Bangga atas apa yang terbaik

“Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai.” 2 Tesalonika 2:13

Hal berbangga atas apa yang sudah terjadi adalah sesuatu yang umum dan sering kita jumpai dalam hidup ini. Orang mungkin bangga akan keberhasilan, kekayaan, kepandaian dan apa yang sudah diperolehnya atau yang sudah dicapai oleh anak cucu dan kerabatnya. Tetapi, setiap orang harus berhati-hati dalam membanggakan semua itu. Kebanggaan yang dipamerkan kepada orang lain bisa dipandang sebagai kesombongan jika terlalu sering diutarakan, apalagi jika dengan cara yang berlebihan. Memang, beda antara kebanggaan dan kesombongan itu terkadang sangat tipis, sehingga sulit untuk memisahkan keduanya.

Bolehkah kita bangga? Tentu saja boleh, tapi untuk orang Kristen ada syaratnya. Kita biasanya bangga akan apa yang kita anggap baik, yang benar-benar terjadi pada diri kita atau anggota keluarga kita. Walaupun demikian, sebagai orang Kristen kita seharusnya bangga akan apa yang benar-benar baik dan yang belum terjadi. Apakah yang benar-benar baik, yang belum terjadi dalam hidup orang percaya? Bagaimana kita harus merasa bangga untuk apa yang belum terlihat? Tentunya kita harus tahu apa yang akan terjadi. Bagaimana manusia bisa tahu akan apa yang benar-benar baik, yang tidak bisa hilang, dan yang akan terjadi pada masa depan?

Sering kali kebanggaan seseorang diutarakan atas hal yang sudah terjadi, karena orang itu dengan cerdik sudah menggunakan kesempatan, kemampuan dan kebebasan yang ada padanya. Mungkin ia bangga karena tidak ada orang atau hal lain yang bisa menghalanginya atau menyainginya. Kebanggaan semacam ini tidak lain adalah kebodohan karena apa yang dibanggakan hanyalah untuk diri sendiri dan tidak kekal.

Sering juga orang merasa bangga atas apa yang terjadi pada diri orang lain, seperti para pemimpin atau tokoh masyarakat yang lain karena apa yang sudah dicapai mereka, sekalipun orang itu tidak mempunyai andil atau hubungan langsung atas keberhasilan mereka. Jelas kebanggaan semacam itu hanyalah kebanggaan yang kosong saja karena apa yang dipandang baik terjadi pada orang lain.

Kapan orang Kristen boleh bermegah atau bangga:

a. Kebanggaan boleh ada jika kita sendiri berhasil melakukan hal yang baik di mata Tuhan.

“Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.” Galatia 6: 4

b. Kebanggaan kita atas apa yang baik yang dicapai orang lain, boleh ada hanya jika kita ikut berjuang, dan mempunyai hubungan yang erat, dengan orang itu.

“Aku berkata demikian, bukan untuk menjatuhkan hukuman atas kamu, sebab tadi telah aku katakan, bahwa kamu telah beroleh tempat di dalam hati kami, sehingga kita sehidup semati. Aku sangat berterus terang terhadap kamu; tetapi aku juga sangat memegahkan kamu. Dalam segala penderitaan kami aku sangat terhibur dan sukacitaku melimpah-limpah.” 2 Korintus 7: 3-4

c. Bagi orang Kristen, kebanggaan tidak dapat dipisahkan dengan anugerah Tuhan. Segala yang baik datang dari Tuhan. Karena itu, kebanggaan yang hanya merupakan usaha untuk menunjukkan keberhasilan diri sendiri sering merupakan kesombongan dan ketidakjujuran. Inilah sesuatu yang dibenci Tuhan.

“Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.” Amsal 8: 13

d. Kebanggaan kita haruslah didasari dengan kesadaran bahwa tanpa Tuhan, segala sesuatu yang baik tidak akan terjadi. Kita adalah manusia fana yang punya banyak kelemahan. Dunia ini dan semua isinya sudah ternoda dosa. Sekalipun kita tahu bahwa kita harus berbuat baik, apa yang tidak baik justru apa yang kita lakukan. Karena itu, dalam segala apa yang kita banggakan, baiklah kita mengingat bahwa Tuhan sudah memberikan berkat dan menunjukkan kasih-Nya kepada kita.

“Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan” 2 Korintus 10:17

e. Kebanggaan yang paling utama untuk umat Kristen adalah tentang anugerah Tuhan yang terbesar dalam hidup kita di masa mendatang, yaitu hidup di surga. Oleh karena kasih-Nya kita sudah diselamatkan, sekalipun itu bukan karena usaha kita. Sekalipun kita belum bisa melihat atau merasakan kehidupan surgawi selama di dunia, kita bisa membayangkan kemuliaan yang akan kita terima karena dengan iman kita bisa percaya akan apa yang tidak terlihat. Ini sudah tentu berbeda dengan harta duniawi yang bisa terlihat, diakui dan dibanggakan sebagai hasil perbuatan kita, tetapi yang tidak kekal dan tidak berharga di mata Tuhan.

“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Matius 6:19-21

f. Apa yang baik, yang kita terima adalah sesuatu yang Tuhan berikan kepada kita untuk dibagikan kepada orang lain. Dengan demikian, kebanggaan kita hanyalah untuk memuliakan Tuhan, agar makin banyak orang yang percaya kepada-Nya.

Beginilah firman TUHAN: ”Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.” Yeremia 9: 23-24

Hari ini, marilah kita memikirkan hidup kita sampai saat ini. Memasuki tahun 2023 ini, apakah yang Anda banggakan dari apa yang sudah terjadi dalam hidup Anda pada tahun yang lalu? Apakah yang menjadi tujuan hidup Anda pada tahun 2023 dan seterusnya? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang, tetapi dengan iman kita bisa mengerti bahwa karunia keselamatan yang sudah kita terima adalah kabar baik yang harus kita sampaikan ke seluruh dunia.

Semoga Anda benar-benar berbahagia dalam tahun yang baru

“Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.” Filipi 4: 12

Sebagai seorang dosen, saya sudah terbiasa bekerja seorang diri di ruang kantor saya. Tetapi, setiap bulan Desember dan Januari saya sering merasa agak “kesepian” karena banyaknya rekan saya yang mengambil cuti selagi murid-murid masih berlibur panjang. Dengan demikian, suasana di universitas terlihat sepi dan lenggang karena jarang terlihat orang yang berlalu-lalang. Walaupun demikian, keadaan saat ini adalah cocok untuk memikirkan apa yang perlu dilakukan dalam tahun yang baru ini, agar lebih banyak keberhasilan yang bisa dicapai. Selain itu, bagi banyak orang, saat ini belumlah terlambat untuk memikirkan bagaimana mereka bisa lebih berbahagia daripada tahun yang lalu.

Sungguh menarik bahwa untuk memperoleh atau menambah kebahagiaan, di zaman modern ini orang tetap tertarik pada berbagai resep yang sudah ada sejak lama, seperti resep awet muda, resep umur panjang, resep keharmonisan rumah tangga, resep kesuksesan dalam bisnis dan lain-lain. Dalam hal ini, resep hidup bahagia juga sering dibaca orang di berbagai media. Penulis resep bahagia bisa saja seorang psikolog, motivator, atau pemuka agama.

