Mengatasi kekecewaan

“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Lukas 22: 42

Siapa yang tidak pernah kecewa? Dari kecil, manusia selalu menjumpai kekecewaan. Entah itu gara-gara janji teman yang tidak terpenuhi atau acara piknik yang terpaksa dibatalkan karena cuaca buruk, semua orang pernah mengalaminya. Pada umumnya, kekecewaan kecil tidaklah sulit untuk diatasi karena itu gampang dilupakan. Mungkin juga masih ada hal-hal lain yang bisa dipakai untuk mengobati luka di hati. Namun luka hati yang kecil bisa juga menumpuk jika tidak dihilangkan atau diobati. Begitu banyak orang yang mengalami kekecewaan karena hal-hal yang nampaknya sepele, tetapi karena sering mendatangi lama-lama kekecewaan menumpuk seperti bukit.

Sering juga dalam rumah tangga ada ketidak sepahaman atau pertikaian dengan anak, istri, suami, dan orang tua yang membuat seseorang merasa kecewa. Kekecewaan atas diri sendiri ataupun atas diri orang lain sering terjadi sedemikian rupa sehingga orang mempunyai luka hati yang dalam. Sekalipun kejadian yang mengecewakan sudah berlalu lama, kita mungkin masih mengingatnya, seolah itu terjadi hari kemarin. Bahkan kekecewaan yang besar bisa berlanjut dengan kekecewaan kepada Tuhan, yang diharapkan untuk menolong tapi tidak kunjung muncul atau tidak pernah terasa kasihNya. Banyak orang Kristen yang mundur dalam imannya atau meninggalkan Tuhannya karena kekecewaan hidup.

Tidak bolehkah kita kecewa dalam menghadapi suatu keadaan yang kurang baik? Tidak bolehkan kita kecewa kepada Tuhan karena kita tidak mengerti apa yang dilakukanNya dalam hidup kita? 

Yesus di taman Getsemane bergumul dalam penderitaan ketika menyadari bahwa waktunya sudah dekat untuk disalibkan. Ia menyuruh murid-muridNya untuk berdoa, tetapi Ia justru menjumpai mereka semuanya tidur karena kesusahan dan mungkin juga kekecewaan yang mereka alami. Yesus bukanlah Raja seperti yang mereka harapkan dan bayangkan.

“Lalu Ia bangkit dari doa-Nya dan kembali kepada murid-murid-Nya, tetapi Ia mendapati mereka sedang tidur karena dukacita.” Lukas 22: 45

Mungkinkah Yesus kecewa melihat murid-muridNya tertidur pulas?  Yesus tahu muridnya lemah. Kalaupun Ia kecewa, Ia tidak menunjukkannya. Sebaliknya, apa yang keluar dari mulutNya adalah nasihat yang cocok untuk orang yang lelah, berduka dan kecewa dalam hidup mereka.

Kata-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu tidur? Bangunlah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.” Lukas 22: 46

Memang, siapapun yang jauh dari Tuhan akan mudah jatuh dalam hal-hal yang jelek.  Apalagi kekecewaan biasanya menjauhkan manusia dari Tuhan dan sesama. Seperti Yunus yang kecewa karena hal-hal yang berada di luar kuasanya.

“Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: “Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.” Yunus 4: 8

Seperti murid-murid Yesus dan Yunus, mungkin kita merasa kecewa dan lelah sehingga hidup kita terasa hambar saat ini. Apa yang bisa kita perbuat dalam hal ini?

Kekecewaan dan kesedihan adalah lumrah untuk manusia. Tetapi jika kita yakin bahwa Tuhan tahu apa yang terjadi dalam hidup kita dan Dia adalah Tuhan yang Mahakasih, beban kita akan bisa menjadi jauh lebih ringan.  Apa yang diucapkan dalam doa Yesus di taman Getsemane bisa menjadi sumber kesabaran dan kekuatan kita dalam menghadapi segala persoalan hidup. Doa ini jugalah yang bisa menghilangkan kekecewaan kita.

Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah tantangan kehidupan ini dari padaku tetapi bukanlah kehendakku,  melainkan kehendak-Mulah yang terjadi. 

Ada SIM belum tentu bisa nyetir

“Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” Roma 6: 6


Di Australia, hal mengemudikan mobil buat sebagian orang adalah soal kecil. Sesudah belajar mengemudi beberapa kali, kemampuan untuk menguasai mobil sudah bisa dicapai dengan baik. Tetapi, sebagian besar harus belajar mengemudi cukup lama sebelum bisa ujian SIM (driver’s licence). Selain itu, walau kebanyakan orang mendapat SIM dengan ujian sekali saja, ada orang yang harus ujian SIM lebih dari 5 kali sebelum lulus, dan bahkan ada yang harus pindah dari ujian SIM bebas ke SIM mobil automatic.

