Β Dosa anut grubyuk

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakubus 4: 17

Apakah kita berdosa kalau kita tidak tahu bahwa apa yang kita lakukan adalah tidak baik? Pertanyaan ini bunyinya seperti pertanyaan untuk ahli agama. Terlalu teoritis? Tapi memang ada kemungkinan bahwa manusia berbuat tidak baik karena perbuatan itu dianggapnya remeh. Dosa kecil. Malah sering ada dosa yang dianggap biasa atau lucu!

Ada orang yang berbuat sesuatu tanpa mau memikirkan baik buruknya karena saking banyaknya orang yang melakukannya. Contoh yang jelas di negara barat adalah soal penyalah gunaaan narkoba dan miras dan kebebasan seks. Di Indonesia, lagi marak soal hoax yang di share tanpa usaha untuk mencari kebenaran isinya. Juga kegiatan di sosial media yang sering berakhir dengan kemarahan dan kebencian. Begitulah  terjadinya dosa “anut grubyuk” alias ikut-ikutan tanpa pertimbangan, karena orang lain juga berbuat begitu.


Mungkinkah orang berbuat dosa karena tidak sadar akan dosa yang dilakukannya?

Memang ada kemungkinan manusia berbuat dosa dengan tidak sengaja karena itu adalah kelemahan manusia di dunia ini. Tetapi, tidaklah mudah orang terus menerus berbuat dosa tanpa keraguan. Tiap manusia dilahirkan dengan kesadaran akan hal yang baik dan buruk, yang kemudian bisa dikembangkan menjadi kesadaran etika dan hukum.

Dosa adalah kesalahan yang membuat Tuhan tidak senang. Sekalipun kita tidak sadar secara penuh akan hal apa yang membuat Tuhan tidak senang, atau tidak sadar bahwa kita melakukan pelanggaran, tindakan kita tetap merupakan dosa. 

“Jikalau seseorang berbuat dosa dengan melakukan salah satu hal yang dilarang TUHAN tanpa mengetahuinya, maka ia bersalah dan harus menanggung kesalahannya sendiri.” Imamat 5: 17

Buat orang Kristen, dosa bukannya melakukan sesuatu yang tidak baik, tetapi tidak melakukan apa yang baik, seperti yang dikendaki Tuhan. Ini tidak mudah dijalani karena kita cenderung sekedar mengikuti kaidah/etika orang di sekitar kita dan hukum di negara kita.

Adakah dosa besar dan dosa kecil?

Yesus berkata bahwa dosa yang kelihatannya kecil juga dosa. Sudah tentu Dia tahu bahwa tiap dosa mempunyai akibat yang berlainan untuk manusia, tetapi semua dosa mempunyai konsekwensi yang sama dihadapan Tuhan. Dosa yang sering dilakukan oleh banyak orang tidaklah membuat itu menjadi dosa kecil, yang bisa diterima Tuhan yang maha suci. Kita harus sadar bahwa apa yang legal untuk manusia, belum tentu sesuai dengan kehenak Tuhan.

“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 6: 23

Dosa anut grubyuk menodai bangsa

Jika kita melihat masyarakat tertentu, kita bisa melihat apakah masyarakat itu umumnya hidup menurut perintah Tuhan atau tidak. Jika anggota masyarakat itu kebanyakan mengenal Tuhan, masyarakat itu akan mencerminkan sebagian kebenaran Tuhan dan memunyai nilai moral yang kuat. Sebaliknya, anggota-anggota masyarakat yang hidup dalam dosa akan menodai seluruh masyarakat. Dosa anut grubyuk membuat masyarakat makin jauh dari Tuhan.

“Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa.” Amsal 14: 34

Orang Kristen bisa jatuh dalam dosa anut grubyuk, tapi kita tidak boleh mengabaikan dosa apapun, dalam ukuran apapun. Kita wajib terus memupuk kesadaran kita untuk bisa membedakan apa yang baik dan apa yang buruk. Kita harus melakukan apa yang baik karena tidak cukup untuk hanya berdiam diri.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Kita harus bersyukur karena walaupun kita lemah, Yesus sudah datang untuk menebus semua dosa kita. Kita bersyukur bahwa kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik kita. Kita juga bersyukur bahwa Tuhan mendengarkan doa kita. Itulah sebabnya kita tiap hari harus berdoa mohon pengampunan akan segala dosa kita dalam hidup bermasyarakat dan meminta bimbinganNya untuk masyarakat di sekitar kita.

Sabar itu subur

“Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran” Β 2 Korinttus 6: 4

Apa sih artinya ungkapan “sabar itu subur”? Seringkali saya mendengarnya sebagai geguyonan, tapi apa benar kesabaran membuat orang jadi subur? Subur yang bagaimana?

