di dunia mengalami persoalan besar yang disebabkan oleh adanya pandemi COVID-19. Masalah terbesar yang harus dihadapi tentunya adalah masalah kesehatan, tetapi masalah ekonomi tidaklah kalah gentingnya. Selain itu, di beberapa negara, kestabilan politik dan hukum juga merupakan tantangan besar.

Jika mereka yang mempunyai usaha bisnis sekarang mengalami masalah keuangan dan mungkin harus mengurangi jumlah pegawai, gereja pun pada saat ini mengalami masalah besar karena tidak bisa mengadakan kebaktian dan dengan demikian pengeluaran haruslah dikurangi sebisa mungkin. Dalam keadaan sedemikian, banyaklah orang yang merasa bahwa awan kelabu seolah sudah menutupi sinar matahari.

Apa yang bisa kita perbuat di tengah keadaan yang kacau saat ini? Mungkin tidak banyak, selain makin bersungguh-sungguh dalam berdoa, seperti apa yang dilakukan Yesus di taman Getsemane. Selain itu, tentunya kita berharap jika Tuhan menghendaki, kita boleh dibebaskan dari masalah kehidupan yang semakin besar hari demi hari.

Mengharapkan turun tangannya Tuhan secara langsung di dunia adalah sesuatu yang normal jika manusia merasa tidak berdaya. Alkitab mencatat berbagai kisah tentang orang-orang yang menjerit kepada Tuhan untuk memohon pertolonganNya, dan memang sering Tuhan menjawab mereka dengan memberikan apa yang mereka butuhkan secara ajaib. Tentu saja kita juga bisa memohon hal yang serupa kepada Tuhan di zaman ini dan yakin bahwa itu pasti akan terjawab jika sesuai dengan kehendak Tuhan.

Dalam Kristus kita memang mempunyai harapan. Selama Yesus hidup di dunia, ada banyak orang yang sudah melihat berbagai mujizat yang diperbuatNya. Ia melakukan berbagai keajaiban karena kasihNya kepada manusia, tetapi yang paling utama adalah agar nama Bapa dipermuliakan.

Sekarang Yesus sudah tidak tinggal di dunia lagi, dan karena itu kita tidak bisa melihat Dia dan para rasul melakukan mujizat. Injil sudah diberitakan keseluruh dunia dan karena itu mujizat tidaklah terjadi seperti dulu. Mujizat dari Tuhan tetap bisa muncul dalam hidup sehari-hari, tetapi mujizat yang terbesar dan yang paling sering terjadi adalah ketika Roh Kudus membawa seseorang ke jalan yang benar. Roh Kudus juga menolong dan menguatkan kita dalam menghadapi tantangan hidup. Semua itu terjadi karena kasih Allah kepada umat manusia dan karena itu namaNya dipermuliakan di seluruh penjuru dunia.

Mujizat yang dibuat Yesus di dunia sebenarnya bukanlah bagian utama dari misiNya. Yesus datang ke dunia untuk membuka jalan bagi kita untuk menuju ke surga. Di surga kita akan melihat apa yang jauh lebih menakjubkan dari keajaiban apa pun di dunia. Karena itu, ayat di atas menyatakan bahwa jika kita hanya berharap kepada Yesus dalam hidup di dunia saja, kita adalah orang yang malang.

Pengharapan akan datangnya sesuatu yang sangat hebat tidaklah akan terjadi selama kita hidup di dunia. Tetapi, adalah jauh lebih penting bagi kita untuk berharap kepadaNya untuk masa depan kita sesudah tugas kita di dunia selesai. Kita bisa mempunyai harapan yang besar karena Kristus sudah menang atas maut. Hidup kita yang sekarang mungkin penuh dengan masalah, tetapi kita tidak memusatkan hidup kita untuk itu saja, melainkan kepada Kristus yang sudah menjadi Juruselamat kita.

“Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.” 1 Korintus 15: 22

Tetaplah teguh dalam iman

“Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir. Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.” 1 Petrus 1: 5 – 6

Hidup manusia di mana pun selalu penuh dengan perjuangan. Mereka yang melihat adanya orang yang nyaman hidupnya mungkin kadang-kadang merasa iri bagaimana orang tersebut agaknya tidak pernah mengalami penderitaan. Pada pihak yang lain, mereka yang hidupnya sudah nyaman seringkali masih merasa iri melihat orang lain yang hidupnya terlihat lebih berbahagia. Memang, jika orang membanding-bandingkan hidupnya dengan hidup orang yang lebih enak, rasa kecewa sering timbul karena Tuhan sepertinya tidak adil.

Konsep keadilan yang dimengerti manusia memang seringkali tidak dapat menerima keadaan dimana orang di tempat tertentu bisa mempunyai kenyamanan hidup yang jauh lebih tinggi dari mereka yang di tempat lain. Dalam hal ini, adalah baik jika orang yang lebih enak hidupnya bisa menolong orang lain yang terlihat kurang beruntung. Tetapi, dalam kenyataannya mereka yang mengalami penderitaan belum tentu bisa mendapat pertolongan dari orang lain. Karena itu, di berbagai tempat di dunia, ada masyarakat yang sejak lama hidup dalam kekurangan dan penderitaan. Bagi mereka, rasa kecewa sering timbul mengapa Tuhan yang dikatakan mahakasih dan mahaadil tidak pernah menolong mereka. Apakah itu karena kemarahan Tuhan?

Bagi orang Kristen, Alkitab mempunyai banyak ayat yang menyatakan bahwa Tuhan mengasihi umatNya. Sekalipun ada banyak ayat yang mengemukakan amarah Tuhan (God’s wrath) kepada mereka yang melanggar perintahNya, banyak orang Kristen yang terbuai oleh ayat-ayat pujian atas kasih Tuhan (God’s love), seperti apa yang tercantum dalam kitab Mazmur 91. Agaknya, lebih mudah bagi kita untuk membayangkan Tuhan yang mahamurah daripada membayangkan Tuhan yang mahakuasa dan mahaadil. Tidaklah mengherankan jika kehidupan manusia di dunia sekarang ini mengalami goncangan karena adanya berbagai bencana, dan iman umat Kristen pun ikut tergoncang jadinya. Apakah Tuhan itu benar-benar mengasihi umatNya? Apakah Tuhan itu benar-benar berkuasa atas alam semesta? Mengapa sifat Tuhan pada saat ini seakan berbeda dengan apa yang diperlihatkan oleh Yesus selama Ia di dunia?

Tuhan tidak pernah berubah. Jika kitab Perjanjian Lama mengutarakan adanya berbagai hukuman yang dijatuhkan kepada umat manusia karena pelanggaran hukum Tuhan, kitab Perjanjian Baru  menyatakan bahwa hukuman manusia yang bertahan dalam dosanya adalah kematian.  Apa yang berbeda adalah kemarahan dan berkat Tuhan pada zaman Perjanjian Lama adalah bersifat sementara untuk orang-orang atau bangsa-bangsa tertentu, sedangkan kemarahan dan berkat Tuhan pada Perjanjian Baru adalah bersifat kekal untuk semua bangsa dan setiap individu karena Yesus yang sudah mati di kayu salib untuk seisi dunia. Setelah kedatangan Kristus, kemarahan Tuhan kepada mereka yang tinggal dalam dosa adalah kematian di neraka, sedangkan berkat Tuhan kepada semua orang yang beriman adalah keselamatan yang kekal di surga.

Apakah Tuhan bermaksud menghukum kita dengan adanya bencana pada zaman sekarang? Apakah adanya pandemi menyatakan murka Tuhan? Belum tentu! Jika ada manusia atau masyarakat yang mengalami hal yang pahit karena kesalahan yang ada, itu memang sudah sepantasnya. Tetapi mereka yang sudah hidup menurut firman Tuhan bisa juga mengalami berbagai masalah selama hidup di dunia bersama orang lain. Sebaliknya, mereka yang hidup jauh dari Tuhan bisa saja mempunyai hidup yang nampaknya nyaman di dunia. Apa yang harus kita perhatikan adalah hidup di dunia yang adalah hidup yang sementara, dan bagi umat Kristen apa yang lebih penting adalah hidup sesudahnya. Ayat di atas menyatakan bahwa orang yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena iman, adalah orang yang menantikan keselamatan yang telah tersedia karena penebusan Kristus. Karena itu, pengharapan akan hidup kekal di surga membuat orang itu bisa tetap bersukacita sekalipun sekarang ini  ia harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Oleh sebab itu, tetaplah teguh dalam iman!

