Jangan takut karena Tuhan dekat

Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Mazmur 46: 1 – 3

Bacaan: Mazmur 119

Manusia manakah yang tidak pernah takut? Setiap manusia yang normal dan sehat pikirannya tentu pernah merasa takut. Rasa takut adalah mekanisme kehidupan yang membuat orang bisa mengatasi adanya bahaya, dan itu yang sering mendorong orang untuk berusaha membela diri, menyembunyikan diri atau lari dari bahaya. Walaupun demikian, keadaan seringkali membuat orang kehilangan harapan, karena mereka bisa melihat bahwa baik dengan melawan, bersembunyi atau pun melarikan diri, mereka tidak akan dapat melepaskan diri dari ancaman yang ada.

Sejarah menuliskan berbagai pengalaman manusia dalam menghadapi bahaya besar. Adanya kebakaran hutan (bushfire) di Australia baru-baru ini menunjukkan adanya orang-orang yang berani dengan mati-matian mempertahankan rumahnya dari serangan api dengan memakai pipa air yang ada, tetapi ada juga yang mengambil keputusan untuk melarikan diri. Mereka yang tidak mempunyai kemampuan untuk melawan serangan api dan terlambat untuk melarikan diri, terpaksa bersembunyi di tempat yang dirasa paling aman. Tragisnya,  kebakaran yang demikian besar biasanya tidak memandang bulu dan orang yang bagaimana pun bisa menjadi korbannya.

Bagaimana jika kita dihadapkan kepada bahaya yang besar dalam hidup kita? Bagaimana perasaan kita jika kita melihat adanya banyak orang yang menjadi korban malapetaka dan kita pun mungkin mengalami hal yang serupa? Jika kita tidak mempunyai harapan apapun untuk menghindari malapetaka itu, mungkin kita memaksakan diri untuk menghadapinya muka dengan muka. Tetapi, bagaimana pula jika kita tidak yakin bahwa kita akan sanggup untuk melakukan perlawanan? Mungkin kita bisa bersembunyi. Tetapi, kalau tidak ada tempat bersembunyi yang baik, usaha kita juga akan sia-sia.

Mazmur 119 adalah bab yang terpanjang dari Alkitab karena mempunyai 176 ayat. Penulis mazmur ini kurang diketahui, tetapi diduga Ezra, Daud atau Daniel. Tetapi yang jelas adalah penulisnya mengalami penderitaan atau masalah yang sangat besar. Seluruh ayat yang ada menunjukkan pergulatan jasmani maupun rohani yang dialaminya. Walaupun demikian, dalam setiap kesempatan si penulis menyatakan kerinduan dan pujian kepada Tuhan, sumber pengharapannya. Ia juga menyatakan bahwa dalam Tuhan ia bisa menemukan tempat persembunyian dan pertahanan.

“Engkaulah persembunyianku dan perisaiku; aku berharap kepada firman-Mu.” Mazmur 119: 114

Mazmur 119 jelas menunjukkan perbedaan antara orang yang memiliki (atau lebih tepat, dimiliki) Tuhan. Adanya Tuhan dalam hidup seseorang membuat perspektif hidupnya berubah sama sekali. Beruntunglah orang yang mengalami masalah tetapi masih mempunyai harapan. Malanglah orang yang mengalami penderitaan dan tidak mendapat penghiburan.

Tuhan itu bagi orang percaya adalah tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu orang yang beriman tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Itu karena Tuhan adalah Sang Pencipta yang berkuasa atas langit dan bumi dan segala isinya.

Pagi ini, adakah rasa takut dan kuatir dalam diri anda? Adakah masalah yang besar yang seakan tidak akan dapat anda atasi atau hindari? Tuhan yang memiliki kita adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Ia mau mendengarkan doa kita dan sanggup memberi kita keteguhan hati dalam menghadapi semuanya. KasihNya tidak pernah berubah dalam keadaan apa pun, dan kepadaNya saja kita boleh berharap akan datangnya pertolongan, perlindungan dan penghiburan.

Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan

” ….dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.” Matius 6: 14

Doa di atas adalah bagian dari doa Bapa kami yang diajarkan oleh Yesus sebagai contoh doa yang baik. Permohonan agar Allah Bapa tidak membawa umatNya ke dalam pencobaan, biasanya dimaksudkan agar mereka dibebaskan dari pencobaan. Pencobaan yang bagaimana? Bukankah Allah tidak pernah mencobai siapa pun (Yakobus 1: 13)?