Memang pada umumnya kebahagiaan dimasukkan dalam hal yang abstrak, yang muncul dalam alam pikiran atau hati manusia. Para penulis itu pada umumnya setuju bahwa kesuksesan, kekayaan atau pun kesehatan belum tentu membawa kebahagiaan. Walaupun demikian, sering juga didengar dalam pengajaran orang-orang tertentu bahwa kesuksesan jasmani dan materiel adalah tanda kesuksesan rohani, dan dengan demikian kesuksesan dan materi adalah tanda kebahagiaan dalam hidup bersama Tuhan.

Hari Natal yang baru kita rayakan menunjukkan bahwa Yesus dilahirkan dalam suasana yang sangat sederhana, untuk tidak dikatakan miskin. Yesus juga dibesarkan dalam keluarga yang tidak berada, yang memperoleh nafkah dari usaha bertukang kayu. Yesus dan murid-murid-Nya pergi ke mana-mana dengan berjalan kaki di jalan yang berdebu dan kotor. Tetapi Yesus dan murid-murid-Nya berhasil, sukses, dalam mengabarkan jalan keselamatan. Yesus jugalah yang mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak dapat kita peroleh di dunia jika kita terpukau pada harta dan kesuksesan. Harta dan kesuksesan adalah sementara, karena itu pastilah bukan kunci maupun tanda kebahagiaan hidup dalam Tuhan. Sebaliknya, jika kita terpukau pada kesuksesan jasmani, kerohanian kita akan mengalami kemunduran.

“Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Matius 6: 21

Pagi ini, saya mendapat ucapan selamat tahun baru dari seorang rekan yang baru kembali dari liburannya. “Selamat tahun baru, semoga Anda memperoleh kesuksesan dan kemakmuran tahun ini”, tulisnya dalam sebuah email kepada semua rekan sekantor. Saya tersenyum seorang diri. Inikah arti kebahagiaan dalam hidup manusia?

Mengapa orang tidak percaya kepada Tuhan?


Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu. Seperti dengan lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan, dan dengan bibir yang bersorak-sorai mulutku memuji-muji. Apabila aku ingat kepada-Mu di tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam, – sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai. Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku. Mazmur 63:5-9

Mengapa banyak orang tidak percaya kepada Tuhan? Pertanyaan ini mungkin sudah ada sejak Adam dan Hawa. Sebelum mencoba menjawab pertanyaan ini, perlu ditegaskan bahwa Tuhan di sini adalah Tuhan menurut iman Kristen. Tuhan yang mahakuasa, tetapi juga yang mahakasih. Tuhan yang mengurbankan Anak-Nya yang tunggal, yaitu Yesus Kristus, untuk menebus manusia yang berdosa.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Adalah kenyataan bahwa Adam dan Hawa adalah manusia pertama yang meragukan iktikad Tuhan. Mereka tidak yakin akan maksud baik dan kasih Tuhan ketika Tuhan mengizinkan mereka untuk memakan semua buah yang ada di taman Eden, kecuali buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Karena itu, dengan mudah mereka terkecoh oleh bujukan iblis sehingga mereka diusir Tuhan dari taman Eden dan kehilangan kesempatan untuk hidup untuk selamanya bersama Tuhan. Mereka kemudian harus berjuang dalam dunia yang penuh semak duri.

Apakah Tuhan sebenarnya mengasihi Adam dan Hawa? Ataukah Ia hanya menciptakan mereka sebagai obyek kemahakuasaan dan otoritas-Nya? Ini sering dipertanyakan orang, dan sebagian orang Kristen percaya bahwa Adam dan Hawa diciptakan Tuhan semata-mata untuk kemuliaan-Nya. Itu kurang benar. Tuhan menciptakan manusia karena Ia adalah Tuhan yang kreatif dan senang menciptakan apa yang baik. Ia juga ingin agar manusia bisa merasakan kasih-Nya. Berbeda dengan makhluk lain, manusia diciptakan menurut gambar Tuhan, untuk bisa mengasihi Dia dan sesama. Selain itu, ketika Tuhan menciptakan manusia, Dia memberi mereka pekerjaan yang baik untuk dilakukan, agar mereka dapat menyadari kebaikan Tuhan dan mencerminkan citra-Nya dalam cara hidup dan tanggung jawab mereka yang peduli terhadap seisi dunia dan sesama manusia.

Kejatuhan manusia membuktikan bahwa manusia gagal menyadari kasih Tuhan. Pada pihak lain, kejatuhan manusia membuktikan bahwa kasih Tuhan tidak pernah berakhir. Sebelum Adam dan Hawa di usir dari taman Eden, Tuhan memberi mereka pakaian yang membuktikan bahwa Tuhan mengasihi manusia dalam bentuk jasmani mereka. Tuhan juga menjanjikan datangnya seorang Juruselamat, Yesus Kristus, yang mengalahkan kuasa iblis sehingga manusia dapat kembali hidup bersama Dia untuk selamanya. Ini membuktikan adanya kasih Tuhan kepada manusia secara rohani. Jelas bahwa kasih Tuhan ada selama manusia hidup didunia, dan tetap ada setelah manusia meninggalkan dunia ini. Kasih Tuhan adalah kunci kehidupan manusia, sekarang dan selamanya.

Sekalipun Tuhan mengasihi seluruh umat manusia dalam hal memberi kesempatan bagi siapa saja untuk mendengarkan panggilan-Nya, tidak semua orang akhirnya menjadi pengikut-Nya. Tetapi, bagi orang-orang yang mau mendengar firman-Nya, firman Tuhan serupa dengan benih yang jatuh di tanah yang baik. Mereka adalah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan (Lukas 8: 15). Mereka menjadi orang yang benar-benar beriman, karena mereka menyambut uluran tangan Tuhan. Mereka mengakui adanya Tuhan yang mahakasih selama hidup di dunia.

Mereka yang tidak dapat merasakan kasih Tuhan mungkin pernah mengalami kepahitan hidup sehingga tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. Pada pihak yang lain, ada orang-orang yang karena hidup dalam kenyamanan, merasa bahwa semua kesuksesan mereka adalah karena jerih payah mereka sendiri, atau karena jasa orang lain. Bagi orang-orang ini, kasih Tuhan sangatlah sulit untuk diterima karena keyakinan bahwa ada atau tidaknya Tuhan tidak akan mengubah atau mempengaruhi keadaan mereka. Mereka lupa bahwa jika tidak karena kasih Tuhan, manusia tidak akan bisa hidup di dunia yang dengan seluruh alam semesta, tetap berjalan dengan teratur sesuai dengan pemeliharaan Tuhan (Roma 1: 20).

Mereka yang percaya kepada Kristus, adalah orang-orang yang dengan pertolongan Roh Kudus bisa merasakan kasih Tuhan dalam hidupnya. Mereka yang sudah menerima kasih Tuhan, kemudian bisa hidup dalam rasa syukur dalam keadaan apa pun. Baik dalam suka maupun duka, orang Kristen sejati adalah orang yang bisa merasakan kasih Tuhan, seperti doa Daud dalam Mazmur 63: 5-9 di atas. Orang Kristen sejati adalah orang yang merasa cukup dan selalu memuji Tuhan selama hidup. Mereka ingat kepada Tuhan sepanjang hari, merenungkan kasih-Nya, dan menyadari bahwa Tuhan adalah sumber pertolongan mereka.