Bersukacita selalu dan tetap berdoa

Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa.” 1 Tesalonika 5: 16 – 17

Sudah beberapa minggu ini di berbagai negara banyak orang bekerja dari rumah (work from home alias WFH). Tidak terbayang sebelumnya bahwa hal ini bakal terjadi, tetapi gara-gara virus SARS-Cov-2 yang ganas banyak pemerintah yang menyuruh warganya untuk melakukan social distancing sehingga mereka harus tinggal di rumah sepanjang hari, kecuali jika benar-benar perlu untuk keluar rumah. Bagi saya, bekerja dari rumah memang praktis karena tidak perlu memakai pakaian kerja yang lengkap. Cukup dengan memakai celana pendek dan sandal jepit asalkan berbaju kerja, saya bisa bertemu muka dengan siapa saja di dumia melalui program komputer Zoom. Selain itu, untuk mulai bekerja tentunya saya tidak perlu mengedarai mobil, tetapi cukup berjalan beberapa meter saja dari kamar tidur ke ruang kerja di rumah.

Walaupun bekerja dari rumah terasa nyaman pada mulanya, setelah tiga minggu saya mulai merasa bosan. Belum lagi dengan kecenderungan untuk sedikit-sedikit makan dan bukannya makan sedikit-sedikit jika di rumah, tubuh pun berubah makin besar saja rasanya. Dengan adanya perasaan bosan dan ditambah dengan terlalu seringnya mengikuti laporan perkembangan wabah COVID-19, pelan-pelan perasaan saya menjadi tidak menentu. Rasa sedih, bingung dan kuatir sering muncul silih berganti dan itu membuat perasaan murung datang. Memang, menurut para ahli dampak kejiwaan dari pandemi ini akan makin jelas dengan makin lamanya keharusan untuk tinggal di rumah. Sebagian dari masyarakat pada akhirnya akan memerlukan perawatan psikologis karena hidup mereka yang tertekan.

Bagaimana orang dapat menghadapi masalah hidup dan tetap kuat secara jiwa dan raga? Sekalipun masyarakat diminta untuk tidak pergi ketempat lain jika tidak perlu sekali, pemerintah pada umumnya menganjurkan agar penduduk untuk tetap rajin beraktivitas di rumah, seperti berolahraga, senam, memasak, menonton film di TV dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan semacam itu diharapkan bisa mengisi kebosanan dan mendatangkan rasa gembira dan semangat baru. Walaupun demikian, banyak orang yang merasa bahwa hidup dalam suasana sekarang ini tidaklah bisa dinikmati. Dengan tutupnya banyak perusahaan, mereka yang kehilangan pekerjaan  merasa bahwa masa depan adalah suatu tanda tanya besar.

Bagaimana manusia bisa mengatasi perasaan sedih, bingung dan kuatir atas apa yang dilihat, dirasakan atau dibayangkannya? Sekalipun ada lagu yang menganjurkan agar kita tidak kuatir tapi bergemibira selalu (Don’t worry, be happy), dalam kenyataannya manusia pada umumnya tidak bisa menghilangkan rasa gundah jika tidak ada jaminan bahwa segala sesuatu pada akhirnya membawa kebaikan.

Ayat di atas ditulis oleh rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika, dan merupakan dua ayat dari beberapa ayat tersingkat dalam Alkitab berbahasa Indonesia. Ayat 16 berbunyi “Bersukacitalah senantiasa” dan terdiri dari dua suku kata, dan ayat 17 yang berbunyi “Tetaplah berdoa” juga terdiri dari dua suku kata, tetapi mempunyai jumlah huruf yang lebih sedikit. Sekalipun kedua ayat ini sangat singkat, artinya sangat dalam. Ayat-ayat  ini mudah diingat, dan seharusnya tidak pernah dilupakan oleh setiap orang Kristen.