Istilah “pencobaan” mungkin bisa diartikan sebagai (1) godaan, (2) ujian dan (3) penderitaan. Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa karena digoda oleh iblis, tetapi itu bukanlah ujian atau godaan yang datang dari Allah. Jika kemudian mereka diusir dari taman Firdaus, itu adalah hukuman dan bukan ujian dari Allah. Hukuman dari Allah yang membawa penderitaan itu bukanlah pencobaan. Pada pihak yang lain, pencobaan bisa dihubungkan dengan penderitaan yang terjadi pada umat Tuhan yang bukan karena kesalahan mereka, dan itu bisa membuat mereka lebih tahan uji dan lebih beriman (Yakobus 1: 12).

Penderitaan yang dialami oleh umat Kristen yang bukan disebabkan oleh kesalahannya tidak perlu menyebabkan rasa malu, sebaliknya hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus (1 Petrus 4: 16). Walaupun demikian, tidak ada salahnya jika kita memohon agar Tuhan membebaskan kita dari penderitaan itu, jika itu berkenan kepadaNya. Itu pun diminta oleh Yesus ketika Ia berdoa di taman Getsemane.

Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Matius 26: 39

Doa Yesus ini menunjukkan penyerahan kepada Allah, yang dipercayaiNya sebagai Bapa yang mahabijaksana dan mahakasih. Yesus tidak membiarkan diriNya menjadi penghalang atas rancangan keselamatan Allah. Yesus tidak membiarkan iblis untuk melakukan apa yang jahat, yaitu melawan kehendak Allah. Yesus tahu bahwa Bapa mempunyai rancangan yang baik, yang harus terjadi.

Pagi ini, jika kita bangun dan teringat bahwa ada banyak hal yang membawa rasa kuatir dan takut, kita harus memohon agar Tuhan tidak membiarkan kita jatuh dalam godaan iblis. Kita juga bisa memohon agar jika Tuhan berkenan, Ia mau membebaskan kita dari penderitaan kita. Tetapi, kita harus sadar bahwa Tuhan yang mahabijaksana tentu mempunyai maksud tertentu dalam setiap keadaan dan karena itu kehendakNyalah yang harus terjadi. Dengan demikian, doa yang baik dan yang sesuai dengan apa yang diajarkan Yesus adalah doa yang memohon agar Tuhan memberi kita kekuatan dan kebijaksanaan untuk bisa menghadapi semua masalah kita dengan iman dan rasa syukur kepada Tuhan, dan bukannya dengan rasa kecewa atau marah. Doa kita juga harus menunjukkan kepercayaan kita kepada Dia yang bisa melindungi kita dari kuasa jahat iblis.

Jangan tinggal dalam kegelapan hatimu

“Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” Yakobus 3: 16

Mungkin anda yang tinggal di Indonesia ikut merasakan adanya rasa panik dalam masyarakat karena munculnya COVID 19, virus corona baru yang sudah memakan banyak korban. Di Indonesia, mereka yang ingin memperkuat ketahanan tubuh berbondong-bondong membeli “obat kuat” tradisionil seperti jamu dan rempah-rempah tertentu. Sebagai akibatnya, harga produk kesehatan itu naik secara drastis.

Di Australia, panik belanja juga terjadi. Sebuah video di Youtube yang sudah ditonton ratusan ribu orang menayangkan perkelahian antara beberapa wanita karena berebut membeli tissue WC di sebuah supermarket dekat Sydney. Mengapa mereka memperebutkan benda yang tidak mempunyai fungsi istimewa itu, tidaklah ada yang tahu pasti. Tetapi, karena banyaknya orang yang membeli barang-barang keperluan hidup oleh sebab munculnya krisis virus corona, mungkin mereka ikut panik untuk membeli tissue yang kebetulan menipis persediaannya.

Dalam keadaan kritis, sifat manusia yang asli bisa terlihat. Mereka yang terlihat lemah-lembut bisa menjadi garang dan ganas terhadap sesamanya. Mungkin itu mirip dengan apa yang ditayangkan di berbagai cerita gladiator Romawi, dimana orang harus membunuh yang lain untuk bisa tetap hidup. Memang karena kebutuhan yang mendesak, orang mencoba untuk survive dengan segala cara, dan itu membuat mereka menjadi makhluk yang mementingkan diri sendiri.

