Hal menikmati hidup

“Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya….”. Galatia 5:19-21

Jika diingat, saat-saat saya masih di universitas sungguh menyenangkan. Sebagai anak muda, saya mengendarai motor Honda 90 cc ke mana saja. Saat liburan dinikmati dengan bepergian ke luar kota, dan akhir tahun diakhiri dengan pesta dansa. Hidup sebagai anak muda memang enak, banyak yang bisa dinikmati, tanpa memikirkan tanggung jawab. Malahan, untuk sebagian teman-teman saya, kelihatannya hidup memang hanya untuk bersenang-senang saja. Itulah hedonisme.

Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia (happy) dengan mencari kesenangan (pleasure) sebanyak mungkin, dan sedapat mungkin menghindari tanggung jawab dan hal-hal yang tidak menyenangkan. Hedonisme memang adalah ajaran bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup manusia. Manusia hanya hidup untuk pesta pora, hura-hura, dansa-dansi, makan-makan, mabuk-mabukan dan acara rame-rame lainnya.

Memang tidak ada salahnya jika manusia itu menikmati hidup dan sesekali berpesta untuk bergembira. Tuhan tidak menciptakan manusia untuk menjadi robot yang hanya bisa bekerja. Alam semesta dan segala isinya boleh dinikmati, dan hasil jerih payah boleh dirayakan asalkan ada batasnya. Hedonisme sebaliknya membuang batas-batas itu dan menganjurkan manusia untuk menikmati hidup sepenuh mungkin, kalau bisa tujuh hari seminggu, sepanjang tahun.

Sangat mudah manusia untuk jatuh kedalam hedonisme. Hedonisme bukan hanya untuk orang muda. Dengan usia tua, ada kemungkinan bahwa waktu dan uang yang ada membuat manusia lebih bersemangat untuk mencari kesenangan yang sebelumnya tidak tercapai.

Hedonisme tidak juga terjadi dikalangan orang yang mampu saja, sebab inti hedonisme adalah usaha mementingkan diri sendiri dan mencari kenyamanan hidup. Hedonisme bagi sebagian orang bisa berarti kecanduan, kemalasan, perasaan apatis, kesibukan hobby, dan ketidakpedulian atas orang lain dan keadaan disekeliling. Ironisnya, mereka yang bersifat hedonistik cenderung untuk makin lama makin parah karena kebahagiaan yang dicari tidak dapat memberi kepuasan.

Pagi ini ayat di atas memperingatkan kita bahwa dalam mencari kenikmatan hidup kita harus berhati-hati agar kita terhindar dari cara-cara dan acara-acara yang hanya memuliakan diri kita dan memuaskan keinginan daging dan nafsu kita sendiri. Mencari kesenangan hidup seperti itu tidak berbeda dengan percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, dan lain-lain. Hal-hal semacam itu dibenci oleh Tuhan dan menjauhkan kita dari jalan kebenaran.

“Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu seperti yang telah kubuat dahulu bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” Galatia 5: 21

Semua dari Tuhan

“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Roma 11: 36

Dengan majunya komunikasi elektronik di zaman ini, banyak bermunculan berbagai nasihat untuk memperbesar “percaya diri” alias PD. Tidak hanya pembicara profesional atau motivator top yang giat mengadakan seminar, tetapi juga banyak slogan dan nasihat yang muncul di internet dan TV tentang bagaimana manusia dapat mencapai apa saja yang dicita-citakan mereka. Seolah hidup mereka bergantung pada mereka sendiri.

Di dunia ini, manusia memang diciptakan sebagai “raja”. Dalam kitab Kejadian 1: 28 dikatakan bahwa Allah memberi manusia kuasa atas mahluk-mahluk yang lain. Tetapi akibat dosa, manusia seringkali lupa bahwa Tuhanlah yang memungkinkan hal itu.

Karena dosa manusia juga sering lupa bahwa Tuhanlah yang benar-benar berkuasa atas seisi dunia, bahkan seluruh jagad raya. Manusia mudah merasa bahwa ia sendiri yang menentukan hidupnya dan apa yang diperolehnya adalah semata-mata jerih payahnya.