Ujian SIM memang perlu. Paling tidak, adanya SIM menunjukkan bahwa pemiliknya sudah bisa mengontrol mobilnya dalam keadaan normal. Tetapi, punya SIM tidak berarti bahwa pengemudinya bisa ikut rally mobil atau balapan mobil. Malahan, ke luar kota atau ke pegunungan saja belum tentu bisa atau berani. Untuk bisa menjadi pengemudi yang berpengalaman  orang mungkin membutuhkan pengalaman 2-3 tahun sesudah lulus ujian SIM. Bagi yang sudah berpengalaman, masih ada kursus-kursus tambahan untuk menambah kemampuan, seperti kursus “defensive driving” yaitu kursus mengemudi secara defensif, karena di jalan raya sebenarnya ada banyak bahaya yang selalu mengancam.

Dalam Galatia 5: 22-23 ada tertulis 9 buah Roh yang sudah dibahas sebelumnya, kecuali yang terakhir, yaitu penguasaan diri. Apa yang dimaksud dengan penguasaan diri? Seandainya tubuh dan hidup kita di dunia ini adalah sebuah mobil dan kita adalah pengemudinya, kita harus dapat menguasai mobil kita agar tidak mengalami musibah, agar tidak mencelakakan diri kita sendiri atau orang lain. Sesudah kita mendapatkan sebuah SIM yaitu menerima anugrah keselamatan dari Yesus, hidup di dunia tidaklah berubah menjadi hidup yang bebas dari bahaya. Menjadi umat Tuhan juga tidak berarti kita bisa mengarungi hidup yang penuh bahaya dan tantangan ini dengan mudah. Kita membutuhkan kemampuan untuk menguasai diri, untuk defensive driving, untuk hidup dengan bertahan atas segala ancaman dari dalam dan luar.

“Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.” Roma 7: 22-23

Memang sewaktu kita menjawab panggilan keselamatan Kristus, kita merasakan kebahagiaan yang tersendiri. Karena kalau tidak karena kasih Allah, kita tidak mungkin bisa mendapat kesempatan untuk diselamatkan dan masuk ke surga. Seperti  baru mendapat SIM, hati kita menjadi besar dan dengan itu kita mungkin mudah merasa yakin bahwa kita akan dapat menghadapi hidup ini dengan tenang, tanpa kuatir dalam menghadapi segala persoalan. Tetapi, dalam ketenangan hidup yang sedemikian, orang Kristen sering lupa bahwa iblis akan berusaha mencari kesempatan untuk menyerang kita sewaktu kita lengah.

Penguasaan diri adalah salah satu hal yang sering dilupakan oleh orang Kristen dalam menghadapi segala godaan kecil maupun besar dalam hidup ini. Seringkali godaan-godaan ini justru timbul ditempat dimana kita merasa aman: di kantor, dalam keluarga, dan juga di gereja dan  diantara teman-teman baik kita. Godaan-godaan ini belum tentu muncul sebagai kejahatan yang jelas terlihat, tetapi muncul sebagai perbuatan, perkataan, sikap, tingkah-laku dan keputusan yang melanggar perintah-perintah Kristus dan etika kekristenan. Godaan-godaan itu mungkin muncul sebagai hal yang baru dalam hidup kita, tetapi seringkali adalah sisa peninggalan hidup lama kita yang belum bisa dihilangkan. Hal-hal yang sedemikian bisa menghancurkan hidup kita sendiri dan hidup orang lain.

Pagi ini kita belajar bahwa seperti mengemudikan mobil, kita perlu mengembangkan kemampuan kita untuk menguasai diri dalam perjalanan hidup ini. Kita harus mau belajar tiap hari untuk makin bisa membiarkan Roh Kudus untuk menguasai hidup kita. Hidup ini bisa menjadi suatu tantangan yang tidak bisa teratasi jika kita berusaha mengendalikannya dengan usaha sendiri. Tetapi dengan bimbingan Roh Kudus kita akan bisa menguasai diri kita dan tetap kuat dalam menghadapi segala tantangan hari demi hari.

