Cara menghakimi yang benar

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” Matius 7: 1

Ayat diatas adalah salah satu ayat Alkitab yang sangat terkenal, baik di kalangan orang Kristen maupun orang bukan Kristen. Ayat ini kelihatannya mudah dimengerti dan sangat praktis penggunaannya dalam hidup sehari-hari. Sayang sekali, ayat ini sering disalah artikan sehingga orang memakainya sekedar untuk membungkam kritik-kritik orang lain. Lebih-lebih lagi di kalangan umat Kristen pun banyak yang memakai ayat ini untuk menekankan segi kasih dan kesabaran Tuhan, tetapi secara keliru.

Seringkali ayat ini juga dipakai untuk menyerang orang Kristen yang berusaha menerapkan ajaran Alkitab dalam masyarakat dan negara. Ayat ini biasanya dikaitkan dengan ayat lainnya yang juga sama terkenalnya dalam hidup sehari-hari:

“Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Yohanes 8: 7b

Ayat ini sekarang sering dipakai untuk membungkamkan orang Kristen yang anti perkawinan antar manusia sejenis.

Sungguh disayangkan bahwa dengan tekanan masyarakat umum, orang Kristen seringkali jadi bungkam dan mandul dalam usaha menegakkan kebenaran Kristus di dunia. Tidak hanya masyarakat Kristen menjadi tersudut, para pendeta, guru dan orang tua pun menjadi serba salah ketika menghadapi tantangan dalam gereja, sekolah dan keluarga. Akibatnya jelas merugikan martabat dan fungsi orang Kristen di dunia. Orang Kristen tidak dapat lagi menjadi terang dunia sebagaimana seharusnya.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Tuhan Yesus tidak mengajarkan murid-muridNya untuk membiarkan orang lain berbuat semaunya dan tidak juga melarang mereka untuk menegur orang yang keliru dalam hidupnya. Tetapi apa yang dipermasalahkan oleh Yesus adalah hal menghakimi orang lain dengan cara yang salah. Seperti yang tertulis dalam kitab Hakim-hakim, menegakkan hukum Tuhan di dunia dengan cara yang benar sebenarnya adalah tugas semua orang Kristen.

Bagaimana kita bisa menjadi “hakim” yang benar di dunia ini? Bagaimana seharusnya kita ikut menegakkan etika dan hukum Kristen dalam hidup sehari-hari? Ada beberapa syaratnya:

  1. Kita harus memegang kuat Firman Tuhan. Apa yang baik dan buruk menurut Firman harus dinyatakan kepada semua orang dengan tegas tetapi dengan kasih. Apa yang dibenci Tuhan adalah perbuatan dosa kita dan bukan kita sendiri.
  2. Kita tidak boleh membeda-bedakan penerapan hukum Tuhan dalam masyarakat dan gereja. Siapapun yang tersesat harus diperingatkan, tidak tergantung pada siapa orangnya. Kita juga harus menegur berdasarkan fakta dan bukan berita. “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.” Yohanes 7: 2
  3. Menegakkan kebenaran Tuhan bukan hanya sekedar “omong kosong” saja tetapi dengan tindakan yang berdasarkan Firman. “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain.” Kolose 3: 16
  4. Dalam usaha menegakkan kebenaran, kita harus menyadari bahwa semua orang cenderung untuk berbuat dosa. Karena itu, semua orang Kristen terutama mereka yang mempunyai kesempatan dan fungsi sebagai pemimpin dan guru harus mau dan bisa mengintrospeksi diri sendiri, agar bisa memberi contoh dan teladan untuk hidup baik.
  5. Kerendahan hati adalah keharusan bagi setiap orang Kristen dan ini harus lebih dinyatakan dalam usaha menegakkan kebenaran Tuhan. Dalam kita menegur orang lain, kita harus sadar bahwa kita pun orang berdosa, tetapi hanya karena kasih Kristus kita sudah diselamatkan.

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai orang terpilih yang sudah diselamatkan kita tidak boleh ragu dan takut untuk menegur orang lain. Firman Tuhan harus dinyatakan kepada semua orang, dan dengan itu kebenaran Tuhan harus ditegakkan!

Suam-suam kuku?

“Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas!” Wahyu 3: 15

Tiap tahun di Australia, ratusan orang terkena penyakit pneumonia (radang paru-paru) gara-gara infeksi bakteri legionella yang sering ditemukan berkembang biak dalam air stagnan yang suam-suam kuku. Mereka yang fisiknya lemah bisa tewas karena penyakit ini. Karena itu, pemerintah menganjurkan agar air panas dari keran mempunyai temperatur setidaknya 60 derajat Celcius untuk mematikan bakteria yang mungkin berkembang biak disitu. Air keran yang suam-suam kuku sebaiknya tidak diminum tetapi air yang dingin boleh diminum langsung dari keran.

