Berdoalah untuk musuh-musuh kita

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”. Matius 5: 44

Ayat diatas adalah ayat yang sangat terkenal karena cukup sering dikotbahkan atau dibahas. Tetapi bagi banyak orang ayat ini juga ayat “teoritis” yang lebih gampang dikotbahkan daripada dilaksanakan. Memang ayat ini membuat kontras dengan berbagai ajaran agama lain yang mengajarkan untuk membalas orang yang menyakiti mereka atau yang menghujat agama mereka. Tetapi, kalau kita tidak bisa melaksanakannya dengan benar, pemakaian ayat ini akan bisa menjadi batu sontohan.

Pertama-tama, kita harus tahu siapa dan apa yang bisa menjadi musuh kita. Musuh kita bisa merupakan musuh internal, yang ada dalam diri kita sendiri,  dan musuh external, yang datang dari luar. Musuh yang dari dalam yang bisa menghancurkan kita adalah berbagai dosa kedagingan seperti kemarahan, kesombongan, kerakusan, dll. Musuh dari luar bisa berupa manusia disekitar kita dengan segala pengaruh dan tindakan mereka. Musuh dari luar yang terbesar yang seringkali merupakan musuh yang terbesar umat Kristen adalah iblis yang bisa membuat manusia jatuh lebih parah lagi dalam dosa kedagingan dan bisa mempengaruhi orang disekitar kita untuk melakukan berbagai kekejian.

Pemakaian ayat di atas tentunya hanya untuk manusia yang disekitar kita. Tuhan Yesus sudah memberikan contoh bagaimana Ia memohon pengampunan untuk orang-orang yang menyalibkanNya (Lukas 23: 34). Begitu pula, Stefanus juga berdoa untuk pengampunan orang-orang yang merajamnya (Kisah 7: 60). Dalam kedua contoh ini, doa disampaikan kepada Allah untuk kebaikan orang yang menyakiti Yesus dan Stefanus. Kita bisa berdoa demikian untuk orang yang berbuat jahat kepada kita agar mereka juga mendapat kesempatan untuk menemukan jalan kebenaran. Kita tentunya juga harus berdoa agar kita tetap kuat dan tabah dalam menghadapi kejahatan mereka karena dengan tenaga  kita sendiri, kita tidak akan bisa bertahan.

Doa untuk musuh kita adalah doa untuk apa yang dibutuhkan mereka saat ini. Secara umum, kebutuhan utama mereka adalah pengenalan akan jalan keselamatan. Mereka yang menjahati kita mungkin belum pernah mengenal Yesus dengan benar. Seperti Tuhan yang mengasihi seisi dunia, kita juga harus mau mengasihi semua orang termasuk mereka yang menyakiti kita dengan mendoakan agar mereka bisa bertobat. Selain itu, ada hal-hal lain yang mungkin dibutuhkan oleh musuh-musuh kita. Ada kemungkinan mereka memusuhi kita karena mereka kurang pendidikan, tidak sadar akan adanya hukum dan etika sehingga mudah dipengaruhi oleh orang lain atau suasana sekitar mereka. Ada juga mereka yang hidup kekurangan, sehingga mereka cenderung untuk jatuh dalam dosa iri hati, mencuri, merusak dll. Kita bisa berdoa untuk kebaikan mereka dan jika itu terjadi akan membawa kebaikan kepada kita sendiri dan masyarakat.

Pelaksanaan doa diatas agaknya lebih sulit untuk orang-orang yang menjahati orang disekitar kita karena kita sendiri tidak mengalami kejahatan mereka secara langsung. Kita mungkin tidak bisa membayangkan kejahatan apa yang sudah mereka lakukan dan apa yang menyebabkannya. Tetapi dalam hal inipun, kita tetap bisa mendoakan agar mereka dapat diperkenalkan kepada Yesus dan bisa bertobat. Dalam hal ini sudah tentu kita harus juga memusatkan doa kita untuk korban-korban kejahatan mereka, agar mereka dilindungi dan dikuatkan Tuhan. Kita harus bisa ikut sehati dengan mereka yang dianiaya dan menderita (Roma 12:15).

