Hidup kita ditonton banyak orang

Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. Ibrani 12: 1-2


Ayat di atas bunyinya menarik. Penulisnya (kemungkinan bukan Rasul Paulus) menasihati semua orang yang mengaku beriman kepada Yesus Kristus, “pemimpin dan penyempurna iman kita”, untuk melakukan dua hal. Pertama, kita harus menyingkirkan atau melepaskan beban apa pun yang menjauhkan kita dari keserupaan dengan Kristus, terutama dosa karena dosa menjerat kita dan membuat kita terikat padanya. Kedua, kita harus bertekun, dengan sabar menanggung segala sesuatu sampai kita bertumbuh dan dewasa dalam iman. Yakobus mengingatkan kita bahwa pencobaan berguna untuk menguatkan iman kita dan membawa kita kepada kedewasaan (Yakobus 1:2-3). Ibrani 12:1 mengingatkan kita untuk bertekun melewati pencobaan itu, mengetahui bahwa, oleh kesetiaan Allah, kita tidak akan dikalahkan olehnya (1 Korintus 10:13).

Lalu siapa “awan saksi” itu, dan bagaimana mereka “mengelilingi” kita? Untuk memahami hal ini, kita perlu melihat pasal sebelumnya, sebagaimana dibuktikan dengan kata “karena” pada awal pasal 12. Kita tahu bahwa Abraham, Ishak, Yakub, dan orang percaya dari Perjanjian Lama lainnya menantikan dengan iman kedatangan Mesias. Penulis Ibrani mengilustrasikan hal ini dengan fasih dalam pasal 11 dan kemudian mengakhiri pasal tersebut dengan memberi tahu kita bahwa nenek moyang memiliki iman untuk membimbing dan mengarahkan mereka, tetapi Tuhan memiliki rencana yang lebih baik. Kemudian dia memulai pasal 12 dengan merujuk pada pria dan wanita setia yang membuka jalan bagi kita. Apa yang dinantikan oleh orang-orang percaya Perjanjian Lama dalam iman—Mesias—kita lihat kembali, setelah melihat penggenapan semua nubuat tentang kedatangan-Nya yang pertama.

Kita dikelilingi oleh banyak saksi, yaitu orang-orang kudus di masa lalu dengan cara yang unik. Bukan berarti umat beriman yang telah pergi sebelum kita sekarang menjadi penonton perlombaan yang kita jalankan. Sebaliknya, itu adalah representasi kiasan dan berarti bahwa kita harus bertindak seolah-olah mereka ada di depan mata dan menyemangati kita untuk kemenangan yang sama dalam kehidupan iman yang mereka peroleh. Kita harus diilhami oleh teladan saleh yang diberikan orang-orang kudus ini selama hidup mereka.

Perlu dicatat, bahwa istilah orang kudus dalam Alkitab bukan berarti mereka tidak berdosa, tetapi orang yang dibuat kudus oleh Tuhan. Inilah mereka yang kehidupan imannya di masa lalu mendorong orang lain untuk hidup seperti itu juga. Bahwa awan disebut sebagai “menglilingi kita” menunjukkan bahwa jutaan orang percaya telah mendahului kita, masing-masing memberikan kesaksian yang mendukung kehidupan iman yang kita jalani sekarang.

Pagi ini kita harus sadar bahwa orang yang sudah dikuduskan oleh darah Kristus adalah orang-orang yang penuh cacat cela dan dosa, yang sudah lahir baru. Itu bukan berarti kita tidak bisa berbuat dosa lagi dan sudah sempurna. Tetapi, kita yang sudah dikaruniai Roh Penolong harus selalu berusaha menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Kita yang sudah menjadi orang-orang kudus adalah “saksi” atau teladan untuk generasi mendatang. Kita harus mau mengilhami orang lain dengan teladan kesalehan hidup kita selama di dunia!

Apakah Anda bersyukur atas anugerah Tuhan?

Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. Lalu Yesus berkata: ”Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu: ”Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Lukas 17:15-19

Lukas 17:11–19 mencatat tentang sepuluh pria yang menderita penyakit kulit menular, umumnya diterjemahkan sebagai “kusta.” Dalam komunitas Israel, ketika seseorang menemukan ruam atau kelainan kulit, dia harus pergi ke imam untuk diperiksa. Imam kemudian menentukan apakah itu penyakit menular dan apakah orang itu harus dinyatakan najis (Imamat 13:1). Hukum Yahudi melarang siapa pun dengan penyakit seperti itu untuk bergaul dengan masyarakat umum. Mereka harus diasingkan dan hidup sebagai orang buangan sampai mereka mati (Imamat 13:45-46). Hal ini diperlukan agar penyakit menular tidak menjadi wabah. Tapi, bagi mereka yang menderita, itu adalah hukuman seumur hidup.

Yesus telah menyembuhkan beberapa orang yang menderita kusta atau sejenis penyakit kulit menular (Lukas 5:12–14; Markus 1:40–42; Matius 8:2–3; 11:5). Dalam Lukas 17 sepuluh orang yang merupakan bagian dari koloni penderita kusta mendekati Dia bersama-sama, tetapi mereka tetap menjaga jarak, sesuai dengan hukum. Mereka berseru kepada-Nya, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Tanpa melakukan apapun untuk menyembuhkan mereka, Yesus hanya memberikan instruksi untuk pergi memperlihatkan diri kepada imam. Dan mereka menurut! Mengapa bisa begitu?

Pada saat pengajaran Yesus, orang-orang itu masih penderita kusta. Belum ada perubahan fisik yang terjadi. Tapi, dalam iman, orang-orang itu patuh. Ketika mereka mulai berjalan ke arah imam, mereka sembuh. Yesus selalu menuntut iman dari pihak orang yang meminta kesembuhan. Iman adalah datang dari Tuhan sebab manusia tidak mampu untuk percaya dengan usaha sendiri, tetapi iman hanya bisa diperlihatkan oleh mereka yang sudah beriman. Berkali-kali Dia bertanya kepada mereka yang ingin disembuhkan, “Apakah kamu percaya bahwa Aku dapat melakukan ini?” (misalnya, Matius 9:28; Markus 9:20–24). Dia membutuhkan demonstrasi iman dari pihak penderita kusta dengan meminta mereka pergi, bahkan sebelum Dia menyembuhkan mereka. Tuhan berfirman, manusia meresponi.

Alkitab tidak mencatat seberapa jauh mereka berjalan sebelum disembuhkan. Namun, hanya satu orang yang kembali untuk berterima kasih kepada Yesus atas kesembuhannya. Lukas menyebutkan secara khusus fakta bahwa orang yang kembali itu adalah seorang Samaria, seorang yang dibenci oleh orang Yahudi (Lukas 17:15). Yesus mengungkapkan kekecewaannya karena sembilan orang lainnya tidak berpikir untuk memuji Tuhan atas kesembuhan mereka. Dari sini kita belajar bahwa Tuhan ingin agar kita mengungkapkan rasa terima kasih kita kepada-Nya atas semua yang Dia lakukan dalam hidup kita. Terutama atas anugerah keselamatan-Nya.

Meskipun Yesus tidak membatalkan penyembuhan dari sembilan orang yang tidak berterima kasih kepada-Nya, Dia mencatat kurangnya rasa terima kasih mereka (Lukas 17:18). Karena mereka beriman (diberi iman), kesepuluh orang itu sembuh secara fisik. Namun kata-kata terakhir Yesus kepada orang Samaria yang bersyukur itu menyiratkan bahwa pria ini menerima penyegaran rohani selain pembersihan kulitnya. Setelah orang itu sembuh dari penyakit kusta, Yesus berkata kepadanya, “Bangunlah dan pergilah; imanmu telah menyembuhkanmu” (ayat 19). Jadi, kembalinya pria itu tersungkur di kaki Yesus memberinya keutuhan rohani di samping keutuhan fisik yang telah diterimanya. Seperti itu juga, ketika kita rajin meluangkan waktu untuk mengakui Sang Pemberi dalam hidup kita, dan bukan hanya pemberiannya, kita menyenangkan Tuhan serta menikmati penyegaran rohani yang berasal dari rasa syukur kita yang diterima Tuhan.

Lukas tidak berfokus pada perincian penyembuhan jasmani saja. Tatapannya tertuju pada apa yang terjadi setelah kesepuluh orang itu disembuhkan. Banyak hal yang bisa dipelajari di sini.