Nrimo ing pandum

“Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” Efesus 4: 2

Anda ingin merasa berbahagia dalam hidup? Agaknya ada beberapa resepnya. Diantaranya: 

  • Kebahagiaan timbul dari kesuksesan melalui perjuangan. 
  • Kebahagiaan  bisa timbul dari rasa puas dan cukup. 
  • Rasa bahagia bisa dirasakan karena keadaan keluarga yang baik.
  • Kebahagiaan  muncul jika kita merasa bisa menolong orang lain, dll.

Sekalipun kita pada suatu saat bisa memperoleh kebahagiaan melalui hal-hal di atas, adalah kenyataan bahwa kebahagiaan sedemikian seringkali tidak langgeng.

Dalam hal ini, sungguh menarik bahwa dalam budaya Jawa, ada resep untuk hidup bahagia yang dikenal dengan istilah  “Nrimo ing Pandum” memiliki arti “menerima dengan pemberian” yang dalam kajian yang lebih luas bisa juga berarti ikhlas atas apa yang kita terima dalam kehidupan atau “legowo” dalam menghadapi setiap lika-liku dalam hidup. Pengaplikasian “nrimo ing pandum” dalam kehidupan sosial bisa berarti bermurah hati dengan sesama.

Memang setiap orang memang dalam hidup ini sering mengalami pengalaman yang kurang menyenangkan, perlakuan orang lain yang kurang baik atau rasa kurang puas dengan apa yang dialami dalam hidup. Rasa pahit yang timbul karena hal-hal ini seringkali meracuni rasa kebahagiaan dalam hidup seseorang dan juga bisa membuat orang itu kurang bisa memahami penderitaan orang lain. Karena itu, orang yang demikian seringkali kurang bisa untuk mengasihi dan membantu orang lain.

Dalam Galatia 5: 22-23 dikatakan bahwa buah Roh ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Kelemahlembutan disini adalah seperti “nrimo ing pandum” diatas.  Dalam menerima keputusan Tuhan atas hidup kita, kita menghadapinya dengan sabar sekalipun itu merupakan hal yang sulit diterima. Ini lebih mudah dikatakan daripada dijalankan karena untuk menerima keputusan Tuhan, kita harus mengenal Tuhan dan sifatNya, agar kita bisa percaya akan maksud baikNya. 

Manusia hanya dapat mengenal Tuhan karena Tuhan sendiri yang membuka hati dan pikiran mereka. Karena itu, untuk bisa menerima keputusan Tuhan dalam hidup ini, kita memerlukan bimbingan Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang bisa memberi kelemahlembutan, yang kita perlukan untuk bisa mendengarkan suara Tuhan tentang apa arti hidup ini, mengapa sesuatu harus terjadi, dan apa yang masih dan harus bisa dilakukan untuk diri kita sendiri dan orang lain.

Pagi ini kita harus sadar bahwa Tuhan kita adalah Mahakasih. Tuhan mempunyai rencana khusus untuk setiap umatNya. Sebagai orang beriman, sikap rendah hati dan lemah lembut akan menguatkan iman kita kepada Tuhan kita yang tidak pernah meninggalkan kita. Dengan kerendahhatian, kita siap menerima bimbingan Tuhan untuk melangkah ke masa depan. Dengan keyakinan akan kasihNya kita akan dapat merasakan kebahagiaan karena kita akan dapat membawa apa yang baik kepada orang lain di sekeliling kita. 

“Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” Matius 5: 5

Setia sehidup semati

“Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.” Roma 14: 8

Barangkali ada di antara kita yang tahu kisah cinta Tiongkok kuno yang berjudul Sam Pek Eng Tay, yang ada miripnya dengan kisah Romeo dan Juliet. Kisah cinta  ini adalah tentang gadis Eng Tay dengan perjaka Sam Pek. Sayang hubungan ini tidak disetujui oleh ayah Eng Tay yang kejam.  Cerita ini berakhir dengan tewasnya Eng Tay, menyusul kematian Sam Pek yang disebabkan oleh ayah Eng Tay. Cerita ini sangat terkenal karena, sekalipun tidak perlu ditiru, seolah melambangkan cinta sejati sehidup semati antara sejoli. Memang, jika dibandingkan dengan kisah cinta dan kesetiaan orang di jaman ini yang seringkali didasarkan pertimbangan untung-rugi, kisah ini sangat berkesan.

Lain kisah cinta khayalan, lain pula kenyataan hidup. Tuhan mengasihi umatnya bagai seorang suami yang sangat mencintai istrinya (Efesus 5: 25). Tetapi banyak orang Kristen yang kurang sadar bahwa hubungan kita dengan Yesus adalah “sehidup semati”, yang disini bisa diartikan selama hidup dan sesudah mati. Selama kita hidup di dunia,  kita hidup bersama RohNya; dan sesudah kita mati, kita ke surga untuk menjumpai Dia. Untuk itu kita membutuhkan kemampuan untuk bisa setia (faithful) kepada Tuhan sampai akhir.