Bagaimana dengan orang-orang jahat yang melakukan teror dan kejahatan keji kepada saudara-saudara seiman dan masyarakat umum? Perlukah kita mengasihi mereka dan berdoa agar mereka diberkati? Sekali lagi kita bisa berdoa untuk apa yang dibutuhkan oleh mereka dan korban mereka. Apa yang mereka butuhkan, nomer satu,  adalah Yesus Juru Selamat. Kita bisa berdoa agar dalam keadaan apapun, mujizat Tuhan bisa terjadi, yang bisa membawa banyak orang kepada jalan keselamatan. Mereka yang jahat membutuhkan pengenalan akan hukum dan rasa kemanusiaan dan untuk itu kita bisa berdoa agar aparat hukum dan negara bisa melaksanakan tugasnya dengan baik. Jika mereka membutuhkan perawatan medis/psikologis, biarlah Tuhan menolong menyembuhkan mereka agar tidak lagi membawa bahaya untuk orang lain di masa depan.

Bagaimana jika kejahatan yang keji itu terus berlangsung? Jika kita sudah berdoa untuk perubahan hidup mereka tetapi mereka tetap tidak kunjung berubah, mungkin kita harus berdoa menyerahkan mereka sepenuhnya kepada Tuhan, agar Tuhan memakai apa yang berkenan kepadaNya untuk menghentikan kejahatan mereka. Jika mereka yang jahat itu pada akhirnya akan menemui hukum yang setimpal, kita hanya bisa berdoa agar mereka tidak terlambat untuk menemui jalan keselamatan.

Berdoa untuk musuh kita bukanlah hal yang mudah. Tetapi jelas bahwa kita harus berdoa untuk apa yang mereka butuhkan. Untuk itulah kita harus juga berdoa agar kita diberi kemampuan untuk bisa melihat apa yang mereka butuhkan untuk perubahan hidup mereka.

Apakah dunia ini makin jahat?

“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Matius 24: 12

Membaca berita dunia beberapa hari yang lalu, tidak bisa tidak kita merasa sedih bagaimana hidup manusia sekarang ini sepertinya berjalan secara acak. Seorang yang lagi menikmati hidup sehari-harinya tiba-tiba diakhiri hidupnya secara tragis oleh orang lain. Tuhan agaknya lagi tidur dan setan lagi berpesta!

Sebaliknya, jika kita bisa memilih antara hidup di jaman sekarang dan hidup pada waktu 100-200 tahun yang lalu, barangkali kita akan memilih hidup di jaman sekarang. Bagaimana tidak? Ilmu kedokteran, hukum, ekonomi dan teknologi jaman ini sudah jauh lebih maju sehingga pada umumnya manusia di dunia ini kelihatannya hidup lebih aman, lebih sehat dan lebih berkecukupan dari mereka yang hidup di abad ke 19.

Mereka yang mengeluh karena banyaknya kejahatan yang tidak terduga dijaman ini juga mengeluh akan adanya hal-hal seperti:

  • kemunduran moral di kalangan anak muda
  • betambah banyaknya “agama’ yang mengajarkan ajaran sesat
  • bertambahnya sarana untuk membunuh manusia dengan aborsi, eutanasia, persenjataan nuklir/kimia dll.
  • kerancuan dalam masalah persamaan hak azasi dan kebebasan seksual
  • perubahan kestabilan lingkungan dunia yang disebabkan oleh berbagai hal.

Sebagian orang Kristen sebagian percaya bahwa kita hidup di jaman ‘edan” yang makin lama makin buruk, sebelum Yesus datang kembali. Alkitab mengatakan bahwa:

“….orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan.” 2 Timotius 3:13

Tidaklah mengherankan bahwa kita melihat adanya guru-guru agama dan pemimpin golongan yang menggunakan berbagai dalih-dalih  dan dasar-dasar keagamaan yang sesat untuk mengacaukan hidup banyak manusia di dunia.

Sebagian orang Kristen yang lain percaya bahwa kita hidup di jaman yang baik dengan bertambah majunya kemungkinan untuk mengabarkan Injil ke seluruh penjuru dunia. Keajaiban terjadi di banyak tempat dan penginjilan bisa terjadi di negara-negara yang dulunya tertutup total untuk Injil.

Jadi mana yang benar? Dunia kita bertambah baik atau bertambah buruk? Ayat diatas mengatakan bahwa kedurhakaan manusia makin banyak dan kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin. Memang jika kita menonton TV, membaca internet/koran dll., agaknya kita sudah terbiasa membaca berita tentang peperangan, teorisme, kelaparan dll. sehingga kita hanya culup mengangkat bahu dan setelah itu melupakannya. Asalkan hidup kita tidak terganggu?

Apakah dunia ini bertambah jahat atau tidak? Haruskah kita kuatir akan kejadian-kejadian di sekitar kita dan hal-hal yang buruk yang diberitakan media? Bukankah keadaan-keadaan itu berkaitan dengan kedatangan Kristus untuk kedua kalinya?