Ayat diatas mengingatkan kita bahwa apapun yang baik adalah dari Tuhan, dan oleh Tuhan, dan untuk Tuhan. Untuk Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. Hal ini lebih mudah dikatakan, tetapi sukar dijalankan. Bagaimana cara praktis untuk menerapkan keyakinan ini dalam hidup kita?

  1. Jangan sombong kalau sudah ada: Karena segala sesuatu dari Dia, keberhasilan kita seharusnya untuk memuliakan Tuhan dan bukan untuk kebanggaan diri sendiri.
  2. Mohon pada Dia, kalau belum ada: Karena Dialah yang memungkinkan segala kejadian, jangan mengandalkan pada kekuatan kita sendiri untuk mencari apa yang kita butuhkan.
  3. Tetap percaya, sekalipun tidak ada: Karena Dialah yang berkuasa untuk mengambil keputusan, jangan sampai kita lemah iman sekalipun apa yang kita harapkan tidak kunjung tiba.
  4. Syukur tiap saat, ada maupun tak ada: Ada ataupun tidak, hal-hal duniawi tidak boleh menentukan kebahagiaan kita. Hidup yang penuh rasa syukur adalah kunci kebahagiaan.
  5. Kerja giat, supaya yang ada tetap ada: Tuhan memberikan berkat dan talenta secara individual kepada setiap orang. Tugas manusia adalah untuk memakai dan melipat-gandakan berkatNya untuk Tuhan dan sesama.

“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang” Jakobus 1: 17a

Adakah yang peduli?

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4: 15

Salah satu lagu spiritual jazz yang saya senangi adalah lagu “Nobody knows the trouble I’ve seen” yang dinyanyikan oleh Louis Armstrong. Lagu tradisional ini, yang syairnya pertama kali dicatat pada tahun 1867, sudah dinyanyikan oleh banyak biduan. Syairnya sangat sederhana:

Nobody knows the trouble I’ve seen

Nobody knows my sorrow

Nobody knows the trouble I’ve seen

Glory, Hallelujah

Lagu ini sangat terkenal dan disukai banyak orang karena syairnya yang sering “klop” dengan hidup manusia. Manusia yang sering merasa bahwa tidak ada seorangpun yang tahu apa yang dideritanya. Dalam hidup rumah tangga, suami, istri, anak, saudara pernah mengalami saat-saat dimana mereka merasa bahwa tidak seorangpun peduli akan masalah yang ada.

Memang sulit bagi manusia jika tantangan hidup ini harus dihadapi seorang diri. Sejak dari awalnya Tuhan tahu bahwa manusia tidak dapat hidup seorang diri (Kejadian 2: 18). Tetapi, dalam kenyataan hidup ini masih banyak orang yang harus berjuang seorang diri baik di keluarga, sekolah, kantor dan bahkan di lingkungan gereja. Manusia agaknya sukar untuk mengerti perasaan orang lain. Manusia juga sulit diharapkan untuk mau atau dapat menolong sesamanya.

Kesepian manusia sering meningkat dengan melanjutnya usia. Ketika anak-anak sudah dewasa dan meninggalkan orang tua, ketika tubuh mulai sakit-sakitan atau cepat lelah, orang tua merasa sepi. Kesepian juga timbul dalam diri seseorang yang harus meninggalkan orang tua atau keluarga untuk mencari nafkah atau menuntut ilmu.

Baik masalah keuangan, kegagalan, komunikasi ataupun yang lain, perasaan merana bukan saja membuat seseorang sedih tetapi juga mudah sakit dan mudah jatuh dalam dosa. Kemurungan, kemarahan dan pelarian dari kenyataan hidup sering terjadi, dan dengan keadaan itu Tuhan serasa tak ada.

Pagi ini kita diingatkan bahwa Yesus, Imam Besar yang kita kenal adalah imam besar yang dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. Sebagai anak Allah yang sudah turun ke dunia, Ia sama dengan kita, Ia telah merasakan penderitaan dan kesepian seperti kita, tetapi sudah menang atas segala godaan iblis dalam hidupNya. Jika kita merasa lelah dalam hidup ini, Ialah satu-satunya harapan kita.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Nobody knows the trouble I’ve seen

Nobody knows but Jesus

Nobody knows the trouble I’ve seen

Glory, Hallelujah

Mengapa harus takut kepada Tuhan?

“Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.” Ibrani 12: 28-29

Di beberapa negara, kepercayaan pada okultisme sangatlah menonjol. Negara-negara di Amerika Latin, Afrika dan Asia yang dulunya berlatar belakang animisme, mempunyai budaya menyembah arwah, memakai setan untuk maksud tertentu dan lain-lain. Di negara-negara itu agaknya orang lebih takut atau segan kepada setan daripada Tuhan. Menarik sekali bahwa dalam hidup bermasyarakat, pelanggaran hukum Tuhan juga sangat umum di tempat-tempat itu. Mengapa begitu?

Banyak orang yang ngeri dan takut jika membayangkan setan. Dalam bayangan mereka, setan rupanya mengerikan, setan itu jahat, dan ia bergentayangan dimana-mana. Walaupun demikian, agaknya orang tahu bahwa setan tidak berkeberatan jika manusia melakukan hal-hal yang salah. Dengan cara khusus, setan justru bisa dipakai sebagai “partner in crime”, yaitu partner untuk melakukan kejahatan. Setan yang mengerikan bisa dibuat menjadi oknum jin yang bisa dipakai untuk mencari kesuksesan.

Mereka yang cenderung mengabaikan Tuhan mungkin secara sadar maupun tidak, merasa bahwa Tuhan itu tidak terlihat, Dia ada jauh di sana dan tidak mengganggu manusia. Tuhan bukan sesuatu yang mengerikan. Dia tidak seperti setan yang sering menakut-nakuti manusia. Tetapi, ada juga orang-orang yang memperlakukan Tuhan seperti mereka yang berteman dengan setan, dengan kepercayaan bahwa Dia adalah oknum yang baik hati, yang bisa mendatangkan kesuksesan.

Dalam ayat diatas, kita membaca bahwa sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita harus mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut, sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan. Disini kita jelas dapat melihat bahwa Allah adalah Tuhan yang Mahakasih dan sekaligus Mahasuci dan Mahakuasa. Karena itu kita harus menghormati dan takut kepadaNya, lebih dari apapun.

Takut akan Tuhan adalah kesadaran akan perbedaan yang ada antara Tuhan dan manusia. Tuhan adalah pencipta segalanya, termasuk iblis yang dulunya adalah salah satu malaikatNya. Tuhan yang dengan kemahakuasaan dan kesucianNya membuat takut dan gentar iblis (Yakobus 2: 19), tidak dapat dibandingkan dengan penguasa apapun. Takut akan Tuhan juga berarti bahwa kita sadar bahwa hanya dengan kasihNya kita dapat hidup bebas dari gangguan iblis, seperti Ayub yang tidak dapat disentuh iblis.

“Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu.” Ayub 1: 10

Pagi ini kita mendapat kesempatan untuk menyadari bahwa Tuhan perlu kita hormati dan takuti karena Ialah sumber kekuatan kita. Dialah satu-satunya yang dapat kita percayai dalam suka dan duka. KasihNya sudah terbukti dalam pengorbanan Yesus di kayu salib. Mengabaikan Tuhan dalam hidup kita adalah suatu kebodohan yang terjadi karena kita kurang atau tidak mempunyai rasa hormat dan takut kepadaNya.

“Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.” Amsal 1: 7

Maaf, saya tidak sengaja….

“Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.” Ibrani 10: 26

Di kota-kota besar seperti Jakarta dan Sydney, pusat pertokoan selalu penuh dengan pengunjung. Adakalanya karena berjubelnya manusia, kaki kita terinjak orang lain. Mungkin kita mengaduh dan mengomel, tapi selama perbuatan orang itu tidak disengaja dan ia sudah meminta maaf, kitapun bisa menerima. Kesalahan yang tidak disengaja, tidak perlu dihitung sebagai kesalahan.

