Siapakah Yesus bagi anda?

Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 16: 15 – 17

Beberapa jam yang lalu pesawat saya mendarat di Brisbane dan dengan itu perjalanan saya ke Israel dan sekitarnya sudah sepenuhnya berakhir. Ada perasaan senang dan lega di hati saya karena saya bisa pulang ke rumah di Gold Coast dengan selamat, tetapi kenangan yang saya peroleh tidak mudah dilupakan. Melihat permukaan air di Broadwater, mau tidak mau pikiran saya teringat akan danau Tiberias dimana banyak hal yang dikerjakan Yesus dan murid-muridNya dua ribu tahun yang lalu.

Berbagai mujizat Yesus juga terjadi di sekitar danau Tiberias, seperti berjalan di atas air, meneduhkan angin ribut dan memberi makan ribuan orang. Mungkin dapat kita bayangkan bahwa murid-murid Yesus yang melihat semua itu tentunya merasa heran dan takjub. Walaupun demikian, semua itu tidak membuat mereka mengerti bahwa Yesus adalah Mesias.

Selain danau Tiberias, saya juga terkesan dengan keindahan gunung Hermon. Gunung yang sekarang dipakai untuk bermain ski pada musim dingin ini menaungi sebuah kota yang bernama Kaisarea Filipi atau Caesarea Paneas yang adalah sebuah kota Romawi kuno. Kota yang dulunya indah dan berada di tempat muasal Sungai Yordan yang mengalir ke danau Tiberias, sekarang tinggal reruntuhan saja.

Pada waktu berkunjung ke Kaisarea Filipi, Yesus bertanya kepada murid-muridNya apa kata orang tentang diriNya. Murid-murid menjawab bahwa sebagian orang berpendapat bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis, tetapi ada juga yang mengatakan Yesus adalah Elia dan ada pula yang mengatakan Yeremia atau salah seorang dari para nabi. Setelah mendengar jawaban murid-muridNya, Yesus bertanya: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Hanya Petrus yang bisa menjawab dengan tepat: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”

Bagaimana Petrus dapat mengerti bahwa Yesus adalah Mesias dan penjelmaan Allah? Jika murid yang lain bungkam, Petrus dengan yakin dan lantang mengakui Yesus sebagai Tuhan. Ini adalah suatu keajaiban besar yang sering dilupakan orang Kristen. Yesus berkata kepada Petrus bahwa Allah sendiri yang menyatakan hal itu kepadanya. Jelas dengan usaha sendiri kita tidak dapat mengenal Yesus.

Apakah saat ini anda benar-benar mengakui Yesus adalah Mesias dan Tuhan? Jika ya, anda sudah menerima mujizat besar dari Allah. Dengan demikian, hidup anda seharusnya penuh dengan sukacita karena anda sudah dikenal oleh Allah sebagai anakNya. Dengan keyakinan ini anda akan kuat dalam menghadapi segala tantangan kehidupan. Ataukah masih ada rasa sangsi dalam hati anda mengenai siapa Yesus yang sebenarnya? Jika memang demikian, berdoalah kepada Allah agar terangNya menghilangkan kabut keraguan anda.

Mengapa orang Kristen ke gereja?

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23 – 24

Hari ini hari Minggu dan saya yang masih berada di Jakarta melihat banyak orang yang pergi ke gereja. Beribadah di gereja adalah suatu kewajiban bagi umat Kristen dan itu dipandang sebagai perbuatan yang baik. Dalam hal ini orang Kristen ingin berbuat baik karena sudah menerima keselamatan melalui pengurbanan Kristus, tetapi banyak orang yang bukan Kristen sering percaya bahwa berbuat kebaikan adalah sesuatu yang seharusnya dilakukan manusia untuk memperoleh keselamatan dari Tuhan.