Pertama, melaksanakan dengan tepat apa yang Yesus katakan (“Pergilah, tunjukkan dirimu kepada para imam”) secara pikiran adalah benar, tetapi salah menurut suara hati. Begitu mereka melihat bahwa mereka telah disembuhkan, mereka semua seharusnya menyadari bahwa sebelum mereka pergi menemui para imam untuk menggenapi Hukum dan perintah langsung Tuhan kepada mereka, mereka harus kembali kepada-Nya untuk bersyukur kepada-Nya. Itu adalah tanggung jawab pribadi setiap orang. Begitu juga orang Kristen yang legalis dan yang terlalu memusatkan diri pada pikiran teologis sering kehilangan rasa syukur dalam hati kepada Tuhan.

Kedua, seseorang tidak perlu menjadi orang Yahudi untuk melakukan apa yang benar. Memang, dalam hal ini justru orang non-Yahudilah yang melakukan apa yang benar. Sembilan lainnya mungkin semuanya orang Yahudi. Namun tidak satupun dari mereka melakukan hal yang benar. Begitu juga di zaman ini, Tuhan menyelamatkan siapa saja yang dipilih-Nya, bukan hanya anggota gereja tertentu atau orang yang memiliki pengertian teologi tertentu.

Ketiga, Allah memperhatikan semua orang, Yahudi dan bukan Yahudi, baik yang lemah maupun yang sehat. Begitu juga, Tuhan mengasihi segala bangsa. Yesus tidak memandang rendah siapa pun, dan kita seharusnya juga begitu. Tidak menganggap bahwa Tuhan lebih mengasihi orang dan golongan tertentu.

Keempat, Tuhan memberi sepuluh orang kesempatan untuk melakukan hal yang benar. Alasan sembilan orang gagal bukan karena mereka bukan orang pilihan. Mereka adalah orang-orang pilihan. Mereka gagal karena hati mereka tidak benar. Orang Samaria benar-benar berbahagia bukan karena dia orang istimewa (dia bukan orang Yahudi), tetapi karena hatinya benar. Begitu juga, di zaman ini hanya sedikit orang yang memiliki hati yang bersyukur kepada Tuhan dan berusaha untuk hidup baik. Tidak mengherankan bahwa banyak orang Kristen yang masih bergumul dengan kesangsian atas kasih Tuhan.

Kelima, Tuhan benar-benar menyembuhkan sepuluh orang, bahkan sembilan orang yang tidak kembali. Tuhan tidak mencabut kesembuhan kesembilan orang itu karena kegagalan mereka mengucap syukur. Begitu juga jika Tuhan sudah memilih umat-Nya, Ia tidak akan membatalkan rencana keselamatan-Nya. Tetapi mereka yang tidak berusaha hidup baik akan mengalami hubungan yang tidak erat dengan Tuhan yang mahakasih.

Keenam, sembilan orang melewatkan berkat yang Tuhan berikan secara implisit kepada orang yang kembali untuk mengucap syukur. Begitu juga, orang Kristen yang tidak mau mengingat kasih Tuhan dengan beryukur dalam hidupnya, tidak akan dapat mengalami kesegaran rohani dalam hidupnya.

Ketujuh, alasan kesepuluh orang itu disembuhkan adalah karena kesepuluh dari mereka percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkan mereka jika Dia mau. Tuhan memberi tahu orang yang kembali, “Bangunlah, pergilah. Imanmu telah menyembuhkanmu” (ayat 19). Perlu diperhatikan bahwa kata “telah membuatmu sembuh” juga bisa diterjemahkan “telah menyelamatkanmu”. Jika ayat 19 berarti bahwa satu orang yang disembuhkan telah dilahirkan kembali, itu tidak berarti sembilan lainnya tidak. Kesepuluh orang itu beriman bahwa Yesus dapat menyembuhkan mereka. Oleh karena itu kesepuluhnya disembuhkan (atau diselamatkan). Tidak ada ajaran dalam Kitab Suci yang menyatakan bahwa kita membuktikan kelahiran kembali kita melalui perbuatan kita. Tetapi dari sepuluh orang itu, hanya satu yang mengalami kebahagiaan terrbesar dalam hidupnya, dan karena itu bisa bersyukur. Ia mengalami hidup baru dalam Kristus.

Hari ini, apakah Anda bersyukur atas kehidupan fisik? Keluarga yang baik? Makanan setiap hari? Tempat tinggal? Kesehatan? Pakaian? Mobil Anda? Negara Anda? Kota Anda? Gereja Anda? Karunia dan kemampuan Anda? Lalu bagaimana dengan karunia keselamatan yang sedah Anda terima? Apakah Anda memberi tahu Tuhan secara teratur bahwa Anda bersyukur atasnya? Apakah Anda berusaha hidup baik karena rasa syukur yang besar atas kasih-Nya?

Saya harus mengakui bahwa saya tidak selalu setia dalam bersyukur. Tetapi ayat di atas mengingatkan kita untuk melakukannya dan mengajarkan hal itu kepada umat Kristen dari segala bangsa. Hidup baik, berbuat baik, untuk kemuliaan-Nya. Bukan untuk memperoleh karunia kesembuhan dari hukuman dosa, karena kita sudah disembuhkan.

Hidup baik belum tentu tanda bahwa seseorang sudah diselamatkan. Tetapi hidup baik bagi kita adalah rasa syukur yang bisa membawa orang lain ke arah pengenalan akan kasih Yesus. Hidup baik adalah sebuah cara penginjilan yang diperintahkan Tuhan. Apakah itu terlalu berat untuk dijalankan?

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:16

Dapatkah kita menolak kehendak Tuhan?

Kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata: ”Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!” Tetapi Petrus menjawab: ”Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir.” Kedengaran pula untuk kedua kalinya suara yang berkata kepadanya: ”Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.” Hal ini terjadi sampai tiga kali dan segera sesudah itu terangkatlah benda itu ke langit. Kisah Para Rasul 10: 13-16

Pada waktu itu Tuhan membuka mata gereja untuk menyambut orang bukan Yahudi sebagai umat-Nya. Petrus yang sedang lapar mendapat penglihatan: sehelai kain besar diturunkan penuh dengan binatang yang dianggap najis oleh orang Yahudi. Petrus kemudian mendengar suara yang menyuruhnya untuk membunuh dan makan binatang-binatang itu. Petrus kemudian menjawab, “Tidak, Tuhan!” Ini diulang tiga kali sebelum penglihatan berakhir.

Kisah ini adalah satu-satunya di mana Alkitab terasa bertentangan dengan pesannya sendiri karena umat-Nya tidak dapat memanggil “Tuhan, Tuhan”, dan kemudian mengatakan tidak kepada-Nya. Ketaatan tampaknya merupakan landasan iman Kristen sejati. Seorang pelayan tidak mempertanyakan maksud tuannya; tanah liat tidak menginstruksikan pembuat tembikar. Hal menolak kehendak Tuhan malahan sudah menjadi isu yang besar, yang ditolak mentah-mentah oleh mereka yang menganut faham Reformed yang keras. Apakah orang Kristen bisa punya pilihan di hadapan Tuhan? Apakah orang bukan Kristen bisa menolak kehendak Tuhan untuk diselamatkan?

Saya baru-baru ini membaca hal tentang seseorang pria Kristen yang berada dalam situasi yang sulit. Dia menikah tetapi berpisah dengan istrinya. Tidak ada perselingkuhan di antara kedua orang tersebut, tetapi hubungan mereka jelas tidak sehat. Ada ketidakserasian. Sang istri sebenarnya menunjukkan tanda-tanda bersedia untuk menyelesaikannya, tetapi dia takut untuk kembali ke hubungan semula. Dia sangat ingin mengatakan “tidak” kepada Tuhan, tetapi dia adalah seorang Kristen. Dia merasa seakan sudah makan buah simalakama.