Ayat Alkitab yang menyebutkan soal air dingin, air panas dan air suam-suam kuku hanyalah ada dalam kitab Wahyu. Sungguh mengherankan bahwa pada saat kitab itu ditulis, Tuhan memperingatkan jemaat Kristen di Laodikia tentang kemiripan hidup mereka dengan air yang suam-suam kuku, yang tidak enak untuk diminum. Air yang tidak bisa menyegarkan atau menghangatkan tubuh, dan hanya bisa membawa rasa mual kepada orang yang meminumnya. Air serupa pada zaman ini diketahui sebagai air yang mungkin mengandung bakteria yang bisa mengganggu kesehatan dan bahkan menyebabkan kematian.

Mengapa Tuhan menegur jemaat di Laodikia secara tajam seperti itu? Apakah kekurangan mereka? Jemaat di Laodikia sebenarnya jemaat yang tidak berkekurangan dari segi materi. Mereka adalah orang-orang yang sukses (Wahyu 3: 17). Tetapi, dalam kekayaan dan kesuksesan mereka, jemaat ini belum berhasil untuk hidup benar. Hidup iman mereka mengalami stagnasi. Bagai sebuah barang, mereka hanya tampak indah dari bungkusnya, tetapi busuk isinya!

Di zaman modern ini orang Kristen yang pasif, stagnan dan suam-suam kuku mungkin jauh lebih banyak persentasenya jika dibandingkan dengan zaman dulu. Apalagi, dengan kemajuan ekonomi sebuah bangsa atau kemakmuran manusia, kenyamanan materi mungkin lebih disukai daripada pertumbuhan rohani. Banyak orang Kristen yang lebih tertarik pada soal memperoleh berkat Tuhan daripada berusaha hidup menurut perintahNya. Mereka itu tidak menyadari bahwa orang yang benar-benar beriman tidak hanya sekedar ikut-ikutan tetapi harus giat memuliakan nama Tuhan.

Bagi mereka, pergi ke gereja setiap minggu sudah dirasa sebagai tugas yang sudah dilaksanakan dengan baik. Diluar gereja, hidup mereka tidak ada bedanya dengan orang lain: hidup untuk kenikmatan duniawi, tidak peduli akan orang lain dan sibuk menambah harta. Mereka yang hanya mengenal Tuhan dari cerita orang lain, tetapi tidak punya pengalaman pribadi dengan Tuhan. Celakanya, mereka tidak sadar bahwa di hadapan Tuhan mereka adalah orang-orang yang melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang. Mereka mungkin belum benar-benar bertobat!

Pagi ini kita harus meneliti hidup kita. Apakah kita orang yang mengaku Kristen hanya karena pergi ke gereja atau pernah mendengar kisah tentang Yesus? Ataukah kita adalah orang yang benar-benar mau mempelajari firmanNya, menjalankan perintahNya, dan mengenal Kristus secara pribadi? Hanya kita yang bisa menjawabnya jika kita mendengar suara ketukanTuhan dalam hati kita.

“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” Wahyu 3: 20

Bagaimana hal yang buruk bisa membawa kebaikan?

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Memang kebanyakan orang beriman tahu bahwa kekhawatiran dan kesedihan yang berlarut-larut adalah tidak berguna karena Tuhanlah yang berkuasa atas segala sesuatu. Dalam Alkitab ada tertulis ayat-ayatnya dan para pendeta pun sering mengajarkannya. Tetapi, hal ini lebih mudah untuk dikatakan daripada dijalankan. Lebih mudah untuk mereka yang mengamati, daripada orang yang menjalani tantangan hidup.

Seringkali orang yang mengalami musibah diberi nasihat penghiburan yang berdasarkan pada ayat diatas. Tuhan bisa memakai pengalamanmu untuk membuat hal-hal yang baik di masa depan, mungkin begitu nasihat yang sering kita terima. Bagi orang yang mengalami masalah, nasihat sedemikian biasanya kurang bisa dimengerti; apakah Tuhan memakai hal-hal buruk yang terjadi saat ini untuk mencapai hasil yang baik?

Apa yang terjadi dalam hidup ini sering tidak kita mengerti arti dan gunanya. Apa yang kita pandang baik belum tentu membawa kebaikan. Apalagi apa yang buruk, kita tidak bisa membayangkan gunanya. Itu semua karena apa yang kita mengerti adalah terbatas jika dibandingkan dengan kebesaran Tuhan. Manusia tidak dapat menyelami pikiran Tuhan dan karena itu sering tidak dapat menjelaskan mengapa sesuatu harus terjadi.