Hidup sebagai orang Kristen di dunia belum tentu membawa kenyamanan dan kenikmatan. Bahkan, sebaliknya orang Kristen diajak unuk mengikut teladan Yesus dengan mendahulukan kepentingan Tuhan di atas kepentingan diri sendiri. Orang Kristen dengan demikian harus bersedia untuk mengikut jejak Yesus dan sanggup untuk menghadapi segala tantangan, masalah dan bahaya dalam hidup di dunia demi kemuliaan Tuhan.

Anjuran Paulus untuk senantiasa bersukacita tidak akan dapat dilakukan jika tidak ada alasan untuk bersukacita. Orang tidak bisa bersukacita jika tidak ada jaminan bahwa apa yang kita alami saat ini hanya untuk sementara, sedangkan masa depan yang cemerlang akan datang pada waktunya.

Dalam hal ini, orang Kristen adalah orang yang tahu bahwa dua ribu tahun yang lalu, Yesus mengalami penderitaan yang luar biasa dan kemudian mati disalibkan, tetapi pada hari yang ketiga Ia bangkit. Kebangkitan Kristus inilah yang memberi jaminan bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup kita, pada akhirnya kita akan menang seperti Yesus yang sudah menang.

Yesus yang sewaktu hidup di dunia sudah melakukan berbagai mujizat, adalah Tuhan yang sekarang berada di surga. Kuasa Allah yang dipertunjukkanNya selagi masih di dunia adalah kuasaNya yang sekarang  tetap ada karena Ia adalah Allah. Karena itulah kita seharusnya juga bisa selalu bersukacita karena Ia selalu beserta kita. Kita juga harus bisa selalu dengan yakin berdoa kepadaNya karena Ia adalah Tuhan yang mengasihi kita dan mau menjawab permohonan-permohonan kita. Bersukacitalah senantiasa, tetaplah berdoa!

 

 

Domba-domba yang sudah menang

Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Roma 8: 35 – 37

Hari ini hari Paskah, hari kebangkitan Yesus Kristus. Yesus yang taat kepada kehendak Allah Bapa, dan karena itu mau disiksa dan disalibkan seperti induk domba yang digunting bulunya dan seperti anak domba yang sudah dibawa ke pembantaian (Yesaya 53: 7), sekarang sudah menang atas maut. Ia tidak lagi dapat di jumpai di liang kubur karena Ia tidak lagi berupa jasad mati yang terkurung tembok.

Jika kematian Yesus menunjukkan besarnya kasih Allah kepada umat manusia, kebangkitanNya membuktikan besarnya kuasa Allah. Jika sebelum Ia bangkit, Yesus mempunyai tubuh seperti kita yang bisa mengalami rasa lelah, sakit, dan takut, sesudah Ia bangkit tidak ada hal duniawi yang bisa membuat Dia menderita. Karena Ia sudah menang atas maut, Ia membuktikan bahwa apa yang pernah dinyatakanNya kepada banyak orang adalah benar: Ia memang Anak Allah. Sebagai Anak Allah ia adalah satu dengan Allah Bapa, dan karena itu Ia mahakuasa dan mahakasih.

Bagi umat Kristen, kematian Kristus adalah keajaiban yang terbesar yang diperbuat Allah Bapa karena kasihNya, yang sudah direncanakanNya sejak dari mulanya. Pada pihak yang lain, kebangkitan Kristus membuat orang Kristen yakin bahwa iman kepada Yesus bukanlah sia-sia, karena pada saatnya kita akan dibangkitkan kembali seperti Dia. Walaupun demikian, pertanyaan yang ada adalah bagaimana kita bisa mempunyai keyakinan bahwa kematian dan kebangkitan Kristus juga membawa berkat dan kebahagiaan bagi kita selama kita masih hidup di dunia.

Apa untungnya menjadi pengikut Kristus selama kita masih hidup di dunia? Adakah manfaat yang bisa kita peroleh dengan menyadari bahwa Yesus sudah mati dan bangkit untuk kita? Ayat di atas menyatakan karena besarnya kasih Allah yang sudah mengurbankan AnakNya yang tunggal, bahaya dan penderitaan apa pun tidak dapat memisahkan kita dari Kristus.