Mengapa orang tidak percaya kepada Tuhan? Jawabnya sekarang sudah jelas. Ketidakpercayaan adalah karena mereka dengan sengaja menolak kenyataan tentang adanya kasih Tuhan dalam hidup mereka. Dalam Alkitab ada tertulis bahwa barangsiapa tidak mengasihi orang yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya (1 Yohanes 4:20). Senada dengan ayat ini, kita bisa mengerti bahwa jikalau seorang tidak mau menyadari adanya penyertaan Tuhan selama hidupnya di dunia, maka ia tidak mungkin bisa percaya akan kasih Tuhan yang ada di surga. Apakah Anda benar-benar sudah dapat merasakan kasih Tuhan dalam hidup Anda, baik dalam kesusahan maupun kegembiraan? Semoga Roh Kudus menolong kita untuk bisa bersyukur atas hidup kita, yang sekarang dan yang akan datang.

Semoga Anda yakin sudah diselamatkan

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7: 21-23

Pertanyaan penting untuk Anda di awal tahun 2023 ini adalah: Apakah Anda yakin sudah diselamatkan? Ini tentunya adalah pertanyaan untuk orang Kristen yang masih hidup di dunia, karena konsep karunia keselamatan dari Tuhan untuk bisa ke surga hanya ada dalam agama Kristen. Pertanyaan ini perlu kita pikirkan karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita di tahun ini. Jadi, jika Anda bukan orang Kristen, atau tidak berniat menjadi orang Kristen, Anda tidak perlu menjawab pertanyaan yang nadanya kurang nyaman ini.

Pada agama-agama lain, keselamatan harus dicapai dengan usaha manusia untuk berbuat baik; dan karena itu orang mungkin lebih mudah mengatakan “si anu akan ke surga karena hidupnya yang saleh”. Sebaliknya, bagi umat Kristen, keselamatan hanya karena iman, dan karena itu kita tidak bisa memastikan apakan seseorang yang kita kenal sudah diselamatkan, karena dari ayat di atas, iman yang dimiliki seseorang hanyalah Tuhan yang tahu benar atau tidaknya.

Mungkin kita beranggapan bahwa iman yang benar akan berbuah, dalam arti menghasilan berbagai hal yang baik, yang bisa dilihat atau dirasakan orang lain. Tetapi, jika kita tidak berhati-hati, mungkin pandangan kita akan tidak berbeda dengan agama lain yang mengajarkan bahwa manusia diselamatkan oleh perbuatan baiknya. Kita harus ingat bahwa menurut iman Kristen, semua orang seharusnya menerima kebinasaan karena semunya sudah berdosa.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3: 23

Bagi orang Kristen, Rasul Paulus menyatakan bahwa keselamatan bukan karena kesalehan, tetapi semata-mata karena anugerah Tuhan (Efesus 2: 8). Tetapi, rasul Paulus juga menyatakan bahwa kita harus mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar (Filipi 2:12). Ini berarti bahwa kita tidak boleh merasa santai karena sudah diselamatkan, tetapi dengan serius kita mau hidup sebagai orang yang sudah diselamatkan. Memasuki tahun yang baru ini, apakah Anda yakin sudah diselamatkan?

Untuk bisa menjawab pertanyaan di atas, marilah kita lebih dulu belajar dari apa yang di uraikan oleh rasul Yohanes dalam 1 Yohanes 2: 1-6 dan 1 Yohanes 3: 5-10.

Dalam 1 Yohanes 2: 1-6, Yohanes menulis:

“Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.  Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”

Dan dalam 1 Yohanes 3: 5-10 tertulis:

“Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa. Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia. Anak-anakku, janganlah membiarkan seorangpun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar; barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu. Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah. Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.”

Banyak orang Kristen yang merasa sudah dipilih oleh Tuhan, dan karena itu mereka yakin sudah diselamatkan berdasarkan keyakinan itu. Mereka yang yakin bahwa manusia tidak mempunyai bagian dalam anugerah keselamatan, biasanya mempunyai “keyakinan karena keyakinan” , bukan “keyakinan karena iman”. Karena mereka yakin sudah dipilih, mereka yakin sudah diselamatkan. Mereka agaknya hidup dalam impian, karena tidak memikirkan apa yang harus ada dalam hidup orang yang diselamatkan, yaitu peerubahan hidup karena adanya pembaharuan budi (Roma 12:2). Tidak ada seorang pun yang tahu apakah Tuhan sudah memilih si A atau si B, tetapi orang bisa melihat apakah si A atau si B sudah melakukan apa yang baik menurut firman Tuhan.

Anugerah keselamatan tidak akan membawa datangnya kesombongan, karen keselamatan yang benar adalah semata-mata karena anugerah Tuhan. Jika kita sudah diselamatkan, kita akan merasa bahwa sebagai orang yang tidak layak, kita sudah menerima kasih Tuhan; dan karena itu, kita akan berharap bahwa banyak orang lain juga akan diselamatkan. Dalam hal ini, bagaimana kita bisa tinggal diam? Mereka yang memenangkan hadiah besar misalnya, tidak akan tinggal diam. Mereka akan melompat, bersorak gembira dan mungkin memberi tahu semua rekannya. Begitu juga, kita yang menerima kasih Tuhan yang sangat besar tidak akan tinggal diam, kita akan selalu bersyukur kepada-Nya, mau membalas kasih-Nya dengan menaati firman-Nya. Karena kasih Tuhan yang ada dalam hidup orang yang diselamatkan, mereka juga bisa hidup dengan menawaarkan kasih itu kepada orang lain. Mereka akan menjadi orang yang ingin membantu orang lain dalam perjuangan hidupnya, terutama dalam perjuangan untuk menurut kehendak Tuhan, yaitu untuk hidup sesuai dengan perintah-Nya.

Sebagai orang Kristen kita percaya bahwa pengurbanan Kristus adalah cukup untuk menghapus dosa semua umat Tuhan. Dengan demikian, kita tidak akan perlu untuk kuatir jika kita menghadap Tuhan, karena Yesuslah yang akan menjadi pembela kita. Walaupun demikian, hal ini bukanlah “surat izin” umtuk berbuat dosa atau lebih parah lagi, untuk tetap hidup dalam dosa lama. Manusia selama hidup tetap berbuat dosa, tetapi umat Kristen harus sadar atas apa yang berkenan kepada Tuhan dan apa yang tidak. Umat Kristen harus makin lama makin sadar apa yang dikehendaki Tuhan, sehingga mereka akan mau berjuang untuk hidup suci. Mereka yang mengabaikan hal yang tidak baik dalam hidup dan bahkan meneruskan kebiasaan yang buruk, mungkin adalah orang yang tidak diselamatkan.

Sebagai orang Kristen adalah normal jika kita semakin sensitif atas cara hidup kita. Jika kita berbuat dosa, kita akan menyesalinya, merasa malu, dan bukannya bersukacita karena Yesus pasti akan mengampuni semuanya. Bukan merasa bahwa semua dosa yang kita lakukan setiap hari adalah sepele, karena kita sudah dipilih Tuhan. Penyesalan akan dosa adalah baik, tetapi bagi sebagian orang perasaan menyesal ini sangat besar dan menghantui hidup mereka. Mereka yang yakin sudah diselamatkan tidak pernah merasa bahwa adanya dosa yang muncul setiap hari adalah tanda bahwa mereka bukan orang Kristen yang baik, atau bukan orang yang terpilih. Tuhan tidak mengharapkan agar kita menjadi sempurna, tetapi agar berusaha menjadi sempurna karena Bapa di surga adalah Tuhan yang sempurna. Mereka yang sudah diselamatkan tahu bahwa Roh Kudus sudah diberikan kepada umat Kristen karena Tuhan tahu kelemahan kita. Roh Kuduslah yang membimbing hidup kita, menghibur kita dan menguatkan kita dalam hidup yang penuh tantangan di dunia ini. Sekali lagi, kita tidak boleh mengklaim bahwa kita sudah diselamatkan karena cara hidup kita.