Apa yang dimaksudkan ayat diatas sebenarnya adalah Tuhan memakai segala sesuatu yang sudah dan akan terjadi dalam hidup kita, baik itu suka atau duka untuk kebaikan kita. Ini berarti, pada saat kita mengalami kesulitan atau duka, janganlah kita hanya memusatkan pikiran kita pada hal-hal itu saja karena bukan hanya itu yang dipakai Tuhan menurut rencanaNya untuk membawa kebaikan bagi hidup kita. Tuhan memakai segala sesuatu yang terjadi dalam hidup orang percaya untuk membawa mereka makin dekat kepadaNya.

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa segala sesuatu tidak terjadi secara kebetulan. Dibalik semua peristiwa, Tuhan bekerja untuk rencana agungNya. Memang duka adalah duka dan adalah wajar jika bisa merasakannya sebagai suatu penderitaan. Tetapi, baik suka maupun duka, semua yang terjadi dalam hidup kita dan bahkan dalam dunia akan membawa orang yang beriman untuk makin dekat dan serupa dengan Yesus yang pernah mengalami segalanya.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38-39

Memikir boleh, tapi jangan khawatir

“Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” Matius 6: 27

Australia adalah benua yang sebagian besar terdiri dari padang gurun. Luas total daratan Australia 4 kali luas daratan Indonesia tapi pendudukknya hanya sepersepuluh penduduk Indonesia. Iklim gurun menyebabkan banyak daerah sering mengalami kekeringan karena hujan yang tidak kunjung datang. Walaupun demikian, daerah itu jugalah yang sering kebanjiran jika akhirnya hujan turun.

Para petani dan peternak sapi dan domba adalah orang-orang yang harus tabah. Dalam iklim yang tidak menentu mereka hanya bisa memikirkan apa yang bisa dilakukan saat ini dan berharap agar mereka lebih beruntung di masa mendatang, karena baik musim kering yang berkepanjangan atau curah hujan yang terlalu tinggi bisa menyebabkan kematian tanaman dan ternak. Mereka tahu bahwa kekhawatiran itu tidak ada gunanya dan karena itu tetap bekerja seperti biasa dalam keadaan apapun.

Hidup manusia mungkin bisa dibayangkan sebagai hidup para petani yang bergantung pada curah hujan. Adakalanya manusia dalam hidup ini menantikan datangnya pasangan hidup, pekerjaan dan berbagai kebutuhan yang lain. Seringkali penantian itu berlangsung lama sekali dan karena itu rasa khawatir pun mulai muncul. Akankah aku mendapatkannya?

Mereka yang akhirnya mendapatkan apa yang diinginkan mungkin merasa lega. Rasa gembira muncul sesaat, namun apa yang diperoleh sering tidak seperti yang diharapkan. Rasa khawatir mula-mula muncul karena tidak adanya sesuatu, berubah menjadi rasa khawatir lain setelah datangnya sesuatu yang semula diharapkan. Hidup manusia dengan demikian tidak dapat mengalami kedamaian. Mengapa manusia selalu cenderung khawatir?

Kekhawatiran menunjuk kepada kelemahan manusia yang tidak berkuasa atas masa depannya. Seandainya manusia bisa mengatasi semua persoalan hidup, kekhawatiran tidak akan muncul. Dengan demikian, bagi orang beriman adanya kekhawatiran di dunia hanya membuktikan bahwa semua manusia bergantung kepada kemurahan Tuhan semata. Karena itu, untuk orang yang percaya kepada Tuhan, kekhawatiran sebenarnya tidak ada gunanya dan hanya memperlemah semangat hidup mereka.

Jika kekhawatiran itu harus dihindari, “kepikiran” itu lumrah. Kita sebagai manusia harus bisa memikirkan apa yang bisa terjadi dan mengambil tindakan dan keputusan. Sebagai manusia kita tahu bahwa tiap hari ada persoalan yang harus kita hadapi (Matius 6: 34). Hidup tanpa menyadari adanya berbagai kemungkinan, resiko dan bahaya adalah hidup dalam alam mimpi. Tetapi, sebagai anak-anak Tuhan kita bisa menyerahkan segala persoalan kita kepadaNya.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Hidup tak berkurangan memang enak

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” Yakobus 1: 2-4

Di zaman ini semua orang ingin berusaha untuk hidup berkecukupan. Anak-anak mereka, dari kecil sudah diajarkan untuk mau giat belajar agar dapat memperoleh ijazah universitas supaya dapat memperoleh pekerejaan yang enak, yang menghasilkan banyak uang setelah lulus.

Memang hidup enak menurut ukuran umum adalah hidup yang santai tapi makmur. Kebahagiaan mungkin diartikan sebagai hidup tenang tanpa masalah. Pekerjaan yang berat adalah sesuatu yang sebaiknya dihindari, sekalipun menarik dan berguna untuk orang lain. Hidup yang enak adalah hidup dalam kemudahan.