Orang sabar, kata orang, dapat digambarkan seperti pepohonan. Dipangkas cabang daunnya berkali-kali seperti pohon lamtoro gung, di musim hujan akan bersemi kembali. Dikurangi akarnya, seperti pohon kelengkeng yang lama tak berbuah, ia akhirnya berbunga dan berbuah lebat. Kesabaran menghasilkan kesuksesan. Benarkah ini?


Kesabaran di Alkitab PB pada umumnya dikaitkan dengan ketekunan.  Kesabaran bukannya pasip tetapi aktip. Bukan membiarkan segala sesuatu terjadi di sekeliling kita, seperti membiarkan penderitaan, kesesakan dan kesukaran tanpa bereaksi. Kesabaran adalah ketekunan dalam menghadapi persoalan dan dalam usaha mencari penyelesaian.

Sebagai orang Kristen kita menghadapi berbagai tantangan dan masalah kehidupan. Mungkin dalam pekerjaan, sekolah, keluarga, gereja dan negara. Orang Kristen dipanggil untuk bersabar dalam arti tetap tekun dalam berdoa dan bekerja. Sekalipun penyelesaian masalah belum ada, tetapi ketekunan membuat kita tetap percaya bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai dengan rencana Tuhan.

Kesabaran tidak bisa berkembang dalam waktu yang singkat. Kesabaran tumbuh sebagai proses pertumbuhan kedewasaan umat Tuhan. Kesabaran hanya bisa tumbuh dengan kekuatan dari Tuhan.

“…dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar… ” Kolose 1: 11

Selanjutnya, kita juga harus sadar bahwa ujian hidup akan memberi ketekunan:

“sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Yakobus 1: 3

Walaupun kita tahu bahwa kesabaran/ ketekunan akan membawa kita lebih dekat kepada Tuhan, tidak mudah buat kita untuk bisa mempraktekannya dalam hidup kita. Adakah hal-hal yang bisa membantu kita?

Yang pertama adalah hidup bersyukur. Orang yang kurang bisa bersyukur akan merasakan kehidupan yang lebih berat dari yang sebenarnya. Orang yang demikian sering bertanya “mengapa ini harus terjadi padaku?” Sebaliknya, rasa syukur akan membuat apa yang berat menjadi ringan.

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Filipi 4: 4

Yang kedua, kita harus sadar bahwa segala sesuatu ada sebabnya. Kadang kita mengalami kesulitan supaya kita bisa menjadi saksi atas perlindunganNya dan bisa makin bertumbuh dalam hal-hal yang baik. Kita harus percaya bahwa segala sesuatu akan membawa kebaikan kepada orang yang percaya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Β Roma 8: 28

Yang ketiga, kita harus sadar bahwa sebagai manusia, kesabaran dan ketekunan kita ada batasnya. Ada saatnya dimana  kita mungkin hanya bisa bertekun dalam penyerahan kepada Tuhan.

“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!” Mazmur 46:10

Kesabaran dan ketekunan dapat menyuburkan pertumbuhan iman kita sehingga kita bisa mengerti bahwa Allah kita adalah Tuhan yang maha kuasa, maha kasih dan maha bijaksana; yang membuat sesuatu terjadi sesuai dengan rencana dan waktuNya.

Mengapa aku sukar berubah?

“Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;” Kolose 3: 9-10


Seperti soal berdusta, kelemahan-kelemahan lain dalam hidup kita rasanya masih banyak terasa. Perubahan hidup yang kita harapkan setelah menerima penebusan Kristus memang seringkali terasa begitu perlahan sehingga bisa menjadi batu sontohan untuk  orang lain. Kitapun sering frustrasi melihat hidup orang lain dan juga hidup kita sendiri. Ciptaan baru dalam Tuhan ternyata sukar mengubah sifat lama. Mengapa begitu? 

Teringat saya akan kunjungan saya ke Canada baru-baru ini. Ikan salmon adalah hasil perikanan utama negara itu.   ikan salmon adalah ikan yang unik. Ikan ini lahir dan tumbuh menjadi cukup besar di sungai berair tawar, tetapi kemudian  pergi menghilir ke laut dan menjadi ikan laut sampai saat dimana mereka merasakan adanya “panggilan” untuk kembali ke tempat mereka dilahirkan.

 

Menjawab “panggilan” ini, Semua ikan salmon kemudian beramai ramai berenang kembali, melalui sungai yang sama, ketempat dimana mereka dilahirkan. Perjalanan ke hulu sungai ini sangat berat karena menentang arus sungai. Perjalanan yang penuh bahaya karena adanya binatang-binatang lain yang mau memakan mereka, termasuk beruang grizzly dan elang botak yang memangsa ikan salmon yang berjuang melawan arus. Sebagian lain ikan salmon tidak dapat memcapai tujuannya karena kelelahan, tersesat atau kandas di tempat yang terasing. Mereka yang bisa mencapai tempat kelahirannya kemudian bertelur dan mati disana. Siklus kehidupan ciptaan Allah yang ajaib!