Sebagai orang percaya, Anda mungkin bertanya-tanya mengapa ada orang yang meragukan dan menolak kehendakTuhan. Dia selalu baik. Dia tahu apa yang terbaik. Mengikuti Dia akan selalu menjadi keputusan terbaik dalam hidup. Saya dengan sepenuh hati setuju dengan alasan ini, tetapi terkadang pimpinan-Nya berbeda dengan arah yang Anda tuju. Mungkin Dia akan meminta Anda untuk meninggalkan pekerjaan Anda yang bergaji tinggi untuk suatu petualangan yang tidak diketahui bersama-Nya. Dia mungkin meminta Anda untuk berdamai dengan seseorang yang telah banyak menyakiti Anda. Terkadang Dia meminta Anda untuk pergi ke dalam badai di mana Anda pikir Anda akan mati. Tidaklah mudah untuk menjawab dengan “ya”. Tetapi, masalah yang paling besar adalah bagaimana Anda tahu apa kehendak Tuhan bagi Anda? Kehendak Tuhan yang lebih mudah kita tanggap adalah apa yang ada dalam Alkitab. Itulah yang harus kita prioritaskan, dan bukan kehendak-Nya yang belum dinyatakan.

Bagaimana jika kita tidak melakukan apa yang Dia minta? Musa sering disebut sebagai sahabat Allah (Keluaran 33:11), tetapi ‘teman Allah’ ini terang-terangan mengatakan “tidak” kepada-Nya. Tuhan menampakkan diri kepada Musa di semak yang terbakar, dan mereka berdialog panjang. Pada akhirnya, Musa tidak mau pergi karena dia takut berbicara di depan umum. Setidaknya dua kali, Musa menolak perintah Tuhan. Akhirnya, Tuhan “mengalah dan membuat kompromi” untuk memungkinkan Harun menjadi juru bicara Musa (Keluaran 4:13-16).

Benarkah Allah menyesuaikan kehendak-Nya dengan kehendak manusia? Jika demikian, bukankah manusia bisa merubah atau membatalkan rencana Allah? Masalahnya disini, tahukah kita apa yang sudah direncanakan Allah? Bukankah Dia tahu apa yang akan kita lakukan sejak mulanya dan membuat rencana-Nya berdasarkan apa yang akan terjadi? Kita tidak tahu jalan pikiran dan cara bekerja Allah, tetapi harus mengerti bahwa sekalipun manusia bisa mereka-rekakan apa yang jahat, tetapi Allah tetap bisa mencapai rencana-Nya. Manusia bisa membuat keputusan secara bebas, sekalipun itu tidak akan bisa berhasil jika tidak sesuai dengan rencana-Nya.

Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. Kejadian 50:20

Bisakah kita mengatakan tidak kepada Tuhan? Jelas, itu bisa dan itu normal karena manusia adalah gambar Tuhan. Tetapi, apa yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya pasti tidak akan terjadi. Kita harus bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan atau yang kita pilih, jika itu tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Juga bersedia menerima akibatnya, karena apa yang ditabur manusia adalah apa yang akan dituainya (Galatia 6: 7).

Pertanyaannya dengan demikian, bukanlah apakah menolak kehendak-Nya adalah hal yang bisa dilakukan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah Tuhan kemudian akan menolak kita karena kita menolak Dia. Maksud saya, jika kita mengatakan “tidak” kepada-Nya, kepada uluran tangan-Nya, apakah Dia akan tetap mengasihi kita? Apakah saya masih bisa dipakai oleh-Nya di bidang lain? Bisakah saya tetap memiliki hubungan dengan-Nya jika saya menolak salah satu permintaan-Nya? Tuhan bukanlah Tuhan yang mahakuasa jika Ia mundur karena kita menolak-Nya. Ia bisa memakai jalan apa saja untuk mewujudkan rencana-Nya, sekalipun kita mungkin akan mendapat pelajaran pahit dari hal ini.

..karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Ibrani 12: 6-7

Dari sudut lain, kita tidak boleh lupa bahwa Tuhan adalah mahakasih. Bagi umat-Nya, apa yang Tuhan lebih inginkan adalah agar kita tidak menjadi budak tetapi menjadi teman-Nya. Tuhan akan selalu tahu apa yang terbaik untuk kita. Karena itu, Dia akan menunggu kita untuk menerima tawaran-Nya. “Dia sabar terhadap kita, tidak ingin ada yang binasa” (2 Petrus 3:9). “Kemurahan-Nyalah yang menuntun kita kepada pertobatan” (Roma 2:4). Tuhan jauh lebih tertarik pada kesadaran hati kita daripada ketaatan kita yang dipaksakan (Mazmur 51:16-17).

Pagi ini, kita harus menyadari bahwa mengatakan “tidak” kepada Tuhan sepertinya hal yang mustahil bagi orang Kristen dan bukan Kristen. Tapi pandangan ini tidak tepat. Memang, bagi kita yang sudah percaya akan kasih-Nya, terkadang lebih mudah untuk mematikan hati kita dalam ketaatan, daripada bergumul dengan Tuhan tentang hal-hal yang tidak ingin kita lakukan. Pada pihak yang lain, Tuhan lebih memilih pergumulan iman daripada kematian iman, karena pergulatan justru bisa membina hubungan yang erat di masa depan. Kita harus sadar bahwa Dia mencintai kita sepenuhnya dan tidak menginginkan perpisahan. Kristus pergi ke kayu salib untuk membawa siapa saja yang bertobat dan percaya kepada Allah (1 Petrus 3:18). Dengan demikian, Kristus juga menyambut siapa saja yang setelah menyadari kesalahannya, kemudian kembali memilih jalan hidup yang benar.

Jika Anda ingin katakan “tidak” kepada Tuhan, beri tahu Dia tentang hal itu. Beri tahu Dia mengapa Anda menolak ajakan-Nya atau tentang apa yang Anda kuatirkan. Apa pun yang Anda lakukan, jangan biarkan itu mematikan atau membekukan hubungan Anda dengan Tuhan. Tuhan mengasihi dan menghendaki adanya komunikasi dan relasi yang baik dengan umat-Nya. Anda bukan diciptakan sebagai boneka, tetapi sebagai manusia yang mempunyai roh dan akal budi, yang bisa bercakap-cakap dengan-Nya. Biarlah Dia mencurahkan kebaikan, kasih dan bimbingan-Nya kepada Anda. Dia mengasihi Anda karena Anda adalah gambar-Nya, dan dengan itu Anda akan bisa mengasihi-Nya dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi melalui berbagai gelombang kehidupan.

Mengenali faham hiper-calvinisme

“Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, – supaya rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya” Roma 9: 11

Pernahkah Anda bertemu dengan orang Kristen yang sangat bersemangat dalam mengajarkan teologi pemilihan (predestinasi) dan selalu menekankan bahwa Tuhan sudah menentukan orang yang akan diselamatkan dan orang yang akan dibinasakan dari mulanya? Orang hyper-Calvinis adalah mereka yang meyakini kalau Allah akan menyelamatkan orang-orang pilihan-Nya semata-mata berdasarkan kedaulatan-Nya, dengan sedikit ataupun sama sekali tidak menggunakan metode apapun untuk menjangkau manusia yang lain (apakah melalui penginjilan, khotbah, dan doa). Bertentangan dengan ajaran Alkitab, pandangan ini terlalu menekankan soal kedaulatan Allah, sampai-sampai mengabaikan tanggung jawab manusia terkait pemberitaandan penerimaan Injil.

Tanda yang jelas dari hyper-Calvinis adalah kurangnya hasrat untuk memberitakan Injil kepada mereka yang sama sekali belum mengenal Kristus dan keseganan mengajarkan hidup baik kepada sesama orang Kristen. Kebanyakan gereja atau denominasi yang menyakini teologi hyper-Calvinis ini biasanya akan memiliki ciri-ciri: fatalisme, dingin, dan hampir tidak memiliki kepastian akan imannya. Hampir tidak ada penekanan atas kasih Allah bagi mereka yang masih “tersesat” dan umat-Nya. Sebaliknya, pengajaran mereka dalam gereja mereka hanya seputar soal kedaulatan Allah, keselamatan bagi orang-orang pilihan-Nya, dan murka bagi mereka yang tidak dipilih-Nya. Injil yang diberitakan kelompok hyper-Calvinis kurang lebih hanya mengenai keselamatan bagi orang-orang pilihan-Nya dan kebinasaan bagi mereka yang tidak. Selain itu, mereka sering mentatakan rasa tidak senang kepada ajaran yang menegaskan bahwa setiap umat Kristen harus bertanggungjawab atas hidupnya.