Jika kesalahan yang tidak disengaja bisa dimengerti dan dimaafkan, mungkin kita juga berpikir bahwa Tuhanpun akan mengampuni dosa yang tidak kita sengaja. Tuhan yang Mahakasih tentunya lebih bisa melupakan dosa-dosa yang kecil yang terjadi tanpa direncanakan, begitu mungkin pikiran kita. Pemikiran sedemikian memang kelihatannya logis, tetapi bukanlah benar.

Tuhan yang Mahakasih adalah Tuhan yang Mahasuci dan Mahatahu. Tuhan tahu bahwa apakah yang tidak kita sengaja benar-benar terjadi sebagai “kecelakaan yang tidak bisa diperhitungkan” atau sebagai “kemungkinan yang terjadi karena adanya pilihan”. Jarang sekali ada dosa yang munculnya tidak bisa diduga.

Orang yang pergi ke tempat keramaian pasti sadar bahwa ada kemungkinan bahwa ia akan menginjak atau diinjak kaki orang lain. Mereka yang senang mengirim atau melihat gambar-gambar yang kurang baik dan membaca hoax, tidak dapat membuat alasan “tidak sengaja” ketika ada pikiran-pikiran yang kurang sehat dan keliru yang kemudian muncul. Dosa yang tidak disengaja dengan demikian tidaklah berbeda dengan dosa yang lain.

Baik dosa yang “tidak disengaja” maupun yang disengaja, keduanya adalah dosa-dosa yang dapat mematikan iman kita. Selain itu, adanya kesengajaan untuk berbuat dosa bisa menunjukkan bahwa manusia belum menerima keselamatan dari Kristus.

Dosa dalam pengertian yang literal adalah “tidak mengenai sasaran”, yang berarti segala sesuatu yang tidak memenuhi tujuan penciptaan, yaitu memuliakan Tuhan. Sejak kejatuhan Adam dan Hawa, semua manusia sudah berdosa dan tidak dapat lagi memenuhi harapan Allah Sang Pencipta. Hanya melalui pengorbanan Kristus, kita memperoleh kesempatan untuk bertobat guna menerima anugerah keselamatan. Siapa yang sudah menerima Kristus harus meninggalkan hidup lamanya, bertobat dari dosa-dosa lamanya. Ini tidak berarti bahwa perubahan hidup mereka akan terjadi secara instan, tetapi secara terus-menerus karena Roh Kudus yang bekerja.

Kunci untuk pertumbuhan iman adalah Roh Kudus yang  membimbing kita untuk mau dan bisa mempelajari Firman Tuhan. Mereka yang mengaku Kristen tetapi tidak mempunyai gairah untuk mendalami Firman akan mudah jatuh dalam prinsip “ketidak-sengajaan”. Berbuat dosa, tetapi tidak menyadari apa yang salah. Berbuat dosa karena banyak orang Kristen yang berbuat hal yang serupa. Berbuat dosa karena pengertian tentang Firman bukanlah pengertian yang benar. Berbuat dosa karena tidak mengerti akan hukum Tuhan dan etika Kristen. Jelas bahwa pertumbuhan iman orang Kristen yang sedemikian akan sangat lambat dan jika tidak diperbaiki akan membawa kepada kematian iman.

Mereka yang dengan sengaja berbuat dosa yang sama secara terus menerus perlu menimbang apakah mereka adalah orang yang sudah menerima keselamatan. Apa sebabnya? Mereka yang sudah diselamatkan adalah ciptaan baru dan yang lama seharusnya sudah lenyap. Karena itu, barang siapa yang masih tetap hidup dalam dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, pengorbanan Kristus tidaklah berlaku atas mereka. Walaupun demikian, jalan keselamatan masih terbuka jika mereka mau bertobat.

Pagi ini, jika  kita merasa bahwa kita sudah meninggalkan kebiasaan melakukan dosa yang “tidak sengaja” maupun sengaja, tantangan kita adalah untuk melakukan apa yang baik, sebab kita juga berbuat dosa jika  kita tahu apa yang baik tetapi tidak melakukannya. Kita tidak bisa mengaku sebagai orang percaya jika kita tidak mau berbuat baik!