Bagaimana jawab Anda?

Hari ini, jika Anda masih merasa sulit untuk menjawab pertanyaan di atas, mungkin pertanyaan ini bisa membantu Anda: Sudahkah Anda merasakan kasih Yesus dalam hidup Anda? Jika Anda bisa yakin bahwa kasih-Nya ada dalam hidup Anda, dan Anda bisa merasa tabah dan cukup dalam suka maupun duka, kasih-Nya bisa 100% dipastikan sudah membasuh dosa-dosa Anda. Mereka yang tidak dapat merasakan kasih Yesus selama hidup di dunia, adalah orang yang tidak bisa memahami kasih Kristus yang sudah mati di kayu salib. Itu karena tidak ada hal yang lebih besar dari kasih-Nya yang sudah menebus orang percaya. Jika Anda bisa bersyukur akan kasih-Nya, Tuhan jugalah yang akan memelihara tubuh, jiwa dan roh Anda sampai saat perjumpaan dengan-Nya.

“Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.” 1 Tesalonika 5:24

Apakah Tuhan bertanggungjawab atas segalanya?

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya.” Roma 11: 33

Baru saja memasuki tahun 2023, kemarin terjadi kecelakaan di Dunia Laut (Sea World) di Gold Coast, Australia. Dua helikopter milik Sea World bertabrakan di udara ketika helikopter yang mau mendarat bersenggolan dengan helikopter lain yang baru berangkat. Helikopter yang baru saja terbang kemudian jatuh dan menewaskan pilot bersama 3 orang penumpangnya. Helikopter yang lain rusak tapi masih bisa mendarat dengan selamat. Dari ketiga penumpang yang tewas itu ada pasangan suami istri dari Inggris yang baru setahun menikah dan seorang ibu dari Sydney, sedangkan yang luka berat adalah seorang ibu dan anaknya, serta seorang anak lain. Berkenaan dengan hal ini, saya sempat terbangun tadi malam dan memikirkan satu masalah yang sering diperbincangkan di kalangan umat Kristen: Mengapa ada hal-hal yang buruk dan jahat? Mengapa ada penderitaan dan ketakutan? Mengapa ada malapetaka? Apakah Tuhan bertanggungjawab atas hal-hal itu?

Memang dunia ini sudah jatuh dalam dosa dan tidaklah mengherankan bahwa ada saja kejadian-kejadian yang mengerikan di segala penjuru dunia. Tetapi, apakah Tuhan yang membuat semua itu? Jika Tuhan itu mahakuasa tetapi tidak menghentikan hal-hal yang jahat dan berbagai malapetaka, bukankan Ia juga bersalah? Mengapa Tuhan membiarkan manusia, termasuk umat-Nya, menderita dan bahkan mati dalam kesengsaraan di dunia ini? Jika Tuhan itu mahakasih, bukankah Ia harus melindungi anak-anak-Nya setiap saat dan dalam semua keadaan? Jika Tuhan tidak bertangungjawab atas hal-hal itu, bukankah Ia adalah Tuhan yang jahat? Jika Ia tahu bahwa hal yang jahat akan terjadi tetapi tidak dapat berbuat apa-apa, bukankah Ia bukan Tuhan yang mahakuasa?

Selanjutnya, kita tahu bahwa Tuhan membimbing umat Israel keluar dari tanah Mesir dan selama itu umat Israel menerima berbagai hukuman Tuhan dan bangsa-bangsa lain disekitarnya juga mengalami kejadian serupa. Jika itu untuk menggenapi rencana Tuhan untuk penyelamatan, apakah Tuhan tetap melakukan hal-hal yang serupa di zaman ini? Mungkinkah Tuhan mahakuasa dan mahaadil sehingga setiap hal yang jahat adalah hukuman-Nya kepada mereka yang mengalaminya?

Pertanyaan-pertanyaan diatas adalah pertanyaan yang sulit dijawab dan tidak seorangpun yang tahu jawaban apa yang 100% benar. Roma 11: 33 diatas seharusnya dapat menyadarkan bahwa kita tidak mungkin bisa mengerti jalan pikiran dan rencana Tuhan sepenuhnya. Walaupun demikian, dengan mempelajari Firman, kita setidaknya akan mengerti beberapa pokok yang penting.

Memang di dunia yang penuh dosa ini, hidup manusia adalah berat dan penuh perjuangan. Alam semesta dengan semak duri dan berbagai bencana alam adalah bagian kehidupan manusia. Selain itu, karena manusia adalah mahluk yang lemah, ia juga sering membuat kesalahan dalam mengolah dan memelihara apa yang ada di bumi. Juga membuat kekeliruan dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Karena itu tidak mengherankan kalau ada berbagai bencana, perang dan kecelakaan di dunia karena adanya kelemahan dan kesalahan manusia. Umat percaya boleh bersandar kepada Tuhan untuk memberi bimbingan dan perlindungan, tetapi karena hidup seluruh manusia di dunia adalah seperti lalang dan gandum yang hidup dalam satu lahan, siapapun dapat mengalami bencana yang berbagai ragam bentuknya, terutama jika pimpinan dan masyarakat membuat kekeliruan kolektip yang besar.

Bencana juga menunjukkan keterbatasan manusia secara fisik maupun moral. Manusia bisa membuat kekeliruan secara jasmani maupun rohani. Dengan demikian, setiap orang yang mengalami bencana di dunia belum tentu lebih besar dosanya dari yang lain. Tapi untuk anak Tuhan, adanya bencana justru membuka kemungkinan adanya keajaiban Tuhan yang terjadi dalam hidup atau nurani mereka dan juga dalam hidup orang lain. Bagi mereka yang belum percaya, adanya bencana memberi kesempatan untuk menyadari bahwa hanya Tuhan yang mahakuasa dan mahasempurna.

Hidup orang percaya juga selalu dalam incaran iblis, yang ingin menghancurkannya. Ayub adalah contoh yang nyata bahwa hidup orang-orang Kristen mungkin mendapat serangan iblis sedemikan rupa sehingga iman mereka benar-benar mengalami ujian berat. Tetapi  bencana yang terjadi bukanlah berasal dari Tuhan, sekalipun itu terjadi dengan seizin Tuhan. Tuhan tahu kekuatan Ayub dan Ia tidak mebiarkan Ayub dicobai lebih dari kekuatannya. Kitapun harus yakin bahwa seperti Ayub, kita harus tetap teguh dalam iman untuk memenangkan pergulatan hidup seperti itu. Selain itu, dalam menghadapi tantangan kehidupan, kita seharusnya bisa saling menolong agar nama Tuhan makin dipermuliakan.

Hari ini biarlah kita bisa meyakini bahwa Tuhan kita baik. Ia tidak mendatangkan atau membuat bencana untuk umat manusia. Tuhan ‘bertanggungjawab’ dalam kasih-Nya yang memberikan kesempatan kepada seluruh umat manusia untuk bisa mengambil keputusan dan kemampuan memilih apa yang baik selama mereka hidup dengan bimbingan-Nya. Ia mengasihi seluruh umat manusia dan bahkan mengurbankan anak-Nya untuk menebus dosa mereka yang percaya. Tuhan jugalah yang menggerakkan umat-Nya untuk bisa mengasihi mereka yang tertimpa bencana atau dalam kesusahan. Karena itu, Tuhanlah yang menuntut tanggung jawab kita dalam hal mendengarkan suara-Nya dan atas bagaimana kita menggunakan hidup kita.

“Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” 1 Yohanes 4: 16

Tahun baru, tekad baru

“Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: “Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!” Pengkhotbah 12: 1

Apa arti setahun? Setahun bagi seseorang mungkin berisi banyak hal yang signifikan, tapi orang lain mungkin berlalu seperti tahun-tahun sebelumnya. Walaupun demikian, bagi semua orang, baik tua maupun muda, datangnya tahun baru jelas menambah usia. Manusia manapun akan bertambah tua. Dimulai pada saat kelahiran, seorang bayi tumbuh menjadi seorang anak kecil, anak remaja, orang muda, orang dewasa, orang berumur dan kemudian orang lanjut usia, sebelum meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Walaupun itu sudah seharusnya, tidak semua orang akan mengalami seluruh tingkat usia itu. Ada orang yang belum tua tetapi sudah tidak beserta kita, ada pula orang yang karena sakit, menjadi tua sebelum waktunya.

Masa muda biasanya diisi dengan berbagai kegiatan yang menarik, yang memberi kesenangan, kebanggaan dan kepuasan pribadi. Seolah seluruh dunia ada untuk dinikmati oleh diri sendiri. Dengan bertambahnya usia, manusia umumnya mulai belajar untuk hidup bukan bagi dirinya sendiri, terutama setelah berkeluarga. Namun dengan bertambahnya usia, hidup seringkali diisi dengan kesibukan mencari ilmu, harta, kesuksesan atau nama. Kesenangan yang dicapai melalui jerih payah seolah bisa memberi makna kehidupan selama masih bisa bekerja. Padahal hubungan dengan Tuhan adalah sesuatu yang seharusnya bisa membuat orang percaya merasa bahagia dalam hidupnya.

Keluarga dan persahabatan baik secara nyata atau maya bisa juga menjadi suatu kenikmatan. Waktu yang 24 jam sehari sering terasa kurang untuk bisa memberi perhatian yang cukup kepada sanak kerabat dan teman. Selain itu, karena kesibukan sehari-hari dan adanya berbagai aktivitas dan hobi, tidak ada waktu yang bisa dipakai untuk melayani Tuhan. Padahal soal mengasihi Tuhan itu seharusnya lebih penting dari yang lain, terutama di masa depan. Tuhan dan kasih-Nya tetap ada sewaktu perhatian sanak dan teman sudah hilang.

Selama setahun, Tuhan sudah menyertai kita. Tiap hari, tiap jam bahkan tiap detik,Tuhan melindungi kita sehingga kita tetap bisa hidup sampai saat ini dan siap memasuki tahun yang baru. Lebih-lebih lagi, Tuhanlah yang sudah mengambil inisiatif untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Walaupun begitu besar kasih-Nya kepada manusia, kebanyakan orang menerima kasih Tuhan itu sebagai sesuatu yang sudah sewajarnya, dan mudah melupakannya. Lebih mudah untuk dilupakan daripada melupakan kenangan manis bersama teman-teman di tahun yang baru lalu.

Sekalipun kita masih bisa menyambut datangnya tahun baru kali ini, adalah kenyataan hidup bahwa akan ada satu saat dalam hidup kita dimana kedatangan tahun baru tidak lagi dapat memberi kegembiraan. Mungkin saat itu terjadi sesudah kita menginjak usia tua, tetapi mungkin juga sewaktu kita masih muda. Pada saat itu, dukungan sanak kerabat dan teman tidaklah dapat memberi kekuatan dan semangat, dan apa yang ada terasa hampa. Kalaupun kekayaan dan fasilitas masih ada, mungkin kita sudah tidak dapat menggunakannya.

Hari ini, kita harus menerima kenyataan bahwa tahun 2022 sudah menghilang dan hanya menjadi kenangan. Tahun sudah berganti, tetapi kita tiak tahu pasti apakah itu akan membawa kebahagiaan. Walaupun demikian, jika kita memang beriman, kita akan yakin bahwa tahun yang baru ini akan membawa kebaikan bagi anak-anak Tuhan. Karena itu, biarlah kita sadar bahwa selagi kita masih bisa, kita harus makin dekat kepada Dia dan menuruti frmat-Nya. Kita harus sadar bahwa jika kita tidak terbiasa merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita, dan jika kita tidak terbiasa berbincang-bincang dengan Tuhan, atau tidak mau mempelajari firman-Nya, kita akan mengalami kesunyian yang luar biasa karena Tuhan akan terasa jauh dari kita dalam keadaan yang menguji iman kita di masa depan.

“TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” Mazmur 37: 23-24

Menyambut tahun baru dengan bersyukur

“TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.” Mazmur 28: 7

Beberapa jam lagi tahun baru akan datang. Hari besar yang ditunggu-tunggu sejak datangnya hari Natal akan segera tiba. Tahun baru akan dirayakan oleh Kiribati, Samoa, kemudian negara-negara di sekitar Selandia Baru, lalu Australia, Indonesia dan seterusnya, sesuai dengan posisi mereka di bumi. Bersama dengan itu berbagai harapan, resolusi dan doa diucapkan manusia untuk 365 hari yang akan datang.

Dalam merayakan tahun baru, banyak orang yang berpesta-pora dan makan-minum untuk mengucapkan selamat tinggal pada tahun yang telah lalu dan menyambut datangnya tahun yang baru. Sekalipun banyak negara masih terancam resesi, mereka tetap merayakan tahun baru dengan segala acara dan pesta kembang apinya. Begitu juga orang yang mampu tentunya ingin merayakannya dengan semeriah mungkin. Tetapi, didalam semua kemegahan itu, mungkin manusia lupa bahwa tidak seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi dalam tahun yang baru.

Berbeda dengan ucapan selamat hari Natal yang berisi pesan-pesan mengenai sukacita dan damai, kebanyakan ucapan selamat tahun baru secara tradisionil berisi harapan untuk keberhasilan dalam semua usaha dan segi kehidupan manusia. Walaupun semua ucapan selamat tahun baru itu dimaksudkan untuk memberi semangat optimisme dan keberanian dalam menjalani hidup di tahun baru, bagi orang Kristen ada satu hal yang paling penting dalam menyambut tahun baru, yaitu keyakinan akan penyertaan Tuhan.

Bagi orang Kristen, apapun yang akan terjadi dalam tahun yang baru bukanlah sesuatu yang harus dikuatirkan. Keberhasilan atau kegagalan dalam hidup di dunia bukanlah diukur dengan segala sesuatu yang bersifat fana, karena semua hal itu tidaklah kekal. Tetapi harta surgawi, yaitu kedekatan hubungan kita dengan Tuhan adalah yang seharusnya diutamakan; dengan itu kita bisa mendapatkan rasa cukup dan bahkan rasa sukacita yang abadi. Dengan hadirnya Tuhan dalam hidup kita, kita juga akan merasakan ketenteraman karena Tuhan adalah sumber kekuatan dan pelindung kita.