Mereka yang sempat mempelajari Alkitab akan menemui ayat di atas yang menunjukkan bahwa untuk ukuran Tuhan yang mahasuci, tidak ada seorang pun yang bisa memperoleh keselamatan dari Tuhan karena semua orang sudah berdosa. Karena itu, segala perbuatan yang dianggap baik oleh manusia, tidaklah cukup untuk menebus dosa. Di mata Tuhan semua itu tidak berguna. Jika ada orang yang merasa bahwa ia bisa berbuat baik untuk memperoleh keselamatan dari tuhannya, pastilah “tuhan” yang sedemikian bukanlah Tuhan yang mahasuci, jadi bukan benar-benar Tuhan.

“Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.” Roma 3: 12

Dengan tidak adanya perbuatan yang baik di mata Tuhan, ada orang yang bertanya apakah kita perlu berusaha untuk berbuat baik. Perbuatan baik yang berharga di mata Tuhan adalah apa yang dilakukan oleh orang-orang yang sudah diselamatkan. Karena Tuhan sudah menebus dosa mereka, Tuhan mau menerima perbuatan baik dan persembahan mereka sebagai pernyataan syukur atas kemurahan Tuhan yang sudah lebih dulu diberikan. Dengan demikian, orang yang mengaku Kristen tetapi tidak mau atau tidak berusaha hidup seperti yang dikehendaki Tuhan, perlu merenungkan makna pengakuan mereka.

Orang yang sudah yakin bahwa Tuhan sudah menyelamatkan mereka adalah orang yang seharusnya penuh dengan sukacita. Sekalipun hidup di dunia penuh dengan tantangan, jaminan keselamatan melalui darah Kristus adalah karunia Tuhan yang tidak ada bandingnya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bahwa mereka selalu mempunyai kerinduan untuk memuliakan Tuhan dan melakukan apa yang disukai Tuhan. Dengan demikian, mereka rajin untuk berbuat baik dan beribadah, bukan saja pada hari Minggu, tetapi setiap hari dan setiap saat.

“Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Ibrani 10: 24 – 25

Pentingnya keseimbangan hidup

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23

Kemarin saya mengakhiri perjalanan saya ke luar negeri. Badan lelah, tetapi pikiran lebih cerah karena apa yang saya lihat, alami dan nikmati selama perjalanan bersama sekitar 30 peserta. Kelihatannya, setiap orang dalam tour ini juga mengalami pengalaman yang serupa. Semua merasa bersyukur karena berkat dan penyertaan Tuhan sepanjang perjalanan.

Bagi kebanyakan orang, akhir dari liburan berarti mulainya saat untuk bekerja lagi dan ini mungkin bisa mendatangkan rasa sebal. Memang, jika orang sering membayangkan betapa enaknya jika mereka bisa hidup tanpa harus bekerja. Tetapi, Alkitab menyebutkan bahwa bekerja untuk Tuhan adalah kewajiban setiap manusia (Kejadian 1: 28).

Walaupun demikian, karena kejatuhan manusia dalam dosa seringkali orang tidak mempunyai gaya hidup yang seimbang antara bekerja dan beristirahat. Ada orang yang selalu ingin bekerja dan tidak mau beristirahat (workaholic) tetapi ada juga orang yang selalu ingin bersukaria tetapi enggan untuk bekerja. Selain itu, karena dosa juga, seringkali manusia ingin bekerja atau bersukaria hanya untuk kepentingan diri sendiri.

Mereka yang enggan bekerja mungkin bisa belajar dari semut yang biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, menyediakan rotinya di musim panas dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen (Amsal 6: 6 – 8).

Pada pihak yang lain, mereka yang selalu ingin bekerja mungkin disebabkan oleh kebiasaan atau keharusan. Memang ada bangsa-bangsa tertentu yang terbiasa untuk bekerja lebih keras dari bangsa lain. Tetapi ada juga masyarakat yang harus bekerja keras setiap hari untuk mencukupi kebutuhan. Dalam hal ini, mereka yang bekerja keras seharusnya menyadari baik jasmani maupun rohani memerlukan istirahat, seperti prinsip beristirahat yang sudah diberikan Tuhan kepada umat Israel.