Tidak ada seorangpun yang tahu apakah kita hidup di jaman yang makin buruk atau di jaman baik. Kedatangan Yesus tidak ada seorangpun yang bisa meramalkan bagaimana dan kapan akan terjadi.

“Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri.” Matius 24:36

Dunia sudah mengalami banyak hal-hal yang jahat dan kejam sebelumnya, dan begitu juga umat Tuhan. Tetapi hidup manusia berjalan terus. Tetapi kemungkinan adanya kejahatan/ persoalan yang besar, bahkan yang sangat besar, memang lebih bisa disadari oleh umat manusia dalam hidup sehari-hari. Apa yang harus kita perbuat?

Alkitab mengatakan bahwa dalam keadaan apapun, iman kita harus tetap teguh. Itulah yang paling penting. Ajarlah anak-cucu kita untuk takut akan Tuhan dan berserah kepadaNya. Apapun yang terjadi di dunia, kita tahu bahwa Tuhan akan membawa kita ke arah yang baik sesuai dengan rencanaNya. Jika kita menghadapi tantangan apapun, kita harus tetap bisa bernaung dalam kasihNya dan menyatakan kasih kita kepada semua orang dan tidak hanya kepada orang seiman saja.

“Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.”   Yohanes 9: 4

 

 

Berbahagialah orang yang bisa marah…

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” Efesus 4:26-27.

Bolehkah kita marah? Tidak boleh? Boleh sedikit-sedikit? Kadang-kadang? Kalau perlu? Begitu banyak kemungkinan jawaban orang yang “agamis”.  Umumnya masyarakat berpendapat bahwa orang yang agamis tidak seharusnya gampang marah; mereka harus sabar dan bijaksana. Tidak pernah memakai kata-kata “keras”, memaki apalagi mengutuk orang lain. Memang kemarahan seseorang bisa merupakan penampakan hidup yang tidak baik.

Baru-baru ini ada berita bahwa seorang dokter bedah di Melbourne luka parah gara-gara dipukul oleh seorang pria di rumah sakit. Kejadian bermula dengan pria yang merokok dalam kompleks rumah sakit. Merokok di tempat umum adalah dilarang di Australia. Sang dokter yang melihat pria itu merokok kemudian memperingatkan agar ia berhenti merokok. Pria itu jadi marah dan memukul kepala dokter itu dari belakang sehingga dokter itu terjatuh dan membenturkan kepalanya dengan keras ke lantai. Sang dokter sekarang masih dalam perawatan ICU dan kemungkinan besar, kalaupun ia bisa tetap hidup, akan tidak bisa hidup normal lagi. Si pria yang memukul sekarang dalam tahanan polisi. Sungguh menyedihkan bukan? Dokter yang “marah” karena melihat hal yang tidak benar, dan si pemukul yang marah karena tidak mau ditegur. Rupanya ada marah yang benar dan ada marah yang salah.

Menurut ilmu psikologi, kemarahan adalah reaksi manusia yang normal. Orang yang normal pasti pernah marah. Kemarahan adalah sarana pelepasan emosi yang jika dipendam akan mengakibatkan gangguan kejiwaan yang serius. Sebaliknya, kemarahan yang tidak terkekang bisa mengakibatkan berbagai masalah dan kemungkinan disebabkan oleh gangguan/masalah kejiwaan yang sudah berlangsung cukup lama. Kemarahan yang tidak terkendali mungkin juga bisa diakibatkan oleh penggunaan miras dan narkoba. Tetapi, seperti kegembiraan yang tidak selalu mengandung arti baik, kemarahan tidak selalu mengandung arti buruk. Benarkah?

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.” Matius 5:22

Alkitab menunjukkan bahwa baik Yesus  (Matius 5. 22) maupun Paulus  (Efesus 4:26-27) mengajarkan bahwa kemarahan itu tidak baik atau seharusnya tidak berlarut-larut. Namun kita juga tahu bahwa Yesus dan Paulus kadang-kadang marah. Jelas bahwa ada kemarahan yang benar dan ada yang salah. Kemampuan manusia untuk marah semestinya sudah ada sejak penciptaan karena manusia adalah peta dan teladan Allah. Kita tahu bahwa Tuhan  terkadang menghajar anak-anakNya karena kasihNya. Ia bisa marah dalam kasihNya.

“Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Ibrani 12: 6

Tuhan yang mahakasih menghendaki kita untuk mengasihi sesama kita dan karena itu sudah semestinya kita boleh marah jika kemarahan kita berdasarkan kebenaran dan kasih. Masalahnya, apakah kemarahan yang benar dan berdasarkan kasih itu? Bagaimana kita bisa mengendalikan kemarahan kita supaya itu tidak menjadi dosa? Bagaimana kita menggunakan kemarahan kita untuk kebaikan? Karena ini tidak mudah dijawab atau dilaksanakan, banyak orang Kristen yang menghidari kemarahan dengan berusaha diam, pasip, dan melupakan apa yang salah. Dengan demikian apa yang buruk di sekelling mereka dibiarkan saja.

Kemarahan yang benar adalah kemarahan yang memuliakan Tuhan dan membangun kasih diantara manusia. Kemarahan yang hanya dilandaskan ego dan kepentingan diri sendiri bukanlah kemarahan yang benar. Kemarahan yang berlarut-larut tanpa usaha penyelesaian dan perbaikan hubungan tidak akan membangun kasih melainkan memperbesar rasa dendam yang bisa dipakai iblis untuk menyerang dan menghancurkan kita secara spiritual maupun fisik. Kemarahan yang baik adalah rasa peduli untuk kebaikan seluruh masyarakat bukan untuk membela golongan sendiri saja. Sudahkah kita menggunakan kemarahan kita dengan benar?

Pipi kanan ditampar, kasih pipi kiri sekalian

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” Matius 5: 39

Semua orang yang gemar membaca Alkitab tentu pernah menjumpai ayat-ayat yang sulit dimengerti. Kata pendeta, kalau kita sering membacanya, lama-lama kita akan mengerti juga. Tapi sesudah mengerti artinya, kita masih sering bingung bagaimana cara menjalaninya. Repot kan?

Ayat diatas adalah salah satu dari banyak ayat yang sukar dimengerti dan sulit dilaksanakan. Bagaimana pula tidak?  Kita diharapkan agar mau menjadi bulan-bulanan untuk dipukuli orang sekalipun kita tak bersalah! Mana tahan?

Dalam sejarah gereja, banyak orang Kristen yang menjadi mengalami berbagai penganiayaan, hukuman dan bahkan mati disiksa karena kepercayaan mereka. Sampai sekarangpun, kejadian semacam ini masih terjadi dimana-mana, malahan rasanya makin parah. Apakah kita harus berdiam diri menghadapi serangan orang-orang jahat dan mempersilahkan mereka berbuat semaunya atas diri kita?

Soal menampar dan ditampar bukan soal remeh, baik di jaman dulu maupun jaman sekarang. Rasa sakit karena muka ditampar biasanya bertambah dengan rasa malu karena diperlakukan semena-mena. Di jaman sekarang, pelaku penamparan bisa berurusan dengan hukum, jika hukum masih berlaku. Di lain pihak banyak kejadian kekerasan semacam ini yang tidak dilaporkan. Penamparan secara fisik maupun batin masih sering terjadi baik di dalam rumah tangga, tempat bekerja dan masyarakat umum.

Yesus berkata bahwa jika seseorang menampar pipi kanannya, ia harus mengalihkan wajahnya agar pipi kirinya bisa ditampar juga. Pada umumnya orang menampar dengan tangan kanan kecuali untuk orang kidal. Dengan tangan kanan, orang tidak bisa menampar pipi kanan kita dengan telapak tangannya. Menampar pipi kanan dengan tangan kanan hanya bisa dilakukan dengan punggung tangan!

Penamparan dengan punggung tangan adalah penghinaan terhadap seseorang, bukan dengan maksud untuk melukai secara fisik. Yesus tidak bermaksud bahwa kita membiarkan orang lain menganiaya kita sehingga tubuh kita hancur lebur, tetapi Ia bermaksud agar kita tabah menghadapi penghinaan orang lain dan tidak membalas dendan atau membuat reaksi yang memperburuk suasana.

Penamparan dengan punggung tangan di jaman modern ini tidak harus terjadi secara nyata, tetapi juga banyak di dunia maya. Begitu banyak orang Kristen yang terseret arus serang-menyerang melewati berbagai media. Suasana kebencian dan permusuhan timbul dalam masyarakat dan negara akibat berbagai situs internet, gossip dan berita palsu. Bagaimana seharusnya kita bereaksi akan penistaan atas diri kita, keluarga dan kelompok kita?