Hari ini mungkin kita merasakan beban kehidupan yang berat dan bisa melihat adanya ancaman bahaya. Walaupun seperti Yesus kita telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan, tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, sebab Yesus sudah menang atas kematian. Dengan demikian, kita adalah domba-domba Kristus yang bisa merasakan damai dan sukacita dalam keadaan apa pun karena adanya harapan untuk masa depan. Karena itu juga, kita bisa hidup dan memuliakan Kristus sepanjang hidup di dunia.

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Filipi 1: 21

Kebangkitan Kristus memberi kepastian

“Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” 1 Korintus 15: 14

Adakah hal yang pasti dalam hidup manusia? Banyak orang berpendapat bahwa tidak ada apapun yang pasti. Sewaktu kecil saya pernah mendengar peribahasa “Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya”, dan saya percaya bahwa itu benar. Tetapi, setelah dewasa saya bisa melihat adanya orang-orang yang sekalipun rajin dan hemat ternyata tidak sukses hidupnya. Bahkan, dalam suasana perekonomian dunia  di saat COVID-19 ini, ada kemungkinan bahwa banyak orang yang dulunya kaya bisa menjadi bangkrut. Begitu pula orang yang dulunya sehat, bisa jatuh sakit dan bahkan meninggal dunia. Nasib manusia memang seperti sebuah yo-yo yang terkadang di atas, dan terkadang di bawah.

Sekalipun tidak ada sesuatu pun yang bisa dipastikan di dunia, ada beberapa orang yang pernah menyatakan bahwa untuk manusia apa yang bisa dipastikan adalah kematian dan pajak (death and taxes). Salah satu diantara orang-orang itu adalah Benjamin Franklin yang menulis hal ini dalam suratnya kepada Jean-Baptiste Leroy, pada tahun 1789. Memang, setiap orang yang hidup di sebuah negara umumnya harus membayar pajak kepada pemerintah dan akhirnya menemui ajalnya. Dengan demikian, selama hidup di dunia ini orang tidak dapat memastikan  datangnya apa yang baik dan indah, tetapi bisa memastikan apa yang buruk, yaitu pajak dan kematiannya. Hidup manusia agaknya seperti apa yang dikatakan Allah sesudah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa:

“Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” Kejadian 3: 17 – 19

Sejak saat itu, hidup manusia agaknya menjadi suram dan tidak mempunyai harapan. Tetapi, karena Allah adalah Tuhan yang mahakasih, Ia tidak membiarkan manusia menderita di dunia untuk selamanya. Tuhan dalam kitab Kejadian juga menyatakan rencana penyelamatan umat manusia; dengan menjanjikan datangnya seorang Manusia yang akan mengalahkan iblis, yaitu Yesus Kristus.

“Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Kejadian 3: 15

Yesus Kristus mengalami penderitaan di kayu salib, tetapi dengan itu Ia meremukkan kepala iblis. Kematian Yesus menebus manusia yang berdosa dan kebangkitanNya memungkinkan mereka yang sudah menerima Yesus sebagai Juruselamat untuk memperoleh keselamatan. Memang selagi hidup di dunia orang percaya tidak akan luput dari berbagai penderitaan seperti kemiskinan  dan penyakit, tetapi mereka mempunyai harapan untuk masa depan, yaitu hidup kekal di surga.

Selagi di dunia, mereka yang percaya tentu saja hanya dapat membayangkan bagaimana indahnya kehidupan di surga, dimana tidak ada lagi tangis dan duka. Tetapi, karena tidak ada seorang pun yang pernah ke surga, hal itu haruslah diyakini dengan iman selama masih hidup di dunia. Itu tidak mudah dilakukan. Apalagi, dengan adanya berbagai masalah hidup, kita akan mudah hilang harapan. Bagaimana jika hidup kekal itu ternyata tidak ada? Bukankah iman kita akan menjadi sia-sia?

Untunglah bahwa hidup kekal memang benar-benar ada karena Yesus yang sudah mengalahkan kematian. Di hari Paskah ini kita merayakan kemenangan Yesus atas iblis dan atas maut, dan karena itu kepercayaan kita tidaklah sia-sia. Bagi umat Kristen apa yang pasti bukanlah penderitaan seperti kematian dan pajak, tetapi adanya hidup yang kekal dalam Yesus Kristus!