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4: 17

Ikan banyak, tapi mengapa sulit ditangkap?

“Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Markus 1: 17

Akhir pekan ini cuaca cukup panas dan cerah di Australia. Jika cuaca lagi enak, di beberapa tempat sepanjang pesisir pantai biasanya terlihat banyak orang yang memancing. Banyak di antara mereka mungkin sekedar mengisi waktu senggang, tetapi banyak juga yang serius, berusaha mendapat ikan dengan sabar selama berjam-jam.

Apabila menangkap ikan itu cukup sulit, “menangkap” manusia untuk mengajak mereka menjadi pengikut Kristus itu jauh lebih sulit. Mengapa? Paling tidak ada 3 hal utama yang bisa disebutkan.

Pertama, mereka yang bisa ditangkap itu harus sudah digerakkan oleh Roh Kudus. Tanpa petunjuk Tuhan, sia-sialah usaha manusia untuk mengenal Tuhan. Roh Kuduslah yang membimbing kearah pengertian bahwa mereka memerlukan seorang Juru Selamat. Bagaimana seseorang kemudian mengikut Yesus dan bukannya mengikut dewa-dewa, kitab suci dan kepercayaan yang lain adalah sesuatu yang ajaib karena kita tahu bahwa iblis selalu berusaha menggagalkan rencana Tuhan.

Kedua, banyak orang yang berubah pikiran dari keinginan mengikut Yesus karena kecewa atas tingkah laku orang Kristen. Ini membuat mereka menolak panggilan Roh untuk bertobat dan mengikut Yesus. Memang tidak ada tuduhan yang lebih provokatif dari pada tuduhan bahwa gereja adalah suatu kelompok orang munafik karena adanya orang-orang yang mengaku Kristen tetapi tidak menunjukkan sikap hidup dan sifat yang baik. Tetapi memang kenyataan bahwa Yesus sering menegur mereka yang munafik sewaktu Ia masih di dunia.

Yang ketiga, orang Kristen di zaman ini sering dipandang sebagai orang yang terlalu bebas. Mungkin juga sebagai orang yang kebarat-baratan, yang memandang budaya barat lebih baik dari budaya lain. Bahkan, Yesus sendiri sering digambarkan sebagai orang barat. Karena itu, untuk mereka yang mempunyai kebiasaan dan kebudayaan lain, mengikut Yesus mungkin terasa seperti menganut budaya barat. Padahal, inti iman Kristen adalah kasih kepada Tuhan dan sesama, yang tidak dibatasi oleh bangsa, suku dan budaya.

Pagi ini kita harus menyadari bahwa Tuhanlah yang membawa manusia ke arah keselamatan. Mereka yang mendengar panggilanNya dan menjawab “ya” akan diselamatkan. Tuhan sudah memerintahkan seluruh umatNya untuk menyampaikan kabar baik ini, agar banyak orang yang bisa mendengar panggilanNya. Yesus datang bukan untuk bangsa atau kelompok orang-orang tertentu. Kabar keselamatan bisa disampaikan dengan lebih baik melalui sikap hidup, sifat dan tingkah laku kita. Karena itu kita mempunyai tanggung jawab yang sama besarnya dalam usaha menjala orang.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Mengapa hidup ini sering terasa hampa

Jawab Yesus: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” Matius 13: 11-12.

Pernahkan anda membandingkan usia rata-rata manusia di dunia menurut bangsa mereka? Saat ini, menurut data yang ada, orang Jepang, Swiss, Singapura, Australia dan Spanyol menduduki peringkat atas dengan usia diatas 82 tahun. Indonesia yang sudah mengalami kemajuan ekonomi yang pesat, saat ini ada di peringkat 120 dengan usia hampir 70 tahun.

Salah satu hal yang menyebabkan proses penuaan jasmani yang datang terlalu dini adalah hidup pasif. Mereka yang hidupnya terlalu “enak” cenderung untuk kurang mau untuk berkeringat: kurang mau berolahraga, malas berjalan kaki, segan berpikir dll., dan lebih senang untuk bersenang-senang dan makan enak. Mereka yang kurang mau mempertahankan kesegaran jasmani akan kehilangan kemampuan jasmani dengan cepat, terutama setelah berumur 40-50 tahun.