Ayat di atas menulis apa yang terjadi jika orang hanya memikirkan kebutuhannya. Dalam keadaan itu, rasa iri hati dan mementingkan diri sendiri bisa menyebabkan kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Apa yang terjadi pada Habel juga bisa dihubungkan dengan rasa iri hati dan mementingkan diri sendiri yang timbul dalam hati kakaknya, Kain (Kejadian 4: 3 – 8).

Rasa iri hati dan kecenderungan untuk mementingkan diri selalu muncul dalam diri setiap orang, termasuk diri kita selama masih hidup di dunia. Ini bisa muncul ketika kita berada di kantor, di sekolah, di rumah atau pun di gereja. Tetapi, selama kita masih mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan, RohNya selalu mau menolong dan membimbing kita ke jalan yang benar. Pada waktu hal-hal yang kurang baik mulai muncul dalam pikiran kita, Tuhan bisa menegur kita seperti Ia menegur Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya” (Kejadian 4: 6 – 7). Apa yang kita lakukan kemudian adalah pilihan kita sendiri.

Carilah kebenaran, bukan kenikmatan

“Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” 2 Timotius 4: 3 – 4

Di Australia, berbagai jenis gereja bisa di temui, tidak hanya yang berbeda aliran teologi tetapi juga yang berbeda penampilan. Berbeda dengan Eropa, kebanyakan gedung gereja yang masih dipakai untuk kebaktian di Australia bukanlah gedung besar dan kuno. Gedung gereja kuno sudah banyak yang berubah fungsinya karena sudah tidak mempunyai jemaat yang cukup besar. Pada pihak yang lain, gedung gereja modern banyak di jumpai di kota-kota, termasuk di Toowoomba tempat saya bekerja.

Gedung gereja di Australia biasanya cukup sederhana penampilannya, kebanyakan seperti aula atau tempat pertemuan. Tetapi, ada juga gereja-gereja besar yang bisa memuat ribuan orang, yang biasanya cukup mewah, modern dan canggih perlengkapannya. Jemaat mungkin merasa nikmat mengikuti acara yang ada dan senang mendengarkan khotbah yang menginspirasi.

Di dunia ini memang ada orang-orang yang pergi ke gereja karena penampilan gedung dan kehebatan acaranya. Dalam hal ini, ada juga orang yang bisa merasakan adanya kemiripan antara kebaktian untuk Tuhan dengan sebuah konser musik atau pertemuan yang diadakan untuk mendengarkan pesan seorang motivator ternama.

Jika kita berpikir bahwa adanya “show” atau “pertunjukan” di gereja adalah suatu fenomena baru di zaman modern, mungkin kita salah tanggap. Sejak dulu ada umat Kristen yang lebih senang menerima apa yang terasa enak. Ayat di atas memperingatkan umat Kristen pada zaman Paulus untuk awas dan tidak terjebak dalam apa yang terlihat nikmat, merdu dan indah saja.

Rasul Paulus mengingatkan Timotius dan para umat Tuhan lainnya akan bahaya munculnya orang-orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat. Mereka itu akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendak mereka, untuk memuaskan keinginan telinga mereka sendiri. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi apa yang terdengar merdu dan memberikan motivasi baru dalam hidup. Firman Tuhan dengan demikian sudah diganti dengan pesan-pesan orator dan motivator yang mengutamakan kepentingan manusia.

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan bahwa kita ke gereja adalah untuk berbakti kepada Tuhan dan untuk mendengarkan kebenaran firmanNya. Selain itu, kita ingin bersekutu dengan saudara-saudara seiman. Kita tidak ke gereja untuk menikmati sebuah pertunjukan atau untuk mendengarkan pesan seorang motivator yang hanya memberi pesan-pesan positif. Firman Tuhan terkadang seperti pedang bermata dua yang bisa mendidik kita untuk hidup sesuai dengan kehendakNya (Ibrani 4: 12). Memang kebenaran firman sering terasa tidak nyaman, tetapi itulah yang bisa membimbing hidup kita agar tetap berjalan di jalan yang benar.