Ayat diatas justru berkata sebaliknya. Menurut Alkitab, hidup orang percaya tetap dihadapkan kepada kemungkinan untuk jatuh ke dalam berbagai-bagai tantangan dan kesulitan. Tetapi, kita boleh berbahagia dalam menghadapinya sebab kita tahu, bahwa ujian iman seperti itu menghasilkan ketekunan yang membentuk kita sebagai orang yang sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun. Begitu mencolok beda ajaran ini dengan pandangan umum manusia!

Bagi umat Kristen, kebahagiaan adalah karunia Tuhan. Semua hal yang baik adalah datang dari Tuhan. Kebahagiaan tidak dapat dicapai dengan usaha manusia. Sekalipun kesuksesan, kekayaan, keamanan dan kesehatan ada tersedia dalam hidup kita, kekosongan hati masih sering muncul. Malahan kita tahu bahwa banyak orang ternama yang mengakhiri hidup mereka secara tragis karena hidup yang berkekurangan dalam kemewahan. Hidup kosong yang tidak menyadari adanya Tuhan.

Satu hal yang sering tidak kita sadari sebelum terjadinya masalah kehidupan ialah kenyataan bahwa manusia sebenarnya tidak memegang kemudi kapal kehidupan. Bagaimanapun manusia berusaha dan bekerja, kejadian-kejadian yang tidak diharapkan tetap bisa bermunculan pada setiap saat. Bagi mereka yang hidupnya kosong, datangnya kesulitan hidup akan dapat membawa kehancuran karena kepercayaan kepada diri sendiri akan tergoncang dan harapan masa depan menjadi suram. Pengertian tentang kebahagiaan yang mereka yakini sejak lama, sekarang menjadi tanda tanya besar.

Pagi ini kita diingatkan bahwa hidup kita akan berjalan tanpa kemudi jika kita tidak membiarkan Tuhan membimbing kita. Sebaliknya, menyerahkan hidup kita kepadaNya akan memberi keyakinan bahwa apapun yang terjadi dalam hidup ini, Tuhan akan membawa kita ke tempat yang baik. Keyakinan inilah yang memberi kita ketekunan dan kesabaran dalam menghadapi segala tantangan hidup, yang pada akhirnya akan memberi kebahagiaan sejati dalam rasa kecukupan pada setiap saat!

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang.” Mazmur 23: 1-2

Mengapa ini harus terjadi?

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” Filipi 4:7

Pernahkah anda mengalami hal yang buruk yang terjadi seolah tanpa sebab? Mendapat perlakuan yang tidak baik walau anda tidak bersalah? Kehilangan sesuatu sekalipun anda sudah berhati-hati? Menemui kegagalan walaupun sudah bekerja keras? Jatuh sakit sekalipun sudah menjaga kesehatan? Mengapa ada hal-hal jelek yang terjadi pada orang yang baik?

Alkitab banyak mengungkapkan penderitaan orang-orang yang percaya kepada Tuhan. Baik Habel, Yakub, Abraham, Musa dan Ayub dari Perjanjian Lama, sampai kepada Petrus, Stefanus dan Paulus dari Perjanjian Baru, mereka semua pernah mengalaminya. Bahkan Yesus, Anak Allah yang tidak berdosa, harus menderita begitu berat sampai disalibkan seperti seorang penjahat. Orang yang baik kelihatannya sering menghadapi kesulitan dan ketidakadilan dalam hidupnya.

Pertanyaan diatas tidak mudah dijawab dengan pikiran manusia. Lebih mudah menjawab pertanyaan mengapa hal-hal yang baik terjadi pada manusia yang jahat. Dalam hidup ini kita melihat begitu banyak orang yang tidak percaya kepada Tuhan, yang tidak jujur, kejam, dan mementingkan dirinya sendiri, justru mendapat kesuksesan. Dalam kalangan gereja pun, orang yang kurang benar hidup rohani dan pandangan hidupnya justru bisa menarik banyak pengikut dan menjadi ternama. Orang yang tidak beriman memang kelihatannya bisa mencapai hasil yang baik melalui hidup bebasnya.

Untuk menjawab kedua pertanyaan diatas, pertama- tama kita harus menyadari bahwa dunia ini penuh dosa. Semua manusia sudah berdosa di hadapan Allah dan tidak ada seorangpun yang bisa mengaku sebagai orang yang benar.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Roma 3: 23

Justru karena semua manusia sudah berdosa, Yesus turun ke dunia untuk menebus dosa manusia. Mereka yang percaya kepada Yesus akan terbilang sebagai anak-anak Tuhan.