Hyper-Calvinis (aliran Reformed keras) memegang doktrin yang alkitabiah terkait kedaulatan Allah, tapi mereka memahaminya secara ekstrim sampai kemudian menjadi tidak alkitabiah. Mereka telah mengabaikan kasih Allah dan pentingnya melakukan penginjilan. Alkitab dengan jelas menyatakan kalau Allah berdaulat atas alam semesta ini, termasuk keselamatan bagi umat manusia. Walaupun menyatakan kedaulatan Allah, Alkitab juga menyatakan hasrat Allah menyelamatkan manusia terkait kasih-Nya, tetapi juga menegaskan perlunya pertobatan manusia yang berdosa. Sarana untuk menyelamatkan adalah melalui pemberitaan Firman-Nya kepada mereka yang belum mengenal Allah atau belum mau menerima anugerah-Nya (Roma 10:14-15). Alkitab juga menyatakan kalau kita memang memiliki hasrat dan tekad untuk memberitakan Injil kepada dunia; sebagai wakil Kristus, kita harus “memohon” orang-orang agar mau untuk diperdamaikan dengan Allah:

“Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” 2 Korintus 5:20-21

Bagi sebagian orang Kristen, kepercayaan atas keselamatan mereka adalah sebuah keyakinan. Tetapi, jika mereka ditanya bagaiman mereka bisa menerima keselamatan, sebagian besar orang Kristen dari golongan apa saja akan menjawab bahwa keselamatan mereka semata-mata karena anugerah Tuhan. Walaupun demikian, ada pertanyaan kapankah Tuhan memutuskan untuk memberi keselamatan kepada mereka. Apakah keselamatan kita sudah ditentukan (predestinasi) sebelum dunia diciptakan atau sesudahnya?

Ada dua pendapat utama mengenai urutan di atas (sebenarnya ada banyak pendapat, tetapi kita hanya membahas dua di antaranya). Supralapsarianisme – supra yang berarti “di atas” atau “sebelum” dan lapsum yang berarti “jatuh”- merupakan pandangan yang berpendapat bahwa ketetapan Tuhan untuk menyelamatkan umat pilihan terjadi sebelum Ia menciptakan dunia dan mengizinkan kejatuhan manusia. Infralapsarianisme, di sisi lain, menegaskan bahwa ketetapan Tuhan untuk menyelamatkan umat pilihan terjadi setelah ketetapan-Nya yang terkait dengan penciptaan dan kejatuhan (infra berarti “di bawah” atau “setelah”).

Pandangan orang hyper-calvinis biasanya bersifat supralapsarian yang menggarisbawahi kedaulatan Tuhan yang tinggi. Apa alasannya? Sebelum si kembar Yakub dan Esau melakukan sesuatu yang baik atau buruk, Tuhan sudah mengasihi Yakub dan membenci Esau (Roma 9:11). Jadi, menurut pandangan supralapsarian, Tuhan pertama-tama pasti bermaksud untuk menetapkan sebagian orang untuk diselamatkan dan sebagian lagi untuk dibinasakan. Kemudian Tuhan memberikan firman-Nya dan menetapkan kejatuhan manusia agar kemuliaan-Nya dalam pemilihan dan penolakan manusia dapat diwujudkan. Sebagai alasan, orang hyper-calvinis menyatakan bahwa Tuhan yang mahakuasa boleh saja berbuat apa yang dimaui-Nya.

Pada pihak yang lain, posisi infralapsarian menyoroti belas kasihan dan kasih Tuhan. Ayat Roma 9:11, menurut pandangan infralapsarian hanyalah sebuah pernyataan tentang beda kasih Tuhan kepada dua orang, dan tidak ada hubungannya dengan keputusan untuk menyelamatkan yang satu dan membinasakan yang lain. Roma 9:14 menggambarkan pemilihan sebagai Allah yang berbelaskasihan kepada siapa Ia akan berbelaskasihan. Jika demikian, ketetapan Allah untuk menyelamatkan haruslah terjadi setelah ketetapan-Nya untuk mengizinkan kejatuhan; jika tidak, bagaimana belas kasihan bisa muncul sebelum kejatuhan?

Sebenarnya, posisi infralapsarianlah yang diajarkan kepada pengikut Calvin (aliran Reformed) seperti yang dinyatakan dalam Canons of Dort. Itu terdiri dari pernyataan doktrin Protestan yang diadopsi oleh Sinode Dort yang bertemu di kota Dordrecht pada tahun 1618-19. Meskipun merupakan sinode nasional dari gereja-gereja Reformasi Belanda, sinode ini bersifat internasional, karena tidak hanya terdiri dari delegasi Belanda tetapi juga 26 delegasi dari delapan negara asing.

Tetapi, sampai sekarang ada sebagian orang Reformed yang sama sekali tidak (mau) mengerti bagaimana menyerasikan prinsip kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusiawi manusia. Mereka ingin menyelamatkan Tuhan dari tindakan “bebas” manusia (seolah-olah Tuhan perlu diselamatkan) sehingga dengan mengorbankan adanya kewajiban dan peranan manusia, mereka hampir secara eksklusif hanya mempertimbangkan kedaulatan Tuhan. Meskipun Alkitab menekankan tanggung jawab manusia dalam tugas mereka terhadap Tuhan, golongan ini mati-matian akan menyangkal hal ini.

Penafsiran Alkitab melalui segi Supralapsarianisme sering menyebabkan kesalahan teologi. Supralapsarianisme menegaskan bahwa ketetapan-Nya dari awal, adalah untuk mengutuk beberapa orang dan menyelamatkan orang lain hanya menurut kehendak-Nya. Padahal, manusia tidak dapat diselamatkan atau dikutuk tanpa kejatuhan. Kaum pendukung Supralapsarianisme mengajarkan bahwa Tuhan menyelamatkan dan menghukum menurut pilihan-Nya dari awalnya, tanpa mempertimbangkan keadaan manusia yang jatuh. Ini berarti meminta pertanggungjawaban makhluk atas dosa yang tidak mereka lakukan, atau yang tidak diperhitungkan kepada mereka. Bagaimana Tuhan bisa mahaadil? Teolog termasyhur R.C. Sproul menulis bahwa ketika manusia menghadap Tuhan untuk diadili, tidak akan ada seorang pun yang bisa mengingkari kesalahan/dosa mereka.

Dalam kenyataannya, pandangan supralapsarian menyebabkan sebagian orang cenderung merasa sudah dipilih untuk ke surga tanpa perlu memikirkan cara hidup mereka, karena ‘nasib’ mereka sudah ditentukan sebelum dunia dijadikan. Ini tentunya sama sekali tidak dapat dibenarkan. Mengapa begitu?

  • Manusia tidak dapat menjadi objek pilihan Tuhan tanpa terlebih dahulu menjadi entitas yang nyata. Non-entitas tidak bisa menjadi objek kemarahan atau kasih Tuhan.
  • Belas kasihan dan keadilan Tuhan adalah bagian integral dari pilihan dan penolakan Tuhan. Menganggap manusia ditakdirkan, tanpa mempertimbangkan kejatuhan yang dikaitkan dengan mereka, akan menyalahgunakan gagasan tentang keadilan dan belas kasihan Tuhan.
  • Semua manusia dapat dianggap ditakdirkan jika pilihan Tuhan terjadi ketika manusia masih berupa non-entitas. Kalau keputusan Tuhan sudah ada sebelum penciptaan, cara hidup manusia (termasuk cara hidup umat Israel) tidaklah perlu dipersoalkan oleh Tuhan.
  • Dosa bukanlah akibat kutukan, tetapi kutukan adalah akibat dosa. Tuhan tidak mungkin baik, atau bijak, untuk menghukum manusia tanpa alasan. Tanpa kejatuhan Dia tidak akan melakukan hal itu.

Pagi ini, kita melihat bahwa Tuhan telah mengungkapkan diri-Nya dan karya-karya-Nya kepada kita dan membawa kita ke dalam dua pengertian yang berbeda. Satu pengertian menunjukkan kepada kita Tuhan dari sudut pandang ketetapan-ketetapan-Nya. Yang lainnya adalah perspektif tindakan dan keinginan Tuhan dalam aktivitas alam manusia. Menolak yang satu dengan mengorbankan yang lain bisa membuat kita jatuh ke pandangan ekstrem. Sebagaimana penginjil Reformed terkenal yang bernama Charles Spurgeon (1834-1892) pernah berkata: “Tidak seorang pun akan mendapatkan pandangan yang benar tentang Injil sampai dia tahu bagaimana melihat dua garis sekaligus.” Sebuah kebenaran yang akan kita lihat ketika kita berjumpa dengan Tuhan. Sementara kita hidup di dunia, kita harus menerima kenyataan bahwa Tuhan 100% berdaulat atas apa pun yang sudah dan akan terjadi, dan manusia 100% harus bertanggungjawab kepada Tuhan atas hidup dan perbuatan mereka seperti apa yang terjadi pada Adam dan Hawa.