Satu tubuh, satu perasaan

“Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.” 1 Korintus 12: 12 – 13

Pernahkah anda memikirkan siapakah diri anda? Mungkin pertanyaan ini lebih sering muncul di kalangan kaum remaja  ketika mereka mengalami pergumulan pribadi dalam transisi dari seorang anak menjadi orang dewasa. Walaupun demikian, pertanyaan ini adalah satu pertanyaan yang sangat penting, yang bisa mempengaruhi cara hidup kita dan juga bagaimana kita memandang orang lain.

Who am I? Siapakah aku? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Tetapi sebuah lagu lama  sekolah minggu mungkin bisa menawarkan jawabnya:

Hidupku bukannya aku lagi

Tapi Yesus dalamku

Hidupku bukannya aku lagi

Tapi Yesus dalamku

Yesus hidup, Yesus hidup dalamku

Hidupku bukannya aku Lagi

Tapi Yesus dalamku

Seperti yang diutarakan syair lagu ini, semua orang Kristen adalah makhluk yang diperbarui hidupnya karena sudah menerima Kristus sebagai Juruselamat mereka. Karena itu apa yang lama sudah berlalu dan mereka sudah menjadi ciptaan baru dalam Kristus.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Apa yang membuktikan bahwa kita sudah diperbarui oleh darah Kristus dan menjadi satu denganNya? Ayat pembukaan di atas menyatakan bahwa hidup baru membuat kita menjadi bagian dari tubuh Kristus. Kita baik orang Indonesia atau pun dari negara lain, dan tidak peduli apa pun status sosial kita, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan diberi minum dari satu Roh. Dengan demikian, tiap-tiap orang yang sudah menempuh hidup baru seharusnya bisa saling menghargai dan saling mengasihi.

Sebagai sesama anggota tubuh, kita akan merasa senang jika anggota tubuh yang lain memperoleh kebahagiaan dan sebaliknya merasa sedih jika mereka mengalami kemalangan.

“Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.” 1 Korintus 12: 26

Saat ini kita mungkin tahu tentang adanya saudara-saudara seiman kita yang tengah mengalami penderitaan atau sakit, baik di negara kita maupun di negara lain. Mereka yang hidup di dekat kita mungkin lebih mudah untuk dilihat dan dibayangkan; dan karena itu apa yang mereka alami mungkin dapat kita rasakan. Tetapi, ayat di atas mengatakan bahwa sekalipun tubuh itu satu, anggotanya banyak dan ada dimana-mana. Bagaimana perasaan kita ketika mendengar tentang keadaan mereka yang berada di tempat yang jauh? Adakah rasa sedih yang ikut kita rasakan ketika mendengar keluh-kesah mereka? Apakah kita mempunyai kepekaan dan ikut terpanggil untuk mendoakan dan menolong mereka? Semoga dengan adanya apa yang dialami saudara-saudara seiman bisa mendorong kita agar lebih sadar bahwa kita adalah anggota-anggota tubuh Kristus. Demikian pula kita berharap agar mereka yang berada di tempat lain tetap ingat untuk mendoakan dan mendukung kita dalam pergumulan hidup kita.

 

Warisan Kristus untuk umatNya

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27

Berbeda dengan banyak negara di Eropa, memiliki rumah sendiri adalah impian orang Australia. Tetapi, itu sudah berubah. Dengan mahalnya harga rumah di zaman sekarang, makin sulit bagi generasi muda untuk mewujudkan impiannya. Karena itu, makin banyak penduduk Australia yang sekarang ini memilih untuk menyewa rumah daripada membeli, seperti halnya di Eropa. Kaum muda mungkin hanya bisa memiliki rumah jika ada warisan dari orangtua, jika tidak mempunyai pendapatan besar.

Beberapa tahun yang lalu ada seorang pria yang ingin membeli rumah. Sekalipun ia tidak mempunyai uang, ia berani menandatangani kontrak untuk membeli sebuah rumah karena adanya harapan bahwa ia akan mendapat warisan keluarga dalam waktu dekat. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, ketika jatuh waktu untuk melunasi harga rumah itu ternyata uang warisan jatuh ke tangan orang lain. Kontrak pembelian rumah yang dibatalkan secara sepihak akhirnya membuat orang itu justru kehilangan uang muka yang ribuan dolar jumlahnya.

Mengharapkan sesuatu yang baik dari orang lain memang sering membawa kekecewaan. Belum tentu apa yang dijanjikan akan terjadi; dan sekalipun janji itu dipenuhi, apa yang didapat mungkin tidak seindah yang diharapkan. Selain itu, walaupun kita mungkin mendapatkan apa yang dijanjikan, seringkali itu tidak membawa kebahagiaan. Dan sekalipun ada kebahagiaan yang datang, itu tidak untuk selamanya.