Dalam dunia ini, anak-anak Tuhan hidup bersama-sama dengan orang yang lain dan menerima segala berkat Tuhan. Sinar matahari, pekerjaan, kesehatan, kekayaan dan lain-lain ada tersedia bagi semua orang. Bersama itu, kegelapan malam, pengangguran, kelaparan, penyakit, peperangan dan kemiskinan bisa juga terjadi pada siapa pun.

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5: 45

Walaupun begitu, orang beriman akan mengerti bahwa apa yang terjadi di dunia atau dalam hidup seseorang bukanlah datang secara acak. Tuhan kita adalah Tuhan yang Maha Tahu dan Maha Kuasa, Dialah yang mengatur hidup setiap manusia sesuai dengan rencanaNya yang agung.

“..supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini.” Yesaya 45: 6-7

Kalau memang segala sesuatu bisa terjadi dalam hidup semua orang, apakah gunanya kita menjadi anak-anak Tuhan? Adakah perbedaan antara “nasib” orang percaya dan “nasib” orang yang tidak percaya? Jawabnya: Ada!

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38-39

Pagi hari ini kita diingatkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini ada maksudnya. Sebagai anak-anak Tuhan kita harus yakin bahwa Tuhan mengasihi kita lebih dari yang lain. Karena itu, kita boleh yakin bahwa Tuhan menyertai kita dalam segala keadaan. Ialah yang bisa memberikan rasa damai dan kebahagiaan yang sejati dalam hidup kita!

Mangan ora mangan asal kumpul

“Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Kisah Para Rasul 2: 46-47

Untuk mereka yang mengerti bahasa Jawa “mangan ora mangan asal kumpul” yang arti literalnya “makan atau tidak makan asalkan hidup bersama” adalah ungkapan yang sering didengar. Banyak orang mengartikan ungkapan ini sebagai anjuran agar suami istri hidup bersama secara harmonis dalam keadaan ekonomi yang bagaimanapun. Tidaklah menjadi persoalan jika uang pas-pasan, asal saja keduanya saling mencintai.

Ada pula orang yang mengartikan ungkapan ini sebagai anjuran untuk bersatu dan bekerja sama, sekalipun tidak ada upah atau hadiah yang tersedia. Biarpun tidak ada penghargaan yang memadai, orang dianjurkan untuk bekerja sama tanpa pamrih untuk kebaikan bersama.

Membayangkan keadaan gereja pada awalnya seperti yang tertulis dalam ayat diatas, kita mungkin bisa melihat bahwa umat Kristen pada waktu itu hidup sangat sederhana, tetapi bersatu dalam kasih Yesus. Mereka bertekun dan berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah dan makan roti di rumah masing-masing secara bergilir dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Tuhan. Betul-betul mereka menerapkan prinsip “mangan ora mangan asal kumpul”, dan karena itu Tuhan memberkati dan menumbuhkan jumlah mereka.

Adakah gereja dan umat Kristen di zaman ini yang mau berkumpul berbakti sekalipun dalam keadaan yang kurang memuaskan dan kurang nyaman? Ada! Masih banyak gereja yang tumbuh pesat sekalipun mereka tidak mempunyai gedung yang mewah atau dana untuk memiliki sound system dan pemusik yang tangguh. Mereka bisa hidup dalam kesederhanaan karena mau mementingkan persekutuan, kumpul-kumpul dengan Tuhan dan sesama orang seiman.

Pada pihak yang lain, ada banyak orang Kristen dan gereja yang hanya mau berkumpul dalam keadaan yang mewah berlebihan. Mereka berlomba mengumpulkan dana untuk membuat gedung gereja yang super besar dengan peralatan canggih untuk kenyamanan dan kebanggaan bersama. Bagi mereka istilah “ora mangan” tidak lagi dikenal karena sudah diganti dengan keinginan untuk berkumpul dalam kemewahan dan kesuksesan. Sayang sekali bahwa dalam suasana sedemikian, pandangan hidup anggota gereja pun berubah. Menjadi orang Kristen yang kekurangan agaknya sesuatu yang memalukan. Anak Tuhan harus selalu bisa makan dan hidup berkelimpahan!

Pagi ini kita harus insaf bahwa gereja yang mula-mula dan gereja yang benar adalah perhimpunan orang yang sehati dan saling mengasihi dalam keadaan apapun. Mangan ora mangan asal kumpul. Gereja yang dipenuhi oleh orang-orang yang rendah hati, tulus dan mau bekerja sama dan saling tolong menolong untuk kemuliaan nama Tuhan. Bukan gereja yang berisi orang-orang yang sombong dan tidak mau ikut campur dalam pelayanan dan hanya ingin suasana syahdu dan nyaman. Bukan juga perkumpulan orang yang ingin mencari sanjungan dan nama besar. Apalagi bukan tempat memperoleh penghasilan dan dana. Gereja adalah tempat berkumpulnya orang yang sehati didalam keadaan apapun.