Ajaran Kristus adalah yang terpenting

“Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak.” 2 Yohanes 1: 9

Apakah Anda pergi ke gereja secara rutin pada hari Minggu? Jika ya, tentunya Anda tahu siapa yang menjadi gembala gereja Anda. Anda mungkin tahu latar belakang pendidikan teologi beliau, dan juga tahu apa yang menjadi dasar pengajaran dan iman gereja. Jika gereja anda percaya kepada Allah Tritungal, besar kemungkinan bahwa Anda adalah pengikut ajaran yang benar. Itu adalah pemikiran banyak anggota gereja, tetapi belum tentu benar. Mengapa begitu?

Ada banyak gereja di zaman ini yang sudah terpengaruh oleh faham duniawi, termasuk ajaran yang mengakui pernikahan sejenis dan yang memakai teologi yang berbau ajaran Zaman Baru (New Age) dan psikologi. Semua itu nampaknya sesuai dengan zaman sekarang dan cukup menarik terutama untuk kaum muda yang merasa bahwa ajaran zaman dulu sudak ketinggalan zanan. Walaupun demikian, banyak gereja yang tidak mempunyai organisasi dan teologi yang baik sering dipengaruhi oleh ajaran dan pandangan yang menyimpang dari ajaran Kristus. Banyak gereja yang terkenal, yang menjadi besar bukan karena Yesus, tetapi karena pendeta, musik atau teologinya yang berbeda dengan gereja-gereja “tradisional”.

Satu hal yang sangat penting, untuk tidak dikatakan terpenting, dalam kehidupan gereja dan pertumbuhan iman umatnya, adalah ajaran atau doktrin gereja. Doktrin adalah hal yang penting untuk mengarahkan pengertian jemaat agar tidak tersesat, tidak terpecah-pecah dan tidak dipengaruhi olen ajaran manusia. Doktrin harus memiliki kesatuan pengertian yang sistimatis, agar menjadi kesatuan yang utuh tentang firman Tuhan, yaitu kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan dalam Alkitab. Doktrin adalah berguna, selama itu tidak bertentangan dengan ajaran Yesus.

Alkitab secara keseluruhan dipercaya dengan akurat dalam mengambarkan Yesus Kristus. Akan tetapi dalam pemahamannya banyak ditemukan bahwa pengertian yang dihasilkan manusia sering bertentangan dengan Alkitab. Sejarah membuktikan bahwa gereja selalu berhadapan dengan pengajaran-pengajaran sesat yang menyerang gereja dari dalam. Dalam hal ini berbentuk ajaran-ajaran yang menyesatkan atau bidat-bidat yang menyelewengkan ajaran murni Alkitab. Bahaya ajaran-ajaran sesat ini tidak saja timbul pada abad-abad belakangan ini, melainkan sudah ada sejak gereja didirikan.

Patut dicatat bahwa Yesus juga memberikan doktrin kepada murid-murid-Nya. Ia memberikan berbagai pesan, perintah, perumpamaan, dan berbagai pernyataan ilahi. Tetapi, terlalu banyak gereja di zaman ini yang memusatkan perhatian kepada doktrin ciptaan manusia yang seolah menjadi pusat perhatian dan ibadah. Bukannya memberirakan firman Tuhan yang kekal, gereja-gereja itu menampilkan doktrin-doktrin sebagai pesan dari Tuhan yang baru dinyatakan atau bisa dimengerti.

Memang, di zaman paska modernisasi ini, banyak doktrin adalah buatan manusia, yang makin merasa pandai, berdasarkan pengertian manusia atas apa yang difirmankan Tuhan dalam Alkitab. Karena itu, penekanan yang berlebihan atas ajaran satu doktrin bisa membuat jemaat lupa bahwa tidak ada satu doktrin pun yang bisa menggantikan firman Tuhan. Kepercayaan kepasa satu doktrin yang “paling benar” juga membuat orang malas untuk belajar apa yang diperbuat, yang disaksikan dan dikatakan oleh Yesus dan murid-murid-Nya. Pemusatan pikiran pada doktrin juga akan membuat orang memuja doktrin dan penciptanya, melaksanakan dokttin atau ajaran manusia, dan bukannya memuja Tuhan dan melaksanakan perintah Yesus.

Kristologi adalah merupakan pokok terpenting dalam ajaran iman Kristen. Kristologi juga bisa disebut sebagai pusat kekristenan itu sendiri, dengan itu kristologi adalah pusat dari ilmu teologi. Karenanya adalah lebih penting bagi jemaat Kristus untuk mempelajari pribadi dan karya Kristus. Yesus Kristuslah yang memberikan identitas kepada kekristenan, yang sekaligus membedakannya dari agama atau kepercayaan yang lain. Bukan tokoh-tokoh gereja seperti Agustinus, Martin Luther, John Calvin atau Joseph Arminius. Keistimewaan doktrin Kristologi yang benar terletak dalam dua hal: pribadi dan karya Yesus Kristus sebagai Tuhan yang menjadi satu-satunya jalan menuju kepada keselamatan yang kekal, dan juga kepada perlunya pertobatan perubahan hidup manusia karena pekerjaan Roh Kudus. Bukan salah satu, tapi keduanya.

Pagi ini, biarlah kita mengerti bahwa pemahaman yang benar terhadap doktrin Kristologi tidak lepas dari pengetahuan yang sehat terhadap Alkitab, sebab Alkitablah satu-satunya sumber utama yang dengan jujur dan terbuka memberikan kesaksian mengenai pribadi Yesus sebagai juruselamat dunia.

Setiap orang Kristen harus mengerjakan keselanatannya

“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Filipi 2: 12-13

Apa yang menyebabkan seseorang mengerjakan sesuatu? Mungkin itu perlu untuk mencari nafkah. Selain itu mungkin karena apa yang dikerjakan adalah bagian dari cara hidupnya. Ada juga kemungkinan bahwa apa yang dikerjakan adalah diharuskan oleh yang berwenang. Atau mungkin juga itu karena suatu hobi. Semua itu mudah dimengerti jika bertalian dengan hidup manusia di dunia. Tetapi bagaimana jika apa yang harus dikerjakan adalah bersangkutan dengan kehendak Tuhan? Mungkin jarang orang yang melakukan hal itu dengan benar karena berbagai alasan.

Jika seseorang bukan Kristen, sudah pasti mereka tidak dapat mengerti apa kehendak Tuhan yang ada dalam Alkitab. Tetapi, jika orang itu mengaku Kristen, mungkin saja ia jarang mempelajari firman-Nya. Selain itu, ada orang Kristen yang tidak percaya bahwa mereka tetap harus bekerja untuk Tuhan dan sesama, karena mereka merasa sudah diselamatkan. Ada juga orang Kristen yang percaya bahwa jika mereka tidak dapat bekerja untuk kemuliaan Tuhan, itu adalah sudah ditentukan Tuhan.

Ayat di atas beralih dari fokus Paulus pada kerendahan hati Kristus menjadi kebutuhan orang Kristen untuk menghidupi iman mereka untuk dilihat dunia (Filipi 2: 8-10). Dia mencatat peralihannya dengan menggunakan “oleh karena itu”, mengacu pada pembacanya sebagai “kekasihku” atau orang yang dicintai. Paulus juga akan menggunakan rujukan ini kepada orang Kristen Filipi dalam Filipi 4:1. Dalam kedua konteks tersebut, fokusnya adalah untuk menekankan kasihNya kepada pembacanya, yaitu orang Kristen yang sudah diselamatkan, dan sekaligus memberi mereka perintah untuk dipatuhi.

Paulus mencatat orang-orang Filipi dengan setia mengikuti ajarannya apakah dia bersama mereka, atau tidak. Mengikuti instruksi seorang guru ketika mereka tidak hadir adalah ujian kesetiaan yang terakhir, dan orang Kristen Filipi telah melakukan hal itu. Selama tahun-tahun mereka berpisah, Paulus tetap berhubungan dengan kelompok orang percaya ini. Bab 4 membahas beberapa kali mereka telah mengirimkan kepadanya sumbangan keuangan untuk membantu dia dalam pelayanannya.