Adakah pemberian yang benar-benar berharga yang bisa kita harapkan dari seseorang dan akan membuat kita bahagia untuk selamanya? Tentu saja tidak ada. Lain halnya kalau Tuhan yang menjanjikan. Ayat di atas adalah janji Kristus sebelum meninggalkan murid-muridNya. Yesus berkata bahwa hanya Dia yang dapat menggenapi janjiNya dengan memberikan damai sejahtera bagi umatNya.

Damai sejahtera yang diberikannya tidaklah seperti yang dijanjikan dan diberikan oleh dunia. Kebahagiaan dan damai sejahtera yang dijanjikan dunia adalah sebatas kemampuan manusia, dan sekalipun mereka yang paling kaya, paling bijaksana atau pun yang paling berkuasa, tidak akan dapat memberi kita sesuatu yang sempurna dan abadi. Hanya Tuhan yang bisa mewariskan Roh Kudus kepada kita. Mengapa pula kita hari ini masih gelisah dan gentar dalam menghadapi masalah kehidupan jika kita sudah menerima Roh Penghibur dan Penolong yang dijanjikan Tuhan sendiri?

Ujian iman membawa ketekunan

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Yakobus 1: 2 – 3

Hari ini media memberitakan bahwa di beberapa kota di Australia, orang-orang berbondong-bondong pergi berbelanja ke supermarket dan memborong berbagai barang, terutama bahan makanan, cairan pembersih tangan dan masker. Rasa panik mungkin mulai terasa karena wabah coronavirus yang makin banyak korbannya dan adanya kemungkinan bahwa orang akan dikarantina paling tidak selama dua minggu jika diduga terkena virus ini. Kepanikan serupa mungkin mulai muncul di Indonesia juga, semenjak ditemukan adanya orang yang terkena virus yang sangat menular itu.

Sebenarnya, walaupun virus ini sangat mudah ditularkan dari satu orang ke orang lainnya, mereka yang terkena virus kebanyakan bisa sembuh kecuali mereka yang lemah imunitasnya. Mereka yang sudah lanjut usia atau menderta penyakit lain, memang bisa mengalami sakit berat karena adanya komplikasi. Dengan demikian, keadaan di Australia diduga akan memburuk menjelang bulan Agustus yang akan datang, dimana penderita flu musim dingin biasanya  memuncak jumlahnya. Itulah yang dikuatirkan banyak orang yang sudah mempunyai kecenderungan untuk sakit di musim dingin. Mereka kuatir kalau-kalau sesudah jatuh, mereka juga terhimpit tangga.

Dalam hidup di dunia ini, tentunya keselitan hidup adalah hal yang biasa ditemui siapa pun. Walaupun demikian, kesulitan hidup  yang besar seringkali menjadi pencobaan yang bisa menghancurkan hidup seseorang baik secara jasmani maupun rohani. Bukan saja tubuh bisa menjadi capai dan sakit karena adanya suatu pencobaan, tetapi hati bisa juga terasa remuk karena perasaan tidak berdaya. Bagaimana pula dengan orang yang tidak hanya mengalami satu masalah kehidupan, tetapi banyak kesulitan yang datang beruntun? Jika satu kesulitan sudah bisa terasa berat, komplikasi yang disebabkan oleh adanya berbagai masalah bisa membuat orang putus harapan.

Ayat di atas ditulis oleh Rasul Yakobus kepada kedua belas suku Israel di perantauan. Dalam ayat ini, ia menasihati saudara-saudara seiman bahwa mereka seharusnya mau menerima dan menganggap sebagai suatu kebahagiaan, apabila mereka jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan; sebab pencobaan adalah seperti ujian iman yang pada akhirnya membuat mereka makin ulet dan tahan menghadapi hidup ini. Agaknya nasihat semacam ini lebih mudah untuk diucapkan daripada dijalankan. Siapakah yang bisa merasa berbahagia ketika mengalami masalah? Siapakah yang bisa bertahan jika komplikasi masalah kehidupan terasa menghimpit dari segala arah?

Yakobus menjelaskan selanjutnya dalam ayat 4 bahwa ketekunan itu sendiri akan menghasilkan sesuatu yang membuat kita kuat.

“Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” Yakobus 1: 4

Ketekunan yang bisa kita peroleh selama mengalami berbagai masalah, pada akhirnya bisa membuat kita menjadi sempurna, utuh dan tidak merasa lemah atau berkekurangan. Sempurna? Utuh? Tidak berkekurangan? Kelihatannya memang ini tidak mudah diterima akal sehat, karena dalam menghadapi masalah hidup kita justru lebih sering merasa tidak kuat, hancur dan menderita.

Bagaimana kita bisa menjadi sempurna dan kuat dalam menghadapi masalah? Ada baiknya jika kita membaca apa yang ditulis oleh Rasul Paulus  untuk jemaat di Korintus.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” 2 Korintus 12: 9

Paulus yang mengalami berbagai masalah kehidupan menjadi kuat karena adanya kuasa Tuhan yang sempurna. Dengan demikian, Paulus menjadi sempurna karena kuasa Kristus yang melindunginya. Paulus tidak dapat merasakan kuasa Tuhan yang sepenuhnya bekerja untuk menguatkannya jika tidak ada pergumulan besar yang harus dihadapinya.

Hari ini, adakah kesulitan atau masalah besar yang harus anda hadapi? Mungkinkah karena adanya komplikasi yang disebabkan oleh banyaknya masalah yang anda alami, anda merasa takut dan putus asa?  Biarlah anda bisa mengingat apa yang ditulis oleh Yakobus dan Paulus bahwa adanya masalah justru membuka kesempatan bagi umat Tuhan untuk merasakan kuasa dan kasih Tuhan.

 

 

 

 

 

Mengapa ada bencana?

Yesus menjawab mereka: “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” Lukas 13: 2 – 3

Barangkali ada orang yang sedang mengalami bencana kehidupan yang merasa bahwa ada sesuatu dalam hidupnya yang menyebabkan hal itu. Tetapi, banyak juga orang yang tidak mengerti mengapa mereka harus menderita karena tidak membuat kesalahan apa pun. Jika pada satu pihak, rasa sesal bisa berubah menjadi keputusasaan, pada pihak yang lain rasa tidak bersalah bisa berubah menjadi kemarahan. Di balik semua itu ada satu pertanyaan: mengapa Tuhan, jika Ia memang ada, membiarkan bencana terjadi pada diriku?

Jika orang lain yang mengalami bencana, perasaan yang berbeda mungkin timbul dalam hati kita. Segala sesuatu ada sebabnya, dan mungkin semua itu terjadi karena kesalahan dan dosa orang yang bersangkutan. Dengan demikian, ada orang yang senang melihat orang lain menderita karena itu dianggap sudah sepantasnya. Bahkan ada orang yang memuji Tuhan yang baginya terlihat adil. Walaupun begitu, perasaan sedih bisa muncul jika orang yang tertimpa bencana adalah teman atau sanak sendiri. Perasaan marah juga mungkin timbul, yang ditujukan kepada Tuhan. Pertanyaan yang serupa mungkin muncul: mengapa Tuhan, jika Ia memang mahakasih, membiarkan bencana terjadi?

Jika kita membayangkan reaksi manusia atas terjadinya bencana, bisa dimengerti mengapa Tuhan tidak disukai atau dicintai semua orang. Dalam kenyataannya, memang banyak orang yang tidak mau percaya akan adanya Tuhan karena adanya bencana. Tetapi, apa yang dialami manusia di dunia sudah tentu adalah bagian kehidupan di dunia yang sudah jatuh kedalam dosa. Apa yang jahat bisa terjadi karena kesalahan kita atau orang lain, tetapi bisa juga terjadi karena sebab-sebab yang lain. Dalam hal ini, Tuhan mungkin membiarkan atau menggunakan apa yang terjadi untuk membawa kebaikan bagi umatNya dan untuk melaksanakan rancanganNya.

Alkitab dalam ayat di atas menyatakan jawaban Yesus atas adanya pertanyaan mengapa bencana terjadi. Pada waktu itu beberapa orang datang kepada Yesus membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang dibunuh oleh Pilatus dan darahnya dicampur dengan darah hewan yang mereka persembahkan. Yesus menjawab pertanyaan mereka dengan sebuah pertanyaan: “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?”