Kesadaran akan pentingnya untuk mempertahankan kesegaran jasmani sekarang mulai tumbuh di Indonesia dengan terlihatnya usaha untuk memilih jenis makanan sehat, kontrol kesehatan dan olahraga yang cukup. Mereka yang bisa dan mampu, berusaha mengonsumsi berbagai vitamin sekalipun tidak perlu, diet khusus dan mengikuti acara olahraga pagi hari.

Jika ada banyak manusia yang sadar bahwa mempertahankan kesehatan jasmani itu tidak mudah, seringkali orang Kristen yang tidak menyadari bahwa mempertahankan kesehatan rohani itu malahan lebih sulit lagi. Jika kita lengah, kita akan jatuh ke dalam berbagai sakit rohani. Berbagai masalah rohani seperti kesepian, kepahitan, kehampaan hidup, perasaan bersalah, kebingungan dll. bisa datang bertubi-tubi dalam hidup kita.

Jika untuk bisa mengetahui kesehatan jasmani kita bisa pergi ke dokter untuk check-up sebelum datangnya penyakit, kesehatan rohani bisa diketahui jika Roh Kudus membisikkan tentang adanya masalah rohani yang datang atau mendatangi. Sayang sekali, tidak semua orang Kristen mau mendengarkan suara Tuhan. Sebagian orang Kristen malahan sudah mendukakan Roh Kudus sehingga mereka tidak dapat lagi memperoleh bimbinganNya.

Memang tidak semua orang yang mengaku Kristen bisa mendengarkan suara Tuhan. Ada banyak orang Kristen yang lebih menyukai hal-hal duniawi, bagi mereka ke gereja sekali seminggu sudah cukup. Kepada mereka tidak diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, yaitu bagaimana kita bisa merasakan penyertaan Tuhan pada setiap waktu dan keadaan. Bagaimana bisa hidup berbahagia dalam kehadiran Allah Bapa, Putra dan Roh.

Pagi ini Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa mereka yang mempunyai karunia Tuhan karena mau membuka hidupnya untuk pekerjaaan Roh Kudus, akan diberi lebih banyak pengertian sehingga ia berkelimpahan; tetapi mereka yang tidak mau memanfaatkan kesempatan yang diberikan Tuhan, apapun juga yang ada akan diambil dari padanya!

Si Unyil suka usil!

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. 1 Korintus 10: 23

Namanya si Unyil orang usil…..dimana-mana kerjanya menggoda orang lain, atau mencari-cari kabar burung atau gossip untuk bisa dipakai sebagai bahan perbincangan di mall.

Memang orang kalau nganggur gampang jadi bosan; karena itu daripada bosan Unyil suka mengusili orang lain. Tambahan lagi, Unyil yang senang usil kalau melihat orang lain yang dipandang “aneh”, selalu dengan otomatis berhasrat untuk menggoda dan menggunjing.

Walau kita tahu bahwa orang macam si Unyil ada dimana-mana dan gampang ditemukan di dunia maya, Alkitab ternyata tidak pernah menyebutkan kata usil. Walaupun demikian ada ayat yang menyebut soal janda-janda muda yang senang beromong kosong (meleter) dan mencampuri urusan orang lain:

“Lagipula dengan keluar masuk rumah orang, mereka membiasakan diri bermalas-malas dan bukan hanya bermalas-malas saja, tetapi juga meleter dan mencampuri soal orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas.” 1 Timotius 5: 13

Memang rasul Paulus yang menulis kitab Timotius ini bisa-bisa juga dianggap usil dan anti wanita karena ia seolah-olah melecehkan orang-orang tertentu. Tetapi itulah kenyataannya pada waktu itu, dimana ada janda-janda muda yang karena tidak mempunyai tujuan hidup yang pasti dan kegiatan hidup yang sehat, telah menjadi orang yang mengisi hidupnya dengan mengusili orang lain.