Paulus juga memberikan perintah dengan menggunakan ungkapan yang aneh dan sering disalahpahami: “kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Pernyataan unik ini berbicara tentang ketaatan yang berkelanjutan bagi mereka yang telah diselamatkan. Sangat penting untuk dicatat bahwa Paulus tidak mengatakan kepada mereka untuk bekerja demi keselamatan mereka. Pernyataan ini menyiratkan kebutuhan untuk menghidupi—untuk mempraktikkan, mendemonstrasikan, dan menunjukkan—keselamatan yang dimiliki orang percaya di dalam Kristus.

Konsep “takut dan gentar” membahas rasa hormat yang memuja kepada Tuhan. Ini bergema kembali ke konteks setiap lutut yang bertekuk lutut di hadapan Tuhan yang disebutkan dalam ayat 11. Banyak orang Kristen yang tidak mengerti bahwa keselamatan yang sudah dikaruniakan kepada mereka bukanlah surat izin untuk berbuat dosa, mengerjakan apa saja untuk kenikmatan pribadi dan untuk melupakan adanya kewajiban sebagai hamba Allah.

Paulus menulis bahwa Allahlah yang memberi jemaat Filipi baik kemauan maupun pekerjaan menurut keputusan-Nya. Setiap orang Kristen sudah diberi tugas dan kemampuan untuk bekerja demi kemuliaan-Nya. Setiap umat Kristen harus menyadari hal itu dengan rasa takut dan gentar, dalam arti dengan sungguh-sunnguh, dan tidak mengabaikan atau menghindarinya.

Orang yang sudah diselamatkan pasti akan mengerti peringatan Paulus ini karena mereka sadar akan kasih dan kuasa Allah yang sudah mengaruniakan anugerah-Nya. Tetapi, mereka yang belum lahir baru tidak akan benar-benar bisa mempunyai rasa takut dan gentar kepada Allah. Mereka tidak akan merasa perlu untuk berubah dari hidup lamanya. Mereka tidak pernah merasa perlu untuk bersungguh-sungguh dalam mempraktikkan keselamatan yang terasa sudah dalam genggaman. Mereka justru tidak pernah menganjurkan orang lain untuk hidup baik demi kemuliaan Tuhan.

Hal mengecewakan Allah

“Dahulu, ketika kamu tidak mengenal Allah, kamu memperhambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah. Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya?” Galatia 4: 8-9

Sebagian orang Kristen membayangkan karakter Allah adalah mirip dengan karakter manusia. Bukankah manusia diciptakan menurut gambat-Nya? Allah tentunya bisa marah, senang, cemburu dan sebagainya. Itu ada benarnya, sekalipun harus dimengerti dalam konteks keilahian Allah. Allah yang mempunyai kemiripan dengan manusia adalah Oknum Ilahi yang mahasuci, mahakasih, mahatahu, mahabenar, mahabijaksana dan mahakuasa. Karena itu, dalam semua reaksi-Nya atas perbuatan manusia, Allah tidak mungkin berdosa atau membuat kesalahan.

Bagaimana dengan rasa kecewa? Dapatkan Tuhan merasa kcewa atas hidup manusia? Rasa kecewa adalah suatu perasaan yang menyesali terjadinya sesuatu yang tidak diharapkan. Bagaimana Tuhhan bisa merasa kecewa jika Ia tahu semua yang akan terjadi, dan Ia tahu bahwa manusia akan jatuh dalam dosa? Bagaimana Ia bisa menyesali apa yang diperbuat-Nya? Bukankah Ia adalah Tuhan yang tidak dapat membuat kekeliruan?

Pada pihak yang lain, bukankah Tuhan yang mendatangkan banjir di zaman Nuh, karena Ia merasa menyesali kelakuan manusia dan marah atas kedurhakaan manusia? Bahkan Ia juga yang dalam kekecewaan-Nya dan kemarahan-Nya sudah membiarkan Anak-Nya untuk mati di kayu salib?

Satu hal yang penting disadari bahwa dalam kemarahan-Nya, Allah tidak bisa membuat kesalahan karena Ia adalah Tuhan menetapkan segala apa yang ada di alam semesta. Semua yang terjadi adalah sesuai dengan rencana-Nya, dan Ia tidak terikat oleh hukum yang dibuat-Nya untuk manusia dan alam semesta. Walaupun demikian, Tuhan dalam kemarahan-Nya juga tidak melampiaskan muka-Nya tanpa alasan; lebih dari itu Ia selalu mempertimbangkan semua keputusan-Nya dengan tidak menanggalkan kasih-Nya yang amat besar kepada mereka yang beriman kepada-Nya.

Bagaimana pula dengan rasa kecewa Tuhan yang sering muncul dalam Alkitab? Rasa kecewa yang ditunjukkan oleh rasul Paulus dalam ayat di atas mungikin dapat menggambarkan rasa kecewa Tuhan kepada umat-Nya yang sesudah mengenal Allah, atau lebih tepat, sesudah dikenal Allah, mereka kemudian berbalik lagi kepada hal-hal duniawi dan menghambakan diri mereka kepada apa yang tidak berguna. Tetapi, rasa kecewa Tuhan kepada orang yang dipilih-Nya adalah bukan rasa kecewa atas umat-Nya, tetapi rasa kecewa untuk umat-Nya. Rasa kecewa yang membuat Dia mengingatkan mereka atas dosa dan kekeliruan mereka. Kekecwaan Allah kepada umat-Nya selalu didasarkan oleh kasih-Nya yang ingin membimbing mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.

Banyak orang Kristen yang yakin sudah dikenal Tuhan dan dijadikan-Nya sebagai umat-Nya, tidak merasakan rasa kecewa Tuhan untuk mereka, karena mereka tidak mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan. Hati mereka tidak lagi peka. Mereka menyibukkan diri dengan hal-hal duniawi, termasuk hal-hal yang nampaknya rohani, tetapi sebenarnya bukan untuk kemuliaan Tuhan. Mereka tidak sadar bahwa Tuhan merasa kecewa, merasa sedih untuk mereka.

Hari ini marilah kita renungkan hidup kita saat ini. Mungkin kekeliruan seperti apa yang dilakukan jemaat di Galatia juga yang kita buat saat ini. Tuhan merasa sedih bukan atas hidup kita, tetapi merasa sedih untuk kita. Ia tidak henti- hentinya mengingatkan kita untuk kembali kepada-Nya. Ia menunggu kita untuk kembali mementingkan apa yang difirmankan-Nya untuk dilaksanakan dalam hidup kita. Tuhan ingin kita hidup sebagai umat yang memancarkan terang-Nya ke seluruh pelosok dmia. Keputusan ada di tangan kita, apakah kita mau menurut bimbingan Roh Kudus dan berbalik kepada-Nya.

Perintah Tuhan untuk mereka yang sudah lahir baru

“Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” Efesus 4: 21-24

Anda sudah lahir baru? Pertanyaan ini mungkin pernah anda dengar. Jika Anda mengaku percaya kepada Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus, sudah tentu Anda akan menjawa “ya”. Setelah kita dilahirkan kembali, di dalam Kristus kita telah dibangkitkan dari keadaan mati kita secara rohani, untuk masuk ke hidup yang baru.

Apakah setelah lahir baru kita boleh merasa lega karena Tuhan sudah memilih kita? Seperti apa yang terjadi pada murid-murid Yesus ketika mereka dipilih oleh Yesus untuk mengikut Dia, tugas kita belum berakhir, tetapi justru baru dimulai. Kita yang pernah diperbudak oleh dosa dan keinginan daging kita sendiri, tidak akan mudah melepaskan diri dari ekses-eksesnya. Sebab itu, sekarang sebagai orang percaya kita harus “menanggalkan” hal-hal daging dan “mengenakan” hal-hal tohani (Efesus 4:21-24).

Dilahirkan kembali dimaksudkan untuk membalikkan cara hidup kita yang dulunya terpisah dari Kristus. Dan karena itu, kita harus meninggalkan dunia dan kekuasaannya atas kita. Inilah yang Paulus perintahkan untuk dilakukan oleh setiap orang percaya dalam Efesus 4:17-19.