Seperti itulah kehidupan manusia yang meninggalkan hidup yang bermula tak bercacat sebagai peta dan teladan Allah, tetapi kemudian terseret arus menuju ke laut bebas dan hidup dalam dosa. Tetapi Allah yang mahakasih pada saat yang tepat, memanggil kita untuk kembali menjadi anak-anakNya. Sebagian manusia menjawab panggilanNya dan pada saat itu juga menerima jaminan keselamatan, tetapi sebagian tidak mau menerimanya.

Mereka yang menerima Yesus sebagai juruselamat mereka akan dibimbing Roh Kudus untuk kembali ke cara hidup yang benar. Ini adalah perjuangan berat yang melawan arus dan penuh bahaya. Lebih mudah untuk berbuat dosa daripada menghindari dosa! Terlebih lagi, iblis bagaikan beruang dan elang yang ganas mengincar kita, dan ada berbagai situasi yang bisa melelahkan dan menyesatkan kita. Kapankah kita bisa mencapai tempat tujuan kita, yaitu hidup baik seperti yang dikendakiNya?

Tidak hanya kita, banyak juga saudara seiman yang mengalami perjuangan yang serupa. Hal ini bisa mengecilkan semangat kita karena seperti ikan salmon yang sudah mau berbalik arah, kita mungkin mengharapkan hidup baru kita jadi mudah. Namun kenyataanya  kita harus hari demi hari berjuang melawan arus dunia. Proses penyucian anak-anak Tuhan ternyata adalah proses yang terus-menerus berjalan supaya kita diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khalik kita.

Bagaimana kita dapat berjalan bersama Roh Kudus untuk bisa terus-menerus memperbaharui hidup kita ?

  1. Akuilah bahwa manusia itu lemah dan tidak dapat bergantung pada dirinya sendiri.
  2. Berdoalah agar kita dan orang yang kita kasihi dapat memperoleh kekuatan jasmani dan rohani untuk berubah dan maju dalam iman.
  3. Percayalah bahwa Tuhan yang memberi keselamatan juga memberi kita kesempatan dan sarana untuk mengubah hidup kita.
  4. Kerjakan apa yang difirmankanNya. Pilihlah apa yang baik dan bukan apa yang sia-sia.
  5. Bantulah sesama kita dalam perjuangan mereka dan jangan ragu meminta bantuan dari saudara seiman untuk pergumulan kita.
  6. Bersyukurlah atas keselamatan yang sudah diberikanNya, yang tetap ada dalam keadaan apapun.

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”  1 Tesalonika 5: 18

Bila hidup bertambah berat

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” Roma 5:3-4

Di Sydney, setiap tahun ada perlombaan lari “City to Surf”, dimana puluhan ribu orang berlomba lari sepanjang jalan dari pusat kota Sydney ke pantai Bondi yang jaraknya 14 km. 

Jarak 14 km itu sebenarnya termasuk jarak medium dan seharusnya tidak perlu menyebabkan problem bagi mereka yang sudah biasa. Namun, ada sebagian dari jarak itu yang melalui bukit yang naik curam yang dinamakan “Heartbreak Hill”, alias bukit patah hati. Nama bukit ini memang sesuai karena banyak pelari yang merasakan sulitnya untuk mempertahankan ritme larinya karena jalan yang menanjak 80 m dalam 2 km. Napas jadi ngos-ngosan dan kaki jadi lemas! 

Sebagian pelari mungkin berpendapat bahwa lari mereka akan bisa lebih nyaman kalau saja bukit ini tidak ada. Mengapa harus dilewatkan di daerah ini? Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa adanya bukit ini malahan membawa variasi, pengalaman dan kepuasan tersendiri. Malahan, bagi pelari elit, bukit ini bisa menentukan siapa yang benar-benar kuat dan siapa yang hanya setengah-setengah.

Sama dengan lomba lari  “City to Surf” itu, hidup kita terkadang mengalami up and down, hasil baik dan hasil buruk. Sering kita mengeluh mengapa hal-hal yang sulit atau buruk harus terjadi.

Kesulitan hidup adalah seperti “Heartbreak Hill”, merupakan bagian hidup yang memberi tantangan buat umat Kristen; yang memberi variasi hidup yang memungkinkan kita untuk bisa lebih kuat dan beriman. Lain dari masalah yang muncul karena kesalahan diri sendiri, tantangan hidup adalah kesempatan untuk mendapat pengalaman dan membangun percaya diri, karena kita mempunyai Tuhan yang maha kuasa dan maha kasih.

Bagi kita yang sudah mengalami perjuangan bersama Kristus, kita bisa mengunakan pengalaman itu untuk menghadapi tantangan lain di masa depan, untuk lebih berhati-hati, dan juga untuk bisa mengajar saudara-saudara kita tentang adanya pengharapan di dalam Kristus. Pengalaman berharga yang harus disyukuri!