Kesetiaan (faithfulness) yang merupakan buah Roh Kudus (Galatia 5: 22-23) pada satu pihak adalah kepercayaan (faith) bahwa Yesus setia kepada janjiNya untuk menyertai kita selama-lamanya.

“Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 20b.

Ayat ini menunjuk kepada kesetiaan Yesus kepada umatNya, yang dengan senang hati kita terima. Bagaimana tidak? Ini adalah keuntungan dan tidak ada ruginya. Yesus menjanjikan kasihNya tanpa batas waktu dan dalam keadaan apapun. Tidak terlalu sukar bagi seseorang untuk menerima sebuah pemberian berharga ini dengan rasa senang.

Pada pihak yang lain, kesetiaan juga berarti bahwa kita harus mengasihi Yesus dan melaksanakan perintahNya. Kita harus memberikan tanda kasih kita kepada Yesus yang sudah lebih dulu mengasihi kita. Inilah yang berat bagi banyak orang untuk melakukannya, termasuk orang Kristen. Memang, bagi manusia, menerima adalah lebih mudah daripada memberi.

“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” Yohanes 14: 21

Pagi ini kita diingatkan bahwa untuk terhitung sebagai anggota keluarga Allah, kita harus mempunyai kesetiaan kepada Yesus. Tidak hanya percaya kepada janjiNya, tetapi juga hidup seperti yang dikehendakiNya. Kesetiaan dalam imsn yang tulus tidak mungkin timbul dari hati manusia karena dosa yang selalu mendorong manusia untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Tetapi, Roh Kudus sudah diberikan kepada setiap orang percaya supaya setiap orang bisa tumbuh kuat dalam kesetiaan kepada Kristus.

Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” Markus 3: 33

Apakah aku orang baik-baik?

 “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” Roma 7: 19

Sewaktu saya masih kecil, seringkali saya mendengar bahwa harapan orang tua untuk anak-anaknya adalah agar mereka menjadi “orang baik-baik”. Dalam soal mencari menantupun mereka ingin mendapat orang baik-baik, biarpun tidak kaya atau pandai. 

Di jaman sekarang, jarang saya temui orang tua yang membanggakan anak menantunya karena mereka adalah orang baik-baik. Biasanya mereka senang menceritakan keberhasilan anak menantu dalam karir dan keuangan. Malahan di beberapa gerejapun, hal kesuksesan lebih didengung-dengungkan daripada hal menjadi orang baik.

Kalau benar bahwa hal  menjadi orang baik-baik itu sudah dianggap kuno, mungkin ada beberapa alasan manusia sebagai penyebabnya:

  1. Semua orang pada waktunya akan menjadi orang baik.
  2. Baik atau buruk kita tidak bisa memilih.
  3. Orang yang terlalu baik biasanya tidak sukses.
  4. Orang yang benar-benar baik itu tidak ada.
  5. Kebaikan itu tidak bisa dibanggakan.
  6. Baik atau buruk itu berubah menurut keadaan jaman.
  7. Baik atau buruk itu adalah soal pribadi.
  8. Semua orang juga berbuat yang sama.
  9. Kita masih lebih baik dari orang lain.
  10. Hanya Tuhan yang benar-benar baik.

Dalam Galatia 5: 22-23 dikatakan bahwa buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Kebaikan (bahasa Yunani agathosune) disini berarti watak atau sifat moral yang baik, yang berusaha tanpa pamrih untuk membuang apa yang jelek dan menggantinya dengan apa yang baik, baik dalam diri sendiri, orang lain dan juga dalam masyarakat, negara atau dunia.

Biarpun kesadaran moral itu penting, manusia di jaman ini bisa bersembunyi dibalik penampilan keren atau rohani untuk menipu pandangan orang di sekitarnya. Mereka yang punya sarana dan kemampuan, cenderung memakainya untuk mengejar kesuksesan dan kepuasan untuk diri sendiri dan anak-cucunya tanpa memikirkan hukum Tuhan atau kepentingan orang lain. 