Tidak dapat diragukan bahwa di zaman modern ini lelaki dan perempuan dapat menduduki status yang sama dalam masyarakat. Golongan janda-janda muda yang suka meleter itu mungkin sudah membaur dengan masyarakat umum. Sekarang ini kita justru bisa melihat bahwa banyak orang, laki dan perempuan, muda dan tua, punya kecenderungan untuk usil baik dalam kehidupan nyata maupun maya.

Seandainya rasul Paulus masih hidup hari ini, pastilah banyak di antara kita yang ditegurnya karena bukan hanya karena suka membuang waktu saja, tetapi juga karena suka meleter dan mencampuri soal orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas. Memang, mungkin apa yang kita lakukan tidak dimaksudkan untuk menyakiti hati orang lain. Barangkali maksud kita hanya untuk bergurau. Tetapi sebagai orang Kristen kita harus bijaksana dan berhati-hati dalam semua tindakan dan kelakuan kita.

Pagi ini kita seharusnya bisa mengintrospeksi hidup kita sehari-hari. Berapa jam yang kita pakai secara produktif untuk menghasilkan apa yang baik, dan berapa jam yang terbuang untuk memenuhi “hasrat keusilan” kita. Paulus mengingatkan kita bahwa sekalipun keusilan kita tidak mengganggu orang lain, itu mungkin adalah perbuatan sia-sia yang tidak berguna karena tidak membangun apa yang baik.

“Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!” 1 Korintus 14: 20

Antara alergi, iritasi, iri hati dan benci

“Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.” Galatia 5: 25-26

Di zaman ini orang kelihatannya lebih suka “pamer”. Memamerkan makanan, pakaian, aktivitas, keluarga, dll. dianggap lumrah di sosial media. Memang, kalau hanya untuk sekedar untuk mengirim berita, hal itu tidak menjadi soal. Tetapi, sering juga kita melihat bahwa budaya pamer ini dilanjutkan dalam hidup sehari-hari dengan “show” pakaian, mobil, rumah, dan bahkan pasangan kepada orang lain. Inilah yang terkadang membuat iritasi pada orang lain, yang sebagian mungkin punya “alergi”, dan kemudian rasa iri hati, yang berlanjut dengan timbulnya kebencian.

Kisah Kain dan Habel dalam kitab Kejadian 4: 3-5 memberi contoh bahwa manusia bisa iri dalam soal apapun, termasuk dalam soal rohani:

“Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram.”

Memang kisah Kain dan Habel ini sering dibahas dalam konteks dosa iri hati yang bisa berlanjut dengan dosa-dosa lain yang lebih mengerikan. Iri hati atau rasa cemburu tidak seharusnya ada pada orang yang mempunyai kasih.

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.” 1 Korintus 13: 4

Tetapi kasih juga tidak memperbolehkan kita untuk memegahkan diri dan sombong, sebab segala apa yang baik adalah berkat Tuhan.

Mungkin kita tidak bermaksud memegahkan diri atau menyombongkan berkat Tuhan dalam hidup kita. Tetapi ada kalanya orang di sekitar kita mempunyai kepekaan atas apa yang kita lakukan. Mereka yang melihat apa yang kita pamerkan dalam bentuk kejasmanian ataupun kerohanian bisa merasa teriritasi. Salah mereka sendiri, begitu mungkin pikiran kita. Betulkah begitu?

Pagi ini ayat pembukaan kita mengatakan bahwa sebagai anak-anak Tuhan, kita bertanggung jawab atas perbuatan kita, dan juga bertanggung jawab untuk menghindari munculnya iri hati dan kebencian sebagai reaksi atas perbuatan kita. Jika kita tahu bahwa setiap manusia mempunyai kelemahan, tidaklah baik untuk kita saling menantang karena itu hanya menyebabkan timbulnya kedengkian.

Sebagai orang yang dipimpin oleh Roh, kita harus punya rasa mawas diri, bisa menguasai diri. Kita hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga mau menolong orang lain untuk bisa merasakan kasih Kristus dalam hidup mereka. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, dan karena itu janganlah kita ingin selalu dikagumi, dan janganlah kita saling pamer seperti pengikut Kristus di Galatia, untuk menghindari munculnya hal-hal yang tidak baik.