“Enam harilah lamanya engkau melakukan pekerjaanmu, tetapi pada hari ketujuh haruslah engkau berhenti, supaya lembu dan keledaimu tidak bekerja dan supaya anak budakmu perempuan dan orang asing melepaskan lelah.” Keluaran 23: 12

Dengan demikian, setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, karena itu juga adalah pemberian Allah (Pengkhotbah 3: 13).

Jelas bahwa baik liburan maupun pekerjaan adalah pemberian Tuhan yang harus disyukuri. Sebagai pemberian Allah kita tidak boleh memakainya menurut kehendak kita sendiri, tetapi untuk kemuliaan Tuhan. Biarlah dalam memasuki tahun 2020 ini kita dapat mempunyai keseimbangan dalam bekerja dan beristirahat sehingga nama Tuhan makin dibesarkan.

Mengatasi kekecewaan hidup

Dan berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Inilah negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub; demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu. Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana.” Ulangan 34: 4

Kemarin saya mengunjungi Gunung Nebo (bahasa Arab: Jabal Nibu. bahasa Ibrani: Har Nevo; bahasa Inggris: Mount Nebo) yaitu sebuah tebing yang menjulang di wilayah Yordania sekarang, sekitar 817 meter di atas permukaan laut, yang disebut dalam Alkitab sebagai tempat di mana Musa diizinkan untuk memandang “Tanah Perjanjian”, yaitu Tanah Kanaan, sebelum ia meninggal tanpa sempat memasukinya.

Hampir berhasil berarti gagal. Itulah yang mungkin dirasakan Musa yang sudah mengembara bersama umat Israel selama 40 tahun, dan hampir mencapai tanah perjanjian, hanya untuk menerima keputusan Tuhan bahwa ia tidak akan masuk ke tempat itu. Dengan demikian, Yosua dan Kaleb serta orang Israel lainnya bisa melanjutkan perjalanan mereka dengan penuh harapan, tetapi bagi Musa saat meninggalkan dunia sudah tiba.

Mungkin di antara kita ada yang pernah mengalami hal yang serupa. Bertahun-tahun berusaha untuk mencapai keberhasilan, tetapi pada saat terakhir hanya kegagalan yang terlihat di depan mata. Itu bisa terjadi dalam rumah-tangga, sekolah, pekerjaan atau apa pun yang sudah menyita cinta, tenaga, uang, dan air mata. Tuhan nampaknya kejam.

Musa sebagai manusia tentunya merasa kecewa. Walaupun demikian, ia tidak perlu mempersalahkan orang lain. Sebaliknya, ia bisa berharap bahwa segala usahanya akan membawa kebaikan kepada orang lain. Sebagai seorang pemimpin, Musa bukan pemimpin yang sempurna tetapi ia dihormati dan dikasihi umatnya. Musa berumur seratus dua puluh tahun ketika ia mati; tetapi matanya belum kabur dan kekuatannya belum hilang. Dengan kematiannya, orang Israel menangisinya di dataran Moab tiga puluh hari lamanya.

Sebelum mati, Musa sudah mempersiapkan Yosua sehingga ia bisa memimpin umat Israel dengan kebijaksanaan, dan Musa telah memberikan restunya kepada dia. Sebab itu orang Israel mendengarkan Yosua dan melakukan apa yang perlu seperti yang diperintahkan Tuhan kepada Musa. Musa bisa meninggalkan dunia ini dengan perasaan lega bahwa tanah perjanjian akan jatuh ke tangan keturunannya.