Apakah Allah itu heppi atau murung?

Hari ini hari minggu dan tentunya anda akan atau sudah ke gereja untuk berbakti kepada Tuhan, Allah kita. Untuk beribadah kepadaNya di gereja bersama- sama dengan saudara seiman. Bagaimana rupa dan sifat Allah  menurut bayangan anda? 

Allah adalah Roh, jadi kita tidak bisa melihat dan membayangkan rupa dan bentukNya. Namun, pengenalan akan karakter Allah ini penting karena dari pengenalan itu kita akan bisa mengerti mengapa kita sebagai peta dan teladanNya harus juga hidup sesuai dengan karakterNya (antara lain hidup kudus, punya kasih, punya kebijaksanaan, dll.). Nah, bagaimana dengan Tuhan, apakah sifatNya gembira atau pemurung? 

Apakah Tuhan ingin kita hidup bahagia atau hanya menurut hukum-hukumNya? Mungkin kita berpikir,  kalau Dia menghendaki kita hidup bahagia di dunia ini, Dia sendiri pastilah Allah yang happy! Sebaliknya kalau Dia cuma menyuruh kita untuk taat saja, mungkinkah itu menunjukkan bahwa Allah itu pemurung dan hanya menuntut ketaatan kita? 

Sering manusia berpikir bahwa Tuhan itu tidak antusias dan bahkan murung. Bukankah kejadian-kejadian di dunia ini sering menyedihkan? Dan Tuhan serasa hanya menonton saja? Bagaimana pula dengan mereka yang mengingini hidup bebas tetapi akhirnya tertekan karena adanya norma-norma Kristen? 

Kenyataaannya Tuhan itu dari dulu penuh semangat dan menghendaki kita berbahagia:

“Aku akan bergirang karena mereka untuk berbuat baik kepada mereka dan Aku akan membuat mereka tumbuh di negeri ini dengan kesetiaan, dengan segenap hati-Ku dan dengan segenap jiwa-Ku.”  Yeremia 32:41

Yesus juga berkata:

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.”  Yohanes 15:11

Pemazmur juga meulis:

Bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.  Mazmur 37:4

Selanjutnya, Paulus menulis

“Bersukacitalah senantiasa” 1 Tesalonika 5: 16

Jadi bagaimana? Tuhan itu menghendaki manusia untuk bergembira atau taat kepadaNya? 

Bagaimana pula dengan ayat ini: 

“Bersukacitalah dalam TUHAN dan bersorak-soraklah, hai orang-orang benar; bersorak-sorailah, hai orang-orang jujur!” Mazmur 32: 11

dan ini:

“Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!” Mazmur 100: 2

Dari ayat- ayat diatas terlihat bahwa ibadah dan ketaatan tidak terpisah dari kebahagiaan. Bukannya Allah menghendaki ibadah dan ketaatan lebih dari kebahagiaan, tetapi didalam ibadah dan ketaatan ada kebahagiaan. Dia bukan Allah yang pemurung tetapi Allah yang gembira jika kita bergembira dan sedih jika kita jauh dariNya!

Motivasi kita dalam memberi persembahan

Soal persembahan adalah soal sensitip baik untuk pendeta maupun jemaat. Malahan, itu juga bisa jadi sorotan masyarakat. Gereja yang besar dan “makmur” dimana saja selalu mendapat berbagai komentar dari media dan masyarakat. 

Umumnya, gereja-gereja yang besar mempunyai jemaat yang loyal dan mampu memberi persembahan yang banyak. Laporan media menunjukkan adanya tokoh-tokoh gereja tertentu yang mempunyai harta berjuta-juta dollar. Sebaliknya, dalam gereja yang kecil mungkin pendeta dan pengurus harus berjuang keras untuk hidup dan rajin mengajar jemaat agar bisa meningkatkan persembahan mereka. Bahkan ada gereja yang hidupnya bergantung pada hasil usaha bisnis pendetanya.

Terlepas dari jenis gereja, aliran teologi maupun tingkat ekonomi jemaat, persembahan harus diberikan dengan motif yang benar, melalui cara yang benar dan digunakan untuk tujuan yang benar.

Apa prinsip-prinsip utama dalam persembahan?

1. Kita memberi karena Tuhan lebih dulu memberi pemberian yang terbesar.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

2. Persembahan kita merupakan pernyataan kasih dan syukur  kita secara pribadi kepada Tuhan kita.

“Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”  Matius 6: 4

3. Melaui persembahan kita memuliakan nama Tuhan.

“Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku” Mazmur 50: 23

4. Persembahan kita dapat menjadi penyaluran kasih Tuhan kepada sesama manusia.

“Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” 1 Yohanes 3: 17

5. Dengan persembahan kita memperkuat iman kita.

“Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” Yakobus 2:22

Apa yang keliru:

1. Kesombongan: Kalau pemberian kita didasari keinginan untuk dihormati orang, jelas motif kita keliru. Bagaimana kalau pemberian seseorang membuat seisi gereja bangga? Sama saja. Jika bukan nama Tuhan yang dipermuliakan, itulah kesombongan. 