Utamakan kasih dalam keadaan apapun

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8

Pandemi COVID-19 adalah sesuatu yang dipandang sebagai bencana di dunia. Virus SARS-Cov-2 penyebab pandemi yang sangat menular ini sudah menyebabkan ribuan orang tewas. Banyak orang yang merasa bahwa keadaan saat ini mirip suasana perang; hanya saja musuh yang diperangi tidaklah kelihatan.

Bagi banyak orang, keadaan yang makin memburuk ini membuat mereka stres. Selain ekonomi yang mulai hancur berantakan, di berbagai negara pembatasan sosial berskala besar sudah dilakukan, dan ini menyebabkan orang berlomba-lomba untuk memborong bahan kebutuhan hidup dalam jumlah besar untuk ditimbun. Karena itu, tidaklah mengherankan bahwa beberapa barang kebutuhan utama sekarang ini sulit dicari.

Dalam keadaan seperti ini, mereka yang lemah, miskin, sakit-sakitan atau sudah tua sering merasa tidak berdaya. Mereka membutuhkan bantuan orang lain untuk menjalani hidup sehari-hari, tetapi itu tidak mudah diperoleh di saat seperti ini. Jika manusia hidup dalam lingkungan yang tenteram dan damai, kebanyakan orang terlihat gembira dan menghormati orang lain. Tetapi, dalam keadaan bahaya atau keadaan kritis, sifat manusia yang asli seringkali muncul. Dan itu seringkali membuat manusia bertingkah laku seperti hewan yang buas.

Apakah orang Kristen mempunyai reaksi yang berbeda dari orang yang bukan Kristen jika mereka berada dalam keadaan genting? Ini tidak mudah dijawab. Jika mereka mempunyai pendidikan yang cukup, barangkali mereka lebih bisa berusaha mencari jalan keluar. Tetapi, pendidikan yang tinggi belum tentu bisa mengubah sifat jahat seseorang. Jika mereka biasanya sangat saleh hidupnya, mungkin mereka tidak mau melakukan hal-hal yang dipandang buruk oleh masyarakat. Tetapi, jika ada kesempatan orang cenderung untuk melanggar hukum jika terpaksa. Bagaimana pula jika ada orang yang yakin bahwa Tuhan adalah mahakuasa? Mereka mungkin akan lebih rajin berdoa dan berserah kepada kehendak Tuhan. Walaupun begitu, apa yang bisa membuat mereka bersedia mendahulukan atau menolong orang lain?

Memikirkan orang lain dan mengasihi mereka yang tidak kita kenal atau yang tidak mengenal kita adalah sesuatu yang sulit dilakukan. Tetapi, di minggu Paskah ini kita bisa merenungkan bahwa Allah  tetap mengasihi umat manusia walaupun manusia tidak mau mengenalNya. Jika dipikirkan, manusia sudah berdosa dan menjauhkan diri dari Tuhan. Adakah sebab yang membuat Allah mau mengurbankan AnakNya untuk menebus kita? Ayat di atas menyatakan bahwa sekalipun kita adalah orang-orang yang tidak pantas untuk dikasihi dan dikasihani, Allah mau menunjukkan kasihNya.

Minggu ini kita merayakan Jumat Agung dan hari Paskah mungkin dengan melihat TV atau komputer karena kebaktian gereja sudah ditiadakan. Kita masih bersyukur karena teknologi memungkinkan hal itu.  Hari-hari mendatang mungkin akan membawa lebih banyak masalah di dunia. Kita harus tabah dalam menghadapinya, dan kita bisa belajar dari Yesus yang tabah dalam menghadapi kesengsaraanNya menjelang saat disalibkan. Lebih dari itu kita bisa mengingat bahwa sekalipun kita adalah orang-orang yang patut menerima kebinasaan, Allah sudah memberikan kesempatan bagi kita untuk diselamatkan. Dengan demikian, adakah alasan bagi kita untuk tidak mengasihi atau tidak mau menolong orang lain yang lebih menderita daripada kita di saat yang sulit ini?

