Yesus bertanya kepada mereka: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus: “Mesias dari Allah.” Lukas 9: 20
Siapakah Yesus itu? Pertanyaan ini mudah dijawab oleh siapapun karena Yesus adalah figur yang paling terkenal di sepanjang sejarah menurut berbagai survei dan penyelidikan. Walaupun demikian, almarhum John Lennon pernah dengan bangga berkata bahwa The Beatles lebih masyhur dari Yesus pada tahun 1966. Dan sekalipun dianggap aneh dan sembrono, John Lennon tentu bukan satu-satunya orang yang berpendapat bahwa dirinya sendiri atau orang lain adalah lebih penting atau lebih masyhur dari Yesus.
Pertanyaan “siapakah Yesus” mudah dijawab karena orang bisa membaca dari buku sejarah atau berbagai artikel di internet. Siapakah Yesus bagi anda, itulah pertanyaan yang lebih sulit dijawab karena menyangkut pengertian anda secara pribadi. Walaupun demikian, banyak orang yang menjawab bahwa Yesus adalah Tuhan sekalipun jawaban itu hanya di bibir saja dan bukan dari hati. Mungkin jawaban itu berdasarkan pada kebiasaan dan bukannya pengalaman hidup. Jika jawaban itu dari hati, seharusnya ada rasa hormat dan kepatuhan kepada Yesus dalam hidup mereka.
Pada waktu Yesus bertanya kepada para muridNya siapakah Dia menurut orang banyak, mereka menjawab bahwa ada yang berpendapat bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis, dan ada juga yang mengatakan Elia, tetapi ada pula yang berpendapat bahwa Yesus adalah seorang dari nabi-nabi terdahulu yang telah bangkit. Umumnya bagi orang banyak, Yesus adalah orang baik. Bagaimana dengan pendapat murid Yesus? Hanya Petrus yang menjawab bahwa Yesus adalah Mesias kiriman Allah. Bagaimana mungkin hanya dia yang pada waktu itu bisa mengerti bahwa Yesus adalah Mesias? Pastilah Roh Kudus sudah bekerja dalam hati Petrus; karena begitu banyak orang yang melihat dan mendengar, tetapi sedikit yang percaya.
“Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap.” Matius 13: 14
Pagi ini, mungkin kita bisa membandingkan diri kita dengan murid-murid Yesus. Bagaimanapun juga, sebagai orang Kristen kita mengaku bahwa kita pengikut Yesus. Siapakah Yesus menurut pendapat anda? Apa jawab anda?
Jawaban yang tulus seharusnya datang dari hati dan bukannya dari pikiran. Jawaban yang jujur seharusnya bukan dari mulut tetapi dari pengalaman hidup dan perbuatan kita. Tuhanlah yang bisa menolong kita untuk bisa menjawab seperti Petrus.
“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21
Apakah anda mendukung prinsip egalitarian dalam hidup bermasyarakat? Menurut Wikipedia, Egalitarianisme (berasal dari bahasa Perancis égal yang berarti “sama”), adalah cara berpikir bahwa seseorang harus diperlakukan dan mendapatkan perlakuan yang sama pada dimensi seperti agama, politik, ekonomi, sosial, atau budaya.
Perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur dalam Matius 20 adalah salah satu perumpamaan Yesus yang tidak terlalu kompleks tetapi sering menimbulkan tanda tanya: Apakah Tuhan itu semena-mena dan tidak etis?
Keadilan? Dimanakah adanya keadilan di dunia? Dari kecil sampai tua, banyak manusia yang mengeluh bahwa keadilan sulit ditemui baik dalam hal hukum, sosial, ekonomi maupun hal-hal lain. Memang, dari bangun tidur sampai saat membaringkan tubuh lagi, ketidakadilan selalu lebih mudah dilihat manusia.
Dalam sejarah bani Israel, Tuhan berkali-kali mengingatkan mereka untuk tidak melupakan Allah yang sudah membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Dalam ayat di atas, kembali Allah berfirman agar umatNya untuk berhati-hati agar tidak sampai lupa akan apa yang mereka lihat dan alami selama mereka hidup dalam bimbingan Allah, dan untuk menceritakan penyertaanNya kepada semua keturunan mereka. Karena itu sampai sekarang pun, orang Israel masih mempunyai kebiasaan untuk membaca dan merenungkan apa yang terjadi pada saat nenek moyang mereka mengembara di padang gurun.
Bercermin adalah suatu kegiatan yang dilakukan manusia sejak dahulu kala. Manusia adalah satu-satunya mahluk yang mempunyai keinginan dan kemampuan untuk melihat rupa mereka sendiri. Sebelum ada kamera yang bisa dipakai untuk selfie, cermin adalah satu-satunya alat untuk mengagumi rupa sendiri. Cermin seperti yang kita punyai muncul pada tahun 1835 di Jerman, tetapi orang sudah memakai cermin dari batu sejak 6000 tahun sebelum Masehi.
Mengapa selalu ada orang yang melakukan hal-hal yang kurang menyenangkan dalam hidup ini? Mengapa ada saja hari-hari yang membuat kita masygul karena seolah tidak ada seorangpun disekitar kita yang mempunyai sikap dan tingkah laku yang menyenangkan?
Dalam hidup di dunia, manusia dimanapun pernah mengalami persoalan dan penderitaan, entah itu kecil maupun besar. Bagi mereka yang beriman, berdoa kepada Tuhan untuk memohon pertolongan adalah hal yang biasa. Memohon belas kasihan Tuhan agar Ia mau menolong kita adalah sepatutnya kita lakukan kapan saja, asal kita percaya bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita. Walaupun demikian, dalam doa-doa pribadi agaknya orang sering lupa berdoa syafaat untuk masyarakat di sekelilingnya.
Jika anda membaca koran hari ini, pasti anda bisa menemukan berbagai laporan tentang apa yang terjadi dalam masyarakat di berbagai tempat. Seringkali laporan semacam itu adalah kabar buruk yang terjadi pada diri seseorang yang disebabkan oleh tindakan orang lain, seperti penganiayaan, perampokan, penipuan, penistaan, pelecehan dan sejenisnya. Untuk sebagian pembaca, laporan yang sedemikian bukannya menyedihkan tetapi justru menarik perhatian, apalagi jika ditampilkan dengan bumbu sensasi.
Ayat diatas ditulis oleh Rasul Paulus kepada para jemaat di Korintus untuk mengutarakan rasa senangnya karena mereka dapat dipercaya dalam segala hal. Segala hal? Luar biasa! Apakah Paulus hanya bermanis-manis saja? Rupanya tidak, karena Paulus membanggakan mereka kepada Titus (2 Korintus 7: 13-14). Walaupun demikian, Paulus tentu tidak bermaksud bahwa mereka adalah orang-orang yang selalu jujur. Tetapi Paulus jelas bangga bahwa mereka adalah orang yang sudah berubah hidupnya dan bisa diandalkan dalam pekerjaan Tuhan.