Persembahan sebaiknya dilakukan secara pribadi dan hasil persembahan jemaat sebaiknya tidak dijadikan simbol kesuksesan gereja. Memberi bukan untuk mendapatkan hadiah penghargaan. Pemberian juga tidak boleh dijadikan usaha mempengaruhi gereja. 

Gambar: Persembahan janda miskin.

2. Ketamakan: Memberi dengan mengharapkan balasan  Tuhan yang berupa materi yang berlipat ganda adalah kekeliruan besar. Segala sesuatu berasal dari Tuhan, karena itu jika kita memberikan sebagian kepadaNya kita tidak boleh mengharapkan bahwa Ia akan mengembalikan dengan bonus. Begitu juga dengan ajakan agar jemaat memberi yang  disertai “janji” bahwa Tuhan akan mengembalikan “hutangNya” dengan “bunga” yang besar. 

Kita memberi karena Tuhan sudah lebih dulu memberi dan bukan karena menginginkan balasan. Dan tentunya kita memberi dalam batas kemampuan kita.

3. Rasa bersalah: Ada orang yang memberi karena merasa harus. Apalagi jika ada nazar yang pernah diucapkan di masa lalu. Walau ini kelihatannya baik, Tuhan mengingini persembahan nazar yang disertai syukur dan kerelaaan, bukannya dengan rasa takut atau bersalah. Bagaimana kalau gereja menganjurkan jemaat untuk memberi dengan cara menakut-nakuti mereka? Jelas itu keliru. 

“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.”  2 Korintus 9: 7

4. Rasa rendah diri: Memberi harus dengan rasa bersyukur. Tuhan menghargai persembahan yang sekalipun kecil tapi sesuai dengan kemampuan kita. Bagaimana kalau gereja hanya menghargai jemaat yang mampu dan persembahan yang besar saja? Bacalah Yakobus  2:1-9.

5. Persembahan harus berupa uang: Uang adalah salah satu bentuk persembahan. Yang lain bisa berupa barang, tenaga, waktu, pelayanan, perhatian, dll. Kasih mempunyai banyak ragam.

6. Hanya untuk orang seiman: Banyak orang berpikir bahwa Tuhan hanya mengasihi anak-anakNya. Yang benar adalah Tuhan mengasihi seisi dunia. Karena itu kita wajib menolong siapapun yang memerlukan bantuan.

Tetapi inilah yang paling penting:

Persembahan yang paling disukai Tuhan adalah tubuh kita.

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1

If you are happy to give (your life), you will be even happier afterwards!

Jika anda mau mempersembahkan (hidup anda), anda akan lebih berbahagia lagi setelah itu!

Menghadapi kabar buruk dan kabar burung di media

Tiap pagi, selagi menikmati sarapan, saya selalu melihat pemandangan bukit di belakang rumah saya di Toowoomba. Pikiran saya selalu melayang membayangkan kebesaran Tuhan yang menciptakan alam semesta. Seringkali saya merasa takjub betapa besar kasihNya yang memungkinkan saya bangun tidur dan bisa menghirup udara di desa ini. Tuhan memang luar biasa, segala sesuatu berasal dariNya, termasuk denyut jantung yang teratur dan udara segar yang ada. Bukankah sungguh ajaib bahwa Dia yang memelihara hal-hal yang paling pokok untuk kehidupan manusia?

Waktu untuk sarapan juga bisa dipakai untuk nonton TV, mendengarkan radio atau membaca berita-berita dunia di internet. Kebanyakan berita yang top saat ini adalah berita tentang kejahatan, kecelakaan dan kerusuhan. Belum lagi ada begitu banyak hoax yang simpang siur. Mengapa dunia ini rasanya makin kotor saja? Keadaaan politik dan hukum di banyak negara juga menambah kesedihan. Malahan ada juga berita tentang kemungkinan perang antar negara atau perang saudara dalam satu negara. Karena berita kacau balau semacam itu, pagi yang indah bisa berubah menjadi pagi yang suram….


Media sering menyampaikan kabar buruk dan kabar burung.

Bagaimana kita dapat bertahan menghadapi kabar buruk di media? Mungkinkah kita hidup tanpa terganggu atau terpengaruh dengan adanya kabar buruk dan kabar burung? Adakah tindakan yang bisa mengurangi kekuatiran, kebingungan dan tekanan yang disebabkan media?