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Roma 12: 15

Doa yang seharusnya

“Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.” Matius 6: 7

Masih ingatkah kita akan doa yang kita ucapkan untuk pertama kalinya? Mungkin kita tidak ingat karena itu terjadi pada waktu dulu sekali, semasa kanak-kanak. Tetapi kita bisa bayangkan bahwa dalam doa kita mungkin hanya berisi permintaan kita kepada Tuhan, persis seperti apa yang biasanya dikatakan seorang anak kecil kepada orang tuanya.

Seorang bayi misalnya, hanya bisa menangis karena haus, lapar atau sakit. Tetapi, sejak bisa berbicara seorang anak mulai belajar merengek dan bahkan menuntut untuk diberi sesuatu yang dingini. Umumnya, dengan bertambahnya usia, seorang anak lebih bisa berkomunikasi dengan orang tuanya sehingga apa yang keluar dari mulutnya bukanlah hanya tuntutan dan permintaan saja. Walaupun demikian, ada banyak kasus menyedihkan dimana anak-anak yang sudah dewasa masih sering memaksa orang tua mereka untuk menuruti kehendak mereka.

Seringkali juga kita temui di zaman ini, orang-orang yang berdoa dengan keinginan yang secara menggebu-gebu, mengulang-ulang permohonan mereka dan bahkan memakai ayat-ayat Alkitab untuk mengingatkan Tuhan akan janjiNya. Doa yang semacam itu seringkali merupakan komunikasi satu arah yang hanya dimaksudkan untuk mencari berkat dari Tuhan dan bukannya untuk mengakui kebesaran Tuhan dan memuliakan namaNya.

Yesus dalam ayat diatas serasa mengatakan bahwa apa yang dilakukan banyak orang Kristen dalam doa-doa mereka seringkali mirip dengan apa yang dilakukan oleh anak kecil kepada orang tuanya. Isi doa dan cara berdoa mereka tidak banyak berubah dari doa orang yang belum beriman, yang berisi permohonan dan tuntutan saja. Yesus setelah itu mengajarkan cara berdoa yang baik, yaitu seperti yang kita kenal sebagai Doa Bapa Kami (Matius 6: 9-13).

Ada beberapa hal yang istimewa mengenai Doa Bapa Kami ini:

  1. Doa ini dibuka dengan pujian syukur kepada Tuhan dan pengakuan iman bahwa Tuhanlah yang berkuasa atas segala sesuatu. Jika pikiran kita tidak diisi dengan keyakinan akan kasih dan kuasa Bapa kita dan rasa syukur sewaktu mulai berdoa, doa kita bisa melenceng kearah yang salah. Mengucap syukur dalam segala hal adalah yang dikehendaki Allah (1 Tesalonika 5:18).
  2. Doa ini singkat dan tidak mengulang-ulang kata-kata atau permintaan. Doa ini adalah sebagai contoh doa yang mengandung prinsip-prinsip utama. Doa kita tentu saja bisa lebih panjang, sesuai dengan keadaan. Doa Bapa Kami bukannya doa singkat padat untuk menggantikan doa-doa pribadi kita. Bagi kita, kesempatan untuk menjumpai Tuhan dalam doa adalah sebuah kehormatan yang harus sering kita pakai (1 Tesalonika 5:17).
  3. Doa ini mengakui bahwa kehendak Tuhanlah yang harus terjadi, bukan kehendak manusia. Ini berarti kita harus selalu mau mencari kehendakNya dan menyesuaikan permohonan kita dengan apa yang Tuhan kehendaki.
  4. Permohonan dalam doa ini adalah untuk kecukupan, bukan untuk kekayaan atau kesuksesan. Jika kita selalu berpikir bahwa Tuhan adalah sumber kekayaan dan kesuksesan dan bukannya sumber keselamatan dan kebahagiaan, itu menandakan bahwa hidup kita sudah dikuasai oleh keinginan duniawi kita.
  5. Doa ini berisi pengakuan bahwa sebagai manusia yang lemah dan berdosa kita berjuang melawan dosa, tetapi menemui kegagalan setiap hari. Karena itu kita harus mau meminta ampun kepada Tuhan dan mengampuni orang lain pada setiap saat.
  6. Dalam doa ini kita sadar bahwa hidup orang Kristen di dunia tidak luput dari berbagai penderitaan. Tetapi kita memohon agar apapun yang terjadi dalam hidup kita jangan sampai hal-hal itu membuat kita jatuh dalam dosa dan kehancuran.

Marilah kita dalam hidup ini selalu menyadari bahwa berdoa adalah berkomunikasi dengan Tuhan, Allah, dan Bapa kita yang Maha Kuasa, Maha Suci dan Maha Pengasih. Karena itulah biarlah kita bertekun dalam doa dan dengan hormat senantiasa mengucap syukur atas segala karuniaNya.

“Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.” Kolose 4: 2

Pernahkah anda menodong Tuhan?

“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Yohanes 15: 7

Jika seseorang bertanya apakah kita pernah menodong Tuhan, kita mungkin jadi tersinggung atau marah, atau setidaknya heran. Pertanyaan macam apa pula itu? Mana mungkin manusia melakukan tindak kekerasan dan kurangajar kepada Tuhan yang Maha Kuasa? Tetapi, sebelum kita bereaksi, marilah kita melihat arti kata “todong” dalam kamus besar bahasa Indonesia.

to·dongv,me·no·dong v1 mengarahkan senjata (pistol dan sebagainya) sebagai ancaman untuk merampok, merampas, dan sebagainya: dua orang bersenjata masuk, lalu ~ tuan rumah; 2ki menyuruh dengan serta-merta (tanpa persetujuan sebelumnya): masyarakat desa itu ~ gubernur DKI untuk ikut berjoget di panggung

Mengenai arti kata yang pertama, sudah barang tentu kita tidak pernah mengarahkan senjata sebagai alat untuk merampok Tuhan. Tetapi, arti kata yang kedua adalah “menyuruh tanpa persetujuan sebelumnya”. Pernahkah anda meminta Tuhan untuk melakukan sesuatu tanpa lebih dulu mendapat persetujuanNya? Itulah menodong!

Menodong bisa dilakukan secara halus, sopan, atau secara kasar, tidak sopan. Kebanyakan orang Kristen menodong Tuhan dengan cara halus seperti berdoa dengan tidak ada hentinya, berdoa dengan berulang kali, berpuasa, berjanji untuk melakukan sesuatu jika dituruti, memberi kolekte lebih besar dari biasanya, pantang makan sesuatu dll. Semua itu mungkin tidak ada salahnya jika apa yang didoakan sudah sesuai dengan persetujuan Tuhan. Jika tidak, tindakan itu adalah sama dengan menodong Tuhan. Mengapa manusia berani menodong Tuhannya? Pasti ada alasannya!

Ayat dalam Yohanes 15 diatas memang sering dipakai sebagian orang Kristen untuk saling menguatkan dalam menghadapi kebutuhan atau masalah besar. Karena kita adalah anak-anak Tuhan, pastilah Tuhan menuruti permintaan apa saja yang kita sampaikan kepadaNya. Dengan kata lain, kita seakan boleh meminta apa saja yang kita mau, tanpa persetujuanNya. Sebagai anak kita agaknya berhak menodong Bapa di surga dengan cara halus untuk memperoleh apa yang baik menurut ukuran dan pendapat kita.

Kita tahu bahwa ada orang-orang yang pandai menodong orang lain. Dengan kata-kata manis, rengekan, bujuk-rayu, mungkin agak sulit bagi kita untuk menolak permintaan si penodong. Apalagi jika si penodong memakai kata-kata yang memuji kita, rasanya sungkan untuk menolak permintaannya. Setelah diminta berulang kali, mungkin kita menyerah atas permintaan mereka, daripada harus mendengar kata-kata yang sama terus menerus. Itulah juga yang mungkin ada dalam pikiran umat Kristen yang menodong Tuhan dengan doa dan pujian mereka. Selain itu, memang di zaman ini ada banyak pendeta yang sering mengajarkan teknik menodong Tuhan.

Apa reaksi Tuhan atas todongan umatnya seringkali bukanlah kata-kata kemarahan tetapi keheningan dalam kesedihan atas kebodohan mereka:

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55: 8-9

Apa yang terjadi setelah kita menodong Tuhan bisa dibayangkan: kehampaan. Manusia yang sudah memohon dengan sungguh-sunguh, tidak mendapat jawaban apapun dari Tuhan.

Pagi ini biarlah kita diingatkan bahwa satu hal yang sangat penting dalam mengajukan permohonan kita kepada Tuhan ialah mencari kehendakNya, mendapatkan persetujuanNya. Doa yang hanya menyampaikan keinginan kita adalah usaha penodongan yang tidak akan membawa hasil yang baik dalam hidup kita.

Hak atau anugerah?

“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Roma 11: 36

Manusia itu aneh. Jika ada hal yang buruk terjadi, ia akan mengeluh mengapa hal itu  terjadi padanya. Tetapi, jika ada hal yang baik yang terjadi pada dirinya, ia akan merasa bahwa hal itu adalah sudah sewajarnya. Memang dari dulu manusia cenderung lebih mudah merasa bahwa apa yang baik adalah haknya, dan apa yang buruk tidak seharusnya terjadi pada dirinya. Lebih-lebih lagi, di zaman modern ini manusia lebih mengenal apa yang seharusnya menjadi haknya dan karena itu sering mengajukan berbagai tuntutan agar orang lain, masyarakat dan negara mengakui haknya.

