Lidah bisa menghancurkan pemiliknya

“Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.” 1 Petrus 3: 10

Anda ingat lagu “Tinggi Gunung Seribu Janji”? Lagu yang nadanya enak didengar itu diciptakan oleh Ismail Marzuki. Lagu itu kemudian menjadi sangat terkenal dan pernah dibawakan oleb berbagai penyanyi, diantaranya penyanyi pop Hetty Koes Endang dan Bob Tutupoli, serta penyanyi keroncong Tuti Maryati. Sebagian syairnya berbunyi:

Memang lidah tak bertulang

tak berbekas kata-kata

Tinggi gunung seribu janji

lain di bibir lain di hati

Lidah memang tidak bertulang dan karena itu dikatakan sebagai anggota tubuh yang dengan leluasa mengeluarkan apa saja, baik itu hal-hal yang baik, ataupun hal-hal jahat seperti bohong, fitnah, dan sumpah serapah, yang dapat mempengaruhi orang lain. Tetapi, dalam Alkitab ada juga tertulis ayat-ayat, yang seperti ayat diatas, menyebutkan resiko penggunaan lidah terhadap pemiliknya.

“Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka” Yakobus 3: 6

Hampir dalam segala segi kehidupan, manusia memang sering menggunakan lidahnya untuk menguntungkan diri sendiri dan merugikan orang lain. Tetapi, dengan berbuat demikian, sebenarnya ia juga merugikan diri sendiri. Bukan saja masa depannya bisa menjadi suram, hidupnya pun akan perlahan-lahan menemui kehancuran.

Adalah suatu yang menyedihkan bahwa banyak orang yang duduk sebagai pimpinan masyarakat, justru sering terlihat sebagai orang yang hanya pandai bersilat lidah. Pemimpin yang sedemikian sudah tentu tidak dapat memajukan rakyat, tetapi justru bisa membuat kekacauan dan kebingungan. Mereka akhirnya akan digantikan oleh orang-orang yang lebih baik.

Dalam kehidupan keluarga pun, orang tua memberi bimbingan kepada anak-anaknya melalui apa yang dikatakan dan diperbuat mereka. Jika orang tua hanya sering memberi nasihat tetapi tidak memberi contoh melalui perbuatan; atau lebih sering berjanji tetapi jarang memenuhinya, anak-anak mereka akhirnya akan kurang bisa menjadi anak yang patuh, karena apa yang diucapkan orang tua dianggap sebagai suatu kemunafikan dan kebohongan saja. Orang tua yang sedemikian lambat laun akan kehilangan wibawanya.

Pimpinan gereja dengan ucapan dan pandangan hidup mereka juga membawa pengaruh kepada orang lain. Mereka yang mengajarkan bahwa Tuhan menghendaki semua orang Kristen untuk hidup makmur dan sukses di dunia, tidak mencerminkan kebijaksanaan Tuhan yang selalu membimbing umatNya baik dalam suka dan duka. Mereka yang mengajarkan bahwa orang Kristen pada hakikatnya adalah orang yang baik, tidaklah memberitakan kebenaran Tuhan: bahwa kita adalah orang berdosa yang membutuhkan bimbingan dan kekuatan dari Tuhan setiap hari. Mereka bukan saja menyampaikan apa yang keliru, tetapi juga membuat Tuhan dan gerejaNya dipermalukan.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa dalam hidup ini kita harus memakai lidah kita untuk menyatakan kebaikan dan kejujuran. Baik kita adalah pimpinan ataupun pekerja, guru atau murid, orang tua maupun anak, suami ataupun istri, kita semua harus memakai seluruh hidup kita untuk memuliakan Tuhan, dan dengan demikian membuka jalan bagi kita untuk menerima berkat Tuhan yang lebih besar dihari-hari mendatang.

“Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat.” 1 Petrus 3: 12

Pintar-pintarlah pilih teman

“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” 1 Korintus 15: 33

Tidak dapat dipungkiri, sejak adanya berbagai sosial media banyak orang menjadi sangat bersemangat untuk berkomunikasi dengan “teman”. Dengan berbagai aplikasi orang bisa berkomunikasi langsung melalui pesan tertulis ataupun pesan lisan kapan saja. Orang biasanya merasa senang bercanda, saling menggoda dan juga mengirimkan gambar-gambar lucu yang kadang-kadang agak “miring”.

Kemajuan teknologi memang bisa membuat dua orang yang terpisah jarak ribuan kilometer, sepertinya ada dalam satu ruangan saja. Istilah teman sekarang ini bukan saja mencakup orang yang pernah kita temui, tetapi juga teman-teman maya yang sebenarnya tidak pernah kita kenal. Bahkan, dalam dunia maya, orang bisa jatuh cinta dan bermesraan bak sepasang merpati yang mabuk kepayang. Pada pihak yang lain, melalui sosial media orang juga bisa menabur benih kebencian. Kenyataan menunjuk kepada adanya orang-orang bersedia menghancurkan hidup orang lain karena pikiran mereka sudah diracuni oleh orang yang dianggap teman seperjuangan di dunia maya.