Dari pertanyaan Yesus itu, kita pertama-tama bisa menarik kesimpulan bahwa adanya suatu bencana tidak dapat dipakai sebagai ukuran dosa. Yang kedua, Yesus menyatakan bahwa setiap orang sudah berdosa dan akan menemui kematian. Siapa pun akan mengalami kebinasaan jika tidak bertobat dan menerima Yesus sebagai Juruselamat. Yang ketiga adalah seperti Tuhan sudah merencanakan untuk menyelamatkan manusia sejak awalnya, kita harus percaya bahwa Ia tidak mempunyai maksud atau rencana yang jahat kepada mereka yang mau menjadi umatNya.

Pagi ini, adakah perasaan gundah dalam hati anda karena adanya masalah besar yang harus dihadapi? Mungkinkah anda merasa tertekan karena adanya pikiran bahwa Tuhan mungkin membawa semua masalah itu untuk menghukum anda? Ataukah itu terjadi karena Tuhan ingin mencobai anda? Mungkinkah Dia adalah Tuhan yang semena-mena yang mendatangkan hal yang jahat untuk menghancurkan siapa saja yang ada dihadapanNya?

Firman Tuhan pagi ini menyatakan bahwa di tengah dunia yang sudah terkontaminasi dengan dosa, hal yang jahat bisa muncul, tetapi itu bukan dari Tuhan. Tuhan tidak pernah bermaksud jahat kepada siapa pun. Ia tidak pernah mencobai siapa pun. Sebaliknya, Ia menghendaki agar umat manusia kembali ke jalan yang benar dan memilih jalan keselamatan dan kebahagiaan yang sudah disediakanNya.

Tanpa ujian, kekuatan tidak bisa tumbuh

Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji. 2 Korintus 13: 5

Hari ini media memberitakan bahwa kasus yang menyangkut novel coronavirus COVID-19 sampai saat ini sudah ditemukan di 56 negara dan satu kapal pesiar Diamond Princess. Sebagian besar dari mereka yang terkena virus ini kemudian sembuh setelah mendapatkan perawatan dokter di rumah sakit, tetapi mereka yang asalnya kurang sehat dan tinggal di tempat yang kurang baik sarana kesehatannya bisa saja mengalami masalah besar.

Dengan banyaknya negara yang terkena dampak virus ini kemungkinan datangnya pandemi (wabah sedunia) mungkin bisa diduga, dan oleh sebab itu kebanyakan negara sudah mempersiapkan diri dengan membentuk tim dokter dan menyediakan fasilitas rumah sakit khusus guna merawat mereka yang terkena virus ini. Sekalipun pandemi jarang sekali terjadi di dunia, kesiapan suatu negara untuk menghadapinya seharusnya diuji secara berkala agar jika itu benar-benar datang, mereka yang bekerja dibidang kesehatan sanggup untuk menghadapinya.

Kesiapan diri (preparedness) adalah hal yang jamak untuk semua orang yang akan mengalami tugas atau tantangan yang besar. Orang yang ingin berhasil untuk mengatasi masalah besar tentunya mau menguji dan memeriksa dirinya untuk memastikan bahwa ia benar-benar siap. Itu berarti bahwa ia tidak ragu atau takut untuk menghadapi kesulitan yang sering muncul, sehingga ia berani untuk menghadapi kesulitan yang jarang muncul. Mereka yang tidak mau menghadapi masalah yang kecil, akan sulit untuk menghadapi masalah yang besar.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus mengatakan bahwa mereka harus menguji diri mereka sendiri, apakah mereka tetap bisa tegak di dalam iman jika ada masalah-masalah kehidupan yang terjadi. Mereka harus menyelidiki apakah keyakinan mereka tetap kuat bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri mereka. Begitu juga jika ada masalah rohani, kebenaran yang sudah mereka pelajari haruslah digunakan dan diuji. Tanpa menguji dan memeriksa apa yang mereka miliki, mereka tidak akan tahan menghadapi masalah yang lain.

Saat ini, bagaimana pula dengan hidup anda? Mungkin ada masalah-masalah yang datang silih berganti dan membuat anda merasa lelah dan hilang semangat. Tetapi, semua itu mungkin adalah ujian yang harus anda hadapi dan kesempatan untuk memeriksa iman anda. Ini untuk memastikan apakah anda yakin bahwa Yesus tinggal dalam diri anda. Apa yang terjadi, jika bisa anda atasi, akan memberikan keyakinan yang lebih besar bahwa bersama Yesus tidak ada masalah yang terlalu besar untuk dihadapi di masa mendatang.