Memberikan pipi yang lain tidak dimaksudkan untuk menghina, menantang atau membalas si penyerang. Sebaliknya itu merupakan pernyataan bahwa “aku tidak akan membalas perbuatan jahatmu dengan perbuatan serupa”. Juga bisa diartikan “aku tidak akan bereaksi walaupun aku dipermalukan karena Kristus ada didalamku”.

Yesus adalah Tuhan kita yang sudah memberi contoh bagaimana Ia, sebagai anak Allah sudah merendahkan diriNya untuk menyelamatkan umat manusia. Yesus mengajarkan kita untuk bersabar menghadapi penghinaan orang lain, dan Ia sendiri melakukan apa yang diajarkanNya. Sebagai akibat dari cara hidup Yesus itu, tak terhitung orang yang berubah hidupnya, termasuk kita sendiri. Jika kita mentaati ajaran Yesus, pasti juga banyak orang yang bisa berubah menjadi pengikut Yesus yang setia.

Semoga kita bisa hidup dalam kedamaian Kristus.

Matematik untuk orang Kristen

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. Mazmur 90: 12

Buat sebagian orang, kata “bijaksana” adalah identik dengan kata “pandai”. Karena itu ada istilah “orang bijaksana” alias “orang pandai”, orang yang bisa diminta untuk memberi petunjuk penyelesaian masalah. Di lain pihak, kita tahu bahwa orang yang pandai, yang bertitel sarjana misalnya, belum tentu bijaksana. Orang yang demikian mungkin saja sering berbuat sesuatu tanpa memikirkan akibat jangka panjang atau akibat perbuatannya pada orang lain.

Memang kalau soal kepandaian, di jaman ini setiap orang tua berhasrat dan berharap anak-anaknya bisa bersekolah setinggi mungkin agar bisa mendapatkan masa depan yang cerah dengan karir mereka. Salah satu keahlian yang diharapkan dari anak-anak jaman sekarang adalah keahlian hitung-menghitung karena itu memang dibutuhkan hampir di semua bidang. Dengan keahlian matematika dan teknologi komputer masa depan mereka akan lebih terjamin. Benarkah begitu?

Memang sebagai orang Kristen kita percaya bahwa segala yang baik dan berguna berasal dari Tuhan. Matematika adalah huruf-huruf yang dipakai Tuhan untuk menciptakan alam semesta, begitu kata Galileo Galelei, orang pandai dari abad ketujuh belas. Pemazmur diatas, agaknya setuju bahwa kita harus bisa menghitung untuk menjadi orang pandai. Menghitung apa? Menghitung hari-hari yang akan datang, dalam arti mencari tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita? Aaah..siapa yang tahu apa yang ada di masa depan? Haruskah kita menjumpai “orang pandai” alias ahli nujum untuk itu?

Pemazmur sebenarnya bermaksud untuk menginsafkan manusia agar mereka sadar bahwa umur manusia adalah terbatas. Dalam kurun waktu yang singkat itu kita harus sadar bahwa Tuhan mempunyai kuasa mutlak atas apapun dalam hidup kita. Tuhan tetap bekerja dalam hidup kita teapi tidak terikat oleh waktu yang dihitung manusia. 

Dalam waktu kita yang singkat di dunia, kita harus sadar akan keterbatasan kita dan karena itu kita harus memakai hidup kita dengan sebaik-baiknya untuk memuliakan Tuhan. Tuhanlah yang memberi kesempatan agar anak-anakNya untuk hidup dengan kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik dan sehingga kita  selalu siap untuk menjawab panggilanNya dalam hidup kita.

“Ajarkanlah kepadaku kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik, sebab aku percaya kepada perintah-perintah-Mu.” Mazmur 119: 66

Ada musim ada Tuhan, ada Tuhan ada musim

Mereka tidak berkata dalam hatinya: “Baiklah kita takut akan TUHAN, Allah kita, yang memberi hujan pada waktunya, hujan pada awal musim maupun hujan pada akhir musim, dan yang menjamin bagi kita minggu-minggu yang tetap untuk panen.” Jeremia 5: 24

Jika dibandingkan dengan iklim Indonesia, Israel punya kemiripan yaitu adanya dua musim saja yaitu “stav” yang diterjemahkan sebagai musim gugur, dan “aviv” yaitu musim semi. Stav adalah musim dimana hujan datang dan aviv adalah musim panas dan musim panen. Dengan bergantinya musim umat Isreael dingatkan bahwa segala sesuatu ada  waktunya dan Tuhanlah yang punya kuasa atas segalanya. Semua terjadi karena pemeliharaan Tuhan. 


Musim gugur di Yerusalem.