Pagi ini, kita harus bersyukur bahwa Tuhan sudah melindungi bangsa dan negara kita selama tahun 2022. Keadaan ekonomi makin maju dan situasi pandemi makin dapat diatasi, dan dengan itu resesi dapat dihindari. Tetapi, kita harus sadar bahwa seberapapun besarnya rasa optimis dan besarnya pengharapan kita akan tahun yang baru, kita tidak dapat mengandalkan hidup kita kepada diri kita sendiri. Hidup ini penuh dengan tantangan, kesulitan dan marabahaya yang bisa menghancurkan siapapun. Walaupun demikian, dalam keadaan apapun Tuhan selalu siap menolong kita yang beriman kepadaNya. Biarlah kita dalam tahun yang baru ini bisa dikuatkan karena penyertaan Tuhan sampai sekarang yang bisa kita syukuri!

Kenalkah Anda akan diri Anda?

TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh.” Mazmur 139: 1 – 2

Sebentar lagi kita memasuki tahun baru 2023. Bagaimanakah perasaan Anda saat ini? Banyak orang yang menantikan datangnya tahun baru karena itu adalah kesempatan untuk merayakannya bersama teman-teman dan sanak saudara. Tetapi banyak juga orang yang menganggap bahwa tahun baru adalah bukan hari yang istimewa untuk dirayakan, karena sebenarnya tidak ada beda antara hari Tahun Baru dengan hari-hari sebelumnya. Bukan seperti hari ulang tahun atau hari Natal. Walaupun demikian, adanya perayaan tahun baru sudah tentu memberi kesempatan bagi setiap orang untuk memikirkan kehidupannya. Apakah kita merasa puas dan bahagia dengan apa yang kita capai pada tahun yang lalu? Ataukah adanya Tahun Baru justru membuat kita merasa sedih ketika melihat orang lain bisa bergembira? Apakah Anda mengharapkan bahwa sesuatu yang indah seharusnya terjadi pada tahun yang lalu? Apakah Tuhan sudah mengecewakan Anda?

Hidup manusia di zaman modern memang bisa terasa sepi dan hampa karena jarang orang yang bisa memahami diri kita. Dalam keadaan suka, memang ada banyak teman di sekitar kita yang bisa diajak untuk menikmati apa saja. Tetapi jika kita berada dalam kesukaran, sulitlah bagi kita untuk mendapatkan orang yang benar-benar bisa kita sandari. Orang yang terdekat, seperti orang tua, suami, istri dan anak pun ternyata terbatas kemampuannya dalam hal menolong kita. Mereka seringkali tidak dapat mengerti perasaan, keluh kesah, dan masalah kita. Inilah yang bisa membuat kita merasa sedih dan merana; tetapi itu mungkin terjadi karena kita menaruh harapan kepada manusia dan bukannya Tuhan.

Pemazmur di atas menyatakan bahwa Tuhan menyelidiki dan mengenal dirinya; Tuhan tahu kalau ia duduk atau berdiri, dan Ia mengerti pikirannya dari jauh. Tuhan mahatahu, dan lebih dari itu Ia peduli atas keadaan umat-Nya. He cares. Tuhan bukanlah Oknum yang baru mau memandang umat-Nya jika mereka mempersembahkan sesuatu yang berharga kepada-Nya. Tuhan tidak membutuhkan apa-apa dari manusia. Tuhan juga bukan Tuhan yang hanya mengasihi orang yang selalu taat kepada-Nya. Sebaliknya, Tuhan adalah Tuhan yang mahakasih yang sudah memberikan seorang Juruselamat kepada manusia, agar mereka yang percaya kepada-Nya bisa menerima keselamatan. Tuhan bisa melihat apa yang kita lakukan, dan Ia mengerti apa yang terjadi dalam hidup kita. Tuhan jugalah yang selalu berusaha untuk membimbing seluruh umat-Nya ke arah yang benar.

Saat ini, adakah kesedihan dalam hati Anda karena anda seorang diri  berjuang dalam hidup? Adakah perasaan bahwa tidak ada seorang pun yang mengerti keadaan dan masalah Anda? Firman Tuhan berkata bahwa jika manusia tidak dapat mengerti jalan pikiran anda, Tuhanlah yang bisa melihat apa yang anda pikirkan dan kuatirkan. Ia yang mahakuasa selalu mau menyelidiki dan mengenal siapa Anda, sekalipun Anda sendiri kurang sadar akan arti hidup Anda. Ialah yang bisa menolong Anda, mengampuni Anda dan mengembalikan Anda ke jalan yang benar, agar Anda bisa hidup berbahagia dan menemukan kedamaian di dalam Dia.

Tuhan adalah mahatahu, dan karena itu Ia tahu segala sesuatu. Waktu dan tempat bukanlah sesuatu yang dapat membatasi Tuhan, karena Ia ada di mana pun dan kapan pun. Karena itu, Ia tahu apa yang sudah terjadi, yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi di bumi maupun di surga. Bahkan Ia tahu segala sesuatu sebelum apa pun terjadi, karena Dia ada sebelum ciptaan-Nya. Dengan demikian, tidaklah dapat diragukan bahwa Ia tahu akan segala sesuatu yang ada dalam hidup kita, bahkan sebelum kita dilahirkan. Karena itu, tidaklah mungkin kita menutup diri kita dari pandangan mata Tuhan. Sebaliknya, kita harus menyerahkan hidup dan isi hati kita kepada Dia.

“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” Mazmur 139: 23 – 24

Memang sifat/atribut Tuhan di atas adalah satu dari tiga sifat utama dari Tuhan, yaitu mahatahu, mahakuasa dan mahahadir (omniscient, omnipotent dan omnipresent). Tuhan adalah Oknum yang luar biasa yang tidak ada tandingannya. Walaupun demikian, Tuhan bukanlah Tuhan yang ingin agar manusia mendekati-Nya jika Ia hanya memiliki tiga sifat itu. Ketiga sifat itu mungkin justru membuat manusia menjauhi Tuhan jika Ia adalah Tuhan yang tidak peduli atau Tuhan yang semena-mena.

Dalam kehidupan ini, manusia mungkin jarang memikirkan faktor Tuhan jika hidup berjalan lancar. Dalam menghadapi masalah, tantangan dan penderitaan, biasanya manusia yang merasa tidak dapat mengatasinya kemudian mulai memikirkan adanya faktor tertentu yang tidak dapat dimengertinya. Mengapa semua itu harus terjadi? Mengapa itu terjadi pada diriku? Mengapa itu terjadi dalam keluargaku? Mengapa Tuhan yang mahatahu, mahakuasa dan mahaada tidak berbuat sesuatu ketika malapetaka terjadi? Apakah Dia adalah Tuhan yang tidak peduli akan keadaan manusia?

Jika Tuhan hanya memiliki tiga sifat utama diatas, Tuhan belum tentu adalah Tuhan yang baik. Tuhan yang demikian bukanlah Tuhan yang benar-benar mau mengenal kita sebagai domba-domba-Nya. Sebaliknya, Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakasih dan mahabaik (omnibenevolent), sehingga  karena kasih dan kebaikan-Nya semua orang yang berdosa diberi-Nya kesempatan untuk memperoleh karunia keselamatan. Kita harus ingat bahwa Tuhan sudah mengirim Anak-Nya untuk turun ke dunia sebagai seorang bayi yang lahir dalam sebuah palungan. Ia mempunyai maksud baik kepada semua orang sehingga Ia kemudian mengurbankan Anak-Nya untuk menebus manusia yang berdosa. Karena itu, bagi kita, sifat omnibenevolent ini haruslah diingat dalam merayakan datangnya tahun baru.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8

Pengurbanan Yesus di kayu salib adalah bukti bahwa Tuhan mempunyai iktikad baik kepada umat manusia. Lebih dari itu, selama hidup di dunia Yesus menyatakan sifat itu dengan lebih jelas: Ia melakukan berbagai kebaikan untuk mereka yang menderita dan kemudian menebus manusia yang berdosa dengan darah-Nya di kayu salib.