Memang tidak mudah kita membebaskan diri dari belenggu media. Sebabnya antara lain adalah:

  1. Media adalah seperti magnet yang membuat kita senang melihat orang lain dan dilihat orang lain dimanapun kita berada dan kapan saja (mungkin setara dengan kecanduan).
  2. Orang-orang dan hal-hal tertentu mempunyai kharisma atau daya penarik besar yang menuntut perhatian kita (seolah lebih menarik dari Tuhan Yesus dan firmanNya).
  3. Kekuatiran masa depan menimbulkan rasa ingin tahu yang berlebihan dan munculnya harapan-harapan yang semu (seperti adanya berbagai analisa pakar dan ramalan hari depan).
  4. Banyak orang yang menikmati usaha untuk menipu orang lain karena adanya orang yang mudah dipengaruhi berita spekulatip (sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran).
  5. Dalam hidup yang kosong, adanya media seolah memberi kegiatan nyata (daripada menganggur).

Sebagai orang Kristen, bagaimana kita bisa melawan pengaruh jahat media?

Jumpailah Tuhan dan dapatkan kedamaian dariNya.

Tidak ada manusia atau hal yang benar-benar bisa kita percaya, yang bisa memberi jaminan hari depan – karena apa yang akan datang tidak ada orang yang tahu. Hanya Tuhan yang dapat memberi kedamaian dan kepuasan hidup.

Amsal 18:10 “Nama TUHAN adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat.”

Peganglah Firman Tuhan dalam tiap langkah.

Tidak ada orang atau hal yang benar di dunia. Setiap orang sudah berdosa dan kebijakan manusia adalah kebodohan untuk Tuhan. Karena itu kita harus lebih mau mendengar firman Tuhan.

Mazmur 119: 105 “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”

Sadarlah bahwa kita tidak dapat mengatasi masalah dan kekuatiran dengan kekuatan sendiri.

Hidup ini berat tetapi seharusnya terasa ringan dalam Yesus. Jika kita merasa bahwa hidup ini semakin berat dan dunia ini semakin kotor, itu tanda bahwa kita harus makin dekat kepadaNya.

Mazmur 55:22 “Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau!”

Terimalah dan sampaikan berita yang benar dan menguatkan iman saja.

Salah satu keahlian iblis adalah menipu. Mereka yang lemah akan jatuh kedalam jebakannya. Mereka yang hidup dalam jebakan iblis akan berusaha menjebak orang lain. Karena itu kita harus hidup dalam Tuhan dan berhati-hati dalam menggunakan media.

 1 Tesalonika 5: 22 “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.”

Binalah hubungan dengan saudara seiman yang bijaksana, bukan dengan orang-orang yang menyesatkan.

Dunia ini dihuni anak-anak terang dan anak-anak kegelapan. Untuk sementara kita harus bisa hidup bersama dengan siapapun. Tetapi, jika kita tidak waspada, kita akan menerima gaya hidup dan kegemaran mereka yang tidak mengenal Tuhan. Jika kita tidak awas, kita akan hanyut dalam kabar kegelapan.

Amsal 13: 30 “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.”


Semoga anda bisa merasakan kedamaian Tuhan di hari ini!

πŸ’πŸŒΌπŸ„πŸŒΉπŸŒΈπŸŒ·πŸŒΊπŸŒΌπŸ’πŸ„πŸŒΉπŸŒΊ

    Menghindari kesombongan dalam kesuksesan

    “Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.”  Amsal 8: 13

    Bagaimanakah anda mengukur kesuksesan anda? Untuk seorang atlit mungkin kesuksesan adalah medali-medali yang diperolehnya. Untuk seorang terpelajar, mungkin gelar-gelarnya. Untuk seorang pedagang mungkin labanya. Bagi orang tua, mungkin keberhasilan anak-anaknya. Dan buat seorang pendeta, barangkali ukuran gedung gereja, jumlah jemaat atau besarnya dana yang tersedia.

    Biarpun tiap orang mempunyai jenis keberhasilan dan standard yang berlainan, satu hal yang sama adalah: kesuksesan biasanya adalah sesuatu yang bisa diukur dan dilihat. Karena orang lain juga bisa mengukur dan melihat keberhasilan kita, kita senang mempamerkan hal itu. Bangga atau sombong? 

    Ada beda antara kesombongan yang Tuhan benci (Amsal 8:13) dan rasa bangga (puas) setelah berhasil mengerjakan sesuatu dengan baik. Kesombongan adalah sesuatu yang harus kita hindari karena hakikinya yang sangat buruk. 

    Pada jaman ini, anak-anak diajarkan untuk bisa percaya diri dan untuk itu orang tua dan guru dianjurkan untuk membimbing agar mereka dari kecil mempunyai rasa bangga akan apa yang mereka capai. Tetapi kebanggaan mudah berubah menjadi kesombongan karena memang itu adalah kecenderungan manusia.