Pergaulan nyata maupun maya di zaman now memang bisa menerobos “tembok pemisah” yang dulunya ada diantara masyarakat, golongan dan bangsa. Seringkali pergaulan yang bersifat terbuka diantara orang-orang yang berbeda agama, budaya dan sosial ekonominya membuka mata kita bahwa diluar lingkungan kita ternyata ada hal-hal yang sepertinya indah dan baik. Perbedaan antar manusia menjadi baur dan demikian pula perbedaan iman kepercayaan. Orang pun mulai percaya bahwa di dunia ini tidak ada yang mutlak, karena semua yang ada hanyalah bersifat relatif dan bisa berubah.

Rasul Paulus dalam ayat diatas seakan sudah bisa membayangkan apa yang kita alami sekarang. Itu karena pada zamannya, orang Kristen yang tinggal di Korintus juga menghadapi berbagai kepercayaan, kebiasaan dan budaya yang seringkali tidak sesuai dengan iman Kristen. Dengan itu, tidaklah mengherankan jika ada orang Kristen di Korintus yang terpikat oleh apa yang nampaknya baik. Mereka kemudian jatuh dalam dosa, dan kepada mereka Paulus mengingatkan:

“Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu.” 1 Korintus 15: 34

Pagi ini mungkin kita bersiap untuk ke gereja. Di gereja, kita bersekutu dengan saudara-saudara seiman, memuji Tuhan dan mendengarkan firmanNya. Kita merasa tenteram dan bahagia, dan Tuhan terasa dekat. Tetapi, seusai kebaktian kita akan kembali menghadapi dunia dengan segala tipu muslihatnya.

Mungkin kita berharap bahwa ketenteraman dan kebahagiaan juga bisa ditemui diantara teman-teman kita. Tetapi, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa di dunia ini ada banyak orang yang tidak mengenal Tuhan. Mungkin kita sudah terbiasa bergaul dengan mereka dan merasa bahwa mereka bukanlah orang yang jahat. Tetapi firman Tuhan mengatakan bahwa kita tetap harus berhati-hati, agar kita tidak mengikuti cara hidup dan kebiasaan mereka yang tidak mengenal Kristus. Orang percaya adalah garam yang mempengaruhi dunia, dan karena itu garam tidak boleh menjadi tawar karena pengaruh dunia. Garam yang tidak lagi asin, bukanlah garam!

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” Matius 5: 13

Iman bukannya tanpa halangan

“Dahulu kamu berlomba dengan baik. Siapakah yang menghalang-halangi kamu, sehingga kamu tidak menuruti kebenaran lagi?” Galatia 5: 7

Hasil kejuaraan lari 3000m pada kejuaraan World Indoor Championships 2018 di Birmingham adalah 1. Genzebe Dibaba (Etiopia) 2. Sifan Hassan (Belanda) 3. Laura Muir (Inggris). Sesudah race itu selesai, salah satu pertanyaan adalah apakah Laura Muir tidak seharusnya diberi medali perak. Mengapa? Pada putaran terakhir, Sifan memotong jalan Laura dan menghalanginya untuk bisa melaju kedepan dengan bebas. Sifan meneruskan usahanya untuk menghalangi Laura bahkan makin melebar ke kanan sampai di garis finis. Anehnya, atas pertanyaan wartawan, Laura tidak menyadari adanya insiden itu karena pikirannya pada waktu itu hanyalah untuk mencapai garish finis. Juga karena lelah, Laura tidak sepenuhnya awas atas keadaan disekelilingnya.

Rasul Paulus bukanlah seorang olahragawan atau seorang prajurit, tetapi ia sering memakai ilustrasi tentang lari dan tinju. Dalam ayat diatas, ia menggambarkan bahwa semua pengikut Kristus adalah seperti pelari atau prajurit yang berlari kearah suatu tujuan, yaitu surga. Perjalanan yang ditempuh adalah cukup panjang, dan aral rintangan selalu muncul di tempat dan waktu yang sulit diduga. Karena itu semua orang Kristen haruslah bisa memusatkan hidup kita kepada kehidupan surgawi yang akan datang. Berlari dalam race menuju garis finis.

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Filipi 3: 13 – 14

Hal berlari karena panggilan surgawi itu tidaklah mudah dilakukan. Selama hidup di dunia, anak-anak Tuhan selalu menghadapi rintangan dan godaan dari berbagai jurusan. Dalam Galatia 5: 7 diatas Paulus bertanya kepada jemaat di Galatia, mengapa mereka sudah berubah dalam pengertian iman mereka. Dulu mereka hidup dalam kebenaran, tetapi setelah selang berapa lama mereka berubah. Paulus menanyakan siapakah yang sudah mempengaruhi mereka. Paulus lebih lanjut berkata bahwa mereka yang menyesatkan jemaat itu akan menerima hukuman Tuhan (Galatia 5: 10).