Apa yang harus kita sadari dalam memasuki tahun baru adalah perlunya bagi kita untuk mengenal Tuhan secara penuh, bahwa bukan saja Ia mahakuasa, Ia juga Tuhan mahakasih dan mahabaik. Yesus adalah Tuhan yang sudah turun ke dunia. Dia adalah gembala yang baik bagi umat-Nya, Ia bukan saja tahu keadaan kita, tetapi Ia mengenal kita dan segala segi kehidupan kita. Karena Ia mengenal semua domba-Nya, Ia bisa dan mau menolong mereka yang mengalami penderitaan dan kesulitan hidup. Kepada Dia kita boleh berharap akan pertolongan, bimbingan dan perlindungan-Nya.

Hari ini, adakah yang membuat anda gundah? Apakah ada masalah besar yang anda alami? Yesus mengenal anda dan mampu memberikan apa yang baik pada waktunya. Pada pihak yang lain, kenalkah anda akan diri Anda? Sadarkah anda bahwa Anda adalah milik Tuhan yang bukan saja mahakuasa, mahatahu dan mahaada, tetapi juga mahakasih dan mahabaik yang memberikan matahari kepada semua orang? Bukankah Tuhan yang sedemikian besar akan mengasihi kita dalam keadaan apa pun?

“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku” Yohanes 10: 14

Que sera sera?

“Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.” Pengkhotbah 7: 14

Ungkapan Que sera sera secara harafiah berarti “apa yang akan terjadi, terjadilah”. Sepanjang sejarahnya, ungkapan tersebut muncul dalam berbagai ejaan yang menyerupai bahasa Spanyol (Que será será), Italia (Che sarà sarà), Prancis (Qui sera sera), atau campuran bahasa Spanyol dan Italia. Ungkapan ini bertalian dengan pertanyaan atas apa yang akan terjadi di masa depan seseorang. Bagi mereka yang masih tergolong muda, mungkin ada banyak yang diidamkan untuk masa depan. Tetapi, bagi mereka yang sudah berumur, masa depan yang mereka impikan dulu adalah masa kini. Mereka mungkin sudah menyerah dan mau menerima apa saja yang bakal terjadi. Que sera, sera.

Saat memasuki tahun baru, memang ada orang yang selalu sibuk memikirkan dan menguatirkan masa depan, sedangkan mereka tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Dalam kehidupan sehari-hari orang memang sering kuatir akan apa yang terjadi karena adanya kejadian-kejadian yang tidak terduga. Sebagai contoh, ada negara-negara yang pada mulanya stabil akhirnya menjadi terpecah belah sehingga rakyatnya menderita. Tetapi hal yang nampaknya lebih kecil – seperti kehancuran rumah tangga – juga bisa terjadi diluar dugaan orang. Hidup adalah penuh dengan misteri, begitu kata orang.

Ayat diatas menunjukkan bahwa apa yang terlihat nyaman dan tidak nyaman terjadi karena kehendak Tuhan. Tuhan yang mahakuasa memang bisa mengizinkan  terjadinya hal apapun, yang tidak bisa diduga manusia, supaya manusia mengakui bahwa mereka hanya dapat bergantung kepada Sang Pencipta. Walaupun demikian, banyak orang yang tetap merasa mampu untuk menentukan hari depan mereka melalui usaha dan kerja; mereka mungkin berpikir bahwa masa depan setiap orang ada ditangan sendiri. Memang banyak guru yang mengajarkan bahwa jika kita bersikap positif untuk menghadapi hidup dan mau bekerja keras, masa depan yang cemerlang menunggu kita. Tetapi itu belum tentu terjadi.

Memandang masa depan yang tidak dapat diduga, seringkali membuat kita ragu. Jika semuanya tidak ada yang pasti, bagaimana pula kita bisa mempunyai harapan untuk hal apapun. Mereka yang mengajarkan manusia untuk berpikir positif selalu menekankan hal percaya diri; sebaliknya mereka yang mengajarkan bahwa Tuhan adalah kunci kehidupan, menekankan hal percaya kepada Tuhan. Dalam hal ini,  seakan lebih mudah bagi seseorang untuk mempercayai kemampuan manusia karena Tuhan dan kehendak-Nya adalah sulit untuk dimengerti.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55: 8 – 9

Walaupun demikian, mereka yang benar-benar mengenal Tuhan akan mempunyai pengertian tentang cara kerja atau modus operandi Tuhan. Sepanjang sejarah, Tuhan selalu bekerja agar umat-Nya mau menyerahkan hidup mereka sepenuhnya kepada-Nya. Ia tahu bahwa manusia tidak dapat hidup dengan bergantung pada diri mereka sendiri. Karena itu, melalui firman-Nya dan berbagai kejadian yang ada di dunia, Tuhan tidak jemu-jemunya mengingatkan bahwa jika kita hanya percaya kepada diri sendiri, kehancuranlah yang menunggu kita; jika itu tidak terjadi sekarang, pastilah itu terjadi di masa depan.

Pagi ini, perlulah kita pikirkan apa yang kita harapkan dari masa depan. Apakah kita mengharapkan datangnya hari-hari gembira yang penuh suka cita? Tidak ada salahnya jika kita mengharapkannya dari Tuhan. Jika itu datang, kita boleh menikmatinya sambil bersyukur kepada-Nya. Tetapi, jika hari-hari yang penuh tantangan dan kesulitan datang, kita pun harus sadar bahwa hari-hari itu juga datang dengan seizin Tuhan. Dalam hal ini, mereka yang tidak mengenal Tuhan akan mengeluh dan bahkan mungkin menghujat Tuhan; tetapi mereka yang mengenal kasih Tuhan yang sudah memberi keselamatan yang kekal di surga tidaklah menjadi kecewa, melainkan makin merasakan betapa besar kuasa Tuhan di dunia ini. Bagi mereka, hidup ini tidak lagi sebuah misteri.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 6 – 7

Iman dan hidup adalah kesatuan

“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Yakobus 2:26

Mungkin Anda masih berlibur saat ini. Hari kedua setelah hari Natal, pikiran anda masih ingin beristirahat. Tetapi, mungkin ini saat yang tepat bagi Anda untuk mengasah otak. Ayat diatas menyatakan bahwa tubuh tanpa roh = mati. Lebih lanjut, iman tanpa perbuatan = mati. Lalu apakah tubuh tanpa roh adalah sama dengan iman tanpa perbuatan? Itu ada benarnya secara logika, tetapi kurang tepat ditafsirkan begitu. Tubuh tanpa roh adalah mati jasmani, tetapi iman tanpa perbuatan adalah mati rohani. Dengan demikian, jika kita sebagai umat Kristen yang memiliki hidup jasmani dan hidup rohani, kita harus bisa melakukan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan iman kita selama kita hidup di dunia.