Menghadapi kenyataan hidup

 “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7


Jika kita sempat menonton TV atau mendengarkan berita radio/internet, selalu ada kejadian-kejadian yang menyedihkan dan menakutkan, yang membawa kekuatiran. Lebih dari itu, dalam hidup kita sendiripun kekuatiran itu selalu ada, seperti takut sakit, takut gemuk, takut kurus, takut kesepian, takut ketinggalan jaman, takut diganggu orang lain, takut menua, takut mati dll. Karena itu, banyak orang melarikan diri kedalam dunia obat: obat bius, obat terlarang, obat kuat, obat anti sakit, obat awet muda dll. Bahkan penyalahgunaan obat-obat penghilang rasa sakit seperti Panadol dan Nurofen juga meningkat karena orang ingin bebas dari rasa sakit tubuh dan stress.

Mengapa manusia selalu menghadapi masalah dalam hidup ini? Ada berbagai sebab spesifik, namun pada umumnya hal-hal itu dapat digolongkan dalam 5 golongan.

Kejatuhan dalam dosa: Memang itulah dunia, sejak kejatuhan dalam dosa manusia harus menghadapi hidup yang berat yang terisi penderitaan dan kesepian (Kejadian 3: 17-19). Karena kejatuhan Adam dan Hawa, kita harus menerima kenyataan bahwa kita tidak hidup di taman Firdaus lagi.

Kesalahan kita sendiri: Seringkali kita tidak menyadari bahwa kita kurang berhati-hati melangkah dalam hidup ini. Mungkin sebagai orang Kristen kita sering mendengar bahwa hidup sebagai orang beriman pasti membawa ketenangan dan kebahagiaan, tetapi mereka yang mengharapkan solusi instan akan kecewa. Ketenangan dan kebahagiaan hanya dapat dicapai dengan hidup berdisplin dekat dengan Tuhan. Jika tidak berhati-hati kita akan tetap bisa jatuh kedalam pencobaan terutama jika kita lebih mementingkan kehidupan yang berpusat kepada hal-hal duniawi (Markus 14: 38).

Perbuatan orang lain: Karena semua orang sudah jatuh kedalam dosa (Roma 3:23), tidaklah mengherankan jika ada saja masalah yang terjadi karena ulah orang lain, termasuk orang-orang terdekat dan bahkan saudara-saudara seiman. Kesadaran bahwa tiap orang membutuhkan penyelamatan dari Yesus Kristus seharusnya mengingat kan kita agar tidak kecewa atau putus asa dalam menghadapi kesulitan hidup yang disebabkan orang lain.

Usaha iblis untuk menghancurkan umat Tuhan:  Seringkali kita bayangkan iblis muncul dalam bentuk yang mengerikan dan menakutkan seperti seekor singa (1 Petrus 5: 8). Tetapi iblis juga pandai menyamar (2 Korintus 11: 14); ia bisa menyamar sebagai hal-hal atau orang-orang yang nampaknya baik dan berguna dalam hidup ini. Karena itu ada saja orang beriman yang jatuh kedalam berbagai masalah ketika sibuk dengan aktivitas gereja dan sosial yang nampaknya baik.

Pekerjaan Tuhan: Tuhan mempunyai rencana agung untuk seisi dunia dan Ia tetap bekerja dalam semua keadaan dunia. Dalam keadaan dunia yang kacau-balau saat ini, mungkin kita berpikir bahwa Tuhan hanya membiarkan semuanya terjadi. Tetapi tidak ada sesuatupun yang terjadi di luar rencanaNya (Yesaya 14:24); semua hal yang baik dan buruk terjadi dengan seijin Tuhan. Karena Tuhan kita Mahakuasa dan Mahakasih, kita yakin bahwa Tuhan tetap bisa dan mau menyertai kita dalam keadaan apapun.

Pagi ini kita diingatkan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anakNya. Tuhan selalu mau memberikan kekuatan agar kita bisa bertahan dalam hidup ini. Tetapi untuk itu kita harus mau mengakui bahwa kita adalah lemah dan mau menyerahkan segala kekuatiran kita kepadaNya.