Bagi manusia yang tidak percaya atau taat kepada Tuhan, hidup ini terjadi karena hukum alam dan usaha manusia belaka.  Kalaupun ada hal yang tak terduga, itu adalah faktor kebetulan dan acak saja. Oleh sebab itu bagi mereka tidak ada istilah takut kepada Tuhan.

Sebaliknya, bagi kita orang beriman, hidup ini adalah diatur oleh Tuhan. Tidak ada yang kebetulan. Seperti bani Isreael, kita harus sadar bahwa setiap musim adalah suatu waktu yang istimewa yang mengingatkat akan janji Tuhan kepada Nuh:

“Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.” Kejadian 8:22

Berbeda dengan Israel dan Indonesia, sebagian besar dari benua Australia punya 4 musim: semi, panas, gugur dan dingin. Tetapi sama dengan penduduk negara lain, berkat penyertaan Tuhan juga bisa dirasakan umatNya dalam setiap musim.

Labu raksasa dari Melbourne tumbuh pada musim semi dan musim panas. 

Dua hari lagi musim dingin akan datang di Australia. Suhu makin dingin (kalau pagi bisa 5 derajat Celcius di tempat kami) dan daun-daun pohon tertentu sudah tidak banyak tersisa. Musim dingin memang bisa membuat orang jadi takut keluar dari selimut di pagi hari, namun musim ini juga musim yang dinanti-namtikan sebagian orang karena itu memberikan kesempatan untuk menikmati suasana, aktivitas, makanan dan pakaian yang berbeda.  

Musim bukan hanya merupakan pergantian suhu udara; musim juga melambangkan variasi hidup manusia di dunia. Ada saat di mana kita merasa sedih, terharu dan  berduka; tetapi ada juga saat dimana kita bisa bersuka dan bergembira. Baiklah kita selalu mengingat bahwa segala sesuatu terjadi karena Tuhan ada, dan karena Tuhan ada segala sesuatu berjalan dengan semestinya. Mungkin kita kurang menyukai musim tertentu, tetapi keyakinan bahwa Tuhan menyertai kita dalam musim apapun akan menguatkan kita dalam berjuang dan hidup hari demi hari!

Hakikat manusia: baik atau jahat?

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” Roma 3: 23

Semua agama di dunia ini mengajarkan bahwa pada hakikatnya manusia adalah baik; kecuali agama Kristen yang mengajarkan bahwa semua orang sudah berdosa sejak awalnya. Tetapi, bukankah Tuhan menciptakan manusia menurut peta dan teladanNya? Apakah Ia menciptakan manusia sebagai mahluk yang jahat?

Pertanyaan ini memang agak membingungkan karena jawabnya bergantung pada apa arti hakikat itu. Hakikat bisa diartikan kenyataan yang sebenarnya. Kalau demikian, jelas manusia diusir dari taman Firdaus karena kenyataannya mereka tidak mempunyai sifat yang baik.

Memang manusia diciptakan Allah sebagai ciptaan yang sempurna, tetapi dengan kemampuan untuk memilih apa yang baik dan yang buruk. Dengan berbuat dosa, Adam dan Hawa jelas membuat apa yang merusak apa yang mulanya baik, menjadi sesuatu yang buruk. 

Walaupun Tuhan memberikan hidup yang nyaman di taman Firdaus, Adam dan Hawa lebih percaya kepada tipuan manis si iblis. Dosa yang diperbuat Adam dan Hawa sejak itu diwariskan kepada semua manusia.

Banyak orang yang jika mereka melihat seorang bayi yang menderita karena suatu sebab, akan berpikir bahwa sang bayi sungguh malang karena dia yang kecil dan tidak berdosa itu harus menderita. Tetapi Alkitab berkata bahwa manusia dilahirkan sebagai manusia yang berdosa sejak dalam kandungan.

“Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.” Mazmur 51:5

Jika manusia mempunyai hakikat yang baik, manusia tidak memerlukan penebusan. Manusia akan bisa bekerja keras untuk memperbaiki dirinya sendiri, mungkin dengan hidup menurut hukum-hukum tertentu atau dengan berbuat baik. Itulah yang diajarkan agama-agama lain, termasuk agama-agama modern yang mengajarkan bahwa hidup kita di tangan kita sendiri.

Kenyataannya, Tuhan adalah mahasuci dan manusia setelah jatuh dalam dosa hanya bisa bergantung kepada kehendak sang Pencipta. Tanpa pertolongan sang Pencipta, barang yang sudah rusak itu tidak dapat memperbaiki dirinya sendiri. Apa yang bisa kita lakukan hanyalah menyerahkan hidup kita ke dalam tanganNya!

“Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya.” Roma 3: 25

Awas banyak barang imitasi!

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.” Matius 7: 15

Tadi pagi, sewaktu saya berjalan-jalan sepanjang Queen Street mall di Brisbane saya kaget melihat banyaknya orang yang berkerumun, sepertinya menonton sesuatu. Sayapun memaksakan diri untuk melihat apakah yang menarik perhatian orang-orang itu. Astaga… ternyata ada pertunjukan orang melayang! Pantas begitu banyak orang yang nonton karena ini jarang ada di Australia, walaupun banyak di India. Saya lihat orang itu mendapat banyak uang dari para penonton yang terpesona..

Pertunjukan orang “melayang” atau dalam bahasa Inggrisnya adalah levitation, biasanya memberi kesan bahwa orang tersebur mempunyai kegaiban atau tenaga ajaib yang melawan daya tarik bumi. Bagi orang tidak tahu triknya, ini adalah keajaiban!  Mereka yang tahu sudah barang tentu tidak lagi tertarik akan tipuan mata itu. Orang itu bisa melayang karena duduk di atas kursi gantung dari besi yang didesain khusus untuk mengelabui penonton yang tidak waspada.

Kalau pertunjukan ini hanyalah untuk tontonan semata, ada sesuatu yang jauh lebih serius yang Tuhan Yesus katakan. Berhati-hatilah akan adanya nabi-nabi palsu yang menyamar sebagai pemimpin-pemimpin gereja yang nampaknya baik dan suci, namun mereka adalah anak-anak setan yang berusaha menarik kita ke arah yang sesat! 

Sejarah membuktikan adanya berbagai “show” pendeta-pendeta aspal yang hanya membuat orang kagum akan penampilan mereka, yang menarik jemaat untuk menyumbangkan materi untuk kepentingan mereka, yang mengajarkan  keberhasilan duniawi sebagai tanda iman yang benar. Yesus berkata bahwa mereka semua hanya srigala buas yang mencari mangsa!

Bagaimana kita bisa membedakan “nabi asli” dari “nabi palsu”? Dari buahnya! Nabi asli menomer satukan Yesus, dan bukan diri sendiri. Nabi asli mengajarkan keselamatan jiwa dan bukan kesuksesan hidup duniawi. Firman Tuhan lebih dipentingkan daripada soal jumlah jemaat. Mereka yang asli juga mempunyai kasih yang besar untuk semua orang dan bukan cuma jemaatnya sendiri, apalagi orang-orang tertentu saja.

Selamat hari minggu dan selamat berbakti kepada Tuhan,

Bila madesu menghantui dunia

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55: 8-9

Masih ingatkah anda akan istilah “madesu”? Istilah ini muncul di tahun 1980an dan menjadi sangat populer dikalangan anak muda. Istilah ini sampai sekarang masih dipakai sebagai bahasa gaul yang berarti “masa depan suram”.

Dengan keadaan dunia ekonomi, pendidikan dan pekerjaan di banyak negara di dunia, istilah madesu kembali muncul terutama sebagai kata olok-olok yang ditujukan kepada anak muda yang kurang berhasil dalam sekolah atau pekerjaannya. Di negara barat, terkadang istilah “hopeless generation” dipakai untuk Generasi Y yang saat ini cenderung terbelakang dalam status pendidikan, ekonomi dan sosial.

Hingga saat ini, apabila kita membaca berbagai literatur yang mendiskusikan tentang Generasi Y, tidak pernah ada suatu kesepakatan kapan generasi ini dimulai. Sebahagian literatur menetapkan bahwa mereka adalah generasi yang lahir di awal tahun 1980-an, namun banyak juga literatur yang menetapkan bahwa generasi ini lahir di awal, di tengah bahkan di akhir 1990-an.

Di belahan bumi manapun, belum ada kesepakatan tentang Generasi Y ini. Di Australia, para ahli belum menyepakati kapan persisnya Generasi Y ini muncul dan kapan pula tepatnya generasi ini berakhir. Pemerintah Australia sendiri melalui badan statistiknya, menetapkan 1982–2000 sebagai masa Generasi Y.

Banyak orang tua, guru dan atasan yang mengeluh bahwa Generasi Y, yang lahir setelah penggunaan komputer dan  internet menjadi populer dalam masyarakat, kurang mau bekerja keras sekalipun pasti tidak gaptek.  Generasi ini sering dituduh senang berfoya-foya dan berhura-hura. Generasi ini dikatakan sebagai generasi “malas” yang punya madesu.