Memang manusia sampai-sampai bersedia untuk berdebat, bermusuhan, dan bahkan berperang untuk memperoleh dan mempertahankan apa yang dianggap haknya. Anak-anak merasa mempunyai hak tertentu dan menuntut orang tua dan keluarga untuk menghargai dan memberikannya. Sebaliknya orang tua pun merasa  mempunyai hak-hak tertentu yang mengharuskan anak-anaknya untuk memenuhi kemauan dan kebutuhan mereka di masa depan. Demikian pula, percekcokan antara suami dan istri sering diakibatkan  karena mereka saling merasa punya hak-hak tertentu. Semua orang punya hak dan kewajiban, begitulah ajaran hidup bermasyarakat yang sering kita dengar.

Manusia sejak dulu memang berusaha memperjuangkan hak-hak manusia karena keyakinan bahwa pada hakekatnya semua manusia itu sama derajatnya. Tercatat dalam sejarah bahwa  tokoh-tokoh agama Kristen pada abad 17 dan 18 giat memperjuangkan masalah hak asasi. Hak Asasi Manusia(HAM) adalah prinsip-prinsip moral atau norma-norma, yang menggambarkan standar tertentu dari perilaku manusia, dan dilindungi secara teratur sebagai hak-hak hukum dalam hukum kota dan internasional. Mereka umumnya dipahami sebagai hal yang mutlak sebagai hak-hak dasar “yang seseorang secara inheren berhak karena dia adalah manusia”, dan yang “melekat pada semua manusia” terlepas dari bangsa, lokasi, bahasa, agama, asal-usul etnis atau status lainnya.

Walaupun dalam kehidupan masa kini soal mengatur  hak dan kewajiban manusia adalah penting demi keamanan dan kelancaran hidup bermasyarakat, dalam konteks iman Kristen selalu ada pertanyaan apakah benar bahwa setiap manusia dilahirkan dengan hak-hak tertentu. Benarkah bahwa setiap orang di dunia pada hakekatnya mempunya hak yang sama untuk hidup nyaman dan aman? Benarkah manusia Kristen mempunyai hak-hak istimewa yang tidak dipunyai orang lain?

Apa yang tertulis dalam Galatia 4: 6-7 seolah mengiyakan pandangan bahwa manusia percaya mempunyai hak khusus terutama dalam hal meminta berkat dari Tuhan.

Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.

Tetapi jika kita teliti, ayat diatas bukanlah menunjuk pada hak kita sebagai orang yang sudah diselamatkan, tetapi pada kenyataan bahwa mereka yang percaya sudah menerima anugerah keselamatan dan dengan itu boleh memanggil Allah sebagai Bapa. Dalam Alkitab disebutkan bahwa manusia sebagai ciptaan Allah memang mempunyai hak kolektif untuk mengatur dunia serta untuk berkembang biak (Kejadian 1: 28-29), tetapi Alkitab hampir tidak pernah menyebutkan soal hak pribadi.

Dalam Alkitab jelas tertulis bahwa manusia itu diciptakan  sebagai peta dan teladan Allah untuk memuliakan Sang Pencipta. Dengan demikian, apa yang dikenal sebagai “hak ”  oleh manusia sebenarnya adalah anugerah Tuhan semata,  sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia.

Manusia diciptakan dengan kesadaran akan baik dan buruk; tetapi karena dosa, kesadaran ini sering menjadi pudar. Karena itu, dalam hidup bermasyarakat manusia membutuhkan pengertian akan adanya “hak” dan kewajiban. Tetapi, sekalipun mungkin kita kurang menyenanginya, adalah fakta bahwa apa yang sering disebutkan dalam Alkitab adalah kewajiban dan bukan hak. Hukum Kasih mengatakan bahwa kita harus mengasihi Tuhan dan sesama kita, dan pada kedua hukum ini bergantung semua hukum-hukum yang lain (Matius 22: 37-40). Tuhan tahu jika kita melaksanakan kedua kewajiban ini, soal “hak” tidak lagi akan menjadi persoalan dalam hidup manusia.

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai orang Kristen, kita tidak boleh selalu menekankan pentingnya “hak” kita dalam hidup beragama, berkeluarga, bermasyarakat, dan bernegara, tetapi lebih mementingkan apa yang bisa dan harus kita perbuat untuk Tuhan dan orang lain. Dengan demikian hidup kita akan bisa terisi dengan kebahagiaan dan kepuasan bahwa kita sudah menjalankan apa yang diperintahkan Tuhan dan memuliakan namaNya.

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 7: 12