Dalam Efesus 4, Paulus dengan nada serius memperkenalkan pengajarannya melalui peringatan yang sungguh-sungguh akan pentingnya apa yang akan dia katakan:

Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia.” Efesus 4: 17

Paulus mengklaim bahwa kata-katanya bukan dari dia sendiri. Apa yang akan dia katakan adalah instruksi dari Tuhan. Perintah Paulus adalah perintah Kristus. Paulus menetapkan perintah yang harus diperhatikan oleh semua orang Kristen. Perintah apakah itu?

Pertama, iman kepada Kristus menuntut perubahan radikal dalam gaya hidup orang percaya dari cara dia berperilaku dulu. Paulus yang pernah hidup dengan cara duniawi, dengan kuasa Roh Kudus kemudian bisa meninggalkan dan menolaknya. Karena itu, perintah Paulus adalah untuk berhenti hidup seperti dulu dan menempuh hidup baru dengan cara yang memuliakan Tuhan.

Kedua, perintah ini berkaitan dengan hubungan baru orang Kristen dengan dunia. Dulu, sebagai bagian dari sistem dunia, kita diasingkan dari Allah dan asing bagi kerajaan-Nya. Sekarang, sebagai orang-orang di dalam Kristus, kita adalah warga kerajaan Allah dan anggota tubuh-Nya, sekalipun kita masih hidup sebagai orang asing dan peziarah ke dunia ini (lihat Ibrani 11:13-16; 1 Petrus 1:1; 2:11).

Dunia kita saat ini adalah adalah budaya tempat kita hidup, yang berusaha menekan kita untuk menyesuaikan diri dengan nilai, standar, tujuan, dan perilakunya. Dunia yang paling memengaruhi kita adalah budaya tempat kita dibesarkan. Dunia ini seringkali membuat kita acuh tak acuh atas kebenaran Alkitab sebagai firman Tuhan. Itu adalah hidup “normal” menurut lingkungan kita.

Kekristenan, menurut Paulus, sering melintasi batas budaya kita, dan dengan demikian kita harus memutuskan untuk mengikuti Kristus dan berhenti mengikuti aturan dunia tempat kita hidup. Tekanan teman sekerja atau siapa pun yang bertentangan dengan kehendak Allah dan Firman-Nya seharusnya ditolak oleh orang Kristen, agar dia dapat berjalan sesuai dengan panggilan yang telah kita terima (Efesus 4:1).

Ketiga, Paulus berpendapat bahwa perilaku moral manusia adalah hasil dari proses mentalnya. Pemikiran yang dominan di sini, seperti yang kita temukan di tempat lain di Efesus, adalah bahwa doktrin kekristenan yang kita anut akan menentukan tingkah laku kita. Apa yang kita yakini memengaruhi cara kita berperilaku. Jika kita percaya bahwa kita sudah dipilih Tuhan, tetapi kurang yakin kalau Tuhan menyuruh kita untuk berubah dari hidup lama kita, mungkin kita mempunyai pengertian yang keliru tentang kehendak Tuhan. Mungkin juga kita belum mengenal Dia yang mahasuci.

Pagi ini, kita harus sadar bahwa jika kita puas dengan cara hidup kita, itu mungkin berarti kita merasa sudah sempurna. Atau mungkin, kita merasa tidak dapat berbuat apa-apa melawan “nasib” dan “kodrat” kita. Semua itu tidak benar, karena Tuhan jelas menyatakan melaui rasul Paulus bahwa perubahan hidup kita adalah suatu proses yang diperintahkan-Nya bagi kita untuk dilaksanakan. Kita harus tetap berusaha menanggalkan apa yang buruk, dan mengenakan apa yang baik, selama kita hidup di dunia.

Mengapa kita harus berusaha untuk hidup baik

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”Roma 12: 2

Sebagian besar orang Kristen tahu bahwa mereka harus hidup baik. Walaupun demikian, sebagian lagi memilih untuk tidak menekankan hal ini dengan alasan bahwa penekanan atas hidup baik seakan menunjukkan bahwa anugerah Tuhan adalah tidak cukup untuk menjamin keselamatan. Perbedaaan pendapat ini seringkali menimbulkan perdebatan antar umat Kristen, sekalipun dalam kenyataannya tidak ada orang Kristen yang percaya bahwa keselamatan dapat diperoleh dari perbuatan baik (seperti yang diajarkan dalam agama lain).

Semua orang Kristen percaya bahwa keselamatan dan iman datang dari Tuhan. Jadi mengapa orang Kristen harus berbuat baik? Hidup baik berarti hidup dengan melakukan apa yang baik untuk menyatakan kasih kita kepada Tuhan dan kepada sesama. Kita tahu bahwa hukum yang utama bagi setiap orang Kristen bukanlah hukum Taurat, tetapi dua hukum yang merupakan inti dari hukum Taurat:

“Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 22:36-40

Pelaksanaan hukum yang utama adalah bukan saja tanda orang percaya, tetapi adalah syarat untuk menjadi orang benar-benar percaya. Mengapa begitu? Suksesnya sesorang dalam menjalankan hukum ini memang bukan kunci keselamatan, tetapi kemauan sesorang untuk selalu berusaha melakukan hukum ini adalah tanda bahwa orang itu adalah orang Kristen sejati, orang yang sudah dipilih. Mereka yang bukan orang percaya susah tentu tidak akan memahami hukum Tuhan ini, sedangkan mereka yang mengaku percaya pasti tidak dapat menghindarinya. Perintah Tuhan ini berlaku atas semua orang percaya, sekalipun Tuhan tahu bahwa tidak ada seorang pun yang bisa melaksanakannya dengan sempurna. Kita ingat bahwa pada waktu Yesus memerintahkan Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya, Ia tahu bahwa Petrus jauh dari sempurna.

Tuhan memberikan perintah untuk hidup baik, dan ini tidak boleh diingkari dengan alasan bahwa kita tidak dapat menyelamatkan diri kita dari kematian akibat dosa dengan berbuat baik. Kita tidak dapat menolaknya dengan alasan kita tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna. Itu karena kita adalah orang yang sudah dipilih menjadi hamba-Nya. Seorang hamba harus taat kepada tuannya. Perintah Tuhan untuk hidup baik yang muncul berkali-kali dalam Alkitab adalah perintah untuk orang percaya yang sudah diselamatkan, agar selama hidup di dunia mereka mempunyai relasi yang baik dengan Tuhan dan sesamanya. Ia tidak memberikan kedua hukum ini dan berbagai petunjuk hidup baru lainya untuk mereka yang tidak percaya, karena mustahil bagi mereka untuk bisa mengerti dan mau melaksanakannya tanpa bimbingan Roh Kudus.

Sebagian orang Kristen kurang mau memikirkan perintah Tuhan ini dengan alasan bahwa kemampuan setiap orang Kristen adalah berbeda, dan itu sudah ditetapkan Tuhan. Karena itu Tuhan yang sudah memilih mereka, sudah pasti akan mengerti mengapa mereka tidak dapat memaksakan diri untuk berbuat baik dan hidup baik. Mereka berpendapat bahwa penekanan akan pentingnya hidup baik akan mengurangi penghargaan atas kedaulatan Tuhan yang sudah memberi anugerah keselamatan dengan cuma-cuma. Tetapi, pandangan yang keliru ini bukanlah pandangan rasul Paulus. Untunglah, hanya sebagian kecil orang Kristen yang terjebak dalam pandangan ini.

Dalam ayat di atas, Paulus menulis bahwa kita harus mau untuk berubah dari hidup laa kita. “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu”, begitu tulisnya. Karena kita sudah lahir baru, kita harus mau menolak apa saja yang membuat kita mirip dengan orang yang tidak diselamatkan. Kita bertanggung jawab atas cara hidup kita, sehingga kita benar-benar mau memilih apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Kita tidak boleh memakai alasan bahwa semua yang terjadi dalam hidup kita sudah ditetapkan Tuhan dan kita tidak dapat melawan berbagai godaan iblis yang berusaha membuat hidup kita serupa dengan orang dunia. Apa perbedaan antara umat Tuhan dan umat iblis, dapat dilihat dari ayat ini.

“Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” Matius 7: 16-20

Ayat ini sering dipakai untuk menimbang apakah sesorang adalah orang yang sudah diselamatkan. Dari apa yang dihasilkan dalam hidup mereka, orang bisa menetapkan apakah si A akan masuk ke surga atau tidak. Ini tidak tepat. Apa yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah, bahwa orang yang sudah diselamatkan sudah tentu akan mau diubah dari hidup lamanya yang tidak berbuah, menjadi hidup baru yang menghasilkan banyak buah yang baik. Mereka yang tidak berbuah yang baik adalah orang-orang yang tidak diselamatkan, atau orang-orang yang sudah diselamatkan tetapi masih mengabaikan ajakan Roh Kudus untuk berubah. Hari ini kita harus sadar bahwa cara hidup kedua golongan ini tidak akan membawa kemuliaan bagi Allah. Mereka yang sudah diselamatkan tapi belum mau berubah dari hidup lamanya adalah orang-orang Kristen yang justru bisa menjadi batu sandungan dan penyesat bagi mereka yang ingin menjadi orang Kristen yang setia, yang berusaha menjalankan apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Mereka juga bisa menjadi penghalang bagi orang lain untuk mau menerima panggilan Yesus untuk bertobat.

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ”Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Lukas 17:1

Kehendak Tuhan adalah agar kita hidup sebagai anak-anak terang

“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Efesus 5: 15-17

Hari-hari ini adalah jahat. Bukan saja Paulus mengemukakan kenyataan pada saat itu, kita sekarang pun tahu bahwa dunia ini semakin kotor dan jahat. Memang dengan adanya pendidikan dan hukum, manusia di zaman modern ini kelihatannya jauh lebih beradab jika dibandingkan dengan manusia di zaman Paulus. Tetapi, manusia modern lebih berani melawan Tuhan dengan peradaban modern yang mengizinkan manusia melanggar hukum dan firman Tuhan selama tidak melanggar hukum pemerintah. Karena itu ada berbagai hal di dunia ini, seperti korupsi, aborsi, hidup bersama tanpa menikah, pernikahan sejenis, penggunaan narkoba dll. yang dipandang lumrah.

Bagi orang Kristen yang menganut faham determinisme, semua kejahatan dan kekacauan dalam hidup manusia modern adalah sesuai dengan kehendak Tuhan. Mereka yang lebih ekstrem pandangannya, mungkin percaya bahwa Tuhan sendiri yang memungkinkan dan membuat manusia melakukan hal yang jahat. Itu karena kedaulatan Tuhan yang menentukan jalannya segala sesuatu di alam semesta, sampai hal yang sekecil-kecilnya. Bagi mereka, manusia tidak mempunyai kehendak bebas, dan karena itu semua yang terjadi di dunia harus terjadi sesuai dengan rencana Tuhan. Apakah ini yang disebut faham fatalisme? Belum tentu!

Secara umum, fatalisme didefinisikan sebagai suatu pandangan filsafat, yang meyakini bahwa seseorang sudah dikuasai oleh takdir dan tidak bisa mengubahnya. Menurut fatalisme, manusia tidak berdaya untuk melakukan sesuatu di luar kemampuannya di saat ini, begitu pula tidak memiliki kemampuan untuk mempengaruhi masa depannya. Kata dasar fatalisme adalah fatal, sebuah kata sifat yang berasal dari bahasa Latin fatum yang artinya “takdir” atau “ketentuan”. Berbeda dari fatalisme, determinisme meyakini bahwa kehidupan manusia ditentukan oleh bagaimana atau apa yang sudah pernah dilakukannya. Ini adalah pengertian umum yang berbeda dengan pengertian teologi.

Dalam pengertian teologi, determinisme berarti kehidupan dalam alam semesta sudah ditentukan oleh Tuhan sepenuhnya. Mereka yang menganut faham ini percaya bahwa pada akhirnya semua yang dilakukan manusia akan terjadi sesuai dengan rencana Tuhan. Faham fatalisme dalam teologi adalah kelanjutan dari faham determinisme, yang menyatakan bahwa manusia tidak berdaya untuk melakukan sesuatu di luar kehendak Tuhan, begitu pula tidak memiliki kemampuan untuk mempengaruhi masa depannya, atau memastikan hasil dari upaya yang telah dilakukannya. Dengan demikian, keselamatan juga sepenuhnya takdir Tuhan, dan reaksi manusia terhadap tawaran keselamatan dari Tuhan (yaitu cara hidup mereka) tidaklah mempunyai peranan apa-apa.

Mereka yang menganut faham teologi determinisme, kebanyakan tidak mau disebut penganut faham fatalis. Mereka berargumen bahwa sekalipun Tuhan sudah menentukan hasil akhirnya (yang mungkin belum diketahui), mereka tetap harus bekerja keras. Menurut mereka, orang fatalis adalah orang yang putus asa dan sudah tidak mempunyai semangat untuk bekerja. Walaupun demikian, faham determinisme mempunyai ciri yang sangat menarik dalam kehidupan orang Kristen.

Ayat di atas adalah salah satu dari banyak ayat Alkitab yang menganjurkan agar umat Kristen untuk bekerja keras. Ini bukan kerja keras tanpa tujuan yang jelas, tetapi kerja keras untuk hidup dalam terang Kristus. Paulus menyuruh orang Efesus untuk memperhatikan dengan saksama, bagaimana mereka hidup, agar jangan seperti orang Kristen yang bodoh, tetapi seperti orang Kristen yang bijaksana. Orang Efesus diminta untuk mempergunakanlah waktu dengan baik, karena manusia pada hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu mereka diminta agar bijaksana dan berusaha supaya mereka mengerti kehendak Tuhan.

Pernyataan Paulus itu agaknya cukup membingungkan. Apakah perlu orang Kristen bekerja keras untuk mempertahankan keselamatan mereka? Tidak! Keselamatan adalah pemberian Tuhan, dan jika Tuhan memang sudah memberikan itu kepada kita, tidak ada yang bisa mengambilnya. Walaupun demikian, jika ada orang yang mengaku Kristen tetapi tidak mau bekerja keras untuk kemuliaan Tuhan, ada kemungkinan orang itu belum menerima hidup baru dari Tuhan. Orang sedemikian tidak mau mempelajari kehendak Tuhan dan masih ingin menuruti kekendak diri sendiri. Pada pihak yang lain, ada kemungkinan bahwa orang Kristen yang hidupnya berantakan, adalah orang Kristen yang bodoh, yang tidak mengunakan waktu yang ada untuk mempelajari firman Tuhan dengan baik. Hidup mereka tidak dapat memancarkan terang Tuhan.

Salah satu kebodohan orang yang sudah diselamatkan adalah kurang adanya kesadaran bahwa hari-hari ini adalah jahat. Iblis bekerja keras untuk mengacaukan kehidupan manusia, terutama umat Kristen, agar mereka tidak mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan. Karena itu, mereka sering kurang mengerti bahwa orang yang sudah diselamatkan tidak dapat mengharapkan bahwa tanpa berbuat apa pun, hidupnya di dunia sudah berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan. Mengapa begitu? Karena kehendak Tuhan yang ada justru agar kita bekerja untuk menjadi anak-anak terang. Untuk bisa menjadi terang dunia, setiap umat Kristen harus mau bekerja keras, dan memilih untuk tunduk kepada kehendak-Nya.

Ayat-ayat dalam Efesus 5: 1-21 diberi judul “Hidup sebagai anak-anak terang” dan berisi nasihat bagaimana kita harus hidup di dunia agar nama Tuhan dipermuliakan. Nama Tuhan dipermuliakan jika kita mau bekerja keras untuk hidup sesuai dengan firman-Nya. Nama Tuhan tidak akan dipermuliakan jika kita yakin bahwa cara hidup kita tidak perlu diperbaiki karena semuanya sudah ditetapkan Tuhan. Atau jika kita percaya bahwa Roh Kudus akan mengubah hidup kita tanpa kita harus berbuat apa-apa.

Hari ini, firman Tuhan jelas menyatakan bahwa orang Kristen yang sejati bukanlah orang Kristen yang tidak lagi merasa perlu berbuat baik dalam hidup. Orang Kristen yang bijaksana bukanlah orang yang hanya menekankan kedaulatan Allah, tetapi mengabaikan peranan mereka selama hidup di dunia. Itu karena kehendak Tuhan adalah agar kita hidup sebagai anak-anak terang. Jika kita memang betul-betul mengakui kedaulatan Allah, kita harus mau tunduk kepada Dia dan melaksanakan firman-Nya untuk menjadi terang dunia, agar nama-Nya dipermuliakan.