Sebaliknya, Alkitab mengatakan bahwa hal menjadi orang yang mempunyai kebaikan sebagai buah Roh Kudus adalah sangat penting, karena tanpa kebaikan kita belum benar-benar mengenal Allah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Saudaraku yang kekasih, janganlah meniru yang jahat, melainkan yang baik. Barangsiapa berbuat baik, ia berasal dari Allah, tetapi barangsiapa berbuat jahat, ia tidak pernah melihat Allah.” 3 Yohanes 1: 11

 

Mereka yang dengan sengaja memilih jalan yang curang, melanggar hukum, mengabaikan etika, menelantarkan kesehatan, menyalahgunakan kedudukan, mengumbar hawa nafsu, menyebarkan kebencian, menipu orang lain, menelantarkan lingkungan dsb. adalah orang-orang yang tidak mengenal Tuhan.

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai orang yang mengaku percaya, hidup kita seharusnya memancarkan kebaikan yang berasal dari Tuhan. Kebaikan sebagai salah satu Buah Roh. Memang itu bukan soal mudah karena manusia hakikatnya lemah.  

Bukan apa yang kita kehendaki, yaitu yang baik, yang kita perbuat, melainkan apa yang tidak kita kehendaki, yaitu yang jahat, yang sering kita perbuat. Itu juga yang kita lihat dalam masyarakat, bahwa semua orang sudah mengabaikan pentingnya prinsip-prinsip kebaikan. Tetapi kita tidak boleh putus asa dalam mendekatkan diri kita kepada Tuhan, agar api Roh Kudus makin membesar dalam hidup kita.

I am weak, but Thou art strong;

Jesus, keep me from all wrong;

I’ll be satisfied as long

As I walk, let me walk close to Thee.

Kau perkasa, ‘ku lemah,

jauhkan ‘ku dari cela.

Hatiku amat tent’ram

asal aku dekat padaMu.

Kemurahan itu tidak murah

“Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?” Roma 2: 4

Salah satu buah Roh, hasil pekerjaan Roh Kudus, adalah kemurahan. Alkitab dalam bahasa Inggris memakai istilah “kindness” yang artinya kemurahan hati. Karena itu, kemurahan sering ditafsirkan sebagai kemauan untuk mau menolong, mau memberi perhatian, mau menghargai dsb. 

Di dunia yang serba materialistik dan semu ini, kita mungkin senang jika ada teman yang suka menraktir, memberi hadiah dan pujian. Kelihatannya, tidaklah sukar untuk bermurah hati. Asal ada uang dan kemauan, kemurahan itu mudah dilakukan. Kemurahan itu murah. Betulkah?

Kemurahan yang murni, jika diharapkan dari hati manusia, sebenarnya tidak mudah terjadi. Hati manusia yang belum benar-benar mengenal Allah akan sulit untuk mempunyai kemurahan yang benar. 

Pada hakikatnya, kemurahan manusia sering terbatas. Siapakah yang mau dan bisa menunjukkan kemurahan untuk orang yang tidak dikenal atau orang yang tidak disenangi? Kita mungkin juga segan bermurah hati jika kita tidak mendapat penghargaan atau dilihat orang lain. Kemurahan orang Kristen sering berdasarkan pamrih, seperti kemurahan orang yang belum percaya.

“Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?” Matius 4: 47

Jika manusia sulit untuk dapat bermurah hati dengan sepenuhnya, kemurahan hati Allah yang tidak memandang bulu justru sudah terbukti. Allah yang mahakasih sudah bermurah hati kepada semua orang dengan memanggil dan menuntun mereka kepada pertobatan. Yesus bahkan sudah turun ke dunia dan berulang kali menunjukkan  kemurahanNya, antara lain dengan membasuh kaki murid-muridNya.

Pagi ini kita diingatkan bahwa jika Roh Kudus bekerja dengan giat dalam hidup kita, kita akan selalu sadar bahwa karena kemurahan Allah sajalah kita telah mengalami pertobatan dan menerima keselamatan. Karena itu, kemurahan kita kepada orang lain, baik kecil maupun besar, bukanlah untuk kenyamanan hidup dan perasaan kita sendiri. Bukan juga untuk mencari popularitas atau sekedar tradisi. Karena kita sudah mendapat kemurahan Allah, kita harus bisa menunjukkan kemurahan kita sebagai buah Roh sehingga orang lain tidak dapat menganggap sepi Allah kita yang Maha Pemurah. Kemurahan ternyata bukan barang murahan!