Pada pihak yang lain, Generasi Y ini yang nantinya akan terbebani lebih berat sesudah generasi-generasi sebelumnya pensiun. Memang populasi negara barat sekarang ini umumnya didominasi oleh para “senior”, alias orang lanjut usia. Jika mereka pensiun, ongkos pemeliharaan mereka tentunya harus dibayar oleh Generasi Y, yang lebih kecil jumlahnya. Karena itu, banyak Generasi Y yang merasa bahwa masa depan mereka tidak secerah generasi- generasi sebelumnya wakaupun mereka hidup ditengah kemajuan teknologi.

Bagaimana masa depan manusia di tahun-tahun mendatang, tidak seorangpun yang pasti. Keadaan ekonomi dunia bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor. Keamanan dunia jelas agak goncang akhir-akhir ini, dan dengan itu keyakinan kita akan tertib hukum juga berkurang. Apa yang akan terjadi dalam hidup kita dan anak cucu kita di masa mendatang, tidak ada seorangpun yang tahu. Namun, buat orang yang beriman selalu ada keyakinan bahwa Tuhan akan menggenapi semua rencanaNya, dan itu baik untuk semua anak-anakNya.

“Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu.” Mazmur 116: 7

Ada banyak jalan ke Roma

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6

Sewaktu saya di SD, guru saya memperkenalkan peribahasa yang mengatakan bahwa ada banyak jalan menuju Roma, yang artinya ada banyak cara mencapai ke satu tujuan. Peribahasa ini sebenarnya bukan asli Indonesia, tetapi berasal dari Eropa pada abad pertengahan. “All Roads Lead to Rome” adalah peribahasa yang serupa dalam bahasa Inggris yang mengatakan bahwa semua jalan menuju ke Roma!

Sekarang, sesudah bertualang di dunia baik secara nyata maupun maya, saya jadi makin sadar akan kekeliruan arti peribahasa diatas. Mengapa? Teryata, nama tempat Roma itu bukan hanya satu di dunia. Malahan di Indonesia juga ada desa Roma yang merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Omesuri, kabupaten Lembata, provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Ada beberapa kota di dunia ini yang dinamakan Roma termasuk satu kota kecil yang  di negara bagian Queensland, Australia. Jarak kota kecil berpenduduk sekitar 7000 orang ini dari kota Toowoomba dimana saya tinggal, kurang lebih 350 km.


Kota Roma di Australia ini tidak bisa dibandingkan dengan kota Roma yang asli di Italia. Kota Roma di Italia adalah kota kosmopolitan, ibukota yang berpenduduk hampir 3 juta orang! Walaupun demikian, kota Roma di Australia boleh berbangga sebagai tempat penghasil sapi terbesar di belahan selatan dunia yang tiap tahun menghasilkan 400 ribu ekor sapi.

Hotel dan bar di Roma, Australia

Seperti peribahasa “ada banyak jalan menuju Roma”, kita menghadapi berbagai pendapat manusia modern, yang mungkin dengan alasan toleransi dan kebijakan, mengatakan bahwa ada banyak jalan menuju kebahagiaan sejati. Ada banyak agana yang mengajarkan berbagai cara untuk hidup bahagia, cara mencapai surga dan cara menemui Tuhan semesta alam.

Dengan “kemajuan” pemikiran manusia, banyak juga yang berpendapat bahwa asal hidup kita diisi kebajikan, pada saatnya kita akan sampai ke “Roma”, surga yang kita impikan. Juga dengan pengenalan akan agama dan ajaran yang beraneka ragam, manusia cenderung untuk menggabungkan segi-segi yang baik dari berbagai sumber untuk dijadikan pedoman hidup modern. Tambahan lagi, ada ajaran-ajaran praktis yang meningkatkan kesehatan jasmani manusia dengan bonus perbaikan spiritual dan ketenteraman pikiran.

Alkitab membenarkan bahwa ada banyak jalan ke “Roma”. Tetapi hanya satu “Roma” yang benar dan asli. Ada banyak kota yang dinamakan “Roma”, tetapi ada satu saja “Roma” yang tulen. Tiap jalan yang dipilih manusia bisa menuju ke salah satu “Roma”, tetapi hanya satu jalan yang menjuju ke arah yang benar. Hanya melalui Yesus kita akan memperoleh hidup yang kekal di surga!

“Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka. Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu, dan karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat.” 2 Petrus 2: 1-2