Iman tanpa perbuatan baik disebut mati karena kurangnya perbuatan baik itu mengungkapkan kehidupan yang tidak diubahkan, serta hati yang mati secara rohani. Ada berbagai ayat yang menjelaskan bahwa iman sejati yang menyelamatkan akan menghasilkan kehidupan yang berubah, bahwa iman terbukti oleh perbuatan kita. Cara hidup kita mengungkapkan kepercayaan kita dan apakah iman yang kita akui benar-benar iman yang hidup.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Apa yang ditulis oleh rasul Yakobus terkadang diceraikan dari konteksnya demi menciptakan sistem kesalehan beragama yang didasari perbuatan baik, padahal berlawanan dengan pengajaran lainnya di dalam Alkitab. Yakobus bukan mengajar bahwa perbuatan baik dapat membenarkan kita di hadapan Allah, melainkan bahwa iman sejati akan terbukti oleh perbuatan baik. Perbuatan baik bukanlah penyebab keselamatan; perbuatan baik adalah bukti keselamatan. Iman sejati di dalam Kristus selalu menghasilkan perbuatan baik. Orang yang mengklaim dirinya Kristen tetapi hidup dalam ketidaktaatan pada Kristus yang disengaja, imannya palsu dan ia tidak selamat.

Dalam tulisannya, Yakobus membandingkan dua jenis iman yang berbeda – iman sejati yang menyelamatkan dan iman palsu yang mati. Banyak orang Kristen yang yakin bahwa menjadi umat Tuhan cukup dengan iman. Mereka dengan mulut mengaku percaya, tetapi dalam hidup tetap menjalankan kebiasaan lama. Dengan demikian perlu dipertanyakan apakah tujuan mereka untuk menjadi umat Tuhan, jika tidak untuk hidup sesuai dengan perintah Tuhan dan untuk memuliakan-Nya? Orang yang demikian sering tidak mau menekankan pentingnya perbuatan baik dan nilai-nilai moral Kristen dengan alasan bahwa jika orang sudah diselamatkan, itu hanya karena karena Tuhan dan karena itu perbuatan manusia tidaklah mempunyai arti dalam konteks keselamatan.

Sudah tentu pandangan sedemikian adalah keliru. Tetapi mereka yang menganut faham itu sudah tentu tidak merasa atau tidak mau dituduh sesat. Dalam hidup Kristen, seharusnya setiap orang mempunyai tujuan dan mau bekerja untuk mencapainya. Lebih dari itu, orang juga mengharapkan hasil yang sesuai dengan tujuan dan cara hidupnya. Memang ada tiga hal yang penting dalam hidup: tujuan, cara dan hasil. Jika kita mau menjadi umat Tuhan, kita harus mempunyai tujuan hidup yang benar, cara hidup yang benar dan dengan demikian berharap untuk mendapatkan hasil yang baik.

Menjadi sempurna di dalam Kristus tidaklah terjadi dalam sekejap mata, itu adalah proses penyucian seumur hidup. Dalam hal ini ada orang yang menafsirkan bahwa Yesus sebenarnya tidak mengharapkan kesempurnaan tetapi kedewasaan. Apa pun penafsiran kata aslinya (bahasa Yunani: teleios), jelas bahwa tiap orang Kristen harus mengalami perubahan selama hidup di dunia.

“Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.” Filipi 3: 12

Dalam perspektif Alkitab, tujuan hidup yang utama berdasarkan ayat di atas adalah untuk menjadi seperti Yesus. Dengan tujuan ini, kita bisa memilih apa yang perlu dilakukan dan cara hidup yang harus dijalani. Ayat ini tidak menyatakan bahwa kita harus mencapai kesempurnaan agar dapat mencapai keselamatan. Kita tahu bahwa keselamatan adalah karunia Tuhan. Tetapi Yesus dalam Matius 5 menetapkan tujuan hidup yang seharusnya dilaksanakan setiap orang Kristen, agar mereka menjadi manusia dewasa yang hidup dalam kasih seperti Tuhan mengasihi kita. Selain itu, dari apa yang baik (buah-buah Roh), orang Kristen bisa terlihat apakah ia benar-benar sudah diselamatkan.

Banyak orang mengaku sebagai Kristen, namun kehidupan dan prioritas mereka menunjukkan kenyataan yang sesungguhnya. Yesus mengutarakannya demikian:

“Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7:16-23.

Kesalahpahaman terkait hubungan di antara iman dan perbuatan datangnya dari penyalah-tafsiran ajaran Alkitab mengenai keselamatan. Pada umumnya ada dua kesalahan yang muncul dalam pengertian iman dan perbuatan. Kesalahan yang pertama ialah bahwa, selama seseorang pernah mengucapkan doa atau pernah berkata, “Saya percaya Yesus,” maka ia selamat tanpa pengecualian apa pun. Ajaran ini dikenal dengan ungkapan “pembaruan mengikuti keputusan,” dan sangat berbahaya.

Begitu juga ajaran”pembaharuan terjadi pada saat diselamatkan“. Idenya ialah bahwa pengakuan iman yang dikerjakan Tuhan akan menyelamatkan seseorang, dan orang itu diselamatkan tanpa harus bereaksi atas panggilan Tuhan, walaupun ia hidup bagaikan iblis setelahnya, dan dapat dimasukkan kategori “Kristen karnal.” Ajaran ini menyepelekan gaya hidup yang bejat: seseorang dapat meneruskan hidupnya sebagai pezinah yang tidak bertobat, suka berzinah, pembohong, atau pencuri, namun ia selamat; karena ia “sudah dipilih Tuhan”. Namun, sebagaimana kita jumpai dalam Yakobus 2, pengakuan iman yang kosong – pengakuan yang tidak menghasilkan hidup yang taat kepada Kristus – adalah iman yang mati, yang tidak dapat menyelamatkan. Tuhan tidak memilih orang-orang untuk diselamatkan tanpa menimbang kesetiaan iman mereka.

Kesalahan ketiga terkait iman dan perbuatan adalah ajaran sesat bahwa “untuk diselamatkan orang harus berbuat baik atau melaksanakan hukum Taurat”. Upaya mendapatkan keselamatan dengan mencampurkan iman dan perbuatan sangat berlawanan dengan Alkitab. Kita dibenarkan oleh kasih karunia melalui iman, dan akibat alami dari iman di hati ialah perbuatan yang dapat diamati. Perbuatan yang mengikuti keselamatan tidak membenarkan kita di hadapan Allah; perbuatan itu hanya mengalir dari hati yang diperbarui sama seperti air mengalir dari mata air yang hidup.

Keselamatan adalah tindakan berdaulat Allah dimana seseorang berdosa mengalami “permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” yang dicurahkan di atasnya sehingga ia lahir kembali. Ketika hal ini terjadi, Allah memberi orang berdosa yang telah diampuni sebuah hati baru dan menaruh roh yang baru di dalamnya. Allah mencabut hatinya yang telah dikeraskan oleh dosa dan mengisinya dengan Roh Kudus. Roh ini menyebabkan orang yang diselamatkan bisa berjalan dalam ketaatan kepada Firman Allah.

Iman tanpa perbuatan disebut mati karena yang terungkap ialah fakta bahwa hati orang itu belum diubah oleh Allah. Ketika kita diperbarui oleh Roh Kudus, kehidupan kita akan menyaksikan kehidupan baru itu. Perbuatan kita akan dikenal oleh ketaatannya kepada Allah. Iman yang tidak terlihat, dapat disaksikan secara nyata oleh kehadiran buah-buah Roh yang menghiasi kehidupan kita (Galatia 5:22). Orang Kristen adalah milik Kristus, Sang Gembala yang Baik. Sebagai domba-Nya kita mau mendengar suara-Nya dan mengikuti Dia (Yohanes 10:26-30). Inilah yang harus kita sadari dalam memasuki tahun yang baru.