Seperti Musa, kita pun bisa menghapus rasa kecewa dari hati kita kalau kita meyakini bahwa Tuhan mempunyai rencana yang baik untuk orang-orang yang dikasihiNya. Jika kita berjuang bukan hanya untuk diri sendiri, “kegagalan” kita tidak akan sia-sia karena pasti ada orang lain yang masih bisa menggunakan apa saja yang berasal dari jerih-payah, kesetiaan dan kasih kita. Memang, selagi hidup di dunia tidak ada seorang pun yang sempurna. Kegagalan adalah bagian dari kehidupan, tetapi belum tentu membawa hasil yang buruk jika kita bisa melihat ke hari depan dan berharap kepada Tuhan.

Jika Tuhan berjanji untuk membawa kebaikan kepada umatNya, Ia akan melakukannya. Mungkin apa yang kita alami saat ini terasa pahit, tetapi itu bisa juga merupakan bagian rencana Tuhan untuk mendidik agar di masa depan semua umatNya tidak hidup untuk mencapai kesuksesan diri sendiri, tetapi selalu bekerja untuk kemuliaan bagi Tuhan dan kepentingan sesama kita.

Gembalakanlah domba-domba Tuhan

Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”

Hari ini, dalam perjalanan saya di negara Israel saya sempat mengunjungi sebuah gereja kecil di pinggir pantai danau Tiberias. Gereja ini didirikan dimana Yesus menyatakan diriNya untuk ketiga kalinya sesudah bangkit kepada beberapa muridNya. Kejadian ini merupakan hal yang sangat penting yang seharusnya membawa pengaruh besar bagi hidup orang Kristen.

Pada waktu itu, sesudah murid-murid mengenaliNya, Yesus bertanya kepada Petrus apakah ia mengasihi Dia. Tiga kali Yesus bertanya, dan tiga kali pula Petrus menjawab bahwa ia mengasihiNya. Namun pada kali yang ketiga, Petrus sadar bahwa Yesus tiga kali bertanya karena Petrus sudah menyangkali Yesus tiga kali sebelum Yesus disalibkan. Petrus merasa malu karena Yesus seolah ingin memastikan apakah ia benar-benar tulus dengan jawabannya. Petrus kemudian menjawab bahwa Yesus tahu bahwa ia mengasihiNya. Setelah mendengar jawaban Petrus itu Yesus memerintahkan dia untuk menggembalakan domba-dombaNya.

Perintah Yesus kepada Petrus ini adalah suatu hal yang sangat signifikan. Sebagian orang Kristen percaya bahwa perintah ini khusus diberikan kepada Petrus untuk menjadi pemimpin gerejaNya di dunia. Tetapi, sebagian lagi menyatakan bahwa perintah ini ditujukan kepada semua orang Kristen yang menjabat posisi gembala gereja agar mereka mencukupi umatnya dengan segala kebutuhan rohani mereka. Pada pihak yang lain, ada orang yang menafsirkan bahwa ini adalah perintah Yesus kepada semua orang Kristen yang seperti Petrus mempunyai banyak kelemahan, tetapi ingin untuk benar-benar mengasihi Yesus.

Pagi ini, mungkin kita ingat bahwa hidup kita sebagai orang percaya adalah jauh dari sempurna. Mungkin kita sering mendahulukan kepentingan kita sendiri di atas kepentingan Tuhan. Dengan demikian, seperti Petrus kita mungkin sering menyangkali Yesus. Tetapi, jika kita mengingat bahwa Yesus sudah lebih dulu mengasihi kita dengan mengurbankan diriNya untuk menebus dosa kita, kita seharusnya mau mengasihi Dia dan menjalankan perintahNya.

Ingatkah anda bahwa tanpa pengurbanan Yesus di kayu salib seharusnya anda binasa? Apakah anda benar-benar mengasihi Yesus karena kasihNya? Jika anda memang mengasihiNya, anda adalah seperti Petrus. Karena itu, perintah Yesus kepada anda adalah sama dengan perintah Yesus kepada Petrus.