Sabar untuk bisa sabar

“Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran.” 2 Korintus 6: 4

Salah satu hal yang paling tidak saya sukai dalam hidup ini ialah terjebak dalam kemacetan di jalan raya. Walau ini tidak terjadi sesering di Indonesia, kemacetan di beberapa motorway di Australia sering dialami sewaktu jam sibuk di pagi atau sore hari. Sewaktu saya tinggal di kota Sydney, kota yang terbesar di Australia dengan penduduk sekitar 5 juta, kemacetan ini pernah menjebak saya – selama 1 jam lebih saya harus duduk dalam mobil yang berhenti. Benar-benar hilang kesabaran saya.


Dalam Galatia 5: 22-23 dikatakan bahwa salah satu buah Roh adalah kesabaran. Kata Yunani yang dipakai dalam ayat ini adalah makrothumia yang terdiri dari kata makros (panjang) dan thumos (watak). Jadi makrothumia bisa diartikan sebagai watak atau sifat manusia yang tahan hantaman. Seorang yang punya kesabaran seperti itu akan tahan menghadapi kesukaran, tantangan, ancaman dan serangan yang ada di sekelilingnya. 

Memang tiap orang dilahirkan dengan karakter yang berbeda, dan ada orang yang lebih sabar dari orang yang lain dalam hidup bermasyarakat. Tetapi, dalam menghadapi penderitaan hidup, kesabaran yang berbentuk makrothumia adalah hal yang langka. 

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5: 22-23

Kesabaran juga bisa diartikan sebagai kemampuan untuk menerima keadaan yang tidak menyenangkan tanpa mengeluh. Kesabaran berlawanan dengan emosi, kekecewaan, kemarahan dan kekalapan.

Sebagai umat Kristen mungkin kita terkadang menyesali ketidaksabaran kita dalam hidup ini. Kita tahu bahwa seperti Tuhan yang sabar dalam menantikan manusia untuk kembali kepadaNya, kitapun harus mempunyai kesabaran dalam menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan.

 “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” 2 Petrus 3: 9

Dalam hal ini, Tuhan dengan sabar juga menunggu agar kita bisa berubah dari hidup lama kita yang sering terisi dengan berbagai gejolak emosi, kekecewaan, kemarahan dan bahkan kenekadan yang sia-sia, yang bisa menyebabkan kematian rohani – hilangnya kedekatan kita kepada Tuhan. Ia menginginkan agar kita bisa menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepadaNya.

Menyadari kegagalan kita untuk bersabar dalam menghadapi tantangan hidup memang bisa membuat kita frustrasi. Mungkin juga kita merasa sedih bahwa buah Roh yang kita harapkan tidak terlihat tumbuh subur dalam hidup kita. Tetapi memang kesabaran harus terus ditumbuhkan selama ada tantangan hidup.

Kesabaran tumbuh sebagai proses pertumbuhan kedewasaan umat Tuhan, dan karena itu kita harus bersyukur karena selama ada tantangan, kita bisa makin menumbuhkan kesabaran kita. Kesabaran tidak bisa dipisahkan dari buah Roh yang lain, terutama kelemahlembutan dan penguasaan diri. Dengan adanya tantangan hidup, kita makin sadar bahwa kesabaran, kelemahlembutan dan penguasaan diri hanya bisa tumbuh subur kalau kita dekat kepada Tuhan.

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai orang percaya, kita tentu ingin mempunyai kesabaran yang tinggi, yaitu makrothumia. Jika kita merasa bahwa itu masih sulit dicapai, kita tidak boleh putus asa. Memang untuk mendapat kesabaran semacam itu kita ternyata harus sabar dan tetap bersemangat untuk menjalankan tugas kehidupan kita.

 “Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!” 2 Timotius 4: 5

Stress penyebab damai

“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Ibrani 12: 11

Tidak dapat disangkal bahwa hidup manusia itu sering diisi dengan berbagai tantangan. Kesulitan, kekurangan, penyakit dan berbagai macam penderitaan bisa kita alami selama hidup di dunia. Sekalipun  kita hidup jujur, bekerja keras dan berusaha hidup sehat, selalu ada kemungkinan bahwa ada hal-hal jelek  datang menimpa. 

Untuk setiap manusia, adalah umum kalau mereka bertanya mengapa kesusahan harus datang kepada mereka. Mengapa orang tak beriman dan bahkan orang jahat kelihatannya justru hidup enak? 

“Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.”  Mazmur 73: 3

Sebagian mungkin merasa bahwa Tuhan itu tidak adil. Karena pengalaman hidup malah ada orang yang  tidak yakin  bahwa Tuhan itu ada. Hidup yang demikian seringkali sangat terasa berat dan menyebabkan timbulnya stress yang tinggi dan hilangnya rasa tenteram dan damai. Hari demi hari dilewati dengan rasa kuatir atau penyesalan tentang kebutuhan, keamanan, kesehatan, keluarga, pekerjaan, dll. 