Bahwa orang Kristen bisa terhalang pertumbuhan imannya adalah suatu kenyataan. Di zaman ini bukan saja pertanyaan “siapa” yang menghalangi hidup Kristen kita, tetapi juga “apa”. Ada banyak orang yang bisa menggoda kita, begitu juga ada banyak benda dan keadaan yang bisa membuat kita berubah. Pada tulisan rasul Paulus diatas, ia secara spesifik menyebut adanya orang-orang yang mengajarkan hal-hal yang salah kepada jemaat Galatia.

Pada saat-saat tertentu, orang Kristen bisa jatuh karena adanya kekerasan dan kejahatan yang dilakukan orang lain. Sejarah membuktikan bahwa dari dulu sampai sekarang, ada orang-orang yang berusaha memaksa orang Kristen untuk menyangkali Tuhan. Kejadian dimana banyak orang Kristen disiksa dan dibunuh karena iman mereka, masih terjadi sampai sekarang.

Apa yang kurang mendapat perhatian adalah orang Kristen bisa juga jatuh karena “perbuatan baik” orang lain. Faktor nama, pesona, cinta, citra, budaya dan kharisma yang dipunyai orang lain bisa, secara tidak terasa, membuat orang Kristen melakukan hal yang keliru. Baik itu pengaruh yang berasal dari orang-orang ternama, orang-orang yang kita hornati, sanak keluarga, ataupun kekasih kita; semuanya bisa menjadi penghalang kita untuk menyelesaikan perjalanan hidup kita dengan baik. Apa yang tidak sesuai dengan firman Tuhan bukanlah kebenaran, sekalipun diberikan kepada kita dengan maksud baik.

Kita mungkin tidak menyadari adanya godaan dan halangan iman karena pikiran kita seringkali terpusat pada usaha untuk mencapai apa yang kita idamkan. Juga karena kelelahan dan kesibukan hidup kita seringkali tidak sepenuhnya awas atas keadaan disekeliling kita.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita untuk mau berpegang pada firman Tuhan selama kita hidup di dunia. Sekalipun itu berarti hidup dalam perjuangan, kita bisa yakin bahwa semua penderitaan kita tidak akan sia-sia. Sebaliknya, kekeliruan apapun bisa mengakibatkan kebingungan dan kegoyahan iman yang membawa kehancuran hidup.

“…sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah.” Filipi 2: 16

Bersyukurlah atas hadiah keselamatan anda

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23 – 24

Beberapa minggu ini saya dibanjiri dengan email yang mengabarkan bahwa saya memenangkan hadiah ini dan itu. Apa yang harus saya lakukan hanya untuk mengklaimnya dengan mengklik alamat situs internet tertentu. Sudah barang tentu saya tahu bahwa ini hanyalah scam saja, upaya untuk menipu saya agar saya memberikan detail bank saya. Di dunia ini tidak ada barang gratis!

Betulkah bahwa didunia ini kita harus membayar untuk memperoleh sesuatu? Bukankah udara yang segar, pemandangan yang indah, sinar matahari dan hujan bisa diterima manusia dengan gratis? Ya, tetapi sebagian orang mengatakan hal-hal itu bukanlah milik kita dan tidak bisa menjadi milik kita pribadi. Kita hanya ikut menikmatinya bersama orang lain. Untuk memperoleh apa yang betul-betul bisa menjadi milik kita pribadi, kita harus bekerja untuk memperolehnya atau membayar harganya dengan suatu pengurbanan.

Keyakinan bahwa tidak ada yang gratis di dunia itu jugalah yang sering membuat orang sukar percaya bahwa keselamatan tidak mungkin diperoleh manusia tanpa berbuat sesuatu. Jika ayat diatas mengatakan bahwa orang Kristen sudah dibenarkan dan memperoleh keselamatan dengan cuma-cuma, itu adalah sesuatu yang sulit dimengerti orang yang mempunyai kepercayaan lain. Itu seperti scam saja. Karena itu, banyak orang yang percaya bahwa keselamatan di surga hanya bisa dicapai dengan hidup baik dan perbuatan baik.

Jika dikatakan bahwa keselamatan itu barang yang dapat diperoleh dimana-mana oleh siapapun secara gratis, itu sesungguhnya tidak benar. Keselamatan dari murka Allah tidaklah ada yang bisa memadamkannya. Ia yang mahakuasa tidak mungkin bisa dipengaruhi oleh manusia dan segala usaha mereka. Tetapi, kemarahan Tuhan hanya bisa dihentikan olehNya sendiri, dan itu karena kasihNya. Ia ingin menyelamatkan manusia dan untuk itu Ia sudah turun ke dunia, membayar dengan harga tertinggi dengan kematian Yesus di kayu salib.

“Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar.” 1 Korintus 7: 23a

Jika ada manusia yang ingin membeli keselamatan dengan usaha sendiri ada beberapa hal praktis yang menghalanginya. Yang pertama, bagaimana mungkin ia bisa menebus dosanya dengan hidup baik jika ia tetap berbuat dosa setiap hari? Tuhan yang mahasuci tidak akan dapat menerima apa yang tidak benar-benar suci. Apapun yang dipandang baik oleh manusia, dalam kenyataannya sudah terkontaminasi dosa. Kedua, jika ada orang yang ingin membeli keselamatannya dengan memberi persembahan kepada Tuhan, inipun sia-sia. Mungkinkah Tuhan mau menerima tebusan dari manusia, jika apa yang dipersembahkan manusia adalah milik Tuhan sendiri. Itu bukan tebusan! Jelas, kita hanya bisa diampuni jika ada orang yang bisa menggantikan kita untuk menerima hukuman Tuhan. Dan orang itu harus tidak mempunyai dosa. Tuhan sendiri harus menggantikan manusia dalam menanggung hukuman dosa.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8

Siang ini, jika kita memikirkan masa depan kita, patutlah kita bersyukur bahwa Tuhan sudah menebus kita selagi kita masih dalam dosa. Tuhan tidak menuntut kita untuk memiliki kesucian atau persembahan yang besar untuk bisa diselamatkan. Ia tahu bahwa sebagai manusia kita tidak mungkin untuk memenuhi standarNya. Kita yang sudah menerima hadiah keselamatan ini patutlah bersyukur setiap hari dengan memuliakanNya dan membagikan kasihNya kepada setiap orang.

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3: 17

Engkau tidak sendirian

“Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” 2 Korintus 4: 8 – 9

Lagu “You are not alone” yang artinya “Engkau tidak sendirian” adalah sebuah lagu pop yang dirilis Michael Jackson pada tahun 1995. Lagu itu adalah lagu patah hati seseorang yang ditinggal kekasihnya. Lagu sedih ini menjadi lagu top di banyak negara untuk waktu yang cukup lama. Kelihatannya banyak orang yang bukan saja menyukai nadanya, tetapi juga merasa bahwa liriknya benar-benar mengena dan bisa membuat para pendengarnya menitikkan air mata.

Mengapa orang sering menjadi sentimental dalam mengalami kesedihan? Mungkin karena emosi berlebihan yang menguasai hati. Perasaan sentimental memang sering muncul dengan deraian air mata, barangkali bukan hanya karena hidup ini berat, tetapi juga karena tidak ada seorangpun yang peduli. Aku sendirian dalam kesedihanku. I am alone in my sadness.

Memang, salah satu musuh terbesar manusia adalah perasaan kesepian. Allah yang menciptakan Adam tentu tahu bahwa kesepian adalah tidak baik; karena itu Ia menciptakan seorang pendamping yang sepadan yaitu Hawa (Kejadian 2: 18). Manusia membutuhkan manusia lain untuk bekerja sama dan saling menolong.

Walaupun manusia seharusnya hidup bermasyarakat untuk bekerja sama dalam hidup di dunia, kejatuhan kedalam dosa membuat hubungan antar manusia menjadi rusak. Manusia sering menguasai, menindas dan menyiksa sesamanya, baik secara jasmani maupun rohani. Selain itu, hidup pun menjadi berat karena setiap orang harus membanting tulang untuk bisa tetap hidup. Lebih parah lagi, karena dosa manusia sering tidak bisa mempunyai hubungan yang dekat dengan Tuhan penciptaNya.

Paulus menulis kepada jemaat di Korintus bahwa ia mengalami berbagai kesulitan hidup, termasuk apa yang diperbuat orang lain. Ia menulis bahwa ia dan rekan-rekannya mengalami penindasan, kekurangan dan berbagai penderitaan lainnya. Walaupun demikian, mereka tetap bertahan, survive, dalam setiap keadaan dan tidak merasa ditinggalkan. Mengapa bisa begitu? Itu tentunya karena mereka mempunyai hubungan yang baik dengan saudara-saudara seiman, dan lebih dari itu, karena mereka dekat dengan Tuhan yang menguatkan, membimbing dan melindungi. Mereka juga ingat bahwa Yesus juga pernah mengalami penderitaan yang malahan jauh lebih besar, tetapi memperoleh kemenangan pada akhirnya. Adanya kesatuan dalam tim kemenangan Tuhan membuat mereka kuat dan tidak merasa sendirian atau alone.