Ada banyak domba Allah yang membutuhkan pertolongan kita, baik itu dalam hal jasmani atau pun rohani. Mungkin domba-domba itu adalah sanak keluarga kita, teman sekerja, atau mereka yang di gereja dan bahkan di kota atau di negara kita. Bagi mereka, panggilan diakonia kita untuk mengasihi dan menolong mereka yang membutuhkan pelayanan, pertolongan, bimbingan dan bantuan kita baik dalam hal jasmani maupun rohani.

“Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” 1 Petrus 4: 10

Dalam bahaya kita melihat Tuhan

Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Matius 14: 31

Bacaan: Matius 14: 22 – 33

Kemarin saya bersama teman-teman tour pergi ke danau Tiberias dimana pada zaman Yesus masih di dunia ada kejadian yang membuktikan bahwa Yesus adalah Allah yang mahakuasa, tetapi juga Allah yang mahakasih.

Danau Tiberias adalah sebuah danau air tawar yang sangat besar, yang karena itu juga disebut laut Tiberias. Danau ini letaknya sekitar 210 meter di bawah muka air laut. Dengan panjang keliling sekitar 53 km, panjang 21 km dan lebar 13 km, danau ini sering mengalami angin badai ketika udara dingin dari gunung Hermon dan gunung Lebanon bertemu dengan udara panas dari permukaan danau.

Pada saat itu Yesus baru saja melakukan keajaiban dengan memberi makan 5000 orang. Yesus memerintahkan murid-muridNya naik ke perahu dan mendahuluiNya ke seberang, sementara Ia menyuruh orang banyak pulang. Ia kemudian naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri.

Mungkin waktu di perahu, murid-murid masih membicarakan apa yang terjadi sebelumnya. Mereka mungkin masih merasa takjub bagaimana Yesus bisa melakukan keajaiban dengan lima roti dan dua ikan. Tetapi keajaiban yang besar itu tidaklah membuat mereka sadar bahwa Yesus adalah Tuhan. Apa yang mereka lihat adalah luar biasa, tetapi itu tidak menyangkut hidup mati mereka. Seperti itu juga, kita tidak mudah merasakan hadirnya Tuhan atau berharap pada kuasa Tuhan jika kita tidak secara pribadi membutuhkan pertolongan Tuhan.

Mengapa Yesus menyuruh murid-muridNya ke tengah danau hanya untuk mengalami angin topan? Mengapa Ia membuat mereka ketakutan? Angin topan adalah sebuah kenyataan dari danau Tiberias sampai sekarang dan badai kehidupan adalah sebuah kenyataan hidup kita selama di dunia. Yesus menyuruh kita untuk menjadi muridNya di tengah dunia yang penuh dengan masalah, bukan untuk membuat kita takut tetapi sebaliknya untuk membuat kita merasakan dan mengakui kuasa dan kasihNya. Ini seirama dengan perintahNya kepada orang Israel agar mereka tetap berjalan mengikuti perintanNya.

“Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau.” Yesaya 43: 2

Sebagai orang percaya, kita tidak dapat mengharapkan hidup yang selalu mulus dan nyaman. Kita juga tidak dapat berlindung dalam “perahu” kita dan berharap agar badai berlalu. Kita harus bisa melihat dengan mata rohani kita bahwa seperti Yesus yang sanggup menyeberang melalui air, kita pun bisa mengatasi masalah kita jika kita percaya atas kuasa dan kasih Tuhan.

Sebagai manusia kita cenderung untuk takut dan kuatir, tetapi Yesus yang sudah menegur murid-muridNya, akan membuat kita percaya bahwa Ia adalah Anak Allah jika kita tetap berharap kepada pertolonganNya.

Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.” Matius 14: 33

Jangan lupakan keajaiban kasih Allah

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8

Dalam perjalanan ke Israel dan Mesir saya melihat berbagai peninggalan sejarah dari masa-masa yang telah lalu, yang berhubungan dengan apa yang terjadi pada zaman Perjanjian Lama dan pada waktu Yesus masih di dunia. Beberapa relik dan bangunan kuno diduga merupakan sisa-sisa peninggalan kebudayaan umat Israel dan kejadian-kejadian yang dialami mereka. Dengan demikian, kunjungan ke tempat-tempat bersejarah itu bisa membuat pengunjung untuk lebih dapat membayangkan bagaimana Tuhan memelihara bangsa Israel.

Bagi mereka yang merenungkan apa arti semua yang terjadi di Israel dari zaman Musa sampai sekarang, tentu akan menyadari bagaimana Tuhan menyertai bangsa pilihanNya. Sayang, bangsa ini sudah menyia-nyiakan kesempatan untuk menerima Yesus sebagai Mesias, dan karena itu secara umum orang Israel adalah kaum yang masih menantikan datangnya seorang Mesias. Segala keajaiban (miracle) dari Allah yang mereka alami sebelumnya menjadi kenangan yang mereka ingat turun-temurun, tetapi mereka tidak mau menerima keajaiban Allah yang terbesar dalam diri Yesus.

Memang manusia mudah menerima pemberian Tuhan yang berbentuk jasmani sebagai keajaiban. Apa yang terjadi dalam bentuk, ukuran atau saat yang diluar dugaan, mudah diterima sebagai keajaiban. Tetapi jika itu saja yang diharapkan, perasaan sukacita atau percaya kepada Tuhan tidak akan bertahan lama, karena segala sesuatu yang jasmani tidak akan bertahan lama. Dengan berlalunya waktu, apa yang sudah diberikan Tuhan pada masa lalu hanya menjadi kenangan tetapi tidak menolong untuk masa depan karena adanya kebutuhan atau masalah yang lebih besar. Selain itu kebutuhan manusia yang terbesar seringkali kebutuhan rohani yang membuat orang kuatir, takut atau putus asa.

Seperti orang Israel, kita seringkali mengalami perjuangan hidup dan masalah. Seperti orang Israel kita mengharapkan datangnya keajaiban dari Tuhan. Seperti mereka, kita mungkin bersukacita jika kita menerima berkatNya, tetapi merasa “biasa-biasa” saja jika segala sesuatu berjalan seperti yang kita harapkan. Seperti mereka, kita mungkin sering merasa kecewa atau putus asa jika Tuhan tidak memberikan apa yang kita kehendaki. Itu karena kita menyamakan keajaiban Tuhan dengan berkat jasmani saja.

Tuhan yang mengasihi kita memang tetap membuat mujizat jika itu sesuai dengan kehendakNya. Tetapi, Ia sudah membuat mujizat yang terbesar untuk kita, yaitu bahwa kita yang sudah seharusnya binasa karena dosa-dosa kita, kemudian menerima pengampunan dosa dan keselamatan.

Ayat di atas menunjukkan bahwa kita yang seharusnya mati dalam dosa, kemudian menerima keselamatan, semata-mata oleh kasih Allah. Kasih Allah ini adalah suatu keajaiban yang tidak ada tandingannya, dan karena itu kita seharusnya tidak lagi menantikan bukti kasih dan kuasa yang lebih besar. Keajaiban Allah yang lebih penting untuk kita minta dari Tuhan setiap hari adalah bimbingan Roh Kudus agar kita lebih mengenal Allah dan lebih sanggup untuk hidup seperti yang Ia kehendaki.

Kita adalah loh Allah

“Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.” 2 Korintus 3: 3

Kemarin saya mendapat kesempatan untuk mendaki gunung Sinai di Mesir. Gunung ini menurut dugaan adalah tempat dimana Allah pada tahun 1300 SM memberikan dua loh batu yang berisi sepuluh hukum Tuhan untuk bangsa Israel. Untuk mencapai puncak gunung yang tingginya 2285 meter ini tidaklah terlalu mudah karena sesudah mengendarai unta untuk satu setengah jam, saya harus mendaki 750 tangga batu yang curam. Saya heran bahwa Musa yang sudah berumur 90-100 tahun waktu itu mau dan bisa mendaki gunung curam itu sebelum ada tangga.