 

 

 

Kematian Yesus haruslah dirayakan

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Roma 6: 3 – 4

Merayakan hari-hari yang mempunyai arti penting dalam hidup seseorang adalah sudah menjadi kebiasaan manusia dalam hidup bermasyarakat. Dalam hal ini, merayakan hari lahir orang yang kita kenal adalah salah satu kegiatan yang membawa kegembiraan jika orang itu masih hidup, dan membawa kenangan indah jika orang itu sudah meninggalkan kita. Sebaliknya, hari kematian seseorang jarang dirayakan walaupun mungkin diperingati. Kelahiran biasanya untuk dirayakan, dan kematian untuk diperingati.

Jumat Agung adalah hari yang diperingati orang Kristen sebagai hari kematian Yesus. Hari ini biasanya diperingati secara khusyuk, terutama jika kita mengingat bagaimana Yesus pada waktu itu diejek, dipermalukan, disiksa dan kemudian mati digantung di kayu salib. Segala yang terjadi pada Yesus adalah bukti kejahatan manusia yang tidak bisa menerima apa yang datang dari Allah. Manusia yang lebih mementingkan kepuasan diri sendiri daripada menurut perintah Allah. Manusia yang menolak Anak Allah karena mereka ingin hidup seperti  yang dikehendakinya. Mereka tidak sadar bahwa bukannya merdeka, mereka justru hidup dalam belenggu dosa yang membawa kematian. Manusia tidak mengerti bahwa Yesus datang untuk memerdekakan mereka.

Memang banyak manusia di dunia ini yang merasa bahwa hidup hanya sekali dan karena itu harus dinikmati. Kesempatan yang ada harus dipergunakan untuk mencari kebahagiaan, kesuksesan, kekayaan dan segala kenyamanan hidup lainnya. Hal hidup sesudah mati adalah sesuatu yang tidak dapat dilihat mata dan karena itu tidak perlu dipikirkan dalam-dalam. Lain halnya dengan orang Kristen; hidup di dunia adalah hidup untuk  sementara, sedangkan hidup di surga adalah kekal. Dengan demikian, hidup di dunia ini adalah jauh lebih singkat dari hidup sesudahnya. Hidup yang ada sesudah mati adalah hidup yang jauh lebih penting dan lebih berharga dari hidup yang sekarang.

Jelas bahwa apa yang sangat berharga tidaklah mudah untuk diperoleh.  Apa yang sangat berharga tentunya harus dibayar dengan harga sangat tinggi. Tidak ada seorang pun yang bisa ke surga dengan usaha sendiri. Dengan kemampuan kita tidaklah mungkin kita bisa membayar harga keselamatan kita. Hanya melalui darah Yesus yang disalibkan di bukit Golgota, Allah mau menerima kita sebagai anak-anakNya.

Ayat di atas menulis bahwa Yesus sudah mati disalibkan dan kita yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematianNya. Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya kita mati dari hidup lama kita dan memperoleh hidup yang baru melalui kebangkitanNya. Sama seperti Kristus kemudian dibangkitkan dari antara orang mati oleh Allah Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru sebagai anak-anak Allah.

Kematian Kristus dengan demikian bukanlah semata-mata peringatan akan saat yang sedih. Sebaliknya, itu adalah suatu perayaan dimana kita mengingat bahwa Yesus sudah taat kepada Allah Bapa dan menggenapi rencanaNya. Sebagai AnakNya yang tunggal, Yesus sudah taat sampai akhir dan karena itu Ia menerima kemuliaan dari Allah Bapa. Seperti itu jugalah, jika kita mau menguburkan hidup lama kita, kita akan menerima kemuliaan dari Allah Bapa dalam hidup yang baru di sorga.

Saat ini, keadaan disekeliling kita mungkin tidaklah terlalu menggembirakan. Barangkali, kita sedang mengalami berbagai persoalan berat dalam hidup kita sehari-hari. Masalah yang besar, ancaman bahaya dan tantangan kehidupan datang silih berganti. Walaupun demikian, kita tahu bahwa kematian Yesus berarti kematian pengaruh hidup duniawi. Dengan demikian, hari Jumat Agung adalah satu hari yang perlu dirayakan dengan rasa sukacita karena kita tahu bahwa anugerah keselamatan surgawi sudah kita terima melalui kematian dan kebangkitan Yesus.