Menurut ilmu psikologis, stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Manusia bisa hancur hidupnya karena tidak adanya rasa damai. 

“Sebab hidupku habis dalam duka dan tahun-tahun umurku dalam keluh kesah; kekuatanku merosot karena sengsaraku, dan tulang-tulangku menjadi lemah.” Mazmur 31: 10

Memang manusia yang hidup di dunia yang sudah jatuh dalam dosa tidak bisa terluput dari segala penderitaan. Jika Galatia 5 : 22 meyebutkan bahwa orang percaya akan berbuah berbagai kebaikan termasuk rasa damai, itu kelihatannya tidak mudah terjadi dalam hidup kita. 

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5:22-23

Bagaimana mungkin kita merasa damai kalau tidak ada kedamaian disekeliling kita? Sekalipun kita kaya, kuat dan muda, stress umumnya disebabkan faktor eksternal yang bisa menaklukkan hidup kita dari dalam.

Pagi ini, sebagai anak-anak Tuhan, kita harus yakin bahwa Tuhan memegang kendali seluruh alam semesta. Tuhan tidak mencobai kita, tetapi Ia mungkin membiarkan kita mengalami kesulitan agar kita bisa terlatih dalam iman. 


Untuk memperoleh ketenteraman hidup, kita tidak perlu mengharapkan adanya kedamaian disekitar kita, tetapi kita harus bergantung kepada Roh Kudus yang ada didalam kita. Jika kita memberikan kesempatan kepada Roh untuk menguasai hidup kita, segala masalah akan bisa kita hadapi dengan ketenangan dan keyakinan bahwa Tuhan beserta kita. 

Memang tiap-tiap masalah yang kita alami pada mulanya akan mendatangkan stress. Tetapi kemudian kita akan memperoleh pengalaman berharga, yaitu pengalaman pribadi tentang kebesaran kuasa Tuhan dalam hidup kita. Inilah yang bisa memberikan rasa damai sejati kepada mereka yang dilatih oleh Tuhan!

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”  Filipi 4: 13

Sukacita bukan sementara

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.” Yohanes 15: 11


Apakah anda berbahagia? Apakah anda puas akan hidup anda? Pertanyaan itu mungkin pernah anda terima dari orang lain, atau muncul dalam pikiran anda sendiri. Pertanyaan ini tidak mudah menjawabnya, karena setiap orang umumnya mempunyai hal-hal yang kurang menyenangkan, yang kurang memuaskan, dalam hidupnya. Lebih dari itu, karena dinamika kehidupan, apa yang baik dan menyenangkan hari ini bisa berubah menjadi sesuatu yang kurang menyenangkan esok hari. Kekayaan, kepandaian, kedudukan, kesehatan, keharmonisan keluarga dll. bisa hilang sewaktu-waktu.

Kebahagiaan dalam hidup manusia memang sulit didefinisikan. Apakah kebahagiaan itu ada jika lebih dari separuh hidup kita terisi dengan hal-hal yang menyenangkan? Ataukah jika kita pernah mengalami hal yang luar biasa menyenangkan setidaknya sekali seumur hidup? Atau jika kita mengakhiri hidup kita dengan rasa puas? Untuk tiap orang, definisi kebahagiaan berlainan, sehingga kebahagiaan manusia tidak mudah dibandingkan satu dengan yang lain.

Kebahagiaan atau sukacita dikatakan sebagai salah satu buah Roh yang terjadi setelah kita menjadi pengikut Yesus (Galatia 5: 22). Sukacita yang dimaksudkan disini adalah sukacita yang benar-benar abadi. Bagaimana hal ini dapat kita peroleh di dunia yang fana ini? Ini tidak dapat dijelaskan dengan pengertian duniawi.

Untuk bisa mempunyai sukacita abadi, kita tidak boleh dibatasi oleh waktu. Kenyataannya, ada waktu tertentu kita  dapat merasakan kebahagiaan, tetapi itu selalu ada akhirnya.

Untuk mengalami kebahagiaan abadi, kita tidak boleh dibatasi oleh keadaan disekeliling kita, tempat tinggal kita. Mungkin kita pernah merasakan sukacita ketika kita tinggal di satu tempat, tetapi kita tidak dapat mempertahankan sukacita itu di tempat kita yang sekarang.