Loh batu yang diberikan untuk umat Israel untuk ditaati ternyata tidak membuat mereka untuk bisa menjadi umat Tuhan yang baik. Sepuluh hukum Tuhan hanyalah merupakan sesuatu yang bisa dilihat, tetapi tidak dimengerti atau ditaati oleh umat Israel. Umat Israel tidak tertarik untuk mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan mereka dan karena itu bagi mereka melaksanakan hukum Tuhan adalah suatu yang sulit dilaksanakan.

Yesus sudah datang ke dunia dan meringkas sepuluh hukum Tuhan itu kedalam dua hukum kasih. Tetapi, ini pun tidak akan membuat manusia untuk mau berusaha dengan sepenuh hati untuk melaksanakannya. Itulah sebabnya Tuhan memberikan RohNya kepada mereka yang percaya agar mereka memgerti apa yang dihendaki Tuhan karena mereka bisa mendengar suara Tuhan dalam hati mereka.

Suara Roh Kudus dalam hati setiap orang Kristen seharusnya membuat mereka hidup dekat dengan Tuhan dan mau hidup menurut apa yang dikehendakiNya. Tetapi, dalam kenyataannya, adalah mudah bagi seseorang untuk mengabaikan suara Roh dalam hidup sehari-hari. Oleh sebab itu, seringkali mereka yang seharusnya bisa melaksanakan perintah Tuhan dan hidupnya berubah makin lama makin baik, ternyata tidak bertumbuh menjadi orang Kristen yang dewasa secara iman.

Pagi ini, kita menyimak dari Alkitab bahwa seperti orang Israel yang sering mengabaikan hukum Tuhan yang diperoleh Musa dari Tuhan melalui penderitaan dan pengurbanannya, begitu pula kita sering mengabaikan hukum Tuhan yang sudah diberikan Yesus dalan hati kita melalui pengurbanan dan kasihNya. Mengapa sering kita mengabaikan suara Roh yang menegur kita ketika kita melakukan hal yang salah? Mengapa kita sering melupakan bahwa segala perintah Tuhan yang sudah ditulis dalam hati kita adalah untuk dilaksanakan dan bukan untuk diabaikan?

Menghadapi kenyataan hidup

“Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini.” 1 Korintus 4: 11 – 13

Pagi ini saya membaca adanya peringatan yang diberikan oleh negara-negara tertentu kepada warganya tentang adanya ancaman di negara lain. Travel warning ini menyuruh warga mereka untuk mempertimbangkan lagi rencana kunjunngan ke negara tertentu. Hal ini pasti bisa membuat gundah mereka yang mempunyai rencana untuk bepergian.

Jika pertentangan antar negara kadang-kadang terjadi dan menimbulkan berbagai persoalan serius, pertentangan antar individu lebih sering terlihat dalam hidup sehari-hari. Sebagai makhluk yang beradab, manusia mungkin merasa bahwa mereka adalah jauh lebih bisa untuk bergaul atau berinteraksi dengan sesamanya. Tetapi, dalam kenyataannya banyak masalah yang timbul dalam hidup sehari-hari yang disebabkan karena kegagalan manusia dalam hidup bersosial.

Hidup bermasyarakat memang bukanlah mudah. Dari mulanya kita bisa membaca di Alkitab bahwa perbedaan yang ada di antara manusia, kelompok dan suku sering menimbulkan pergesekan, pertentangan dan perseteruan. Tidaklah heran, Paulus dalam ayat-ayat di atas menulis bahwa ia pernah merasakan berbagai hal seperti dimaki, difitnah dan bahkan dianggap seperti sampah oleh orang lain.