    Kesombongan adalah dosa. Dalam tradisi bapa-bapa gereja di abad mula-mula, dikenal adanya tujuh dosa utama (dosa yang mematikan):

    1. Kesombongan (Pride, Superbia)
    2. Iri hati (Envy, Invidia)
    3. Kemarahan (Anger, Ira)
    4. Ketamakan (Greed, Avaritia)
    5. Nafsu-birahi (Lust, Luxuria)
    6. Rakus (Gluttony, Gula)
    7. Kemalasan (Sloth, Acedia)

    Mengapa kesombongan bisa mematikan? Mengapa kesombongan ini berada pada peringkat atas?

    Kita harus ingat bahwa setan diusir dari surga karena kesombongannya (Yesaya 14:12-15). Ia ingin untuk menggantikan Tuhan sebagai penguasa semesta.  Kesombongan dalam diri Adam dan Hawa jugalah yang membuat mereka jatuh dalam dosa karena keinginan untuk mendapat pengetahuan seperti Tuhan.

    Dosa kesombongan adalah sangat nyata di dunia sehingga itu merupakan problem umum nomer satu, diatas depresi, kekuatiran, kemarahan dll. Bahwa kesombongan adalah lebih umum dari hal- hal buruk yang lain adalah tidaklah mengherankan, setidaknya untuk umat Kristen. Tiap hari kita seharusnya sadar bahwa kita mudah sekali jadi sombong karena kita sering kurang memuji Tuhan atas segala berkatNya. Kesombongan adalah dosa yang jahat; karena  dengan melupakan kemurahan Tuhan kita mungkin merasa bahwa sukses adalah hasil usaha kita sendiri. Dalam hal ini kesombongan tidak lain adalah pemujaan diri sendiri.

     “Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?” 1 Korintus 4: 7

    Apa saja yang kita capai dalam hidup ini tidaklah mungkin terjadi tanpa kemurahan Tuhan yang memberi kekuatan dan kemampuan kepada kita. Karena itulah kita wajib memuji kebesaran Tuhan setiap saat, karena Dialah yang membuat segala sesuatu yang baik dalam hidup kita. 

    Jika kebanggaan muncul tanpa pengenalan akan Tuhan, disitulah kesombongan akan tumbuh dengan subur. Jika pengenalan akan Tuhan tidak dipupuk sejak muda, maka tumbuhlah manusia dewasa yang arogan, yang tidak takut akan Tuhan. Jika hidup orang-orang yang penuh kesombongan adalah hampa, mereka yang rendah hati dan takut akan Tuhan akan memperoleh hidup yang penuh berkat.

    “Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.”   Amsal 22: 4

    Nasionalisme dalam pandangan Kristen

    “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.”Galatia 3: 27-28


    Soal nasionalisme dan kesatuan bangsa agaknya menjadi topik hangat di dunia saat ini. Di Amerika, Eropa dan Asia banyak suara di media yang menggembar-gemborkan yel-yel nasionalis. Banyak orang Kristen yang biasanya apatis ikut jadi bersemangat. Baikkah rasa nasionalis itu?

    Soal nasionalisme, kita tentu masih ingat apa yang terjadi sewaktu perang dunia kedua. Sebagian orang Kristen waktu itu percaya bahwa Hitler adalah pemberian Tuhan kepada rakyat Jerman. Rasa nasionalis yang besar membutakan banyak orang Jerman waktu itu.

    Ada baiknya kita membedakan dua hal: patriotisme dan nasionalisme. Patriotisme adalah rasa cinta kepada bangsa/negara dan kemauan untuk mendukung perjuangan bangsa/negara untuk kemajuan rakyat. Nasionalisme adalah kebanggaan atas bangsa dan negara yang memberi keyakinan akan kebenaran dan keunggulan bangsa dan negara atas bangsa atau negara lain. Orang yang nasionalis cenderung untuk mengkultuskan golongan atau individu tertentu. Nasionalisme juga bisa menghalangi kita belajar dari orang atau bangsa lain. Nasionalisme dapat membuat kita tuli akan bisikan Tuhan.

    Dari hal diatas, terlihat bahwa nasionalisme agaknya selalu akan berakibat negatip. Sejarah membuktikan bahwa rasa nasionalisme ini telah menyebabkan banyak masalah besar di dunia. Dalam sejarah gereja, rasa “nasionalisme” yang merembet ke soal ras/suku juga bisa mengakibatkan perpecahan antar anak Tuhan. Perpecahan antara orang Yahudi dan Yunani, antara majikan dan bawahan dsb. Kalau begitu, bagaimana kita harus bertindak?

    Alkitab mengatakan bahwa kita harus tunduk kepada pemerintah dan atasan karena mereka adalah wakil Allah. Jadi wajiblah kita nencintai apa yang ditetapkan Allah. Kita sewajarnya bisa menjadi patriot-patriot Kristen.

    Roma 13: 1 Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.

    Tetapi Alkitab juga menunjukkan bahwa Tuhan ada diatas segala pemerintah dan penguasa, dan karena itu kita harus lebih tunduk kepada Tuhan.