Yang sering dilupakan orang adalah kenyataan bahwa sekalipun mereka dapat mempertahankan waktu dan tempat dimana mereka  pernah  merasakan kebahagiaan itu, sukacita tidak berlangsung selamanya jika mereka tidak  memperoleh apa yang benar-benar membahagiakan.

Kebahagiaan orang Kristen yang terbesar adalah karena Yesus Kristus sudah datang untuk menyelamatkan mereka yang percaya. Hukuman dosa adalah kematian, tetapi dalam Yesus ada pengharapan bahwa  kita akan hidup disatu tempat dimana waktu dan keadaan tidak lagi membatasi kemampuan kita untuk menikmati kebahagiaan hidup bersama Tuhan kita. Dimana dan kapan?

Selama ini mungkin  kebahagiaan dalam Yesus belum dapat sepenuhnya kita rasakan. Tetapi pagi ini kita diingatkan bahwa Tuhan sebenarnya sudah memberikan kebahagiaan dengan sepenuhnya. Tuhan memungkinkan kebahagiaan abadi bisa kita nikmati sekarang juga dan disetiap saat karena:

  • Karunia keselamatan yang sudah kita terima.
  • KasihNya yang selalu menyertai kita di setiap saat dan keadaan.
  • BimbinganNya dimanapun kita berada melalui Roh Kudus.
  • Pertumbuhan iman yang kita rasakan dalam pergumulan hidup setiap hari

Satu hal yang sering kita lupakan adalah bahwa kebahagiaan sebagai buah Roh akan terjadi dengan keputusan kita sendiri dalam hidup kita. Itu tidak tergantung pada keadaan dan usia kita. Jika kita mau taat kepada Tuhan dan membiarkan Roh Kudus bekerja dalam hidup kita, kita dapat merasakan sukacita abadi mulai sekarang sampai selama-lamanya.

 

 

 

 

 

 

“Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.” Roma 15: 13

 

Benarkah cinta itu buta?

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16


Dalam berbagai kisah cinta, kita mungkin pernah membaca adanya sepasang muda-mudi yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Mereka berpendapat bahwa cinta tidak perlu dilandasi pengetahuan tentang cara hidup dan sifat calon pasangannya. Mereka tidak mau tahu akan masalah yang ada, karena bagi mereka cinta itu buta. 

Sebagai salah satu buah Roh, kasih adalah yang paling utama (Galatia 5: 22). Bagaimana kasih itu dapat dilaksanakan? Memang dalam 1 Korintus 13: 5-7 dikatakan bahwa kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Tapi apakah kasih itu hanya bersifat pasif, menutup mata atas keburukan dan kejahatan orang lain? Apakah kasih itu menerima keadaan orang lain tanpa berbuat apa-apa? Apakah kasih itu buta?

Dalam ayat Yohanes 3:16 yang dikenal oleh umat Kristen dan juga yang bukan Kristen, Tuhan yang mahakasih ditulis sebagai Tuhan yang sangat mencintai  dunia ini, sehingga Ia mengurbankan Yesus Kristus di kayu salib, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya bisa memperoleh  hidup yang abadi. Apakah kasih Tuhan itu buta?

Kalau kita menelusuri ayat-ayat Alkitab, tidak ada tanda sedikitpun yang menunjuk bahwa Tuhan itu tidak tahu atau menutup mata terhadap keadaan manusia, baik secara individu maupun kelompok. 

“Ya Allah, Engkau mengetahui kebodohanku, kesalahan-kesalahanku tidak tersembunyi bagi-Mu.” Mazmur 69: 6

Standar kesucian Tuhan adalah terlalu tinggi untuk semua orang. Semua orang sudah berdosa dan seharusnya menerima hukuman mati. Justru karena itulah Tuhan melihat bahwa semua manusia membutuhkan pertolonganNya.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” Roma 3: 23

Pagi ini kita harus menyadari bahwa kasih Tuhan bukannya buta.  Tuhan melihat manusia yang tidak punya harapan, tetapi Ia mengulurkan tangan kasihNya agar manusia dapat meraihnya. Karena itu, semua manusia yang sudah diselamatkan harus juga bisa melihat keadaan manusia di sekitar kita dan berusaha untuk menolong mereka dengan kasih yang serupa. 

Kasih bukannya hanya menerima keadaan seseorang dan tidak berbuat apa-apa. Kasih itu tidak pasif. Kasih itu tidak buta. Kasih memungkinkan kita melihat kebutuhan orang lain baik jasmani maupun rohani; dan jika kita mempunyai kasih, kita akan mau dan bisa menolong mereka.