Paulus juga menulis bahwa dalam hidupnya ia sudah mengalami hal yang tidak enak seperti kelaparan, kehausan, telanjang, dipukuli dan hidup mengembara, dan ia juga melakukan pekerjaan tangan yang berat. Semua itu adalah kenyataan hidup yang bisa dialami setiap manusia dan umat Kristen tidaklah imun darinya. Sekalipun mungkin tidak sebanding dengan apa yang pernah dialami Paulus, kita mungkin sering mengalami hal yang serupa.

Bagaimana seharusnya kita bertindak jika kita mengalami hal yang tidak menyenangkan dari orang lain? Paulus menulis bahwa ketika ia dan rekannya dimaki, mereka justru memberkati; kalau mereka dianiaya, mereka malah bersabar; dan kalau mereka difitnah, mereka tetap menjawab dengan ramah. Paulus bisa melakukan hal itu karena ia benar-benar mengikut Yesus yang sudah mengalami penderitaan yang jauh lebih besar. Bagaimana pula dengan kita?

Hidup harmonis dengan Tuhan dan sesama

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3: 17

Heran bin ajaib, belakangan ini saya mulai gemar memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang, terutama mereka yang seumur saya atau yang lebih tua. Saya tidak tahu apakah orang lain juga mengalami hal yang serupa, tetapi salah satu yang selalu menarik perhatian saya adalah adanya pasangan yang sudah berumur yang nampaknya sudah menikah cukup lama, tetapi tetap terlihat mesra dan serasi. Apa kunci kebahagiaan rumah tangga mereka?

Dari beberapa tulisan yang saya pernah baca dan juga dari penelitian saya sendiri rupanya hubungan antara suami dan istri yang harmonis itu sering dihubungkan dengan kemauan masing-masing untuk berkurban untuk yang lain dan menerima pasangannya sebagaimana adanya. Hidup rumah tangga yang sedemikian biasanya diisi dengan rasa syukur dan komunikasi yang baik sekalipun situasi dan kondisi hidup tidak selalu berjalan mulus. Hal ini juga sering dikemukakan oleh banyak penasihat dan pembina perkawinan (marriage counsellor) yang membantu pasangan yang mengalami kesulitan dalam hidup pernikahan mereka. Benarkah ini kunci ketenteraman hidup?

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose memberikan nasihat-nasihat mengenai hubungan antar anggota keluarga dalam Kolose 3: 18 – 25, dan ayat 18 dan 19 sudah sering dibahas dalam konteks hubungan antara suami dan istri. Tetapi, ayat 17 di atas yang mendahuluinya mungkin bisa dipakai sebagai sebuah pedoman dari ayat-ayat sesudahnya. Ayat 17 memegang kunci keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan dan sesamanya. Mengapa begitu?

Paulus menasihati jemaat di Kolose, dan juga kita yang tergolong umat Tuhan, untuk menjalani hidup kita dengan rasa syukur kepada Tuhan. Jika kita selalu ingat untuk pengurbanan Yesus bagi kita, segala sesuatu yang kita lakukan dengan perkataan atau perbuatan akan dapat dipakai untuk memuliakan Yesus. Dengan demikian, situasi, kondisi dan orang-orang di sekitar kita bukanlah faktor yang menentukan hidup kita.

Pagi ini firman Tuhan menyatakan pentingnya bagi kita untuk mengingat bahwa keharmonisan hidup bisa tercapai jika kita sadar bahwa hidup kita dari Tuhan, karena Tuhan dan untuk Tuhan. Mereka yang bisa mensyukuri hidup yang sedemikian, lebih mudah untuk mengerti bahwa apa yang mereka lakukan atau katakan dalam hidup sehari-hari haruslah untuk kemuliaanNya. Dengan demikian, apa pun yang terjadi dalam hidup kita tidak akan menentukan hubungan kita dengan Tuhan dan sesama kita.

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23