Pagi ini, anda mungkin merasa sendirian karena anda hidup seorang diri. Mungkin juga, anda hidup bersama keluarga, tetapi tidak mendapat dukungan yang cukup. Mungkin juga anda mempunyai teman atau pasangan hidup yang kurang bisa mengerti perasaan anda. Mungkin saja anda hidup ditengah keramaian, tetapi hanya merasakan kesunyian dan sakitnya hidup ini. Anda merasa ditinggalkan, kesepian, sendirian.

Dimanakah tim kemenangan anda? Orang-orang yang seharusnya bisa mengerti keadaan anda dan mampu menolong? Saudara-saudara seiman yang bisa menguatkan dan mendoakan? Mungkin saja mereka semuanya sudah meninggalkan anda. Sebagian mungkin malah membenci dan memusuhi anda. Tetapi, ada satu yang masih dengan setia menyertai anda. Tuhan yang membimbing rasul-rasul, Ia jugalah yang menyertai anda. You are not alone!

“Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.” Ulangan 31: 8

Perjuangan menempuh hidup baru

“Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.” 2 Petrus 1: 3

Jika kita percaya bahwa mereka yang sudah menerima hidup baru dan bertobat dalam Kristus akan mempunyai hidup yang lain dari hidup orang kebanyakan, dalam kenyataannya ada orang yang sudah bertahun-tahun menjadi Kristen, tetapi hidupnya tidak jauh berbeda dengan orang yang belum Kristen. Mengapa bisa begitu? Banyak yang berpendapat bahwa orang yang sedemikian adalah orang yang belum betul-betul bertobat. Tetapi, walaupun itu mungkin ada benarnya, ada banyak orang Kristen yang ingin berubah cara hidupnya, tetapi selalu menemui kesulitan.

Bagi orang Kristen yang sadar bahwa hidup mereka masih jauh dari apa yang seharusnya, kekecewaan dan rasa sedih bisa muncul karena bukannya apa yang baik yang mereka lakukan, tetapi justru apa yang jahat.

“Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Roma 7: 22 – 24

Memang kesedihan karena merasa bahwa kita sudah mengecewakan Tuhan itu bisa muncul, terutama jika ada pikiran bahwa kita adalah orang-orang yang gagal, yang sudah mengecewakan orang-orang yang mencintai kita, seperti orang tua, suami, istri, anak atau saudara kita. Selain itu, kita mungkin juga merasa gagal dalam membina hubungan baik dengan teman dan sejawat. Ah, aku manusia celaka!

Dalam keadaan seperti ini, banyak orang yang merasa lemah jasmani dan rohaninya, dan tidak mempunyai semangat untuk menghadapi hari depan. Hari demi hari lewat dan kesedihan mungkin muncul karena tidak adanya perubahan hidup. Dari dulu sampai sekarang, Tuhan sering terasa jauh. Rasa kuatir juga bisa timbul karena Tuhan seolah berdiam diri dan tidak mau menolong. Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?

Apakah Tuhan peduli akan hidup anak-anakNya? Tentu! Ayat pembukaan diatas berkata bahwa karena kuasa Tuhan kita telah mendapat segala sesuatu yang bisa kita pakai untuk hidup yang saleh karena kita mengenal Dia, Tuhan, yang telah memanggil kita. Hidup yang saleh disini adalah gambaran hidup suci di surga yang dimungkinkan oleh Tuhan.

Kepastian bahwa hidup kita menuju ke surga tidaklah berarti bahwa hidup kita di dunia menjadi mudah dijalani. Sebaliknya, emakin kita ingin untuk menempuh hidup  yang sesuai dengan firmanNya, semakin besar juga tantangan yang kita hadapi. Tetapi,, Tuhan yang memberi kita hidup baru adalah Tuhan yang membimbing agar kita bisa mempunyai hidup yang baik selama di dunia. Dengan demikian, hidup yang sekarang ini harus tetap diisi dengan sukacita dan semangat untuk bisa tetap mau bertumbuh dalam segala apa yang baik.

Bagaimana kita bisa menjalani hidup ini dengan penuh optimisme? Apa yang harus kita lakukan hanyalah untuk menyadari dan menggunakan apa yang sudah Tuhan berikan. Kita tidak dapat bertumbuh dengan mengandalkan kekuatan kita sendiri. Segala berkat dan kasih penyertaan Tuhan setiap hari dan lebih-lebih lagi Roh Kudus, sudah diberikan kepada kita agar hidup kita makin lama makin terpusat kepada hidup yang akan datang di surga.

Pagi ini jika kita merasa lemah dan kecewa atas hidup kita, marilah kita mengingat bahwa apa yang baik dari Tuhan sudah diberikan kepada kita untuk bisa menghadapi perjuangan hidup di dunia ini karena kemenangan kita di surga sudah terjamin melalui darah Yesus di kayu salib. Karena kita mengenal Juruselamat kita, pengetahuan kita akan kasih dan kemurahan Tuhan adalah lengkap, dan dengan itu kita boleh yakin bahwa hari lepas hari Ia membimbing kita dalam menghadapi berbagai kesulitan untuk menjalani hidup sebagai orang yang sudah diselamatkan. Tuhan jugalah yang membimbing hidup kita sehingga kita bisa makin dewasa dalam iman sampai saatnya kita berjumpa dengan Tuhan muka dengan muka.

“Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.” 2 Korintus 9: 8

Belajar mencukupkan diri

“Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.” Filipi 4: 12

Memasuki minggu baru kita menghadapi tantangan baru. Perjuangan hidup memang tidak pernah berhenti. Apa yang kita butuhkan hari ini? Sebagai manusia, tentunya kita membutuhkan makanan, minuman, kesehatan, penghasilan dan berbagai hal yang lain. Walaupun begitu, daftar kebutuhan tiap orang tidaklah sama. Ada orang yang tidak membutuhkan terlalu banyak, tetapi ada juga orang yang mendambakan berbagai hal. Ada yang belum memperoleh banyak, tetapi sudah puas dengan apa yang ada. Sebaliknya, ada yang hidup berkelimpahan, tetapi masih juga menantikan datangnya sesuatu yang lebih besar.

Bagi kita yang percaya kepada Tuhan, tentunya kita yakin bahwa Tuhanlah sumber segala sesuatu yang baik dalam hidup kita. Tetapi, jika Ia mengasihi setiap anakNya, mengapa berkatNya berbeda-beda kepada setiap orang? Mengapa Tuhan memberkati orang-orang tertentu dengan kekayaan yang luar biasa sekalipun mereka bukan orang Kristen? Dan mengapa pula ada orang-orang yang percaya bahwa jika Tuhan memberikan kenyamanan dan kesuksesan kepada orang lain, Tuhan seharusnya juga memberikan hal yang serupa kepada mereka?

Kenyamanan dan kesuksesan mempunyai definisi yang berbeda-beda untuk tiap orang. Situasi juga memegang peranan, bahwa apa yang dirasakan nikmat dan hebat pada satu saat, bisa terasa hampa pada saat yang lain. Dalam hal ini, Rasul Paulus menulis bahwa setelah mengalami manis-pahitnya kehidupan, ia sadar bahwa dalam keadaan apapun, yang paling penting adalah adanya rasa cukup. Tetapi, rasa cukuplah yang sering tidak dipunyai manusia, sekalipun ia kaya dalam segala sesuatu.

“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” Filipi 4: 11

Walaupun demikian, sebagian orang Kristen mungkin percaya bahwa tujuan Tuhan dalam memberikan sesuatu adalah untuk memberi mereka kelimpahan sehingga rasa syukur akan kasih Tuhan itu semakin besar. Tuhan seakan memberi berkat agar manusia taat kepadaNya. Itu memang cara pemikiran logis duniawi, tetapi bukan menurut firman Tuhan.

Sebagai Bapa, Tuhan tentu tahu apa yang baik untuk kita dan Ia selalu mau memberikannya.

“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Matius 7: 11

Walaupun begitu, Tuhan tidak memberikan berkat demi berkat sampai kita merasa puas.

Apa definisi “cukup” itu? Ada banyak orang yang tidak mengenal kata “cukup” apalagi mengerti artinya. Bagi mereka, “cukup” mungkin berarti “bukan terbaik”. Bukankah Tuhan mahakaya dan mahakasih? Dalam hal ini, Tuhan bukanlah seperti orang tua yang memanjakan anak-anaknya, tetapi adalah seperti orang tua yang bijaksana. Sebagai anak-anakNya, kitalah yang harus bisa belajar merasa cukup dalam keadaan apapun.

Karena Tuhan mempunyai rancangan yang berbeda untuk setiap umatNya, kita tidak bisa mengharapkan bahwa Ia akan memberi apa yang kita inginkan. Tuhan dengan kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang baik, yang kita butuhkan, yang dapat menguatkan iman kita dalam perjuangan hidup ini.

Hal-hal lain yang kita dambakan tetapi tidak kunjung datang, mungkin saja justru tidak berguna, atau malahan bisa mengurangi keyakinan kita bahwa Tuhan yang membimbing kita adalah mahakuasa dan mahabijaksana. Adakah rasa cukup dalam diri kita saat ini? Biarlah kita makin hari makin bisa merasa cukup didalam Dia!

Lidah itu berbahaya

Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan.” Yakobus 3: 7 – 8

Yakobus menulis bahwa lidah adalah bagian tubuh yang kecil tapi mempunyai kemampuan besar. Dengan lidah kita bisa memberitakan Injil, tetapi dengan lidah kita juga dapat menghujat Tuhan. Lidah dapat digunakan untuk memuji seseorang, tetapi dengan lidah juga orang bisa memfitnah. Lidah adalah penyambung pikiran, dan apa yang ada dalam pikiran bisa dicetuskan dalam kata-kata yang lembut atau keras.