Pentingnya doa dalam keadaan siaga

“…Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus” Efesus 6: 18

Pagi hari ini, setelah membaca berita di berbagai media, saya merasa adanya perasaan kuatir dalam hati saya. Berita tentang coronavirus yang sudah menyebar ke banyak negara di dunia mau tidak mau membuat saya menjadi agak tegang. Bagaimana jadinya jika wabah virus ini menyerang Australia? Saat ini data sudah menunjukkan adanya 23 orang penderita yang dirawat di rumah sakit Australia, 15 di antaranya adalah orang-orang yang datang dari Wuhan sedangkan sisanya adalah penumpang kapal pesiar Diamond Princess yang diungsikan ke Australia. Melalui perawatan medis dan karantina selama beberapa minggu, kelima belas turis dari Wuhan sudah dinyatakan sembuh, sedangkan penderita yang lain masih berada dalam perawatan dokter.

Sekalipun nampaknya pemerintah Australia sampai saat ini masih bisa mengatasi ancaman penularan penyakit akibat virus yang jahat ini, sebagian penduduk Australia kelihatannya kuatir dan mulai memborong masker dan cairan pembersih tangan. Tambahan pula, adanya anjuran untuk membeli bahan-bahan makanan yang cukup untuk persediaan selama dua minggu membuat sebagian orang menjadi semakin was-was. Kebanyakan orang tentunya tidak bisa berbuat apa-apa selain menjaga kesehatan dan lebih berhati-hati untuk tidak ketularan sekiranya ada penderita virus yang belum dikarantina.

Sebagai manusia kita memang sering kuatir karena berbagai sebab. Keadaan gawat di dunia ini bukan saja disebabkan oleh adanya wabah penyakit; hal-hal lain seperti kekeringan dan kebakaran hutan yang baru-baru ini melanda Australia bisa juga membuat siapa pun menjadi takut dan kuatir. Untunglah jika mereka yang bertugas untuk mengatur negara masih bisa mengendalikan suasana, tetapi di banyak negara kejadian semacam ini bisa membawa penderitaan yang besar bagi rakyatnya. Sebagai orang Kristen yang hidup di tempat yang mengalami bencana seperti di atas, apakah yang bisa kita lakukan?

Pertama-tama, Paulus dalam suratnya kepada Timotius mengajak umatNya untuk berdoa bagi para pemimpin.

“Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.” 1 Timotius 2: 1 – 2

Dengan demikian, kita pun harus berdoa agar para pemimpin kita bisa mempunyai kebijaksanaan untuk dapat mengatasi masalah yang ada, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram. Kita harus berdoa sambil mengucap syukur kepada Tuhan, karena kita percaya bahwa Tuhan kita yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahabijaksana dan mahakasih.

Yang kedua, satu hal yang sering dilupakan dalam berdoa, adalah untuk mendoakan sesama orang beriman.  Ayat di atas adal;ah ajakan Paulus kepada jemaat di Efesus untuk berdoa bagi segala orang kudus, yaitu semua orang yang percaya kepada Kristus. Sekalipun mereka tidak menjabat kedudukan dalam pemerintahan dunia, mereka adalah anak-anak Allah. Doa kita untuk sesama orang beriman harus dilakukan dengan tidak putus-putusnya sebagai bukti bahwa kita bersama dengan saudara-saudara seiman  bersatu dalam keyakinan bahwa Tuhan menyertai kita dalam keadaan yang bagaimana pun.  Doa yang senatiasa kita sampaikan kepada Tuhan haruslah berisi ucapan syukur atas penyertaanNya sampai saat ini, dan pengharapan akan pertolongan Tuhan pada  masa mendatang.

Berdoa dengan tidak putus-putusnya bukanlah dimaksudkan untuk “memaksa” agar Tuhan segera bertindak. Sebaliknya, doa yang selalu kita sampaikan adalah kemauan untuk menunggu dan penyerahan kita kepada Dia yang mahakuasa. Doa yang tidak berkeputusan adalah bukti kesabaran dalam iman dan pernyataan syukur kita atas kasihNya. Dengan itu kita akan tetap kuat dalam menghadapi ancaman yang bagaimana pun besarnya.