    Kolose 2: 10 Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa.

    Jelaslah bahwa dalam hidup kita, walau kita boleh bangga dan mencintai bangsa/ kelompok kita, kita juga harus selalu mawas diri agar tidak terjerumus dalam prinsip nasionalisme dan kesukuan yang sempit, yang mendukung semboyan “my country, right or wrong”, “my people, right or wrong”,  atau “my church, right or wrong”, tetapi sebaliknya kita harus juga mau menghargai orang/golongan/bangsa lain. Lebih penting dari itu, kesetiaan kita  yang paling tinggi adalah kepada Tuhan, Raja segala raja. Hanya kepada bimbingan  Tuhan kita boleh meletakkan kepercayaan kita dengan sepenuhnya. Kepada Tuhan dan bukan kepada seorang manusia kita percayakan negara kita untuk mengarungi masa depannya!

    Monday blues dan pencegahannya

    Banyak orang yang mengalami masalah tiap kali hari Senin karena mereka harus masuk kerja. Dari rasa enggan, sakit badan sampai depresi bisa timbul karena berbagai tekanan yang muncul. Itulah yang disebut sebagai Monday blues atau kesusahan hari Senin.

    Seyogyanya, ketika hari Senin datang, kita akan merasa segar dan siap untuk bekerja lagi setelah berlibur akhir pekan. Tetapi, banyak orang merasa bahwa hari Senin adalah hari yang paling “suram” karena mereka harus bekerja lagi. Malahan, seringkali kita merasa bahwa kita memasuki minggu baru dengan kelelahan. Lebih-lebih lagi, ada orang yang merasakan kelelahan semacam itu hampir setiap hari. Mengapa begitu? Dan bagaimana kita bisa mengatasi soal kesussahan hari Senin  ini? 

    Menurut ahli jiwa, masalah ini adalah suatu masalah yang bisa menjadi cukup rumit dan tidak mudah menyelesaikannya. Tetapi sebenarnya untuk orang Kristen ada cara untuk menghindarinya sebelum terlambat.

    1. Gunakan acara akhir pekan untuk hal-hal yang baik

    “Enam harilah lamanya engkau melakukan pekerjaanmu, tetapi pada hari ketujuh haruslah engkau berhenti, supaya lembu dan keledaimu tidak bekerja dan supaya anak budakmu perempuan dan orang asing melepaskan lelah.” Keluaran 23:12

    Alkitab menjelaskan bahwa setelah enam hari Tuhan bekerja dalam penciptaan alam semesta, Ia beristirahat pada hari yang ketujuh. Begitu pula, Tuhan juga memerintahkan manusia untuk beristirahat pada hari yang ke tujuh.

    Kenyataannya, di banyak negara hari Sabtu juga hari libur dan dengan demikian, dalam sepekan ada dua hari libur. Menikmati akhir pekan atau weekend sudah menjadi keharusan. Dari acara olahraga, shopping, arisan, makan di restoran, pesta dan temu kawan sampai acara  ke luar kota. Acara gereja  yang seharusnya memberi kedamaian dan istirahat, sering juga bisa berubah menjadi acara seksi sibuk tidak karuan. Tidak heran, setelah Senin datang tubuh dan pikiran kita jadi capai sekali; apalagi jika kita kurang menyukai pekerjaan kita. Tugas dan pekerjaan hanya terasa seperti beban dan hukuman dan bukannya berkat dan kesempatan.

    2. Bekerjalah seperti untuk Tuhan

    “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3:23 

    Jika kita memang bekerja untuk Tuhan, tentu kita akan mempunyai kemauan yang besar untuk mengerjakan segala sesuatu dengan sepenuh hati.

    Rencanakan segala sesuatu dengan baik, belajarlah untuk mengorganisir segala sesuatu untuk Raja kita. Siapkan acara hari Senin pada hari Jumat sebelumnya. Buatlah daftar apa yang sudah berjalan dengan baik dan apa yang perlu diperbaiki dalam tugas-tugas kita. Dengan begitu, hari Senin akan datang tanpa terlalu membawa ketegangan.

    3. Bekerjalah sambil bersyukur

    “Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita” Efesus 5: 20

    Kita harus rajin mengucap syukur walaupun mungkin itu bukan atau belum menjadi naluri kita. Ambillah waktu untuk merasakan besarnya kasih Tuhan dalam hidup kita. Jika kita mulai mengalami kesusahan hari Senin mungkin kita bisa mengambil sebuah pinsil dan selembar kertas untuk menulis apa saja berkat Tuhan kepada kita dan keluarga kita sampai saat ini. Alkitab penuh dengan anjuran untuk bersyukur dan merasa cukup dalam karunia Tuhan. Itu adalah sebuah hal yang penting untuk kebahagiaan umat percaya.

    Selamat memasuki pekan yang baru!