Pada waktu Adam dan Hawa masih berada didalam taman Firdaus, iblis juga menggunakan kata-kata untuk menjerat Hawa. Dengan penuh kelicikan iblis memutarbalikkan apa yang dikatakan Allah kepada Adam dan Hawa (Kejadian 3: 1 – 6). Sebagai akibatnya, Hawa dan kemudian Adam jatuh kedalam dosa dan harus keluar dari taman Firdaus.

Hidup di dunia mengharuskan manusia untuk bekerja keras dan bahkan berkompetisi satu melawan yang lain. Kain yang merasa cemburu terhadap Habil, akhirnya membenci dan membunuh saudaranya. Tetapi, dalam sejarah kehidupan manusia kita bisa membaca bahwa untuk membenci dan membunuh sesama, lidah saja sudah cukup mampu melakukannya. Dengan lidah kita bisa mem “bully” orang lain, mengintimidasi atau menebar gossip untuk menjelekkan nama seseorang (character assassination).

Belajar untuk bisa berhenti dan kemudian berpikir sebelum mengatakan sesuatu kepada orang lain, atau tentang orang lain, memang tidak mudah. Banyak orang yang secara impulsif bisa dan biasa untuk langsung memberi komentar. Apalagi, jika emosi sudah memainkan perannya, banyak orang yang menyuarakan hal-hal yang jahat, melalui lidah ataupun tulisan.

Memang sebagian orang tidak mau mempelajari situasi dan fakta sebelum bersuara. Mereka seringkali percaya bahwa dirinya sendiri yang benar, dan orang lain yang salah. Tetapi, Alkitab mengingatkan kita bahwa kita harus bisa menahan diri dan mau untuk mencari fakta, agar kita bisa berdiri diatas kebenaran.

Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. Yakobus 1: 19 – 20

Memang dalam hidup ini, ada berbagai kejadian yang bisa membuat kita yakin bahwa kita berhak untuk mengeluarkan kata-kata yang pedas dan tajam. Tetapi, sekalipun ada kenyataan bahwa kita benar, itu bukanlah berarti bahwa kita harus mengeluarkan kata-kata yang bisa melukai perasaan orang lain atau yang bisa memperburuk situasi.

“Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.” Matius 5: 21 – 22

Pagi ini, biarlah kita bisa disadarkan bahwa jika kita ingin memuliakan Tuhan dalam hidup kita, lidah adalah salah satu bagian tubuh yang seringkali terombang-ambing diantara hal yang baik dan hal yang buruk. Karena itu, sebagai anak Tuhan kita harus bisa mengendalikan lidah kita dan berhati-hati dalam mengemukakan pendapat kita kepada (atau tentang) orang lain.

Mereka yang tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya (Yakobus 3: 2). Dalam hal ini, kita harus sadar bahwa semua orang, termasuk diri kita sendiri, bersalah dalam banyak hal. Karena itu kita harus tetap mau belajar hari lepas hari untuk memakai lidah kita guna memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama kita.

Bosankah anda menjadi anak Tuhan?

“Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya.” Amsal 3: 11

Masa remaja adalah masa yang penuh kenangan tetapi juga masa yang berisi pengalaman yang memalukan atau yang patut disesali. Seingat saya pada waktu itu, seperti anak muda sebaya, saya seringkali “bentrok” dengan orang tua. Memang pada usia muda, biasanya orang merasa sudah bisa mengurus diri sendiri dan dengan demikian, sering merasa bosan dinasihati orang tua. Nasihat orang tua, jika tidak dibantah, tentulah diabaikan saja. Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan.

Bagi orang tua yang mempunyai anak seumur itu, perjuangan untuk mendidik anak adalah sangat berat. Pada satu pihak, orang tua tetap menyayangi anak-anaknya; pada pihak yang lain, orang tua ingin untuk tetap bisa mendidik mereka, dengan resiko munculnya perdebatan dan sakit hati. Karena itu, banyak orang tua yang kemudian mengambil sikap tidak peduli atas kelakuan dan cara hidup anak-anak mereka. Mereka mungkin berpendapat bahwa masih lebih baik jika sang anak tetap mau tinggal dengan mereka, sekalipun sebenarnya ia sudah menjadi “anak yang hilang”. Dekat di mata, tapi jauh di hati.

Sebagai orang Kristen, kita adalah anak-anak Tuhan dan jika ditinjau dari segi tingkah laku dan cara hidup kita, mungkin banyak diantara kita yang masih tergolong remaja. Belum dewasa, sekalipun sudah lama menjadi orang Kristen. Karena “keremajaan” kita, seringkali kita secara sadar maupun tidak sadar menganggap didikan Tuhan itu sebagai sesuatu yang membosankan. Lebih dari itu, banyak orang Kristen yang merasa kuatir kalau-kalau Tuhan terlalu ikut campur dalam hidup mereka. Mengapa Tuhan ingin mengatur anakNya dalam hal bisnis, pergaulan dan aktivitas? Bukankah sekali seminggu bertemu dengan Bapa sudah cukup? Lebih dari itu, bukankah apa yang dipesankan Tuhan melalui FirmanNya terasa membosankan?