Dua tiang penyangga kehidupan

“Kiranya Tuhan tetap menujukan hatimu kepada kasih Allah dan kepada ketabahan Kristus.” 2 Tesalonika 3: 5

Pernahkah anda mengalami kesulitan hidup yang besar? Setiap manusia tentunya pernah; kalau itu tidak terjadi pada masa lalu, mungkin itu sedang terjadi di masa sekarang atau akan terjadi di masa depan. Mereka yang sudah mengalaminya pada masa yang lalu, mungkin sekarang merasa lega karena itu sudah lewat. Tetapi, ada juga orang yang tetap kuatir akan kemungkinan terjadinya masalah yang besar di masa depan. Memang, kesusahan  yang tidak diundang seringkali muncul di saat yang tidak terduga.

Jika satu kesusahan yang besar datang, mungkin kita berharap itu segera berlalu. Kita menarik nafas lega dan bersyukur  jika semua itu bisa diatasi dan kita masih bisa berdiri teguh. Namun, masalah yang datang secara bertubi-tubi bisa membuat hidup seseorang menjadi goyah, seperti sebuah kapal yang diombang-ambingkan badai di laut. Kesulitan hidup yang banyak macamnya, seperti kelaparan, penyakit, ancaman bahaya dan sebagainya, selalu ada di dunia. Dari zaman dulu hingga zaman sekarang tidaklah jarang orang harus menghadapinya pada saat yang bersamaan.

Bagaimana orang bisa bertahan menghadapi tantangan hidup yang besar dan tetap mempunyai harapan untuk masa depan?  Ini adalah pertanyaan yang dilontarkan banyak orang dan untuk itu ada banyak pembicara yang menampilkan berbagai jurus hidup yang katanya bisa dipakai untuk mempertahankan semangat hidup. Dalam hal ini, banyak pemimpin Kristen yang memakai cara yang serupa, dengan pendekatan psikologis, mencoba menguatkan jemaat mereka yang ditimpa bencana. Maksud mereka baik, tetapi cara yang mereka pakai sudah tentu tidak Alkitabiah.

Saat ini, jika kita menghadapi kesulitan besar, apa yang harus kita perbuat? Bukankah kata-kata siapa pun yang bisa memberi semangat seharusnya kita terima dengan senang hati? Itu mungkin jawaban mereka yang lupa bahwa manusia tidak bisa menunjukkan jalan yang benar. Hanya Tuhan   dan firmanNya yang bisa membimbing kita ke arah yang benar, kepada harapan yang sejati.

Ayat di atas menunjuk kepada dua pilar yang bisa menguatkan orang yang mengalami masalah hidup yang besar. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika menulis bahwa ia berharap agar Tuhan tetap menujukan hati mereka kepada kasih Allah dan kepada ketabahan Kristus. Kasih Allah dan ketabahan Kristus adalah dua penyangga kehidupan kita di dunia yang kacau balau sekarang ini. Karena kasih Allah yang besar, Ia sudah memberikan AnakNya yang tunggal agar kita menerima keselamatan yang kekal. Karena ketabahan Kristus, Ia tetap setia kepada Allah Bapa sampai Ia mati di kayu salib guna menebus orang yang percaya.

Dalam menghadapi masalah kehidupan kita harus ingat bahwa apa pun yang terjadi kasih Allah senantiasa menyertai kita karena itu sudah terbukti dengan datangnya Yesus sebagai Juruselamat kita. Dalam menghadapi bencana, kita juga harus ingat bahwa Yesus sudah bertahan sampai akhir dan karena itu Allah mempermuliakan Dia. Kasih Allah dan ketabahan Kristus adalah dua hal yang akan menguatkan kita dalam menghadapi hari-hari yang gelap karena kasih Allah yang mahakuasa yang ada bersama kita di masa kini, dan kemuliaan dalam Kristus yang akan kita terima di masa mendatang.