Seperti orang tua yang baik, Tuhan tidak mau memaksakan kehendakNya dengan semena-mena. Tuhan memberikan kesempatan bagi kita untuk memilih cara hidup kita dan menentukan sikap kita kepadaNya. Namun, berbeda dengan orang tua kita, Tuhan adalah maha kuasa dan kehendakNya harus terjadi. Karena itu, sekalipun kita ingin mengambil tindakan dan keputusan sendiri, semua itu pada akhirnya harus sesuai dengan apa yang direncanakan Tuhan.

Pagi ini, jika kita mengingat masa remaja kita yang telah silam, janganlah kita lupa bahwa seringkali kita masih bertingkah laku seperti seorang remaja kepada Tuhan kita. Memberontak, melawan nasihatNya, mengabaikan firmanNya, dan hal-hal bodoh lainnya, mungkin masih sering kita lakukan. Karena itu, tentu tidaklah mengherankan jika peringatan dan hajaran Tuhan sewaktu-waktu datang untuk menginsafkan kita bahwa Bapa surgawi kita adalah Mahakuasa, Mahatahu, Mahaadil dan Mahakasih. Bagi kita tidaklah ada pilihan: Tuhan menghendaki kita untuk menjadi dewasa!

“Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Ibrani 12: 5 – 6

Tetap tabah sekalipun orang membenci kita

“Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu?” Galatia 4: 16

Ada sebuah nasihat yang sudah dikenal sejak dulu mengenai persahabatan: “Mencari seorang sahabat adalah sukar, tetapi musuh datang sendiri tanpa diundang”. Nasihat lain yang serupa adalah “Mencari satu teman adalah lebih sukar daripada seribu musuh”. Kedua nasihat ini dimaksudkan agar kita menghargai adanya teman dan menghindari permusuhan sebisa mungkin.

Memang dalam hidup ini, bagaimanapun kita berusaha untuk menghindari permusuhan, selalu ada saja orang-orang yang senang mencari gara-gara. Karena itu, dalam usaha untuk menghindari pertikaian, sering orang mengorbankan prinsip-prinsip kebenaran. Mengikuti arus daripada melawan arus, agar hidup yang sudah sukar ini tidak bertambah sukar. Begitu juga dalam hal rohani, ada orang yang selalu ingin menghindari pertengkaran dan karena itu kurang mau untuk memberi nasihat hidup baik kepada orang lain sekalipun ia hamba Tuhan.

Rasul Paulus juga mengalami persoalan yang serupa. Pada kunjungan pertamanya ke Galatia, Paulus merasakan sambutan yang diberikan jemaat adalah sangat baik. Tetapi, pada kunjungannya yang kedua, Paulus merasa bahwa mereka tidak lagi menyenanginya. Paulus heran mengapa mereka bisa berubah sikap. Itu ternyata akibat Paulus yang sering menasihati mereka akan bahaya ajaran-ajaran sesat. Paulus kemudian bertanya apakah mereka yang dulunya taat kepada Kristus kemudian menganggapnya sebagai musuh, karena ia mengajarkan kebenaran. Paulus sebagai hamba Tuhan tidak mau berdiam diri.

Sudah tentu Paulus merasa kecewa dan sedih bagaimana jemaat Galatia kurang menyenangi, dan bahkan seakan membencinya karena Paulus menunjukkan kesalahan-kesalahan mereka. Tetapi Paulus tentu tahu bahwa semua pengikut Kristus akan mengalami hal yang serupa di dunia ini. Ia tentunya tahu bahwa Yesus pernah mengatakan bahwa semua hamba Tuhan harus bisa menerima hal semacam itu dengan bersyukur.

“Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.” Lukas 6: 22

Hari ini, jika kita mengalami kekecewaan karena orang-orang yang kita kasihi ternyata menolak firman Tuhan yang kita sampaikan melalui nasihat dan bimbingan, biarlah kita sadar bahwa kebenaran firman Tuhan tetap harus dinyatakan. Hidup sebagai hamba Kristus memang tidak mudah karena adanya orang-orang yang membenci dan memusuhi kita karena pandangan hidup kita.

Biarlah kita bisa selalu menyadari bahwa Yesus sudah dibenci manusia, tetapi karena kasih dan pengurbananNya mereka yang percaya bisa diselamatkan. Begitu juga melalui kasih dan ketabahan kita, banyak orang akan bisa diperkenalkan kepada kebenaran dalam Kristus.

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu.” Yohanes 15: 18